Tuesday, June 10, 2014

KISAH NABI MUSA DAN NABI HARUN A.S

Yakub  atau  Israil  tinggal  di  Mesir  sejak  ia  datang  untuk  bertemu  dengan anaknya, Yusuf. Ketika beliau wafat mereka menguburnya di tempat di mana ia dilahirkan di Palestina. Anak-anak Israil lebih memilih untuk hidup di Mesir di sisi Yusuf. Keadaan Mesir, kebaikannya yang banyak, kelayakan tanahnya, dan keharmonisan iklimnya merupakan daya tarik tersendiri bagi mereka untuk tinggal  di  dalamnya.  Anak-anak  Israil  tinggal  di  Mesir  dalam  tempo  yang lumayan.  Mereka  menikah  sehingga  jumlah  mereka  bertambah  banyak. Berlalulah tahun demi tahun dan kemudian Nabi Yusuf meninggal. Nabi Yusuf telah mengubah Islam saat beliau memegang tampuk kekuasaan. Nabi Yusuf memperjuangkan  Islam  dan  setiap  nabi  yang  diutus  oleh  Allah  s.w.t  pasti memperjuangkan  agama  Islam sejak Nabi Adam as sampai  Nabi Muhammad saw.  Pengertian  Islam  di  sini  ialah,  mengesakan  Allah  s.w.t  dan  hanya semata-mata menyembah-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan berdoa kepada-   Nya.   Islam   juga   bererti   menyerahkan   niat   dan   amal   hanya semata-mata kepada Allah s.w.t. Demikianlah yang kita fahami atau yang kita maksud dari kata al-Islam, bukan sistem sosial yang dibawa oleh Nabi yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Sistem ini merupakan kepanjangan dari sistem-sistem sosial yang dibawa para nabi. Jadi, esensi akidah satu dan tidak berbeza dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad saw.

Ketika Nabi Yusuf menjadi penguasa di Mesir dan ketua para menteri agama di Mesir  berubah  menjadi  agama  tauhid  atau  Islam.  Nabi  Yusuf  as  menyeru manusia untuk memeluk Islam saat beliau ada di dalam penjara ketika beliau mengatakan:

"Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa (QS.Yusuf: 39)
  
Dan beliau berdoa pada suatu hari ketika mimpinya terwujud:

"Wafatkanlah  aku  dalam  keadaan  Islam  dan  gabungkanlah  aku  dengan orang-orang yang soleh. " (QS. Yusuf: 101)

Dan  ketika  Nabi  Yusuf meninggal,  Mesir  mengubah  sistem  tauhid ke  sistem multi  tuhan  untuk  kedua  kalinya.  Menurut  dugaan  kuat  bahawa  hal  ini terwujud  dengan  adanya  campur  tangan  kelompok-kelompok  elit  yang berkuasa. Kelompok-kelompok elit ini - ketika di bawah agama tauhid - mereka tidak  mendapatkan  suatu  perlakukan  istimewa  atau  dibezakan  dengan masyarakat umum, sehingga kerananya mereka mempunyai kepentingan untuk mengembalikan  sistem  penyembahan  multi  tuhan.  Kemudian  masyarakat mengikuti   sistem   penyembahan   Fir'aun.   Dan   akhirnya,   Mesir   dipimpin keluarga-keluarga Fir'aun dan mereka mengklaim bahawa mereka adalah tuhan atau wakil-wakil tuhan atau orang-orang yang berbicara atas nama tuhan.

Pada  dasarnya,  masyarakat  Mesir  adalah  masyarakat  yang  beradab.  Mereka disibukkan dengan pembangunan peradaban. Mereka memiliki kecenderungan keagamaan yang kuat. Dan barangkali kelompok- kelompok dari masyarakat Mesir meyakini bahawa Fir'aun bukan tuhan namun kerana mereka mendapat tantangan keras dari Fir'aun dan Fir'aun tidak ingin dari kaumnya kecuali agar mereka   mentaatinya   sehingga   mereka   pun   terpaksa   menyembunyikan keimanan dalam diri mereka. Jadi, tuhan-tuhan berhala banyak sekali di Mesir. Hal yang bisa difahami adalah, bahawa Fir'aun menguasai semua macam tuhan dan ia mengisyaratkan dengannya dan berbicara atas namanya. Yang demikian ini adalah sangat jelas di Mesir. Ketika terdapat sistem multi tuhan di Mesir -meskipun masyarakatnya meyakini tuhan utama, yaitu Fir'aun - kelompok elit
yang berkuasa membatasi untuk hanya menyembah Fir'aun dan melaksanakan perintah-perintahnya  serta  membenarkan  tindakan  semena-menanya.  Kita akan mengetahui  dan kita akan membuka lembaran-lembaran Nabi Musa as bagaimana masyarakat Mesir hidup di zamannya. Majoriti masyarakat saat itu mendapatkan kehinaan yang luar biasa dan diperlakukan secara lalim. Mereka harus   taat   sepenuhnya   kepada   Fir'aun.   Mereka   selalu   diancam   oleh algojo-algojo Fir'aun dan para tenteranya.

Allah  s.w.t  menceritakan  Fir'aun  yang  hidup  di  zaman  Nabi  Musa  dalam firman-Nya:

"Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya  (seraya  berkata):  'Akulah  Tuhanmu  yang  paling  tinggi.'" (QS.an-Nazi'at: 23-24)

Manusia saat itu benar-benar tunduk terhadap pernyataan orang-orang kafir. Mereka mentaati  - barangkali itu kerana terpaksa  - perkataan Fir'aun. Mesir kembali  menggunakan  sistem  multi  tuhan  setelah  sebelumnya  disinari  oleh tauhid yang disuarakan oleh Nabi Yusuf. Sementara itu, anak-anak Yakub atau anak-anak  Israil  mereka  telah  menyimpang  dari  tauhid.  Mereka  mengikuti orang-orang   Mesir.   Sedikit   sekali   dari   keluarga   mereka   yang   masih mempertahankan agama tauhid secara tersembunyi.

Datanglah suatu masa atas Bani Israil di mana mereka semakin banyak dan semakin  menyebar.  Mereka  mengerjakan  berbagai  macam  pekerjaan,  dan mereka  memenuhi  pasar-pasar  Mesir.  Berlalulah  hari  demi  hari.  Mesir diperintah  oleh  seorang  raja  yang  bengis  di  mana  orang-orang  Mesir menyembahnya. Raja yang jahat ini melihat Bani Israil semakin banyak dan semakin berkembang serta mengambil posisi-posisi penting. Raja mendengar pembicaraan Bani Israil tentang berita yang samar di mana dalam berita itu dikatakan  bahawa  salah  seorang  anak  Bani  Israil  akan  menjatuhkan  Fir'aun Mesir dari singgahsananya. Barangkali berita itu berasal dari suatu mimpi dari mimpi-mimpi hidup atau mimpi nyata yang mengelilingi hati kelompok minoriti yang  tertindas,  dan  mungkin  itu  merupakan  berita  gembira  yang  tersebut dalam kitab-kitab mereka. Apa pun halnya, berita ini telah sampai di telinga Fir'aun.

Kemudian  Fir'aun  mengeluarkan  perintah  yang  aneh,  yaitu  jangan  sampai seorang pun dari Bani Israil yang melahirkan anak. Maksud dari perintah ini adalah, hendaklah setiap anak yang lahir dari jenis laki-laki dibunuh. Aturan ini mulai   diterapkan.   Tapi   para   pakar   ekonomi   berkata   kepada   Fir'aun: Orang-orang  tua  dari  Bani  Israil  akan  mati  sesuai  dengan  ajal  mereka, sedangkan  anak-anak  kecilnya  disembelih  maka  ini  akan  berakhir  pada hancurnya dan binasanya Bani Israil namun Fir'aun akan kehilangan kekayaan dan aset manusia yang dapat bekerja untuknya atau menjadi budak-budaknya dan  wanita-wanita  tidak  dapat  lagi  dimilikinya.  Maka  yang  terbaik  adalah, hendaklah dilakukan suatu proses sebagai berikut: Anak laki-laki disembelih pada  tahun  yang  pertama  dan  hendaklah  mereka  dibiarkan  pada  tahun berikutnya. Fir'aun sependapat dengan fikiran ini kerana itu dianggap lebih menguntungkan dari sisi ekonomi.

Ibu Musa mengandung Harun pada tahun di mana anak-anak kecil tidak dibunuh maka  ia  melahirkannya  secara  terang-terangan.  Ketika  datang  tahun  yang ditetapkan di dalamnya bahawa anak-anak kecil harus dibunuh, ia melahirkan Musa. Saat melahirkan Musa, sang ibu merasakan ketakutan yang luar biasa. la mencemaskan  bahawa  jangan-jangan  anaknya  akan  dibunuh.  Maka  si  ibu menyusuinya secara sembunyi- sembunyi. Kemudian  datanglah  suatu  malam yang penuh berkah di mana Allah s.w.t mewahyukan kepadanya:

"Dam  Kami  ilhamkan  kepada  ibu  Musa:  'Susuilah  dia  dan  apabila  khuatir terhadapnya maka jatuh kalah ia ke dalam sungai  (Nil). Dan janganlah kamu khuatir dan janganlah  (pula) bersedih hati, kerana sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya  (salah seorang) dari para rasul.'" (QS. al-Qashash: 7)

Mendengar wahyu Allah s.w.t itu dan mendengar panggilan yang penuh kasih sayang dan suci ini, ibu Musa langsung mentaatinya. Ia diperintahkan untuk membuat peti kecil bagi Musa. Setelah menyusuinya, ia meletakkannya di peti itu. Kemudian ia pergi ke tepi sungai Nil dan membuangnya di atas air. Hati sang  ibu  adalah  hati  yang  paling  pengasih  di  dunia.  Hatinya  dipenuhi penderitaan saat ia melemparkan anaknya di sungai Nil, tetapi ia menyedari bahawa Allah s.w.t lebih Pengasih terhadap Musa dibandingkan dengan dirinya. Allah s.w.t lebih mencintainya dibandingkan dengan dirinya. Allah s.w.t adalah Tuhannya dan Tuhan sungai Nil.

Belum   lama   peti   itu   menyentuh   sungai   Nil   sehingga   sang   Pencipta mengeluarkan perintah kepada arus sungai agar menjadi tenang dan bersikap lembut terhadap bayi yang dibawanya yang pada suatu hari akan menjadi Nabi. Sebagaimana Allah s.w.t memerintahkan kepada api agar menjadi dingin dan membawa   keselamatan   bagi   Nabi   Ibrahim,   begitu   juga   Allah   s.w.t memerintahkan  kepada  sungai  Nil agar  membawa  Musa  dengan  tenang  dan penuh kelembutan sehingga menyerahkannya ke istana Fir'aun. Air sungai nil membawa peti yang mulia ini ke istana Fir'aun. Di sana ombak menyerahkannya kepada tepi pantai kemudian ia mewasiatkan kepada tepi pantai itu. Dan angin berkata kepada rumput yang tidur di sisi peti: Jangan engkau banyak bergerak kerana Musa sedang tidur. Rumput itu pun mentaati perintah angin dan Musa tetap tidur.

Pada  hari  itu,  matahari  menyinari  istana  Fir'aun.  Isteri  Fir'aun  keluar berjalan-jalan di kebun istana sebagaimana biasanya. Kita tidak mengetahui apa gerangan yang menjadikannya berjalan-jalan dan menempuh jarak yang lebih jauh dari yang biasa di tempuhnya.

Isteri  Fir'aun  berbeza  sekali  dengan  Fir'aun.  Fir'aun  adalah  seorang  kafir sementara isterinya adalah seorang yang beriman. Fir'aun adalah seorang yang keras  kepala  sementara  isterinya  adalah  seorang  yang  penyayang.  Fir'aun adalah seorang penjahat sementara isterinya adalah seorang yang lembut dan penuh cinta. Di samping itu, isterinya merasakan kesedihan yang dalam kerana ia belum mampu melahirkan anak. Ia merindukan untuk mendapatkan anak. Isteri  Fir'aun  berhenti  di  sisi  kebun  kemudian  bau  harum  yang  datang  dari pohon itu menyebarkan perasaan sedih akan rasa kesendirian. Pada saat yang sama, wanita-wanita yang membantunya sudah memenuhi tempat-tempat air yang diambil dari sungai. Tiba-tiba mereka mendapati peti di sisi kaki mereka. Mereka membawa peti itu seperti semula ke isteri Fir'aun. Ia memerintahkan untuk membukanya lalu mereka pun membukanya. Betapa terkejutnya isteri Fir'aun ketika melihat Musa di dalamnya. Maka ia pun merasakan bahawa ia mencintainya seperti anaknya sendiri. Allah s.w.t menaruh dalam hatinya rasa cinta kepada Musa sehingga air matanya berlinang.

Kemudian ia membawa peti mati itu. Isteri Fir'aun membolak-balikkan Musa sambil menangis. Musa terbangun dan ia pun menangis. Musa tampak lapar ia membutuhkan air susu pagi dan tetap menangis. Fir'aun duduk di atas meja makan.  Ia  menantikan  isterinya  namun  yang  ditunggu  belum  hadir.  Fir'aun mulai  marah  dan  mencarinya.  Tiba-tiba  ia  dikejutkan  dengan  kedatangan isterinya dengan membawa Musa. Isteri Fir'aun tampak sangat menyayanginya. Ia  terus  menciuminya  dan  air  matanya  berlinangan.  Fir'aun  bertanya,  "dari mana datangnya anak kecil ini?" Kemudian mereka menceritakan kepadanya bahawa mereka menemukannya di sebuah peti di tepi sungai. Fir'aun berkata: "Ini adalah salah satu anak Bani  Israil. Sesuai dengan peraturan, anak-anak yang lahir tahun ini harus dibunuh." Mendengar keputusan Fir'aun itu, isteri Fir'aun berteriak dan ia mendekap Musa lebih keras:

"Dan berkatalah isteri Fir'aun: '(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu.  Janganlah  kamu  membunuhnya,  mudah-mudahan  ia  bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia jadi anak.'" (QS. al- Qashash: 9)

Fir'aun tampak kehairanan sekali melihat aksi isterinya yang mendekap anak kecil yang mereka temukan di tepi sungai. Fir'aun tampak tercengang kerana isterinya menangis dengan gembira di mana Fir'aun tidak pernah mendapati isterinya  menangis  kerana  gembira  seperti  ini.  Fir'aun  mulai  mengetahui bahawa isterinya menyayangi anak ini seperti anaknya sendiri. Fir'aun berkata dalam dirinya: Barangkali ia ingat bahawa ia tidak mampu melahirkan anak dan menginginkan anak ini. Akhirnya, Fir'aun sepakat atas apa yang dikatakan oleh isterinya. Fir'aun memenuhi keinginannya dan menyetujuinya untuk mendidik anak ini di istananya.

Ketika mendengar persetujuan Fir'aun, tampaklah keceriaan yang luar biasa pada wajah isterinya. Fir'aun belum pernah menyaksikan keceriaan seperti ini. Fir'aun telah menghadirkan berbagai macam hadiah kepadanya, juga perhiasan dan  budak  tetapi  ia  belum  pernah  tersenyum  meskipun  sekali.  Fir'aun menyangka  bahawa  isterinya  tidak  mengerti  erti  sebuah  senyuman.  Dan sekarang, Fir'aun melihat sendiri wajahnya dipenuhi dengan senyum keceriaan. Sementara itu, Musa mulai menangis kerana lapar. Isteri Fir'aun mengetahui bahawa  Musa  sedang  lapar.  Ia  berkata  kepada  Fir'aun:  "Anakku  yang  kecil sedang  lapar."  Fir'aun  berkata:  "Datangkanlah  kepadanya  para  wanita  yang menyusui." Kemudian didatangkanlah kepadanya seorang wanita yang menyusui dari istana. Wanita itu mencuba untuk menyusui Musa tetapi apa yang terjadi? Musa  menolaknya.  Lalu  didatangkan  wanita  yang  kedua  sampai  ketiga  dan sampai kesepuluh tetapi Musa tetap menangis dan tidak ingin menyusu kepada seorang pun di antara mereka. Melihat kenyataan itu, isteri Fir'aun menangis kerana tidak tahan melihat penderitaan anak kecil itu. Ia tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya.

Bukan hanya isteri Fir'aun satu-satunya yang merasa sedih dan menangis, ibu Musa  adalah  wanita  lain  yang  merasa  sedih  dan  menangis.  Ketika  ia melemparkan Musa ke sungai Nil, ia merasa bahawa ia sedang melemparkan buah hatinya di sungai. Lalu peti yang dilemparkan itu hilang dibawa oleh air sungai dan beritanya pun tersembunyi. Dan ketika datang waktu pagi, ibu Musa merasakan  kesedihan  yang  selalu  menghantuinya.  Hampir  saja  ia  pergi  ke istana Fir'aun untuk mendapatkan berita tentang anaknya kalau bukan kerana Allah s.w.t menarah kedamaian dalam hatinya sehingga ia menyerahkan urusan anaknya kepada Allah s.w.t. Alhasil, ia berkata kepada saudara perempuan
Musa:  "Pergilah  dengan  tenang  ke  istana  Fir'aun  dan  berusahalah  untuk mendapatkan berita tentang Musa dan hendaklah engkau hati-hati agar jangan sampai  mereka  mengetahuimu."  Kemudian  saudara  perempuan  Musa  pergi dengan  tenang.  Akhirnya,  ia  mendengarkan  kisah  tentang  Musa  secara sempurna.   Ia   melihat   Musa   dari   kejauhan   dan   mendengarkan   suara tangisannya. Ia melihat mereka dalam keadaan kebingungan di mana mereka tidak  mengetahui  bagaimana  menyusuinya.  Ia  mendengar  bahawa  Musa menolak setiap wanita yang mencuba menyusuinya.

Saudara  perempuan  Musa  berkata  kepada  para  pengawal  Fir'aun:  "Apakah kalian mahu aku tunjukkan suatu keluarga yang dapat menyusuinya dan dapat mengasuhnya." Isteri Fir'aun menjawab: "Seandainya engkau dapat membawa kepada kami wanita yang dapat menyusuinya dan dapat mengasuhnya nescaya kami akan memberimu hadiah yang besar. Yakni sesuatu yang engkau inginkan akan   kami   penuhi."   Lalu   saudara   perempuan   Musa   itu   kembali   dan menghadirkan  ibunya.  Si  ibu  menyusuinya  dan  Musa  pun  menyusu  dengan tenang. Melihat hal itu, Isteri Fir'aun sangat gembira dan berkata: "Bawalah dia sehingga masa penyusuannya selesai, lalu kembalikanlah dia kepada kami dan kami  akan  memberimu  suatu  balasan  yang  besar  atas  penyusuan  dan pendidikan yang engkau berikan."

Demikianlah Allah s.w.t mengembalikan Musa kepada ibunya agar ia merasa gembira  dan  hatinya  menjadi  tenang  dan  tidak  bersedih  serta  agar  ia mengetahui  bahawa  janji  Allah  s.w.t benar  dan  bahawa  perintah-  Nya  dan ketentuan-Nya  pasti  terlaksana  meskipun  banyak  rintangan  dan  tantangan. Allah s.w.t berfirman:

"Dan  menjadi  kosonglah  hati  ibu  Musa.  Sesungguhnya  hampir  saja  ia orang-orang  yang  percaya  (kepada  janji  Allah).  Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: 'Ikutilah dia.' Maka   kelihatanlah   olehnya   Musa   dari   jauh,   sedang   mereka   tidak mengetahuinya,    dam    Kami    cegah    Musa    dari    menyusu    kepada perempuan-perempuan  yang  mahu  menyusui(nya)  sebelum  itu;  maka berkatalah saudara Musa: 'Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlu bait yang  akan  memeliharanya  untukmu  dan  mereka  dapat  berlaku  baik kepadanya?'.  Maka  Kami  kembalikan  Musa  kepada  ibunya,  supaya  senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahawa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya."  (QS. al-Qashash: 10-13)

Ibu Musa menyempurnakan penyusuan lalu menyerahkannya ke rumah Fir'aun. Saat itu Musa disenangi dan disukai semua orang. Allah s.w.t berfirman:

Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari- Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku." (QS.Thaha: 39)

Tiada  seorang  pun  yang  melihat  Musa  kecuali  ia  akan  mencintainya.  Musa dididik  di  istana  terbesar  di  bawah  bimbingan  dan  penjagaan  Allah  s.w.t. Pendidikan Musa dimulai di rumah Fir'aun di mana di dalamnya terdapat ahli pendidikan dan para pengajar. Mesir saat itu merupakan negara yang besar di dunia dan Fir'aun sebagai raja yang paling kuat. kerana itu, secara sederhana Fir'aun mampu mengumpulkan para pakar pendidikan dan para cendekiawan. Demikianlah  hikmah  Allah  s.w.t  berkehendak  agar  Musa  terdidik  di  bawah pendidikan  yang  besar  dan  ditangani  pakar-pakar  pendidikan  yang  terlatih. Ironisnya, hal ini terjadi di rumah musuhnya yang pada suatu hari nanti akan hancur di tangannya, sebagai bentuk pelaksanaan dari perintah Allah s.w.t.

Musa tumbuh di rumah Fir'aun. Beliau mempelajari ilmu hisab, ilmu bangunan, ilmu kimia, dan bahasa. Beliau tidur di bawah bimbingan agama. Oleh kerana itu,  Musa  tidak  mendengar  omongan  kosong  yang  dikatakan  oleh  pendidik tentang ketuhanan Fir'aun. Jarang sekali ia mendengar bahawa Fir'aun adalah tuhan.  Beliau  pun  menepis  pernyataan  dan  anggapan  ini.  Beliau  tinggal bersama Fir'aun di satu rumah. Beliau mengetahui lebih daripada orang lain bahawa Fir'aun hanya sekadar manusia biasa tetapi ia orang yang lalim. Musa mengetahui bahawa ia bukanlah anak dari Fir'aun. Beliau adalah salah seorang dari Bani Israil. Beliau menyaksikan bagaimana pengawal-pengawal Fir'aun dan para  pengikutnya  menindas  Bani  Israil.  Akhirnya,  Musa  tumbuh  besar  dan mencapai kekuatannya.

Ketika para pengawal lalai darinya, Musa memasuki kota. Musa berjalan- jalan di sekitar kota. Kemudian Musa mendapati seorang lelaki dari pengikut Fir'aun yang sedang berkelahi dengan seseorang dari Bani Israil. Lalu seseorang yang lemah dari kedua orang itu meminta tolong kepadanya. Musa pun turut campur dalam  urusan  itu.  Musa  mendorong  dengan  tangannya  seorang  lelaki  yang berbuat  aniaya  itu.  Ternyata  Musa  membunuhnya.  Saat  itu  Musa  memang terkenal sebagai orang yang kuat sampai pada batas di mana dengan sekali pukul saja untuk melerai musuhnya, ia justru membunuhnya. Tentu Musa tidak sengaja untuk membunuh orang laki-laki itu. Tetapi apa yang terjadi? Lelaki itu tersungkur  dan  kemudian  mati.  Musa  berkata  kepada  dirinya:  Ini  adalah perbuatan setan. Sesungguhnya ia adalah musuh yang menyesatkan dan nyata.
Kemudian   Musa   berdoa   kepada   Tuhannya   dan   berkata:   "Ya   Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku maka ampunilah aku." Allah s.w.t pun mengampuninya. Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Allah s.w.t berfirman:

"Dan setelah Musa sudah cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya  hikmah  kenabian  dan  pengetahuan.  Dan  demikianlah  Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Musa masuk ke kota  (Memphis)  ketika  penduduknya  sedang  lemah,  maka  didapatinya  di dalam  kota  itu  dua  orang  laki-laki  yang  berkelahi;  yang  seorang  dari golongannya  (Bani Israil) dan seorang lagi dari musuhnya  (kaum Fir'aun). Maka  orang  yang  dari  golongannya  meminta  pertolongan  darinya,  untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya  itu.  Musa  berkata:  'Ini  adalah  perbuatan  setan.  Sesungguhnya setan  itu  adalah  musuh  yang  menyesatkan  lagi  nyata  (permusuhannya). Musa  berdoa:  'Ya  Tuhanku,  sesungguhnya  aku  telah  menganiaya  diriku sendiri   kerana   itu   ampunilah   aku.'   Maka   Allah   mengampuninya, sesungguhnya  Dialah  Yang  Maha  Pengampun  lagi  Maha  Penyayang.  Musa berkata:  'Ya  Tuhanku,  demi  nikmat  yang  telah  Engkau  anugerahkan kepadaku,  aku  sekali-kali  tiada  akan  menjadi  penolong  bagi  orang-orang yang berdosa.'" (QS. al-Qashash: 14-17)

Kemudian  Nabi  Musa  menjadi  takut  di  tengah-tengah  kota  dan  merasa terancam.  Dalam  ayat  itu  digambarkan  bagaimana  Nabi  Musa  merasakan ketakutan di mana ia mengkhuatirkan kejahatan akan datang padanya pada setiap langkahnya, dan ia begitu sensitif melihat gerak-geri di sekitarnya. Nabi Musa saat itu menampakkan kegoncangan jiwa yang dahsyat. Sebenarnya Nabi Musa hanya ingin mempertahankan dirinya saat menolong seseorang dari Bani Israil.  Ketika  itu  Nabi  Musa  mendorong  dengan  tangannya  dan  bertujuan memisahkan orang Mesir dari orang Israil tetapi ia justru membunuhnya.

Dalam  undang-undang  positif  dinyatakan  bahawa  pembunuhan  semacam  ini dianggap  sebagai  pembunuhan  kerana  keteledoran  atau  kerana  kesalahan bukan kerana faktor kesengajaan sehingga kerananya yang bersangkutan tidak akan mendapatkan suatu hukuman yang berat. Biasanya orang yang melakukan pembunuhan    tanpa    sengaja    akan    mendapatkan    keputusan    yang meringankannya  kerana  ia  membunuh  tanpa  kesengajaan.  Tentu  kejadian semacam ini tidak dapat dianggap sebagai pembunuhan dengan sengaja kerana yang  bersangkutan  tidak  ingin  mencelakakan  orang  lain.  Nabi  Musa  tidak memukul orang itu. Yang ia lakukan hanya mendorongnya. Atau dengan kata lain,  Nabi  Musa  hanya  sekadar  menyingkirkan  orang  tersebut.  Kita  akan mengetahui  bahawa  Nabi  Musa  adalah  cermin  lain  dari  Nabi  Ibrahim. Kedua-duanya  dari  kalangan  ulul  azmi,  tetapi  Nabi  Ibrahim  adalah  cermin kesabaran dan kelembutan sementara Nabi Musa adalah cermin dari kekuatan dan keperkasaan.

Musa menjadi takut dan terancam di tengah-tengah kota. Beliau berjanji di kemudian hari bahawa beliau tidak akan lagi menjadi sahabat orang- orang yang berbuat jahat. Beliau tidak akan lagi terlibat dalam pertengkaran dan permusuhan antara sesama penjahat. Di tengah-tengah perjalanannya, Musa dikejutkan ketika melihat orang yang ditolongnya kelmarin saat ini lagi-lagi memanggilnya  dan  minta  tolong  padanya.  Lagi-  lagi  orang  itu  terlibat permusuhan dan pertengkaran dengan seorang Mesir. Musa mengetahui bahawa orang Israil ini berbuat aniaya. Musa mengetahui bahawa ia termasuk salah seorang preman di situ. Akhirnya, Musa berteriak di depan wajah orang Israil
itu sambil berkata: "Sungguh ternyata engkau adalah orang yang jahat."

Musa  mengatakan  demikian  sambil  mendorong  keduanya  dan  ia  melerai pertengkaran itu. Orang Israil itu mengira bahawa Musa akan mencelakakannya maka  ia  diliputi  rasa  takut.  Sambil  meminta  kasih  sayang  kepada  Musa,  ia berkata: "Wahai Musa apakah engkau akan membunuhku sebagaimana engkau membunuh  orang  yang  kelmarin.  Apakah  engkau  ingin  menjadi  seorang penguasa  di  muka  bumi  dan  tidak  ingin  menjadi  orang  yang  memperbaiki bumi."  Ketika  mendengar  orang  Israil  yang  mengatakan  demikian,  Musa berhenti  dan  amarahnya  mereda.  Musa  mengingat  apa  yang  dilakukannya kelmarin dan bagaimana ia meminta ampun dan bertaubat serta berjanji untuk tidak  menjadi  pembantu  orang-orang  yang  berbuat  jahat.  Musa  kemudian kembali dan meminta ampun kepada Tuhannya.

Orang Mesir yang berkelahi dengan orang Israil itu mengetahui bahawa Musa adalah  pembunuh  orang  Mesir  yang  mayatnya  mereka  temukan  kelmarin. Petugas  keamanan  Mesir  tidak  berhasil  menyingkap  kasus  pembunuhan  itu. Akhirnya, rahsia Musa tersingkap lalu seorang lelaki Mesir yang beriman datang dari penjuru kota. Ia membisikkan kepada Musa bahawa ada suatu rencana untuk membunuhnya. Ia menasihati Musa agar meninggalkan Mesir secepatnya.

Allah s.w.t berfirman:

"kerana itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khuatir (akibat   perbuatannya),   maka   tiba-tiba   orang   yang   meminta pertolongan  kelmarin  berteriak  meminta  pertolongan  kepadanya.  Musa berkata  kepadanya:  'Sesungguhnya  kamu  benar-  benar  orang  yang  sesat yang  nyata  (kesesatannya).  Maka  tat-kala  Musa  memegang  dengan  keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: 'Hai Musa apakah kamu  bermaksud  untuk  membunuhku,  sebagaimana  kamu  kelmarin  telah membunuh  seorang  manusia?  Kamu  tidak  bermaksud  melainkan  hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu  hendak  menjadi  salah  seorang  dari  orang-orang  yang  mengadakan perdamaian.' Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota tergesa- gesa seraya  berkata:  'Hai  Musa,  sesungguhnya  pembesar  sedang  berunding tentang  kamu.  Sesungguhnya  aku  termasuk  orang-orang  yang  memberi nasihat kepadamu.'" (QS. al-Qashash: 18-20)

Allah menyembunyikan kepada kita nama laki-laki yang datang mengingatkan Musa  itu. Tetapi  menurut  hemat  kami, ia adalah seorang lelaki  Mesir yang tentu memiliki jabatan penting. Sesuai dengan ayat tersebut, ia mengetahui adanya  persengkongkolan  untuk  menyingkirkan  Musa  dari  kedudukan  yang tinggi.  Seandainya  ia  orang  yang  biasa-biasa  saja  maka  orang  itu  tidak mengenalnya.  Orang  itu  mengetahui  bahawa  Musa  tidak  berhak  untuk mendapatkan  hukum  bunuh  atas  dosanya.  Musa  membunuh  kerana  faktor kesalahan, bukan kerana faktor kesengajaan. Kesalahan semacam itu menurut undang-undang  Mesir  yang  dahulu  dihukum  dengan  penjara.  Lalu,  mengapa timbul keinginan untuk membunuh Musa? Kalau kita memperhatikan nasihat orang Mesir itu terhadap Musa maka kita akan menemukan jawapannya. Yaitu perkataannya:    "Para    pembesar    merencanakan    persekongkolan    untuk menyingkirkanmu."

Al-Mala'  adalah  para  penguasa  atau  para  pembesar  yang  bertanggungjawab pada  keamanan.  Mereka  menyiapkan  persekongkolan  untuk  menyingkirkan Musa. Apa yang dilakukan oleh Musa - kalau memang dianggap sebagai suatu kesalahan -  adalah  kejahatan  biasa  yang  hanya  dituntut  dengan  hukuman penjara. Lalu siapakah yang membuat rencana yang demikian, dan siapakah yang mendorong untuk melakukan persekongkolan untuk membunuhnya? Kami kira  bahawa  kepala  keamanan  Mesir  tidak  menyukai  Musa.  Ia  mengetahui bahawa Musa adalah anggota Bani Israil. Ia mengetahui bahawa sampainya peti di  istana  Fir'aun  merupakan  suatu  rekayasa  yang  dirancang  oleh  musuh-musuhnya yang menginginkan kedudukannya. Ini bererti kerana keteledorannya dan  ketelodaran  anak-anak  buahnya.  Berapa  kali  orang  itu  menasihati  dan menganjurkan agar Musa dibunuh tetapi Fir'aun justru menampik fikiran itu. Dan ketika datang saat yang ditentukan untuk membunuh Musa, Fir'aun justru tunduk terhadap Isterinya yang sangat mencintai Musa.

Akhirnya, kesempatan emas ada di depannya. Para pembantunya mengatakan kepadanya bahawa Musalah yang membunuh orang Mesir yang mereka temukan jasadnya  kelmarin.  Selesailah  urusan  ini.  Kemudian  datanglah  perintah  dan kesempatan untuk membunuh Musa. Orang-orang yang membenci Musa mulai mendapatkan angin kegembiraan di mana mereka akan melihat Musa terbunuh, tetapi Allah s.w.t mengirim seorang Mesir yang baik untuk mengingatkan Musa agar berlari dari kejaran orang-orang yang lalim.

Allah s.w.t berfirman:

"Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu- nunggu dengan   khuatir,   dia   berdoa:   'Ya   Tuhanku,   selamatkanlah   aku   dari orang-orang yang lalim itu.'" (QS. al-Qashash: 21)

Musa meninggalkan kota dan menjadi orang yang terusir. Musa segera keluar dalam keadaan takut dan sambil waspada Musa selalu berdoa dalam hatinya: "Ya  Tuhanku,  selamatkanlah  aku  dari  orang-orang  yang  lalim."  Kaum  itu memang  benar-benar  orang-orang  yang  lalim.  Mereka  ingin  menerapkan hukuman  bagi  pembunuh  dengan  sengaja  atas  Musa,  padahal  Musa  tidak melakukan selain berusaha memisahkan orang yang berkelahi tetapi dengan tidak sengaja ia membunuhnya. Musa segera keluar dari Mesir. Beliau tidak lagi pergi  ke  istana  Fir'aun  dan  tidak  mengganti  pakaiannya,  dan  beliau  tidak membawa  makanan  untuk  perjalanan.  Beliau  tidak  membawa  binatang tunggangan yang dapat menghantarkannya. Beliau tidak pergi bersama suatu kafilah. Beliau langsung pergi ketika mendapatkan khabar dari seorang mukmin yang mengingatkannya dari ancaman Fir'aun.

Musa melalui jalan yang tidak lazim dilalui orang biasa. Musa memasuki gurun dan ia menuju ke suatu tempat yang di situ Allah s.w.t membimbingnya. Ini adalah pertama kalinya beliau keluar dan mengharungi gurun pasir sendirian. Kemudian  sampailah  Musa  di  suatu  tempat  yang  bernama  Madyan.  Musa istirahat  dan  duduk-duduk  di  dekat  sumur  yang  besar  di  mana  di  situ orang-orang mengambil air untuk memberi minum kepada binatang-binatang tunggangan  mereka  dan  binatang-binatang  gembalaan  mereka.  Musa  tidak membawa makanan selain daun-daun pohon. Musa minum dari sumur-sumur yang  ditemukannya  di  tengah  jalan.  Sepanjang  perjalanan  Musa  merasakan ketakutan; jangan-jangan Fir'aun mengirim orang untuk menangkapnya. Ketika Musa sampai di kota Madyan Musa berbaring di sisi pohon dan istirahat. Musa merasa  lapar  dan  keletihan.  Sandal  yang  dipakainya  tampak  mulai  rosak. Beliau tidak mempunyai  wang yang cukup untuk membeli sandal baru, dan beliau juga tidak mempunyai wang yang cukup untuk membeli makanan dan minuman.

Nabi Musa memperhatikan kumpulan pengembala yang sedang mengambil air untuk kambing-kambing mereka. Musa ingat bahawa ia sedang lapar dan haus. Ia  berkata  dalam  dirinya:  Aku  tidak  dapat  memenuhi  perutku  dengan  air selama aku tidak memiliki wang yang cukup untuk membeli makanan. Musa berjalan  menuju  tempat  air.  Sebelum  sampai,  ia  mendapati  dua  orang perempuan  yang  sedang  menyendirikan  kambing-kambingnya  agar  jangan sampai  tercampur  dengan  kambing  orang  lain.  Melalui  ilham,  Musa  merasa bahawa kedua wanita itu membutuhkan pertolongan. Musa lupa terhadap rasa hausnya, lalu beliau menuju ke arah mereka dan bertanya, apakah ia dapat membantu  mereka?  Lalu  seorang  gadis  yang  paling  tua  berkata:  "Kami menunggu sampai selesainya para gembala itu mengambil air untuk binatang gembalaan  mereka."  Musa  bertanya:  "Mengapa  kalian  tidak  mengambil  air sekarang?"  Gadis  yang  paling  kecil  berkata:  "Kami  tidak  mampu  untuk berdesak-desakan   dengan   kaum   lelaki."   Nabi   Musa   kehairanan   kerana mengetahui   kedua   gadis   itu   menggembala   kambing.   Seharusnya   yang mengembala  kambing  adalah  kaum  lelaki.  Ini  adalah  tugas  yang  berat  dan sangat melelahkan. Musa bertanya: "Mengapa kalian menggembala kambing?" Masih  kata  gadis  yang  paling  kecil:  "Orang  tua  kami  sudah  tua  di  mana kesehatannya  tidak  dapat  membantunya  untuk  keluar  dari  rumah  dan menggembala  kambing  setiap  hari."  Musa  berkata:  "Kalau  begitu,  aku  akan membantu kalian untuk mengambil air tersebut."

Musa berjalan menuju tempat air. Musa mengetahui bahawa para penggembala meletakkan  di  atas  bibir  air  suatu  batu  besar  yang  tidak  bisa  digerakkan kecuali  oleh  sepuluh  orang.  Musa  merangkul  dan  mengangkatnya  dari  bibir sumur.  Otot-otot  Musa  tampak menonjol saat  memindahkan  batu  itu.  Musa adalah seorang lelaki yang kuat. Akhirnya, Musa berhasil mengambilkan air bagi remaja puteri itu, dan kemudian ia mengembalikan batu itu ke tempatnya. Musa  kembali  duduk  di  bawah  naungan  pohon.  Saat  itu  Musa  lupa  untuk minum. Perut Musa menempel ke punggungnya kerana saking laparnya. Musa mengingat Allah s.w.t dan memanggil-Nya dalam hatinya:

"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS. al-Qashash: 24)

"Dan  tatkala  ia  menghadap  ke  jurusan  negeri  Madyan  ia  berdoa  (lagi): 'Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.' Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak  itu,  dua  orang  wanita  yang  sedang  menambat  (ternaknya)  Musa berkata:  'Apakah  maksudmu  (dengan  berbuat  begitu)?'  Kedua  wanita  itu menjawab:   'Kami   tidak   dapat   meminumkan (ternak   kami),   sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.' Maka Musa memberi minum ternak itu untuk  (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.'" (QS. al-Qashash: 22-24)

Marilah  kita  tinggalkan  sejenak  Nabi  Musa  yang  sedang  duduk  di  bawah naungan pohon untuk kemudian kita melihat apa yang terjadi pada kedua gadis itu. Kedua gadis itu kembali ke rumah ayahnya. Si ayah bertanya: "Hari ini kalian  kembali  lebih  cepat  dari  biasanya?"  Gadis  yang  paling  tua  berkata: "Sungguh hari ini kami sangat beruntung. Wahai ayah, kami bertemu dengan seorang lelaki yang mulia yang mengambilkan air bagi haiwan kami sebelum orang-orang lain mengambilnya." Si ayah berkata: "Alhamdulillah." Gadis yang paling kecil berkata: "Saya kira wahai ayahku dia datang dari tempat yang jauh dan  tampak  ia  sedang  lapar.  Saya  melihat  dia  dalam  keadaan  kecapaian meskipun ia seorang lelaki yang kuat."

Si  ayah  berkata  kepada  anak  perempuannya:  Pergilah  engkau  padanya  dan katakan,  sesungguhnya  ayahku  memanggilmu  untuk  memberimu  upah  atas jasamu  mengambilkan  air  untukku.  Kemudian  anak  perempuan  itu  pergi menemui Musa dalam keadaan hatinya berdebar-debar. Perempuan itu berdiri di  depan  Musa  dan  menyampaikan  surat  dari  ayahnya.  Musa  bangkit  dari tempat duduknya dan pandangannya tertuju ke bawah. Musa tidak bermaksud mengambilkan  air  untuk  mereka  dengan  tujuan  mengharapkan  upah  dari mereka.  Beliau  membantu  mereka  hanya  semata-mata  kerana  Allah  s.w.t. Beliau  merasakan  dalam  dirinya  bahawa  Allah  s.w.t-lah  yang  mengarahkan beliau untuk membantu mereka.

Gadis itu berjalan di depan Musa kemudian bertiuplah angin dan menyentuh pakaiannya sehingga Musa menundukkan pandangan matanya kerana merasa malu.  Musa  berkata  kepadanya:  "Saya  akan  berjalan  di  depanmu  dan tunjukkanlah  jalan  kepadaku."  Mereka  pun  sampai  di  kediaman  si  ayah. Sebahagian  ahli  tafsir  mengatakan  bahawa  si  ayah  ini  adalah  Nabi  Syu'aib. Beliau memperoleh usia yang panjang setelah kematian kaumnya. Ada juga yang mengatakan bahawa si ayah adalah putera dari saudara Syu'aib. Ada yang mengatakan  bahawa  ia  adalah  anak  dari  pamannya,  dan  ada  juga  yang mengatakan  bahawa  ia  adalah  seorang  lelaki  mukmin  dari  kaumnya.  Yang
jelas, ia adalah seorang tua yang soleh. Orang tua itu menghidangkan kepada Nabi Musa makanan siang dan bertanya kepadanya dari mana ia datang dan kemudian ke mana ia akan pergi.

Musa  mengungkapkan  ceritanya.  Orang  tua  itu  berkata  kepadanya,  jangan khuatir dan jangan takut. Engkau akan selamat dari orang-orang yang lalim. Negeri  ini  tidak  tunduk  pada  Mesir  dan  mereka  tidak  akan  sampai  di  sini. Mendengar ucapan itu, Musa menjadi tenang dan bangkit untuk pergi. Salah seorang anak perempuan itu berkata kepada ayahnya dengan berbisik: "Wahai ayahku,  berilah  dia  upah."  Sesungguhnya  engkau  akan  memberikan  upah kepada seorang yang kuat dan jujur. Si ayah bertanya kepadanya: "Bagaimana engkau  mengetahui  dia  seorang  lelaki  yang  kuat?"  Anak  perempuannya menjawab: "Saya lihat sendiri ia mengangkat batu yang tidak mampu diangkat oleh  sepuluh  orang  lelaki."  Si  ayah  bertanya  lagi:  "Bagaimana  engkau mengetahui bahawa dia seseorang yang jujur." Perempuan itu menjawab: "Ia menolak untuk berjalan di belakangku dan ia berjalan di depanku sehingga ia tidak melihatku saat aku berjalan, dan selama perjalanan saat aku berbincangbincang padanya, dia selalu menundukkan matanya ke tanah sebagai rasa malu dan adab yang baik darinya."

Kemudian orang tua itu memandangi Musa dan berkata padanya: "Wahai Musa, aku ingin menikahkanmu dengan salah satu puteriku. Dengan syarat, hendaklah engkau  bekerja  menggembala  kambing  bersamaku  selama  delapan  tahun. Seandainya   engkau   menyempurnakan   sepuluh   tahun   maka   itu   adalah kemurahan  darimu.  Aku  tidak  ingin  menyusahkanmu.  Sungguh  insya-Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang saleh." Musa berkata: "Ini adalah kesepakatan antar aku dan engkau dan Allah s.w.t sebagai saksi atas kesepakatan  kita,  baik  aku  melaksanakan  pekerjaan  selama  delapan  tahun mahupun sepuluh tahun. Setelah itu, aku bebas untuk pergi ke mana saja."

Allah s.w.t berfirman:

"Kemudian  datanglah  kepada  Musa  salah  seorang  dari  kedua  wanita  itu berjalan  kemalu-maluan,  ia  berkata:  'Sesungguhnya  bapakku  memanggil kamu  agar  ia  memberi  balasan  terhadap  (kebaikan)  mu  memberi  minum (ternak)  kami.'  Maka  tatkala  Musa  mendatangi  bapaknya (Syu'aib)  dan menceritakan   kepadanya   cerita    (mengenai   dirinya),   Syu'aib   berkata: 'Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang lalim itu.' Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: 'Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja  (pada kita), kerana sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat
lagi   dapat   dipercayai.   Berkatalah   dia (Syu'aib):   'Sesungguhnya   aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahawa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya-Allah akan mendapatiku termasuk  orang-orang yang baik.' Dia  (Musa) berkata: 'Itulah  (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan,  maka  tidak  ada  tuntutan  tambahan  atas  diriku  (lagi).  Dan Allah adalah saksi atas apa yang aku ucapkan.'" (QS. al-Qashash: 25-28)

Ketika  sampai  pada  kisah  ini,  banyak  pena  bertebaran  untuk  mendapatkan jawapan  dari  pertanyaan-pertanyaan  yang  mencuba  menerobos  kesamaran. Mereka bertanya tentang anak perempuan yang menikahi Musa: apakah anak perempuan yang paling besar ataukah anak perempuan yang paling kecil, dan Musa memilih masa bekerja delapan tahun atau sepuluh tahun. Bahkan mereka menyampaikan  berbagai  macam  riwayat  dan  kisah  yang  mereka  yakini kebenarannya. Kami sendiri meyakini bahawa Musa menikah dengan salah satu anak perempuan dari orang tua itu tetapi kita tidak mengetahui siapa dia dan siapa  namanya.  Kami  meyakini  bahawa  beliau  menikah  dengan  gadis  yang memanggilnya   untuk   menemui   ayahnya.   Kemudian   gadis   itulah   yang menganjurkan ayahnya agar memberikan upah padanya.

Al-Quran  al-Karim  melalui  konteks  ayatnya  menyingkap  bentuk  kekaguman yang tersembunyi di balik gadis itu terhadap Musa. Barangkali orang tuanya mengetahui bahawa anak perempuannya menaruh rasa cinta kepada Musa, dan boleh jadi ketika berbicara tentang pernikahan kepada Musa, ia menyerahkan sepenuhnya  kebebasan  Musa  untuk  memilih.  Mungkin  Musa  memilih  sendiri gadis  mana  yang  diminatinya.  Tetapi,  siapa  gadis  yang  dipilih  oleh  Musa: apakah gadis yang paling tua atau gadis yang paling kecil? Yang jelas Al-Quran tidak  menyebutkan  hal  tersebut,  meskipun  ia  hanya  memberikan  isyarat kepadanya dalam firman-Nya:

"Kemudian  datanglah  kepada  Musa  salah  seorang  dari  kedua  wanita  itu berjalan kemalu-maluan. " (QS. al-Qashash: 25)

Begitu juga Al-Quran al-Karim tidak menyebutkan waktu yang dihabiskan oleh Musa saat ia bekerja: apakah sepuluh tahun atau beliau merasa cukup dengan delapan  tahun.  Kami  sendiri  meyakini  sesuai  dengan  kebiasaan  Musa  dan kemurahannya serta kenabiannya serta kedudukannya sebagai salah satu nabi ulul azmi bahawa beliau memilih masa yang paling lama, yaitu sepuluh tahun. Pendapat itu juga didukung oleh hadis Ibnu Abas.

Demikianlah Nabi Musa mengabdi kepada orang tua itu selama sepuluh tahun penuh. Pekerjaan Nabi Musa terbatas pada keluar dari rumah di waktu pagi untuk  menggembala  kambing.  Kami  kira  bahawa  sepuluh  tahun  masa  yang dihabiskan  oleh  Nabi  Musa  di  Madyan  merupakan  suatu  ketentuan  yang dirancang  oleh  Allah  s.w.t.  Musa  berdasarkan  agama  Yakub.  Kakek  beliau adalah Yakub dan Yakub sendiri adalah cucu dari Ibrahim. Dengan demikian, Musa adalah cucu dari Ibrahim dan setiap nabi yang datang setelah Ibrahim berasal dari sulbinya. Maka dari sini kita memahami bahawa Musa berada di atas agama ayah-ayahnya dan datuk- datuknya.

Nabi Musa berdasarkan Islam dan agama tauhid. Nabi Musa menghabiskan masa sepuluh tahun itu dalam keadaan jauh dari kaumnya dan keluarganya. Masa sepuluh tahun ini adalah masa yang paling penting dalam kehidupannya. Ia merupakan masa persiapan yang besar. Pada setiap malam Musa merenungkan bintang-bintang. Musa mengikuti terbitnya matahari dan tenggelamnya. Pada setiap  siang  Musa  memikirkan  tumbuh-tumbuhan:  bagaimana  ia  membelah tanah dan mekar. Musa memperhatikan air: bagaimana ia menghidupkan bumi setelah bumi itu mati, lalu bumi itu menjadi tempat yang indah dan subur. Musa memperhatikan alam yang luas dan ia tampak tercengang dan kagum dengan ciptaan Allah s.w.t.

Sebenarnya   pemikiran-pemikiran   dan   perenungan-perenungan   tersebut jauh-jauh  hari  sudah  tersembunyi  di  dalam  dirinya  dan  menetap  di  dalam jiwanya. Bukankah Musa telah terdidik di istana Fir'aun. Ini bererti bahawa beliau menjadi seorang Mesir yang mempunyai wawasan yang luas; orang Mesir yang menunjukkan kekuatan fizikalnya; orang Mesir dengan segala makanannya dan minumannya. Jadi, segala hal yang ada pada Musa berbau Mesir. Musa siap-siap untuk menerima wahyu Ilahi dari bentuk yang baru. Yaitu wahyu Ilahi yang langsung datang tanpa perantara seorang malaikat di mana Allah s.w.t akan berbicara dengannya tanpa perantara.

Oleh kerana itu, sebelum datangnya wahyu itu perlu adanya persiapan mental dan moral, sedangkan persiapan fizik telah selesai dilaluinya di Mesir. Musa tumbuh di istana yang paling besar yang dimiliki penguasa di bumi dan di suatu pemerintahan yang paling kaya di bumi. Musa menjadi seorang pemuda yang kuat di mana hanya sekadar memisahkan seseorang yang berkelahi, ia justru membunuhnya.  Setelah  persiapan  fizik  yang  sangat  kuat,  kini  Musa  harus melewati  persiapan  mental  yang  seimbang.  Yaitu  persiapan  yang  dilakukan melalui pengasingan yang sempurna di mana beliau hidup di tengah-tengah gurun  dan  tempat  penggembalaan  yang  beliau  belum  pernah  menginjakkan kakinya di sana. Beliau hidup di tengah-tengah orang asing yang belum pernah beliau lihat sebelumnya.

Sering kali Musa mendapatkan kesunyian dan keheningan di balik pengasingan itu. Allah s.w.t mempersiapkan hal tersebut kepada nabi- Nya agar setelah itu beliau mampu memegang amanat yang besar dari Allah s.w.t. Datanglah suatu hari atas Musa. Selesailah masa yang ditentukan. Kemudian Musa merasakan kerinduan untuk kembali ke Mesir. Dengan berlalunya waktu, hukuman yang harus dijalaninya dengan sendirinya gugur. Musa mengetahui hal itu, tetapi beliau juga mengetahui bahawa undang-undang di Mesir sebenarnya terletak pada  kekuatan  penguasa;  jika  penguasa  berkehendak  maka  Musa  dapat menerima hukuman dan jika tidak berkehendak maka dia akan memaafkannya, meskipun  yang  bersangkutan  berhak  mendapatkan  hukuman.  Alhasil,  Musa menyedari hal itu, Musa tidak sepenuhnya yakin ia akan selamat ketika beliau menginjakkan kakinya di Mesir seperti keyakinannya bahawa beliau selamat di tempatnya  sekarang.  Meskipun  demikian,  rasa  rindunya  untuk  melakukan perjalanan kembali ke tempatnya mendorong Musa segera menuju ke Mesir. Musa tepat mengambil keputusan.

Musa berkata kepada Isterinya: "Besok kita akan memulai perjalanan ke Mesir." Isterinya berkata dalam dirinya: "Di dalam perjalanan terdapat seribu macam bahaya tetapi ketenangan tetap menghiasai  wajah  Musa." Isteri  Musa tetap taat  kepada  Musa.  Nabi  Musa  sendiri  tidak  mengetahui  rahsia  tentang keputusannya yang cepat untuk kembali ke Mesir setelah sepuluh tahun beliau pergi melarikan diri, lalu mengapa sekarang ia kembali ke sana? Apakah beliau rindu   kepada   ibunya   dan   saudaranya?   Apakah   beliau   berfikir   untuk mengunjungi Isteri Fir'aun yang telah mendidiknya layaknya ibunya dan sangat mencintainya layaknya ibunya sendiri? Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang terlintas dalam diri Musa saat beliau berkeinginan untuk kembali ke Mesir.  Hanya saja,  yang kita ketahui  bahawa Nabi Musa  terbimbing dengan ketetapan- ketetapan Ilahi sehingga beliau tidak melangkahkan kakinya kecuali berdasarkan ketetapan tersebut.

Musa   keluar   bersama   keluarganya   dan   melakukan   perjalanan.   Bulan bersembunyi di balik gumpalan awan yang tebal, dan kegelapan rnenyelimuti sana-sini. Sementara itu, petir menyambar sangat keras dan langit menurunkan hujan. Cuaca tampak tidak bersahabat. Di tengah- tengah perjalanannya, Musa tersesat. Musa mendapatkan dua potongan batu kemudian beliau memukulkan kedua-nya dan  menggesek-gesekan  keduanya agar  mendapatkan  api  darinya sehingga beliau dapat berjalan. Tetapi sayang, beliau tidak mampu melakukan hal itu. Angin yang bertiup kencang memadamkan api kecil itu.

Nabi Musa berdiri dalam keadaaan bingung dan tubuhnya tampak menggigil di tengah-tengah keluarganya. Kemudian Nabi Musa mengangkat kepalanya dan menyaksikan sesuatu dari jauh. Sesuatu yang beliau saksikan adalah api yang sangat  besar  yang  menyala-nyala  dari  kejauhan.  Maka  hati  Musa  dipenuhi dengan  rasa  gembira.  Ia  berkata  kepada  keluarganya:  "Aku  melihat  api  di sana." Lalu beliau memerintahkan kepada mereka untuk tinggal di tempatnya sehingga beliau pergi ke api itu. Barangkali di sana beliau mendapatkan suatu berita  atau  akan  menemukan  seseorang  yang  dapat  memberinya  petunjuk sehingga beliau tidak tersesat, atau beliau dapat membawa sebahagian api yang menyala sehingga tubuh mereka menjadi hangat.

Keluarganya melihat api yang diisyaratkan oleh Musa tetapi sebenarnya mereka tidak  melihat  sesuatu  pun.  Mereka  tetap  mentaatinya  dan  duduk  sambil menunggu  kedatangan  Musa.  Musa  bergerak  menuju  ke  tempat  api.  Musa segera berjalan untuk menghangatkan tubuhnya, sementara tangan kanannya memegang tongkatnya dan tubuhnya tampak basah kuyup kerana hujan. Nabi Musa tetap berjalan sampai ia mencapai suatu lembah yang bernama Thua'. Beliau menyaksikan sesuatu yang unik di lembah ini. Di lembah itu tidak ada rasa dingin dan tidak ada angin yang bertiup. Yang ada hanya keheningan. Nabi Musa  mendekati  api.  Belum  lama  beliau  mendekatinya  sehingga  beliau mendengar suara panggilan:

"Maka  tatkala  dia  tiba  di      (tempat)  api  itu,  diserulah  dia:  'bahawa  telah  diberkati  orang-orang  yang  berada  di  dekat  api  itu,  dan  orang-orang  yang berada  di  sekitarnya.  Dan  Maha  Suci  Allah,  Tuhan  semesta  alam." (QS. an-Naml: 8)

Tiba-tiba  Nabi  Musa  berhenti  dan  badannya  menggigil.  Suara  itu  tampak terdengar  dan  datang  dari  segala  tempat  dan  tidak  berasal  dari  tempat tertentu.  Musa  melihat  api  dan  beliau  kembali  merasa  menggigil.  Beliau mendapati suatu pohon hijau dari duri dan setiap kali pohon itu terbakar dan berkobar api darinya maka pohon itu justru semakin hijau. Seharusnya pohon itu berubah warnanya menjadi hitam saat terbakar, tetapi anehnya api justru meningkatkan   warna   hijaunya.   Musa   tetap   menggigil   meskipun   beliau merasakan kehangatan dan tampak mulai berkeringat.

Lembah yang di situ Musa berdiri adalah lembah Thua'. Musa meletakkan kedua tangannya  di  atas  kedua  matanya  kerana  saking  dahsyatnya  cahaya.  Beliau melakukan yang demikian itu sebagai usaha untuk melindungi kedua matanya. Kemudian Musa bertanya dalam dirinya: Ini cahaya atau api? Tiba-tiba beliau tersungkur ke tanah sebagai wujud rasa takut, lalu Allah s.w.t memanggil:

"Wahai Musa." (QS. Thaha: 11)

Musa mengangkat kepalanya dan berkata: "Ya." Allah berkata: "Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu." (QS. Thaha: 12)


Musa semakin menggigil dan berkata: "Benar wahai Tuhanku."

Allah s.w.t berkata: "Maka lepaskanlah kedua sandalmu sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci yang bernama Thua'." Musa tertunduk dan rukuk sementara  tubuhnya  tampak gementar  dan  beliau  mulai  melepas sandalnya Allah s.w.t berkata:

Maka  tinggalkanlah  kedua  terompahmu;  sesungguhnya  kamu  berada  di lembah yang suci, Thuwa'. " (QS. Thaha: 12)

Musa  rukuk  dan  melepas  kedua  sandalnya.  Kemudian  Allah  s.w.t  kembali berkata:

"Dan  Aku  telah  memilih  kamu,  maka  dengarkanlah  apa  yang  akan diwahyukan  (kepadamu).  Sesungguhnya  Aku  ini  adalah  Allah,  tidak  ada Tuhan  (yang  hak)  selain  Aku,  maka  sembahlah  Aku  dan  dirikanlah  salat untuk  mengingat  Aku.  Sesungguhnya  hari  kiamat  itu  akan  datang.  Aku merahsiakan  (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang diusahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan darinya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu binasa." (QS. Thaha: 13-16)

Musa semakin gementar saat beliau menerima wahyu Ilahi dan saat berdialog dengan  Allah  s.w.t.  Allah  s.w.t  yang  Maha  Pengasih  dan  Maha  Penyayang berkata:

"Apakah itu yang ada di tangan kananmu, hai Musa?" (QS. Thaha: 17)

Bertambahlah kehairanan Nabi Musa. Allah s.w.t adalah Zat yang mengajaknya berbicara dan tentu Dia lebih mengetahui daripada Musa tentang apa yang dipegangnya, lalu mengapa Allah s.w.t bertanya kepadanya jika memang Dia lebih  mengetahui  darinya.  Tak  ragu  lagi  bahawa  di  sana  ada  hikmah  yang tinggi. Musa menjawab pertanyaan itu dengan suaranya yang tampak mengigil:

"Ini  adalah  tongkatku,  aku  bertelekan  padanya,  dan  aku  pukul (daun) dengannya  untuk  kambingku,  dan  bagiku  ada  lagi  keperluan  yang  lain padanya." (QS. Thaha: 18)

Allah berfirman:

"Lemparkanlah ia, hai Musa!" (QS. Thaha: 19)

Musa  melemparkan  tongkatnya  dari  tangannya  dan  rasa  hairannya  semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba Musa dikejutkan ketika melihat tongkat itu menjadi ular  yang  besar.  Ular  itu  bergerak  dengan  cepat.  Musa  tidak  mampu  lagi menahan rasa takutnya. Musa merasa tubuhnya bergetar kerana rasa takut. Musa membalikkan tubuhnya kerana takut dan ia mulai lari. Belum lama ia lari, belum sampai dua langkah, Allah s.w.t memanggilnya:

"Hai  Musa,  janganlah  kamu  takut,  sesungguhnya  orang  yang  menjadikan rasul, tidak takut di hadapanku. " (QS. an-Naml: 10)

"Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman. " (QS. al- Qashash: 31)

Musa kembali memutar badannya dan berdiri. Tongkat itu tampak bergerak dan ular itu pun tetap bergerak. Allah s.w.t berkata kepada Musa:

"Peganglah ia dan janganlah takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula. " (QS. Thaha: 21)

Musa  menghulurkan  tangannya  ke  ular  itu  dalam  keadaan  menggigil.  Musa belum sempat menyentuhnya sehingga ular itu menjadi tongkat. Demikianlah perintah   Allah   s.w.t   terjadi   dengan   cepat.   Kemudian   Allah   s.w.t memerintahkan kepadanya:

"Masukanlah tanganmu ke leher bajumu, nescaya ia keluar putih tidak bercacat bukan kerana penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu  (ke dada)mu bila ketakutan. " (QS. al-Qashash: 32)

Musa  meletakkan  tangannya  di  kantongnya  lalu  ia  mengeluarkannya  dan  tiba-tiba  tangan  itu  bersinar  bagaikan  bulan.  Kembali  rasa  kagum  Musa bertambah.   Lalu   ia   meletakkan   tangannya   di   dadanya   sebagaimana diperintahkan Allah s.w.t padanya sehingga rasa takutnya benar-benar hilang. Musa  merasa  tenang  dan  terdiam.  Kemudian  Allah  s.w.t  memerintahkan kepadanya - setelah beliau melihat kedua mukjizat ini, yaitu mukjizat tangan dan mukjizat tongkat - untuk pergi menemui Fir'aun dan berdakwah kepadanya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang dan Allah s.w.t memerintahkan kepadanya untuk mengeluarkan Bani Israil dari Mesir. Musa menampakkan rasa takutnya kepada Fir'aun. Musa berkata bahawa ia telah membunuh seseorang di  antara  mereka  dan  beliau  khuatir  mereka  akan  membunuhnya  dan membalasnya.  Musa meminta kepada Allah s.w.t dan memohon kepada-Nya agar mengirim saudaranya Harun bersamanya. Allah s.w.t menenangkan Musa dengan  mengatakan  bahawa  Dia  akan  selalu  bersama  mereka  berdua.  Dia mendengar  dan  menyaksikan  gerak-geri  dan  perbuatan  mereka.  Meskipun Fir'aun terkenal dengan kejahatannya dan kekuatannya, namun kali ini Fir'aun tidak   akan   mampu   mengganggu   atau   menyakiti   mereka.   Allah   s.w.t memberitahu  Musa  bahawa  Dia-lah  yang  akan  menang.  Musa  berdoa  dan memohon  kepada  Allah  s.w.t  agar  melapangkan  hatinya  dan  memudahkan urusannya serta memberinya kekuatan dalam berdakwah di jalan-Nya.

Allah s.w.t berfirman:

"Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa  ? Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: 'Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku  melihat  api,  mudah-mudahan  aku  dapat  membawa  sedikit  darinya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: Hai Musa, sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu.  Maka  tinggalkanlah  kedua  terompahmu;  sesungguhnya  kamu berada di lembah yang suci, Thuwa'. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat  untuk mengingat Aku. Sesungguhnya hari kiamat  itu akan  datang.  Aku  merahsiakan  (waktunya)  agar  supaya  tiap-tiap  diri  itu dibalas dengan apa yang diusahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu kamu dipalingkan  darinya  oleh  orang  yang  tidak  beriman  kepadanya  dan  oleh orang  yang  mengikuti  hawa  nafsunya,  yang  menyebabkan  kamu  binasa. Apakah itu yang ada di tangan kananmu, hai Musa, 'Ini adalah tongkatku, aku   bertelehan   padanya,   dan   aku   pukul (daun)   dengannya   untuk kambingmu,  dan  bagiku  ada  lagi  keperluan  yang  lain  padanya.'  Allah berfirman:  Lemparkanlah  ia,  hai  Musa!'  Lalu  dilemparkanlah  tongkat  itu, maka  tiba-tiba  ia  menjadi  seekor  ular  yang  merayap  dengan  cepat. Peganglah  ia  dan  janganlah  takut,  Kami  akan  mengembalikannya  kepada keadaannya semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, nescaya ia ke luar  menjadi  putih  cemerlang  tanpa  cacat,  sebagai  mukjizat  yang  lain (pula),  untuk  Kami  perlihatkan  kepadamu  sebahagian  dari  tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar. Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya ia telah melampaui  batas.  Berkata  Musa:  'Ya  Tuhanku,  lapangkanlah  untukku dadaku,  dan  mudahkanlah  untukku  urusanku,  dan  lepaskanlah  kekakuan dari lidah, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku,  (yaitu) Harun saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami  banyak  bertasbih  kepada  Engkau,  dan  banyak  mengingat  Engkau. Sesungguhnya   Engkau   adalah   Maha   Melihat (keadaan)   kami.'   Allah berfirman:  'Sesungguhnya  telah  diperkenankan  permintaanmu,  hai  Musa.' Dan sesungguhnya Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kali  yang lain, yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, yaitu: Letakkanlah ia  (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku dan musuhnya.' Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih  sayang  yang  datang  dari-Ku;  dan  supaya  kamu  diasuh  di  bawah pengawasan-Ku. (Yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga Fir'aun): 'Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang  yang  akan  memeliharanya?'  Maka  Kami  mengembalikanmu  kepada ibumu,  agar  senang  hatinya  dan  tidak  berduka  cita.  Dan  kamu  pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami  telah  mencubamu  dengan  beberapa  cubaan;  maka  kamu  tinggal beberapa  tahun  di  antara  penduduk  Madyan,  kemudian  kamu  datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa, dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku. " (QS. Thaha: 9-41)

Kita tidak mengetahui apa yang kita akan katakan dan apa yang kita komentar berkaitan dengan firman Allah s.w.t kepada salah seorang hamba-Nya: "Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku." Allah s.w.t telah memilih Musa. Itu adalah salah satu puncak kemuliaaan di mana tidak ada seseorang pun di zaman itu yang  mampu  mencapainya  selain  Musa.  Nabi  Musa  kembali  untuk  menemui keluarganya setelah Allah s.w.t memilihnya sebagai Rasul atau utusan untuk berdakwah  ke  Fir'aun.  Akhirnya,  Nabi  Musa  beserta  keluarganya  berjalan menuju ke Mesir. Hanya Allah s.w.t yang mengetahui fikiran-fikiran apa yang terlintas di dalam diri Musa saat beliau mengayunkan langkahnya menuju ke Mesir.

Selesailah  masa-masa  perenungan  dan  dimulailah  hari-hari  kedamaian  dan kebahagiaan, dan akhirnya datanglah hari-hari yang sulit. Demikianlah Nabi Musa memikul amanat kebenaran dan pergi untuk menyampaikannya kepada salah satu penguasa yang paling bengis dan paling kejam dan paling jahat di zamannya. Nabi  Musa  mengetahui  bahawa Fir'aun  adalah  orang yang jahat. Fir'aun akan berusaha memberhentikan langkah dakwahnya dan Fir'aun akan menentangnya tetapi Allah s.w.t memerintahkannya untuk pergi ke Fir'aun dan berdakwah  kepadanya  dengan  kelembutan  dan  kasih  sayang.  Allah  s.w.t mewahyukan kepada Musa bahawa Fir'aun tidak akan beriman tetapi Nabi Musa tidak peduli dengan hal itu. Beliau diperintahkan untuk melepaskan Bani Israil yang sedang diseksa oleh Fir'aun.

Allah s.w.t berkata kepada Musa dan Harun:

"Maka   datanglah   kamu   berdua   kepadanya       (Fir'aun)   dan   katakanlah: 'Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyeksa mereka." (QS. Thaha: 47)

Inilah tugas yang ditentukan, yaitu tugas yang akan berbenturan dengan ribuan tantangan. Fir'aun menyeksa Bani Israil dan menjadikan mereka budak-budak dan memaksa mereka untuk bekerja di luar kemampuan mereka. Fir'aun juga menodai kehormatan wanita-wanita mereka dan menyembelih anak laki-laki mereka.   Nabi   Musa   mengetahui   bahawa   rejim   Mesir   berusaha   untuk memperbudak  Bani  Israil  dan  mengeksploitasi  mereka  di  luar  kemampuan mereka demi kepentingan penguasa. Tetapi Nabi Musa tetap memperlakukan dan   menghadapi   Fir'aun   dengan   penuh   kelembutan   dan   kasih   sayang sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah s.w.t padanya:

"Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS. Thaha: 43-44)

Musa bercerita kepada Fir'aun tentang siapa sebenarnya Allah s.w.t, tentang rahmat-Nya, tentang syurganya, dan tentang kewajipan mengesakan-Nya dan menyembah-Nya. Beliau berusaha mem-bangkitkan aspek-aspek kemanusiaan Fir'aun  melalui  pembicaraan  tersebut.  Fir'aun  mendengarkan  apa  yang dikatakan oleh Musa dengan penuh kebosanan. Fir'aun membayangkan bahawa seseorang yang di hadapannya adalah orang gila yang nekad untuk menentang dan menggoyang kedudukannya. Kemudian Fir'aun mengangkat tangannya dan berbicara: "Apa yang engkau inginkan, hai Musa?" Musa menjawab: "Aku ingin agar engkau membebaskan Bani Israil." Fir'aun bertanya: "Mengapa aku harus membebaskan mereka bersamamu sementara mereka adalah budak- budakku?" Musa menjawab: "Mereka adalah hamba-hamba Allah s.w.t, Tuhan Pengatur alam  semesta." Dengan  nada  mengejek Fir'aun  bertanya:  "Bukankah  engkau mengatakan bahawa namamu Musa?" Musa menjawab: "Benar." Fir'aun berkata:
"Bukankah engkau yang kami temukan di sungai Nil saat engkau masih kecil yang tidak mempunyai daya dan kekuatan? Bukankah engkau Musa yang aku didik  di  istana  ini,  lalu  engkau  memakan  makanan  kami  dan  meminum  air kami, dan engkau menikmati kebaikan- kebaikan dari kami? Bukankah engkau yang membunuh seseorang lalu setelah itu engkau lari? Tidakkah engkau ingat semua  itu?  Bukankah  mereka  mengatakan  bahawa  pembunuhan  merupakan suatu  kekufuran?  Kalau  begitu,  engkau  seorang  kafir  dan  engkau  seorang pembunuh. Jadi engkau adalah Musa yang lari dari hukum Mesir. Engkau adalah seseorang yang lari dan menghindari keadilan. Lalu sekarang engkau datang kepadaku dan berusaha berbicara denganku. Engkau berbicara tentang apa hai Musa. Sungguh aku telah lupa."

Musa mengerti  bahawa Fir'aun mengingatkan padanya tentang masa lalunya dan Fir'aun berusaha menunjukkan kepadanya bahawa ia telah mendidiknya dan   berlaku   baik   padanya.   Musa   juga   memahami   bahawa   Fir'aun mengancamnya dengan  pembunuhan. Musa  memberitahu Fir'aun, bahawa ia bukan  seorang  kafir  ketika  membunuh  seorang  Mesir  tetapi  saat  itu  beliau melakukannya dengan tidak sengaja. Musa memberitahu Fir'aun bahawa ia lari dari  Mesir  kerana  khuatir  akan  pembalasan  mereka.  Pembunuhan  yang dilakukan  olehnya  bersifat  tidak  sengaja.  Musa  tidak  bermaksud  untuk membunuh  seseorang.  Musa  telah  memberitahu  Fir'aun  bahawa  Allah  s.w.t
telah memberinya hikmah dan menjadikannya salah seorang Rasul. Allah s.w.t menceritakan sebahagian dialog antara Musa dan Fir'aun dalam surah as-Syuara' sebagaimana firman-Nya:

"Dan (ingatlah)  ketika Tuhanmu  menyeru  Musa (dengan  firman-Nya): 'Datangilah kaum yang lalim itu, (yaitu) kaum Fir'aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?  Berkata  Musa:  'Ya  Tuhanku,  sesungguhnya  aku  takut  bahawa mereka  akan  mendustakan  aku.  Dan  (kerananya)  sempitlah  dadaku  dan tidak lancar lidahku maka utuslah  (Jibril) kepada Harun. Dan aku berdosa terhadap  mereka,  maka  aku  takut  mereka  akan  membunuhku.'  Allah berfirman: 'Janganlah takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu     berdua     dengan     membawa     ayat-ayat     Kami (mukjizat-mukjizat);   sesungguhnya   Kami   bersamamu   mendengarkan (apa-apa  yang  mereka  katakan).  Maka  datanglah  kamu  berdua  kepada Fir'aun  dan katakanlah:  'Sesungguhnya kami adalah Rasul Tuhan semesta alam,  lepaskanlah  Bani  Israil (pergi)  beserta  kami.'  Fir'aun  menjawab: 'Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih  kanak-kanak  dan  kamu  tinggal  bersama kami  beberapa  tahun  dari umurmu, dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna.' Berkata Musa: 'Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu,  kemudian  Tuhanku  memberikan  kepadaku  ilmu  serta  Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. " (QS. as-Syu'ara: 10-21)

Kemudian bangkitlah emosi Nabi Musa ketika Fir'aun mengingatkan bahawa ia telah berbuat baik kepada Musa. Musa bangkit dan berbicara kepadanya:

"Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah  (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil." (QS. asy-Syu'ara: 22)

Musa ingin berkata kepadanya, apakah engkau mengira bahawa nikmat yang engkau berikan kepadaku lalu engkau merasa telah berbuat baik padaku, di mana aku adalah salah seorang lelaki dari kalangan Bani Israil? Apakah nikmat ini sebanding dengan cara-caramu memperlakukan bangsa yang besar ini di mana engkau memperbudak mereka; engkau memperkerjakan mereka dengan cara yang semena-mena. Jika ini memang demikian maka logik mengatakan bahawa kita seimbang: tiada yang berhutang dan tiada yang meminjam. Jika tidak demikian maka siapa yang memberikan bahagian yang lebih besar?

Alhasil masalahnya adalah dakwah di jalan Allah s.w.t, yaitu satu urusan yang aku  tidak  membawa  kepadamu  dari  diriku  sendiri.  Aku  bukan  utusan  dari bangsa Bani Israil. Aku bukan juga utusan dari diriku sendiri tetapi aku adalah seorang  utusan  dari  Allah  s.w.t.  Aku  adalah  utusan  Tuhan  Pengatur  alam semesta.  Sampai  pada tahap ini Fir'aun mulai memasuki pembicaraan lebih serius: Fir'aun bertanya:

"Siapakah Tuhan semesta alam itu?" (QS. asy-Syu'ara': 23) Musa Menjawab:

"Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antaranya keduanya (itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya." (QS. asy-Syu'ara': 24)

Berkata  Fir'aun  kepada  orang-orang  sekelilingnya:  "Apakah  kamu  tidak mendengarkan?" (QS. asy-Syu'ara': 25)

Musa berkata dan tidak mempedulikan ejekan Fir'aun itu:

"Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu. "  (QS. asy-Syu'ara': 26)

Fir'aun  berkata  kepada  mereka  yang  datang  bersama  Musa  dari  Bani  Israil: "Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar- benar orang gila."  Musa  kembali  berkata  dan  tidak  memperhatikan  tuduhan  Fir'aun  dan ejekannya:

"Tuhan  yang  menguasai  timur  dan  barat  dan  apa  yang  ada  di  antara keduanya: (Itulah  Tuhanmu)  jika  kamu  mempergunakan  akal.  " (QS.asy-Syu'ara': 28)

Allah s.w.t menceritakan  sebahagian  dialog yang terjadi antara  Fir'aun  dan Musa dalam surah as-Syu'ara':

"Fir'aun bertanya: 'Siapakah Tuhan semesta alam itu?' Musa Menjawab: 'Tuhan Pencipta  langit  dan  bumi  dan  apa-apa  yang  di  antara  keduanya (itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya.' Berkata Fir'aun kepada orang-orang sekelilingnya:  'Apakah kamu  tidak mendengarkan?' Musa berkata:  "Tuhan  kamu  dan  Tuhan  nenek-nenek  moyang  kamu  yang  dahulu.' Fir'aun  berkata:  'Sesungguhnya  Rasulmu  yang  diutus  kepada  kamu  sekalian benar-benar  orang  gila.'  Musa  berkata:  'Tuhan  yang  menguasai  timur  dan barat dan apa yang ada di antara keduanya:  (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal.'" (QS. asy-Syu'ara': 23-28)

Allah  s.w.t  mengingatkan  dalam  surah  Thaha  sebahagian  dari  peristiwa pertemuan antara Fir'aun dan Nabi Musa. Allah s.w.t berfirman:

"Maka   datanglah   kamu   kedua   kepadanya        (Fir'aun)   dan   katakanlah: 'Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyeksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari  Tuhanmu.  Dan  keselamatan  itu  dilimpahkan  kepada  orang  yang mengikuti petunjuk. Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahawa seksa itu  (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.' Berkata Fir'aun: 'Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa.' Musa berkata: 'Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk  kejadiannya,  kemudian  memberinya  petunjuk.'  Berkata  Fir'aun: 'Maka  bagaimanakah  keadaan-keadaan  umat-umat  yang  dahulu?  Musa menjawab: 'Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab. Tuhan kami tidak akan salah dan tidak akan salah (pula) lupa.'" (QS. Thaha: 47-52)

Kita  perhatikan  bahawa  Fir'aun  tidak  bertanya  kepada  Nabi  Musa  tentang Tuhan Pengatur alam atau Tuhan Musa dan Harun dengan maksud bertanya sesungguhnya atau pertanyaan yang bermaksud untuk mengetahui kebenaran tetapi  perkataan  yang  dilontarkan  Fir'aun  semata-  mata  hanya  untuk mengejek. Nabi Musa as menjawabnya dengan jawapan yang sempurna dan mengena.  Nabi  Musa  berkata:  "Sesungguhnya  Tuhan  kami  adalah  Dia  yang memberi  sesuatu  ciptaannya  kemudian  Dia  membimbing  ciptaannya.  Dialah sang Pencipta. Dia menciptakan berbagi macam makhluk dan Dia juga yang membimbingnya  sesuai  dengan  kebutuhannya  sehingga  makhluk-makhluk tersebut  dapat  menjalani  kehidupan  dengan  baik.  Allah  s.w.t-lah  yang mengarahkan segala sesuatu; Allah s.w.t-lah yang menguasai segala sesuatu;
Allah  s.w.t-lah  yang  mengetahui  segala  sesuatu;  Allah  s.w.t-lah  yang menyaksikan  segala  sesuatu."  Al-Quran  al-Karim  mengungkapkan  semua  itu dalam ungkapan yang sederhana namun padat ertinya, yaitu dalam firman-Nya:

"Musa berkata: "Tuhan kami ialah  (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap  sesuatu  bentuk  kejadiannya,  kemudian  memberinya  petunjuk." (QS. Thaha: 50)

Kemudian  Fir'aun  bertanya, "lalu  bagaimana  keadaan  manusia-manusia yang hidup di abad-abad pertama di mana mereka tidak menyembah Tuhanmu ini?"

Fir'aun masih ingkar dan mengejek dakwah Nabi Musa. Nabi Musa menjawab: "bahawa masa-masa yang dahulu di mana mereka tidak menyembah Allah s.w.t adalah masalah yang semua itu berada di sisi Allah s.w.t. Atau dalam kata lain, semua  itu  diketahui  oleh  Allah  s.w.t.  Keadaan  di  masa-masa  yang  dahulu tercatat  dalam  kitab  Allah  s.w.t.  Allah  s.w.t  menghitung  apa  yang  mereka kerjakan di dalam kitab. Allah s.w.t tidak pernah lupa." Jawapan Nabi Musa tersebut  berusaha  menenangkan  Fir'aun  tentang  orang-orang  yang  hidup  di masa-masa pertama. Jadi Allah s.w.t mengetahui segala sesuatu dan mencatat apa saja yang dilakukan manusia dan Allah s.w.t tidak menyia-nyiakan pahala mereka.  Kemudian  Nabi  Musa  kembali  menyempurnakan  dan  menyelesaikan pembicaraannya tentang sifat Tuhannya:

"Yang  telah  menjadikan  bagimu  bumi  sebagai  hamparan  dan  yang  telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan.  Maka  Kami  tumbuhkan  dengan  air  hujan  itu  berjenis-jenis  dari tumbuh-tumbuhan.  Makanlah  dan  gembalakanlah  binatang-binatangmu. Sesungguhnya  pada  yang  demikian  itu,  terdapat  tanda-tanda  kekuasaan Allah  bagi  orang-orang  yang  berakal.  Dari  bumi (tanah)  itulah  Kami menjadikan kamu dan darinya Kami akan mengembalikan kamu dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain. " (QS. Thaha: 53-55)

Nabi  Musa  menarik  perhatian  Fir'aun  tentang  tanda-tanda  kebesaran  Allah s.w.t di alam semesta. Nabi Musa menunjukkan kepadanya bagaimana gerakan angin, hujan, dan tumbuh-tumbuhan. Kemudian Nabi Musa juga menunjukkan bagaimana pengaruh semua itu pada bumi. Musa memberitahu kepada Fir'aun bahawa Allah s.w.t menciptakan manusia dari tanah dan setelah itu Dia akan mengembalikan padanya dengan kematian lalu mengeluarkan manusia darinya di  hari  kebangkitan.  Jadi,  di  sana  terjadi  hari  kebangkitan  dan  pada  hari kiamat manusia akan menghadap kepada Allah s.w.t. Tidak ada seseorang pun yang  dikecualikan  dari  hal  itu.  Semua  hamba  Allah  s.w.t  akan  berdiri dihadapan-Nya pada hari kiamat, termasuk Fir'aun.

Musa  datang  kepada  Fir'aun  sebagai  pembawa  berita  gembira  dan  sebagai pemberi peringatan, tetapi peringatan dari Musa ini tidak membikin Fir'aun merenung dan mendapatkan pelajaran namun justru dialog antara dirinya dan Musa  semakin  menajam.  Bisa  dikatakan  bahawa  dialog  di  antara  mereka menjadi  pertentangan.  Ketajaman  dialog  mulai  menghangat.  Kemudian berubahlah bahasa dialog itu. Musa berusaha menyampaikan argumentasi yang sangat  kuat  kepada  Fir'aun.  Musa  berusaha  membawa  argumentasi  rasional tetapi Fir'aun berusaha keluar dari ruang lingkup dialog yang berdasarkan logik yang sehat.  Fir'aun  berusaha  menggunakan  dialog dalam  bentuk yang baru, yaitu suatu cara yang Musa tidak mampu lagi melawannya. Ia mulai menyerang Musa dan mengancamnya.

Fir'aun  menunjukkan  penentangannya  kepada  kebenaran  yang  dibawa  oleh Musa.  Fir'aun  acuh  tak  acuh  terhadap  dakwah  Nabi  Musa.  Fir'aun  mulai menyerang  peribadi  Musa.  Ia  mulai  mempersoalkan  pakaian  Musa  dan kedudukan sosialnya bahkan ia pun menyerang cara Musa berbicara. Setelah menghina Musa sedemikian rupa, Fir'aun sengaja memakai metode kekuatan mutlak.  Fir'aun  bertanya  kepada  Musa,  bagaimana  ia  berani  menentang penyembahan terhadap dirinya; bagaimana Musa menyembah selain dirinya; tidakkah Musa mengetahui bahawa Fir'aun adalah tuhan? Bagaimana Musa tidak mengetahui  hakikat  ini  padahal  ia  terdidik  di  istana  Fir'aun  dan  sangat mengenal lingkungan di sekitar Fir'aun? Setelah Fir'aun menyampaikan tentang ketuhanan-nya secara mendasar, ia bertanya kepada Musa, bagaimana Musa berani  menyembah  tuhan  selain  dirinya.  Ini  bererti  bahawa  Musa  ingin dimasukan ke dalam penjara. Tiada ketentuan di sisi kami bagi orang yang menyembah selain Fir'aun kecuali penjara adalah tempatnya:

"Fir'aun  berkata:  'Sungguh  jika  kamu  menyembah  Tuhan  selain  aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan.'" (QS. asy-Syu'ara': 29)

Musa   mengetahui   bahawa   argumentasi-argumentasi   rasional   tidak   lagi bermanfaat. Dialog yang tenang dan sehat berubah menjadi ejekan dan hinaan serta  pada  akhirnya  menjadi  ancaman  hukuman  penjara.  Musa  mengetahui bahawa  telah  tiba  waktunya  untuk  menunjukkan  mukjizat  yang  dibawanya. Setelah diancam akan dimasukan ke dalam penjara, ia berkata kepada Fir'aun:

"Musa  berkata:  'Dan  apakah  (kamu  akan  melakukan  ini)  kendatipun  aku tunjukkan kepadamu sesuatu (keterangan) yang nyata?'" (QS. asy- Syu'ara': 30)

Musa menantang kepada Fir'aun dan Fir'aun menerima tantangannya. Fir'aun ingin tahu sejauh mana kebenaran Musa.

"Fir'aun berkata: 'Datangkanlah sesuatu  (keterangan) yang nyata itu, jika kamu adalah termasuk orang-orang yang benar.'" (QS. asy- Syu'ara': 30-31)

Musa melemparkan tongkatnya di ruangan yang besar itu. Mula-mula Fir'aun menganggap  bahawa  tongkat  yang  dibawanya  jatuh  kerana  Musa  gementar menghadapinya.  Setelah  Fir'aun  meminta  padanya  bukti  atas  kebenaran dakwahnya, tiba-tiba tongkat yang menyentuh tanah itu berubah menjadi ular yang besar yang bergerak dengan cepat dan gesit. Ular itu menuju ke arah Fir'aun. Fir'aun tampak pucat kerana takut. Ia tampak gementar di kerusinya kemudian ia berteriak agar mereka menjauhkan ular itu darinya. Nabi Musa menghulurkan tangannya ke ular itu lalu ular itu kembali menjadi tongkat yang ada  di  tangannya  sebagaimana  semula.  Setelah  peristiwa  itu,  keheningan menyeliputi   istana   Fir'aun.   Nabi   Musa   kembali   menunjukkan   kepada orang-orang  yang  berdiri  di  sekitarnya,  mukjizatnya  yang  kedua.  Musa memasukkan tangannya di sakunya lalu mengeluarkannya. Tiba-tiba tangan itu menjadi putih seperti bulan; tangan itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya yang memenuhi penjuru istana. Akhirnya, semua orang yang hadir di situ merasakan kekaguman  yang  luar  biasa  sedangkan  Fir'aun  wajahnya  tampak  menghijau kerana saking takutnya.

Allah s.w.t berfirman:

"Maka Musa melemparkan tongkatnya, yang tiba-tiba tongkat itu (menjadi) ular  yang  nyata.  Dan  ia  menarik  tangannya  (dari  dalam  bajunya),  maka tiba-tiba tangan itu jadi putih (bersinar) bagi orang- orang yang melihatnya." (QS. asy-Syu'ara': 32-33)

Keheningan semakin menyelimuti istana Fir'aun. Pengaruh dua mukjizat yang dibawa oleh Nabi Musa tertanam pada jiwa orang-orang yang hadir di situ. Pertama-tama mereka merasakan ketakutan dalam diri mereka kemudian Nabi Musa  mengembalikan  tangannya  ke  sakunya  lalu  tangannya  kembali  seperti semula.

Fir'aun berkata: "Sekarang, pergilah kalian berdua. Nanti kita akan lanjutkan perbincangan kita." Musa memalingkan wajahnya dan keluar dari istana. Fir'aun tampak  terpukul  atas  peristiwa  itu.  Fikirannya  mulai  berputar-putar.  Ia membayangkan  apa  yang  terjadi  di  istananya  dan  di  wilayah  kekuasaannya seandainya berita tentang dua mukjizat itu tersebar di tengah-tengah manusia, lalu   manusia   mulai   membicarakan   tentang   Musa   dan   Harun.   Fir'aun mengeluarkan perintahnya agar orang- orang yang melihat peristiwa itu tidak membuka hal itu kepada masyarakat umum, tetapi para pembantu istana dan sebahagian dari Bani Israil menyaksikan dua peristiwa itu. Akhirnya, mulailah terjadi perbincangan di tengah-tengah masyarakat ramai tentang dua mukjizat itu. Fir'aun benar-benar terdiam ketika menghadapi dua mukjizat yang dibawa oleh Nabi Musa. Ketika Musa keluar dari istana Fir'aun yang sebelumnya merasa takut dan gementar, kini menjadi marah. Ia meluapkan kemarahan itu kepada menterinya dan para pembantunya. Tiba-tiba ia bersikap kasar kepada mereka tanpa sebab yang diketahui. Fir'aun memerintahkan mereka untuk keluar dari ruangannya dan meningggalkan dirinya sendirian.

Fir'aun berusaha untuk menghadapi masalah itu dengan lebih tenang. Fir'aun meminum  beberapa  gelas  dari  minuman  keras  tetapi  rasa  marahnya  belum hilang  juga.  Kemudian  ia  mengeluarkan  perintah  untuk  mengumpulkan orang-orang dekatnya dan semua para menteri di istana serta para pemimpin di Mesir. Fir'aun mengeluarkan perintahnya kepada Haman salah satu ketua para  menterinya  untuk  mengepalai  pertemuan  tersebut.  Kemudian  para pembesar  dari  kaum  Fir'aun  berkumpul.  Fir'aun  memasuki  ruang  pertemuan dan wajahnya tampak emosi. Jelas sekali Fir'aun tidak mahu menerima dengan mudah  adanya  tuhan  lain  yang  disembah  orang-orang  Mesir  selain  dirinya. Fir'aun cukup berbahagia ketika ia menguasai Mesir dari memerintah dengan semahunya.  Tiba-tiba,  ia  dikejutkan  dengan  kedatangan  Musa  yang  ingin menghancurkan  apa  saja  yang  telah  dibangunnya.  Musa  mengatakan  pada dirinya bahawa di sana ada Tuhan yang Esa yang tiada Tuhan lain selain-Nya di alam  semesta.  Ini  bererti  bahawa  Fir'aun  adalah  seorang  pembohong. Pemikiran  ini  menghantui  kepala  Fir'aun  sehingga  Fir'aun  menoleh  kepada ketua  para  menterinya  yaitu  Haman  akhirnya  pertemuan  bersejarah  itu diadakan.

Tidak  ada  seorang  pun  yang  berani  membuka  mulutnya.  Fir'aun  membuka pertemuan  itu  dengan  secara  tiba-tiba  ia  melontarkan  pertanyaan  kepada Haman: "Apakah aku seseorang pembohong wahai Haman?" Haman menunduk dan bertanya: "Siapa yang berani menentang Fir'aun?" Fir'aun berkata dengan marah:  "Musa."  Bukankah  ia  mengatakan  bahawa  ada  tuhan  lain  di  langit." Dengan mantap Haman menjawab: "Sungguh wahai tuanku, Musa berbohong." Fir'aun  berkata  dalam  keadaan  memutar  wajahnya  ke  arah  yang  lain:  "Aku mengetahui  bahawa  ia  berbohong."  Kemudian  Fir'aun  kembali  menoleh  ke Haman:

"Dan berkatalah Fir'aun: 'Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu,  (yaitu) pintu- pintu langit, supaya   aku   dapat   melihat   Tuhan   Musa   dan   sesungguhnya   aku memandangnya seorang pendusta.'" (QS. al-Mu'min: 36-38)

Fir'aun mengeluarkan perintah untuk membangun suatu bangunan yang kukuh dan tinggi di mana ketinggiannya mampu mencapai langit. Perintah Fir'aun itu berdasarkan  peradaban  Mesir  yang  lagi  maju  di  mana  mereka  cenderung membangun   bangunan   yang   spektakuler.   Namun   Fir'aun   lupa   pada aturan-aturan  teknik  pembangunan.  Meskipun  demikian,  Haman  bersikap munafik, padahal ia mengetahui kemustahilan membangun sesuatu bangunan semegah dan setinggi itu. Haman berkata: "Saya ingin melaksanakan perintah untuk mendirikan bangunan itu sesegera mungkin, tetapi wahai tuanku dan izinkanlah  aku  untuk  pertama  kalinva  aku  menentang  perintahmu.  Sungguh engkau tidak akan mendapati sesuatu pun di langit. Tidak ada di sana Tuhan selain dirimu." Fir'aun mendengar penolakan ketua para menterinya itu dengan sangat  puas,  seakan-akan  ia  mendengarkan  suatu  hakikat  yang  ditetapkan. Kemudian   dalam   perkumpulan   yang   terkenal   itu,   Fir'aun   melontarkan kata-katanya yang bersejarah:

"Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku." (QS. al-Qashash: 38)

Semua yang hadir di tempat itu menundukkan kepala tanda setuju. Di antara mereka terdapat dua orang atau tiga orang yang masih memiliki akal sehat. Ketiga  orang  itu  mengetahui  bahawa  sebenarnya  Fir'aun  adalah  seorang pembohong.  Meskipun  demikian,  mereka  membiarakan  kebohongan  itu  dan memilih apa yang disetujui oleh Fir'aun. Tentu persetujuan ini berakibat pada masyarakat Mesir yang harus membayar mahal hasil dari persetujuan itu. Para tentera Mesir, para pembesar istana, dan para dukun tunduk kepada kegilaan Fir'aun. Fir'aun berkata dengan maksud bertanya kepada para penasihatnya: "Apa yang kalian katakan tentang Musa?" Haman berkata: "Ia adalah seorang yang pembohong."

Salah seorang menteri yang lain berkata: "Saya kira ia adalah seorang yang gila." Sementara itu salah seorang dukun berkata: "  - Tampaknya ia khuatir mereka  akan  mencurigainya  jika  ia  tidak  mengatakan  sesuatu  pun  kepada mereka - saya kira ia terkena kegilaan." Fir'aun memutus pembicaraan mereka dengan  mengatakan:  "Sungguh  kalian  menggambarkan  Musa  macam-macam, namun kalian belum menjawab pertanyaanku. Apa sebenarnya maunya Musa? Apa  sebenarnya  persekongkolan  yang  disembunyikannya."  Para  penasihat terdiam kerana rasa takut dan sebagai bentuk kemunafikan terhadap Fir'aun.

Mereka  hanya  menunggu  Fir'aun  mengucapkan  kalimat-kalimat  tertentu  lalu mereka  menirukannya  dengan  mulut-mulut  mereka  layaknya  burung  beo. Setelah keheningan menyelimuti ruangan itu, Fir'aun berkata: "Aku kira bahawa Musa adalah salah satu tukang sihir yang hebat. Ia ingin mengeluarkan kalian dari  negeri  kalian  dengan  sihirnya.  Lalu  persekongkolan  apa  yang  kalian siapkan?"

Adalah hal yang maklum di rejim kekuasaan mutlak bahawa perkumpulan yang dihadiri oleh para pembesar dan para menteri untuk mengeluarkan pendapat sesama mereka bererti hanya sekadar untuk mengulang-ulang dan menerima keputusan  mutlak  dari  penguasa.  Para  penasihat  berkata  -  setelah  Fir'aun memberi mereka kesempatan untuk mengutarakan pendapat: "Sungguh benar apa  yang  dikatakan  oleh  Fir'aun.  Musa  adalah  seorang  tukang  sihir.  Kalau begitu,  masalahnya  telah  selesai.  Kita  akan  mengembalikan  Musa  dan saudaranya,  dan  kita  akan  menyebarkan  perintah  Fir'aun  di  Mesir  untuk menghadirkan tukang sihir. Jika para tukang sihir telah datang dan berdiri di hadapan Musa, maka mereka akan dapat membuktikan bahawa Musa memang tukang sihir dan mereka akan mampu mengalahkannya. Dengan cara demikian, kita dapat memperdayanya di hadapan orang-orang Mesir dan anak-anak Bani Israil."  Perundingan  bersejarah  itu  sepakat  untuk  melaksanakan  hal  itu. Sepuluh  orang  dari  pembantu  Fir'aun  keluar  dari  istana,  Fir'aun  dengan menunggangi  kenderaan  mereka  dan  mereka  segera  berpencar  di  seluruh penjuru  Mesir.  Kemudian  diumumkan  pada  hari  kedua  di  pasar-pasar  Mesir bahawa  seluruh  jago-jago  sihir  hendaklah  menuju  ke  istana  Fir'aun  untuk mendengarkan suatu perintah atau suatu urusan yang penting.

Fir'aun  memanggil  Nabi  Musa  dan  berusaha  mengancamnya  dan  menakutnakutkan tetapi Nabi Musa tampak tenang. Fir'aun berkata kepada Nabi Musa: "Sesungguhnya  engkau  seorang  tukang  sihir,  dan  aku  menetapkan  untuk menyingkap kedokmu di hadapan semua orang. Tidak lama lagi para tukang sihir  akan  datang."  Nabi  Musa  bertanya:  "Kapan  aku  akan  bertemu  dengan tukang  sihir  itu?"  Fir'aun  berkata:  "Di  sana  terdapat  suatu  pertemuan  atau acara yang sebentar lagi akan dimulai yang dihadiri oleh banyak orang. Yaitu hari di mana angin bertiup dengan sepoi-sepoi; hari di mana bumi berhias diri menyambut  kedatangan  musim  semi.  Sungguh  itu  suatu  pertemuan  yang menakjubkan  dan  engkau  akan  dikalahkan.  Sekarang  aku  beri  kesempatan kamu untuk mencabut dakwahmu. Aku memberikan kesempatan yang terakhir bagimu untuk menyelamatkan kehormatanmu."

Musa berkata dengan tidak memperhatikan perkataan Fir'aun yang terakhir:

"Kami sepakat atas pertemuan itu. Kami akan hadir di hari itu di mana manusia akan berkumpul di pagi hari." Fir'aun bertanya: "Kapan engkau akan datang?" Musa berkata: "Insya-Allah aku akan hadir di waktu fajar di permulaan siang."

Allah s.w.t berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah perlihatkan kepadanya (Fir'aun) tanda- tanda kekuasaan Kami semuanya, maka ia mendustakan dan enggan  (menerima kebenaran).  Berkata  Fir'aun:  'Adakah  kamu  datang  kepada  kami  untuk mengusir kami dari negeri kami  (ini) dengan sihirmu, hai Musa! Dan kami pun  pasti  akan  mendatangkan  (pula)  kepadamu  sihir  semacam  itu,  maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak  akan  menyalahinya  dan  tidak (pula)  kamu  di  suatu  tempat  yang pertengahan  (letaknya).'  Berkata  Musa:  "Waktu  untuk  pertemuan    (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalah naik.'" (QS. Thaha: 56-59)

Nabi Musa pergi dalam keadaaan tenang. Kemudian para utusan tukang sihir datang ke istana Fir'aun. Ketika semua berkumpul, Fir'aun memerintahkan agar mereka semua menemuinya. Ketika masuk menemui Fir'aun, para tukang sihir sujud  kepadanya.  Fir'aun  memerintahkan  mereka  untuk  berdiri,  kemudian Fir'aun mulai berjalan-jalan di antara mereka sambil mengamati wajah mereka dan pakaian mereka. Fir'aun tampak terdiam memikirkan sesuatu dan tiba-tiba ia berdiri dan berkata: "Wahai para tukang sihir, kami sekarang menghadapi masalah  yang  kecil  dan  kami  telah  memerintahkan  agar  kalian  dihadirkan untuk memecahkan masalah itu." Para tukang sihir itu menundukkan kepalanya dan  mereka  mendengarkan  dengan  hikmat.  Fir'aun  kembali  berkata:  "Salah seorang lelaki datang kepada kami dan ia mengaku utusan Allah s.w.t; seorang lelaki yang bernama Musa dan bersama saudaranya, Harun. Musa ini adalah tukang sihir yang mahir, lebih tangkas dan lebih hebat dari Harun. Oleh kerana itu,  kalian  harus mengalahkannya dengan  kekalahan  yang teruk sehingga ia tidak mampu lagi mengangkat kepalanya kerana rasa malu." Para tukang sihir tetap menundukkan kepalanya dan mereka terdiam. Fir'aun berkata: "Mengapa seseorang di antara kalian tidak bertanya kepadaku tentang sihirnya Musa." Salah seorang tukang sihir dengan tenang berkata: "Kami menunggu tuan yang agung   menceritakannya   kepada   kami.   Kami   tidak   ingin   memutus pembicaraanmu wahai tuan."

Dengan  nada  marah,  Fir'aun  berkata:  "Musa  melemparkan  tongkatnya  dan tiba-tiba  tongkatnya  itu  menjadi  ular  yang  sangat  besar  lalu  ia  mencabut tangannya   dan   tiba-tiba   tangannya   menjadi   putih   yang   menakjubkan orang-orang yang melihatnya." Tampak senyum manis menghiasi wajah- wajah para tukang sihir dan salah seorang mereka berkata: "Hendaklah hati Fir'aun tenang. Ini adalah permainan kuno; permainan tongkat yang berubah menjadi ular. Sesungguhnya itu hanya sekadar imaginasi yang menipu orang-orang yang melihatnya, yang seakan-akan ia bergerak padahal ia tetap di tempatnya."

Fir'aun berkata: "Aku tidak ingin untuk memasuki perdebatan sekitar masalah pembuatan sihir. Yang aku inginkan agar kalian mengalahkan Musa. Kami telah sepakat untuk bertemu pada hari ketika musim semi akan tiba. Masyarakat Mesir semuanya akan berkumpul. Mereka akan menyaksikan kalian saat kalian mengalahkannya. Oleh kerana itu, kalian harus dapat mengalahkannya."

Selesailah perkataan Fir'aun. Ia menunggu para tukang sihir meninggalkannya tapi mereka masih berdiri. Salah seorang mereka bertanya: "Mengapa tuan kita Fir'aun  tidak  berbicara  kepada  kita  tentang  urusan  yang  lebih  penting seandainya   kita   dapat   mengalahkan   Musa?"   Dengan   kehairanan   Fir'aun bertanya:  "Apa  sesuatu  yang  lebih  penting  itu?"  Salah  seorang  tukang  sihir berkata: "Tentu kami minta upah jika kami menang." Dengan tertawa, Fir'aun berkata: "Jangan khuatir, aku akan memuaskan kalian. Kalian akan menjadi orang-orang yang dekat. Kami akan mengadakan pekerjaan-pekerjaan baru di istana bagi para tukang sihir. Kalian jangan khuatir. Tenanglah kerana kalian akan menerima upah yang layak."

Fir'aun  tertawa  melihat  kepercayaan  para  tukang sihir kepada  diri  mereka, kemudian  ia  memerintahkan  agar  mereka  meninggalkan  tempatnya.  Lalu  ia sendiri menuju ke meja makan siang. Fir'aun duduk sambil makan. Ia berkata sambil menyantap paha kambing yang besar: "Semenjak Musa datang selera makanku terganggu. Namun sekarang, kehancuran Musa sudah dekat."

Allah s.w.t berfirman:

"Dan Musa berkata: 'Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari  Tuhan  alam  semesta,  wajib  atasku  tidak  mengatakannya  sesuatu terhadap  Allah,  kecuali  yang  hak.  Sesungguhnya  aku  datang  kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku.' Fir'aun menjawab: 'Jika benar kamu membawa sesuatu  bukti,  maka  datangkanlah  bukti  itu  jika  (betul)  kamu  termasuk orang-orang yang benar.' Dan dia mengeluarkan tangannya, maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya. Pemuka-pemuka kaum Fir'aun berkata: 'Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai, yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu dari  negerimu.' (Fir'aun  berkata):  'Maka  apakah  yang  kamu  anjurkan?' Pemuka-pemuka  itu  menjawab:  'Beritahulah  ia  dan  saudara-saudaranya serta  kirimlah  ke  kota-kota  beberapa  orang  yang  akan  mengumpulkan (ahli-ahli sihir), supaya mereka membawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai.' Dan beberapa ahli sihir telah datang kepada Fir'aun mengatakan: '(Apakah)  sesungguhnya  kami  akan  mendapat  upah,  jika  kamilah  yang menang Fir'aun menjawab: 'Ya dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku).'" (QS. al-A'raf: 104-114)

Kemudian datanglah hari yang dijanjikan. Orang-orang berbondong- bondong keluar dari rumah. Mereka membicarakan tentang pertemuan antar Nabi Musa dan Fir'aun. Mereka menuju ke tempat perayaan sejak pagi hari. Tidak ada seorang pun di Mesir yang tidak mengetahui tentang peristiwa itu. Orang-orang begitu gembira ketika para tukang sihir itu datang sebagaimana mereka juga gembira ketika melihat Fir'aun datang, namun keheningan menyelimuti tempat itu ketika Nabi Musa dan Nabi Harun datang. Tempat perayaan itu diadakan di tempat  terbuka  yang  hanya  ditutupi  oleh  payung  Fir'aun  yang  melindungi kepalanya dari terik matahari. Fir'aun berdiri di tengah-tengah tenteranya. Ia memakai  emas  dan  permata.  Sementara  itu,  Nabi  Musa  berdiri  dengan menundukkan kepalanya dalam keadaan mengingat Allah s.w.t.

Keadaan  saat  itu  benar-benar  hening.  Kemudian  para  tukang  sihir  maju menemui Musa. Mereka berkata kepada Musa: "Apakah engkau yang pertama kali  melempar  atau  kami  yang  pertama  kali  melempar."  Musa  berkata: "Kalianlah  yang  pertama  kali  melempar."  Para  tukang  sihir  berkata:  "Demi kemuliaan Fir'aun, sesungguhnya kami akan menang." Musa berkata: "Celaka kalian, janganlah kalian membuat dusta kepada Allah s.w.t nescaya Dia akan mendatangkan seksa bagi kalian." Sebahagian ahli hakikat berkata: "Nabi Musa menoleh dan kemudian ia melihat Jibril di sebelah kanannya." Jibril berkata kepadanya:  "Wahai  Musa,  hendaklah  kamu  bersikap  sopan  kepada  wali-wali Allah s.w.t." Musa berkata dalam dirinva: "Mereka para tukang sihir itu datang dengan  maksud  menyimpangkan  agama  Fir'aun."  Jibril  kembali  berkata: "Bersikap  lembutlah  terhadap  wali-wali  Allah  s.w.t.  Mereka  saat  ini  sampai salat Ashar berada di sisimu dan setelah salat Ashar mereka akan berada di syurga."

Para tukang sihir itu mulai melemparkan tongkat-tongkat mereka dan tali-tali mereka. Tiba-tiba arena itu dipenuhi dengan ular-ular. Mereka menipu dan menyihir pandangan orang-orang yang melihatnya. Orang- orang yang melihat sihir  itu  merasa  takut  kerana  mereka  mendatangkan  sihir  yang  besar. Orang-orang  merasa  gembira  dan  Fir'aun  pun  menampakkan  senyumnya.  Ia berkata dalam dirinya: Sungguh hari ini adalah hari pembalasan atas Musa. Mukjizatnya  berupa  tongkat  yang  ada  di  tangannya  yang  dapat  berubah menjadi ular, sekarang Fir'aun menghadirkan kepadanya seluruh tukang sihir di mana tongkat-tongkat dan tali-tali yang ada di tangan mereka pun berubah menjadi ular. Senyuman Fir'aun pun semakin melebar.

Nabi Musa memperhatikan tali-tali tukang sihir dan tongkat-tongkat mereka. Ia merasa takut. Nabi Musa ingat apa yang dikatakan oleh Jibril dan ia mulai merasakan ketakutan. Bagaimana mungkin para tukang sihir itu akan masuk syurga dan mereka akan menjadi wali-wali Allah s.w.t? Nabi Musa merasakan semua itu, namun tiada seorang pun yang mengetahui hakikat pemikiran yang terlintas  dalam  benak  Nabi  Musa  saat  ia  berdiri  dengan  bajunya  yang sederhana bersama saudaranya di hadapan kumpulan manusia yang banyak dari para pengawal dan tentera Fir'aun. Ketika Musa merasakan ketakutan tersebut, maka cahaya yang terang menembus dalam dirinya dan Allah s.w.t berkata kepadanya:

"Kami berkata: 'Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang).  Dan  lemparkanlah  apa  yang  ada  di  tangan  kananmu, nescaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang." (QS.Thaha: 68-69)

Musa merasa senang ketika mendengar Allah s.w.t menenangkannya. Nabi Musa dapat  mengendalikan  dirinya,  kemudian  beliau  mengangkat  tongkatnya  dan melemparkannya. Sebelum tongkat itu menyentuh tanah, tiba-tiba terjadilah suatu  mukjizat.  Orang-orang  dan  para  tukang  sihir  Fir'aun  bahkan  Fir'aun sendiri  menyaksikan  sesuatu  yang  belum  pernah  mereka  saksikan  di  dunia. Biasanya   seorang   tukang   sihir   dapat   menipu   pandangan   manusia   dan memperdaya mereka seolah-olah ada ular yang bergerak padahal ia tetap di tempatnya. Tetapi apa yang terjadi saat itu adalah sesuatu yang benar-benar berbeza.  Belum  sampai  tongkat  Nabi  Musa  menyentuh  tanah  sehingga  ia berubah menjadi ular yang besar dan sangat gesit.

Tiba-tiba ular ini menuju ke tali-tali tukang sihir dan tongkat-tongkat mereka yang  bergerak  dan  ia  mulai  memakannya  satu  persatu.  Tongkat  Nabi  Musa memakan  tali-tali  tukang  sihir  dan  tongkat-tongkat  mereka  dengan  cepat. Belum berselang beberapa minit sehingga arena itu kosong dari tali-tali tukang sihir dan tongkat-tongkat mereka. Tongkat-tongkat dan tali-tali tukang sihir tersembunyi dalam perut tongkat Nabi Musa. Dan bergeraklah ular yang besar menuju Nabi Musa lalu beliau menghulurkan tangannya dan tiba-tiba ular itu berubah menjadi tongkat. Para tukang sihir mengetahui bahawa mereka bukan di hadapan seorang penyihir. Mereka sebenamya adalah tokoh-tokoh sihir dan para pakar dalam hal itu di zaman mereka, tetapi apa yang mereka saksikan saat ini bukan termasuk sihir. Itu adalah mukjizat dari Allah s.w.t.

Akhirnya, para tukang sihir itu sujud di atas tanah. Mereka berkata: "Kami beriman kepada Tuhan Pengatur alam semesta. Tuhan yang diyakini oleh Musa dan Harun." Orang-orang Mesir dan anak-anak Bani Israil menyaksikan mukjizat yang mengagumkan ini. Mereka melihat bagaimana tukang sihir-tukang sihir Fir'aun sujud kepada Musa dan Harun. Fir'aun menyaksikan bahawa bola itu kini berada di tangan Musa dan Harun. Lalu ia bangkit dari duduknya dan berteriak di  depan  tukang  sihir:  "Bagaimana  kalian  beriman  kepadanya  sebelum  aku memberi izin kepada kalian." Para tukang sihir berkata: "Untuk beriman tidak perlu izin." Fir'aun berkata: "Kalau begitu ini adalah persekongkolan yang jelas. Sesungguhnya Musa adalah guru kalian yang mengajari kalian sihir. Sungguh tangan-tangan kalian dan kaki-kaki kalian akan diputus dan kalian akan disalib di pohon kurma. Sungguh ini adalah persekongkolan yang jelas."

Para tukang sihir berkata: "Lakukan apa saja yang engkau inginkan, hai Fir'aun. Kami tidak memilihmu dan kami tidak mengutamakanmu atas mukjizat Ilahi ini.  Sesungguhnya  kami  beriman  kepada  Tuhan  kami  agar  Dia  mengampuni kami  dan  menghapus  kesalahan-kesalahan  kami.  Apa  yang  engkau  berikan terhadap kami adalah sesuatu yang sedikit, dan apa yang ada di sisi Allah s.w.t lebih baik dan lebih abadi. Seandainya engkau menyeksa kami dan membunuh kami  dan  menyalib  kami,  maka  engkau  hanya  dapat  menyeksa  kami  di kehidupan dunia ini. Tentu kehidupan dunia tidak dapat dibandingkan dengan kehidupan  akhirat.  Kami  hanya  ingin  mendapatkan  pengampunan  dari  Allah s.w.t  dan  memasuki  syurga."  Kemudian  Fir'aun  mengeluarkan  perintahnya untuk menyalib semua tukang sihir. Ketika menyaksikan peristiwa tersebut, orang-orang  menjadi  ketakutan.  Kemudian  Nabi  Musa  dan  Nabi  Harun meninggalkan  tempat  itu  dan  Fir'aun  kembali  ke  istananya.  Allah  s.w.t menceritakan  dalam  surah  al-A'raf  apa  yang  dialami  tukang  sihir  dan  Musa dalam firman-Nya:

"Ahli-ahli sihir berkata: 'Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu,   ataukah   kami   yang   akan   melemparkan?'   Musa   menjawab: 'Lemparkanlah (lebih dahulu)! Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan  sihir  yang  besar (menakjubkan).  Dan  Kami  mewahyukan kepada Musa: 'Lemparkanlah tongkatmu!' Maka sekoyong-koyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. kerana itu nyatalah yang benar dan gagallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Dan ahli-ahli sihir itu serta merta
meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata: 'Kami beriman kepada Tuhan  semesta  alam,  (Yaitu)  Tuhan  Musa  dan  Harun.  Fir'aun  berkata: 'Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?' Sesungguhnya (perbuatan)  ini  adalah  suatu  muslihat  yang  telah  kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya darinya; maka kelah kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini); sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik,  kemudian  sungguh-  sungguh  aku  akan  menyalib  kamu  semuanya. Ahli-ahli sihir itu menjawab: 'Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali. Dan  kamu  tidak  membalas  dendam  dengan  menyeksa  kami,  melainkan kerana kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.'  (Mereka berdoa): 'Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).'" (QS. al-A"raf: 115-126)

Para tukang sihir Mesir berubah menjadi Muslim dan mempercayai ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa. Mereka beriman kepada Allah s.w.t. Akhirnya, mereka dinaikkan   di   batang-batang   pohon   kurma   untuk   disalib   dan   dipotong tangan-tangan mereka dan kaki-kaki mereka. Mereka meminta kepada Allah s.w.t agar mereka dimatikan sebagai orang-orang Muslim.

Kemudian Musa memahami apa yang diucapkan oleh Jibril as: Mereka sejak saat ini sampai salat Ashar di sisimu dan setelahnya mereka berada di syurga. Ketika memasuki waktu Ashar tubuh para tukang sihir itu berlumuran darah. Mereka disalib oleh para tentera Fir'aun. Fir'aun menghadapi masalah baru. Fir'aun mengadakan serangkaian pertemuan- pertemuan penting di istananya. Fir'aun  memanggil  penanggung  jawab  tentera  dan  pasukan.  Fir'aun  juga memanggil apa saat ini dinamakan dengan kepala intelejen. Bahkan Fir'aun juga memanggil para menteri dan para penjabat serta tukang-tukang dukun. Jadi,  Fir'aun  memanggil  semua  yang  mempunyai  kekuatan  untuk  mengubah jarum sejarah.

Fir'aun  bertanya  kepada  kepala  intelejennya:  "Apa  yang  dikatakan  orang-orang?" Ia berkata: "Anak buahku telah kusebar di antara khalayak dan mereka mendapat informasi bahawa Musa dapat memenangkan perlumbaan itu kerana ia berhasil membikin suatu konspirasi bersama para tukang sihir." Kemudian Fir'aun bertanya kepada salah seorang ketua keamanan: "Apa yang terjadi pada jasad-jasad tukang sihir?" Ia berkata: "Anak buahku menggantunginya di tempat umum dan di pasar-pasar untuk menakuti manusia dan kami sebarkan berita bahawa Fir'aun akan membunuh setiap orang yang memiliki persekongkolan." Lalu  Fir'aun  bertanya  kepada  komandan  pasukan:  "Apa  yang dikatakan  oleh pasukan?"  Ia  menjawab:  "Mereka  menginginkan  agar  mendapatkan  perintah untuk  bergerak  di  tempat  mana  pun  yang  ditentukan  oleh  Fir'aun."  Fir'aun berkata: "Belum datang giliran pasukan maka akan datang gilirannya."

Fir'aun  kemudian  terdiam.  Lalu  Haman  salah  seorang  ketua  para  menteri bergerak dan mengangkat tangannya dan ia mulai meminta untuk berbicara, dan  Fir'aun  mengizinkan  kepadanya.  Haman  berkata:  "Apakah  kita  akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerosakan di muka bumi dan mereka  mengalihkan  ibadah  kepada  selainmu?"  Fir'aun  berkata:  "Sungguh engkau  dapat  membaca  fikiranku  wahai  Haman.  Kita  akan  membunuh anak-anak mereka dan akan mempermalukan perempuan-perempuan mereka. Aku memiliki kekuasaan di atas mereka."

Pasukan  Fir'aun  pergi  untuk  membunuh  anak-anak  laki  dari  Bani  Israil  dan menodai kehormatan wanita-wanita mereka, serta memenjarakan siapa pun yang  menentang.  Musa  berdiri  menyaksikan  apa  yang  terjadi  tanpa  mampu turut  campur  dan  tanpa  mampu  mencegahnya.  Yang  beliau  lakukan  hanya memerintahkan kaumnya untuk bersabar. Beliau memerintahkan mereka untuk meminta pertolongan kepada Allah s.w.t dan bersabar atas segala ujian. Beliau menjadikan para tukang sihir sebagai teladan bagi mereka di mana tukang sihir Mesir itu mampu menahan derita di jalan Allah s.w.t tanpa berkeluh kesah. Nabi  Musa  memberitahu  mereka  bahawa  tentera-tentera  Fir'aun  berbuat aniaya  di  muka  bumi  yang  seakan-akan  bumi  adalah  milik  khusus  mereka. Sebenarnya  Allah  s.w.t  akan  mewariskan  bumi  kepada  orang-orang  yang bertakwa.

Kemudian intimidasi yang dilakukan Fir'aun sangat mempengaruhi jiwa Bani Israil  sehingga  mereka  merasakan  kekalahan  dan  pesimis.  Mereka  berkata kepada Musa: "Wahai Musa kami sangat menderita sebelum kedatanganmu dan sesudah  kedatanganmu,  anak-anak  dibunuh  sebelum  kedatanganmu  dan sesudah  kedatanganmu." Seakan-akan  mereka  berkata  kepada  Musa  bahawa keberadaanmu tidak memberikan manfaat sedikit pun. Kami tetap merasakan kesendirian.  Musa  menolak  kebodohan  mereka  ini.  Ia  memberitahu  mereka bahawa  Allah  s.w.t  akan  menghancurkan  musuh-musuh  mereka,  kemudian Allah  s.w.t  akan  menjadikan  bumi  dikuasai  oleh  mereka.  Tetapi  lagi-lagi mereka tetap mengadu kepada Musa dan tampak bahawa mereka tidak kuat lagi menahan penderitaan yang mereka alami.

Musa  menghadapi  keadaan  yang  sulit.  Beliau  berusaha  melawan  kemarahan Fir'aun dan konspirasinya. Pada saat yang sama, Nabi Musa mendengar keluhan kaumnya. Di tengah-tengah keadaan yang demikian, Qarun bergerak. Qarun adalah seorang putera Bani Israil. Ia berasal dari kaum Musa tetapi ia justru menentang Musa. Kekayaannya dan status sosialnya menjadikannya lebih dekat kepada rejim Fir'aun. Allah s.w.t menceritakan kepada kita tentang kekayaan Qarun.  Allah  s.w.t  berkata  kepada  kita  bahawa  kunci-kunci  kamar  yang menyimpan  kekayaannya sangat  sulit dipikul oleh sekelompok laki-laki  yang kuat  sekalipun.  Seandainya  kita  ingin  mengetahui  kunci-kunci  kekayaan  ini yang sedemikian rupa, maka kita dapat membayangkan kekayaan itu sendiri. Qarun  memiliki  berbagai  macam  kekayaan  dan  dalam  jumlah  yang  banyak.
Bahkan saking kayanya, pelana kudanya terbuat dari kulit yang dihiasi oleh perak dan emas.

Jika  Qarun  keluar  dengan  membawa  pesona  dunia  yang  diikuti  oleh rombongannya dan disinari oleh matahari, maka emas-emas yang dibawanya tampak menyala di bawah sengatan matahari. Pemandangan demikian sangat mengagumkan bagi orang-orang yang mencintai dunia. Kekayaan yang dimiliki Qarun  membuatnya  bersikap  angkuh  sehingga  tidak  mudah  baginya  untuk menerima   nasihat.   Tampak   bahawa   kekayaannya   dan   kesombongannya membuatnya merasa bergembira, sehingga tertawanya Qarun menjadi tertawa yang  paling  terkenal  di  kalangan  Bani  Israil,  dan  kebenarannya  menyaingi kebenaran Fir'aun dan Haman. Kedua orang itu (Fir'aun dan Haman) menguasai Mesir secara keseluruhan, sedangkan Qarun hanya mengusai sebahagian dari Mesir.

Orang-orang yang berakal dari kaumnya menasihatinya agar ia berfikir sejenak tentang akhiratnya, dan barangkali mereka berkata kepadanya: "Sesungguhnya tak seorang pun menasihatimu untuk meninggalkan dunia secara keseluruhan dan  menempuh  jalan  orang-orang  yang  zuhud  tetapi  mereka  menasihatimu agar  engkau  tidak  melupakan  bahagianmu  dari  dunia.  Sebagaimana  mereka menasihatimu  agar  jangan  sampai  engkau  melupakan  bahagianmu  dari akhirat."

Qarun hanya merasa puas dengan bahagiannya dari dunia. Imaginasi akalnya mengatakan bahawa kekayaan ini datang kerana usaha kerasnya sebagaimana ia menduga kekayaannya adalah tanda bahawa Allah mencintainya. Bahkan ia mengira  bahawa  ia  lebih  utama  dan  lebih  mulia  dari  Musa.  Musa  adalah seorang  yang  fakir  sedangkan  Qarun  adalah  seorang  yang  kaya,  maka bagaimana seorang yang fakir yang tidak memakai satu pun gelang dari emas dapat memperoleh kedudukan yang mulia di sisi Allah dibandingkan dengan seorang  yang  kaya  yang  mampu  membuat  pelana  kudanya  dari  emas. Demikianlah pandangan Qarun dan Fir'aun terhadap Musa.

Allah s.w.t berfirman:

"Bukankah aku lebih baik daripada orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?" (QS. az-Zukhruf: 52)

Demikianlah  pernyataan  Fir'aun  kepada  Musa.  Terdapat  kesesuaian  antara pendapat Fir'aun dan Qarun terhadap Musa. Sesuai dengan kedudukan sosial dan  kekayaannya,  Qarun  menjadi  sahabat  Fir'aun  dan  mendukung  rejim kekuasaannya. Bukan hanya Qarun, Fir'aun dan Haman yang menjadi tawanan khayalan ini, bahkan kaum Fir'aun pun memiliki pendapat yang sama. Yakni, bagi  orang-orang  Mesir,  Musa  hanya  sekadar  seorang  tukang  sihir  yang mengalahkan  jaguh-jaguh  sihir  lainnya.  Namun  ini  tidak  bererti  bahawa masyarakat  Mesir  tidak  memiliki  keutamaan  sedikit  pun.  Di  tengah-tengah masyarakat Mesir masih terdapat orang yang beriman kepada Nabi Musa namun
ia menyembunyikan keimanannya kerana khuatir terhadap kejahatan Fir'aun.

Di  sana  juga  ada  orang  yang  bertanya-tanya  dengan  kebodohan:  Jika  Allah s.w.t memang mencintai Musa lalu mengapa ia dijadikan seorang yang fakir. Qarun menjadi fitnah atau cubaan di tengah-tengah kaumnya dan juga bagi orang-orang  Mesir.  Ketika  Qarun  keluar  dengan  membawa  pesona  dunianya maka orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata:

"Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: 'Moga- moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar." (QS. al-Qashash: 79)

Sedangkan orang-orang yang berakal sehat - biarpun jumlah mereka sedikit -mereka  memandang  bahawa  kekayaan  Qarun  yang  begitu  luar  biasa  tidak bererti sedikit pun di sisi Allah s.w.t. Allah s.w.t tidak memandang kekayaan yang banyak jika  jiwa  manusia  menjadi  gelap  kerananya.  Di  tengah-tengah keadaan   yang   demikian   sulit,   Nabi   Musa   menghadapi   Qarun   yang menentangnya. Musa sebagai seorang Nabi mesti menunjukkan sikap yang baik dan  kesucian  yang  agung.  Tampaknya  Qarun  sepakat  dengan  Fir'aun  untuk berusaha  menjatuhkan  Musa  di  depan  pengikutnya  dengan  tuduhan  yang berlawanan dengan kesuciannya.

Akhirnya, pada suatu hari Nabi Musa dikejutkan dengan suatu tuduhan di mana ada seorang wanita yang menuduhnya berbuat tidak senonoh kepadanya dan mengatakan bahawa Musa pernah tidur bersamanya kelmarin. Kami kira Nabi Musa sangat kaget dengan tuduhan ini dan beliau tidak mengetahui apa yang dikatakannya  atau  bagaimana  beliau  membela  dirinya  menghadapi  tuduhan seperti  itu.  Kemungkinan  besar  beliau  salat  dan  menghadap  Allah  s.w.t. Kemudian beliau menemui wanita itu dan bertanya, mengapa ia menuduhkan padanya sesuatu yang tidak benar. Tiba-tiba wanita itu menangis dan meminta ampun kepada Musa. Ia memberitahu Musa bahawa Qarun memberinya wang sebagai imbalan atas fitnah yang ditebarkannya terhadap Musa. Mendengar itu, Musa mendoakan buruk buat Qarun. Kemudian Allah s.w.t berkehendak untuk mendatangkan mukjizat di saat yang tepat yang menjelaskan kepada manusia bahawa  Dia  Maha  kuasa,  Maha  kuat,  dan  Maha  Perkasa,  dan  bahawa  harta hanya  sebahagian  ujian  dan  fitnah,  bukan  sebagai  suatu  keutamaan  yang dengannya manusia dapat dinilai.

Mukjizat   yang  Allah   s.w.t  turunkan   adalah   membinasakan   Qarun   dan menenggelamkan  rumahnya  dan  hartanya.  Qarun  keluar  untuk  menemui kaumnya dengan menampakkan pesona dunianya. Lalu bumi terbelah di bawah kakinya dan Qarun pun tersungkur di bumi. Kami tidak mengetahui apakah itu gempa  yang  pertama  kali  terjadi  atau  itu  adalah  gempa  yang  Allah  s.w.t perintahkan kepada bumi untuk terjadi. Yang kita ketahui adalah bahawa bumi terbelah dan ia menelan Qarun. Bumi menenggelamkan istana-istana Qarun, hewan-hewan  ternaknya,  emasnya,  peraknya  dan  semua  kekayaannya  serta orang dekatnya.

Sebahagian  dongeng  mengatakan  bahawa  itu  terjadi  di  Fuyum,  dan  danau Qarun  adalah  yang  dikenal  orang-orang  Mesir  dengan  nama  ini.  Ia  adalah tempat  yang dihuni  oleh  Qarun  dan  menjadi  tempat  istananya  dan  tempat menyimpan  hartanya.  Alhasil,  Al-Quran  al-Karim  tidak  menentukan  tempat datangnya azab ini dan tidak juga menyebut kapan itu terjadi. Al-Quran hanya menceritakan  apa  yang terjadi.  Tentu  penentuan  tempat  dan  waktu  bukan sesuatu yang penting tetapi yang penting adalah pelajaran yang terjadi itu.

Allah s.w.t berfirman dalam surah al-Qhashash:

"Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap   mereka,   dan   Kami   telah   menganugerahkan   kepadanya perbendaharaan  harta  yang  kunci-kuncinya  sungguh  berat  dipikul  oleh sejumlah   orang   yang   kuat-kuat. (Ingatlah)   ketika   kaumnya   berkata kepadanya:  'Janganlah  kamu  terlalu  bangga;  sesungguhnya  Allah  tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.' Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah  (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu,  dan janganlah kamu berbuat kerosakan di  (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerosakan. Qarun berkata: 'Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, kerana ilmu yang ada padaku.' Dan apakah ia tidak mengetahui, bahawasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidakkah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: 'Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa  yang  telah  diberikan  kepada  Qarun;  sesungguhnya  ia  benar-benar mempunyai  keberuntungan  yang  besar.  Berkatalah  orang-orang  yang dianugerahi ilmu:  'Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih  baik  bagi  orang-orang  yang  beriman  dan  beramal  saleh,  dan  tidak diperoleh  pahala  itu,  kecuali  orang-  orang  yang  sabar.'  Maka  Kami benamkanlah  Qarun  beserta  rumahnya  ke  dalam  bumi.  Maka  tidak  ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah, dan tiadalah  ia  termasuk  orang-  orang  (yang  dapat)  membela  (dirinya).  Dan jadilah orang-orang yang kelmarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu, berkata:  "Aduhai  benarlah  Allah  melapangkan  rezeki  bagi  siapa  yang  Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan kurnia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula).  Aduhai  benarlah,  tidak  beruntung  orang-  orang  yang  mengingkari (nikmat Allah).' Negeri akhirat itu.  Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerosakan di (muka) bumi. Dan kesudahan  (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. "  (QS. al-Qashash: 76-83)

Orang-orang  dahulu  banyak  membicarakan  ilmu  ini  yang  Qarun  mengklaim bahawa ia diberi ilmu itu. Sebahagian mereka mengatakan bahawa itu adalah ilmu kimia yang dengannya Qarun mampu mengubah tembaga menjadi emas. Sebahagian  lagi  mereka  mengatakan  bahawa  Qarun  mengetahui  ismullah al-A'zham  (nama Allah yang agung) lalu ia menggunakannya untuk mengubah bahan-bahan itu menjadi emas. Tetapi orang-orang yang berakal dari kalangan orang-orang  dahulu  membantah  hal  itu.  Menurut  mereka,  Qarun  tidak mengetahui ismullah al-A'zham. Qarun adalah seorang munafik. Mereka juga tidak percaya bahawa Qarun dapat membuat racikan kimia.

Kami  kira,  ini  semua  adalah  dongengan  semata  yang  tidak  layak  untuk menjelaskan  sebab-sebab  kekayaannya.  Menurut  hemat  kami,  Qarun  adalah seorang yang lalim di mana  ia melakukan pekerjaan yang tidak sehat. Dan boleh jadi ia memanfaatkan persahabatan dengan Fir'aun untuk mendapatkan fasiliti-fasiliti dari Fir'aun. Dan kerana persahabatan itu, ia berani menentang Musa. Qarun melakukan kejahatan di sana-sini dan kerananya ia mengatakan bahawa harta yang diperolehnya adalah hasil dari kerja kerasnya dan ilmunya. Qarun  telah  membuat  kebohongan  dan  kelaliman  dan  ia  mendapatkan kekayaan dengan cara-cara yang tidak sehat.

Penyimpangan dari keimanan kepada Allah s.w.t meskipun sehujung rambut pada akhirnya menyeret manusia kepada sikap kesombongan. Manusia itu akan menentang kebenaran dan ia tidak mampu lagi mengikuti kebenaran sehingga pada gilirannya sesuatu yang bohong pun akan menjadi laksana sesuatu yang realistik dan tidak perlu lagi dipersoalkan. Belum lama Qarun mendapatkan seksa  sehingga  orang-  orang  mukmin  yang  mengikuti  Nabi  Musa  merasakan kelapangan yang sebelumnya mereka merasa tertindas. Orang-orang Mesir dan anak-anak Israil menyaksikan mukjizat ini.

Akhirnya,  pertentangan  antara  Fir'aun  dan  Nabi  Musa  mencapai  puncaknya. Fir'aun  meyakini  bahawa  Musa  sangat  mengancam  kekuasaannya.  Musa -sebagaimana  nabi-nabi  yang  lain           -  membawa  ajarannya  dengan  penuh kelembutan  tetapi  ketika  ia  berhadapan  dengan  puncak  kejahatan  dan sumber-sumber    yang    lalim    maka    ia    tidak    segan-    segan    untuk menghancurkannya.  Nabi  Musa  menantang  sumber  kejahatan  di  zamannya, yaitu Fira'un. Kemudian Fir'aun melontarkan ide untuk membunuh Musa. Fir'aun mengira   bahawa   membunuh   Musa   adalah   cara   satu-satunya   untuk menyelesaikan masalahnya:

"Dan  berkata  Fir'aun (kepada  pembesar-pembesarnya):  'Biarkanlah  aku membunuh  Musa  dan  hendaklah  ia  memohon  kepada  Tuhannya,  kerana sesungguhnya aku khuatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerosakan di muka bumi.'" (QS. al-Mu'min: 26)

Kita perhatikan bahawa Fir'aun berusaha untuk mencegah orang-orang yang menuju  kebenaran;  Fir'aun  berusaha  memberhentikan  tugas  para  nabi;  ia berusaha menyesatkan manusia dengan mengatakan bahawa justru Musa yang ingin menyesatkan mereka; ia mengusulkan kepada para menterinya dan para pembesarnya   untuk   membiarkannya   membunuh   Musa.   Tentu   ia   tidak membunuh   Musa   dengan   tangannya   sendiri   tetapi   ia   hanya   sekadar melontarkan   fikiran   untuk   membunuhnya   di   depan   mereka   dan   yang melaksanakan  hal  tersebut  adalah  para  pejabat  istana.  Kami  kira  Haman sangat berperan dalam pelaksanaan ide ini. Kemudian terbentuklah kelompok orang-orang munafik yang mendukung ide Fir'aun ini.

Ide tersebut hampir segera dibenarkan kalau tidak ada seorang dari keluarga Fir'aun. Ia adalah seorang lelaki dari kalangan pejabat negara yang terpandang. Al-Quran tidak menyebutkan namanya kerana namanya tidak begitu penting dan begitu juga ia tidak menyebutkan sifatnya kerana sifatnya tidak begitu penting. Al-Quran hanya    menceritakan    keadaan    lelaki    ini    yang menyembunyikan  keimanannya.  Ia  berbicara  di  tengah-tengah  perkumpulan yang   di   situ   disampaikan   ide   untuk   membunuh   Musa.   Kemudian   ia menghentikan  ide  gila  itu  dan  berusaha  meruntuhkan  ide  itu.  Ia  berkata bahawa  Musa  hanya  mengatakan  bahawa  Allah  s.w.t adalah  Tuhannya,  lalu untuk mendukung penyataannya itu ia membekali dirinya dengan bukti-bukti yang jelas yang menunjukkan bahawa ia benar-benar seorang rasul. Kemudian
ada  dua  kemungkinan  dan  tidak  ada  kemungkinan  ketiga:  pertama  bahawa Musa adalah seorang pembohong, kedua ia seorang yang benar. Jika ia seorang pembohong maka kebohongannya itu akan kembali kepada dirinya sendiri dan ia tidak melakukan sesuatu yang kerananya ia harus dibunuh. Namun jika ia benar lalu kita membunuhnya maka gerangan apa yang akan menjamin kita dari  keselamatan  terhadap  azab  yang  dijanjikannya?  Seorang  mukmin  yang menyembunyikan  keimanannya  itu  berkata  kepada  kaumnya:  "Sesungguhnya hari ini kita berada di tempat-tempat kekuatan sebagaimana yang dialami oleh Qarun di mana ia memiliki kekayaan dan kekuatan kemudian terjadilah apa yang terjadi padanya. Siapakah yang akan menyelamatkan kita dari azab Allah s.w.t ketika datang? Siapakah yang dapat menolong kita dari seksaan-Nya jika
menimpa  kita?  Tindakan  melampaui  batas  kita  dan  usaha  kita  untuk membohongkan kebenaran telah membuat kita rugi."

Perkataan lelaki mukmin itu memuaskan para hadirin. Orang lelaki itu adalah seseorang yang tidak begitu menampakkan loyalitinya kepada Fir'aun. Ia bukan dari kalangan pengikut Musa. Tampaknya ia berbicara dengan motivasi untuk mempertahankan kekuasaan Fir'aun, dan menurutnya tidak ada sesuatu yang dapat menjatuhkan kekuasaan Fir'aun seperti kebohongan dan tindakan yang melampaui batas dan membunuh jiwa-jiwa yang tidak berdosa.

Dari sinilah kata-kata lelaki mukmin itu memancarkan kekuatannya yang cukup mempengaruhi  Fir'aun,  para  menterinya,  dan  anak  buahnya.  Meskipun  ide Fir'aun  untuk  membunuh  Musa  digagalkan  oleh  lelaki  mukmin  itu,  namun Fir'aun mengatakan kata-kata bersejarahnya yang kemudian menjadi contoh dari sikap orang-orang yang lalim:

"Fir'aun berkata: Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.'" (QS. al-Mu'min: 29)

Demikianlah pernyataan para penguasa yang lalim ketika mereka menghadapi masyarakat mereka. Aku tidak melihat pendapatku kecuali sesuai dengan apa yang aku pertimbangkan. Ini adalah pendapat kami yang khusus. Ia merupakan pendapat  yang  membimbing  kalian  menuju  jalan  petunjuk,  sedangkan pendapat lainnya salah. Oleh kerana itu, kita harus tetap melawannya dan membinasakannya. Allah s.w.t menceritakan sikap demikian ini dalam surah Ghafir:

"Dan  seorang  laki-laki  yang  beriman  di  antara  pengikut-pengikut  Fir'aun yang  menyembunyikan  imannya  berkata:  'Apakah  kamu  akan  membunuh seorang laki-laki kerana dia menyatakan: 'Tuhanku ialah Allah,' padahal dia telah  datang  kepadamu  dengan  membawa  keterangan-keterangan  dari Tuhanmu.  Dan  jika  ia  seorang  pendusta  maka  dialah  yang  menanggung (dosa)  dustanya  itu;  dan  jika  ia  seorang  yang  benar  nescaya  sebahagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.' Sesungguhnya Allah  tidak  menunjuki  orang-orang  yang  melampaui  batas  lagi  pendusta. (Musa berkata): 'Hai kaumku, untukmu lah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika  azab  itu  menimpa  kita!'  Fir'aun  berkata:  'Aku  tidak  mengemukakan kepadamu,  melainkan  apa  saja  yang  aku  pandang  baik;  dan  aku  tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.'" (QS. al-Mu'min 28-29)

Perdebatan  tersebut  tidak  berhenti  pada  batas  ini.  Fir'aun  mengutarakan kata-katanya tetapi seorang mukmin itu tetap tidak puas dengannya, kemudian lelaki mukmin itu kembali berbicara:

"Dan  orang  yang  beriman  itu  berkata:  'Hai  kaumku,  sesungguhnya  aku khuatir  kamu  akan  ditimpa  (bencana)  seperti  kehancuran  golongan  yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Ad Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak akan menghendaki berbuat kelaliman  terhadap  hamba-hamba-Nya.  Hai  kaumku,  sesungguhnya  aku khuatir  terhadapmu  akan  seksaan  hari  panggil-memanggil, (yaitu)  hari (ketika) kamu  (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan dirimu dari  (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, nescaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk. Dan   sesungguhnya   telah   datang   Yusuf   kepadamu   dengan   membawa keterangan-  keterangan,  tetapi  kamu  senantiasa  dalam keraguan  tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: 'Allah tidak akan mengirimkan seorang (rasul pun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang  yang  memperdebatkan  ayat-ayat  Allah  tanpa  alasan  yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang." (QS. al-Mu'min: 30-35)

Kita  perhatikan  dalam  pembicaraan  tersebut  terdapat  perbezaan  dengan pembicaraan  sebelumnya.  Lelaki  mukmin  itu  berusaha  menguraikan  pada pembicaraan akhirnya tentang bukti-bukti sejarah. Ia menyampaikan kepada Firaun dan kaumnya argumentasi-argumentasi yang cukup untuk menunjukkan kebenaran Musa. Ia memperingatkan mereka agar jangan sampai mengganggu Musa. Sebelum masa mereka, terdapat umat-umat yang menentang rasul-rasul yang dikirim oleh Allah s.w.t, lalu Allah s.w.t menghancurkan mereka. Mereka adalah kaum Nuh, kaum 'Ad, dan kaum Tsamud. Zaman mereka tidak terlalu jauh dengan zaman sekarang.

Sejarah Mesir menunjukkan bukti kebenaran ucapannya di mana Nabi Yusuf datang dengan membawa bukti yang jelas kemudian terdapat orang-orang yang merugikan  dakwahnya  lalu  mereka  beriman  padanya  setelah  keselamatan hampir saja tercabut dari mereka. Lalu apa keanehan di balik pengutusan para rasul  dari  Allah  s.w.t?  Sejarah  masa  lalu  harus  menjadi  bahan  renungan. Bukankah kelompok minoriti orang- orang mukmin memperoleh kemenangan ketika  mereka  benar-benar  beriman  atas  kelompok  majoriti  yang  kafir? Bukankah  Allah  s.w.t  telah  menghancurkan  orang-  orang  kafir?  Allah  s.w.t menenggelamkan  mereka  dengan  taufan  dan  Allah  s.w.t  menghancurkan mereka dengan kilat atau Allah s.w.t menenggelamkan mereka dalam bumi. Apa yang kita tunggu sekarang dan dari mana kita tahu bahawa usaha kita membela Fir'aun mati-matian akan membawa keuntungan bagi kita semua?

Pembicaraan  lelaki  mukmin  yang  intelektual  itu  mengandung  beberapa peringatan yang mengerikan. Tampaknya ia berhasil memuaskan para hadirin bahawa ide membunuh Musa adalah ide yang tidak aman. Atau dengan kata lain, itu adalah ide yang tidak menjamin keselamatan mereka. Oleh kerana itu, ide tersebut hendaklah ditinggalkan. Setelah itu, lelaki mukmin itu berusaha untuk menunjukkan kepada mereka kebenaran yang dibawa oleh Musa. Ia yang semula menggunakan bahasa isyarat, kini berusaha untuk menggunakan bahasa yang terang dan gamblang. Ia telah berani menampakkan kebenaran:

"Orang  yang  beriman  itu  berkata:  'Hai  kaumku,  ikutilah  aku,  aku  akan menunjukkan  kepadamu  jalan  yang  benar.  Hai  kaumku,  sesungguhnya kehidupan  dunia ini  hanyalah  kesenangan  (sementara)  dan  sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang   siapa   mengerjakan   amal  yang  saleh   baik   laki-laki   mahupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk syurga,  mereka  diberi  rezeki  di  dalamnya  tanpa  hisab.'"  (QS.  al-Mu'min: 38-40)

Akhirnya,  keimanan  lelaki  mukmin  itu  pun  tersingkap.  Ia  diketahui  sebagai seorang  mukmin  yang  tidak  lagi  menyembunyikan  keimanannya.  Pada  akhir pembicaraannya, ia menegaskan:

"Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Mengapa) kamu menyeruku kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak aku ketahui padahal aku   menyeru   kamu (beriman)   kepada   Yang   Maha   Perkasa   lagi   Maha Pengampun? Sudah pasti bahawa apa yang kamu seru supaya aku  (beriman) kepadanya  tidak  dapat  memperkenankan  seruan  apa  pun  baik  di  dunia mahupun  di  akhirat.  Dan  sesungguhnya  kita  kembali  kepada  Allah  dan sesungguhnya  orang-orang  yang  melampaui  batas,  mereka  itulah  penghuni neraka. Kelak kamu akan mengingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan  aku  menyerahkan  urusanku  kepada  Allah.  Sesungguhnya  Allah  Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya." (QS. al-Mu'min: 41-44)

Lelaki mukmin itu mengakhiri pembicaraan dengan kata-kata yang berani ini. Kami kira, Allah s.w.t telah mengirim lelaki mukmin ini dari kalangan Fir'aun agar Fir'aun melupakan Musa. Konteks Al-Quran menyingkap bahawa lelaki ini merupakan  salah  seorang  intelektual  Mesir  yang  mengetahui  sejarah  dan mampu menganalisis serta memiliki kemampuan untuk menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa yang lain sehingga ia mengetahui sebab-sebab dan akhir dari suatu peristiwa.

Orang yang beriman itu mampu menggiring akal mereka menuju kebenaran. Fir'aun  tersibukkan  dengan  lelaki  mukmin  ini  hingga  beberapa  saat  ia  lupa untuk memikirkan Musa. Lelaki mukmin itu berasal dari keluarga Fir'aun. Ia adalah kerabat dekatnya dan salah seorang pejabat negaranya. Keimanannya terhadap kebenaran menjadikan istana Fir'aun terbagi menjadi dua kubu: kubu pro Musa dan kubu anti Musa. Ini bererti kemenangan yang besar bagi Musa. kerana   itu,   membunuh   lelaki   mukmin   itu   akan   mengganggu   atau menggoyangkan  keberadaan  cendekiawan  Mesir  di  mana  ia  adalah  salah seorang dari mereka.

Demikianlah, Fir'aun menghadapi masalah yang rasa-rasanya sulit atau mustahil untuk  terpecahkan.  Membunuh  lelaki  mukmin  itu  tidak  akan  memberikan dampak yang baik, begitu juga membiarkannya hidup juga tidak memberikan dampak  yang  baik.  Akhirnya,  mereka  membikin  suatu  konspirasi  untuk menyingkirkannya. Kemudian di sinilah bimbingan Allah s.w.t diturunkan:

"Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk." (QS. al-Mu'min: 45)

Untuk  beberapa  saat,  Fir'aun  disibukkan  dengan  masalah  baru  ini,  tetapi Fir'aun  adalah  Fir'aun.  Ia  tetap  memakai  busana  kesombongannya;  ia  tetap menyeksa   Bani   Israil,   menghina   mereka   dan   menodai   kehormatan wanita-wanita serta membunuh anak-anak. Akhirnya, tibalah waktunya bagi Allah  s.w.t  untuk  bersikap  keras  kepada  keluarga  Fir'aun.  Allah  s.w.t menurunkan bencana kepada mereka dan menakut-nakuti mereka dengan azab sehingga mereka mengurungkan niat untuk menghancurkan Musa dan laki-laki mukmin  itu,  dan  sebagai  pembuktian  atas  kebenaran  kenabian  Musa.  Allah s.w.t  menurunkan  tahun-tahun  yang  kering  dan  tandus  kepada  orang-orang Mesir  di  mana  bumi  tampak  kering  kontang  dan  sungai  Nil  pun  mengering hingga  buah-buahan  jarang  sekali  ditemukan  dan  harga  semakin  mencekik leher. Akibatnya, kelaparan melanda di sana-sini. Dalam keadaan demikian, orang-orang Mesir menganggap bahawa kehidupan mereka terancam. Adalah hal yang maklum bahawa seksa yang seperti ini akan selalu menimpa manusia ketika mereka berpaling dari keimanan dan takwa.

Allah s.w.t berfirman:

"Jikalau sekitarnya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka  mendustakan (ayat-ayat  Kami)  itu,  maka  Kami  seksa  mereka disebabkan perbuatannya." (QS. al-A'raf: 96)

Hukum  yang  lama  diperlakukan  atas  penduduk  Mesir  kerana  dua  sebab: pertama, sikap dingin mereka terhadap pembunuhan yang dilakukan Fir'aun kepada  para  tukang  sihir,  kedua,  sikap  dingin  mereka  terhadap  kelaliman penguasa  mereka.  Aneh  sekali  ketika  kaum  Fir'aun  mengembalikan  masa paceklik  ini  dan  musibah  kelaparan  ini  pada  suatu  sebab  yang  sangat menghairankan.  Mereka  mengatakan  bahawa  apa  yang  menimpa  mereka kerana  kesialan  yang  dibawa  oleh  Musa.  Kelaparan  yang  melanda  mereka, kefakiran, dan kekurangan buah-buahan yang mereka rasakan saat ini adalah disebabkan oleh adanya Musa di tengah-tengah mereka.

Kemudian kefakiran mereka semakin meningkat dan mereka semakin menjauh dari   kebenaran.   Mereka   meyakini   bahawa   sihir   Musa   adalah   yang bertanggungjawab terhadap apa yang menimpa mereka pada musim paceklik ini.  Mereka  mengira  dengan  kebodohan  mereka  bahawa  kekeringan  yang melanda negeri mereka adalah sebagai alat atau kekuatan yang digunakan oleh Musa  untuk  menyihir  mereka.  Namun  perlu  diperhatikan  bahawa  pemikiran demikian  tidak  mewakili  pemikiran  umumnya  masyarakat  saat  itu,  tetapi pemikiran   ini   datang   dan   dihembuskan   oleh   kelompok-kelompok   yang berkuasa.  Akhirnya,  Allah  s.w.t  menurunkan  azab  yang  lebih  keras  kepada mereka. Allah s.w.t berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah menghukum  (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan)    musim    kemarau    yang    panjang    dan    kekurangan buah-buahan,  supaya  mereka  mengambil  pelajaran.  Kemudian  apabila datang  kepada  mereka  kemakmuran,  mereka  berkata:  'Ini  adalah  kerana (usaha) kami.' Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan  itu  kepada  Musa  dan  orang-orang  yang  besertanya.  Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan neraka tidak mengetahuinya. Mereka berkata: 'Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu maka, kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.' Maka Kami  kirimkan  kepada  mereka  taufan,  belalang,  kutu,  katak  dan  darah sebagai  bukti  yang  jelas,  tetapi  mereka  tetap  menyombongkan  diri  dan mereka adalah kaum yang berdosa. (QS. al-A'raf: 130-133)

Allah s.w.t mengirimkan berbagai macam azab dengan harapan agar mereka kembali  kepada  Allah  s.w.t  dan  melepaskan  Bani  Israil  serta  membiarkan mereka  pergi  bersama  Musa.  Allah  s.w.t  mengirim  taufan  kepada  mereka. Setelah masa paceklik, datanglah tahun yang penuh dengan air sehingga bumi pun  tenggelam  dengan  air  sehingga  mereka  tidak  dapat  bercucuk  tanam. Setelah   mereka   diseksa   dengan   sedikitnya   air   maka   kali   ini   mereka mendapatkan limpahan air yang luar biasa. Mereka segera datang kepada Nabi Musa sambil berkata:

"Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) mereka pun berkata:  'Hai  Musa,  mohonkanlah  untuk  kami  kepada  Tuhanmu  dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu  dan  akan  kami  biarkan  Bani  Israil  pergi  bersamamu.'" (QS. al-A'raf: 134)

Kemudian Nabi Musa berdoa kepada Tuhannya sehingga azab disingkirkan dari mereka. Air yang memancar dengan dahsyat itu berhenti dan bumi kembali mengambil air yang cukup sehingga layak untuk dibuat bercucuk tanam. Nabi Musa  meminta  kepada  mereka  untuk  mewujudkan  janji  mereka,  yaitu melepaskan tawanan Bani Israil. Tapi mereka tidak memenuhinya. Kemudian datanglah tanda kebesaran yang lain yaitu dalam bentuk turunnya belalang. Allah  s.w.t  mengirim  sekawanan  belalang  yang  memenuhi  tanaman  dan buah-buahan. Ketika belalang- belalang itu terbang maka tanaman-tanaman mereka dan buah-buahan mereka tersembunyi dari pandangan kerana saking banyaknya belalang- belalang itu. Belalang itu memakan makanan orang-orang Mesir.

Melihat keadaan demikian, mereka pun pergi ke Musa dan meminta kepadanya agar berdoa kepada Tuhannya agar menyingkirkan seksaan ini dari mereka dan mereka berjanji untuk melepaskan padanya Bani Israil. Nabi Musa pun lagi-lagi berdoa  kepada  Tuhannya  sehingga  Allah  s.w.t  menyingkirkan  azab  itu  dari mereka. Dan belalang-belalang itu kembali ke tempat asalnya. Mereka dapat menanami kembali bumi dengan baik. Lalu Nabi Musa meminta kepada mereka untuk melepaskan Bani Israil namun mereka menunda-nundanya sehingga Nabi Musa  mengetahui  bahawa  sebenarnya  mereka  tidak  serius  untuk  memenuhi janji mereka.

Kemudian datanglah seksaan Allah s.w.t yang lain, yaitu dikirim-Nya berbagai macam hama. Tersebarlah hama yang membawa penyakit. Lagi- lagi mereka datang kepada Nabi Musa dan mengulangi janji mereka dan Nabi Musa pun berdoa  kepada  Allah  s.w.t.  Kali  ini  mereka  pun  tetap  mengingkari  janji mereka. Lalu datanglah seksaan Allah s.w.t yang lain dalam bentuk dikirim-Nya katak di mana bumi dipenuhi dengan katak. Katak itu melompat-lompat ke sana-sini dan memenuhi makanan orang- orang Mesir serta berada di rumah mereka sehingga mereka sangat terganggu dengan kehadiran katak-katak liar itu. Lagi-lagi mereka menemui Nabi Musa dan kembali mengulangi janji mereka dan  meminta  padanya  agar  ia  berdoa  kepada  Tuhannya  agar  Allah  s.w.t menyingkirkan azab dari mereka. Tetapi mereka pun tetap mengingkari janji mereka.

Selanjutnya, Allah s.w.t menurunkan azab yang lain yaitu darah di mana sungai Nil berubah menjadi darah sehingga tidak seorang pun dapat meminumnya. Kita  ketahui  bahawa  mukjizat-mukjizat  pertama  berupa  sesuatu  yang  biasa terjadi pada tanaman. Berkurangnya air Nil atau bertambahnya air tersebut atau serangan belalang atau hama dan katak, semua ini adalah bukan hal baru bagi orang-orang Mesir. Yang baru adalah kejadian ini terjadi dengan sangat tiba-tiba  dan  sangat  mencekam.  Sedangkan  mukjizat  atau  azab  yang  lain adalah azab yang tidak biasa terjadi di daerah Mesir, yaitu azab yang belum pernah terjadi sebelumnya di mana air sungai Nil berubah menjadi darah.

Perubahan sungai itu menjadi darah hanya terjadi di kalangan orang- orang Mesir sedangkan Musa dan kaumnya dapat meminum airnya seperti biasanya. Namun ketika seorang Mesir memenuhi tempat gelasnya dengan air maka ia akan  mendapati  bahawa  gelasnya  penuh  dengan  darah.  Melihat  peristiwa tersebut,  orang-orang  Mesir  tergoncang  sebagaimana  istana  Fir'aun  juga tergoncang  melihat  seksa  yang  mengerikan  dan  baru  ini.  Lagi-lagi  mereka menuju ke Nabi Musa dan meminta kepadanya agar berdoa kepada Tuhannya dan mereka berjanji pada kali ini untuk membebaskan orang-orang Bani Israil. Nabi Musa pun berdoa kepada Tuhannya sehingga azab itu disingkirkan dari orang-orang  Mesir.  Meski  demikian.  istana  Fir'aun  tidak  mengizinkan  Musa untuk menemui  kaumnya dan pergi  bersama mereka.  Lalu bagaimana sikap
Fir'aun    sendiri?    Fir'aun    tetap    menunjukkan    pembangkangnya    dan kesombongannya.  Fir'aun  mengumumkan  di  tengah-tengah  kaumnya  bahawa dia  tuhan.  Bukankah -  kata  Fir'aun -  dia  memiliki  kerajaan  Mesir  dan sungai-sungai  ini  mengalir  di  bawah  kekuasaannya?  Fir'aun  memberitahu bahawa Musa adalah tukang sihir yang bohong dan ia hanya seorang fakir yang tidak mampu menggunakan satu kalung emas dan satu gelang emas.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan   sesungguhnya   Kami   telah   mengutus   Musa   dengan   membawa mukjizat-mukjizat  Kami  kepada  Fir'aun  dan  pemuka-pemuka  kaumnya. Maka  Musa  berkata:  'Sesungguhnya  aku  adalah  dari  utusan  Tuhan  seru sekalian alam. Maka tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami dengan serta merta mereka mengetawakannya. Dan tidakkah  Kami  perlihatkan  kepada  mereka  sesuatu  mukjizat  kecuali mukjizat  itu  lebih  besar  dari  mukjizat-mukjizat  sebelumnya.  Dan  Kami timpakan kepada mereka azab supaya mereka kembali (kejalan yang benar). Dan  mereka  berkata:  'Hai  ahli  sihir  berdoalah  kepada  Tuhanmu  untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu; sesungguhnya  kami (jika  doamu  dikabulkan)  benar-benar  akan  menjadi orang yang mendapat petunjuk. Maka tatkala Kami menghilangkan azab itu dari mereka, dengan serta merta mereka memungkiri (janjinya). Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: 'Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir  ini  kepunyaanku  dan (bukankah)  sungai-sungai  ini  mengalir  di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?' Bukankah aku lebih baik dari  orang  yang  hina  ini  dan  yang  hampir  tidak  dapat  dijelaskan (perkataannya)? Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat  datang  bersama-sama  dia  untuk  mengiringkannya.'  Maka  Fir'aun mempengaruhi  kaumnya  dengan (perkataannya  itu)  lalu  mereka  patuh kepadanya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik." (QS. az-Zukhruf: 46-54)

Perhatikanlah  ungkapkan  Al-Quran:  Maka  Fir'aun  mempengaruhi  kaumnya dengan  (perkataannya itu) lalu mereka patuh kepadanya. Fir'aun memenjara akal  mereka,  membelenggu  kebebasan  mereka,  dan  menutup  masa  depan mereka  yang  cerah.  Fir'aun  menodai  kemanusiaan  mereka  sehingga  mereka mentaatinya. Bukankah ketaatan ini aneh? Namun keanehan ini hilang ketika kita  mengetahui  bahawa  mereka  adalah  orang-  orang  yang  fasik.  Kefasikan menjadikan seseorang tidak peduli dengan masa depannya dan kepentingannya serta urusannya. Pada akhirnya, ia akan mendapati kehancuran. Demikianlah yang terjadi pada kaum Fir'aun.

Allah s.w.t berfirman:

"Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya  (di laut), dan Kami jadikan mereka sebagai  pelajaran  dan  contoh  bagi  orang-orang  yang  kemudian." (QS. az-Zukhruf: 55-56)

Tampak  jelas  bahawa  Fir'aun  tidak  beriman  kepada  Musa.  Fir'aun  tidak menghentikan  usaha  untuk  menyeksa  Bani  Israil  dan  ia  tetap  merendahkan kaumnya.  Maka  melihat  kenyataan  yang  demikian,  Musa  dan  Harun  berdoa buruk untuk Fir'aun:

"Musa berkata: 'Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya dengan perhiasan dan harta kekayaan dalam  kehidupan  dunia,  ya  Tuhan  kami,  akibatnya  mereka  menyesatkan (manusia)  dari  jalan  Engkau.  Ya  Tuhan  kami,  binasakanlah  harta  benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat seksaan yang pedih.' Allah berfirman: 'Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.'" (QS. Yunus: 88-89)

Kemudian datanglah izin kepada Nabi Musa untuk meninggalkan Mesir dengan disertai oleh kaumnya yang mengikutinya. Sikap kaum Nabi Musa sangat aneh. Tidak semua kaumnya beriman kepadanya. Allah s.w.t berfirman:

"Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda- pemuda dari   kaumnya (Musa)   dalam   keadaan   takut   bahawa   Fir'aun   dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyeksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu sewenang-wenang   di   muka   bumi.   Dan   sesungguhnya   dia   termasuk orang-orang yang melampaui batas." (QS. Yunus: 83)

Selesailah  urusan.  Allah  s.w.t  telah  menetapkan  untuk  membuat  suatu keputusan hukum terhadap Fir'aun. Allah s.w.t memerintahkan kepada Musa untuk keluar dan mengizinkan Bani Israil untuk pergi. Mereka bersiap-bersiap untuk keluar dan pergi bersama Musa. Mereka membawa perhiasan-perhiasan mereka lalu datanglah malam kepada mereka. Nabi Musa berjalan bersama mereka dan menyeberangi Laut Merah dan menuju ke negeri Syam. Sementara itu, utusan Fir'aun dan intelejennya bergerak. Sampailah berita kepada Fir'aun bahawa Musa telah pergi beserta kaumnya. Fir'aun mengeluarkan perintahnya di  segenap  penjuru  kota  agar  pasukan  yang  besar  berkumpul.  Fir'aun menyampaikan   alasan   yang   aneh   di   balik   pengumpulan   tentera   itu sebagaimana disampaikan oleh Al-Quran:

"Dan  sesungguhnya  mereka  membuat  hal-hal  yang  menimbulkan  amarah kita. " (QS. asy-Syu'ara': 55)

Fir'aun telah naik pitam melihat aksi Musa. "Secara peribadi aku telah marah padanya.  Jumlah  mereka  sedikit  namun  kemarahan  kita  terhadap  mereka sungguh banyak. Kalau demikian, ini adalah peperangan." Fir'aun benar-benar seorang penjahat kelas kakap. Ia tidak berusaha menyembunyikan niatnya di balik  kata-kata  besarnya.  Misalnya,  secara  diplomasi  ia  dapat  mengatakan bahawa keamanan kerajaan terancam atau sistem ekonomi akan hancur jika para pekerja ini yang digaji dengan sangat murah ini akan keluar. Fir'aun tidak mengatakan semua itu tetapi ia hanya menyatakan bahawa ia sedang emosi. Nabi Musa membuatnya naik pitam dan ini sudah cukup untuk mengeluarkan perintah  agar  para  tentera  dikumpulkan.  Manusia  membenarkan  tindakan Fir'aun  untuk  seribu  kalinya  setelah  membohongkannya.  Tiada  seorang  pun yang  menentangnya  dan  tidak  ada  seorang  pun  yang  mempersoalkan  sebab kenapa di balik pengumpulan tentera itu.

Akhirnya,  bergeraklah  tentera  Fir'aun  dengan  membawa  persenjataan  yang lengkap  dan  mereka  berusaha  mengejar  Nabi  Musa.  Fir'aun  duduk  di  atas kenderaan perangnya dan mengawasi tentera di sekitamya sambil tersenyum. Barangkali  ia  membayangkan,  jika  sejak  semula  ia  melakukan  itu  maka gerak-geri  Musa  akan  dapat  dipatahkannya  dan  ia  dapat  membunuhnya. Alhasil, ia sekarang berada di jalan untuk menangkap Musa dan membunuhnya dan menyelesaikan masalah seluruhnya.

Nabi Musa berdiri di depan Laut Merah. Tampak dari kejauhan bahawa debu yang ditebarkan oleh tentera Fir'aun mulai mendekat. Lalu setelah itu tampak panji-panji tentera. Melihat hal itu, kaum Nabi Musa merasakan ketakutan. Mereka menghadapi situasi sangat sulit dan berbahaya: di depan mereka ada laut  sementara  di  belakang  mereka  ada  musuh.  Mereka  tidak  memiliki kesempatan  sedikit  pun  untuk  berperang  dengan  pasukan  Fir'aun  kerana mereka  hanya  terdiri  dari  wanita-wanita,  anak-anak  kecil,  dan  orang-orang lelaki yang tidak bersenjata. Fir'aun akan menyembelih mereka semuanya.

Tiba-tiba terdengarlah teriakan dari kaum Nabi Musa: "Fir'aun akan menyusul kita dan menangkap kita." Nabi Musa berusaha menenangkan mereka sambil berkata:  "Tidak.  Sesungguhnya  Tuhanku  bersamaku  dan  Dia  pun  akan membimbingiku." Kita tidak mengetahui bagaimana perasaan Nabi Musa saat itu atau apa yang difikirkannya. Yang jelas, ia tidak mendapat kepercayaan seperti  ini  kecuali  setelah  Allah  s.w.t  mewahyukan  kepadanya  agar  ia memukulkan tongkatnya ke lautan itu. Kemudian Nabi Musa pun memukulkan tongkat yang dibawanya kepada lautan itu.

Demikianlah  bahawa  kehendak  Allah  s.w.t  pasti  terlaksana  meskipun  harus bertentangan dengan logik manusia. Allah s.w.t ingin menunjukkan mukjizat, kemudian Allah s.w.t mewahyukan kepada Musa untuk memukulkan tongkatnya kepada lautan. Pemukulan tongkat terhadap lautan hanya sekadar sebab yang kemudian  diikuti  dengan  terbelahnya  lautan.  Belum  sampai  Nabi  Musa mengangkat tongkatnya sehingga malaikat Jibril turun ke bumi lalu Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke lautan. Tiba-tiba laut itu terbelah menjadi dua bahagian: satu bahagian menjadi kering kontang di mana di sebelah kanannya terdapat  ombak  dan  di  sebelah  kirinya  juga  terdapat  ombak.  Nabi  Musa bersama kaumnya berjalan sehingga mereka dapat melewati lautan. Ini adalah mukjizat  yang  sangat  besar.  Ombak  bergelombang:  meninggi  dan  menurun
sehingga  tampak  ada  tangan  tersembunyi  yang  mencegahnya  agar  jangan sampai menenggelamkan Nabi Musa atau bahkan membasahinya sekalipun.

Demikianlah Nabi Musa dan kaumnya berhasil melewati lautan. Sementara itu, Fir'aun  sampai  ke  lautan.  Ia  menyaksikan  mukjizat  ini.  Ia  melihat  lautan terdapat jalan kering yang terbelah menjadi dua. Fir'aun saat itu merasakan ketakutan  tetapi  lagi-lagi  keras  kepalanya  dan  pembangkangnya  tetap menyalakan  api  peperangan  sehingga  ia  menyuruh  pasukannya  untuk  maju. Ketika Musa selesai menyeberangi lautan, ia menoleh ke lautan dan ia ingin memukulkan  dengan  tongkatnya  sehingga  kembali  sebagaimana  mestinya, tetapi Allah s.w.t mewahyukan kepadanya agar ia membiarkan lautan seperti semula.  Seandainya  ia  memukulkan  tongkatnya  kepada  lautan  dan  laut  itu kembali seperti semula nescaya Nabi Musa akan selamat dan Fir'aun pun akan selamat,  sedangkan  Allah  s.w.t  telah  berkehendak  untuk  menenggelamkan Fir'aun. Oleh kerana itu, Musa diperintahkan untuk membiarkan lautan seperti semula. Allah s.w.t mewahyukan kepadanya:

"Dan biarlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentera yang akan ditenggelamkan." (QS. ad-Dukhan: 24)

Fir'aun  bersama  tenteranya  sampai  di  tengah  lautan.  Ia  sudah  melewati separuhnya  dan  ia  akan  sampai  ke  tepi  yang  lain.  Kemudian  Allah  s.w.t memerintahkan kepada Jibril. Lalu Jibril menggerakkan ombak sehingga ombak itu menerpa Fir'aun dan menenggelamkannya beserta tenteranya. Fir'aun dan tenteranya  tenggelam.  Pembangkang  telah  tenggelam  sedangkan  keimanan kepada Allah s.w.t telah selamat.

Ketika tenggelam, Fir'aun melihat tempatnya di neraka. Kini. ia sedar dan tabir telah terkuak di depannya. Fir'aun telah menjemput sakaratul maut. Ia telah menyedari   bahawa   Musa   adalah   seorang   yang   benar   dan   ia   telah menyia-nyiakan  dirinya  dengan  menentangnya  dan  berusaha  memeranginya. Fir'aun berusaha menunjukkan keimanannya.

"Hingga  bila  Fir'aun  itu  hampir  tenggelam  berkatalah  dia:  'Saya  percaya bahawa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan  saya  termasuk  orang-orang  yang  berserah  diri  (kepada  Allah).'"  (QS. Yunus: 90)

Taubat  Fir'aun  tidak  berguna  dan  tidak  diterima;  taubat  yang  justru disampaikan ketika ia menyaksikan azab dan akan memasuki pintu kematian. Jibril berkata kepadanya:

"Apakah  sekarang  (baru  kamu  percaya),  padahal  sesungguhnya  kamu  telah derhaka  sejak  dahulu,  dan  kamu  termasuk  orang-orang  yang  berbuat kerosakan." (QS. Yunus: 91)

Yakni, tidak ada taubat bagimu. Sungguh telah selesai waktu taubat bagimu dan  engkau  telah  binasa.  Selesailah  urusan  ini  dan  tiadalah  keselamatan bagimu. Yang selamat hanyalah tubuhmu dan engkau akan dilemparkan oleh ombak  ke  tepi  sehingga  tubuhmu  sebagai  bukti  kebesaran  Allah  s.w.t  bagi orang-orang yang hidup sesudahmu:

"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi peringatan  bagi  orang-orang  yang  datang  sesudahmu  dan  sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami."  (QS. Yunus: 92)

Apa yang terjadi pada Fir'aun merupakan sunatullah yang abadi yang terjadi sebagai pelajaran bagi hamba-hamba Allah s.w.t.

Allah s.w.t berfirman:

"Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata: 'Kami beriman hepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan- sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah.'" (QS. al- Mu'min: 84)

Allah s.w.t menceritakan sikap Fir'aun bersama Musa dalam firman-Nya:

"Dan Kami wahyukan  (perintahkan) kepada Musa: 'Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), kerana sesungguhnya kamu sekalian   akan   disusuli.   Kemudian   Fir'aun   mengirimkan   orang   yang mengumpulkan (tenteranya) ke kota-kota. (Fir'aun berkata): 'Sesungguhnya mereka  (Bani  Israil)  benar-benar  golongan  kecil-kecil,  dan  sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita, dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga.' Maka Kami keluarkan Fir'aun   dari   kaumnya   dari   taman-taman   dan   mata   air,   dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia, demikianlah halnya dan Kami
anugerahkan  semuanya  (itu)  kepada  Bani  Israil.  Maka  Fir'aun  dan  bala tenteranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua  golongan  itu  saling  melihat,  berkatalah  pengikut-  pengikut  Musa: 'Sesungguhnya kita benar-benar akan disusul.' Musa menjawab: 'Sekali-kali kita tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.' Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain.   Dan   Kami   selamatkan   Musa  dan   orang-orang   yang   besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya pada  yang  demikian  itu  benar-benar  merupakan  suatu  tanda  yang  besar (mukji-  zat)  dan  tetapi  adalah  kebanyakan  mereka  tidak  beriman.  Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang." (QS. asy-Syu'ara': 52-68)

Tersingkaplah  kejahatan  dan  kelaliman  Fir'aun.  Ombak  lautan  menggiring tubuhnya  ke  tepi.  Kami  tidak  mengetahui  tepi  mana  yang  dimaksud,  yang menggiring tubuh seseorang yang mengaku dirinya sebagai tuhan; seseorang yang tidak ada seorang pun yang berani menentangnya. Diduga kuat bahawa ombak menggiring jasadnya ke tepi barat lalu orang-orang Mesir melihatnya dan  mengetahui  bahawa  tuhan  mereka  yang  mereka  sembah,  yang  mereka taati adalah sekadar seseorang yang tidak mampu menjauhkan kematian dari lehernya.

Setelah  itu,  orang-orang  Mesir  mengetahui  kebenaran  secara  sempurna. Al-Quran al-Karim tidak menceritakan kepada kita apa yang mereka perbuat setelah  jatuhnya  rejim  Fir'aun  dan  setelah  tenteranya  tenggelam;  Al-Quran tidak menceritakan kepada kita bagaimana reaksi mereka setelah Allah s.w.t menghancurkan apa yang diperbuat oleh Fir'aun dan kaumnya dan apa yang mereka  bangun;  Al-Quran  tidak  menyinggung  semua  itu;  Al-Quran  justru memfokuskan keadaan Musa dan Harun dan bagaimana peristiwa yang dialami Bani Israil bersama kedua nabi itu.

Fir'aun Mesir telah mati. Ia tenggelam di hadapan mata orang-orang Mesir dan Bani Israil. Meskipun ia telah mati, tetapi pengaruhnya tetap membekas pada jiwa   orang-orang   Mesir   dan   Bani   Israil.   Sungguh   sangat   sulit   untuk menghilangkan  pengaruh  kehinaan  yang  sekian  lama  atau  sekian  tahun tertanam  dalam  jiwa  dan  kemudian  jiwa  itu  menjadi  mulia.  Fir'aun  telah menanamkan  pada  jiwa  Bani  Israil  sesuatu  yang  akan  kita  ketahui  dari ayat-ayat  Al-Quran.  Fir'aun  telah  membiasakan  mereka  untuk  mendapatkan kehinaan. Fir'aun telah menghancurkan jiwa mereka dari dalam. Fir'aun telah merosak  suasana  rohani  mereka  yang  bersih.  Fir'aun  telah  merosak  fitrah mereka  sehingga  mereka  menyeksa  Musa  dan  menyakiti  Musa  dengan  sikap penentangan dan kebodohan.

Mukjizat  pembelahan  lautan  masih segar  di  fikiran  mereka.  Pasir-pasir  laut yang basah masih membekas dan masih terdapat dalam sandal- sandal Bani Israil  ketika  mereka  lewat  di  depan  kaum  yang  menyembah  berhala. Seharusnya mereka menampakkan kemarahan mereka atas kelaliman terhadap akal,  dan  mereka  memuji  kepada  Allah  s.w.t  kerana  mereka  mendapatkan  petunjuk pada jalan keimanan dan kebenaran. Tetapi mereka justru menoleh kepada Musa dan meminta kepadanya agar menjadikan tuhan lain bagi mereka yang dapat mereka sembah seperti orang-orang itu. Mereka merasa cemburu ketika  melihat  orang-orang  yang  menyembah  berhala  itu  dan  mereka  pun menginginkan hal yang sama. Mereka merasakan kerinduan kepada hari-hari syirik  yang  lalu  yang  mereka  dapati  di  bawah  naungan  Fir'aun.  Nabi  Musa mengetahui betapa bodohnya mereka.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan  Kami  seberangkan  Bani  Israil  ke  seberang  lautan  itu,  maka  setelah mereka sampai pada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: 'Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan  (berhala) sebagaimana   mereka   mempunyai   beberapa   tuhan (berhala).'   Musa menjawab:  'Sesungguhnya  kamu  ini  adalah  kaum  yang  tidak  mengetahui (sifat-sifat   Tuhan).'   Sesungguhnya   mereka   itu   akan   dihancurkan kepercayaan  yang  dianutnya  dan  akan  batal  apa  yang  selalu  mereka kerjakan. Musa menjawab: 'Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain  daripada  Allah,  padahal  Dialah  yang  telah  melebihkan  kamu  atas segala  umat.  Dan  (ingatlah  hai  Bani  Israil),  ketika  Kami  menyelamatkan kamu dari (Fir'aun) dan kaumnya, yang mengazab kamu dengan azab yang sangat jahat, yaitu mereka membunuh anak-anak lelakimu dan membiarkan hidup wanita-wanitamu. Dan pada yang demikian itu cubaan yang besar dari Tuhanmu. " (QS. al-A'raf: 138-141)

Musa berjalan bersama kaumnya di Saina', yaitu suatu gurun yang di dalamnya terdapat pohon yang dapat melindungi dari sengatan matahari dan di dalamnya terdapat makanan dan air. Kemudian rahmat Allah s.w.t turun kepada mereka di mana mereka mendapatkan al-Manna dan Salwa dan mereka dinaungi oleh awan.  Al-Manna  adalah  makanan  yang  rasanya  mendekati  manis  dan  ia dihasilkan  oleh  sebahagian  pohon-pohon  yang  berbuah  di  mana  angin membawa kepada mereka rasa demikian ini dari daun-daun pohon. Allah s.w.t juga mengirim kepada mereka as-Salwa, yaitu salah satu burung yang bernama as-Saman.

Ketika mereka merasakan kehausan yang sangat saat di Saina' tidak ada setitis air pun maka Nabi Musa memukulkan dengan tongkatnya kepada batu sehingga batu itu memancarkan dua  belas mata air. Bani  Israil terbagi menjadi dua belas cucu maka Allah s.w.t mengirim air tersebut kepada setiap kelompok. Meskipun mereka mendapatkan kemuliaan dan kehormatan yang sedemikian rupa, tetapi lagi-lagi jiwa mereka yang sakit tidak dapat menyedarkan mereka untuk mensyukuri nikmat-nikmat ini. Mereka justru mendebat Nabi Musa dan mengatakan  bahawa  mereka  bosan  dengan  makanan  ini  dan  mereka  ingin memiliki  bawang  merah  dan  bawang  putih  serta  kacang-kacangan.  Semua makanan  ini  adalah  makanan  tradisional  Mesir.  Bani  Israil  meminta  kepada Nabi mereka untuk berdoa kepada Allah s.w.t dan mengeluarkan dari bumi makanan- makanan ini. Nabi Musa melihat bahawa mereka menganiaya diri mereka sendiri, dan Nabi Musa menyedari betapa mereka merindukan kehinaan mereka  saat  mereka  bersama  Fir'aun.  Mereka  berani  menolak  makanan-makanan yang baik dan makanan-makanan yang mulia, dan sebagai gantinya, mereka malah menginginkan makanan-makanan yang rendah mutunya. Allah s.w.t berfirman:

"Dan ingatlah ketika kamu berkata: 'Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan  satu  macam makanan  saja.  Sebab itu,  mohon-kanlah  untuk  kami kepada  Tuhanmu,  agar  Dia  mengeluarkan  bagi  kami  dari  apa  yang ditumbuhkan  bumi,  yaitu:  'Sayur-sayuran,  ketimunnya,  bawang  putihnya, kacang  adasnya,  dan  bawang  merahnya.'  Musa  berkata:  'Maukah  kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta.' Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu  (terjadi) kerana mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikianlah  itu (terjadi)  kerana  mereka  selalu  berbuat  derhaka  dan melampaui batas. " (QS. al-Baqarah: 61)

Nabi  Musa  berjalan  bersama  kaumnya  menuju  Baitul  Maqdis.  Nabi  Musa memerintahkan kaumnya untuk memasukinya dan memerangi siapa pun yang ada  di  dalamnya  serta  berusaha  menguasai  tempat  itu.  Demikianlah  telah datang ujian terakhir kepada mereka setelah mereka menyaksikan mukjizat dan ayat-ayat Allah s.w.t serta hal-hal yang luar biasa. Telah datang saat ujian kepada mereka untuk berperang - kerana mereka sebagai orang-orang mukmin - melawan kaum penyembah berhala. Namun kaum Nabi Musa menolak untuk memasuki  tanah  suci.  Nabi  Musa  berusaha  menyedarkan  mereka  dengan menceritakan  bagaimana  nikmat  Allah  s.w.t  yang  turun  kepada  mereka; bagaimana  Allah  s.w.t  menjadikan  di  tengah-tengah  mereka  para  nabi  dan menjadikan mereka raja-raja yang mewarisi kerajaan Fir'aun; dan bagaimana mereka diberi suatu kekayaan dan anugerah yang tidak dapat didapatkan oleh seseorang pun di dalam dunia.

Kaum Nabi Musa takut kepada peperangan dan beralasan bahawa di dalamnya terdapat  kaum  yang  perkasa  dan  mereka  tidak  akan  masuk  ke  tanah  suci sehingga   orang-orang   yang   kuat   itu   keluar   darinya.   Kitab-kitab   kuno mengatakan bahawa mereka keluar dalam jumlah enam ratus ribu. Nabi Musa tidak dapat mendapatkan seseorang pun di antara mereka yang siap melakukan peperangan kecuali dua orang. Kedua orang ini berusaha untuk menyedarkan kaum agar mereka memasuki tanah suci itu dan berperang. Mereka berdua berkata: "Sungguh hanya sekadar kalian memasuki pintu darinya maka kalian akan mendapatkan kemenangan." Tetapi Bani Israil menampakkan ketakutan dan tubuh mereka tampak gementar.

Pada  kali  yang  lain                -  sesuai  dengan  tabiat  mereka              -  mereka  merindukan
menyembah  berhala  ketika  melihat  ada  kaum  yang  menyembah  berhala. Mereka telah rosak dan mereka telah kalah dari dalam diri mereka; mereka telah biasa mendapatkan kehinaan sehingga mereka tidak mampu berperang. Yang tersisa hanyalah, mereka mampu untuk bersikap tidak sopan pada Nabi Musa  as  dan  kepada  Tuhannya.  Kaum  Nabi  Musa  berkata  kepadanya  dalam kalimat yang terkenal:

"Pergilah  kamu  bersama  Tuhanmu,  dan  berperanglah  kamu  berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." (QS. al-Maidah: 24)

Mereka mengucapkan kata-kata tersebut dengan lantang dan jelas serta tanpa rasa malu. Nabi Musa mengetahui bahawa kaumnya sangat jauh dari kebaikan. Fir'aun telah mati tetapi pengaruhnya tetap tertanam dalam jiwa mereka di mana untuk mengubatinya memerlukan waktu yang lama. Nabi Musa kembali kepada Tuhannya dan memberitahu-Nya bahawa ia tidak memiliki sesuatu pun kecuali dirinya dan saudaranya. Nabi Musa berdoa buruk kepada kaumnya agar Allah s.w.t memisahkan antara dirinya dan mereka. Allah s.w.t menurunkan keputusan-Nya kepada generasi ini yang telah rosak fitrahnya. Yaitu keputusan yang berupa: mereka disesatkan selama empat puluh tahun sehingga generasi ini mati atau mereka mencapai usia senja dan kemudian akan lahir generasi yang  baru;  generasi  yang  belum  rosak  jiwanya  dan  mereka  akan  dapat berperang dan memperoleh kemenangan.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: 'Hai kaumku, ingatlah nikmat  Allah  atasmu  ketika  Dia  mengangkat  nabi-nabi  di  antaramu,  dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikannya kepadamu apa yang  belum  pernah  diberikan-Nya  kepada  seseorang  pun  di  antara umat-umat yang lain.' Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (kerana takut kepada musuh) maka kamu menjadi orang-orang yang rugi. Mereka berkata: 'Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah  perkasa,  sesungguhnya  kami  sekali-kali  tidak  akan  memasukinya sebelum  mereka  keluar  darinya.  Jika  mereka  keluar  darinya,  pasti  kami akan memasukinya.' Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: 'Serbulah mereka  dengan  melalui  pintu  gerbang (kota)  itu,  maka  bila  kamu memasukinya  nescaya  kamu  akan  menang.  Dan  hanya  kepada  Allah hendaklah kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.' Mereka   berkata:   'Hai   Musa,   kami   sekali-kali   tidak   memasukinya selama-lamanya selagi mereka ada di dalamnya, kerana itu pergilah kamu bersama  Tuhanmu,  dan  berperanglah  kamu  berdua,  sesungguhnya  kami hanya duduk menanti di sini saja.' Berkata Musa: 'Ya Tuhanku, aku tidak menguasai  kecuali  diriku  sendiri  dan  saudaraku.  Sebab  itu  pisahkanlah antara  kami  dengan  orang-orang  yang  fasik  itu.  'Allah  berfirman:  '(Jika demikian), maha sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu." (QS. al-Maidah: 20-26)

Dimulailah  hari-hari  kesesatan.  Mereka  melewati  tempat  yang  tertutup. Mereka  memulai  dari  tempat  yang  mereka  akhiri  dan  sebaliknya.  Alhasil, mereka  berjalan  tanpa  tujuan  sepanjang  siang-malam,  pagi-sore.  Mereka memasuki daratan di daerah Saina'. Nabi Musa kembali ke tempat yang beliau bertemu  di  dalamnya untuk pertama kalinya dengan  kalimat-  kalimat  Allah s.w.t. Bani Israil turun dari at-Thur, dan Nabi Musa mendaki gunung sendirian. Di sana diturunkan Taurat dan Tuhannya berdialog dengannya. Sebelum Nabi Musa naik untuk bertemu dengan Tuhannya, ia menjadikan saudaranya, Harun, sebagai khalifahnya untuk kaumnya. Harun diangkatnya sebagai wakilnya yang bertanggungjawab  untuk  mengurus  kaumnya.  Dan  Musa  pun  pergi  menuju Tuhannya.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan telah Kami jadikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh  (malam lagi), maka sempurnakanlah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: 'Gantikanlah aku dalam  (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerosakan'" (QS. al-A'raf: 142)

Orang-orang dahulu mengatakan bahawa Nabi Musa berpuasa selama tiga puluh  hari  sepanjang  malam  dan  siang  tanpa  mencecah  makanan  sedikit  pun kemudian Nabi Musa tidak ingin untuk berdialog kepada Tuhannya sementara mulutnya  dalam  keadaan  seperti  mulut  orang  yang  berpuasa.  Lalu  beliau memakan  sedikit  dari  tanaman  bumi  dan  beliau  mengunyahnya.  Tuhannya berkata kepadanya: "Mengapa engkau berbuka?" Musa menjawab: "Ya Tuhanku, aku  tidak  ingin  berbicara  denganmu  kecuali  mulutku  dalam  keadaan  baik baunya."  Allah  s.w.t  menjawab:  "Tidakkah  engkau  mengetahui  wahai  Musa bahawa mulut orang yang berpuasa di sisi-Ku lebih baik daripada bau misik. Kembalilah   engkau   berpuasa  selama  sepuluh  hari   kemudian   datanglah kepada-Ku." Nabi Musa as pun melaksanakan perintah-Nya.
Kami  tidak  mengetahui  secara  pasti,  mengapa  Nabi  Musa  berpuasa  selama empat puluh malam, bukan tiga puluh hari. Yang kita ketahui bahawa Allah s.w.t menambah sepuluh hari yang lain. Setelah itu, turunlah Taurat; turunlah kepadanya sepuluh wasiat:

1. Perintah  untuk  hanya  menyembah  kepada  Allah  s.w.t  dan  tidak menyekutukan-Nya.
2. Larangan untuk bersumpah bohong atas nama Allah s.w.t.
3. Menjaga kehormatan pada hari Sabtu. Dengan pengertian, memfokuskan hari Sabtu sebagai hari ibadah.
4. Perintah untuk menghormati ayah dan ibu.
5. menyedari bahawa Allah s.w.t yang dapat memberi dan membagi.
6. Janganlah engkau membunuh.
7. Janganlah engkau berzina.
8. Janganlah engkau mencuri.
9. Janganlah memberikan kesaksian yang palsu.
10.  Jangan engkau merasa tertipu atau terpikat kepada rumah temanmu atau Isterinya atau budaknya atau sapinya atau keledainya.

Para  ulama  salaf  mengatakan  bahawa  kandungan  sepuluh  wasiat  ini  telah terdapat dalam dua ayat dalam Al-Quran, yaitu dalam firman-Nya:

"Katakanlah:  'Marilah  kubacakan  apa  yang  diharamkan  atas  kamu  oleh Tuhanmu,  yaitu:  Janganlah  kamu  mempersekutukan  sesuatu  dengan  Dia, berbuat  baiklah  terhadap  kedua  ibu  dan  bapakmu,  dan  janganlah  kamu membunuh anak-anak kamu kerana takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki  kepadamu  dan  kepada  mereka;  dan  janganlah  kamu  mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya mahupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya)  melainkan  dengan  sesuatu (sebab)  yang  benar.' Demikian  itu  yang  diperintahkan  oleh  Tuhanmu  kepadamu  supaya  kamu memahaminya. Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan  cara  yang  lebih  bermanfaat,  hingga  sampai  ia  dewasa.  Dan sempurnakan takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban  kepada  seseorang  melainkan  dengan  kesanggupannya.  Dan  apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. " (QS. al-An'am: 151- 152)

Allah s.w.t menceritakan kepada kita bagaimana keadaan Musa ketika ia pergi untuk menemui janji dengan Tuhannya. Musa ketika berpuasa selama empat puluh malam bermaksud untuk lebih mendekat kepada Tuhannya. Ketika Allah s.w.t  berdialog  dengannya,  maka  Musa  merasakan  cinta  yang  semakin bergelora kepada Tuhannya. Kami tidak mengetahui perasaan apa yang ada di hati  Musa  ketika  ia  meminta  kepada  Tuhannya  agar  dapat  melihatnya. Seringkali cinta yang ada di dalam manusia mendorong dirinya untuk meminta sesuatu yang mustahil. Lalu bagaimana bayangan Anda terhadap cinta yang berhubungan  dengan  cinta  kepada  Allah  s.w.t.  Ia  adalah  hakikat  cinta.
Kedalaman  perasaan  Nabi  Musa  kepada  Tuhannya  dan  kecintaannya  kepada sang Pencipta,  semua ini  mendorongnya untuk meminta kepada Allah s.w.t agar dapat melihatnya.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan tatkala Musa datang untuk  (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah  Kami  tentukan  dan  Tuhan  telah  berfirman  (langsung)  kepadanya, berkatalah Musa: 'Ya Tuhanku, tampakkanlah  (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.'" (QS. al- A'raf: 143)

Demikianlah  dorongan  cinta  dari  para  pencinta  sejati.  Musa  bertanya  dan meminta  kepada  Tuhannya  sesuatu  yang  menakjubkan  tetapi  Allah  s.w.t menjawabnya:

"Tuhan berfirman: 'Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku." (QS. al-A'raf:143)

Seandainya  Allah  s.w.t  hanya  mengatakan  demikian  maka  ini  pun  sebagai bentuk keadilan dari-Nya, tetapi keadaan di sini adalah keadaan cinta Ilahi dari Musa. Dorongan cinta yang dibalas dengan dorongan cinta. Demikianlah Nabi Musa mendapatkan rahmat dari Tuhannya. Allah s.w.t memberitahunya bahawa ia tidak akan mampu melihat-Nya kerana tak satu pun dari makhluk yang   tidak   dapat   "menangkap   cahaya"   dari   Allah   s.w.t.   Allah   s.w.t memerintahkannya agar melihat gunung, dan jika gunung itu masih menetap di tempatnya maka ia akan dapat melihat Tuhannya.

Allah s.w.t berfirman:

"Tetapi  lihatlah  ke  bukit  itu,  maka  jika  ia  tetap  di  tempatnya  (sebagai sediakala) nescaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pengsan. (QS. al-A'raf: 143)

Tiada  seorang  pun  yang  dapat  "menangkap"  cahaya  Allah  s.w.t.  Nabi  Musa mengetahui  hakikat  ini  dan  menyaksikan  sendiri.  Ash'aq  adalah  al-Maut (kematian) atau al-Ighma'  (keadaan tidak sedarkan diri atau pengsan). Kami tidak  mengetahui  bagaimana  keadaan  yang  dialami  Nabi  Musa  ketika  ia kehilangan kehidupannya atau kesedarannya.

"Maka  setelah  Musa  sedar  kembali,  dia  berkata:  'Maha  Suci  Engkau,  aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.'" (QS. al-A'raf: 143)

Para mufasir klasik cukup serius meneliti dan memperbincangkan ayat- ayat ini. Misalnya, mereka bertanya-tanya: bagaimana Nabi Musa meminta kepada Allah s.w.t agar dapat melihat-Nya, padahal ia tahu bahawa itu adalah hal yang tidak mungkin atau mustahil. Mereka berselisih pendapat dalam hal itu dan  saling  adu  argumentasi.  Mu'tazilah  memiliki  pendapat  yang  lain  dan Ahlusunah pun memiliki pendapat yang lain lagi. Pokok pembicaraan semuanya berkisar pada: bagaimana seorang nabi tidak mengetahui - padahal ia adalah makhluk  Allah  s.w.t  yang  paling  dekat  dengan-Nya  -  bahawa  melihat  Allah s.w.t adalah hal yang sangat mustahil?

Kami kira bahawa sikap Nabi Musa tersebut menggambarkan puncak cinta dan kedalaman dari hatinya, yang ini merupakan gambaran yang tinggi dari sejarah yang dilalui oleh Nabi Musa. Kita sekarang berada di hadapan puncak cinta kepada Allah s.w.t. Dan seorang pencinta tidak menginginkan selain melihat "wajah" kekasihnya. Menurut logik akal bahawa melihat Allah s.w.t adalah hal yang mustahil, tetapi kapan cinta pernah peduli dengan logik itu. Nabi Musa terdorong untuk mendapatkan pengalaman baru yaitu suatu pengalaman yang kayaknya  ia  sengaja  melakukannya  untuk  mewakili  kita  semua.  Nabi  Musa nekad dan mendorong kita untuk meminta. Ia lebih dahulu merasakan keadaan tidak sedarkan diri dan ia telah membuktikan kepada kita dengan tubuhnya yang mulia dan rohnya yang suci bahawa tak seorang pun dapat "menangkap" cahaya Allah s.w.t. Nabi Musa dalam keadaan tak sedarkan diri lalu ketika bangun  ia  memuja-muja  Allah  s.w.t  dan  bertaubat  serta  meminta  ampun kepadaNya:

"Dia  berkata:  'Maha  Suci  Engkau,  aku  bertaubat  kepada  Engkau.'"  (QS.al-A'raf: 143)

Mengapa  Nabi  Musa  bertaubat?  Orang-orang  sufi  berkata:  Ia  bertaubat  dari dorongan cinta yang besar di mana ia meminta sesuatu yang mustahil, padahal ia menyedari itu adalah mustahil. Ini adalah tafsiran yang memuaskan yang didukung   oleh   konteks   ayat-ayat   tersebut.   Perhatikanlah   ayat-ayat (tanda-kebesaran) Allah s.w.t dan bagaimana Dia mengingatkan Musa terhadap apa-apa yang diterimanya dari berbagai macam nikmat. Allah s.w.t berkata kepada Musa:

"Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku. Sebab itu,  berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur. Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran  dan  penjelasan  bagi  segala  sesuatu;  maka (Kami  berfirman):

'Berpeganglah  kepadanya  dengan  teguh  dan  suruhlah  kaummu  berpegang kepada (perintah-perintahnya)   dengan   sebaik-baiknya.'" (QS.   al-A'raf: 144-145)

Ahli tafsir memperhatikan firman Allah s.w.t kepada Musa: "Sesungguhnya Aku memilih (melebihkan)  kamu  dari  manusia  yang  lain (di  masamu)  untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku."

Kemudian  dilakukanlah  perbandingan  antara  Nabi  Musa  dan  nabi-nabi  yang lain.  Dikatakan  bahawa  pemilihan  ini  dikhususkan  hanya  kepadanya  dan  di zamannya  saja,  dan  tidak  berlaku  di  zaman  sebelumnya  kerana  ada  Nabi Ibrahim di zaman itu, sedangkan Nabi Ibrahim lebih baik dari Nabi Musa. Begitu juga  pemilihan  ini  tidak  berlaku  pada  zaman  setelahnya  kerana  ada  Nabi Muhammad bin Abdullah saw dan ia lebih baik dari mereka berdua.

Kami ingin menghindari perdebatan ini, bukan kerana kami percaya bahawa semua  nabi  sama.  Memang  Allah  s.w.t  memberitahu  kita  bahawa  Dia mengutamakan  sebahagian  nabi  atau  sebahagian  yang  lain  dan  mengangkat darjat sebahagian mereka atau sebahagian yang lain, tetapi pengutamaan ini adalah  hal  yang  tidak  boleh  kita  sentuh.  Hendaklah  kita  beriman  kepada seluruh nabi dan kita harus menunjukkan penghormatan kita kepada mereka semua.    Adalah    bukan    hal    yang    sopan    jika    kita    mencuba membanding-bandingkan di antara para nabi. Yang utama adalah, hendaklah kita meyakini dan mengimani mereka semua. Akhirnya, selesailah perjumpaan Musa dengan Tuhannya. Kemudian Nabi Musa kembali kepada kaumnya dalam keadaan marah dan jengkel. Di alam wujud tidak ada seorang manusia yang memiliki kelembutan dan kerelaan hati yang begitu besar seperti Nabi Musa, tetapi ia diberitahu oleh Tuhannya bahawa kaumnya telah menyimpang dari jalannya.  Oleh  kerana  itu,  ia  kembali  dalam  keadaan  marah  dan  jengkel kepada mereka. Allah s.w.t berfirman:

"Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa? Berkata Musa: 'Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepada-Mu, ya Tuhanku, agar supaya Engkau redha (kepadaku). Allah berfirman: 'Maka sesungguhnya, Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka  telah  disesatkan  oleh  Samiri.  Kemudian  Musa  kembali  kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. " (QS. Thaha: 83-86)

Musa  turun  dari  gunung dan  membawa  papan  Taurat.  Rasa-rasanya  hatinya mendidih  dan  jengkel.  Kita  dapat  membayangkan  bagaimana  emosi  yang membakar  Nabi  Musa  saat  ia  mengayunkan  langkahnya  menuju  kaumnya.

Betapa  tidak,  belum  lama  Nabi  Musa  meninggalkan  kaumnya  dan  menemui Tuhannya,  mereka  mendapatkan  fitnah  melalui  Samiri.  Fitnah  ini  adalah, bahawa Bani Israil  - ketika keluar dari Mesir  - membawa banyak dari harta perhiasan  orang-orang Mesir  dan  emas-emas mereka.  Mereka  mengambilnya untuk mereka memanfaatkan dalam pesta perayaan mereka. Kemudian mereka selamat kerana mukjizat pembelahan lautan di mana lautan menenggelamkan Fir'aun dan tenteranya sehingga harta mereka yang berupa emas dimiliki oleh Bani Israil.

Harun  mengetahui  bahawa  emas  tersebut  bukan  milik  mereka  lalu  Harun memintanya  dari  mereka  dan  menimbunnya  di  tanah.  Bani  Israil  tidak memerlukannya kerana saat ini mereka sedang tersesat. Mereka berjalan di tengah-tengah gurun sehingga tidak bermanfaat bagi mereka emas- emas itu. Harun, saudara kandung Musa, menggali tanah dan meletakkan emas-emas itu lalu menimbunkan di atasnya tanah. Samiri melihat apa yang dilakukan oleh Harun. Setelah itu, dia mengeluarkannya dan membuat sebuah patung sapi yang  menyerupai  sapi  Ibis  sesembahan  orang-orang  Mesir.  Samiri  adalah seorang pemahat yang mahir. Dia mampu membuat anak sapi yang menarik di mana ketika dia meletakkannya di arah angin maka akan masuk darinya udara dari celah bahagian belakangnya lalu keluar dari hidungnya. Samiri membuat suara yang menyerupai suara sapi yang sebenamya.

Konon,  rahsia  kehebatan  sapi  ini  adalah  kerana  Samiri  telah  mengambil segenggam tanah yang dilalui Jibril ketika ia turun ke bumi dalam peristiwa mukjizat pembelahan laut. Yakni Samiri melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh kaum Nabi Musa. Kemudian dia mengambil segenggam tanah dari bekas yang dilalui  seorang  utusan (Jibril)  dan  meletakkannya  bersama  emas.  Samiri membuat darinya anak sapi. Jibril as tidak berjalan di atas sesuatu kecuali sesuatu itu menjadi hidup. Ketika Samiri menambahkan tanah itu ke emas lalu membuat darinya anak sapi maka anak sapi itu dapat bersuara seperti anak sapi  yang  sebenarnya.  Demikianlah  kisah  Samiri.  Kita  mengetahui  sekarang
bahawa jika tanah ditambahkan ke emas dan melebur maka tanah itu akan terpisah  dari  emas  dan  akan  meninggalkan  bekas (lubang)  di  tempat terpisahnya itu. Diduga kuat bahawa Samiri menggunakan tanah itu seperti tanah yang lain dalam usaha untuk mengeringkan bahagian dalam dari anak sapi di mana patung itu berubah menjadi patung yang mempunyai suara.

Setelah  itu,  Samiri  keluar  menemui  Bani  Israil  dengan  membawa  apa  yang dibuatnya. Mereka bertanya kepadanya: "Apa ini, hai Samiri?" Ia menjawab: "Ini adalah tuhan kalian dan tuhan Musa." Mereka berkata: "Bukankah Musa sedang menemui  Tuhannya?"  Samiri  menjawab:  "Musa  telah  lupa  ia  pergi  untuk menemui  tuhannya  di  sana,  padahal  sebenarnya  tuhannya  ada  di  sini." Akhirnya, Bani Israil menyembah anak sapi ini.

Barangkali pembaca akan merasa hairan terhadap fitnah ini. Bagaimana akal kaum itu dapat tunduk sampai pada keadaan seperti ini? Bukankah mereka telah  menyaksikan  mukjizat  yang  besar?  Bagaimana  mereka  dengan  mudah menyembah  berhala?  Kebingungan  tersebut  segera  hilang  ketika  kita  lihat keadaan kejiwaan kaum yang menyembah anak sapi itu. Mereka telah terdidik di Mesir pada saat mereka menyembah berhala dan sangat mengkultuskan anak sapi Ibis. Mereka terdidik di bawah kehinaan dan perbudakan sehingga jiwa mereka  menjadi  ternoda  dan  fitrah  mereka  menjadi  tercemar.  Mereka menyaksikan   mukjizat-mukjizat   dari   Allah   s.w.t   tetapi   mukjizat   itu berbenturan  dengan  jiwa-jiwa  yang  putus  asa.  Mukjizat  ini  tidak  mampu memuaskan  mereka  untuk  mempercayai  kebenaran.  Mereka  masih  saja dihinggapi   keinginan   untuk   menyembah   berhala.   Mereka   adalah   para penyembah berhala seperti tokoh-tokoh Mesir yang dahulu. Oleh kerana itu, mereka menyembah anak sapi. Sikap mereka ini tidak terlalu mengagetkan kita. Sebab, setelah mereka menyaksikan mukjizat pembelahan lautan, mereka melihat suatu kaum yang menyembah berhala, lalu mereka minta kepada Nabi Musa  agar  menjadikan  tuhan  bagi  mereka  seperti  kaum  yang  menyembah berhala itu.

Jadi,  masalahnya  adalah  masalah  klasik.  Pada  hakikatnya,  hasrat  untuk menyembah  berhala  bererti  menyembah  berhala  itu  sendiri.  Apa  yang dilakukan Samiri adalah, ia memanfaatkan kerinduan kaum untuk menyembah berhala.  Kemudian  Samiri  memilih  agar  anak  sapi  yang  diciptakannya berbentuk  emas  kerana  ia  mengetahui  bahawa  umumnya  Bani  Israil  lemah (mudah terpedaya) pada emas. Akhirnya, fitnah yang ditimbulkan oleh Samiri tersebar  di  sana  sini.  Harun  sangat  terpukul  ketika  mengetahui  Bani  Israil menyembah  anak  sapi  dari  emas.  Mereka  terbagi  menjadi  dua  kelompok: minoriti dari mereka beriman dan mengetahui bahawa ini adalah tipu daya dan kebohongan semata, sedangkan majoriti mereka mengingkari Harun dan tetap melampiaskan kerinduan mereka untuk menyembah berhala. Harun berdiri di tengah-  tengah  kaumnya  dan  mulai  menasihati  mereka.  Ia  berkata  kepada mereka: "Sesungguhnya kalian tertipu dengannya. Ini adalah fitnah (godaan). Samiri telah memanfaatkan kebodohan kalian dengan menciptakan anak sapi itu. Lembu itu bukan tuhan kalian dan bukan juga tuhan Musa:

"Sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah ahu dan taatilah perintahku." (QS. Thaha: 90)

Para  penyembah  anak  sapi  menolak  nasihat  Harun.  Kelompok  orang-  orang yang   bodoh   itu   tidak   mahu   lagi   menerima   nasihat.   Harun   kembali memperingatkan mereka dan menceritakan kembali kepada mereka bagaimana mukjizat-mukjizat Allah s.w.t dapat menyelamatkan mereka, dan bagaimana Allah s.w.t memuliakan dan menjaga mereka. Tetapi mereka menutup telinga dan menolak segala nasihatnya. Mereka justru melemahkan posisi Harun dan nyaris saja membunuhnya. Adalah jelas bahawa Harun lebih lemah daripada Musa, sehingga para kaum tidak takut lagi. Harun khuatir jika ia menggunakan kekuatan  dan  menghancurkan  berhala-berhala  yang  mereka  sembah,  maka akan terjadi fitnah di tengah-tengah kaum dan akan tercipta perang saudara. Akhirnya,  Harun  memilih  untuk  menunda  hal  itu  sampai  kedatangan  Musa.
Harun  mengetahui  bahawa  Musa  seorang yang kuat  yang mampu  mengatasi fitnah ini tanpa harus menumpahkan darah. Sementara itu, Bani Israil terus menari di sekitar anak sapi. Samiri - mudah-mudahan Allah s.w.t melaknatnya -adalah  penyebab  fitnah  ini,  dan  ia  menari-nari  serta  berputar-putar  di sekeliling berhala.

Al-Qurthubi  dalam  tafsirnya  pada  juz  kesebelas  menyebutkan  fitnah  yang timbulkan  oleh  Samiri.  Qurthubi  berkata:  "Imam  Abu  Bakar  at-Thurthusi ditanya: "Apa yang dikatakan oleh pemimpin kita al-Faqih tentang kelompok lelaki   yang   memperbanyak   zikrullah   dan   menyebut   Muhammad   saw. Sebahagian  mereka  menari-nari  sehingga  pengsan.  Mereka  menghadirkan sesuatu dan memakannya. Apakah hadir bersama mereka boleh atau tidak?
Berilah   kami   fatwa,   mudah-mudahan   engkau   diberi   pahala."   Qurthubi menjawab pertanyaan ini dengan menukil penjelasan gurunya: "Mazhab sufi (yang   beliau   maksudkan   adalah   orang-orang   yang   menari-nari   yang dipraktikkan   oleh   sebahagian   aliran   sufi   untuk   mengekspresikan   zikir) berdasarkan kebodohan dan kesesatan serta sesuatu yang sia-sia. Islam hanya berdasarkan Kitab Allah s.w.t dan sunah Rasul-Nya. Praktik tari-tarian seperti itu adalah sesuatu yang pertama kali diciptakan oleh pengikut-pengikut Samiri ketika   mereka   menjadikan   anak   sapi   sebagai   tuhan   mereka.   Mereka menari-nari di sekitarnya dan berkumpul di situ. Itu adalah agama kekufuran dan penyembahan terhadap anak sapi."

Nabi saw duduk bersama sahabatnya dan seakan-akan di atas kepala mereka terdapat burung, kerana saking hormatnya mereka terhadap beliau. Hendaklah penguasa dan wakilnya mencegah orang-orang itu untuk hadir di masjid dan selainnya. Dan  tidak diperkenankan  bagi seorang pun  yang beriman  kepada Allah  s.w.t  dan  hari  kemudian  untuk  hadir  bersama  orang-orang  itu  atau membantu kebatilan mereka. Ini adalah pendapat mazhab Malik, Abu Hanifah, Syafi'i, Ahmad bin Hambal, dan lain-lain dari para imam kaum Muslim.

Demikianlah pernyataan al-Qurthubi berkaitan dengan masalah tersebut. Anda dapat membayangkan sejauh mana kecemerlangan fikirannya dan sejauh mana ketakwaannya. Selanjutnya, kita kembali kepada kisah Nabi Musa. Nabi Musa turun dari gunung untuk kembali menemui kaumnya. Kemudian ia mendengar teriakan kaum saat mereka menari-nari di sekitar anak sapi. Kaum itu berhenti ketika melihat Nabi Musa muncul di depan mereka. Dan tiba-tiba keheningan menyelimuti mereka. Nabi Musa berteriak dan berkata:

"Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati,  berkatalah  dia:  'Alangkah  buruknya  perbuatan  yang  kamu  kerjakan sesudah kepergianku!'" (QS. al-A'raf: 150)

Musa  berjalan  menuju  ke  Harun,  lalu  ia  meletakkan  papan  Taurat  dengan tangannya di atas tanah. Tampaknya api kemarahan telah membakamya. Musa memegang  Harun  dari  rambut  kepalanya  sampai  rambut  janggutnya  sambil berkata:

"Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga)  kamu  tidak  mengikuti  aku?  Maka  apakah  kamu  telah (sengaja) menderhakai perintahku?" (QS. Thaha: 92-93)

Musa  bertanya,  "Apakah  Harun  tidak  mentaati  perintahnya,  bagaimana  ia mendiamkan  fitnah  ini;  bagaimana  ia  tetap  bersama  mereka  dan  tidak meninggalkan mereka serta berlepas diri dari perbuatan mereka; bagaimana ia tetap diam dan tidak berusaha melawan mereka, bukankah orang yang diam atau membiarkan suatu kesalahan itu bertanda bahawa ia merestuinya atau bahagian dari kesalahan itu?" Keheningan semakin meningkat ketika gelora api kemarahan  Musa  semakin  membara.  Harun  berbicara  kepada  Musa  dan meminta  kepadanya  untuk  melepaskan  kepalanya  dan  janggutnya  kerana mereka  berdua  berasal  dari  ibu  yang  satu.  Harun  mengingatkan  Musa  akan kedekatan hubungannya melalui  ibu,  bukan melalui ayah agar hal itu lebih dapat membuat Musa merasa kasihan kepadanya:

"Harun menjawab: 'Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku.'" (QS. Thaha: 94)

Harun  memberi  pengertian  kepada  Musa  bahawa  ia  sama  sekali  tidak bermaksud  menentang  perintahnya,  dan  ia  pun  tidak  menunjukkan  sikap merestui  penyembahan  anak  sapi,  tetapi  ia  khuatir  jika  ia  meninggalkan mereka  dan  pergi  lalu  Musa  bertanya  kepadanya,  mengapa  ia  tidak  tetap tinggal  bersama  mereka?  Mengapa  seorang  yang  bertanggungjawab  kepada mereka justru meninggalkan mereka? Di samping itu, ia juga khuatir jika ia memerangi  mereka  dengan  kekerasan  maka  terjadi  peperangan  di  antara mereka.   Lalu   Musa   akan   bertanya   kepadanya,   mengapa   ia   membikin perpecahan  di  antara  mereka  dan  mengapa  ia  tidak  menunggu  kembalinya Musa

NABI MUSA a.s. DENGAN 'AUJ BIN UNUQ

'Auj  bin  Unuq  adalah  manusia  yang  berumur  sehingga  4,500  tahun.  Tinggi  tubuh badannya di waktu berdiri adalah seperti ketinggian air yang dapat menenggelamkan negeri pada zaman Nabi Nuh a.s. Ketinggian air tersebut tidak dapat melebihi lututnya. Ada yang mengatakan bahawa dia tinggal di gunung. Apabila dia merasa lapar, dia akan menghulurkan tangannya ke dasar laut untuk menangkap ikan kemudian memanggangnya dengan  panas  matahari.  Apabila  dia  marah  atas  sesebuah  negeri,  maka  dia  akan mengencingi negeri tersebut hinggalah penduduk negeri itu tenggelam di dalam air kencingnya.

Apabila Nabi Musa bersama kaumnya tersesat di kebun teh, maka 'Auj bermaksud untuk membinasakan  Nabi  Musa  bersama  kaumnya  itu.  Kemudian  'Auj  datang  untuk memeriksa tempat kediaman askar Nabi Musa a.s., maka dia mendapati beberapa tempat kediaman askar Nabi Musa itu tidak jauh dari tempatnya. Kemudian dia mencabut gunung-gunung yang ada di sekitarnya dan diletakkan di atas kepalanya supaya mudah untuk dicampakkan kepada askar-askar Nabi Musa a.s.

Sebelum sempat 'Auj mencampakkan gunung-gunung yang dijunjung di atas kepalanya kepada askar-askar Nabi Musa a.s, Allah telah mengutuskan burung hud-hud dengan membawa batu berlian dan meletakkannya di atas gunung yang dijunjung oleh 'Auj. Dengan kekuasaan Allah, berlian tersebut menembusi gunung yang dijunjung oleh 'Auj sehinggalah  sampai  ke  tengkuknya.  'Auj  tidak  sanggup  menghilangkan  berlian  itu, akhirnya 'Auj binasa disebabkan batu berlian itu.

Dikatakan bahawa ketinggian Nabi Musa a.s adalah empat puluh hasta dan panjang tongkatnya  juga  empat  puluh  hasta  dan  memukulkan  tongkatnya  kepada  'Auj  tepat mengenai mata dan kakinya. Ketika itu jatuhlah 'Auj dengan kehendak Allah S.W.T dan akhirnya tidak dapat lari daripada kematian sekalipun badannya tinggi serta memiliki kekuatan yang hebat.

NABI MUSA a.s. BERMUNAJAT DENGAN ALLAH
Menurut  riwayat  sementara  ahli  tafsir,  bahawasanya  tatkala  Nabi  Musa  berada  di Mesir, ia telah berjanji kepada kaumnya akan memberi mereka sebuah kitab suci yang dapat digunakan sebagai pedoman hidup yang akan memberi bimbingan dan sebagai tuntunan bagaimana cara mereka bergaul dan bermuamalah dengan sesama manusia dan bagaimana mereka harus melakukan persembahan dan ibadah mereka kepada Allah. Di dalam kitab suci itu mereka akan dapat petunjuk akan hal-hal yang halal dan haram, perbuatan yang baik yang diredhai oleh Allah di samping perbuatan-perbuatan yang mungkar yang dapat mengakibatkan dosa dan murkanya Tuhan.

Maka  setelah  perjuangan  menghadapi  Fir'aun  dan  kaumnya  yang  telah  tenggelam binasa di laut, selesai, Nabi Musa memohon kepada Allah agar diberinya sebuah kitab suci  untuk  menjadi  pedoman  dakwah  dan  risalahnya  kepada  kaumnya.  Lalu  Allah memerintahkan kepadanya agar untuk itu ia berpuasa selama tiga puluh hari penuh, iaitu semasa bulan Zulkaedah. Kemudian pergi ke Bukit Thur Sina di mana ia akan diberi kesempatan bermunajat dengan Tuhan serta menerima kitab penuntun yang diminta.

Setelah berpuasa selama tiga puluh hari penuh dan tiba saat ia harus menghadap kepada Allah di atas bukit Thur Sina Nabi Musa merasa segan akan bermunajat dengan Tuhannya dalam keadaan mulutnya berbau kurang sedap akibat puasanya. Maka ia menggosokkan giginya dan mengunyah daun-daunan dalam usahanya menghilangkan bau mulutnya. Ia ditegur oleh malaikat yang datang kepadanya atas perintah Allah. Berkatalah   malaikat   itu   kepadanya:   "Hai   Musa,   mengapakah   engkau   harus menggosokkan   gigimu   untuk   menghilangkan   bau   mulutmu   yang   menurut anggapanmu  kurang  sedap,  padahal  bau  mulutmu  dan  mulut  orang-orang  yang berpuasa bagi kami adalah lebih sedap dan lebih wangi dari baunya kasturi. Maka akibat  tindakanmu  itu,  Allah  memerintahkan  kepadamu  berpuasa  lagi  selama sepuluh hari sehingga menjadi lengkaplah masa puasamu sepanjang empat puluh hari."

Nabi Musa mengajak tujuh puluh orang yang telah dipilih di antara pengikutnya untuk menyertainya  ke  bukit  Thur  Sina  dan  mengangkat  Nabi  Harun  sebagai  wakilnya mengurus serta memimpin kaum yang ditinggalkan selama kepergiannya ke tempat bermunajat itu. Pada saat yang telah ditentukan tibalah Nabi Musa seorang diri di bukit Thur Sina mendahului tujuh puluh orang yang diajaknya turut serta. Dan ketika ia ditanya oleh Allah: "Mengapa engkau datang seorang diri mendahului kaummu, hai Musa?" Ia menjawab:  "Mereka  sedang  menyusul  di  belakangku,  wahai  Tuhanku.  Aku cepat-cepat datang lebih dahulu untuk mencapai redha-Mu."

Berkatalah Musa dalam munajatnya dengan Allah: "Wahai Tuhanku, nampakkanlah zat-Mu kepadaku, agar aku dapat melihat-Mu"

Allah berfirman: "Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku, tetapi cubalah lihat bukit itu, jika ia tetap berdiri tegak di tempatnya sebagaimana sedia kala, maka nescaya engkau  akan  dapat  melihat-Ku."  Lalu  menolehlah  Nabi  Musa  mengarahkan pandangannya  kejurusan  bukit  yang  dimaksudkan  itu  yang  seketika  itu  juga dilihatnya hancur luluh masuk ke dalam perut bumi tanpa menghilangkan bekas. Maka terperanjatlah Nabi Musa, gementarlah seluruh tubuhnya dan jatuh pengsan. Setelah ia sedar kembali dari pengsannya, bertasbih dan bertahmidlah ia seraya memohon  ampun  kepada  Allah  atas  kelancangannya  itu  dan  berkata:  "Maha Besarlah Engkau wahai Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku dan aku akan menjadi orang yang pertama beriman kepada-Mu."

Dalam kesempatan bermunajat itu, Allah menerimakan kepada Nabi Musa kitab suci "Taurat" berupa kepingan-kepingan batu-batu atau kepingan kayu menurut sementara
ahli  tafsir  yang  di  dalamnya  tertulis  segala  sesuatu  secara  terperinci  dan  jelas mengenai pedoman hidup dan penuntun kepada jalan yang diredhai oleh Allah.

Allah mengiring pemberian "Taurat" kepada Musa dengan firman-Nya: "Wahai Musa, sesungguhnya Aku telah memilih engkau lebih dari manusia-manusia yang lain di masamu, untuk membawa risalah-Ku dan menyampaikan kepada hamba-hamba-Ku. Aku  telah  memberikan  kepadamu  keistimewaan  dengan  dapat  bercakap-cakap langsung  dengan  Aku,  maka  bersyukurlah  atas  segala  kurnia-Ku  kepadamu  dan berpegang teguhlah pada apa yang Aku tuturkan kepadamu. Dalam kitab yang Aku berikan kepadamu terhimpun tuntunan dan pengajaran yang akan membawa Bani Isra'il ke jalan yang benar, ke jalan yang akan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat   bagi   mereka.   Anjurkanlah   kaummu   Bani   Isra'il   agar   mematuhi perintah-perintah-  Ku  jika  mereka  tidak  ingin  Aku  tempatkan  mereka  di tempat-tempat orang- orang yang fasiq."

Bacalah tentang kisah munajat Nabi Musa ini, surah "Thaha" ayat 83 dan 84 dan surah "Al-a'raaf" ayat 142 sehingga ayat 145 sebagaimana berikut :~

"83~ Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?" 84~ Berkata Musa:  "Itulah  mereka  sedang  menyusuli  aku  dan  aku  bersegera  kepadamu  ya Tuhanku, agar supaya Engkau redha kepadaku." { Thaha : 83 ~ 84 }

"142~ Dan Kami telah janjikan kepada Musa {memberikan Taurat} sesudah berlalu waktu tiga puluh malam dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh {malam lagi}, maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya, iaitu Harun: "Gantilah aku dalam  {memimpin} kaumku dan perbaikilah dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang  yang  membuat  kerosakan".  143~  Dan  tatkala  Musa  datang  untuk {munajat} dengan {Kami} pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman  {langsung}  kepadanya,  berkatalah  Musa:  "Ya  Tuhanku  nampakkanlah {Zat Engkau} kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman: "Kamu sesekali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi melihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya {sebagai sediakala} nescaya kamu dapat melihat-Ku." Tatkala Tuhannya nampak bagi gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pengsan. Maka setelah Musa sedar kembali, dia berkata: "Maha  Suci  Engkau,  aku  bertaubat  kepada-Mu  dan  aku  orang  yang  pertama beriman." 144~ Allah berfirman: "Hai Musa sesungguhnya Aku memilih kamu lebih dari  manusia  yang  lain {di  masamu}  untuk  membawa  risalah-Ku  dan  untuk berbicara langsung dengan-Ku sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur." 145~ Dan Kami telah tuliskan untuk Musa luluh  {Taurat} segala sesuatu sebagai pengajaran bagi sesuatu. Maka Kami berfirman: "Berpeganglah kepadanya dengan teguh  dan  suruhlah  kaummu  berpegang  kepada {perintah-perintahnya}  yang sebaik-baiknya,  nanti  Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-  orang yang fasiq." { Al-A'raaf: 142 ~ 145 }

JANGGUT NABI HARUN a.s. BERWARNA DUA

Nabi  Musa  Alaihisalam  telah  diperintahkan  oleh  Allah  Subhanahu  Wataala supaya pergi ke bukit Sina untuk menerima wahyu. Semasa pemergian Nabi Musa,  segala  urusan  telah  diserahkan  kepada  saudaranya  Nabi  Harun  a.s. Pemergian Nabi Musa mengambil masa selama 40 hari dan 40 malam.

Ketiadaan Nabi Musa a.s telah mengembirakan seorang musuh dalam selimut bernama Samiri. Dia telah memunafaat masa ini untuk menyesatkan kaum Nabi

Musa yang selama ini telah bersusah payah membentuk dan memberi keimanan kepada mereka. Sewaktu Nabi Musa menyeberangi Laut Merah setelah pulang dari Mesir, kaki kuda yang ditunggangi oleh Nabi Musa telah tenggelam dalam pasir di tengah lautan yang kering itu. Dengan segala usaha yang dilakukan oleh  Nabi  Musa,  kuda  yang  ditungganginya  tetap  tidak  mahu  meneruskan perjalanan untuk menyeberangi Laut Merah.

Kerana itu Allah telah mengutuskan malaikat Jibrail dengan menunggang kuda betina. Melihat lawan sejenisnya kuda yang ditunggangi oleh Nabi Musa telah mengejar kuda yang ditunggangi oleh Malaikat Jibrail. Samiri yang ikut serta dalam rombongan tersebut telah mengambil segenggam pasir bekas tapak kaki kuda yang ditunggangi oleh Jibrail dan disimpannya untuk dijadikan azimat.

Apabila tiba masa yang sesuai iaitu semasa Nabi Musa bersunyi di Bukit Sina, Samiri  membuat  patung  seekor  lembu  daripada  emas  murni.  Setelah  siap, patung  itu  diisinya  dengan  pasir  yang  di  ambil dari  bekas  tapak  kaki  kuda Jibrail.  Dalam  waktu  yang  singkat  sahaja  patung  lembu  tersebut  dapat mengeluarkan  suara.  Melihat  keadaan  tersebut,  umat  Nabi  Musa  datang berduyun-duyun kepada Samiri. Samiri memimpin mereka menyembah patung lembu yang menakjubkan itu.

Nabi Harun sangat marah setelah melihat umatnya menyembah berhala, lalu berusaha  mencegah  umatnya  daripada  terus  syirik  kepada  Allah  bahkan umatnya mengancam Nabi Harun untuk membunuhnya jika Nabi Harun terus melarang mereka menyembah patung lembu tersebut. Nabi Harun tidak dapat berbuat apa-apa untuk melarang mereka daripada terus menyembah patung tersebut. Setelah kembali daripada Bukit Sina, Nabi Musa sangat marah kerana melihat umatnya telah murtad.

Nabi Harun telah di persalahkan dalam hal ini. Dalam keadaan marah yang tidak dapat dikawal Nabi Musa telah menarik janggut Nabi Harun menyebabkan janggut yang dipegang oleh Nabi Musa telah bertukar menjadi putih manakala janggut yang tidak terkena tangan Nabi Musa kekal berwarna hitam. Sejak itu janggut Nabi Harun mempunyai dua warna iaitu putih dan hitam.

No comments:

Post a Comment