Yakub atau
Israil tinggal di
Mesir sejak ia
datang untuk bertemu
dengan anaknya, Yusuf. Ketika beliau wafat mereka menguburnya di tempat
di mana ia dilahirkan di Palestina. Anak-anak Israil lebih memilih untuk hidup
di Mesir di sisi Yusuf. Keadaan Mesir, kebaikannya yang banyak, kelayakan
tanahnya, dan keharmonisan iklimnya merupakan daya tarik tersendiri bagi mereka
untuk tinggal di dalamnya.
Anak-anak Israil tinggal
di Mesir dalam
tempo yang lumayan. Mereka
menikah sehingga jumlah
mereka bertambah banyak. Berlalulah tahun demi tahun dan
kemudian Nabi Yusuf meninggal. Nabi Yusuf telah mengubah Islam saat beliau
memegang tampuk kekuasaan. Nabi Yusuf memperjuangkan Islam
dan setiap nabi
yang diutus oleh
Allah s.w.t pasti memperjuangkan agama
Islam sejak Nabi Adam as sampai
Nabi Muhammad saw.
Pengertian Islam di
sini ialah, mengesakan
Allah s.w.t dan
hanya semata-mata menyembah-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan
berdoa kepada- Nya.
Islam juga bererti
menyerahkan niat dan
amal hanya semata-mata kepada
Allah s.w.t. Demikianlah yang kita fahami atau yang kita maksud dari kata
al-Islam, bukan sistem sosial yang dibawa oleh Nabi yang terakhir, yaitu Nabi
Muhammad saw. Sistem ini merupakan kepanjangan dari sistem-sistem sosial yang
dibawa para nabi. Jadi, esensi akidah satu dan tidak berbeza dari Nabi Adam
sampai Nabi Muhammad saw.
Ketika
Nabi Yusuf menjadi penguasa di Mesir dan ketua para menteri agama di Mesir berubah
menjadi agama tauhid
atau Islam. Nabi
Yusuf as menyeru manusia untuk memeluk Islam saat
beliau ada di dalam penjara ketika beliau mengatakan:
"Manakah
yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi
Maha Perkasa (QS.Yusuf: 39)
Dan
beliau berdoa pada suatu hari ketika mimpinya terwujud:
"Wafatkanlah aku
dalam keadaan Islam
dan gabungkanlah aku
dengan orang-orang yang soleh. " (QS. Yusuf: 101)
Dan ketika
Nabi Yusuf meninggal, Mesir
mengubah sistem tauhid ke
sistem multi tuhan untuk
kedua kalinya. Menurut
dugaan kuat bahawa
hal ini terwujud dengan
adanya campur tangan
kelompok-kelompok elit yang berkuasa. Kelompok-kelompok elit ini -
ketika di bawah agama tauhid - mereka tidak
mendapatkan suatu perlakukan
istimewa atau dibezakan
dengan masyarakat umum, sehingga kerananya mereka mempunyai kepentingan
untuk mengembalikan sistem penyembahan
multi tuhan. Kemudian
masyarakat mengikuti sistem penyembahan
Fir'aun. Dan akhirnya,
Mesir dipimpin keluarga-keluarga
Fir'aun dan mereka mengklaim bahawa mereka adalah tuhan atau wakil-wakil tuhan
atau orang-orang yang berbicara atas nama tuhan.
Pada dasarnya,
masyarakat Mesir adalah
masyarakat yang beradab.
Mereka disibukkan dengan pembangunan peradaban. Mereka memiliki
kecenderungan keagamaan yang kuat. Dan barangkali kelompok- kelompok dari
masyarakat Mesir meyakini bahawa Fir'aun bukan tuhan namun kerana mereka
mendapat tantangan keras dari Fir'aun dan Fir'aun tidak ingin dari kaumnya
kecuali agar mereka mentaatinya sehingga
mereka pun terpaksa
menyembunyikan keimanan dalam diri mereka. Jadi, tuhan-tuhan berhala
banyak sekali di Mesir. Hal yang bisa difahami adalah, bahawa Fir'aun menguasai
semua macam tuhan dan ia mengisyaratkan dengannya dan berbicara atas namanya.
Yang demikian ini adalah sangat jelas di Mesir. Ketika terdapat sistem multi
tuhan di Mesir -meskipun masyarakatnya meyakini tuhan utama, yaitu Fir'aun -
kelompok elit
yang
berkuasa membatasi untuk hanya menyembah Fir'aun dan melaksanakan
perintah-perintahnya serta membenarkan
tindakan semena-menanya. Kita akan mengetahui dan kita akan membuka lembaran-lembaran Nabi
Musa as bagaimana masyarakat Mesir hidup di zamannya. Majoriti masyarakat saat
itu mendapatkan kehinaan yang luar biasa dan diperlakukan secara lalim. Mereka
harus taat sepenuhnya
kepada Fir'aun. Mereka
selalu diancam oleh algojo-algojo Fir'aun dan para
tenteranya.
Allah s.w.t
menceritakan Fir'aun yang
hidup di zaman
Nabi Musa dalam firman-Nya:
"Maka
dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya (seraya
berkata): 'Akulah Tuhanmu
yang paling tinggi.'" (QS.an-Nazi'at:
23-24)
Manusia
saat itu benar-benar tunduk terhadap pernyataan orang-orang kafir. Mereka
mentaati - barangkali itu kerana
terpaksa - perkataan Fir'aun. Mesir
kembali menggunakan sistem
multi tuhan setelah
sebelumnya disinari oleh tauhid yang disuarakan oleh Nabi Yusuf.
Sementara itu, anak-anak Yakub atau anak-anak
Israil mereka telah
menyimpang dari tauhid.
Mereka mengikuti orang-orang Mesir.
Sedikit sekali dari
keluarga mereka yang
masih mempertahankan agama tauhid secara tersembunyi.
Datanglah
suatu masa atas Bani Israil di mana mereka semakin banyak dan semakin menyebar.
Mereka mengerjakan berbagai
macam pekerjaan, dan mereka
memenuhi pasar-pasar Mesir.
Berlalulah hari demi
hari. Mesir diperintah oleh
seorang raja yang
bengis di mana
orang-orang Mesir menyembahnya.
Raja yang jahat ini melihat Bani Israil semakin banyak dan semakin berkembang
serta mengambil posisi-posisi penting. Raja mendengar pembicaraan Bani Israil
tentang berita yang samar di mana dalam berita itu dikatakan bahawa
salah seorang anak
Bani Israil akan
menjatuhkan Fir'aun Mesir dari
singgahsananya. Barangkali berita itu berasal dari suatu mimpi dari mimpi-mimpi
hidup atau mimpi nyata yang mengelilingi hati kelompok minoriti yang tertindas,
dan mungkin itu
merupakan berita gembira
yang tersebut dalam kitab-kitab mereka.
Apa pun halnya, berita ini telah sampai di telinga Fir'aun.
Kemudian Fir'aun
mengeluarkan perintah yang
aneh, yaitu jangan
sampai seorang pun dari Bani Israil yang melahirkan anak. Maksud dari
perintah ini adalah, hendaklah setiap anak yang lahir dari jenis laki-laki
dibunuh. Aturan ini mulai diterapkan. Tapi
para pakar ekonomi
berkata kepada Fir'aun: Orang-orang tua
dari Bani Israil
akan mati sesuai
dengan ajal mereka, sedangkan anak-anak
kecilnya disembelih maka
ini akan berakhir
pada hancurnya dan binasanya Bani Israil namun Fir'aun akan kehilangan
kekayaan dan aset manusia yang dapat bekerja untuknya atau menjadi
budak-budaknya dan wanita-wanita tidak
dapat lagi dimilikinya.
Maka yang terbaik
adalah, hendaklah dilakukan suatu proses sebagai berikut: Anak laki-laki
disembelih pada tahun yang
pertama dan hendaklah
mereka dibiarkan pada
tahun berikutnya. Fir'aun sependapat dengan fikiran ini kerana itu
dianggap lebih menguntungkan dari sisi ekonomi.
Ibu
Musa mengandung Harun pada tahun di mana anak-anak kecil tidak dibunuh
maka ia
melahirkannya secara terang-terangan. Ketika
datang tahun yang ditetapkan di dalamnya bahawa anak-anak
kecil harus dibunuh, ia melahirkan Musa. Saat melahirkan Musa, sang ibu
merasakan ketakutan yang luar biasa. la mencemaskan bahawa
jangan-jangan anaknya akan
dibunuh. Maka si ibu
menyusuinya secara sembunyi- sembunyi. Kemudian
datanglah suatu malam yang penuh berkah di mana Allah s.w.t
mewahyukan kepadanya:
"Dam Kami
ilhamkan kepada ibu
Musa: 'Susuilah dia
dan apabila khuatir terhadapnya maka jatuh kalah ia ke
dalam sungai (Nil). Dan janganlah kamu
khuatir dan janganlah (pula) bersedih
hati, kerana sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan
menjadikannya (salah seorang) dari para
rasul.'" (QS. al-Qashash: 7)
Mendengar
wahyu Allah s.w.t itu dan mendengar panggilan yang penuh kasih sayang dan suci
ini, ibu Musa langsung mentaatinya. Ia diperintahkan untuk membuat peti kecil
bagi Musa. Setelah menyusuinya, ia meletakkannya di peti itu. Kemudian ia pergi
ke tepi sungai Nil dan membuangnya di atas air. Hati sang ibu
adalah hati yang
paling pengasih di
dunia. Hatinya dipenuhi penderitaan saat ia melemparkan
anaknya di sungai Nil, tetapi ia menyedari bahawa Allah s.w.t lebih Pengasih
terhadap Musa dibandingkan dengan dirinya. Allah s.w.t lebih mencintainya
dibandingkan dengan dirinya. Allah s.w.t adalah Tuhannya dan Tuhan sungai Nil.
Belum lama
peti itu menyentuh
sungai Nil sehingga
sang Pencipta mengeluarkan
perintah kepada arus sungai agar menjadi tenang dan bersikap lembut terhadap
bayi yang dibawanya yang pada suatu hari akan menjadi Nabi. Sebagaimana Allah
s.w.t memerintahkan kepada api agar menjadi dingin dan membawa keselamatan
bagi Nabi Ibrahim,
begitu juga Allah
s.w.t memerintahkan kepada sungai
Nil agar membawa Musa
dengan tenang dan penuh kelembutan sehingga menyerahkannya
ke istana Fir'aun. Air sungai nil membawa peti yang mulia ini ke istana Fir'aun.
Di sana ombak menyerahkannya kepada tepi pantai kemudian ia mewasiatkan kepada
tepi pantai itu. Dan angin berkata kepada rumput yang tidur di sisi peti:
Jangan engkau banyak bergerak kerana Musa sedang tidur. Rumput itu pun mentaati
perintah angin dan Musa tetap tidur.
Pada hari
itu, matahari menyinari
istana Fir'aun. Isteri
Fir'aun keluar berjalan-jalan di
kebun istana sebagaimana biasanya. Kita tidak mengetahui apa gerangan yang
menjadikannya berjalan-jalan dan menempuh jarak yang lebih jauh dari yang biasa
di tempuhnya.
Isteri Fir'aun
berbeza sekali dengan
Fir'aun. Fir'aun adalah
seorang kafir sementara isterinya
adalah seorang yang beriman. Fir'aun adalah seorang yang keras kepala
sementara isterinya adalah
seorang yang penyayang.
Fir'aun adalah seorang penjahat sementara isterinya adalah seorang yang
lembut dan penuh cinta. Di samping itu, isterinya merasakan kesedihan yang
dalam kerana ia belum mampu melahirkan anak. Ia merindukan untuk mendapatkan
anak. Isteri Fir'aun berhenti
di sisi kebun
kemudian bau harum
yang datang dari pohon itu menyebarkan perasaan sedih
akan rasa kesendirian. Pada saat yang sama, wanita-wanita yang membantunya
sudah memenuhi tempat-tempat air yang diambil dari sungai. Tiba-tiba mereka
mendapati peti di sisi kaki mereka. Mereka membawa peti itu seperti semula ke
isteri Fir'aun. Ia memerintahkan untuk membukanya lalu mereka pun membukanya.
Betapa terkejutnya isteri Fir'aun ketika melihat Musa di dalamnya. Maka ia pun
merasakan bahawa ia mencintainya seperti anaknya sendiri. Allah s.w.t menaruh dalam
hatinya rasa cinta kepada Musa sehingga air matanya berlinang.
Kemudian
ia membawa peti mati itu. Isteri Fir'aun membolak-balikkan Musa sambil
menangis. Musa terbangun dan ia pun menangis. Musa tampak lapar ia membutuhkan
air susu pagi dan tetap menangis. Fir'aun duduk di atas meja makan. Ia
menantikan isterinya namun
yang ditunggu belum
hadir. Fir'aun mulai marah
dan mencarinya. Tiba-tiba
ia dikejutkan dengan
kedatangan isterinya dengan membawa Musa. Isteri Fir'aun tampak sangat
menyayanginya. Ia terus menciuminya
dan air matanya
berlinangan. Fir'aun bertanya,
"dari mana datangnya anak kecil ini?" Kemudian mereka menceritakan
kepadanya bahawa mereka menemukannya di sebuah peti di tepi sungai. Fir'aun
berkata: "Ini adalah salah satu anak Bani
Israil. Sesuai dengan peraturan, anak-anak yang lahir tahun ini harus
dibunuh." Mendengar keputusan Fir'aun itu, isteri Fir'aun berteriak dan ia
mendekap Musa lebih keras:
"Dan
berkatalah isteri Fir'aun: '(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan
bagimu. Janganlah kamu
membunuhnya, mudah-mudahan ia
bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia jadi anak.'" (QS. al-
Qashash: 9)
Fir'aun
tampak kehairanan sekali melihat aksi isterinya yang mendekap anak kecil yang
mereka temukan di tepi sungai. Fir'aun tampak tercengang kerana isterinya
menangis dengan gembira di mana Fir'aun tidak pernah mendapati isterinya menangis
kerana gembira seperti
ini. Fir'aun mulai
mengetahui bahawa isterinya menyayangi anak ini seperti anaknya sendiri.
Fir'aun berkata dalam dirinya: Barangkali ia ingat bahawa ia tidak mampu
melahirkan anak dan menginginkan anak ini. Akhirnya, Fir'aun sepakat atas apa
yang dikatakan oleh isterinya. Fir'aun memenuhi keinginannya dan menyetujuinya
untuk mendidik anak ini di istananya.
Ketika
mendengar persetujuan Fir'aun, tampaklah keceriaan yang luar biasa pada wajah
isterinya. Fir'aun belum pernah menyaksikan keceriaan seperti ini. Fir'aun
telah menghadirkan berbagai macam hadiah kepadanya, juga perhiasan dan budak tetapi ia
belum pernah tersenyum
meskipun sekali. Fir'aun menyangka bahawa
isterinya tidak mengerti
erti sebuah senyuman.
Dan sekarang, Fir'aun melihat sendiri wajahnya dipenuhi dengan senyum
keceriaan. Sementara itu, Musa mulai menangis kerana lapar. Isteri Fir'aun
mengetahui bahawa Musa sedang
lapar. Ia berkata
kepada Fir'aun: "Anakku
yang kecil sedang lapar."
Fir'aun berkata: "Datangkanlah kepadanya
para wanita yang menyusui." Kemudian didatangkanlah
kepadanya seorang wanita yang menyusui dari istana. Wanita itu mencuba untuk
menyusui Musa tetapi apa yang terjadi? Musa
menolaknya. Lalu didatangkan
wanita yang kedua
sampai ketiga dan sampai kesepuluh tetapi Musa tetap
menangis dan tidak ingin menyusu kepada seorang pun di antara mereka. Melihat
kenyataan itu, isteri Fir'aun menangis kerana tidak tahan melihat penderitaan
anak kecil itu. Ia tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya.
Bukan
hanya isteri Fir'aun satu-satunya yang merasa sedih dan menangis, ibu Musa adalah
wanita lain yang
merasa sedih dan
menangis. Ketika ia melemparkan Musa ke sungai Nil, ia merasa
bahawa ia sedang melemparkan buah hatinya di sungai. Lalu peti yang dilemparkan
itu hilang dibawa oleh air sungai dan beritanya pun tersembunyi. Dan ketika
datang waktu pagi, ibu Musa merasakan
kesedihan yang selalu
menghantuinya. Hampir saja
ia pergi ke istana Fir'aun untuk mendapatkan berita
tentang anaknya kalau bukan kerana Allah s.w.t menarah kedamaian dalam hatinya
sehingga ia menyerahkan urusan anaknya kepada Allah s.w.t. Alhasil, ia berkata
kepada saudara perempuan
Musa: "Pergilah dengan
tenang ke istana
Fir'aun dan berusahalah
untuk mendapatkan berita tentang Musa dan hendaklah engkau hati-hati
agar jangan sampai mereka mengetahuimu." Kemudian
saudara perempuan Musa
pergi dengan tenang. Akhirnya,
ia mendengarkan kisah
tentang Musa secara sempurna. Ia
melihat Musa dari
kejauhan dan mendengarkan suara tangisannya. Ia melihat mereka dalam
keadaan kebingungan di mana mereka tidak
mengetahui bagaimana menyusuinya.
Ia mendengar bahawa
Musa menolak setiap wanita yang mencuba menyusuinya.
Saudara perempuan
Musa berkata kepada
para pengawal Fir'aun:
"Apakah kalian mahu aku tunjukkan suatu keluarga yang dapat
menyusuinya dan dapat mengasuhnya." Isteri Fir'aun menjawab:
"Seandainya engkau dapat membawa kepada kami wanita yang dapat menyusuinya
dan dapat mengasuhnya nescaya kami akan memberimu hadiah yang besar. Yakni
sesuatu yang engkau inginkan akan
kami penuhi." Lalu
saudara perempuan Musa
itu kembali dan menghadirkan ibunya.
Si ibu menyusuinya
dan Musa pun
menyusu dengan tenang. Melihat
hal itu, Isteri Fir'aun sangat gembira dan berkata: "Bawalah dia sehingga
masa penyusuannya selesai, lalu kembalikanlah dia kepada kami dan kami akan
memberimu suatu balasan
yang besar atas
penyusuan dan pendidikan yang
engkau berikan."
Demikianlah
Allah s.w.t mengembalikan Musa kepada ibunya agar ia merasa gembira dan
hatinya menjadi tenang
dan tidak bersedih
serta agar ia mengetahui
bahawa janji Allah
s.w.t benar dan bahawa
perintah- Nya dan ketentuan-Nya pasti
terlaksana meskipun banyak
rintangan dan tantangan. Allah s.w.t berfirman:
"Dan menjadi
kosonglah hati ibu
Musa. Sesungguhnya hampir
saja ia orang-orang yang
percaya (kepada janji
Allah). Dan berkatalah ibu Musa
kepada saudara Musa yang perempuan: 'Ikutilah dia.' Maka kelihatanlah olehnya
Musa dari jauh,
sedang mereka
tidak mengetahuinya, dam Kami
cegah Musa dari
menyusu kepada
perempuan-perempuan yang mahu
menyusui(nya) sebelum itu;
maka berkatalah saudara Musa: 'Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlu
bait yang akan memeliharanya
untukmu dan mereka
dapat berlaku baik kepadanya?'. Maka
Kami kembalikan Musa
kepada ibunya, supaya
senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahawa
janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." (QS. al-Qashash: 10-13)
Ibu
Musa menyempurnakan penyusuan lalu menyerahkannya ke rumah Fir'aun. Saat itu
Musa disenangi dan disukai semua orang. Allah s.w.t berfirman:
Dan
Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari- Ku; dan supaya
kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku." (QS.Thaha: 39)
Tiada seorang
pun yang melihat
Musa kecuali ia
akan mencintainya. Musa dididik
di istana terbesar
di bawah bimbingan
dan penjagaan Allah
s.w.t. Pendidikan Musa dimulai di rumah Fir'aun di mana di dalamnya
terdapat ahli pendidikan dan para pengajar. Mesir saat itu merupakan negara
yang besar di dunia dan Fir'aun sebagai raja yang paling kuat. kerana itu,
secara sederhana Fir'aun mampu mengumpulkan para pakar pendidikan dan para
cendekiawan. Demikianlah hikmah Allah
s.w.t berkehendak agar
Musa terdidik di
bawah pendidikan yang besar
dan ditangani pakar-pakar
pendidikan yang terlatih. Ironisnya, hal ini terjadi di rumah
musuhnya yang pada suatu hari nanti akan hancur di tangannya, sebagai bentuk
pelaksanaan dari perintah Allah s.w.t.
Musa
tumbuh di rumah Fir'aun. Beliau mempelajari ilmu hisab, ilmu bangunan, ilmu
kimia, dan bahasa. Beliau tidur di bawah bimbingan agama. Oleh kerana itu, Musa
tidak mendengar omongan
kosong yang dikatakan
oleh pendidik tentang ketuhanan
Fir'aun. Jarang sekali ia mendengar bahawa Fir'aun adalah tuhan. Beliau
pun menepis pernyataan
dan anggapan ini.
Beliau tinggal bersama Fir'aun di
satu rumah. Beliau mengetahui lebih daripada orang lain bahawa Fir'aun hanya
sekadar manusia biasa tetapi ia orang yang lalim. Musa mengetahui bahawa ia
bukanlah anak dari Fir'aun. Beliau adalah salah seorang dari Bani Israil.
Beliau menyaksikan bagaimana pengawal-pengawal Fir'aun dan para pengikutnya
menindas Bani Israil.
Akhirnya, Musa tumbuh
besar dan mencapai kekuatannya.
Ketika
para pengawal lalai darinya, Musa memasuki kota. Musa berjalan- jalan di
sekitar kota. Kemudian Musa mendapati seorang lelaki dari pengikut Fir'aun yang
sedang berkelahi dengan seseorang dari Bani Israil. Lalu seseorang yang lemah
dari kedua orang itu meminta tolong kepadanya. Musa pun turut campur dalam urusan
itu. Musa mendorong
dengan tangannya seorang
lelaki yang berbuat aniaya
itu. Ternyata Musa
membunuhnya. Saat itu
Musa memang terkenal sebagai
orang yang kuat sampai pada batas di mana dengan sekali pukul saja untuk
melerai musuhnya, ia justru membunuhnya. Tentu Musa tidak sengaja untuk membunuh
orang laki-laki itu. Tetapi apa yang terjadi? Lelaki itu tersungkur dan
kemudian mati. Musa
berkata kepada dirinya:
Ini adalah perbuatan setan.
Sesungguhnya ia adalah musuh yang menyesatkan dan nyata.
Kemudian Musa
berdoa kepada Tuhannya
dan berkata: "Ya
Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku maka ampunilah
aku." Allah s.w.t pun mengampuninya. Dia Maha Pengampun dan Maha
Penyayang. Allah s.w.t berfirman:
"Dan
setelah Musa sudah cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah
kenabian dan pengetahuan.
Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang
berbuat baik. Dan Musa masuk ke kota
(Memphis) ketika penduduknya
sedang lemah, maka
didapatinya di dalam kota
itu dua orang
laki-laki yang berkelahi;
yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang lagi dari
musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang
yang dari golongannya
meminta pertolongan darinya,
untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan
matilah musuhnya itu. Musa
berkata: 'Ini adalah
perbuatan setan. Sesungguhnya setan itu
adalah musuh yang
menyesatkan lagi nyata
(permusuhannya). Musa berdoa: 'Ya
Tuhanku, sesungguhnya aku
telah menganiaya diriku sendiri kerana
itu ampunilah aku.' Maka
Allah mengampuninya,
sesungguhnya Dialah Yang
Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. Musa berkata:
'Ya Tuhanku, demi
nikmat yang telah
Engkau anugerahkan kepadaku, aku
sekali-kali tiada akan
menjadi penolong bagi
orang-orang yang berdosa.'" (QS. al-Qashash: 14-17)
Kemudian Nabi
Musa menjadi takut
di tengah-tengah kota
dan merasa terancam. Dalam
ayat itu digambarkan
bagaimana Nabi Musa
merasakan ketakutan di mana ia mengkhuatirkan kejahatan akan datang
padanya pada setiap langkahnya, dan ia begitu sensitif melihat gerak-geri di
sekitarnya. Nabi Musa saat itu menampakkan kegoncangan jiwa yang dahsyat.
Sebenarnya Nabi Musa hanya ingin mempertahankan dirinya saat menolong seseorang
dari Bani Israil. Ketika itu
Nabi Musa mendorong
dengan tangannya dan
bertujuan memisahkan orang Mesir dari orang Israil tetapi ia justru
membunuhnya.
Dalam undang-undang
positif dinyatakan bahawa
pembunuhan semacam ini dianggap
sebagai pembunuhan kerana
keteledoran atau kerana
kesalahan bukan kerana faktor kesengajaan sehingga kerananya yang
bersangkutan tidak akan mendapatkan suatu hukuman yang berat. Biasanya orang
yang melakukan pembunuhan tanpa sengaja
akan mendapatkan keputusan
yang meringankannya kerana ia
membunuh tanpa kesengajaan.
Tentu kejadian semacam ini tidak
dapat dianggap sebagai pembunuhan dengan sengaja kerana yang bersangkutan
tidak ingin mencelakakan
orang lain. Nabi
Musa tidak memukul orang itu.
Yang ia lakukan hanya mendorongnya. Atau dengan kata lain, Nabi
Musa hanya sekadar
menyingkirkan orang tersebut.
Kita akan mengetahui bahawa
Nabi Musa adalah
cermin lain dari
Nabi Ibrahim. Kedua-duanya dari
kalangan ulul azmi,
tetapi Nabi Ibrahim
adalah cermin kesabaran dan
kelembutan sementara Nabi Musa adalah cermin dari kekuatan dan
keperkasaan.
Musa
menjadi takut dan terancam di tengah-tengah kota. Beliau berjanji di kemudian
hari bahawa beliau tidak akan lagi menjadi sahabat orang- orang yang berbuat
jahat. Beliau tidak akan lagi terlibat dalam pertengkaran dan permusuhan antara
sesama penjahat. Di tengah-tengah perjalanannya, Musa dikejutkan ketika melihat
orang yang ditolongnya kelmarin saat ini lagi-lagi memanggilnya dan
minta tolong padanya.
Lagi- lagi orang
itu terlibat permusuhan dan
pertengkaran dengan seorang Mesir. Musa mengetahui bahawa orang Israil ini
berbuat aniaya. Musa mengetahui bahawa ia termasuk salah seorang preman di
situ. Akhirnya, Musa berteriak di depan wajah orang Israil
itu
sambil berkata: "Sungguh ternyata engkau adalah orang yang jahat."
Musa mengatakan
demikian sambil mendorong
keduanya dan ia
melerai pertengkaran itu. Orang Israil itu mengira bahawa Musa akan
mencelakakannya maka ia diliputi
rasa takut. Sambil
meminta kasih sayang
kepada Musa, ia berkata: "Wahai Musa apakah engkau
akan membunuhku sebagaimana engkau membunuh
orang yang kelmarin.
Apakah engkau ingin
menjadi seorang penguasa di
muka bumi dan
tidak ingin menjadi
orang yang memperbaiki bumi." Ketika
mendengar orang Israil
yang mengatakan demikian,
Musa berhenti dan amarahnya
mereda. Musa mengingat
apa yang dilakukannya kelmarin dan bagaimana ia
meminta ampun dan bertaubat serta berjanji untuk tidak menjadi
pembantu orang-orang yang
berbuat jahat. Musa
kemudian kembali dan meminta ampun kepada Tuhannya.
Orang
Mesir yang berkelahi dengan orang Israil itu mengetahui bahawa Musa adalah pembunuh
orang Mesir yang
mayatnya mereka temukan
kelmarin. Petugas keamanan Mesir
tidak berhasil menyingkap
kasus pembunuhan itu. Akhirnya, rahsia Musa tersingkap lalu
seorang lelaki Mesir yang beriman datang dari penjuru kota. Ia membisikkan
kepada Musa bahawa ada suatu rencana untuk membunuhnya. Ia menasihati Musa agar
meninggalkan Mesir secepatnya.
Allah
s.w.t berfirman:
"kerana
itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khuatir
(akibat perbuatannya), maka
tiba-tiba orang yang
meminta pertolongan kelmarin berteriak
meminta pertolongan kepadanya.
Musa berkata kepadanya: 'Sesungguhnya
kamu benar- benar
orang yang sesat yang
nyata (kesesatannya). Maka
tat-kala Musa memegang
dengan keras orang yang menjadi
musuh keduanya, musuhnya berkata: 'Hai Musa apakah kamu bermaksud
untuk membunuhku, sebagaimana
kamu kelmarin telah membunuh seorang
manusia? Kamu tidak
bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat
sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak
menjadi salah seorang
dari orang-orang yang
mengadakan perdamaian.' Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota
tergesa- gesa seraya berkata: 'Hai
Musa, sesungguhnya pembesar
sedang berunding tentang kamu.
Sesungguhnya aku termasuk
orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.'" (QS.
al-Qashash: 18-20)
Allah
menyembunyikan kepada kita nama laki-laki yang datang mengingatkan Musa itu. Tetapi
menurut hemat kami, ia adalah seorang lelaki Mesir yang tentu memiliki jabatan penting.
Sesuai dengan ayat tersebut, ia mengetahui adanya persengkongkolan untuk
menyingkirkan Musa dari
kedudukan yang tinggi. Seandainya
ia orang yang
biasa-biasa saja maka
orang itu tidak mengenalnya. Orang
itu mengetahui bahawa
Musa tidak berhak
untuk mendapatkan hukum bunuh
atas dosanya. Musa
membunuh kerana faktor kesalahan, bukan kerana faktor
kesengajaan. Kesalahan semacam itu menurut undang-undang Mesir
yang dahulu dihukum
dengan penjara. Lalu,
mengapa timbul keinginan untuk membunuh Musa? Kalau kita memperhatikan
nasihat orang Mesir itu terhadap Musa maka kita akan menemukan jawapannya.
Yaitu perkataannya: "Para pembesar
merencanakan
persekongkolan untuk
menyingkirkanmu."
Al-Mala' adalah
para penguasa atau
para pembesar yang
bertanggungjawab pada
keamanan. Mereka menyiapkan
persekongkolan untuk menyingkirkan Musa. Apa yang dilakukan oleh
Musa - kalau memang dianggap sebagai suatu kesalahan - adalah
kejahatan biasa yang
hanya dituntut dengan
hukuman penjara. Lalu siapakah yang membuat rencana yang demikian, dan
siapakah yang mendorong untuk melakukan persekongkolan untuk membunuhnya? Kami
kira bahawa kepala
keamanan Mesir tidak
menyukai Musa. Ia
mengetahui bahawa Musa adalah anggota Bani Israil. Ia mengetahui bahawa
sampainya peti di istana Fir'aun
merupakan suatu rekayasa
yang dirancang oleh
musuh-musuhnya yang menginginkan kedudukannya. Ini bererti kerana
keteledorannya dan ketelodaran anak-anak
buahnya. Berapa kali
orang itu menasihati
dan menganjurkan agar Musa dibunuh tetapi Fir'aun justru menampik
fikiran itu. Dan ketika datang saat yang ditentukan untuk membunuh Musa,
Fir'aun justru tunduk
terhadap Isterinya yang sangat mencintai Musa.
Akhirnya,
kesempatan emas ada di depannya. Para pembantunya mengatakan kepadanya bahawa
Musalah yang membunuh orang Mesir yang mereka temukan jasadnya kelmarin.
Selesailah urusan ini.
Kemudian datanglah perintah
dan kesempatan untuk membunuh Musa. Orang-orang yang membenci Musa mulai
mendapatkan angin kegembiraan di mana mereka akan melihat Musa terbunuh, tetapi
Allah s.w.t mengirim seorang Mesir yang baik untuk mengingatkan Musa agar
berlari dari kejaran orang-orang yang lalim.
Allah
s.w.t berfirman:
"Maka
keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu- nunggu dengan khuatir,
dia berdoa: 'Ya
Tuhanku, selamatkanlah aku
dari orang-orang yang lalim itu.'" (QS. al-Qashash: 21)
Musa
meninggalkan kota dan menjadi orang yang terusir. Musa segera keluar dalam
keadaan takut dan sambil waspada Musa selalu berdoa dalam hatinya:
"Ya Tuhanku, selamatkanlah
aku dari orang-orang
yang lalim." Kaum
itu memang benar-benar orang-orang
yang lalim. Mereka
ingin menerapkan hukuman bagi
pembunuh dengan sengaja
atas Musa, padahal
Musa tidak melakukan selain
berusaha memisahkan orang yang berkelahi tetapi dengan tidak sengaja ia
membunuhnya. Musa segera keluar dari Mesir. Beliau tidak lagi pergi ke
istana Fir'aun dan
tidak mengganti pakaiannya,
dan beliau tidak membawa
makanan untuk perjalanan.
Beliau tidak membawa
binatang tunggangan yang dapat menghantarkannya. Beliau tidak pergi
bersama suatu kafilah. Beliau langsung pergi ketika mendapatkan khabar dari
seorang mukmin yang mengingatkannya dari ancaman Fir'aun.
Musa
melalui jalan yang tidak lazim dilalui orang biasa. Musa memasuki gurun dan ia
menuju ke suatu tempat yang di situ Allah s.w.t membimbingnya. Ini adalah
pertama kalinya beliau keluar dan mengharungi gurun pasir sendirian.
Kemudian sampailah Musa
di suatu tempat
yang bernama Madyan.
Musa istirahat dan duduk-duduk
di dekat sumur
yang besar di
mana di situ orang-orang mengambil air untuk memberi
minum kepada binatang-binatang tunggangan
mereka dan binatang-binatang gembalaan
mereka. Musa tidak membawa makanan selain daun-daun pohon.
Musa minum dari sumur-sumur yang
ditemukannya di tengah
jalan. Sepanjang perjalanan
Musa merasakan ketakutan;
jangan-jangan Fir'aun mengirim orang untuk menangkapnya. Ketika Musa sampai di
kota Madyan Musa berbaring di sisi pohon dan istirahat. Musa merasa lapar
dan keletihan. Sandal
yang dipakainya tampak
mulai rosak. Beliau tidak
mempunyai wang yang cukup untuk membeli
sandal baru, dan beliau juga tidak mempunyai wang yang cukup untuk membeli
makanan dan minuman.
Nabi
Musa memperhatikan kumpulan pengembala yang sedang mengambil air untuk
kambing-kambing mereka. Musa ingat bahawa ia sedang lapar dan haus. Ia berkata
dalam dirinya: Aku
tidak dapat memenuhi
perutku dengan air selama aku tidak memiliki wang yang cukup
untuk membeli makanan. Musa berjalan
menuju tempat air.
Sebelum sampai, ia
mendapati dua orang perempuan yang
sedang menyendirikan kambing-kambingnya agar
jangan sampai tercampur dengan
kambing orang lain.
Melalui ilham, Musa
merasa bahawa kedua wanita itu membutuhkan pertolongan. Musa lupa
terhadap rasa hausnya, lalu beliau menuju ke arah mereka dan bertanya, apakah
ia dapat membantu mereka? Lalu
seorang gadis yang
paling tua berkata:
"Kami menunggu sampai selesainya para gembala itu mengambil air
untuk binatang gembalaan
mereka." Musa bertanya:
"Mengapa kalian tidak
mengambil air
sekarang?" Gadis yang
paling kecil berkata:
"Kami tidak mampu
untuk berdesak-desakan dengan kaum
lelaki." Nabi Musa
kehairanan kerana
mengetahui kedua gadis
itu menggembala kambing.
Seharusnya yang mengembala kambing
adalah kaum lelaki.
Ini adalah tugas
yang berat dan sangat melelahkan. Musa bertanya:
"Mengapa kalian menggembala kambing?" Masih kata
gadis yang paling
kecil: "Orang tua
kami sudah tua
di mana kesehatannya tidak
dapat membantunya untuk
keluar dari rumah
dan menggembala kambing setiap
hari." Musa berkata:
"Kalau begitu, aku
akan membantu kalian untuk mengambil air tersebut."
Musa
berjalan menuju tempat air. Musa mengetahui bahawa para penggembala
meletakkan di atas
bibir air suatu
batu besar yang
tidak bisa digerakkan kecuali oleh
sepuluh orang. Musa
merangkul dan mengangkatnya
dari bibir sumur. Otot-otot
Musa tampak menonjol saat memindahkan
batu itu. Musa adalah seorang lelaki yang kuat.
Akhirnya, Musa berhasil mengambilkan air bagi remaja puteri itu, dan kemudian
ia mengembalikan batu itu ke tempatnya. Musa
kembali duduk di bawah naungan
pohon. Saat itu
Musa lupa untuk minum. Perut Musa menempel ke
punggungnya kerana saking laparnya. Musa mengingat Allah s.w.t dan memanggil-Nya
dalam hatinya:
"Ya
Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan
kepadaku." (QS. al-Qashash: 24)
"Dan tatkala
ia menghadap ke
jurusan negeri Madyan
ia berdoa (lagi): 'Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke
jalan yang benar.' Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia
menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia
menjumpai di belakang orang banyak itu, dua
orang wanita yang
sedang menambat (ternaknya)
Musa berkata: 'Apakah maksudmu
(dengan berbuat begitu)?'
Kedua wanita itu menjawab: 'Kami
tidak dapat meminumkan (ternak kami),
sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak
kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.' Maka Musa memberi minum
ternak itu untuk (menolong) keduanya,
kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: 'Ya Tuhanku,
sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.'"
(QS. al-Qashash: 22-24)
Marilah kita
tinggalkan sejenak Nabi
Musa yang sedang
duduk di bawah naungan pohon untuk kemudian kita
melihat apa yang terjadi pada kedua gadis itu. Kedua gadis itu kembali ke rumah
ayahnya. Si ayah bertanya: "Hari ini kalian kembali
lebih cepat dari
biasanya?" Gadis yang
paling tua berkata: "Sungguh hari ini kami sangat
beruntung. Wahai ayah, kami bertemu dengan seorang lelaki yang mulia yang
mengambilkan air bagi haiwan kami sebelum orang-orang lain mengambilnya."
Si ayah berkata: "Alhamdulillah." Gadis yang paling kecil berkata:
"Saya kira wahai ayahku dia datang dari tempat yang jauh dan tampak
ia sedang lapar.
Saya melihat dia
dalam keadaan kecapaian meskipun ia seorang lelaki yang
kuat."
Si ayah
berkata kepada anak
perempuannya: Pergilah engkau
padanya dan katakan, sesungguhnya
ayahku memanggilmu untuk
memberimu upah atas jasamu
mengambilkan air untukku.
Kemudian anak perempuan
itu pergi menemui Musa dalam
keadaan hatinya berdebar-debar. Perempuan itu berdiri di depan
Musa dan menyampaikan
surat dari ayahnya.
Musa bangkit dari tempat duduknya dan pandangannya tertuju
ke bawah. Musa tidak bermaksud mengambilkan
air untuk mereka
dengan tujuan mengharapkan
upah dari mereka. Beliau
membantu mereka hanya
semata-mata kerana Allah
s.w.t. Beliau merasakan dalam
dirinya bahawa Allah
s.w.t-lah yang mengarahkan beliau untuk membantu mereka.
Gadis
itu berjalan di depan Musa kemudian bertiuplah angin dan menyentuh pakaiannya
sehingga Musa menundukkan pandangan matanya kerana merasa malu. Musa
berkata kepadanya: "Saya
akan berjalan di
depanmu dan tunjukkanlah jalan
kepadaku." Mereka pun
sampai di kediaman
si ayah. Sebahagian ahli
tafsir mengatakan bahawa
si ayah ini
adalah Nabi Syu'aib. Beliau memperoleh usia yang panjang
setelah kematian kaumnya. Ada juga yang mengatakan bahawa si ayah adalah putera
dari saudara Syu'aib. Ada yang mengatakan
bahawa ia adalah
anak dari pamannya,
dan ada juga
yang mengatakan bahawa ia
adalah seorang lelaki
mukmin dari kaumnya.
Yang
jelas,
ia adalah seorang tua yang soleh. Orang tua itu menghidangkan kepada Nabi Musa
makanan siang dan bertanya kepadanya dari mana ia datang dan kemudian ke mana
ia akan pergi.
Musa mengungkapkan
ceritanya. Orang tua
itu berkata kepadanya,
jangan khuatir dan jangan takut. Engkau akan selamat dari orang-orang
yang lalim. Negeri ini tidak
tunduk pada Mesir
dan mereka tidak
akan sampai di
sini. Mendengar ucapan itu, Musa menjadi tenang dan bangkit untuk pergi.
Salah seorang anak perempuan itu berkata kepada ayahnya dengan berbisik:
"Wahai ayahku, berilah dia
upah." Sesungguhnya engkau
akan memberikan upah kepada seorang yang kuat dan jujur. Si
ayah bertanya kepadanya: "Bagaimana engkau
mengetahui dia seorang
lelaki yang kuat?"
Anak perempuannya menjawab:
"Saya lihat sendiri ia mengangkat batu yang tidak mampu diangkat oleh sepuluh
orang lelaki." Si
ayah bertanya lagi:
"Bagaimana engkau mengetahui
bahawa dia seseorang yang jujur." Perempuan itu menjawab: "Ia menolak
untuk berjalan di belakangku dan ia berjalan di depanku sehingga ia tidak
melihatku saat aku berjalan, dan selama perjalanan saat aku berbincangbincang
padanya, dia selalu menundukkan matanya ke tanah sebagai rasa malu dan adab
yang baik darinya."
Kemudian
orang tua itu memandangi Musa dan berkata padanya: "Wahai Musa, aku ingin
menikahkanmu dengan salah satu puteriku. Dengan syarat, hendaklah engkau bekerja
menggembala kambing bersamaku
selama delapan tahun. Seandainya engkau
menyempurnakan sepuluh tahun
maka itu adalah kemurahan darimu.
Aku tidak ingin
menyusahkanmu. Sungguh insya-Allah engkau akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang saleh." Musa berkata: "Ini adalah kesepakatan antar
aku dan engkau dan Allah s.w.t sebagai saksi atas kesepakatan kita,
baik aku melaksanakan
pekerjaan selama delapan
tahun mahupun sepuluh tahun. Setelah itu, aku bebas untuk pergi ke mana
saja."
Allah
s.w.t berfirman:
"Kemudian datanglah
kepada Musa salah
seorang dari kedua
wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia
berkata: 'Sesungguhnya bapakku
memanggil kamu agar ia
memberi balasan terhadap
(kebaikan) mu memberi
minum (ternak) kami.' Maka
tatkala Musa mendatangi
bapaknya (Syu'aib) dan
menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya),
Syu'aib berkata: 'Janganlah kamu
takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang lalim itu.' Salah seorang dari
kedua wanita itu berkata: 'Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang
bekerja (pada kita), kerana sesungguhnya
orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang
yang kuat
lagi dapat
dipercayai. Berkatalah dia (Syu'aib): 'Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah
seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahawa kamu bekerja denganku delapan
tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan)
dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya-Allah akan
mendapatiku termasuk orang-orang yang
baik.' Dia (Musa) berkata: 'Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja
dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka
tidak ada tuntutan
tambahan atas diriku
(lagi). Dan Allah adalah saksi
atas apa yang aku ucapkan.'" (QS. al-Qashash: 25-28)
Ketika sampai
pada kisah ini,
banyak pena bertebaran
untuk mendapatkan jawapan dari
pertanyaan-pertanyaan yang mencuba
menerobos kesamaran. Mereka
bertanya tentang anak perempuan yang menikahi Musa: apakah anak perempuan yang
paling besar ataukah anak perempuan yang paling kecil, dan Musa memilih masa
bekerja delapan tahun atau sepuluh tahun. Bahkan mereka menyampaikan berbagai
macam riwayat dan
kisah yang mereka
yakini kebenarannya. Kami sendiri meyakini bahawa Musa menikah dengan
salah satu anak perempuan dari orang tua itu tetapi kita tidak mengetahui siapa
dia dan siapa namanya. Kami
meyakini bahawa beliau
menikah dengan gadis
yang memanggilnya untuk menemui
ayahnya. Kemudian gadis
itulah yang menganjurkan ayahnya
agar memberikan upah padanya.
Al-Quran al-Karim
melalui konteks ayatnya
menyingkap bentuk kekaguman yang tersembunyi di balik gadis itu
terhadap Musa. Barangkali orang tuanya mengetahui bahawa anak perempuannya
menaruh rasa cinta kepada Musa, dan boleh jadi ketika berbicara tentang
pernikahan kepada Musa, ia menyerahkan sepenuhnya kebebasan
Musa untuk memilih.
Mungkin Musa memilih
sendiri gadis mana yang
diminatinya. Tetapi, siapa
gadis yang dipilih
oleh Musa: apakah gadis yang
paling tua atau gadis yang paling kecil? Yang jelas Al-Quran tidak menyebutkan
hal tersebut, meskipun
ia hanya memberikan
isyarat kepadanya dalam firman-Nya:
"Kemudian datanglah
kepada Musa salah
seorang dari kedua
wanita itu berjalan
kemalu-maluan. " (QS. al-Qashash: 25)
Begitu
juga Al-Quran al-Karim tidak menyebutkan waktu yang dihabiskan oleh Musa saat
ia bekerja: apakah sepuluh tahun atau beliau merasa cukup dengan delapan tahun.
Kami sendiri meyakini
sesuai dengan kebiasaan
Musa dan kemurahannya serta
kenabiannya serta kedudukannya sebagai salah satu nabi ulul azmi bahawa beliau
memilih masa yang paling lama, yaitu sepuluh tahun. Pendapat itu juga didukung
oleh hadis Ibnu Abas.
Demikianlah
Nabi Musa mengabdi kepada orang tua itu selama sepuluh tahun penuh. Pekerjaan
Nabi Musa terbatas pada keluar dari rumah di waktu pagi untuk menggembala
kambing. Kami kira
bahawa sepuluh tahun
masa yang dihabiskan oleh
Nabi Musa di
Madyan merupakan suatu
ketentuan yang dirancang oleh
Allah s.w.t. Musa
berdasarkan agama Yakub.
Kakek beliau adalah Yakub dan
Yakub sendiri adalah cucu dari Ibrahim. Dengan demikian, Musa adalah cucu dari
Ibrahim dan setiap nabi yang datang setelah Ibrahim berasal dari sulbinya. Maka
dari sini kita memahami bahawa Musa berada di atas agama ayah-ayahnya dan
datuk- datuknya.
Nabi
Musa berdasarkan Islam dan agama tauhid. Nabi Musa menghabiskan masa sepuluh
tahun itu dalam keadaan jauh dari kaumnya dan keluarganya. Masa sepuluh tahun
ini adalah masa yang paling penting dalam kehidupannya. Ia merupakan masa
persiapan yang besar. Pada setiap malam Musa merenungkan bintang-bintang. Musa
mengikuti terbitnya matahari dan tenggelamnya. Pada setiap siang
Musa memikirkan tumbuh-tumbuhan: bagaimana
ia membelah tanah dan mekar. Musa
memperhatikan air: bagaimana ia menghidupkan bumi setelah bumi itu mati, lalu
bumi itu menjadi tempat yang indah dan subur. Musa memperhatikan alam yang luas
dan ia tampak tercengang dan kagum dengan ciptaan Allah s.w.t.
Sebenarnya pemikiran-pemikiran dan
perenungan-perenungan tersebut
jauh-jauh hari sudah
tersembunyi di dalam
dirinya dan menetap
di dalam jiwanya. Bukankah Musa
telah terdidik di istana Fir'aun. Ini bererti bahawa beliau menjadi seorang
Mesir yang mempunyai wawasan yang luas; orang Mesir yang menunjukkan kekuatan
fizikalnya; orang Mesir dengan segala makanannya dan minumannya. Jadi, segala
hal yang ada pada Musa berbau Mesir. Musa siap-siap untuk menerima wahyu Ilahi
dari bentuk yang baru. Yaitu wahyu Ilahi yang langsung datang tanpa perantara
seorang malaikat di mana Allah s.w.t akan berbicara dengannya tanpa perantara.
Oleh
kerana itu, sebelum datangnya wahyu itu perlu adanya persiapan mental dan
moral, sedangkan persiapan fizik telah selesai dilaluinya di Mesir. Musa tumbuh
di istana yang paling besar yang dimiliki penguasa di bumi dan di suatu
pemerintahan yang paling kaya di bumi. Musa menjadi seorang pemuda yang kuat di
mana hanya sekadar memisahkan seseorang yang berkelahi, ia justru
membunuhnya. Setelah persiapan
fizik yang sangat
kuat, kini Musa
harus melewati persiapan mental
yang seimbang. Yaitu
persiapan yang dilakukan melalui pengasingan yang sempurna
di mana beliau hidup di tengah-tengah gurun
dan tempat penggembalaan
yang beliau belum
pernah menginjakkan kakinya di
sana. Beliau hidup di tengah-tengah orang asing yang belum pernah beliau lihat
sebelumnya.
Sering
kali Musa mendapatkan kesunyian dan keheningan di balik pengasingan itu. Allah
s.w.t mempersiapkan hal tersebut kepada nabi- Nya agar setelah itu beliau mampu
memegang amanat yang besar dari Allah s.w.t. Datanglah suatu hari atas Musa.
Selesailah masa yang ditentukan. Kemudian Musa merasakan kerinduan untuk
kembali ke Mesir. Dengan berlalunya waktu, hukuman yang harus dijalaninya
dengan sendirinya gugur. Musa mengetahui hal itu, tetapi beliau juga mengetahui
bahawa undang-undang di Mesir sebenarnya terletak pada kekuatan
penguasa; jika penguasa
berkehendak maka Musa
dapat menerima hukuman dan jika tidak berkehendak maka dia akan
memaafkannya, meskipun yang bersangkutan
berhak mendapatkan hukuman.
Alhasil, Musa menyedari hal itu,
Musa tidak sepenuhnya yakin ia akan selamat ketika beliau menginjakkan kakinya
di Mesir seperti keyakinannya bahawa beliau selamat di tempatnya sekarang.
Meskipun demikian, rasa
rindunya untuk melakukan perjalanan kembali ke tempatnya
mendorong Musa segera menuju ke Mesir. Musa tepat mengambil keputusan.
Musa
berkata kepada Isterinya: "Besok kita akan memulai perjalanan ke
Mesir." Isterinya berkata dalam dirinya: "Di dalam perjalanan
terdapat seribu macam bahaya tetapi ketenangan tetap menghiasai wajah
Musa." Isteri Musa tetap
taat kepada Musa.
Nabi Musa sendiri
tidak mengetahui rahsia
tentang keputusannya yang cepat untuk kembali ke Mesir setelah sepuluh
tahun beliau pergi melarikan diri, lalu mengapa sekarang ia kembali ke sana?
Apakah beliau rindu kepada ibunya
dan saudaranya? Apakah
beliau berfikir untuk mengunjungi Isteri Fir'aun yang telah
mendidiknya layaknya ibunya dan sangat mencintainya layaknya ibunya sendiri?
Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang terlintas dalam diri Musa saat
beliau berkeinginan untuk kembali ke Mesir.
Hanya saja, yang kita
ketahui bahawa Nabi Musa terbimbing dengan ketetapan- ketetapan Ilahi
sehingga beliau tidak melangkahkan kakinya kecuali berdasarkan ketetapan
tersebut.
Musa keluar
bersama keluarganya
dan melakukan perjalanan.
Bulan bersembunyi di balik gumpalan awan yang tebal, dan kegelapan
rnenyelimuti sana-sini. Sementara itu, petir menyambar sangat keras dan langit
menurunkan hujan. Cuaca tampak tidak bersahabat. Di tengah- tengah
perjalanannya, Musa tersesat. Musa mendapatkan dua potongan batu kemudian
beliau memukulkan kedua-nya dan
menggesek-gesekan keduanya
agar mendapatkan api
darinya sehingga beliau dapat berjalan. Tetapi sayang, beliau tidak
mampu melakukan hal itu. Angin yang bertiup kencang memadamkan api kecil itu.
Nabi
Musa berdiri dalam keadaaan bingung dan tubuhnya tampak menggigil di
tengah-tengah keluarganya. Kemudian Nabi Musa mengangkat kepalanya dan
menyaksikan sesuatu dari jauh. Sesuatu yang beliau saksikan adalah api yang
sangat besar yang
menyala-nyala dari kejauhan.
Maka hati Musa
dipenuhi dengan rasa gembira.
Ia berkata kepada
keluarganya: "Aku melihat
api di sana." Lalu beliau
memerintahkan kepada mereka untuk tinggal di tempatnya sehingga beliau pergi ke
api itu. Barangkali di sana beliau mendapatkan suatu berita atau
akan menemukan seseorang
yang dapat memberinya
petunjuk sehingga beliau tidak tersesat, atau beliau dapat membawa
sebahagian api yang menyala sehingga tubuh mereka menjadi hangat.
Keluarganya
melihat api yang diisyaratkan oleh Musa tetapi sebenarnya mereka tidak melihat
sesuatu pun. Mereka
tetap mentaatinya dan
duduk sambil menunggu kedatangan
Musa. Musa bergerak
menuju ke tempat
api. Musa segera berjalan untuk
menghangatkan tubuhnya, sementara tangan kanannya memegang tongkatnya dan
tubuhnya tampak basah kuyup kerana hujan. Nabi Musa tetap berjalan sampai ia
mencapai suatu lembah yang bernama Thua'. Beliau menyaksikan sesuatu yang unik
di lembah ini. Di lembah itu tidak ada rasa dingin dan tidak ada angin yang
bertiup. Yang ada hanya keheningan. Nabi Musa
mendekati api. Belum
lama beliau mendekatinya
sehingga beliau mendengar suara panggilan:
"Maka tatkala
dia tiba di (tempat)
api
itu, diserulah dia:
'bahawa telah diberkati
orang-orang yang berada
di dekat api
itu, dan orang-orang
yang berada di sekitarnya.
Dan Maha Suci
Allah, Tuhan semesta
alam." (QS. an-Naml: 8)
Tiba-tiba Nabi
Musa berhenti dan
badannya menggigil. Suara
itu tampak terdengar dan
datang dari segala
tempat dan tidak
berasal dari tempat tertentu. Musa
melihat api dan
beliau kembali merasa
menggigil. Beliau mendapati suatu
pohon hijau dari duri dan setiap kali pohon itu terbakar dan berkobar api
darinya maka pohon itu justru semakin hijau. Seharusnya pohon itu berubah
warnanya menjadi hitam saat terbakar, tetapi anehnya api justru
meningkatkan warna hijaunya.
Musa tetap menggigil
meskipun beliau merasakan
kehangatan dan tampak mulai berkeringat.
Lembah
yang di situ Musa berdiri adalah lembah Thua'. Musa meletakkan kedua
tangannya di atas
kedua matanya kerana
saking dahsyatnya cahaya.
Beliau melakukan yang demikian itu sebagai usaha untuk melindungi kedua
matanya. Kemudian Musa bertanya dalam dirinya: Ini cahaya atau api? Tiba-tiba
beliau tersungkur ke tanah sebagai wujud rasa takut, lalu Allah s.w.t
memanggil:
"Wahai
Musa." (QS. Thaha: 11)
Musa
mengangkat kepalanya dan berkata: "Ya." Allah berkata:
"Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu." (QS. Thaha: 12)
Musa
semakin menggigil dan berkata: "Benar wahai Tuhanku."
Allah
s.w.t berkata: "Maka lepaskanlah kedua sandalmu sesungguhnya engkau berada
di lembah yang suci yang bernama Thua'." Musa tertunduk dan rukuk
sementara tubuhnya tampak gementar dan
beliau mulai melepas sandalnya Allah s.w.t berkata:
Maka tinggalkanlah
kedua terompahmu; sesungguhnya
kamu berada di lembah yang suci, Thuwa'. " (QS.
Thaha: 12)
Musa rukuk
dan melepas kedua
sandalnya. Kemudian Allah
s.w.t kembali berkata:
"Dan Aku
telah memilih kamu,
maka dengarkanlah apa
yang akan diwahyukan (kepadamu).
Sesungguhnya Aku ini
adalah Allah, tidak
ada Tuhan (yang hak)
selain Aku, maka sembahlah
Aku dan dirikanlah
salat untuk mengingat Aku.
Sesungguhnya hari kiamat
itu akan datang.
Aku merahsiakan (waktunya) agar
supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang diusahakan. Maka sekali-kali
janganlah kamu dipalingkan darinya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan
oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu binasa."
(QS. Thaha: 13-16)
Musa
semakin gementar saat beliau menerima wahyu Ilahi dan saat berdialog
dengan Allah s.w.t.
Allah s.w.t yang Maha
Pengasih dan Maha
Penyayang berkata:
"Apakah
itu yang ada di tangan kananmu, hai Musa?" (QS. Thaha: 17)
Bertambahlah
kehairanan Nabi Musa. Allah s.w.t adalah Zat yang mengajaknya berbicara dan
tentu Dia lebih mengetahui daripada Musa tentang apa yang dipegangnya, lalu
mengapa Allah s.w.t bertanya kepadanya jika memang Dia lebih mengetahui
darinya. Tak ragu
lagi bahawa di
sana ada hikmah
yang tinggi. Musa menjawab pertanyaan itu dengan suaranya yang tampak
mengigil:
"Ini adalah
tongkatku, aku bertelekan
padanya, dan aku
pukul (daun) dengannya untuk
kambingku, dan bagiku
ada lagi keperluan
yang lain padanya." (QS.
Thaha: 18)
Allah
berfirman:
"Lemparkanlah
ia, hai Musa!" (QS. Thaha: 19)
Musa melemparkan
tongkatnya dari tangannya
dan rasa hairannya
semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba Musa dikejutkan ketika melihat tongkat
itu menjadi ular yang besar.
Ular itu bergerak
dengan cepat. Musa
tidak mampu lagi menahan rasa takutnya. Musa merasa
tubuhnya bergetar kerana rasa takut. Musa membalikkan tubuhnya kerana takut dan
ia mulai lari. Belum lama ia lari, belum sampai dua langkah, Allah s.w.t
memanggilnya:
"Hai Musa,
janganlah kamu takut,
sesungguhnya orang yang
menjadikan rasul, tidak takut di hadapanku. " (QS. an-Naml: 10)
"Hai
Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk
orang-orang yang aman. " (QS. al- Qashash: 31)
Musa
kembali memutar badannya dan berdiri. Tongkat itu tampak bergerak dan ular itu
pun tetap bergerak. Allah s.w.t berkata kepada Musa:
"Peganglah
ia dan janganlah takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.
" (QS. Thaha: 21)
Musa menghulurkan
tangannya ke ular
itu dalam keadaan
menggigil. Musa belum sempat
menyentuhnya sehingga ular itu menjadi tongkat. Demikianlah perintah Allah
s.w.t terjadi dengan
cepat. Kemudian Allah
s.w.t memerintahkan kepadanya:
"Masukanlah
tanganmu ke leher bajumu, nescaya ia keluar putih tidak bercacat bukan kerana
penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu
(ke dada)mu bila ketakutan. " (QS. al-Qashash: 32)
Musa meletakkan
tangannya di kantongnya
lalu ia mengeluarkannya dan tiba-tiba tangan
itu bersinar bagaikan
bulan. Kembali rasa
kagum Musa bertambah. Lalu
ia meletakkan tangannya
di dadanya sebagaimana diperintahkan Allah s.w.t
padanya sehingga rasa takutnya benar-benar hilang. Musa merasa
tenang dan terdiam.
Kemudian Allah s.w.t
memerintahkan kepadanya - setelah beliau melihat kedua mukjizat ini,
yaitu mukjizat tangan dan mukjizat tongkat - untuk pergi menemui Fir'aun dan
berdakwah kepadanya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang dan Allah s.w.t
memerintahkan kepadanya untuk mengeluarkan Bani Israil dari Mesir. Musa
menampakkan rasa takutnya kepada Fir'aun. Musa berkata bahawa ia telah membunuh
seseorang di antara mereka
dan beliau khuatir
mereka akan membunuhnya
dan membalasnya. Musa meminta
kepada Allah s.w.t dan memohon kepada-Nya agar mengirim saudaranya Harun bersamanya.
Allah s.w.t menenangkan Musa dengan
mengatakan bahawa Dia
akan selalu bersama
mereka berdua. Dia mendengar
dan menyaksikan gerak-geri
dan perbuatan mereka.
Meskipun Fir'aun terkenal dengan kejahatannya dan kekuatannya, namun
kali ini Fir'aun tidak akan mampu
mengganggu atau menyakiti
mereka. Allah s.w.t memberitahu Musa
bahawa Dia-lah yang
akan menang. Musa
berdoa dan memohon kepada
Allah s.w.t agar
melapangkan hatinya dan
memudahkan urusannya serta memberinya kekuatan dalam berdakwah di
jalan-Nya.
Allah
s.w.t berfirman:
"Apakah
telah sampai kepadamu kisah Musa ?
Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: 'Tinggallah kamu
(di sini), sesungguhnya aku melihat api,
mudah-mudahan aku dapat
membawa sedikit darinya kepadamu atau aku akan mendapat
petunjuk di tempat api itu. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia
dipanggil: Hai Musa, sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu. Maka
tinggalkanlah kedua terompahmu;
sesungguhnya kamu berada di
lembah yang suci, Thuwa'. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa
yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada
Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya hari
kiamat itu akan datang.
Aku merahsiakan (waktunya)
agar supaya tiap-tiap
diri itu dibalas dengan apa yang
diusahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu kamu dipalingkan darinya
oleh orang yang
tidak beriman kepadanya
dan oleh orang yang
mengikuti hawa nafsunya,
yang menyebabkan kamu
binasa. Apakah itu yang ada di tangan kananmu, hai Musa, 'Ini adalah
tongkatku, aku bertelehan padanya,
dan aku pukul (daun) dengannya
untuk kambingmu, dan bagiku
ada lagi keperluan
yang lain padanya.'
Allah berfirman:
Lemparkanlah ia, hai
Musa!' Lalu dilemparkanlah tongkat
itu, maka tiba-tiba ia
menjadi seekor ular
yang merayap dengan
cepat. Peganglah ia dan
janganlah takut, Kami
akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, dan kepitkanlah
tanganmu ke ketiakmu, nescaya ia ke luar
menjadi putih cemerlang
tanpa cacat, sebagai
mukjizat yang lain (pula),
untuk Kami perlihatkan
kepadamu sebahagian dari
tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar. Pergilah kepada Fir'aun;
sesungguhnya ia telah melampaui
batas. Berkata Musa:
'Ya Tuhanku, lapangkanlah
untukku dadaku, dan mudahkanlah
untukku urusanku, dan
lepaskanlah kekakuan dari lidah,
supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu
dari keluargaku, (yaitu) Harun
saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam
urusanku, supaya kami banyak bertasbih
kepada Engkau, dan
banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau
adalah Maha Melihat (keadaan) kami.'
Allah berfirman:
'Sesungguhnya telah diperkenankan
permintaanmu, hai Musa.' Dan sesungguhnya Kami telah memberi
nikmat kepadamu pada kali yang lain,
yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, yaitu:
Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti,
kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke
tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku dan musuhnya.' Dan Aku telah
melimpahkan kepadamu kasih sayang yang
datang dari-Ku; dan
supaya kamu diasuh
di bawah pengawasan-Ku. (Yaitu)
ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga
Fir'aun): 'Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang
akan memeliharanya?' Maka
Kami mengembalikanmu kepada ibumu,
agar senang hatinya
dan tidak berduka
cita. Dan kamu
pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari
kesusahan dan Kami telah mencubamu
dengan beberapa cubaan;
maka kamu tinggal beberapa tahun
di antara penduduk
Madyan, kemudian kamu
datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa, dan Aku telah memilihmu
untuk diri-Ku. " (QS. Thaha: 9-41)
Kita
tidak mengetahui apa yang kita akan katakan dan apa yang kita komentar
berkaitan dengan firman Allah s.w.t kepada salah seorang hamba-Nya: "Dan
Aku telah memilihmu untuk diri-Ku." Allah s.w.t telah memilih Musa. Itu
adalah salah satu puncak kemuliaaan di mana tidak ada seseorang pun di zaman
itu yang mampu mencapainya
selain Musa. Nabi
Musa kembali untuk
menemui keluarganya setelah Allah s.w.t memilihnya sebagai Rasul atau
utusan untuk berdakwah ke Fir'aun.
Akhirnya, Nabi Musa
beserta keluarganya berjalan menuju ke Mesir. Hanya Allah s.w.t
yang mengetahui fikiran-fikiran apa yang terlintas di dalam diri Musa saat
beliau mengayunkan langkahnya menuju ke Mesir.
Selesailah masa-masa
perenungan dan dimulailah
hari-hari kedamaian dan kebahagiaan, dan akhirnya datanglah
hari-hari yang sulit. Demikianlah Nabi Musa memikul amanat kebenaran dan pergi
untuk menyampaikannya kepada salah satu penguasa yang paling bengis dan paling
kejam dan paling jahat di zamannya. Nabi
Musa mengetahui bahawa Fir'aun adalah
orang yang jahat. Fir'aun akan berusaha memberhentikan langkah dakwahnya
dan Fir'aun akan menentangnya tetapi Allah s.w.t memerintahkannya untuk pergi
ke Fir'aun dan berdakwah kepadanya dengan
kelembutan dan kasih
sayang. Allah s.w.t mewahyukan kepada Musa bahawa Fir'aun
tidak akan beriman tetapi Nabi Musa tidak peduli dengan hal itu. Beliau
diperintahkan untuk melepaskan Bani Israil yang sedang diseksa oleh Fir'aun.
Allah
s.w.t berkata kepada Musa dan Harun:
"Maka datanglah
kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dan
katakanlah: 'Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka
lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyeksa mereka."
(QS. Thaha: 47)
Inilah
tugas yang ditentukan, yaitu tugas yang akan berbenturan dengan ribuan
tantangan. Fir'aun menyeksa Bani Israil dan menjadikan mereka budak-budak dan
memaksa mereka untuk bekerja di luar kemampuan mereka. Fir'aun juga menodai
kehormatan wanita-wanita mereka dan menyembelih anak laki-laki mereka. Nabi
Musa mengetahui bahawa
rejim Mesir berusaha
untuk memperbudak Bani Israil
dan mengeksploitasi mereka
di luar kemampuan mereka demi kepentingan penguasa.
Tetapi Nabi Musa tetap memperlakukan dan
menghadapi Fir'aun dengan
penuh kelembutan dan
kasih sayang sebagaimana yang
diperintahkan oleh Allah s.w.t padanya:
"Pergilah
kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka
berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut,
mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS. Thaha: 43-44)
Musa
bercerita kepada Fir'aun tentang siapa sebenarnya Allah s.w.t, tentang
rahmat-Nya, tentang syurganya, dan tentang kewajipan mengesakan-Nya dan
menyembah-Nya. Beliau berusaha mem-bangkitkan aspek-aspek kemanusiaan
Fir'aun melalui pembicaraan
tersebut. Fir'aun mendengarkan
apa yang dikatakan oleh Musa
dengan penuh kebosanan. Fir'aun membayangkan bahawa seseorang yang di
hadapannya adalah orang gila yang nekad untuk menentang dan menggoyang
kedudukannya. Kemudian Fir'aun mengangkat tangannya dan berbicara: "Apa
yang engkau inginkan, hai Musa?" Musa menjawab: "Aku ingin agar
engkau membebaskan Bani Israil." Fir'aun bertanya: "Mengapa aku harus
membebaskan mereka bersamamu sementara mereka adalah budak- budakku?" Musa
menjawab: "Mereka adalah hamba-hamba Allah s.w.t, Tuhan Pengatur alam semesta." Dengan nada
mengejek Fir'aun bertanya: "Bukankah engkau mengatakan bahawa namamu Musa?"
Musa menjawab: "Benar." Fir'aun berkata:
"Bukankah
engkau yang kami temukan di sungai Nil saat engkau masih kecil yang tidak
mempunyai daya dan kekuatan? Bukankah engkau Musa yang aku didik di
istana ini, lalu
engkau memakan makanan
kami dan meminum
air kami, dan engkau menikmati kebaikan- kebaikan dari kami? Bukankah
engkau yang membunuh seseorang lalu setelah itu engkau lari? Tidakkah engkau
ingat semua itu? Bukankah
mereka mengatakan bahawa
pembunuhan merupakan suatu kekufuran?
Kalau begitu, engkau
seorang kafir dan
engkau seorang pembunuh. Jadi
engkau adalah Musa yang lari dari hukum Mesir. Engkau adalah seseorang yang
lari dan menghindari keadilan. Lalu sekarang engkau datang kepadaku dan
berusaha berbicara denganku. Engkau berbicara tentang apa hai Musa. Sungguh aku
telah lupa."
Musa
mengerti bahawa Fir'aun mengingatkan
padanya tentang masa lalunya dan Fir'aun berusaha menunjukkan kepadanya bahawa
ia telah mendidiknya dan berlaku baik
padanya. Musa juga
memahami bahawa Fir'aun mengancamnya dengan pembunuhan. Musa memberitahu Fir'aun, bahawa ia bukan seorang
kafir ketika membunuh
seorang Mesir tetapi
saat itu beliau melakukannya dengan tidak sengaja.
Musa memberitahu Fir'aun bahawa ia lari dari
Mesir kerana khuatir
akan pembalasan mereka.
Pembunuhan yang dilakukan olehnya
bersifat tidak sengaja.
Musa tidak bermaksud
untuk membunuh seseorang. Musa
telah memberitahu Fir'aun
bahawa Allah s.w.t
telah
memberinya hikmah dan menjadikannya salah seorang Rasul. Allah s.w.t
menceritakan sebahagian dialog antara Musa dan Fir'aun dalam surah as-Syuara'
sebagaimana firman-Nya:
"Dan
(ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya): 'Datangilah kaum yang lalim itu,
(yaitu) kaum Fir'aun. Mengapa mereka tidak bertakwa? Berkata
Musa: 'Ya Tuhanku,
sesungguhnya aku takut
bahawa mereka akan mendustakan
aku. Dan (kerananya)
sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah (Jibril) kepada Harun. Dan aku berdosa
terhadap mereka, maka
aku takut mereka
akan membunuhku.' Allah berfirman: 'Janganlah takut (mereka
tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua
dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat); sesungguhnya Kami
bersamamu mendengarkan (apa-apa yang
mereka katakan). Maka
datanglah kamu berdua
kepada Fir'aun dan
katakanlah: 'Sesungguhnya kami adalah Rasul
Tuhan semesta alam, lepaskanlah Bani
Israil (pergi) beserta kami.'
Fir'aun menjawab: 'Bukankah kami
telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak
dan kamu tinggal
bersama kami beberapa tahun
dari umurmu, dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu
lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna.'
Berkata Musa: 'Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk
orang-orang yang khilaf. Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut
kepadamu, kemudian Tuhanku
memberikan kepadaku ilmu
serta Dia menjadikanku salah
seorang di antara rasul-rasul. " (QS. as-Syu'ara: 10-21)
Kemudian
bangkitlah emosi Nabi Musa ketika Fir'aun mengingatkan bahawa ia telah berbuat
baik kepada Musa. Musa bangkit dan berbicara kepadanya:
"Budi
yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah
(disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil." (QS. asy-Syu'ara:
22)
Musa
ingin berkata kepadanya, apakah engkau mengira bahawa nikmat yang engkau berikan
kepadaku lalu engkau merasa telah berbuat baik padaku, di mana aku adalah salah
seorang lelaki dari kalangan Bani Israil? Apakah nikmat ini sebanding dengan
cara-caramu memperlakukan bangsa yang besar ini di mana engkau memperbudak
mereka; engkau memperkerjakan mereka dengan cara yang semena-mena. Jika ini
memang demikian maka logik mengatakan bahawa kita seimbang: tiada yang
berhutang dan tiada yang meminjam. Jika tidak demikian maka siapa yang
memberikan bahagian yang lebih besar?
Alhasil
masalahnya adalah dakwah di jalan Allah s.w.t, yaitu satu urusan yang aku tidak
membawa kepadamu dari
diriku sendiri. Aku
bukan utusan dari bangsa Bani Israil. Aku bukan juga
utusan dari diriku sendiri tetapi aku adalah seorang utusan
dari Allah s.w.t.
Aku adalah utusan
Tuhan Pengatur alam semesta.
Sampai pada tahap ini Fir'aun
mulai memasuki pembicaraan lebih serius: Fir'aun bertanya:
"Siapakah
Tuhan semesta alam itu?" (QS. asy-Syu'ara': 23) Musa Menjawab:
"Tuhan
Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antaranya keduanya (itulah
Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya." (QS.
asy-Syu'ara': 24)
Berkata Fir'aun
kepada orang-orang sekelilingnya: "Apakah
kamu tidak mendengarkan?"
(QS. asy-Syu'ara': 25)
Musa
berkata dan tidak mempedulikan ejekan Fir'aun itu:
"Tuhan
kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu. " (QS. asy-Syu'ara': 26)
Fir'aun berkata
kepada mereka yang
datang bersama Musa
dari Bani Israil: "Sesungguhnya Rasulmu yang
diutus kepada kamu sekalian benar- benar orang gila." Musa
kembali berkata dan
tidak memperhatikan tuduhan
Fir'aun dan ejekannya:
"Tuhan yang
menguasai timur dan
barat dan apa
yang ada di
antara keduanya: (Itulah Tuhanmu)
jika kamu mempergunakan
akal. " (QS.asy-Syu'ara': 28)
Allah
s.w.t menceritakan sebahagian dialog yang terjadi antara Fir'aun
dan Musa dalam surah as-Syu'ara':
"Fir'aun
bertanya: 'Siapakah Tuhan semesta alam itu?' Musa Menjawab: 'Tuhan
Pencipta langit dan
bumi dan apa-apa
yang di antara
keduanya (itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang)
mempercayai-Nya.' Berkata Fir'aun kepada orang-orang sekelilingnya: 'Apakah kamu
tidak mendengarkan?' Musa berkata:
"Tuhan kamu dan
Tuhan nenek-nenek moyang
kamu yang dahulu.' Fir'aun berkata:
'Sesungguhnya Rasulmu yang
diutus kepada kamu
sekalian benar-benar orang gila.'
Musa berkata: 'Tuhan
yang menguasai timur
dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan
akal.'" (QS. asy-Syu'ara': 23-28)
Allah s.w.t
mengingatkan dalam surah
Thaha sebahagian dari
peristiwa pertemuan antara Fir'aun dan Nabi Musa. Allah s.w.t berfirman:
"Maka datanglah
kamu kedua kepadanya (Fir'aun) dan katakanlah:
'Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil
bersama kami dan janganlah kamu menyeksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang
kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu.
Dan keselamatan itu
dilimpahkan kepada orang
yang mengikuti petunjuk. Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahawa
seksa itu (ditimpakan) atas orang-orang
yang mendustakan dan berpaling.' Berkata Fir'aun: 'Maka siapakah Tuhanmu
berdua, hai Musa.' Musa berkata: 'Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah
memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk
kejadiannya, kemudian memberinya
petunjuk.' Berkata Fir'aun: 'Maka bagaimanakah
keadaan-keadaan umat-umat yang
dahulu? Musa menjawab:
'Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab. Tuhan kami
tidak akan salah dan tidak akan salah (pula) lupa.'" (QS. Thaha: 47-52)
Kita perhatikan
bahawa Fir'aun tidak
bertanya kepada Nabi
Musa tentang Tuhan Pengatur alam
atau Tuhan Musa dan Harun dengan maksud bertanya sesungguhnya atau pertanyaan
yang bermaksud untuk mengetahui kebenaran tetapi perkataan
yang dilontarkan Fir'aun
semata- mata hanya
untuk mengejek. Nabi Musa as menjawabnya dengan jawapan yang sempurna
dan mengena. Nabi Musa
berkata: "Sesungguhnya Tuhan
kami adalah Dia
yang memberi sesuatu ciptaannya
kemudian Dia membimbing
ciptaannya. Dialah sang Pencipta.
Dia menciptakan berbagi macam makhluk dan Dia juga yang membimbingnya sesuai
dengan kebutuhannya sehingga
makhluk-makhluk tersebut
dapat menjalani kehidupan
dengan baik. Allah
s.w.t-lah yang mengarahkan segala
sesuatu; Allah s.w.t-lah yang menguasai segala sesuatu;
Allah s.w.t-lah
yang mengetahui segala
sesuatu; Allah s.w.t-lah
yang menyaksikan segala sesuatu." Al-Quran
al-Karim mengungkapkan semua
itu dalam ungkapan yang sederhana namun padat ertinya, yaitu dalam
firman-Nya:
"Musa
berkata: "Tuhan kami ialah (Tuhan)
yang telah memberikan kepada tiap-tiap
sesuatu bentuk kejadiannya,
kemudian memberinya petunjuk." (QS. Thaha: 50)
Kemudian Fir'aun
bertanya, "lalu
bagaimana keadaan manusia-manusia yang hidup di abad-abad
pertama di mana mereka tidak menyembah Tuhanmu ini?"
Fir'aun
masih ingkar dan mengejek dakwah Nabi Musa. Nabi Musa menjawab: "bahawa
masa-masa yang dahulu di mana mereka tidak menyembah Allah s.w.t adalah masalah
yang semua itu berada di sisi Allah s.w.t. Atau dalam kata lain, semua itu
diketahui oleh Allah
s.w.t. Keadaan di
masa-masa yang dahulu tercatat dalam
kitab Allah s.w.t.
Allah s.w.t menghitung
apa yang mereka kerjakan di dalam kitab. Allah s.w.t
tidak pernah lupa." Jawapan Nabi Musa tersebut berusaha
menenangkan Fir'aun tentang
orang-orang yang hidup
di masa-masa pertama. Jadi Allah s.w.t mengetahui segala sesuatu dan
mencatat apa saja yang dilakukan manusia dan Allah s.w.t tidak menyia-nyiakan
pahala mereka. Kemudian Nabi
Musa kembali menyempurnakan dan
menyelesaikan pembicaraannya tentang sifat Tuhannya:
"Yang telah
menjadikan bagimu bumi
sebagai hamparan dan
yang telah menjadikan bagimu di
bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka
Kami tumbuhkan dengan
air hujan itu
berjenis-jenis dari
tumbuh-tumbuhan. Makanlah dan
gembalakanlah
binatang-binatangmu. Sesungguhnya
pada yang demikian
itu, terdapat tanda-tanda
kekuasaan Allah bagi orang-orang
yang berakal. Dari
bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan darinya Kami akan
mengembalikan kamu dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.
" (QS. Thaha: 53-55)
Nabi Musa
menarik perhatian Fir'aun
tentang tanda-tanda kebesaran
Allah s.w.t di alam semesta. Nabi Musa menunjukkan kepadanya bagaimana
gerakan angin, hujan, dan tumbuh-tumbuhan. Kemudian Nabi Musa juga menunjukkan
bagaimana pengaruh semua itu pada bumi. Musa memberitahu kepada Fir'aun bahawa
Allah s.w.t menciptakan manusia dari tanah dan setelah itu Dia akan
mengembalikan padanya dengan kematian lalu mengeluarkan manusia darinya di hari
kebangkitan. Jadi, di
sana terjadi hari
kebangkitan dan pada
hari kiamat manusia akan menghadap kepada Allah s.w.t. Tidak ada
seseorang pun yang dikecualikan dari
hal itu. Semua
hamba Allah s.w.t
akan berdiri dihadapan-Nya pada
hari kiamat, termasuk Fir'aun.
Musa datang
kepada Fir'aun sebagai
pembawa berita gembira
dan sebagai pemberi peringatan,
tetapi peringatan dari Musa ini tidak membikin Fir'aun merenung dan mendapatkan
pelajaran namun justru dialog antara dirinya dan Musa semakin
menajam. Bisa dikatakan
bahawa dialog di
antara mereka menjadi pertentangan.
Ketajaman dialog mulai
menghangat. Kemudian berubahlah
bahasa dialog itu. Musa berusaha menyampaikan argumentasi yang sangat kuat
kepada Fir'aun. Musa
berusaha membawa argumentasi
rasional tetapi Fir'aun berusaha keluar dari ruang lingkup dialog yang
berdasarkan logik yang sehat.
Fir'aun berusaha menggunakan
dialog dalam bentuk yang baru,
yaitu suatu cara yang Musa tidak mampu lagi melawannya. Ia mulai menyerang Musa
dan mengancamnya.
Fir'aun menunjukkan
penentangannya kepada kebenaran
yang dibawa oleh Musa.
Fir'aun acuh tak
acuh terhadap dakwah
Nabi Musa. Fir'aun
mulai menyerang peribadi Musa.
Ia mulai mempersoalkan pakaian
Musa dan kedudukan sosialnya
bahkan ia pun menyerang cara Musa berbicara. Setelah menghina Musa sedemikian
rupa, Fir'aun sengaja memakai metode kekuatan mutlak. Fir'aun
bertanya kepada Musa,
bagaimana ia berani
menentang penyembahan terhadap dirinya; bagaimana Musa menyembah selain
dirinya; tidakkah Musa mengetahui bahawa Fir'aun adalah tuhan? Bagaimana Musa
tidak mengetahui hakikat ini
padahal ia terdidik
di istana Fir'aun
dan sangat mengenal lingkungan di
sekitar Fir'aun? Setelah Fir'aun menyampaikan tentang ketuhanan-nya secara
mendasar, ia bertanya kepada Musa, bagaimana Musa berani menyembah
tuhan selain dirinya.
Ini bererti bahawa
Musa ingin dimasukan ke dalam
penjara. Tiada ketentuan di sisi kami bagi orang yang menyembah selain Fir'aun
kecuali penjara adalah tempatnya:
"Fir'aun berkata:
'Sungguh jika kamu
menyembah Tuhan selain
aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang
dipenjarakan.'" (QS. asy-Syu'ara': 29)
Musa mengetahui
bahawa
argumentasi-argumentasi
rasional tidak lagi bermanfaat. Dialog yang tenang dan
sehat berubah menjadi ejekan dan hinaan serta
pada akhirnya menjadi
ancaman hukuman penjara.
Musa mengetahui bahawa telah
tiba waktunya untuk
menunjukkan mukjizat yang
dibawanya. Setelah diancam akan dimasukan ke dalam penjara, ia berkata
kepada Fir'aun:
"Musa berkata:
'Dan apakah (kamu
akan melakukan ini)
kendatipun aku tunjukkan kepadamu
sesuatu (keterangan) yang nyata?'" (QS. asy- Syu'ara': 30)
Musa
menantang kepada Fir'aun dan Fir'aun menerima tantangannya. Fir'aun ingin tahu
sejauh mana kebenaran Musa.
"Fir'aun
berkata: 'Datangkanlah sesuatu
(keterangan) yang nyata itu, jika kamu adalah termasuk orang-orang yang
benar.'" (QS. asy- Syu'ara': 30-31)
Musa
melemparkan tongkatnya di ruangan yang besar itu. Mula-mula Fir'aun
menganggap bahawa tongkat
yang dibawanya jatuh
kerana Musa gementar menghadapinya. Setelah
Fir'aun meminta padanya
bukti atas kebenaran dakwahnya, tiba-tiba tongkat yang
menyentuh tanah itu berubah menjadi ular yang besar yang bergerak dengan cepat
dan gesit. Ular itu menuju ke arah Fir'aun. Fir'aun tampak pucat kerana takut.
Ia tampak gementar di kerusinya kemudian ia berteriak agar mereka menjauhkan ular
itu darinya. Nabi Musa menghulurkan tangannya ke ular itu lalu ular itu kembali
menjadi tongkat yang ada di tangannya
sebagaimana semula. Setelah
peristiwa itu, keheningan menyeliputi istana
Fir'aun. Nabi Musa
kembali menunjukkan kepada orang-orang yang
berdiri di sekitarnya,
mukjizatnya yang kedua.
Musa memasukkan tangannya di sakunya lalu mengeluarkannya. Tiba-tiba
tangan itu menjadi putih seperti bulan; tangan itu tiba-tiba mengeluarkan
cahaya yang memenuhi penjuru istana. Akhirnya, semua orang yang hadir di situ
merasakan kekaguman yang luar
biasa sedangkan Fir'aun
wajahnya tampak menghijau kerana saking takutnya.
Allah
s.w.t berfirman:
"Maka
Musa melemparkan tongkatnya, yang tiba-tiba tongkat itu (menjadi) ular yang
nyata. Dan ia
menarik tangannya (dari
dalam bajunya), maka tiba-tiba tangan itu jadi putih
(bersinar) bagi orang- orang yang melihatnya." (QS. asy-Syu'ara': 32-33)
Keheningan
semakin menyelimuti istana Fir'aun. Pengaruh dua mukjizat yang dibawa oleh Nabi
Musa tertanam pada jiwa orang-orang yang hadir di situ. Pertama-tama mereka
merasakan ketakutan dalam diri mereka kemudian Nabi Musa mengembalikan
tangannya ke sakunya
lalu tangannya kembali
seperti semula.
Fir'aun
berkata: "Sekarang, pergilah kalian berdua. Nanti kita akan lanjutkan
perbincangan kita." Musa memalingkan wajahnya dan keluar dari istana.
Fir'aun tampak terpukul atas
peristiwa itu. Fikirannya
mulai berputar-putar. Ia membayangkan apa
yang terjadi di
istananya dan di
wilayah kekuasaannya seandainya
berita tentang dua mukjizat itu tersebar di tengah-tengah manusia, lalu manusia
mulai membicarakan tentang
Musa dan Harun.
Fir'aun mengeluarkan perintahnya agar orang- orang yang melihat peristiwa
itu tidak membuka hal itu kepada masyarakat umum, tetapi para pembantu istana
dan sebahagian dari Bani Israil menyaksikan dua peristiwa itu. Akhirnya,
mulailah terjadi perbincangan di tengah-tengah masyarakat ramai tentang dua
mukjizat itu. Fir'aun benar-benar terdiam ketika menghadapi dua mukjizat yang
dibawa oleh Nabi Musa. Ketika Musa keluar dari istana Fir'aun yang sebelumnya
merasa takut dan gementar, kini menjadi marah. Ia meluapkan kemarahan itu
kepada menterinya dan para pembantunya. Tiba-tiba ia bersikap kasar kepada
mereka tanpa sebab yang diketahui. Fir'aun memerintahkan mereka untuk keluar
dari ruangannya dan meningggalkan dirinya sendirian.
Fir'aun
berusaha untuk menghadapi masalah itu dengan lebih tenang. Fir'aun meminum beberapa
gelas dari minuman
keras tetapi rasa
marahnya belum hilang juga.
Kemudian ia mengeluarkan
perintah untuk mengumpulkan orang-orang dekatnya dan semua
para menteri di istana serta para pemimpin di Mesir. Fir'aun mengeluarkan
perintahnya kepada Haman salah satu ketua para
menterinya untuk mengepalai
pertemuan tersebut. Kemudian
para pembesar dari kaum
Fir'aun berkumpul. Fir'aun
memasuki ruang pertemuan dan wajahnya tampak emosi. Jelas
sekali Fir'aun tidak mahu menerima dengan mudah
adanya tuhan lain
yang disembah orang-orang
Mesir selain dirinya. Fir'aun cukup berbahagia ketika ia
menguasai Mesir dari memerintah dengan semahunya. Tiba-tiba,
ia dikejutkan dengan
kedatangan Musa yang
ingin menghancurkan apa
saja yang telah
dibangunnya. Musa mengatakan
pada dirinya bahawa di sana ada Tuhan yang Esa yang tiada Tuhan lain
selain-Nya di alam semesta. Ini
bererti bahawa Fir'aun
adalah seorang pembohong. Pemikiran ini
menghantui kepala Fir'aun
sehingga Fir'aun menoleh
kepada ketua para menterinya
yaitu Haman akhirnya
pertemuan bersejarah itu diadakan.
Tidak ada
seorang pun yang
berani membuka mulutnya.
Fir'aun membuka pertemuan itu
dengan secara tiba-tiba
ia melontarkan pertanyaan
kepada Haman: "Apakah aku seseorang pembohong wahai Haman?"
Haman menunduk dan bertanya: "Siapa yang berani menentang Fir'aun?"
Fir'aun berkata dengan marah:
"Musa." Bukankah ia
mengatakan bahawa ada
tuhan lain di
langit." Dengan mantap Haman menjawab: "Sungguh wahai tuanku,
Musa berbohong." Fir'aun
berkata dalam keadaan
memutar wajahnya ke
arah yang lain:
"Aku mengetahui bahawa ia
berbohong." Kemudian Fir'aun
kembali menoleh ke Haman:
"Dan
berkatalah Fir'aun: 'Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi
supaya aku sampai ke pintu-pintu,
(yaitu) pintu- pintu langit, supaya
aku dapat melihat
Tuhan Musa dan
sesungguhnya aku memandangnya
seorang pendusta.'" (QS. al-Mu'min: 36-38)
Fir'aun
mengeluarkan perintah untuk membangun suatu bangunan yang kukuh dan tinggi di
mana ketinggiannya mampu mencapai langit. Perintah Fir'aun itu berdasarkan peradaban
Mesir yang lagi
maju di mana
mereka cenderung membangun bangunan
yang spektakuler. Namun
Fir'aun lupa pada aturan-aturan teknik
pembangunan. Meskipun demikian,
Haman bersikap munafik, padahal
ia mengetahui kemustahilan membangun sesuatu bangunan semegah dan setinggi itu.
Haman berkata: "Saya ingin melaksanakan perintah untuk mendirikan bangunan
itu sesegera mungkin, tetapi wahai tuanku dan izinkanlah aku
untuk pertama kalinva
aku menentang perintahmu.
Sungguh engkau tidak akan mendapati sesuatu pun di langit. Tidak ada di
sana Tuhan selain dirimu." Fir'aun mendengar penolakan ketua para
menterinya itu dengan sangat puas, seakan-akan
ia mendengarkan suatu
hakikat yang ditetapkan. Kemudian dalam
perkumpulan yang terkenal
itu, Fir'aun melontarkan kata-katanya yang bersejarah:
"Hai
pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku." (QS.
al-Qashash: 38)
Semua
yang hadir di tempat itu menundukkan kepala tanda setuju. Di antara mereka
terdapat dua orang atau tiga orang yang masih memiliki akal sehat. Ketiga orang
itu mengetahui bahawa
sebenarnya Fir'aun adalah
seorang pembohong. Meskipun demikian,
mereka membiarakan kebohongan
itu dan memilih apa yang disetujui
oleh Fir'aun. Tentu persetujuan ini berakibat pada masyarakat Mesir yang harus
membayar mahal hasil dari persetujuan itu. Para tentera Mesir, para pembesar
istana, dan para dukun tunduk kepada kegilaan Fir'aun. Fir'aun berkata dengan
maksud bertanya kepada para penasihatnya: "Apa yang kalian katakan tentang
Musa?" Haman berkata: "Ia adalah seorang yang pembohong."
Salah
seorang menteri yang lain berkata: "Saya kira ia adalah seorang yang
gila." Sementara itu salah seorang dukun berkata: " - Tampaknya ia khuatir mereka akan
mencurigainya jika ia
tidak mengatakan sesuatu
pun kepada mereka - saya kira ia
terkena kegilaan." Fir'aun memutus pembicaraan mereka dengan mengatakan:
"Sungguh kalian menggambarkan
Musa macam-macam, namun kalian
belum menjawab pertanyaanku. Apa sebenarnya maunya Musa? Apa sebenarnya
persekongkolan yang disembunyikannya." Para
penasihat terdiam kerana rasa takut dan sebagai bentuk kemunafikan
terhadap Fir'aun.
Mereka hanya
menunggu Fir'aun mengucapkan
kalimat-kalimat tertentu lalu mereka
menirukannya dengan mulut-mulut
mereka layaknya burung
beo. Setelah keheningan menyelimuti ruangan itu, Fir'aun berkata:
"Aku kira bahawa Musa adalah salah satu tukang sihir yang hebat. Ia ingin
mengeluarkan kalian dari negeri kalian
dengan sihirnya. Lalu
persekongkolan apa yang
kalian siapkan?"
Adalah
hal yang maklum di rejim kekuasaan mutlak bahawa perkumpulan yang dihadiri oleh
para pembesar dan para menteri untuk mengeluarkan pendapat sesama mereka
bererti hanya sekadar untuk mengulang-ulang dan menerima keputusan mutlak
dari penguasa. Para
penasihat berkata - setelah Fir'aun memberi mereka kesempatan untuk
mengutarakan pendapat: "Sungguh benar apa
yang dikatakan oleh
Fir'aun. Musa adalah
seorang tukang sihir.
Kalau begitu, masalahnya telah
selesai. Kita akan
mengembalikan Musa dan saudaranya, dan
kita akan menyebarkan
perintah Fir'aun di
Mesir untuk menghadirkan tukang
sihir. Jika para tukang sihir telah datang dan berdiri di hadapan Musa, maka
mereka akan dapat membuktikan bahawa Musa memang tukang sihir dan mereka akan
mampu mengalahkannya. Dengan cara demikian, kita dapat memperdayanya di hadapan
orang-orang Mesir dan anak-anak Bani Israil." Perundingan
bersejarah itu sepakat
untuk melaksanakan hal
itu. Sepuluh orang dari
pembantu Fir'aun keluar
dari istana, Fir'aun
dengan menunggangi kenderaan mereka
dan mereka segera
berpencar di seluruh penjuru Mesir.
Kemudian diumumkan pada
hari kedua di
pasar-pasar Mesir bahawa seluruh
jago-jago sihir hendaklah
menuju ke istana
Fir'aun untuk mendengarkan suatu
perintah atau suatu urusan yang penting.
Fir'aun memanggil
Nabi Musa dan
berusaha mengancamnya dan
menakutnakutkan tetapi Nabi Musa tampak tenang. Fir'aun berkata kepada
Nabi Musa: "Sesungguhnya
engkau seorang tukang
sihir, dan aku menetapkan untuk menyingkap kedokmu di hadapan semua
orang. Tidak lama lagi para tukang sihir
akan datang." Nabi
Musa bertanya: "Kapan
aku akan bertemu
dengan tukang sihir itu?"
Fir'aun berkata: "Di
sana terdapat suatu
pertemuan atau acara yang
sebentar lagi akan dimulai yang dihadiri oleh banyak orang. Yaitu hari di mana
angin bertiup dengan sepoi-sepoi; hari di mana bumi berhias diri menyambut kedatangan
musim semi. Sungguh
itu suatu pertemuan
yang menakjubkan dan engkau
akan dikalahkan. Sekarang
aku beri kesempatan kamu untuk mencabut dakwahmu. Aku
memberikan kesempatan yang terakhir bagimu untuk menyelamatkan
kehormatanmu."
Musa
berkata dengan tidak memperhatikan perkataan Fir'aun yang terakhir:
"Kami
sepakat atas pertemuan itu. Kami akan hadir di hari itu di mana manusia akan
berkumpul di pagi hari." Fir'aun bertanya: "Kapan engkau akan
datang?" Musa berkata: "Insya-Allah aku akan hadir di waktu fajar di
permulaan siang."
Allah
s.w.t berfirman:
"Dan
sesungguhnya Kami telah perlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda- tanda kekuasaan
Kami semuanya, maka ia mendustakan dan enggan
(menerima kebenaran). Berkata Fir'aun:
'Adakah kamu datang
kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa! Dan kami
pun pasti akan
mendatangkan (pula) kepadamu
sihir semacam itu,
maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami
tidak akan menyalahinya
dan tidak (pula) kamu
di suatu tempat
yang pertengahan (letaknya).' Berkata
Musa: "Waktu untuk
pertemuan (kami dengan) kamu itu
ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari
sepenggalah naik.'" (QS. Thaha: 56-59)
Nabi
Musa pergi dalam keadaaan tenang. Kemudian para utusan tukang sihir datang ke
istana Fir'aun. Ketika semua berkumpul, Fir'aun memerintahkan agar mereka semua
menemuinya. Ketika masuk menemui Fir'aun, para tukang sihir sujud kepadanya.
Fir'aun memerintahkan mereka
untuk berdiri, kemudian Fir'aun mulai berjalan-jalan di
antara mereka sambil mengamati wajah mereka dan pakaian mereka. Fir'aun tampak
terdiam memikirkan sesuatu dan tiba-tiba ia berdiri dan berkata: "Wahai
para tukang sihir, kami sekarang menghadapi masalah yang
kecil dan kami
telah memerintahkan agar
kalian dihadirkan untuk
memecahkan masalah itu." Para tukang sihir itu menundukkan kepalanya dan mereka
mendengarkan dengan hikmat.
Fir'aun kembali berkata:
"Salah seorang lelaki datang kepada kami dan ia mengaku utusan
Allah s.w.t; seorang lelaki
yang bernama Musa dan bersama saudaranya, Harun. Musa ini adalah tukang sihir
yang mahir, lebih tangkas dan lebih hebat dari Harun. Oleh kerana itu, kalian
harus mengalahkannya dengan
kekalahan yang teruk sehingga ia
tidak mampu lagi mengangkat kepalanya kerana rasa malu." Para tukang sihir
tetap menundukkan kepalanya dan mereka terdiam. Fir'aun berkata: "Mengapa
seseorang di antara kalian tidak bertanya kepadaku tentang sihirnya Musa."
Salah seorang tukang sihir dengan tenang berkata: "Kami menunggu tuan yang
agung menceritakannya kepada
kami. Kami tidak
ingin memutus pembicaraanmu
wahai tuan."
Dengan nada
marah, Fir'aun berkata:
"Musa melemparkan tongkatnya
dan tiba-tiba tongkatnya itu
menjadi ular yang
sangat besar lalu
ia mencabut tangannya dan
tiba-tiba tangannya menjadi
putih yang menakjubkan orang-orang yang
melihatnya." Tampak senyum manis menghiasi wajah- wajah para tukang sihir
dan salah seorang mereka berkata: "Hendaklah hati Fir'aun tenang. Ini
adalah permainan kuno; permainan tongkat yang berubah menjadi ular.
Sesungguhnya itu hanya sekadar imaginasi yang menipu orang-orang yang
melihatnya, yang seakan-akan ia bergerak padahal ia tetap di tempatnya."
Fir'aun
berkata: "Aku tidak ingin untuk memasuki perdebatan sekitar masalah
pembuatan sihir. Yang aku inginkan agar kalian mengalahkan Musa. Kami telah
sepakat untuk bertemu pada hari ketika musim semi akan tiba. Masyarakat Mesir
semuanya akan berkumpul. Mereka akan menyaksikan kalian saat kalian
mengalahkannya. Oleh kerana itu, kalian harus dapat mengalahkannya."
Selesailah
perkataan Fir'aun. Ia menunggu para tukang sihir meninggalkannya tapi mereka
masih berdiri. Salah seorang mereka bertanya: "Mengapa tuan kita
Fir'aun tidak berbicara
kepada kita tentang
urusan yang lebih
penting seandainya kita dapat
mengalahkan Musa?" Dengan
kehairanan Fir'aun
bertanya: "Apa sesuatu
yang lebih penting
itu?" Salah seorang
tukang sihir berkata: "Tentu
kami minta upah jika kami menang." Dengan tertawa, Fir'aun berkata:
"Jangan khuatir, aku akan memuaskan kalian. Kalian akan menjadi
orang-orang yang dekat. Kami akan mengadakan pekerjaan-pekerjaan baru di istana
bagi para tukang sihir. Kalian jangan khuatir. Tenanglah kerana kalian akan
menerima upah yang layak."
Fir'aun tertawa
melihat kepercayaan para
tukang sihir kepada diri mereka, kemudian ia
memerintahkan agar mereka
meninggalkan tempatnya. Lalu
ia sendiri menuju ke meja makan siang. Fir'aun duduk sambil makan. Ia
berkata sambil menyantap paha kambing yang besar: "Semenjak Musa datang
selera makanku terganggu. Namun sekarang, kehancuran Musa sudah dekat."
Allah
s.w.t berfirman:
"Dan
Musa berkata: 'Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan
dari Tuhan alam
semesta, wajib atasku
tidak mengatakannya sesuatu terhadap Allah,
kecuali yang hak.
Sesungguhnya aku datang
kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah
Bani Israil (pergi) bersama aku.' Fir'aun menjawab: 'Jika benar kamu membawa
sesuatu bukti, maka
datangkanlah bukti itu
jika (betul) kamu
termasuk orang-orang yang benar.' Dan dia mengeluarkan tangannya, maka
ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang
yang melihatnya. Pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata: 'Sesungguhnya Musa ini
adalah ahli sihir yang pandai, yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu
dari negerimu.' (Fir'aun berkata):
'Maka apakah yang
kamu anjurkan?' Pemuka-pemuka itu
menjawab: 'Beritahulah ia
dan saudara-saudaranya serta kirimlah
ke kota-kota beberapa
orang yang akan
mengumpulkan (ahli-ahli sihir), supaya mereka membawa kepadamu semua
ahli sihir yang pandai.' Dan beberapa ahli sihir telah datang kepada Fir'aun
mengatakan: '(Apakah) sesungguhnya kami
akan mendapat upah,
jika kamilah yang menang Fir'aun menjawab: 'Ya dan
sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat
(kepadaku).'" (QS. al-A'raf: 104-114)
Kemudian
datanglah hari yang dijanjikan. Orang-orang berbondong- bondong keluar dari
rumah. Mereka membicarakan tentang pertemuan antar Nabi Musa dan Fir'aun.
Mereka menuju ke tempat perayaan sejak pagi hari. Tidak ada seorang pun di
Mesir yang tidak mengetahui tentang peristiwa itu. Orang-orang begitu gembira
ketika para tukang sihir itu datang sebagaimana mereka juga gembira ketika
melihat Fir'aun datang, namun keheningan menyelimuti tempat itu ketika Nabi
Musa dan Nabi Harun datang. Tempat perayaan itu diadakan di tempat terbuka
yang hanya ditutupi
oleh payung Fir'aun
yang melindungi kepalanya dari
terik matahari. Fir'aun berdiri di tengah-tengah tenteranya. Ia memakai emas
dan permata. Sementara
itu, Nabi Musa
berdiri dengan menundukkan
kepalanya dalam keadaan mengingat Allah s.w.t.
Keadaan saat
itu benar-benar hening.
Kemudian para tukang
sihir maju menemui Musa. Mereka
berkata kepada Musa: "Apakah engkau yang pertama kali melempar
atau kami yang
pertama kali melempar." Musa
berkata: "Kalianlah yang pertama
kali melempar." Para
tukang sihir berkata:
"Demi kemuliaan Fir'aun, sesungguhnya kami akan menang." Musa
berkata: "Celaka kalian, janganlah kalian membuat dusta kepada Allah s.w.t
nescaya Dia akan mendatangkan seksa bagi kalian." Sebahagian ahli hakikat
berkata: "Nabi Musa menoleh dan kemudian ia melihat Jibril di sebelah
kanannya." Jibril berkata kepadanya:
"Wahai Musa, hendaklah
kamu bersikap sopan
kepada wali-wali Allah
s.w.t." Musa berkata dalam dirinva: "Mereka para tukang sihir itu
datang dengan maksud menyimpangkan
agama Fir'aun." Jibril
kembali berkata:
"Bersikap lembutlah terhadap
wali-wali Allah s.w.t.
Mereka saat ini
sampai salat Ashar berada di sisimu dan setelah salat Ashar mereka akan
berada di syurga."
Para
tukang sihir itu mulai melemparkan tongkat-tongkat mereka dan tali-tali mereka.
Tiba-tiba arena itu dipenuhi dengan ular-ular. Mereka menipu dan menyihir
pandangan orang-orang yang melihatnya. Orang- orang yang melihat sihir itu
merasa takut kerana
mereka mendatangkan sihir
yang besar. Orang-orang merasa
gembira dan Fir'aun
pun menampakkan senyumnya.
Ia berkata dalam dirinya: Sungguh hari ini adalah hari pembalasan atas
Musa. Mukjizatnya berupa tongkat
yang ada di
tangannya yang dapat
berubah menjadi ular, sekarang Fir'aun menghadirkan kepadanya seluruh
tukang sihir di mana tongkat-tongkat dan tali-tali yang ada di tangan mereka
pun berubah menjadi ular. Senyuman Fir'aun pun semakin melebar.
Nabi
Musa memperhatikan tali-tali tukang sihir dan tongkat-tongkat mereka. Ia merasa
takut. Nabi Musa ingat apa yang dikatakan oleh Jibril dan ia mulai merasakan
ketakutan. Bagaimana mungkin para tukang sihir itu akan masuk syurga dan mereka
akan menjadi wali-wali Allah s.w.t? Nabi Musa merasakan semua itu, namun tiada
seorang pun yang mengetahui hakikat pemikiran yang terlintas dalam
benak Nabi Musa
saat ia berdiri
dengan bajunya yang sederhana bersama saudaranya di hadapan
kumpulan manusia yang banyak dari para pengawal dan tentera Fir'aun. Ketika
Musa merasakan ketakutan tersebut, maka cahaya yang terang menembus dalam
dirinya dan Allah s.w.t berkata kepadanya:
"Kami
berkata: 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul
(menang). Dan lemparkanlah
apa yang ada
di tangan kananmu, nescaya ia akan menelan apa yang
mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya
tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja
ia datang." (QS.Thaha: 68-69)
Musa
merasa senang ketika mendengar Allah s.w.t menenangkannya. Nabi Musa dapat mengendalikan
dirinya, kemudian beliau
mengangkat tongkatnya dan melemparkannya. Sebelum tongkat itu
menyentuh tanah, tiba-tiba terjadilah suatu
mukjizat. Orang-orang dan
para tukang sihir
Fir'aun bahkan Fir'aun sendiri menyaksikan
sesuatu yang belum
pernah mereka saksikan
di dunia. Biasanya seorang
tukang sihir dapat
menipu pandangan manusia
dan memperdaya mereka seolah-olah ada ular yang bergerak padahal ia
tetap di tempatnya. Tetapi apa yang terjadi saat itu adalah sesuatu yang
benar-benar berbeza. Belum sampai
tongkat Nabi Musa
menyentuh tanah sehingga
ia berubah menjadi ular yang besar dan sangat gesit.
Tiba-tiba
ular ini menuju ke tali-tali tukang sihir dan tongkat-tongkat mereka yang bergerak
dan ia mulai
memakannya satu persatu.
Tongkat Nabi Musa memakan
tali-tali tukang sihir
dan tongkat-tongkat mereka
dengan cepat. Belum berselang
beberapa minit sehingga arena itu kosong dari tali-tali tukang sihir dan
tongkat-tongkat mereka. Tongkat-tongkat dan tali-tali tukang sihir tersembunyi
dalam perut tongkat Nabi Musa. Dan bergeraklah ular yang besar menuju Nabi Musa
lalu beliau menghulurkan tangannya dan tiba-tiba ular itu berubah menjadi
tongkat. Para tukang sihir mengetahui bahawa mereka bukan di hadapan seorang
penyihir. Mereka sebenamya adalah tokoh-tokoh sihir dan para pakar dalam hal
itu di zaman mereka, tetapi apa yang mereka saksikan saat ini bukan termasuk
sihir. Itu adalah mukjizat dari Allah s.w.t.
Akhirnya,
para tukang sihir itu sujud di atas tanah. Mereka berkata: "Kami beriman
kepada Tuhan Pengatur alam semesta. Tuhan yang diyakini oleh Musa dan
Harun." Orang-orang Mesir dan anak-anak Bani Israil menyaksikan mukjizat
yang mengagumkan ini. Mereka melihat bagaimana tukang sihir-tukang sihir
Fir'aun sujud kepada Musa dan Harun. Fir'aun menyaksikan bahawa bola itu kini
berada di tangan Musa dan Harun. Lalu ia bangkit dari duduknya dan berteriak di depan
tukang sihir: "Bagaimana kalian
beriman kepadanya sebelum
aku memberi izin kepada kalian." Para tukang sihir berkata:
"Untuk beriman tidak perlu izin." Fir'aun berkata: "Kalau begitu
ini adalah persekongkolan yang jelas. Sesungguhnya Musa adalah guru kalian yang
mengajari kalian sihir. Sungguh tangan-tangan kalian dan kaki-kaki kalian akan
diputus dan kalian akan disalib di pohon kurma. Sungguh ini adalah
persekongkolan yang jelas."
Para
tukang sihir berkata: "Lakukan apa saja yang engkau inginkan, hai Fir'aun.
Kami tidak memilihmu dan kami tidak mengutamakanmu atas mukjizat Ilahi
ini. Sesungguhnya kami
beriman kepada Tuhan
kami agar Dia
mengampuni kami dan menghapus
kesalahan-kesalahan kami. Apa
yang engkau berikan terhadap kami adalah sesuatu yang
sedikit, dan apa yang ada di sisi Allah s.w.t lebih baik dan lebih abadi.
Seandainya engkau menyeksa kami dan membunuh kami dan
menyalib kami, maka
engkau hanya dapat
menyeksa kami di kehidupan dunia ini. Tentu kehidupan dunia
tidak dapat dibandingkan dengan kehidupan
akhirat. Kami hanya
ingin mendapatkan pengampunan
dari Allah s.w.t dan
memasuki syurga." Kemudian
Fir'aun mengeluarkan perintahnya untuk menyalib semua tukang
sihir. Ketika menyaksikan peristiwa tersebut, orang-orang menjadi
ketakutan. Kemudian Nabi
Musa dan Nabi
Harun meninggalkan tempat itu
dan Fir'aun kembali
ke istananya. Allah
s.w.t menceritakan dalam surah
al-A'raf apa yang
dialami tukang sihir
dan Musa dalam firman-Nya:
"Ahli-ahli
sihir berkata: 'Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah
kami yang akan
melemparkan?' Musa menjawab: 'Lemparkanlah (lebih dahulu)! Maka
tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang
banyak itu takut, serta mereka mendatangkan
sihir yang besar (menakjubkan). Dan
Kami mewahyukan kepada Musa:
'Lemparkanlah tongkatmu!' Maka sekoyong-koyong tongkat itu menelan apa yang
mereka sulapkan. kerana itu nyatalah yang benar dan gagallah yang selalu mereka
kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang
hina. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta
meniarapkan
diri dengan bersujud. Mereka berkata: 'Kami beriman kepada Tuhan semesta
alam, (Yaitu) Tuhan
Musa dan Harun.
Fir'aun berkata: 'Apakah kamu
beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?' Sesungguhnya (perbuatan) ini
adalah suatu muslihat
yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk
mengeluarkan penduduknya darinya; maka kelah kamu akan mengetahui (akibat
perbuatanmu ini); sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan
bersilang secara bertimbal balik,
kemudian sungguh- sungguh
aku akan menyalib
kamu semuanya. Ahli-ahli sihir
itu menjawab: 'Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali. Dan kamu
tidak membalas dendam
dengan menyeksa kami,
melainkan kerana kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika
ayat-ayat itu datang kepada kami.'
(Mereka berdoa): 'Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah
kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).'" (QS. al-A"raf:
115-126)
Para
tukang sihir Mesir berubah menjadi Muslim dan mempercayai ajaran yang dibawa
oleh Nabi Musa. Mereka beriman kepada Allah s.w.t. Akhirnya, mereka
dinaikkan di batang-batang pohon
kurma untuk disalib
dan dipotong tangan-tangan
mereka dan kaki-kaki mereka. Mereka meminta kepada Allah s.w.t agar mereka
dimatikan sebagai orang-orang Muslim.
Kemudian
Musa memahami apa yang diucapkan oleh Jibril as: Mereka sejak saat ini sampai
salat Ashar di sisimu dan setelahnya mereka berada di syurga. Ketika memasuki
waktu Ashar tubuh para tukang sihir itu berlumuran darah. Mereka disalib oleh
para tentera Fir'aun. Fir'aun menghadapi masalah baru. Fir'aun mengadakan serangkaian
pertemuan- pertemuan penting di istananya. Fir'aun memanggil
penanggung jawab tentera
dan pasukan. Fir'aun
juga memanggil apa saat ini dinamakan dengan kepala intelejen. Bahkan
Fir'aun juga memanggil para menteri dan para penjabat serta tukang-tukang
dukun. Jadi, Fir'aun memanggil
semua yang mempunyai
kekuatan untuk mengubah jarum sejarah.
Fir'aun bertanya
kepada kepala intelejennya:
"Apa yang dikatakan
orang-orang?" Ia berkata: "Anak buahku telah kusebar di antara
khalayak dan mereka mendapat informasi bahawa Musa dapat memenangkan perlumbaan
itu kerana ia berhasil membikin suatu konspirasi bersama para tukang
sihir." Kemudian Fir'aun bertanya kepada salah seorang ketua keamanan:
"Apa yang terjadi pada jasad-jasad tukang sihir?" Ia berkata:
"Anak buahku menggantunginya di tempat umum dan di pasar-pasar untuk
menakuti manusia dan kami sebarkan berita bahawa Fir'aun akan membunuh setiap
orang yang memiliki persekongkolan." Lalu
Fir'aun bertanya kepada
komandan pasukan: "Apa
yang dikatakan oleh
pasukan?" Ia menjawab:
"Mereka menginginkan agar
mendapatkan perintah untuk bergerak
di tempat mana
pun yang ditentukan
oleh Fir'aun." Fir'aun berkata: "Belum datang giliran
pasukan maka akan datang gilirannya."
Fir'aun kemudian
terdiam. Lalu Haman
salah seorang ketua
para menteri bergerak dan
mengangkat tangannya dan ia mulai meminta untuk berbicara, dan Fir'aun
mengizinkan kepadanya. Haman
berkata: "Apakah kita
akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerosakan di muka bumi
dan mereka mengalihkan ibadah
kepada selainmu?" Fir'aun
berkata: "Sungguh
engkau dapat membaca
fikiranku wahai Haman.
Kita akan membunuh anak-anak mereka dan akan
mempermalukan perempuan-perempuan mereka. Aku memiliki kekuasaan di atas
mereka."
Pasukan Fir'aun
pergi untuk membunuh
anak-anak laki dari
Bani Israil dan menodai kehormatan wanita-wanita mereka,
serta memenjarakan siapa pun yang
menentang. Musa berdiri
menyaksikan apa yang
terjadi tanpa mampu turut
campur dan tanpa
mampu mencegahnya. Yang
beliau lakukan hanya memerintahkan kaumnya untuk bersabar.
Beliau memerintahkan mereka untuk meminta pertolongan kepada Allah s.w.t dan
bersabar atas segala ujian. Beliau menjadikan para tukang sihir sebagai teladan
bagi mereka di mana tukang sihir Mesir itu mampu menahan derita di jalan Allah
s.w.t tanpa berkeluh kesah. Nabi
Musa memberitahu mereka
bahawa tentera-tentera Fir'aun
berbuat aniaya di muka
bumi yang seakan-akan
bumi adalah milik
khusus mereka. Sebenarnya Allah
s.w.t akan mewariskan
bumi kepada orang-orang
yang bertakwa.
Kemudian
intimidasi yang dilakukan Fir'aun sangat mempengaruhi jiwa Bani Israil sehingga
mereka merasakan kekalahan
dan pesimis. Mereka
berkata kepada Musa: "Wahai Musa kami sangat menderita sebelum
kedatanganmu dan sesudah kedatanganmu, anak-anak
dibunuh sebelum kedatanganmu
dan sesudah kedatanganmu."
Seakan-akan mereka berkata
kepada Musa bahawa keberadaanmu tidak memberikan manfaat
sedikit pun. Kami tetap merasakan kesendirian.
Musa menolak kebodohan
mereka ini. Ia
memberitahu mereka bahawa Allah
s.w.t akan menghancurkan
musuh-musuh mereka, kemudian Allah s.w.t
akan menjadikan bumi
dikuasai oleh mereka.
Tetapi lagi-lagi mereka tetap
mengadu kepada Musa dan tampak bahawa mereka tidak kuat lagi menahan
penderitaan yang mereka alami.
Musa menghadapi
keadaan yang sulit.
Beliau berusaha melawan
kemarahan Fir'aun dan konspirasinya. Pada saat yang sama, Nabi Musa
mendengar keluhan kaumnya. Di tengah-tengah keadaan yang demikian, Qarun
bergerak. Qarun adalah seorang putera Bani Israil. Ia berasal dari kaum Musa
tetapi ia justru menentang Musa. Kekayaannya dan status sosialnya menjadikannya
lebih dekat kepada rejim Fir'aun. Allah s.w.t menceritakan kepada kita tentang
kekayaan Qarun. Allah s.w.t
berkata kepada kita
bahawa kunci-kunci kamar
yang menyimpan kekayaannya
sangat sulit dipikul oleh sekelompok
laki-laki yang kuat sekalipun.
Seandainya kita ingin
mengetahui kunci-kunci kekayaan
ini yang sedemikian rupa, maka kita dapat membayangkan kekayaan itu
sendiri. Qarun memiliki berbagai
macam kekayaan dan
dalam jumlah yang
banyak.
Bahkan
saking kayanya, pelana kudanya terbuat dari kulit yang dihiasi oleh perak dan
emas.
Jika Qarun
keluar dengan membawa
pesona dunia yang
diikuti oleh rombongannya dan
disinari oleh matahari, maka emas-emas yang dibawanya tampak menyala di bawah
sengatan matahari. Pemandangan demikian sangat mengagumkan bagi orang-orang
yang mencintai dunia. Kekayaan yang dimiliki Qarun membuatnya
bersikap angkuh sehingga
tidak mudah baginya
untuk menerima nasihat. Tampak
bahawa kekayaannya dan
kesombongannya membuatnya merasa bergembira, sehingga tertawanya Qarun
menjadi tertawa yang paling terkenal
di kalangan Bani
Israil, dan kebenarannya
menyaingi kebenaran Fir'aun dan Haman. Kedua orang itu (Fir'aun dan
Haman) menguasai Mesir secara keseluruhan, sedangkan Qarun hanya mengusai
sebahagian dari Mesir.
Orang-orang
yang berakal dari kaumnya menasihatinya agar ia berfikir sejenak tentang
akhiratnya, dan barangkali mereka berkata kepadanya: "Sesungguhnya tak
seorang pun menasihatimu untuk meninggalkan dunia secara keseluruhan dan menempuh
jalan orang-orang yang
zuhud tetapi mereka
menasihatimu agar engkau tidak
melupakan bahagianmu dari
dunia. Sebagaimana mereka menasihatimu agar
jangan sampai engkau
melupakan bahagianmu dari akhirat."
Qarun
hanya merasa puas dengan bahagiannya dari dunia. Imaginasi akalnya mengatakan
bahawa kekayaan ini datang kerana usaha kerasnya sebagaimana ia menduga
kekayaannya adalah tanda bahawa Allah mencintainya. Bahkan ia mengira bahawa
ia lebih utama
dan lebih mulia
dari Musa. Musa
adalah seorang yang fakir
sedangkan Qarun adalah
seorang yang kaya,
maka bagaimana seorang yang fakir yang tidak memakai satu pun gelang
dari emas dapat memperoleh kedudukan yang mulia di sisi Allah dibandingkan dengan
seorang yang kaya
yang mampu membuat
pelana kudanya dari
emas. Demikianlah pandangan Qarun dan Fir'aun terhadap Musa.
Allah
s.w.t berfirman:
"Bukankah
aku lebih baik daripada orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat
menjelaskan (perkataannya)?" (QS. az-Zukhruf: 52)
Demikianlah pernyataan
Fir'aun kepada Musa.
Terdapat kesesuaian antara pendapat Fir'aun dan Qarun terhadap
Musa. Sesuai dengan kedudukan sosial dan
kekayaannya, Qarun menjadi
sahabat Fir'aun dan
mendukung rejim kekuasaannya.
Bukan hanya Qarun, Fir'aun dan Haman yang menjadi tawanan khayalan ini, bahkan
kaum Fir'aun pun memiliki pendapat yang sama. Yakni, bagi orang-orang
Mesir, Musa hanya
sekadar seorang tukang
sihir yang mengalahkan jaguh-jaguh sihir
lainnya. Namun ini
tidak bererti bahawa masyarakat Mesir
tidak memiliki keutamaan
sedikit pun. Di
tengah-tengah masyarakat Mesir masih terdapat orang yang beriman kepada
Nabi Musa namun
ia
menyembunyikan keimanannya kerana khuatir terhadap kejahatan Fir'aun.
Di sana
juga ada orang
yang bertanya-tanya dengan
kebodohan: Jika Allah s.w.t memang mencintai Musa lalu
mengapa ia dijadikan seorang yang fakir. Qarun menjadi fitnah atau cubaan di
tengah-tengah kaumnya dan juga bagi orang-orang
Mesir. Ketika Qarun
keluar dengan membawa
pesona dunianya maka orang-orang
yang menginginkan kehidupan dunia berkata:
"Maka
keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang
menghendaki kehidupan dunia: 'Moga- moga kiranya kita mempunyai seperti apa
yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai
keberuntungan yang besar." (QS. al-Qashash: 79)
Sedangkan
orang-orang yang berakal sehat - biarpun jumlah mereka sedikit -mereka memandang
bahawa kekayaan Qarun
yang begitu luar
biasa tidak bererti sedikit pun
di sisi Allah s.w.t. Allah s.w.t tidak memandang kekayaan yang banyak jika jiwa
manusia menjadi gelap
kerananya. Di tengah-tengah keadaan yang
demikian sulit, Nabi
Musa menghadapi Qarun
yang menentangnya. Musa sebagai seorang Nabi mesti menunjukkan sikap
yang baik dan kesucian yang
agung. Tampaknya Qarun
sepakat dengan Fir'aun
untuk berusaha menjatuhkan Musa
di depan pengikutnya
dengan tuduhan yang berlawanan dengan kesuciannya.
Akhirnya,
pada suatu hari Nabi Musa dikejutkan dengan suatu tuduhan di mana ada seorang
wanita yang menuduhnya berbuat tidak senonoh kepadanya dan mengatakan bahawa
Musa pernah tidur bersamanya kelmarin. Kami kira Nabi Musa sangat kaget dengan
tuduhan ini dan beliau tidak mengetahui apa yang dikatakannya atau
bagaimana beliau membela
dirinya menghadapi tuduhan seperti itu.
Kemungkinan besar beliau
salat dan menghadap
Allah s.w.t. Kemudian beliau menemui
wanita itu dan bertanya, mengapa ia menuduhkan padanya sesuatu yang tidak
benar. Tiba-tiba wanita itu menangis dan meminta ampun kepada Musa. Ia
memberitahu Musa bahawa Qarun memberinya wang sebagai imbalan atas fitnah yang
ditebarkannya terhadap Musa. Mendengar itu, Musa mendoakan buruk buat Qarun.
Kemudian Allah s.w.t berkehendak untuk mendatangkan mukjizat di saat yang tepat
yang menjelaskan kepada manusia bahawa
Dia Maha kuasa,
Maha kuat, dan
Maha Perkasa, dan
bahawa harta hanya sebahagian
ujian dan fitnah,
bukan sebagai suatu
keutamaan yang dengannya manusia
dapat dinilai.
Mukjizat yang
Allah s.w.t turunkan
adalah membinasakan Qarun
dan menenggelamkan rumahnya dan
hartanya. Qarun keluar
untuk menemui kaumnya dengan
menampakkan pesona dunianya. Lalu bumi terbelah di bawah kakinya dan Qarun pun
tersungkur di bumi. Kami tidak mengetahui apakah itu gempa yang
pertama kali terjadi
atau itu adalah
gempa yang Allah
s.w.t perintahkan kepada bumi untuk terjadi. Yang kita ketahui adalah
bahawa bumi terbelah dan ia menelan Qarun. Bumi menenggelamkan istana-istana
Qarun, hewan-hewan ternaknya, emasnya,
peraknya dan semua
kekayaannya serta orang dekatnya.
Sebahagian dongeng
mengatakan bahawa itu
terjadi di Fuyum,
dan danau Qarun adalah
yang dikenal orang-orang
Mesir dengan nama
ini. Ia adalah tempat
yang dihuni oleh Qarun
dan menjadi tempat
istananya dan tempat menyimpan hartanya.
Alhasil, Al-Quran al-Karim
tidak menentukan tempat datangnya azab ini dan tidak juga
menyebut kapan itu terjadi. Al-Quran hanya menceritakan apa
yang terjadi. Tentu penentuan
tempat dan waktu
bukan sesuatu yang penting tetapi yang penting adalah pelajaran yang
terjadi itu.
Allah
s.w.t berfirman dalam surah al-Qhashash:
"Sesungguhnya
Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka,
dan Kami telah
menganugerahkan kepadanya
perbendaharaan harta yang
kunci-kuncinya sungguh berat
dipikul oleh sejumlah orang
yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika
kaumnya berkata kepadanya: 'Janganlah
kamu terlalu bangga;
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu
membanggakan diri.' Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah
berbuat baik kepadamu, dan janganlah
kamu berbuat kerosakan di (muka) bumi. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerosakan. Qarun berkata:
'Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, kerana ilmu yang ada padaku.' Dan
apakah ia tidak mengetahui, bahawasanya Allah sungguh telah membinasakan
umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan
harta? Dan tidakkah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang
dosa-dosa mereka. Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya.
Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: 'Moga-moga kiranya
kita mempunyai seperti apa yang telah
diberikan kepada Qarun;
sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan
yang besar. Berkatalah
orang-orang yang dianugerahi
ilmu: 'Kecelakaan yang besarlah bagimu,
pahala Allah adalah lebih baik bagi
orang-orang yang beriman
dan beramal saleh,
dan tidak diperoleh pahala
itu, kecuali orang-
orang yang sabar.'
Maka Kami benamkanlah Qarun
beserta rumahnya ke
dalam bumi. Maka
tidak ada baginya suatu golongan
pun yang menolongnya terhadap azab Allah, dan tiadalah ia
termasuk orang- orang
(yang dapat) membela
(dirinya). Dan jadilah
orang-orang yang kelmarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu, berkata: "Aduhai
benarlah Allah melapangkan
rezeki bagi siapa
yang Dia kehendaki dari
hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan kurnia-Nya
atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai
benarlah, tidak beruntung
orang- orang yang
mengingkari (nikmat Allah).' Negeri akhirat itu. Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak
ingin menyombongkan diri dan berbuat kerosakan di (muka) bumi. Dan
kesudahan (yang baik) itu adalah bagi
orang-orang yang bertakwa. " (QS.
al-Qashash: 76-83)
Orang-orang dahulu
banyak membicarakan ilmu
ini yang Qarun
mengklaim bahawa ia diberi ilmu itu. Sebahagian mereka mengatakan bahawa
itu adalah ilmu kimia yang dengannya Qarun mampu mengubah tembaga menjadi emas.
Sebahagian lagi mereka
mengatakan bahawa Qarun
mengetahui ismullah
al-A'zham (nama Allah yang agung) lalu
ia menggunakannya untuk mengubah bahan-bahan itu menjadi emas. Tetapi
orang-orang yang berakal dari kalangan orang-orang dahulu
membantah hal itu.
Menurut mereka, Qarun
tidak mengetahui ismullah al-A'zham. Qarun adalah seorang munafik.
Mereka juga tidak percaya bahawa Qarun dapat membuat racikan kimia.
Kami kira,
ini semua adalah
dongengan semata yang
tidak layak untuk menjelaskan sebab-sebab
kekayaannya. Menurut hemat
kami, Qarun adalah seorang yang lalim di mana ia melakukan pekerjaan yang tidak sehat. Dan
boleh jadi ia memanfaatkan persahabatan dengan Fir'aun untuk mendapatkan
fasiliti-fasiliti dari Fir'aun. Dan kerana persahabatan itu, ia berani
menentang Musa. Qarun melakukan kejahatan di sana-sini dan kerananya ia
mengatakan bahawa harta yang diperolehnya adalah hasil dari kerja kerasnya dan
ilmunya. Qarun telah membuat
kebohongan dan kelaliman
dan ia mendapatkan kekayaan dengan cara-cara yang
tidak sehat.
Penyimpangan
dari keimanan kepada Allah s.w.t meskipun sehujung rambut pada akhirnya
menyeret manusia kepada sikap kesombongan. Manusia itu akan menentang kebenaran
dan ia tidak mampu lagi mengikuti kebenaran sehingga pada gilirannya sesuatu
yang bohong pun akan menjadi laksana sesuatu yang realistik dan tidak perlu
lagi dipersoalkan. Belum lama Qarun mendapatkan seksa sehingga
orang- orang mukmin
yang mengikuti Nabi
Musa merasakan kelapangan yang
sebelumnya mereka merasa tertindas. Orang-orang Mesir dan anak-anak Israil
menyaksikan mukjizat ini.
Akhirnya, pertentangan
antara Fir'aun dan
Nabi Musa mencapai
puncaknya. Fir'aun meyakini bahawa
Musa sangat mengancam
kekuasaannya. Musa -sebagaimana nabi-nabi
yang lain - membawa ajarannya
dengan penuh kelembutan tetapi
ketika ia berhadapan
dengan puncak kejahatan
dan sumber-sumber yang lalim
maka ia tidak
segan- segan untuk menghancurkannya. Nabi
Musa menantang sumber
kejahatan di zamannya, yaitu Fira'un. Kemudian Fir'aun
melontarkan ide untuk membunuh Musa. Fir'aun mengira bahawa
membunuh Musa adalah
cara satu-satunya untuk menyelesaikan masalahnya:
"Dan berkata
Fir'aun (kepada pembesar-pembesarnya): 'Biarkanlah
aku membunuh Musa dan
hendaklah ia memohon
kepada Tuhannya, kerana sesungguhnya aku khuatir dia akan
menukar agamamu atau menimbulkan kerosakan di muka bumi.'" (QS. al-Mu'min:
26)
Kita
perhatikan bahawa Fir'aun berusaha untuk mencegah orang-orang yang menuju kebenaran;
Fir'aun berusaha memberhentikan tugas
para nabi; ia berusaha menyesatkan manusia dengan
mengatakan bahawa justru Musa yang ingin menyesatkan mereka; ia mengusulkan
kepada para menterinya dan para pembesarnya
untuk membiarkannya membunuh
Musa. Tentu ia
tidak membunuh Musa dengan
tangannya sendiri tetapi
ia hanya sekadar melontarkan fikiran
untuk membunuhnya di
depan mereka dan
yang melaksanakan hal tersebut
adalah para pejabat
istana. Kami kira
Haman sangat berperan dalam pelaksanaan ide ini. Kemudian terbentuklah
kelompok orang-orang munafik yang mendukung ide Fir'aun ini.
Ide
tersebut hampir segera dibenarkan kalau tidak ada seorang dari keluarga
Fir'aun. Ia adalah seorang lelaki dari kalangan pejabat negara yang terpandang.
Al-Quran tidak menyebutkan namanya kerana namanya tidak begitu penting dan
begitu juga ia tidak menyebutkan sifatnya kerana sifatnya tidak begitu penting.
Al-Quran hanya menceritakan keadaan
lelaki ini
yang menyembunyikan
keimanannya. Ia berbicara
di tengah-tengah perkumpulan yang di
situ disampaikan ide
untuk membunuh Musa.
Kemudian ia menghentikan ide
gila itu dan
berusaha meruntuhkan ide
itu. Ia berkata bahawa Musa
hanya mengatakan bahawa
Allah s.w.t adalah Tuhannya,
lalu untuk mendukung penyataannya itu ia membekali dirinya dengan
bukti-bukti yang jelas yang menunjukkan bahawa ia benar-benar seorang rasul.
Kemudian
ada dua
kemungkinan dan tidak ada kemungkinan
ketiga: pertama bahawa Musa adalah seorang pembohong, kedua
ia seorang yang benar. Jika ia seorang pembohong maka kebohongannya itu akan
kembali kepada dirinya sendiri dan ia tidak melakukan sesuatu yang kerananya ia
harus dibunuh. Namun jika ia benar lalu kita membunuhnya maka gerangan apa yang
akan menjamin kita dari keselamatan terhadap
azab yang dijanjikannya? Seorang
mukmin yang menyembunyikan keimanannya
itu berkata kepada
kaumnya: "Sesungguhnya hari
ini kita berada di tempat-tempat kekuatan sebagaimana yang dialami oleh Qarun
di mana ia memiliki kekayaan dan kekuatan kemudian terjadilah apa yang terjadi
padanya. Siapakah yang akan menyelamatkan kita dari azab Allah s.w.t ketika
datang? Siapakah yang dapat menolong kita dari seksaan-Nya jika
menimpa kita?
Tindakan melampaui batas
kita dan usaha
kita untuk membohongkan kebenaran
telah membuat kita rugi."
Perkataan
lelaki mukmin itu memuaskan para hadirin. Orang lelaki itu adalah seseorang
yang tidak begitu menampakkan loyalitinya kepada Fir'aun. Ia bukan dari
kalangan pengikut Musa. Tampaknya ia berbicara dengan motivasi untuk
mempertahankan kekuasaan Fir'aun, dan menurutnya tidak ada sesuatu yang dapat
menjatuhkan kekuasaan Fir'aun seperti kebohongan dan tindakan yang melampaui
batas dan membunuh jiwa-jiwa yang tidak berdosa.
Dari
sinilah kata-kata lelaki mukmin itu memancarkan kekuatannya yang cukup
mempengaruhi Fir'aun, para
menterinya, dan anak
buahnya. Meskipun ide Fir'aun
untuk membunuh Musa digagalkan
oleh lelaki mukmin
itu, namun Fir'aun mengatakan
kata-kata bersejarahnya yang kemudian menjadi contoh dari sikap orang-orang
yang lalim:
"Fir'aun
berkata: Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik;
dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.'" (QS.
al-Mu'min: 29)
Demikianlah
pernyataan para penguasa yang lalim ketika mereka menghadapi masyarakat mereka.
Aku tidak melihat pendapatku kecuali sesuai dengan apa yang aku pertimbangkan.
Ini adalah pendapat kami yang khusus. Ia merupakan pendapat yang
membimbing kalian menuju
jalan petunjuk, sedangkan pendapat lainnya salah. Oleh kerana
itu, kita harus tetap melawannya dan membinasakannya. Allah s.w.t menceritakan
sikap demikian ini dalam surah Ghafir:
"Dan seorang
laki-laki yang beriman
di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang
menyembunyikan imannya berkata:
'Apakah kamu akan
membunuh seorang laki-laki kerana dia menyatakan: 'Tuhanku ialah Allah,'
padahal dia telah datang kepadamu
dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu.
Dan jika ia
seorang pendusta maka
dialah yang menanggung (dosa) dustanya
itu; dan jika
ia seorang yang
benar nescaya sebahagian (bencana) yang diancamkannya
kepadamu akan menimpamu.' Sesungguhnya Allah
tidak menunjuki orang-orang
yang melampaui batas
lagi pendusta. (Musa berkata):
'Hai kaumku, untukmu lah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi.
Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab
itu menimpa kita!'
Fir'aun berkata: 'Aku
tidak mengemukakan kepadamu, melainkan
apa saja yang
aku pandang baik;
dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang
benar.'" (QS. al-Mu'min 28-29)
Perdebatan tersebut
tidak berhenti pada batas ini.
Fir'aun mengutarakan kata-katanya
tetapi seorang mukmin itu tetap tidak puas dengannya, kemudian lelaki mukmin
itu kembali berbicara:
"Dan orang
yang beriman itu
berkata: 'Hai kaumku,
sesungguhnya aku khuatir kamu
akan ditimpa (bencana)
seperti kehancuran golongan
yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Ad Tsamud dan
orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak akan menghendaki
berbuat kelaliman terhadap hamba-hamba-Nya. Hai
kaumku, sesungguhnya aku khuatir
terhadapmu akan seksaan
hari panggil-memanggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada
bagimu seorang pun yang menyelamatkan dirimu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan
Allah, nescaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk.
Dan sesungguhnya telah
datang Yusuf kepadamu
dengan membawa keterangan- keterangan,
tetapi kamu senantiasa
dalam keraguan tentang apa yang
dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: 'Allah tidak
akan mengirimkan seorang (rasul pun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan
orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang
memperdebatkan ayat-ayat Allah
tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar
kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman.
Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan
sewenang-wenang." (QS. al-Mu'min: 30-35)
Kita perhatikan
dalam pembicaraan tersebut
terdapat perbezaan dengan pembicaraan sebelumnya.
Lelaki mukmin itu
berusaha menguraikan pada pembicaraan akhirnya tentang bukti-bukti
sejarah. Ia menyampaikan kepada Firaun dan kaumnya argumentasi-argumentasi yang
cukup untuk menunjukkan kebenaran Musa. Ia memperingatkan mereka agar jangan
sampai mengganggu Musa. Sebelum masa mereka, terdapat umat-umat yang menentang
rasul-rasul yang dikirim oleh Allah s.w.t, lalu Allah s.w.t menghancurkan
mereka. Mereka adalah kaum Nuh, kaum 'Ad, dan kaum Tsamud. Zaman mereka tidak
terlalu jauh dengan zaman sekarang.
Sejarah
Mesir menunjukkan bukti kebenaran ucapannya di mana Nabi Yusuf datang dengan
membawa bukti yang jelas kemudian terdapat orang-orang yang merugikan dakwahnya
lalu mereka beriman
padanya setelah keselamatan hampir saja tercabut dari mereka.
Lalu apa keanehan di balik pengutusan para rasul dari
Allah s.w.t? Sejarah
masa lalu harus
menjadi bahan renungan. Bukankah kelompok minoriti orang-
orang mukmin memperoleh kemenangan ketika
mereka benar-benar beriman
atas kelompok majoriti
yang kafir? Bukankah Allah
s.w.t telah menghancurkan
orang- orang kafir?
Allah s.w.t menenggelamkan mereka
dengan taufan dan
Allah s.w.t menghancurkan mereka dengan kilat atau Allah
s.w.t menenggelamkan mereka dalam bumi. Apa yang kita tunggu sekarang dan dari
mana kita tahu bahawa usaha kita membela Fir'aun mati-matian akan membawa
keuntungan bagi kita semua?
Pembicaraan lelaki
mukmin yang intelektual
itu mengandung beberapa peringatan yang mengerikan.
Tampaknya ia berhasil memuaskan para hadirin bahawa ide membunuh Musa adalah
ide yang tidak aman. Atau dengan kata lain, itu adalah ide yang tidak menjamin
keselamatan mereka. Oleh kerana itu, ide tersebut hendaklah ditinggalkan.
Setelah itu, lelaki mukmin itu berusaha untuk menunjukkan kepada mereka
kebenaran yang dibawa oleh Musa. Ia yang semula menggunakan bahasa isyarat,
kini berusaha untuk menggunakan bahasa yang terang dan gamblang. Ia telah
berani menampakkan kebenaran:
"Orang yang
beriman itu berkata:
'Hai kaumku, ikutilah
aku, aku akan menunjukkan kepadamu
jalan yang benar.
Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini
hanyalah kesenangan (sementara)
dan sesungguhnya akhirat itulah
negeri yang kekal. Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak
akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa
mengerjakan amal yang
saleh baik laki-laki
mahupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan
masuk syurga, mereka diberi
rezeki di dalamnya
tanpa hisab.'" (QS.
al-Mu'min: 38-40)
Akhirnya, keimanan
lelaki mukmin itu
pun tersingkap. Ia
diketahui sebagai seorang mukmin
yang tidak lagi
menyembunyikan keimanannya. Pada
akhir pembicaraannya, ia menegaskan:
"Hai
kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu
menyeru aku ke neraka? (Mengapa) kamu menyeruku kafir kepada Allah dan
mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak aku ketahui padahal aku menyeru
kamu (beriman) kepada Yang
Maha Perkasa lagi
Maha Pengampun? Sudah pasti bahawa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepadanya tidak
dapat memperkenankan seruan
apa pun baik
di dunia mahupun di
akhirat. Dan sesungguhnya
kita kembali kepada
Allah dan sesungguhnya orang-orang
yang melampaui batas,
mereka itulah penghuni neraka. Kelak kamu akan mengingat
kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan
aku menyerahkan urusanku
kepada Allah. Sesungguhnya
Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya."
(QS. al-Mu'min: 41-44)
Lelaki
mukmin itu mengakhiri pembicaraan dengan kata-kata yang berani ini. Kami kira,
Allah s.w.t telah mengirim lelaki mukmin ini dari kalangan Fir'aun agar Fir'aun
melupakan Musa. Konteks Al-Quran menyingkap bahawa lelaki ini merupakan salah
seorang intelektual Mesir
yang mengetahui sejarah
dan mampu menganalisis serta memiliki kemampuan untuk menghubungkan satu
peristiwa dengan peristiwa yang lain sehingga ia mengetahui sebab-sebab dan
akhir dari suatu peristiwa.
Orang
yang beriman itu mampu menggiring akal mereka menuju kebenaran. Fir'aun tersibukkan
dengan lelaki mukmin
ini hingga beberapa
saat ia lupa untuk memikirkan Musa. Lelaki mukmin itu
berasal dari keluarga Fir'aun. Ia adalah kerabat dekatnya dan salah seorang
pejabat negaranya. Keimanannya terhadap kebenaran menjadikan istana Fir'aun
terbagi menjadi dua kubu: kubu pro Musa dan kubu anti Musa. Ini bererti
kemenangan yang besar bagi Musa. kerana
itu, membunuh lelaki
mukmin itu akan
mengganggu atau
menggoyangkan keberadaan cendekiawan
Mesir di mana
ia adalah salah seorang dari mereka.
Demikianlah,
Fir'aun menghadapi masalah yang rasa-rasanya sulit atau mustahil untuk terpecahkan.
Membunuh lelaki mukmin
itu tidak akan
memberikan dampak yang baik, begitu juga membiarkannya hidup juga tidak
memberikan dampak yang baik.
Akhirnya, mereka membikin
suatu konspirasi untuk menyingkirkannya. Kemudian di sinilah
bimbingan Allah s.w.t diturunkan:
"Maka
Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta
kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk." (QS. al-Mu'min: 45)
Untuk beberapa
saat, Fir'aun disibukkan
dengan masalah baru
ini, tetapi Fir'aun adalah
Fir'aun. Ia tetap
memakai busana kesombongannya; ia
tetap menyeksa Bani Israil,
menghina mereka dan
menodai kehormatan wanita-wanita
serta membunuh anak-anak. Akhirnya, tibalah waktunya bagi Allah s.w.t
untuk bersikap keras
kepada keluarga Fir'aun.
Allah s.w.t menurunkan bencana
kepada mereka dan menakut-nakuti mereka dengan azab sehingga mereka
mengurungkan niat untuk menghancurkan Musa dan laki-laki mukmin itu,
dan sebagai pembuktian
atas kebenaran kenabian
Musa. Allah s.w.t menurunkan
tahun-tahun yang kering
dan tandus kepada
orang-orang Mesir di mana
bumi tampak kering
kontang dan sungai
Nil pun mengering hingga buah-buahan
jarang sekali ditemukan
dan harga semakin
mencekik leher. Akibatnya, kelaparan melanda di sana-sini. Dalam keadaan
demikian, orang-orang Mesir menganggap bahawa kehidupan mereka terancam. Adalah
hal yang maklum bahawa seksa yang seperti ini akan selalu menimpa manusia
ketika mereka berpaling dari keimanan dan takwa.
Allah
s.w.t berfirman:
"Jikalau
sekitarnya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami)
itu, maka Kami
seksa mereka disebabkan
perbuatannya." (QS. al-A'raf: 96)
Hukum yang
lama diperlakukan atas
penduduk Mesir kerana
dua sebab: pertama, sikap dingin
mereka terhadap pembunuhan yang dilakukan Fir'aun kepada para
tukang sihir, kedua,
sikap dingin mereka
terhadap kelaliman penguasa mereka.
Aneh sekali ketika
kaum Fir'aun mengembalikan
masa paceklik ini dan
musibah kelaparan ini
pada suatu sebab
yang sangat menghairankan. Mereka
mengatakan bahawa apa yang menimpa
mereka kerana kesialan yang
dibawa oleh Musa.
Kelaparan yang melanda
mereka, kefakiran, dan kekurangan buah-buahan yang mereka rasakan saat
ini adalah disebabkan oleh adanya Musa di tengah-tengah mereka.
Kemudian
kefakiran mereka semakin meningkat dan mereka semakin menjauh dari kebenaran.
Mereka meyakini bahawa
sihir Musa adalah
yang bertanggungjawab terhadap apa yang menimpa mereka pada musim
paceklik ini. Mereka mengira
dengan kebodohan mereka
bahawa kekeringan yang melanda negeri mereka adalah sebagai
alat atau kekuatan yang digunakan oleh Musa
untuk menyihir mereka.
Namun perlu diperhatikan
bahawa pemikiran demikian tidak
mewakili pemikiran umumnya
masyarakat saat itu,
tetapi pemikiran ini datang
dan dihembuskan oleh
kelompok-kelompok yang berkuasa. Akhirnya,
Allah s.w.t menurunkan
azab yang lebih
keras kepada mereka. Allah s.w.t
berfirman:
"Dan
sesungguhnya Kami telah menghukum
(Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim
kemarau yang panjang
dan kekurangan buah-buahan, supaya
mereka mengambil pelajaran.
Kemudian apabila datang kepada
mereka kemakmuran, mereka
berkata: 'Ini adalah
kerana (usaha) kami.' Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka
lemparkan sebab kesialan itu kepada
Musa dan orang-orang
yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu
adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan neraka tidak mengetahuinya.
Mereka berkata: 'Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk
menyihir kami dengan keterangan itu maka, kami sekali-kali tidak akan beriman
kepadamu.' Maka Kami kirimkan kepada
mereka taufan, belalang,
kutu, katak dan
darah sebagai bukti yang
jelas, tetapi mereka
tetap menyombongkan diri
dan mereka adalah kaum yang berdosa. (QS. al-A'raf: 130-133)
Allah
s.w.t mengirimkan berbagai macam azab dengan harapan agar mereka kembali kepada
Allah s.w.t dan
melepaskan Bani Israil
serta membiarkan mereka pergi
bersama Musa. Allah
s.w.t mengirim taufan
kepada mereka. Setelah masa
paceklik, datanglah tahun yang penuh dengan air sehingga bumi pun tenggelam
dengan air sehingga
mereka tidak dapat
bercucuk tanam. Setelah mereka
diseksa dengan sedikitnya
air maka kali
ini mereka mendapatkan limpahan
air yang luar biasa. Mereka segera datang kepada Nabi Musa sambil berkata:
"Dan
ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) mereka pun
berkata: 'Hai Musa,
mohonkanlah untuk kami
kepada Tuhanmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui
Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dari
kami, pasti kami akan beriman kepadamu
dan akan kami
biarkan Bani Israil
pergi bersamamu.'" (QS.
al-A'raf: 134)
Kemudian
Nabi Musa berdoa kepada Tuhannya sehingga azab disingkirkan dari mereka. Air
yang memancar dengan dahsyat itu berhenti dan bumi kembali mengambil air yang
cukup sehingga layak untuk dibuat bercucuk tanam. Nabi Musa meminta
kepada mereka untuk
mewujudkan janji mereka,
yaitu melepaskan tawanan Bani Israil. Tapi mereka tidak memenuhinya.
Kemudian datanglah tanda kebesaran yang lain yaitu dalam bentuk turunnya
belalang. Allah s.w.t mengirim
sekawanan belalang yang
memenuhi tanaman dan buah-buahan. Ketika belalang- belalang
itu terbang maka tanaman-tanaman mereka dan buah-buahan mereka tersembunyi dari
pandangan kerana saking banyaknya belalang- belalang itu. Belalang itu memakan
makanan orang-orang Mesir.
Melihat
keadaan demikian, mereka pun pergi ke Musa dan meminta kepadanya agar berdoa
kepada Tuhannya agar menyingkirkan seksaan ini dari mereka dan mereka berjanji
untuk melepaskan padanya Bani Israil. Nabi Musa pun lagi-lagi berdoa kepada
Tuhannya sehingga Allah
s.w.t menyingkirkan azab
itu dari mereka. Dan
belalang-belalang itu kembali ke tempat asalnya. Mereka dapat menanami kembali
bumi dengan baik. Lalu Nabi Musa meminta kepada mereka untuk melepaskan Bani
Israil namun mereka menunda-nundanya sehingga Nabi Musa mengetahui
bahawa sebenarnya mereka
tidak serius untuk
memenuhi janji mereka.
Kemudian
datanglah seksaan Allah s.w.t yang lain, yaitu dikirim-Nya berbagai macam hama.
Tersebarlah hama yang membawa penyakit. Lagi- lagi mereka datang kepada Nabi
Musa dan mengulangi janji mereka dan Nabi Musa pun berdoa kepada Allah
s.w.t. Kali ini
mereka pun tetap
mengingkari janji mereka. Lalu
datanglah seksaan Allah s.w.t yang lain dalam bentuk dikirim-Nya katak di mana
bumi dipenuhi dengan katak. Katak itu melompat-lompat ke sana-sini dan memenuhi
makanan orang- orang Mesir serta berada di rumah mereka sehingga mereka sangat
terganggu dengan kehadiran katak-katak liar itu. Lagi-lagi mereka menemui Nabi
Musa dan kembali mengulangi janji mereka dan
meminta padanya agar
ia berdoa kepada
Tuhannya agar Allah
s.w.t menyingkirkan azab dari mereka. Tetapi mereka pun tetap
mengingkari janji mereka.
Selanjutnya,
Allah s.w.t menurunkan azab yang lain yaitu darah di mana sungai Nil berubah
menjadi darah sehingga tidak seorang pun dapat meminumnya. Kita ketahui
bahawa mukjizat-mukjizat pertama
berupa sesuatu yang
biasa terjadi pada tanaman. Berkurangnya air Nil atau bertambahnya air
tersebut atau serangan belalang atau hama dan katak, semua ini adalah bukan hal
baru bagi orang-orang Mesir. Yang baru adalah kejadian ini terjadi dengan
sangat tiba-tiba dan sangat
mencekam. Sedangkan mukjizat
atau azab yang
lain adalah azab yang tidak biasa terjadi di daerah Mesir, yaitu azab
yang belum pernah terjadi sebelumnya di mana air sungai Nil berubah menjadi
darah.
Perubahan
sungai itu menjadi darah hanya terjadi di kalangan orang- orang Mesir sedangkan
Musa dan kaumnya dapat meminum airnya seperti biasanya. Namun ketika seorang
Mesir memenuhi tempat gelasnya dengan air maka ia akan mendapati
bahawa gelasnya penuh
dengan darah. Melihat
peristiwa tersebut, orang-orang Mesir
tergoncang sebagaimana istana
Fir'aun juga tergoncang melihat
seksa yang mengerikan
dan baru ini.
Lagi-lagi mereka menuju ke Nabi
Musa dan meminta kepadanya agar berdoa kepada Tuhannya dan mereka berjanji pada
kali ini untuk membebaskan orang-orang Bani Israil. Nabi Musa pun berdoa kepada
Tuhannya sehingga azab itu disingkirkan dari orang-orang Mesir.
Meski demikian. istana
Fir'aun tidak mengizinkan
Musa untuk menemui kaumnya dan
pergi bersama mereka. Lalu bagaimana sikap
Fir'aun sendiri?
Fir'aun tetap menunjukkan pembangkangnya dan kesombongannya. Fir'aun
mengumumkan di tengah-tengah
kaumnya bahawa dia tuhan.
Bukankah - kata Fir'aun -
dia memiliki kerajaan
Mesir dan sungai-sungai ini
mengalir di bawah
kekuasaannya? Fir'aun memberitahu bahawa Musa adalah tukang sihir
yang bohong dan ia hanya seorang fakir yang tidak mampu menggunakan satu kalung
emas dan satu gelang emas.
Allah
s.w.t berfirman:
"Dan sesungguhnya Kami
telah mengutus Musa
dengan membawa
mukjizat-mukjizat Kami kepada
Fir'aun dan pemuka-pemuka
kaumnya. Maka Musa berkata:
'Sesungguhnya aku adalah
dari utusan Tuhan
seru sekalian alam. Maka tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa
mukjizat-mukjizat Kami dengan serta merta mereka mengetawakannya. Dan
tidakkah Kami perlihatkan
kepada mereka sesuatu
mukjizat kecuali mukjizat itu
lebih besar dari
mukjizat-mukjizat sebelumnya. Dan
Kami timpakan kepada mereka azab supaya mereka kembali (kejalan yang
benar). Dan mereka berkata:
'Hai ahli sihir
berdoalah kepada Tuhanmu
untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya
kepadamu; sesungguhnya kami (jika doamu
dikabulkan) benar-benar akan
menjadi orang yang mendapat petunjuk. Maka tatkala Kami menghilangkan
azab itu dari mereka, dengan serta merta mereka memungkiri (janjinya). Dan
Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: 'Hai kaumku, bukankah kerajaan
Mesir ini kepunyaanku
dan (bukankah) sungai-sungai ini
mengalir di bawahku; maka apakah
kamu tidak melihat(nya)?' Bukankah aku lebih baik dari orang
yang hina ini
dan yang hampir
tidak dapat dijelaskan (perkataannya)? Mengapa tidak
dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang
bersama-sama dia untuk
mengiringkannya.' Maka Fir'aun mempengaruhi kaumnya
dengan (perkataannya itu) lalu
mereka patuh kepadanya.
Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik." (QS. az-Zukhruf: 46-54)
Perhatikanlah ungkapkan
Al-Quran: Maka Fir'aun
mempengaruhi kaumnya dengan (perkataannya itu) lalu mereka patuh
kepadanya. Fir'aun memenjara akal
mereka, membelenggu kebebasan
mereka, dan menutup
masa depan mereka yang
cerah. Fir'aun menodai
kemanusiaan mereka sehingga
mereka mentaatinya. Bukankah ketaatan ini aneh? Namun keanehan ini
hilang ketika kita mengetahui bahawa
mereka adalah orang-
orang yang fasik.
Kefasikan menjadikan seseorang tidak peduli dengan masa depannya dan
kepentingannya serta urusannya. Pada akhirnya, ia akan mendapati kehancuran.
Demikianlah yang terjadi pada kaum Fir'aun.
Allah
s.w.t berfirman:
"Maka
tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan
mereka semuanya (di laut), dan Kami
jadikan mereka sebagai pelajaran dan
contoh bagi orang-orang
yang kemudian." (QS.
az-Zukhruf: 55-56)
Tampak jelas
bahawa Fir'aun tidak
beriman kepada Musa.
Fir'aun tidak menghentikan usaha
untuk menyeksa Bani
Israil dan ia
tetap merendahkan kaumnya. Maka
melihat kenyataan yang
demikian, Musa dan
Harun berdoa buruk untuk Fir'aun:
"Musa
berkata: 'Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan
pemuka-pemuka kaumnya dengan perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan
dunia, ya Tuhan
kami, akibatnya mereka
menyesatkan (manusia) dari jalan
Engkau. Ya Tuhan
kami, binasakanlah harta
benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman
hingga mereka melihat seksaan yang pedih.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya telah
diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan
yang lurus dan janganlah sekali-kali mengikuti jalan orang-orang yang tidak
mengetahui.'" (QS. Yunus: 88-89)
Kemudian
datanglah izin kepada Nabi Musa untuk meninggalkan Mesir dengan disertai oleh
kaumnya yang mengikutinya. Sikap kaum Nabi Musa sangat aneh. Tidak semua
kaumnya beriman kepadanya. Allah s.w.t berfirman:
"Maka
tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda- pemuda dari kaumnya (Musa) dalam
keadaan takut bahawa
Fir'aun dan pemuka-pemuka
kaumnya akan menyeksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu sewenang-wenang di
muka bumi. Dan
sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui
batas." (QS. Yunus: 83)
Selesailah urusan.
Allah s.w.t telah
menetapkan untuk membuat
suatu keputusan hukum terhadap Fir'aun. Allah s.w.t memerintahkan kepada
Musa untuk keluar dan mengizinkan Bani Israil untuk pergi. Mereka
bersiap-bersiap untuk keluar dan pergi bersama Musa. Mereka membawa
perhiasan-perhiasan mereka lalu datanglah malam kepada mereka. Nabi Musa
berjalan bersama mereka dan menyeberangi Laut Merah dan menuju ke negeri Syam.
Sementara itu, utusan Fir'aun dan intelejennya bergerak. Sampailah berita
kepada Fir'aun bahawa Musa telah pergi beserta kaumnya. Fir'aun mengeluarkan
perintahnya di segenap penjuru
kota agar pasukan
yang besar berkumpul.
Fir'aun menyampaikan alasan yang
aneh di balik
pengumpulan tentera itu sebagaimana disampaikan oleh Al-Quran:
"Dan sesungguhnya
mereka membuat hal-hal
yang menimbulkan amarah kita. " (QS. asy-Syu'ara': 55)
Fir'aun
telah naik pitam melihat aksi Musa. "Secara peribadi aku telah marah
padanya. Jumlah mereka
sedikit namun kemarahan
kita terhadap mereka sungguh banyak. Kalau demikian, ini
adalah peperangan." Fir'aun benar-benar seorang penjahat kelas kakap. Ia tidak
berusaha menyembunyikan niatnya di balik
kata-kata besarnya. Misalnya,
secara diplomasi ia
dapat mengatakan bahawa keamanan
kerajaan terancam atau sistem ekonomi akan hancur jika para pekerja ini yang
digaji dengan sangat murah ini akan keluar. Fir'aun tidak mengatakan semua itu
tetapi ia hanya menyatakan bahawa ia sedang emosi. Nabi Musa membuatnya naik
pitam dan ini sudah cukup untuk mengeluarkan perintah agar
para tentera dikumpulkan.
Manusia membenarkan tindakan Fir'aun untuk
seribu kalinya setelah
membohongkannya. Tiada seorang
pun yang menentangnya dan
tidak ada seorang
pun yang mempersoalkan
sebab kenapa di balik pengumpulan tentera itu.
Akhirnya, bergeraklah
tentera Fir'aun dengan
membawa persenjataan yang lengkap
dan mereka berusaha
mengejar Nabi Musa.
Fir'aun duduk di
atas kenderaan perangnya dan mengawasi tentera di sekitamya sambil
tersenyum. Barangkali ia membayangkan,
jika sejak semula
ia melakukan itu
maka gerak-geri Musa akan
dapat dipatahkannya dan
ia dapat membunuhnya. Alhasil, ia sekarang berada di
jalan untuk menangkap Musa dan membunuhnya dan menyelesaikan masalah
seluruhnya.
Nabi
Musa berdiri di depan Laut Merah. Tampak dari kejauhan bahawa debu yang
ditebarkan oleh tentera Fir'aun mulai mendekat. Lalu setelah itu tampak
panji-panji tentera. Melihat hal itu, kaum Nabi Musa merasakan ketakutan.
Mereka menghadapi situasi sangat sulit dan berbahaya: di depan mereka ada
laut sementara di
belakang mereka ada
musuh. Mereka tidak
memiliki kesempatan sedikit pun
untuk berperang dengan
pasukan Fir'aun kerana mereka
hanya terdiri dari
wanita-wanita, anak-anak kecil,
dan orang-orang lelaki yang tidak
bersenjata. Fir'aun akan menyembelih mereka semuanya.
Tiba-tiba
terdengarlah teriakan dari kaum Nabi Musa: "Fir'aun akan menyusul kita dan
menangkap kita." Nabi Musa berusaha menenangkan mereka sambil
berkata: "Tidak. Sesungguhnya
Tuhanku bersamaku dan
Dia pun akan membimbingiku." Kita tidak
mengetahui bagaimana perasaan Nabi Musa saat itu atau apa yang difikirkannya.
Yang jelas, ia tidak mendapat kepercayaan seperti ini
kecuali setelah Allah
s.w.t mewahyukan kepadanya
agar ia memukulkan tongkatnya ke
lautan itu. Kemudian Nabi Musa pun memukulkan tongkat yang dibawanya kepada
lautan itu.
Demikianlah bahawa
kehendak Allah s.w.t
pasti terlaksana meskipun
harus bertentangan dengan logik manusia. Allah s.w.t ingin menunjukkan
mukjizat, kemudian Allah s.w.t mewahyukan kepada Musa untuk memukulkan
tongkatnya kepada lautan. Pemukulan tongkat terhadap lautan hanya sekadar sebab
yang kemudian diikuti dengan
terbelahnya lautan. Belum
sampai Nabi Musa mengangkat tongkatnya sehingga malaikat
Jibril turun ke bumi lalu Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke lautan. Tiba-tiba
laut itu terbelah menjadi dua bahagian: satu bahagian menjadi kering kontang di
mana di sebelah kanannya terdapat
ombak dan di
sebelah kirinya juga
terdapat ombak. Nabi
Musa bersama kaumnya berjalan sehingga mereka dapat melewati lautan. Ini
adalah mukjizat yang sangat
besar. Ombak bergelombang:
meninggi dan menurun
sehingga tampak
ada tangan tersembunyi
yang mencegahnya agar
jangan sampai menenggelamkan Nabi Musa atau bahkan membasahinya
sekalipun.
Demikianlah
Nabi Musa dan kaumnya berhasil melewati lautan. Sementara itu, Fir'aun sampai
ke lautan. Ia
menyaksikan mukjizat ini.
Ia melihat lautan terdapat jalan kering yang terbelah
menjadi dua. Fir'aun saat itu merasakan ketakutan tetapi
lagi-lagi keras kepalanya
dan pembangkangnya tetap menyalakan api
peperangan sehingga ia
menyuruh pasukannya untuk
maju. Ketika Musa selesai menyeberangi lautan, ia menoleh ke lautan dan
ia ingin memukulkan dengan tongkatnya
sehingga kembali sebagaimana
mestinya, tetapi Allah s.w.t mewahyukan kepadanya agar ia membiarkan
lautan seperti semula. Seandainya ia
memukulkan tongkatnya kepada
lautan dan laut
itu kembali seperti semula nescaya Nabi Musa akan selamat dan Fir'aun
pun akan selamat, sedangkan Allah
s.w.t telah berkehendak
untuk menenggelamkan Fir'aun.
Oleh kerana itu, Musa diperintahkan untuk membiarkan lautan seperti semula.
Allah s.w.t mewahyukan kepadanya:
"Dan
biarlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentera yang akan
ditenggelamkan." (QS. ad-Dukhan: 24)
Fir'aun bersama
tenteranya sampai di
tengah lautan. Ia
sudah melewati separuhnya dan
ia akan sampai
ke tepi yang
lain. Kemudian Allah
s.w.t memerintahkan kepada Jibril. Lalu Jibril menggerakkan ombak
sehingga ombak itu menerpa Fir'aun dan menenggelamkannya beserta tenteranya.
Fir'aun dan tenteranya tenggelam. Pembangkang
telah tenggelam sedangkan
keimanan kepada Allah s.w.t telah selamat.
Ketika
tenggelam, Fir'aun melihat tempatnya di neraka. Kini. ia sedar dan tabir telah
terkuak di depannya. Fir'aun telah menjemput sakaratul maut. Ia telah
menyedari bahawa Musa
adalah seorang yang
benar dan ia
telah menyia-nyiakan dirinya dengan
menentangnya dan berusaha
memeranginya. Fir'aun berusaha menunjukkan keimanannya.
"Hingga bila
Fir'aun itu hampir
tenggelam berkatalah dia:
'Saya percaya bahawa tidak ada
Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya
termasuk orang-orang yang
berserah diri (kepada
Allah).'" (QS. Yunus: 90)
Taubat Fir'aun
tidak berguna dan
tidak diterima; taubat
yang justru disampaikan ketika ia
menyaksikan azab dan akan memasuki pintu kematian. Jibril berkata kepadanya:
"Apakah sekarang
(baru kamu percaya),
padahal sesungguhnya kamu
telah derhaka sejak dahulu,
dan kamu termasuk
orang-orang yang berbuat kerosakan." (QS. Yunus: 91)
Yakni,
tidak ada taubat bagimu. Sungguh telah selesai waktu taubat bagimu dan engkau
telah binasa. Selesailah
urusan ini dan
tiadalah keselamatan bagimu. Yang
selamat hanyalah tubuhmu dan engkau akan dilemparkan oleh ombak ke
tepi sehingga tubuhmu
sebagai bukti kebesaran
Allah s.w.t bagi orang-orang yang hidup sesudahmu:
"Maka
pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi peringatan bagi
orang-orang yang datang
sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah
dari tanda-tanda kekuasaan Kami."
(QS. Yunus: 92)
Apa
yang terjadi pada Fir'aun merupakan sunatullah yang abadi yang terjadi sebagai
pelajaran bagi hamba-hamba Allah s.w.t.
Allah
s.w.t berfirman:
"Maka
tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata: 'Kami beriman hepada Allah
saja dan kami kafir kepada sembahan- sembahan yang telah kami persekutukan
dengan Allah.'" (QS. al- Mu'min: 84)
Allah
s.w.t menceritakan sikap Fir'aun bersama Musa dalam firman-Nya:
"Dan
Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa:
'Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), kerana
sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli.
Kemudian Fir'aun mengirimkan
orang yang mengumpulkan
(tenteranya) ke kota-kota. (Fir'aun berkata): 'Sesungguhnya mereka (Bani
Israil) benar-benar golongan
kecil-kecil, dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang
menimbulkan amarah kita, dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu
berjaga-jaga.' Maka Kami keluarkan Fir'aun
dari kaumnya dari
taman-taman dan mata
air, dan (dari) perbendaharaan
dan kedudukan yang mulia, demikianlah halnya dan Kami
anugerahkan semuanya
(itu) kepada Bani
Israil. Maka Fir'aun
dan bala tenteranya dapat
menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua golongan
itu saling melihat,
berkatalah pengikut- pengikut
Musa: 'Sesungguhnya kita benar-benar akan disusul.' Musa menjawab: 'Sekali-kali
kita tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan
memberi petunjuk kepadaku.' Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang
lain. Dan Kami
selamatkan Musa dan
orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan
golongan yang lain itu. Sesungguhnya pada
yang demikian itu
benar-benar merupakan suatu
tanda yang besar (mukji-
zat) dan tetapi
adalah kebanyakan mereka
tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah
Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." (QS. asy-Syu'ara': 52-68)
Tersingkaplah kejahatan
dan kelaliman Fir'aun.
Ombak lautan menggiring tubuhnya ke
tepi. Kami tidak
mengetahui tepi mana
yang dimaksud, yang menggiring tubuh seseorang yang mengaku
dirinya sebagai tuhan; seseorang yang tidak ada seorang pun yang berani
menentangnya. Diduga kuat bahawa ombak menggiring jasadnya ke tepi barat lalu
orang-orang Mesir melihatnya dan
mengetahui bahawa tuhan
mereka yang mereka
sembah, yang mereka taati adalah sekadar seseorang yang
tidak mampu menjauhkan kematian dari lehernya.
Setelah itu,
orang-orang Mesir mengetahui
kebenaran secara sempurna. Al-Quran al-Karim tidak
menceritakan kepada kita apa yang mereka perbuat setelah jatuhnya
rejim Fir'aun dan
setelah tenteranya tenggelam;
Al-Quran tidak menceritakan kepada kita bagaimana reaksi mereka setelah
Allah s.w.t menghancurkan apa yang diperbuat oleh Fir'aun dan kaumnya dan apa
yang mereka bangun; Al-Quran
tidak menyinggung semua
itu; Al-Quran justru memfokuskan keadaan Musa dan Harun dan
bagaimana peristiwa yang dialami Bani Israil bersama kedua nabi itu.
Fir'aun
Mesir telah mati. Ia tenggelam di hadapan mata orang-orang Mesir dan Bani
Israil. Meskipun ia telah mati, tetapi pengaruhnya tetap membekas pada
jiwa orang-orang Mesir
dan Bani Israil.
Sungguh sangat sulit
untuk menghilangkan pengaruh kehinaan
yang sekian lama
atau sekian tahun tertanam dalam
jiwa dan kemudian
jiwa itu menjadi
mulia. Fir'aun telah menanamkan pada
jiwa Bani Israil
sesuatu yang akan
kita ketahui dari ayat-ayat Al-Quran.
Fir'aun telah membiasakan
mereka untuk mendapatkan kehinaan. Fir'aun telah
menghancurkan jiwa mereka dari dalam. Fir'aun telah merosak suasana
rohani mereka yang
bersih. Fir'aun telah
merosak fitrah mereka sehingga
mereka menyeksa Musa
dan menyakiti Musa
dengan sikap penentangan dan
kebodohan.
Mukjizat pembelahan
lautan masih segar di
fikiran mereka. Pasir-pasir
laut yang basah masih membekas dan masih terdapat dalam sandal- sandal
Bani Israil ketika mereka
lewat di depan
kaum yang menyembah
berhala. Seharusnya mereka menampakkan kemarahan mereka atas kelaliman
terhadap akal, dan mereka
memuji kepada Allah
s.w.t kerana mereka
mendapatkan petunjuk pada jalan
keimanan dan kebenaran. Tetapi mereka justru menoleh kepada Musa dan meminta
kepadanya agar menjadikan tuhan lain bagi mereka yang dapat mereka sembah
seperti orang-orang itu. Mereka merasa cemburu ketika melihat
orang-orang yang menyembah
berhala itu dan
mereka pun menginginkan hal yang
sama. Mereka merasakan kerinduan kepada hari-hari syirik yang
lalu yang mereka
dapati di bawah
naungan Fir'aun. Nabi
Musa mengetahui betapa bodohnya mereka.
Allah
s.w.t berfirman:
"Dan Kami
seberangkan Bani Israil
ke seberang lautan
itu, maka setelah mereka sampai pada suatu kaum yang
tetap menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: 'Hai Musa, buatlah untuk
kami sebuah tuhan (berhala)
sebagaimana mereka mempunyai
beberapa tuhan (berhala).' Musa menjawab: 'Sesungguhnya
kamu ini adalah
kaum yang tidak
mengetahui (sifat-sifat Tuhan).' Sesungguhnya mereka
itu akan dihancurkan kepercayaan yang
dianutnya dan akan
batal apa yang
selalu mereka kerjakan. Musa
menjawab: 'Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada
Allah, padahal Dialah
yang telah melebihkan
kamu atas segala umat.
Dan (ingatlah hai
Bani Israil), ketika
Kami menyelamatkan kamu dari
(Fir'aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu
mereka membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan
pada yang demikian itu cubaan yang besar dari Tuhanmu. " (QS. al-A'raf:
138-141)
Musa
berjalan bersama kaumnya di Saina', yaitu suatu gurun yang di dalamnya terdapat
pohon yang dapat melindungi dari sengatan matahari dan di dalamnya terdapat
makanan dan air. Kemudian rahmat Allah s.w.t turun kepada mereka di mana mereka
mendapatkan al-Manna dan Salwa dan mereka dinaungi oleh awan. Al-Manna
adalah makanan yang
rasanya mendekati manis
dan ia dihasilkan oleh
sebahagian pohon-pohon yang
berbuah di mana
angin membawa kepada mereka rasa demikian ini dari daun-daun pohon.
Allah s.w.t juga mengirim kepada mereka as-Salwa, yaitu salah satu burung yang
bernama as-Saman.
Ketika
mereka merasakan kehausan yang sangat saat di Saina' tidak ada setitis air pun
maka Nabi Musa memukulkan dengan tongkatnya kepada batu sehingga batu itu
memancarkan dua belas mata air.
Bani Israil terbagi menjadi dua belas
cucu maka Allah s.w.t mengirim air tersebut kepada setiap kelompok. Meskipun
mereka mendapatkan kemuliaan dan kehormatan yang sedemikian rupa, tetapi
lagi-lagi jiwa mereka yang sakit tidak dapat menyedarkan mereka untuk
mensyukuri nikmat-nikmat ini. Mereka justru mendebat Nabi Musa dan
mengatakan bahawa mereka
bosan dengan makanan
ini dan mereka
ingin memiliki bawang merah
dan bawang putih
serta kacang-kacangan. Semua makanan
ini adalah makanan
tradisional Mesir. Bani
Israil meminta kepada Nabi mereka untuk berdoa kepada Allah
s.w.t dan mengeluarkan dari bumi makanan- makanan ini. Nabi Musa melihat bahawa
mereka menganiaya diri mereka sendiri, dan Nabi Musa menyedari betapa mereka
merindukan kehinaan mereka saat mereka
bersama Fir'aun. Mereka
berani menolak makanan-makanan yang baik dan makanan-makanan
yang mulia, dan sebagai gantinya, mereka malah menginginkan makanan-makanan
yang rendah mutunya. Allah s.w.t berfirman:
"Dan
ingatlah ketika kamu berkata: 'Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan)
dengan satu macam makanan
saja. Sebab itu, mohon-kanlah
untuk kami kepada Tuhanmu,
agar Dia mengeluarkan
bagi kami dari
apa yang ditumbuhkan bumi,
yaitu: 'Sayur-sayuran, ketimunnya,
bawang putihnya, kacang adasnya,
dan bawang merahnya.'
Musa berkata: 'Maukah
kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?
Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta.' Lalu
ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan
dari Allah. Hal itu (terjadi) kerana
mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang
tidak dibenarkan. Demikianlah itu
(terjadi) kerana mereka
selalu berbuat derhaka
dan melampaui batas. " (QS. al-Baqarah: 61)
Nabi Musa
berjalan bersama kaumnya
menuju Baitul Maqdis.
Nabi Musa memerintahkan kaumnya
untuk memasukinya dan memerangi siapa pun yang ada di
dalamnya serta berusaha
menguasai tempat itu.
Demikianlah telah datang ujian
terakhir kepada mereka setelah mereka menyaksikan mukjizat dan ayat-ayat Allah
s.w.t serta hal-hal yang luar biasa. Telah datang saat ujian kepada mereka
untuk berperang - kerana mereka sebagai orang-orang mukmin - melawan kaum
penyembah berhala. Namun kaum Nabi Musa menolak untuk memasuki tanah
suci. Nabi Musa
berusaha menyedarkan mereka
dengan menceritakan
bagaimana nikmat Allah
s.w.t yang turun
kepada mereka; bagaimana Allah
s.w.t menjadikan di
tengah-tengah mereka para
nabi dan menjadikan mereka
raja-raja yang mewarisi kerajaan Fir'aun; dan bagaimana mereka diberi suatu
kekayaan dan anugerah yang tidak dapat didapatkan oleh seseorang pun di dalam
dunia.
Kaum
Nabi Musa takut kepada peperangan dan beralasan bahawa di dalamnya
terdapat kaum yang
perkasa dan mereka
tidak akan masuk
ke tanah suci sehingga orang-orang
yang kuat itu
keluar darinya. Kitab-kitab
kuno mengatakan bahawa mereka keluar dalam jumlah enam ratus ribu. Nabi
Musa tidak dapat mendapatkan seseorang pun di antara mereka yang siap melakukan
peperangan kecuali dua orang. Kedua orang ini berusaha untuk menyedarkan kaum
agar mereka memasuki tanah suci itu dan berperang. Mereka berdua berkata:
"Sungguh hanya sekadar kalian memasuki pintu darinya maka kalian akan
mendapatkan kemenangan." Tetapi Bani Israil menampakkan ketakutan dan
tubuh mereka tampak gementar.
Pada kali
yang lain - sesuai dengan
tabiat mereka -
mereka merindukan
menyembah berhala
ketika melihat ada
kaum yang menyembah
berhala. Mereka telah rosak dan mereka telah kalah dari dalam diri
mereka; mereka telah biasa mendapatkan kehinaan sehingga mereka tidak mampu
berperang. Yang tersisa hanyalah, mereka mampu untuk bersikap tidak sopan pada
Nabi Musa as dan
kepada Tuhannya. Kaum
Nabi Musa berkata
kepadanya dalam kalimat yang
terkenal:
"Pergilah kamu
bersama Tuhanmu, dan
berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti
di sini saja." (QS. al-Maidah: 24)
Mereka
mengucapkan kata-kata tersebut dengan lantang dan jelas serta tanpa rasa malu.
Nabi Musa mengetahui bahawa kaumnya sangat jauh dari kebaikan. Fir'aun telah
mati tetapi pengaruhnya tetap tertanam dalam jiwa mereka di mana untuk
mengubatinya memerlukan waktu yang lama. Nabi Musa kembali kepada Tuhannya dan
memberitahu-Nya bahawa ia tidak memiliki sesuatu pun kecuali dirinya dan
saudaranya. Nabi Musa berdoa buruk kepada kaumnya agar Allah s.w.t memisahkan
antara dirinya dan mereka. Allah s.w.t menurunkan keputusan-Nya kepada generasi
ini yang telah rosak fitrahnya. Yaitu keputusan yang berupa: mereka disesatkan
selama empat puluh tahun sehingga generasi ini mati atau mereka mencapai usia
senja dan kemudian akan lahir generasi yang
baru; generasi yang
belum rosak jiwanya
dan mereka akan
dapat berperang dan memperoleh kemenangan.
Allah
s.w.t berfirman:
"Dan
(ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: 'Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah
atasmu ketika Dia
mengangkat nabi-nabi di
antaramu, dan dijadikan-Nya kamu
orang-orang merdeka, dan diberikannya kepadamu apa yang belum
pernah diberikan-Nya kepada
seseorang pun di
antara umat-umat yang lain.' Hai kaumku, masuklah ke tanah suci
(Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke
belakang (kerana takut kepada musuh) maka kamu menjadi orang-orang yang rugi.
Mereka berkata: 'Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang
yang gagah perkasa, sesungguhnya
kami sekali-kali tidak
akan memasukinya sebelum mereka
keluar darinya. Jika
mereka keluar darinya,
pasti kami akan memasukinya.'
Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah
telah memberi nikmat atas keduanya: 'Serbulah mereka dengan
melalui pintu gerbang (kota) itu,
maka bila kamu memasukinya nescaya
kamu akan menang.
Dan hanya kepada
Allah hendaklah kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang
beriman.' Mereka berkata: 'Hai
Musa, kami sekali-kali
tidak memasukinya selama-lamanya
selagi mereka ada di dalamnya, kerana itu pergilah kamu bersama Tuhanmu,
dan berperanglah kamu
berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.'
Berkata Musa: 'Ya Tuhanku, aku tidak menguasai
kecuali diriku sendiri
dan saudaraku. Sebab
itu pisahkanlah antara kami
dengan orang-orang yang
fasik itu. 'Allah
berfirman: '(Jika demikian), maha
sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun,
(selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu.
Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik
itu." (QS. al-Maidah: 20-26)
Dimulailah hari-hari
kesesatan. Mereka melewati
tempat yang tertutup. Mereka memulai
dari tempat yang
mereka akhiri dan
sebaliknya. Alhasil, mereka berjalan
tanpa tujuan sepanjang
siang-malam, pagi-sore. Mereka memasuki daratan di daerah Saina'.
Nabi Musa kembali ke tempat yang beliau bertemu
di dalamnya untuk pertama kalinya
dengan kalimat- kalimat
Allah s.w.t. Bani Israil turun dari at-Thur, dan Nabi Musa mendaki
gunung sendirian. Di sana diturunkan Taurat dan Tuhannya berdialog dengannya.
Sebelum Nabi Musa naik untuk bertemu dengan Tuhannya, ia menjadikan saudaranya,
Harun, sebagai khalifahnya untuk kaumnya. Harun diangkatnya sebagai wakilnya
yang bertanggungjawab untuk mengurus
kaumnya. Dan Musa
pun pergi menuju Tuhannya.
Allah
s.w.t berfirman:
"Dan
telah Kami jadikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga
puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnakanlah waktu yang
telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya
yaitu Harun: 'Gantikanlah aku dalam
(memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan
orang-orang yang membuat kerosakan'" (QS. al-A'raf: 142)
Orang-orang
dahulu mengatakan bahawa Nabi Musa berpuasa selama tiga puluh hari
sepanjang malam dan
siang tanpa mencecah
makanan sedikit pun kemudian Nabi Musa tidak ingin untuk
berdialog kepada Tuhannya sementara mulutnya
dalam keadaan seperti
mulut orang yang
berpuasa. Lalu beliau memakan sedikit
dari tanaman bumi
dan beliau mengunyahnya.
Tuhannya berkata kepadanya: "Mengapa engkau berbuka?" Musa
menjawab: "Ya Tuhanku, aku tidak ingin
berbicara denganmu kecuali
mulutku dalam keadaan
baik baunya." Allah s.w.t
menjawab: "Tidakkah engkau
mengetahui wahai Musa bahawa mulut orang yang berpuasa di
sisi-Ku lebih baik daripada bau misik. Kembalilah engkau
berpuasa selama sepuluh
hari kemudian datanglah kepada-Ku." Nabi Musa as pun
melaksanakan perintah-Nya.
Kami tidak
mengetahui secara pasti,
mengapa Nabi Musa
berpuasa selama empat puluh
malam, bukan tiga puluh hari. Yang kita ketahui bahawa Allah s.w.t menambah
sepuluh hari yang lain. Setelah itu, turunlah Taurat; turunlah kepadanya
sepuluh wasiat:
1.
Perintah untuk hanya
menyembah kepada Allah
s.w.t dan tidak menyekutukan-Nya.
2.
Larangan untuk bersumpah bohong atas nama Allah s.w.t.
3.
Menjaga kehormatan pada hari Sabtu. Dengan pengertian, memfokuskan hari Sabtu
sebagai hari ibadah.
4.
Perintah untuk menghormati ayah dan ibu.
5.
menyedari bahawa Allah s.w.t yang dapat memberi dan membagi.
6.
Janganlah engkau membunuh.
7.
Janganlah engkau berzina.
8.
Janganlah engkau mencuri.
9.
Janganlah memberikan kesaksian yang palsu.
10. Jangan engkau merasa tertipu atau terpikat
kepada rumah temanmu atau Isterinya atau budaknya atau sapinya atau keledainya.
Para ulama
salaf mengatakan bahawa
kandungan sepuluh wasiat
ini telah terdapat dalam dua ayat
dalam Al-Quran, yaitu dalam firman-Nya:
"Katakanlah: 'Marilah
kubacakan apa yang
diharamkan atas kamu
oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah
kamu mempersekutukan sesuatu
dengan Dia, berbuat baiklah
terhadap kedua ibu
dan bapakmu, dan
janganlah kamu membunuh anak-anak
kamu kerana takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu
dan kepada mereka;
dan janganlah kamu
mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya
mahupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan
Allah (membunuhnya) melainkan dengan
sesuatu (sebab) yang benar.' Demikian itu
yang diperintahkan oleh
Tuhanmu kepadamu supaya
kamu memahaminya. Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali
dengan cara yang
lebih bermanfaat, hingga
sampai ia dewasa.
Dan sempurnakan takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan
beban kepada seseorang
melainkan dengan kesanggupannya. Dan
apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia
adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan
Allah kepadamu agar kamu ingat. " (QS. al-An'am: 151- 152)
Allah
s.w.t menceritakan kepada kita bagaimana keadaan Musa ketika ia pergi untuk
menemui janji dengan Tuhannya. Musa ketika berpuasa selama empat puluh malam
bermaksud untuk lebih mendekat kepada Tuhannya. Ketika Allah s.w.t berdialog
dengannya, maka Musa
merasakan cinta yang
semakin bergelora kepada Tuhannya. Kami tidak mengetahui perasaan apa
yang ada di hati Musa ketika
ia meminta kepada
Tuhannya agar dapat
melihatnya. Seringkali cinta yang ada di dalam manusia mendorong dirinya
untuk meminta sesuatu yang mustahil. Lalu bagaimana bayangan Anda terhadap
cinta yang berhubungan dengan cinta
kepada Allah s.w.t.
Ia adalah hakikat
cinta.
Kedalaman perasaan
Nabi Musa kepada
Tuhannya dan kecintaannya
kepada sang Pencipta, semua
ini mendorongnya untuk meminta kepada
Allah s.w.t agar dapat melihatnya.
Allah
s.w.t berfirman:
"Dan
tatkala Musa datang untuk (munajat
dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan
dan Tuhan telah
berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: 'Ya Tuhanku,
tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar
aku dapat melihat kepada Engkau.'" (QS. al- A'raf: 143)
Demikianlah dorongan
cinta dari para
pencinta sejati. Musa
bertanya dan meminta kepada
Tuhannya sesuatu yang
menakjubkan tetapi Allah
s.w.t menjawabnya:
"Tuhan
berfirman: 'Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku." (QS. al-A'raf:143)
Seandainya Allah
s.w.t hanya mengatakan
demikian maka ini
pun sebagai bentuk keadilan
dari-Nya, tetapi keadaan di sini adalah keadaan cinta Ilahi dari Musa. Dorongan
cinta yang dibalas dengan dorongan cinta. Demikianlah Nabi Musa mendapatkan
rahmat dari Tuhannya. Allah s.w.t memberitahunya bahawa ia tidak akan mampu
melihat-Nya kerana tak satu pun dari makhluk yang tidak
dapat "menangkap cahaya" dari
Allah s.w.t. Allah
s.w.t memerintahkannya agar melihat gunung, dan jika gunung itu masih
menetap di tempatnya maka ia akan dapat melihat Tuhannya.
Allah
s.w.t berfirman:
"Tetapi lihatlah
ke bukit itu,
maka jika ia
tetap di tempatnya
(sebagai sediakala) nescaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhannya
menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan
Musa pun jatuh pengsan. (QS. al-A'raf: 143)
Tiada seorang
pun yang dapat
"menangkap" cahaya Allah
s.w.t. Nabi Musa mengetahui hakikat
ini dan menyaksikan
sendiri. Ash'aq adalah
al-Maut (kematian) atau al-Ighma'
(keadaan tidak sedarkan diri atau pengsan). Kami tidak mengetahui
bagaimana keadaan yang
dialami Nabi Musa
ketika ia kehilangan kehidupannya
atau kesedarannya.
"Maka setelah
Musa sedar kembali,
dia berkata: 'Maha
Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang
yang pertama-tama beriman.'" (QS. al-A'raf: 143)
Para
mufasir klasik cukup serius meneliti dan memperbincangkan ayat- ayat ini.
Misalnya, mereka bertanya-tanya: bagaimana Nabi Musa meminta kepada Allah s.w.t
agar dapat melihat-Nya, padahal ia tahu bahawa itu adalah hal yang tidak
mungkin atau mustahil. Mereka berselisih pendapat dalam hal itu dan saling
adu argumentasi. Mu'tazilah
memiliki pendapat yang
lain dan Ahlusunah pun memiliki
pendapat yang lain lagi. Pokok pembicaraan semuanya berkisar pada: bagaimana
seorang nabi tidak mengetahui - padahal ia adalah makhluk Allah
s.w.t yang paling
dekat dengan-Nya -
bahawa melihat Allah s.w.t adalah hal yang sangat mustahil?
Kami
kira bahawa sikap Nabi Musa tersebut menggambarkan puncak cinta dan kedalaman
dari hatinya, yang ini merupakan gambaran yang tinggi dari sejarah yang dilalui
oleh Nabi Musa. Kita sekarang berada di hadapan puncak cinta kepada Allah
s.w.t. Dan seorang pencinta tidak menginginkan selain melihat "wajah"
kekasihnya. Menurut logik akal bahawa melihat Allah s.w.t adalah hal yang
mustahil, tetapi kapan cinta pernah peduli dengan logik itu. Nabi Musa
terdorong untuk mendapatkan pengalaman baru yaitu suatu pengalaman yang
kayaknya ia sengaja
melakukannya untuk mewakili
kita semua. Nabi
Musa nekad dan mendorong kita untuk meminta. Ia lebih dahulu merasakan
keadaan tidak sedarkan diri dan ia telah membuktikan kepada kita dengan
tubuhnya yang mulia dan rohnya yang suci bahawa tak seorang pun dapat
"menangkap" cahaya Allah s.w.t. Nabi Musa dalam keadaan tak sedarkan
diri lalu ketika bangun ia memuja-muja
Allah s.w.t dan
bertaubat serta meminta
ampun kepadaNya:
"Dia berkata:
'Maha Suci Engkau,
aku bertaubat kepada
Engkau.'" (QS.al-A'raf: 143)
Mengapa Nabi
Musa bertaubat? Orang-orang
sufi berkata: Ia
bertaubat dari dorongan cinta
yang besar di mana ia meminta sesuatu yang mustahil, padahal ia menyedari itu
adalah mustahil. Ini adalah tafsiran yang memuaskan yang didukung oleh
konteks ayat-ayat tersebut.
Perhatikanlah ayat-ayat
(tanda-kebesaran) Allah s.w.t dan bagaimana Dia mengingatkan Musa terhadap
apa-apa yang diterimanya dari berbagai macam nikmat. Allah s.w.t berkata kepada
Musa:
"Hai
Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di
masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku. Sebab
itu, berpegang teguhlah kepada apa yang
Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.
Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai
pelajaran dan penjelasan
bagi segala sesuatu;
maka (Kami berfirman):
'Berpeganglah kepadanya
dengan teguh dan
suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan
sebaik-baiknya.'" (QS.
al-A'raf: 144-145)
Ahli
tafsir memperhatikan firman Allah s.w.t kepada Musa: "Sesungguhnya Aku
memilih (melebihkan) kamu dari
manusia yang lain (di
masamu) untuk membawa risalah-Ku
dan untuk berbicara langsung dengan-Ku."
Kemudian dilakukanlah
perbandingan antara Nabi
Musa dan nabi-nabi
yang lain. Dikatakan bahawa
pemilihan ini dikhususkan
hanya kepadanya dan di
zamannya saja, dan
tidak berlaku di
zaman sebelumnya kerana
ada Nabi Ibrahim di zaman itu,
sedangkan Nabi Ibrahim lebih baik dari Nabi Musa. Begitu juga pemilihan
ini tidak berlaku
pada zaman setelahnya
kerana ada Nabi Muhammad bin Abdullah saw dan ia lebih
baik dari mereka berdua.
Kami
ingin menghindari perdebatan ini, bukan kerana kami percaya bahawa semua nabi
sama. Memang Allah
s.w.t memberitahu kita
bahawa Dia mengutamakan sebahagian
nabi atau sebahagian
yang lain dan
mengangkat darjat sebahagian mereka atau sebahagian yang lain, tetapi
pengutamaan ini adalah hal yang
tidak boleh kita
sentuh. Hendaklah kita
beriman kepada seluruh nabi dan
kita harus menunjukkan penghormatan kita kepada mereka semua. Adalah
bukan hal yang
sopan jika kita
mencuba membanding-bandingkan di antara para nabi. Yang utama adalah,
hendaklah kita meyakini dan mengimani mereka semua. Akhirnya, selesailah
perjumpaan Musa dengan Tuhannya. Kemudian Nabi Musa kembali kepada kaumnya
dalam keadaan marah dan jengkel. Di alam wujud tidak ada seorang manusia yang
memiliki kelembutan dan kerelaan hati yang begitu besar seperti Nabi Musa,
tetapi ia diberitahu oleh Tuhannya bahawa kaumnya telah menyimpang dari
jalannya. Oleh kerana
itu, ia kembali
dalam keadaan marah
dan jengkel kepada mereka. Allah
s.w.t berfirman:
"Mengapa
kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa? Berkata Musa: 'Itulah mereka
sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepada-Mu, ya Tuhanku, agar supaya
Engkau redha (kepadaku). Allah berfirman: 'Maka sesungguhnya, Kami telah menguji
kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka
telah disesatkan oleh
Samiri. Kemudian Musa
kembali kepada kaumnya dengan
marah dan bersedih hati. " (QS. Thaha: 83-86)
Musa turun
dari gunung dan membawa
papan Taurat. Rasa-rasanya
hatinya mendidih dan jengkel.
Kita dapat membayangkan
bagaimana emosi yang membakar
Nabi Musa saat
ia mengayunkan langkahnya
menuju kaumnya.
Betapa tidak,
belum lama Nabi
Musa meninggalkan kaumnya
dan menemui Tuhannya, mereka
mendapatkan fitnah melalui
Samiri. Fitnah ini
adalah, bahawa Bani Israil -
ketika keluar dari Mesir - membawa
banyak dari harta perhiasan orang-orang
Mesir dan emas-emas mereka. Mereka
mengambilnya untuk mereka memanfaatkan dalam pesta perayaan mereka. Kemudian
mereka selamat kerana mukjizat pembelahan lautan di mana lautan menenggelamkan
Fir'aun dan tenteranya sehingga harta mereka yang berupa emas dimiliki oleh
Bani Israil.
Harun mengetahui
bahawa emas tersebut
bukan milik mereka
lalu Harun memintanya dari
mereka dan menimbunnya
di tanah. Bani
Israil tidak memerlukannya kerana
saat ini mereka sedang tersesat. Mereka berjalan di tengah-tengah gurun
sehingga tidak bermanfaat bagi mereka emas- emas itu. Harun, saudara kandung
Musa, menggali tanah dan meletakkan emas-emas itu lalu menimbunkan di atasnya
tanah. Samiri melihat apa yang dilakukan oleh Harun. Setelah itu, dia
mengeluarkannya dan membuat sebuah patung sapi yang menyerupai
sapi Ibis sesembahan
orang-orang Mesir. Samiri
adalah seorang pemahat yang mahir. Dia mampu membuat anak sapi yang
menarik di mana ketika dia meletakkannya di arah angin maka akan masuk darinya
udara dari celah bahagian belakangnya lalu keluar dari hidungnya. Samiri
membuat suara yang menyerupai suara sapi yang sebenamya.
Konon, rahsia
kehebatan sapi ini
adalah kerana Samiri
telah mengambil segenggam tanah
yang dilalui Jibril ketika ia turun ke bumi dalam peristiwa mukjizat pembelahan
laut. Yakni Samiri melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh kaum Nabi Musa.
Kemudian dia mengambil segenggam tanah dari bekas yang dilalui seorang
utusan (Jibril) dan meletakkannya
bersama emas. Samiri membuat darinya anak sapi. Jibril as
tidak berjalan di atas sesuatu kecuali sesuatu itu menjadi hidup. Ketika Samiri
menambahkan tanah itu ke emas lalu membuat darinya anak sapi maka anak sapi itu
dapat bersuara seperti anak sapi
yang sebenarnya. Demikianlah
kisah Samiri. Kita
mengetahui sekarang
bahawa
jika tanah ditambahkan ke emas dan melebur maka tanah itu akan terpisah dari
emas dan akan
meninggalkan bekas (lubang) di
tempat terpisahnya itu. Diduga kuat bahawa Samiri menggunakan tanah itu
seperti tanah yang lain dalam usaha untuk mengeringkan bahagian dalam dari anak
sapi di mana patung itu berubah menjadi patung yang mempunyai suara.
Setelah itu,
Samiri keluar menemui
Bani Israil dengan
membawa apa yang dibuatnya. Mereka bertanya kepadanya:
"Apa ini, hai Samiri?" Ia menjawab: "Ini adalah tuhan kalian dan
tuhan Musa." Mereka berkata: "Bukankah Musa sedang menemui Tuhannya?" Samiri
menjawab: "Musa telah
lupa ia pergi
untuk menemui tuhannya di
sana, padahal sebenarnya
tuhannya ada di
sini." Akhirnya, Bani Israil menyembah anak sapi ini.
Barangkali
pembaca akan merasa hairan terhadap fitnah ini. Bagaimana akal kaum itu dapat
tunduk sampai pada keadaan seperti ini? Bukankah mereka telah menyaksikan
mukjizat yang besar?
Bagaimana mereka dengan
mudah menyembah berhala? Kebingungan
tersebut segera hilang
ketika kita lihat keadaan kejiwaan kaum yang menyembah
anak sapi itu. Mereka telah terdidik di Mesir pada saat mereka menyembah
berhala dan sangat mengkultuskan anak sapi Ibis. Mereka terdidik di bawah
kehinaan dan perbudakan sehingga jiwa mereka
menjadi ternoda dan
fitrah mereka menjadi
tercemar. Mereka menyaksikan mukjizat-mukjizat dari
Allah s.w.t tetapi
mukjizat itu berbenturan dengan
jiwa-jiwa yang putus
asa. Mukjizat ini
tidak mampu memuaskan mereka
untuk mempercayai kebenaran.
Mereka masih saja dihinggapi keinginan
untuk menyembah berhala.
Mereka adalah para penyembah berhala seperti tokoh-tokoh
Mesir yang dahulu. Oleh kerana itu, mereka menyembah anak sapi. Sikap mereka
ini tidak terlalu mengagetkan kita. Sebab, setelah mereka menyaksikan mukjizat
pembelahan lautan, mereka melihat suatu kaum yang menyembah berhala, lalu
mereka minta kepada Nabi Musa agar menjadikan
tuhan bagi mereka
seperti kaum yang
menyembah berhala itu.
Jadi, masalahnya
adalah masalah klasik.
Pada hakikatnya, hasrat
untuk menyembah berhala bererti
menyembah berhala itu
sendiri. Apa yang dilakukan Samiri adalah, ia memanfaatkan
kerinduan kaum untuk menyembah berhala.
Kemudian Samiri memilih
agar anak sapi
yang diciptakannya berbentuk emas
kerana ia mengetahui
bahawa umumnya Bani
Israil lemah (mudah terpedaya)
pada emas. Akhirnya, fitnah yang ditimbulkan oleh Samiri tersebar di
sana sini. Harun
sangat terpukul ketika
mengetahui Bani Israil menyembah anak
sapi dari emas.
Mereka terbagi menjadi
dua kelompok: minoriti dari
mereka beriman dan mengetahui bahawa ini adalah tipu daya dan kebohongan
semata, sedangkan majoriti mereka mengingkari Harun dan tetap melampiaskan
kerinduan mereka untuk menyembah berhala. Harun berdiri di tengah- tengah
kaumnya dan mulai
menasihati mereka. Ia
berkata kepada mereka:
"Sesungguhnya kalian tertipu dengannya. Ini adalah fitnah (godaan). Samiri
telah memanfaatkan kebodohan kalian dengan menciptakan anak sapi itu. Lembu itu
bukan tuhan kalian dan bukan juga tuhan Musa:
"Sesungguhnya
Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah ahu dan taatilah
perintahku." (QS. Thaha: 90)
Para penyembah
anak sapi menolak
nasihat Harun. Kelompok
orang- orang yang bodoh
itu tidak mahu
lagi menerima nasihat.
Harun kembali memperingatkan
mereka dan menceritakan kembali kepada mereka bagaimana mukjizat-mukjizat Allah
s.w.t dapat menyelamatkan mereka, dan bagaimana Allah s.w.t memuliakan dan
menjaga mereka. Tetapi mereka menutup telinga dan menolak segala nasihatnya.
Mereka justru melemahkan posisi Harun dan nyaris saja membunuhnya. Adalah jelas
bahawa Harun lebih lemah daripada Musa, sehingga para kaum tidak takut lagi. Harun
khuatir jika ia menggunakan kekuatan
dan menghancurkan berhala-berhala yang
mereka sembah, maka akan terjadi fitnah di tengah-tengah
kaum dan akan tercipta perang saudara. Akhirnya, Harun
memilih untuk menunda
hal itu sampai
kedatangan Musa.
Harun mengetahui
bahawa Musa seorang yang kuat yang mampu
mengatasi fitnah ini tanpa harus menumpahkan darah. Sementara itu, Bani
Israil terus menari di sekitar anak sapi. Samiri - mudah-mudahan Allah s.w.t
melaknatnya -adalah penyebab fitnah
ini, dan ia
menari-nari serta berputar-putar di sekeliling berhala.
Al-Qurthubi dalam
tafsirnya pada juz
kesebelas menyebutkan fitnah
yang timbulkan oleh Samiri.
Qurthubi berkata: "Imam
Abu Bakar at-Thurthusi ditanya: "Apa yang dikatakan
oleh pemimpin kita al-Faqih tentang kelompok lelaki yang
memperbanyak zikrullah dan
menyebut Muhammad saw. Sebahagian mereka
menari-nari sehingga pengsan.
Mereka menghadirkan sesuatu dan
memakannya. Apakah hadir bersama mereka boleh atau tidak?
Berilah kami
fatwa, mudah-mudahan engkau
diberi pahala." Qurthubi menjawab
pertanyaan ini dengan menukil penjelasan gurunya: "Mazhab sufi (yang beliau
maksudkan adalah orang-orang
yang menari-nari yang dipraktikkan oleh
sebahagian aliran sufi
untuk mengekspresikan zikir) berdasarkan kebodohan dan kesesatan
serta sesuatu yang sia-sia. Islam hanya berdasarkan
Kitab Allah s.w.t dan sunah Rasul-Nya. Praktik tari-tarian seperti itu
adalah sesuatu yang pertama kali diciptakan oleh pengikut-pengikut Samiri
ketika mereka menjadikan
anak sapi sebagai
tuhan mereka. Mereka menari-nari di sekitarnya dan
berkumpul di situ. Itu adalah agama kekufuran dan penyembahan terhadap anak
sapi."
Nabi
saw duduk bersama sahabatnya dan seakan-akan di atas kepala mereka terdapat
burung, kerana saking hormatnya mereka terhadap beliau. Hendaklah penguasa dan
wakilnya mencegah orang-orang itu untuk hadir di masjid dan selainnya. Dan tidak diperkenankan bagi seorang pun yang beriman
kepada Allah s.w.t dan
hari kemudian untuk
hadir bersama orang-orang
itu atau membantu kebatilan
mereka. Ini adalah pendapat mazhab Malik, Abu Hanifah, Syafi'i, Ahmad bin
Hambal, dan lain-lain dari para imam kaum Muslim.
Demikianlah
pernyataan al-Qurthubi berkaitan dengan masalah tersebut. Anda dapat
membayangkan sejauh mana kecemerlangan fikirannya dan sejauh mana ketakwaannya.
Selanjutnya, kita kembali kepada kisah Nabi Musa. Nabi Musa turun dari gunung
untuk kembali menemui kaumnya. Kemudian ia mendengar teriakan kaum saat mereka
menari-nari di sekitar anak sapi. Kaum itu berhenti ketika melihat Nabi Musa
muncul di depan mereka. Dan tiba-tiba keheningan menyelimuti mereka. Nabi Musa
berteriak dan berkata:
"Dan
tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati, berkatalah
dia: 'Alangkah buruknya
perbuatan yang kamu
kerjakan sesudah kepergianku!'" (QS. al-A'raf: 150)
Musa berjalan
menuju ke Harun,
lalu ia meletakkan
papan Taurat dengan tangannya di atas tanah. Tampaknya api
kemarahan telah membakamya. Musa memegang
Harun dari rambut
kepalanya sampai rambut
janggutnya sambil berkata:
"Hai
Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat,
(sehingga) kamu tidak
mengikuti aku? Maka
apakah kamu telah (sengaja) menderhakai perintahku?"
(QS. Thaha: 92-93)
Musa bertanya,
"Apakah Harun tidak
mentaati perintahnya, bagaimana
ia mendiamkan fitnah ini;
bagaimana ia tetap
bersama mereka dan
tidak meninggalkan mereka serta berlepas diri dari perbuatan mereka;
bagaimana ia tetap diam dan tidak berusaha melawan mereka, bukankah orang yang
diam atau membiarkan suatu kesalahan itu bertanda bahawa ia merestuinya atau
bahagian dari kesalahan itu?" Keheningan semakin meningkat ketika gelora
api kemarahan Musa semakin
membara. Harun berbicara
kepada Musa dan meminta
kepadanya untuk melepaskan
kepalanya dan janggutnya
kerana mereka berdua berasal
dari ibu yang
satu. Harun mengingatkan
Musa akan kedekatan hubungannya
melalui ibu, bukan melalui ayah agar hal itu lebih dapat
membuat Musa merasa kasihan kepadanya:
"Harun
menjawab: 'Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula)
kepalaku.'" (QS. Thaha: 94)
Harun memberi
pengertian kepada Musa
bahawa ia sama
sekali tidak bermaksud menentang
perintahnya, dan ia
pun tidak menunjukkan
sikap merestui penyembahan anak
sapi, tetapi ia
khuatir jika ia
meninggalkan mereka dan pergi
lalu Musa bertanya
kepadanya, mengapa ia
tidak tetap tinggal bersama
mereka? Mengapa seorang
yang bertanggungjawab kepada mereka justru meninggalkan mereka? Di
samping itu, ia juga khuatir jika ia memerangi
mereka dengan kekerasan
maka terjadi peperangan
di antara mereka. Lalu
Musa akan bertanya
kepadanya, mengapa ia
membikin perpecahan di antara
mereka dan mengapa
ia tidak menunggu
kembalinya Musa
NABI
MUSA a.s. DENGAN 'AUJ BIN UNUQ
'Auj bin Unuq adalah manusia yang berumur sehingga 4,500 tahun. Tinggi tubuh badannya di waktu berdiri adalah seperti ketinggian air yang dapat menenggelamkan negeri pada zaman Nabi Nuh a.s. Ketinggian air tersebut tidak dapat melebihi lututnya. Ada yang mengatakan bahawa dia tinggal di gunung. Apabila dia merasa lapar, dia akan menghulurkan tangannya ke dasar laut untuk menangkap ikan kemudian memanggangnya dengan panas matahari. Apabila dia marah atas sesebuah negeri, maka dia akan mengencingi negeri tersebut hinggalah penduduk negeri itu tenggelam di dalam air kencingnya.
Apabila
Nabi Musa bersama kaumnya tersesat di kebun teh, maka 'Auj bermaksud untuk
membinasakan Nabi Musa
bersama kaumnya itu.
Kemudian 'Auj datang
untuk memeriksa tempat kediaman askar Nabi Musa a.s., maka dia mendapati
beberapa tempat kediaman askar Nabi Musa itu tidak jauh dari tempatnya.
Kemudian dia mencabut gunung-gunung yang ada di sekitarnya dan diletakkan di
atas kepalanya supaya mudah untuk dicampakkan kepada askar-askar Nabi Musa a.s.
Sebelum
sempat 'Auj mencampakkan gunung-gunung yang dijunjung di atas kepalanya kepada
askar-askar Nabi Musa a.s, Allah telah mengutuskan burung hud-hud dengan
membawa batu berlian dan meletakkannya di atas gunung yang dijunjung oleh 'Auj.
Dengan kekuasaan Allah, berlian tersebut menembusi gunung yang dijunjung oleh
'Auj sehinggalah sampai ke
tengkuknya. 'Auj tidak
sanggup menghilangkan berlian
itu, akhirnya 'Auj binasa disebabkan batu berlian itu.
Dikatakan
bahawa ketinggian Nabi Musa a.s adalah empat puluh hasta dan panjang
tongkatnya juga empat
puluh hasta dan
memukulkan tongkatnya kepada
'Auj tepat mengenai mata dan
kakinya. Ketika itu jatuhlah 'Auj dengan kehendak Allah S.W.T dan akhirnya
tidak dapat lari daripada kematian sekalipun badannya tinggi serta memiliki
kekuatan yang hebat.
NABI
MUSA a.s. BERMUNAJAT DENGAN ALLAH
Menurut riwayat
sementara ahli tafsir,
bahawasanya tatkala Nabi
Musa berada di Mesir, ia telah berjanji kepada kaumnya
akan memberi mereka sebuah kitab suci yang dapat
digunakan sebagai pedoman hidup yang akan memberi bimbingan dan sebagai
tuntunan bagaimana cara mereka bergaul dan bermuamalah dengan sesama manusia
dan bagaimana mereka harus melakukan persembahan dan ibadah mereka kepada
Allah. Di dalam kitab suci itu mereka akan dapat petunjuk akan hal-hal yang
halal dan haram, perbuatan yang baik yang diredhai oleh Allah di samping
perbuatan-perbuatan yang mungkar yang dapat mengakibatkan dosa dan murkanya
Tuhan.
Maka setelah
perjuangan menghadapi Fir'aun
dan kaumnya yang
telah tenggelam binasa di laut,
selesai, Nabi Musa memohon kepada Allah agar diberinya sebuah kitab suci untuk
menjadi pedoman dakwah
dan risalahnya kepada
kaumnya. Lalu Allah memerintahkan kepadanya agar untuk itu
ia berpuasa selama tiga puluh hari penuh, iaitu
semasa bulan Zulkaedah. Kemudian pergi ke Bukit Thur Sina di mana ia akan
diberi kesempatan bermunajat dengan Tuhan serta menerima kitab penuntun yang
diminta.
Setelah
berpuasa selama tiga puluh hari penuh dan tiba saat ia harus menghadap kepada
Allah di atas bukit Thur Sina Nabi Musa merasa segan akan bermunajat dengan
Tuhannya dalam keadaan mulutnya berbau kurang sedap akibat puasanya. Maka ia
menggosokkan giginya dan mengunyah daun-daunan dalam usahanya menghilangkan bau
mulutnya. Ia ditegur oleh malaikat yang datang kepadanya atas perintah Allah.
Berkatalah malaikat itu
kepadanya: "Hai Musa,
mengapakah engkau harus menggosokkan gigimu
untuk menghilangkan bau
mulutmu yang menurut anggapanmu kurang
sedap, padahal bau
mulutmu dan mulut
orang-orang yang berpuasa bagi
kami adalah lebih sedap dan lebih wangi dari baunya kasturi. Maka akibat tindakanmu
itu, Allah memerintahkan
kepadamu berpuasa lagi
selama sepuluh hari sehingga menjadi lengkaplah masa puasamu sepanjang
empat puluh hari."
Nabi
Musa mengajak tujuh puluh orang yang telah dipilih di antara pengikutnya untuk
menyertainya ke bukit
Thur Sina dan
mengangkat Nabi Harun
sebagai wakilnya mengurus serta
memimpin kaum yang ditinggalkan selama kepergiannya ke tempat bermunajat itu.
Pada saat yang telah ditentukan tibalah Nabi Musa seorang diri di bukit Thur
Sina mendahului tujuh puluh orang yang diajaknya turut serta. Dan ketika ia
ditanya oleh Allah: "Mengapa engkau datang seorang diri mendahului kaummu,
hai Musa?" Ia menjawab:
"Mereka sedang menyusul
di belakangku, wahai
Tuhanku. Aku cepat-cepat datang
lebih dahulu untuk mencapai redha-Mu."
Berkatalah
Musa dalam munajatnya dengan Allah: "Wahai Tuhanku, nampakkanlah zat-Mu
kepadaku, agar aku dapat melihat-Mu"
Allah
berfirman: "Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku, tetapi cubalah lihat
bukit itu, jika ia tetap berdiri tegak di tempatnya sebagaimana sedia kala,
maka nescaya engkau akan dapat
melihat-Ku." Lalu menolehlah
Nabi Musa mengarahkan pandangannya kejurusan
bukit yang dimaksudkan
itu yang seketika
itu juga dilihatnya hancur luluh
masuk ke dalam perut bumi tanpa menghilangkan bekas. Maka terperanjatlah Nabi
Musa, gementarlah seluruh tubuhnya dan jatuh pengsan. Setelah ia sedar kembali
dari pengsannya, bertasbih dan bertahmidlah ia seraya memohon ampun
kepada Allah atas
kelancangannya itu dan
berkata: "Maha Besarlah
Engkau wahai Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku dan aku akan menjadi
orang yang pertama beriman kepada-Mu."
Dalam
kesempatan bermunajat itu, Allah menerimakan kepada Nabi Musa kitab suci
"Taurat" berupa kepingan-kepingan batu-batu atau kepingan kayu
menurut sementara
ahli tafsir
yang di dalamnya
tertulis segala sesuatu
secara terperinci dan
jelas mengenai pedoman hidup dan penuntun kepada jalan yang diredhai
oleh Allah.
Allah
mengiring pemberian "Taurat" kepada Musa dengan firman-Nya:
"Wahai Musa, sesungguhnya Aku telah memilih engkau lebih dari
manusia-manusia yang lain di masamu, untuk membawa risalah-Ku dan menyampaikan
kepada hamba-hamba-Ku. Aku telah memberikan
kepadamu keistimewaan dengan
dapat bercakap-cakap langsung dengan
Aku, maka bersyukurlah
atas segala kurnia-Ku
kepadamu dan berpegang teguhlah
pada apa yang Aku tuturkan kepadamu. Dalam kitab yang Aku berikan kepadamu
terhimpun tuntunan dan pengajaran yang akan membawa Bani Isra'il ke jalan yang
benar, ke jalan yang akan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat bagi
mereka. Anjurkanlah kaummu
Bani Isra'il agar
mematuhi perintah-perintah- Ku jika
mereka tidak ingin
Aku tempatkan mereka
di tempat-tempat orang- orang yang fasiq."
Bacalah
tentang kisah munajat Nabi Musa ini, surah "Thaha" ayat 83 dan 84 dan
surah "Al-a'raaf" ayat 142 sehingga ayat 145 sebagaimana berikut :~
"83~
Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?" 84~ Berkata
Musa: "Itulah mereka
sedang menyusuli aku
dan aku bersegera
kepadamu ya Tuhanku, agar supaya
Engkau redha kepadaku." { Thaha : 83 ~ 84 }
"142~
Dan Kami telah janjikan kepada Musa {memberikan Taurat} sesudah berlalu waktu
tiga puluh malam dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh {malam
lagi}, maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam.
Dan berkata Musa kepada saudaranya, iaitu Harun: "Gantilah aku dalam {memimpin} kaumku dan perbaikilah dan
janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang
yang membuat kerosakan". 143~
Dan tatkala Musa
datang untuk {munajat} dengan
{Kami} pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman {langsung}
kepadanya, berkatalah Musa:
"Ya Tuhanku nampakkanlah {Zat Engkau} kepadaku agar aku
dapat melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman: "Kamu sesekali tidak
sanggup melihat-Ku, tetapi melihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di
tempatnya {sebagai sediakala} nescaya kamu dapat melihat-Ku." Tatkala
Tuhannya nampak bagi gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur
luluh dan Musa pun jatuh pengsan. Maka setelah Musa sedar kembali, dia berkata:
"Maha Suci Engkau,
aku bertaubat kepada-Mu
dan aku orang
yang pertama beriman." 144~
Allah berfirman: "Hai Musa sesungguhnya Aku memilih kamu lebih dari manusia
yang lain {di masamu}
untuk membawa risalah-Ku
dan untuk berbicara langsung
dengan-Ku sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan
hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur." 145~ Dan Kami telah
tuliskan untuk Musa luluh {Taurat}
segala sesuatu sebagai pengajaran bagi sesuatu. Maka Kami berfirman:
"Berpeganglah kepadanya dengan teguh
dan suruhlah kaummu
berpegang kepada
{perintah-perintahnya} yang
sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri
orang- orang yang fasiq." {
Al-A'raaf: 142 ~ 145 }
JANGGUT
NABI HARUN a.s. BERWARNA DUA
Nabi Musa
Alaihisalam telah diperintahkan
oleh Allah Subhanahu
Wataala supaya pergi ke bukit Sina untuk menerima wahyu. Semasa
pemergian Nabi Musa, segala urusan
telah diserahkan kepada
saudaranya Nabi Harun
a.s. Pemergian Nabi Musa mengambil masa selama 40 hari dan 40 malam.
Ketiadaan
Nabi Musa a.s telah mengembirakan seorang musuh dalam selimut bernama Samiri.
Dia telah memunafaat masa ini untuk menyesatkan kaum Nabi
Musa
yang selama ini telah bersusah payah membentuk dan memberi keimanan kepada
mereka. Sewaktu Nabi Musa menyeberangi Laut Merah setelah pulang dari Mesir,
kaki kuda yang ditunggangi oleh Nabi Musa telah tenggelam dalam pasir di tengah
lautan yang kering itu. Dengan segala usaha yang dilakukan oleh Nabi
Musa, kuda yang
ditungganginya tetap tidak
mahu meneruskan perjalanan untuk
menyeberangi Laut Merah.
Kerana
itu Allah telah mengutuskan malaikat Jibrail dengan menunggang kuda betina.
Melihat lawan sejenisnya kuda yang ditunggangi oleh Nabi Musa telah mengejar
kuda yang ditunggangi oleh Malaikat Jibrail. Samiri yang ikut serta dalam
rombongan tersebut telah mengambil segenggam pasir bekas tapak kaki kuda yang
ditunggangi oleh Jibrail dan disimpannya untuk dijadikan azimat.
Apabila
tiba masa yang sesuai iaitu semasa Nabi Musa bersunyi di Bukit Sina,
Samiri membuat patung
seekor lembu daripada
emas murni. Setelah
siap, patung itu diisinya
dengan pasir yang di ambil dari
bekas tapak kaki
kuda Jibrail. Dalam waktu
yang singkat sahaja
patung lembu tersebut
dapat mengeluarkan suara. Melihat
keadaan tersebut, umat
Nabi Musa datang berduyun-duyun kepada Samiri. Samiri
memimpin mereka menyembah patung lembu yang menakjubkan itu.
Nabi
Harun sangat marah setelah melihat umatnya menyembah berhala, lalu
berusaha mencegah umatnya
daripada terus syirik
kepada Allah bahkan umatnya mengancam Nabi Harun untuk
membunuhnya jika Nabi Harun terus melarang mereka menyembah patung lembu
tersebut. Nabi Harun tidak dapat berbuat apa-apa untuk melarang mereka daripada
terus menyembah patung tersebut. Setelah kembali daripada Bukit Sina, Nabi Musa
sangat marah kerana melihat umatnya telah murtad.
Nabi
Harun telah di persalahkan dalam hal ini. Dalam keadaan marah yang tidak dapat
dikawal Nabi Musa telah menarik janggut Nabi Harun menyebabkan janggut yang
dipegang oleh Nabi Musa telah bertukar menjadi putih manakala janggut yang
tidak terkena tangan Nabi Musa kekal berwarna hitam. Sejak itu janggut Nabi
Harun mempunyai dua warna iaitu putih dan hitam.
No comments:
Post a Comment