Tuesday, June 10, 2014

KISAH NABI DAUD A.S.

Berlalulah tahun-tahun yang cukup panjang dari wafatnya Musa. Setelah Nabi Musa, datanglah para nabi dan mereka telah mati dan anak-anak Israil setelah Musa telah kalah. Kitab suci mereka telah hilang, yaitu Taurat. Ketika Taurat telah  hilang  dari  dada  mereka  maka  ia  pun  tercabut  dari  tangan  mereka. Musuh-musuh mereka menguasai peti perjanjian yang di dalamnya terdapat peninggalan keluarga Musa dan Harun. Bani Israil terusir dari keluarga mereka dan rumah mereka. Keadaan mereka sungguh sangat tragis. Kenabian telah terputus dari cucu Lawi, dan tidak tersisa dari mereka kecuali seorang wanita yang hamil yang berdoa kepada Allah s.w.t agar Dia memberinya anak laki-
laki. Lalu ia melahirkan anak laki-laki dan menamainya dengan nama Asymu'il yang dalam bahasa Ibrani bererti Ismail. Yakni Allah s.w.t mendengar doaku.

Ketika  anak  itu  tumbuh  dewasa,  ibunya  itu  mengirimnya  ke  masjid  dan menyerahkannya kepada lelaki soleh agar belajar kebaikan dan ibadah darinya. Anak  itu  berada  di  sisinya.  Pada  suatu  malam  -  ketika  ia  telah  menginjak dewasa - ia tidur, lalu ia mendengar ada suara yang datang dari sisi masjid. Ia bangun dalam keadaan ketakutan dan mengira bahawa syeikh atau gurunya memanggilnya.  Ia  segera  menuju  gurunya  dan  bertanya:  "Apakah  engkau memang  memanggilku?"  Guru  itu  tidak  ingin  menakut-nakutinya  maka  ia berkata: "Ya, ya." Anak itu pun tidur kembali. Kemudian suara itu lagi-lagi memanggilnya untuk kedua kalinya dan ketiga hingga ia bangun dan melihat malaikat Jibril memanggilnya: "Tuhanmu telah mengutusmu kepada kaummu." Pada suatu hari, Bani Israil menemui nabi yang mulia ini. Mereka bertanya kepadanya:  "Tidakkah  kami  orang-orang  yang  teraniaya?"  Dia  menjawab: "Benar."  Mereka  berkata:  "Tidakkah  kami  orang-orang  yang  terusir?"  Dia menjawab: "Benar." Mereka mengatakan: "Kirimkanlah untuk kami seorang raja yang  dapat  mengumpulkan  kami  di  bawah  satu  bendera  agar  kita  dapat berperang di jalan Allah s.w.t dan agar kita dapat mengembalikan tanah kita dan kemuliaan kita." Nabi mereka berkata kepada mereka dan tentu ia lebih tahu daripada mereka: "Apakah kalian yakin akan menjalankan peperangan jika diwajibkan peperangan atas kalian?"

Mereka  menjawab:  "Mengapa  kami  tidak  berperang  di  jalan  Allah  s.w.t sedangkan kami telah terusir dari negeri kami, dan anak-anak kami pun terusir serta keadaan kami makin memburuk." Nabi mereka berkata: "Sesungguhnya Allah  s.w.t  telah  mengutus  Thalut  sebagai  penguasa  bagi  kalian."  Mereka berkata:  "Bagaimana  ia  menjadi  penguasa  atas  kami  sedangkan  kami  lebih berhak mendapatkan kekuasaan itu daripadanya. Lagi pula, ia bukan seorang yang kaya, sedangkan di antara kami ada orang yang lebih kaya daripadanya."

Nabi mereka berkata: "Sesungguhnya Allah s.w.t memilihnya atas kalian kerana ia memiliki keutamaan dari sisi ilmu dan fizik. Dan Allah s.w.t memberikan kekuasaan-Nya kepada siapa pun yang Dia kehendaki." Mereka berkata: "Apa tanda  kekuasaa-Nya?"  Nabi  menjawab:  "Kitab  Taurat  yang  dirampas  musuh
kalian akan kembali kepada kalian. Kitab itu akan dibawa oleh para malaikat
dan  diserahkan  kepada  kalian.  Ini  adalah  tanda  kekuasaan-Nya."  Mukjizat
tersebut benar-benar terjadi di mana pada suatu hari Taurat kembali kepada
mereka.

Pembentukan  pasukan  Thalut  dimulai.  Thalut  telah  menyiapkan  tenteranya untuk memerangi Jalut. Jalut adalah seseorang yang perkasa dan penantang yang hebat di mana tak seorang pun mampu mengalahkannya. Pasukan Thalut telah siap. Pasukan berjalan dalam waktu yang lama di tengah-tengah gurun dan gunung sehingga mereka merasakan kehausan. Raja Thalut berkata kepada tenteranya:   "Kita   akan   menemui   sungai   di   jalan.   Barang   siapa   yang meminumnya maka hendaklah ia akan keluar dari pasukan dan barang siapa yang tidak mengicipinya dan hanya sekadar membasahi kerongkongannya maka ia akan dapat bersamaku dalam pasukan."

Akhirnya,  mereka  mendapati  sungai  dan  sebahagian  tentera  minum  darinya dan kemudian mereka keluar dari barisan tentera. Thalut telah menyiapkan ujian ini untuk mengetahui siapa di antara mereka yang mentaatinya dan siapa yang membangkangnya; siapa di antara mereka yang memiliki tekad yang kuat dan mampu menahan rasa haus dan siapa yang memiliki keinginan yang lemah dan mudah menyerah.

Thalut  berkata  kepada  dirinya  sendiri:  "Sekarang  kami  mengetahui  orangorang yang pengecut sehingga tidak ada yang bersamaku kecuali orang- orang yang berani." Jumlah pasukan memang berpengaruh tetapi yang paling penting dalam pasukan adalah, sifat keberanian dan iman, bukan semata-mata jumlah dan senjata. Lalu datanglah saat-saat yang menentukan bagi pasukan Thalut. Mereka  berdiri  di  depan  pasukan  musuhnya,  Jalut.  Jumlah  pasukan  Thalut sedikit sekali tetapi pasukan Musuh sangat banyak dan kuat.

Sebahagian orang-orang yang lemah dari pasukan Thalut berkata: "Bagaimana mungkin  kita  dapat  mengalahkan  pasukan  yang  perkasa  itu?"  Kemudian orang-orang  mukmin  dari  pasukan  Thalut  menjawab:  "Yang  penting  dalam pasukan  adalah  keimanan  dan  keberanian.  Berapa  banyak  kelompok  yang sedikit mampu mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah s.w.t." Allah s.w.t berfirman:

"Apakah  kamu  tidak  memperhatikan  pemuka-pemuka  Bani  Israil  sesudah nabi  Musa,  yaitu  ketika  mereka  berkata  kepada  seorang  nabi  mereka:
'Angkatlah  untuk  kami  seorang  raja  agar  kami  berperang (di  bawah pimpinannya)  dijalan  Allah.  Nabi  mereka  menjawab:  'Mungkin  sekali  jika kamu   diwajibkan   berperang,   kamu   tidak   akan   berperang.'   Mereka menjawab: 'Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami sesungguhnya telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami.'  Maka  tatkala  perang  itu  diwajibkan  atas  mereka,  mereka  pun berpaling, kecuali beberapa orang yang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang lalim. Nabi mereka mengatakan kepada mereka:  'Sesungguhnya  Allah  telah  mengangkat  Thalut  menjadi  rajamu.' Mereka menjawab: 'Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak  mengendalikan  pemerintahan  daripadanya,  sedang  dia  pun  tidak diberi kekayaan yang banyak?' (Nabi mereka) berkata: 'Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahi ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.' Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.   Dan   Allah   Maha   Luas   Pemberian-Nya   lagi   Maha Mengetahui. Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: 'Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut  itu  dibawa oleh  malaikat.  Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman. Maka tatkala Thalut keluar membawa tenteranya, ia berkata: 'Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum   airnya,   bukanlah   ia   pengikutku.   Dan   barang   siapa   tiada meminumnya,   kecuali   mencedok   secedok   tangan,   maka   ia   adalah pengikutku.  Kemudian  mereka  meminumnya  kecuali  beberapa  orang  di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: 'Tak  ada  kesanggupan  kami  pada  hari  ini  untuk  melawan  Jalut  dan tenteranya' Orang-orang yang meyakini bahawa mereka akan menemui Allah berkata:   'Berapa   banyak   yang   terjadi   golongan   yang   sedikit   dapat          mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah berserta orang-orang yang sabar.'" (QS. al-Baqarah: 246-249)

Jalut  tampak  membawa  baju  besinya  bersama  pedangnya.  Tampaknya  ia menantang  seseorang  untuk  berlawan  dengannya.  Semua  tentera  Thalut merasa takut untuk menghadapinya. Di saat-saat tegang ini, muncullah dari pasukan Thalut seorang penggembala kambing yang kecil, yaitu Daud. Daud adalah  seorang  yang  beriman  kepada  Allah  s.w.t.  Ia  mengetahui  bahawa keimanan kepada Allah s.w.t adalah hakikat kekuatan di alam ini, dan bahawa kemenangan bukan semata-mata ditentukan banyaknya senjata dan kuatnya tubuh.

Daud maju dan meminta kepada raja Thalut agar mengizinkannya berlawan  dengan Jalut. Namun si raja pada hari pertama menolak permintaan itu. Daud bukanlah seorang tentera, ia hanya sekadar penggembala kambing yang kecil. Ia tidak memiliki pengalaman dalam peperangan. Ia tidak memiliki pedang, senjatanya  adalah  potongan  batu  bata  yang  digunakan  untuk  mengusir kambingnya. Meskipun demikian, Daud mengetahui bahawa Allah s.w.t adalah sumber  kekuatan  yang hakiki  di  dunia ini. kerana  ia seorang yang beriman kepada Allah s.w.t, maka ia merasa lebih kuat daripada Jalut.

Pada  hari  kedua,  ia  kembali  meminta  izin  agar  diberi  kesempatan  untuk memerangi  Jalut.  Lalu  raja  memberikan  izin  kepadanya.  Raja  berkata kepadanya: "Seandainya engkau berani memeranginya, maka engkau menjadi pemimpin pasukan dan akan menikahi anak perempuanku." Daud tidak peduli dengan  iming-iming  tersebut.  Ia  hanya  ingin  berperang  dan  memenangkan agama. Ia ingin membunuh Jalut, seorang lelaki yang sombong yang zalim dan tidak  beriman  kepada  Allah  s.w.t,  Raja  mengizinkan  kepada  Daud  untuk berlawan dengan jalut.

Daud maju dengan membawa tongkatnya dan lima buah batu serta katapel. Jalut maju dengan dilapisi senjata dan baju besi. Jalut berusaha mengejek Daud   dan   merendahkannya   serta   mentertawakan   kefakirannya   dan kelemahannya. Kemudian Daud meletakkan batu yang kuat di atas katapelnya, lalu ia melepaskannya di udara sehingga batu itu pun meluncur dengan keras. Angin menjadi sahabat Daud kerana ia cinta kepada Allah s.w.t sehingga angin itu membawa batu itu menuju ke dahi Jalut. Batu itu membunuhnya. Jalut yang dibekali senjata yang lengkap itu tersungkur ke tanah dan mati.

Daud,   seorang   penggembala   yang   baik,   mengambil   pedangnya.   Dan berkecamuklah peperangan di antara kedua pasukan. Peperangan dimulai saat pemimpinnya terbunuh dan rasa ketakutan menghinggapi seluruh pasukannya, sedangkan pasukan yang lain dipimpin oleh seorang penggembala kambing yang sederhana.
Allah s.w.t berfirman:

"Tatkala mereka tampak oleh jalut dan tenteranya, mereka pun berdoa: 'Ya Tuhan  kami,  tuangkanlah  kesabaran  atas  diri  kami,  dan  kukuhkanlah pendirian  kami  terhadap  orang-orang  kafir.'  Mereka (tentera  Thalut) mengalahkan tentera Jalut dengan izin Allah memberinya kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya  apa  yang  dikehendaki-Nya.  Seandainya  Allah  tidak  menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rosaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai kurnia  (yang dicurahkan) atas semesta alam." (QS. al-Baqarah: 250-251)


Setelah  Daud  membunuh  jalut,  ia  mencapai  puncak  kebenaran  di  tengah-tengah kaumnya sehingga ia menjadi seorang lelaki yang paling terkenal di kalangan Bani Israil. Beliau menjadi pemimpin pasukan dan suami dari anak perempuan raja. Namun Daud tidak begitu gembira dengan semua ini. Beliau tidak bertujuan untuk mencapai kebenaran atau kedudukan atau kehormatan, tetapi beliau berusaha untuk menggapai cinta Allah s.w.t. Daud telah diberi suatu suara yang sangat indah dan mengagumkan. Daud bertasbih kepada Allah s.w.t dan mengagungkan- Nya dengan suaranya yang menarik dan mengundang decak kagum. Oleh kerana itu, setelah mengalahkan Jalut, Daud bersembunyi. Beliau   pergi   ke   gurun   dan   gunung.   Beliau   merasakan   kedamaian   di tengah-tengah makhluk-makhluk yang lain. Di saat mengasingkan diri, beliau bertaubat kepada Allah s.w.t.

 Allah s.w.t berfirman:

"Dan  sesungguhnya  telah  Kami  berikan  kepada  Daud  kurnia  Kami.  (Kami berfirman):    'Hai    gunung-gunung    dan    burung-burung,    bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud', dan Kami telah melunakkan besi padanya. (Yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang soleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Saba': 10- 11)

"Dan  telah  Kami  tundukan  gunung-gunung  dan  burung-burung,  semua bertasbih bersama Daud, dan Kamilah yang melakukannya. Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi kepada kamu, guna memelihara kamu  dalam  peperanganmu;  Maka  hendaklah  kamu  bersyukur (kepada Allah)." (QS. al-Anbiya': 79-80)

Ketika Daud duduk, maka ia bertasbih kepada Allah s.w.t dan memuliakan-Nya.
Allah s.w.t memilih Daud sebagai Nabi dan  memberinya Kitab  Zabur. Allah s.w.t berfirman:

"Dan Kami berikan Kitab Zabur kepada Daud." (QS. al-Isra': 55)

Zabur adalah kitab suci seperti Kitab Taurat. Daud membaca kitab tersebut dan bertasbih kepada Allah s.w.t. Saat beliau bertasbih, gunung-gunung juga ikut bertasbih, dan burung-burung pun berkumpul bersama beliau.
  
Allah s.w.t berfirman:

"Dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia   amat   taat (kepada   Tuhan).   Sesungguhnya   Kami   menundukkan gunung-gunung  untuk  bertasbih  bersama  dia  (Daud)  di  waktu  pagi  dan petang,   dan (Kami   tundukkan   pula)   burung-burung   dalam   keadaan terkumpul.  Masing-masing  amat  taat  kepada  Allah.  Dan  Kami  kuatkan kerajaannya   dan   Kami   berikan   hikmah   dan   kebijaksanaan   dalam menyelesaikan perselisihan." (QS. Shad: 17-20)

Gurun terbentang sehingga mencapai ufuk. Ini adalah hari puasa Daud. Nabi Daud berpuasa pada suatu hari dan berbuka pada hari yang lain. Inilah yang disebut dengan Shiam ad-Dahr. Daud membaca Kitab Zabur dan merenungkan ayat-ayatnya.                Gunung-gunung       bertasbih  bersamanya.                Gunungmenyempurnakan  pembacaan  ayat  tersebut,  dan  terkadang  beliau  diam sementara gunung itu menyempurnakan tasbihnya. Bukan hanya gunung yang bertasbih  bersama  beliau,  burung-burung  pun  ikut  bertasbih.  Ketika  Daud mulai membaca Kitab Zabur yang suci maka burung-burung, binatang-binatang buas, dan pohon-pohon pun berkumpul di sisinya, bahkan gunung-gunung ikut bertasbih.  Bukan  hanya  kerana  ketulusan  Daud  yang  menjadi  penyebab bertasbihnya gunung-gunung atau burung-burung bersama beliau; bukan hanya keindahan  suaranya  yang  menjadi  penyebab  bertasbihnya  makhluk-makhluk yang  lain  bersama  beliau,  namun  ini  adalah  mukjizat  dari  Allah  s.w.t kepadanya sebagai Nabi yang memiliki keimanan yang agung, yang cintanya kepada  Allah  s.w.t  sangat  tulus.  Bukan  hanya  ini  mukjizat  yang  diberikan kepada  beliau,  Allah  s.w.t  juga  memberinya  ilmu  atau  kemampuan  untuk memahami bahasa burung dan haiwan-haiwan yang lain.

Pada  suatu  hari,  beliau  merenung  dan  mendengarkan  ocehan  burung  yang berdialog  satu  sama  lain.  Lalu  beliau  mengerti  apa  yang  dibicarakan burung-burung itu. Allah s.w.t meletakkan cahaya dalam hatinya sehingga ia memahami bahasa burung dan bahasa haiwan-haiwan yang lain. Daud sangat mencintai haiwan dan burung. Beliau berlemah lembut kepada haiwan-haiwan itu,  bahkan  beliau  merawatnya  ketika  haiwan-  haiwan  itu  sakit  sehingga burung-burung  dan  binatang  yang  lain  pun  mencintainya.  Di  samping kemampuan memahami bahasa burung, Allah s.w.t juga memberinya hikmah (ilmu pengetahuan). Ketika Daud memperoleh ilmu dari Allah s.w.t atau ketika ia mendapatkan mukjizat maka bertambahlah rasa cintanya kepada Allah s.w.t dan  bertambah  juga  rasa  syukumya  kepada-Nya,  begitu  juga  ibadahnya semakin  meningkat.  Oleh  kerana  itu,  beliau  berpuasa  pada  suatu  hari  dan berbuka  pada  hari  yang  lain.  Allah  s.w.t  sangat  mencintai  Daud  dan memberinya kerajaan yang besar. Dan masalah yang dihadapi oleh kaumnya adalah, banyaknya peperangan di zaman mereka. kerana itu, pembuatan baju besi sangat penting. Baju besi yang dibuat oleh para ahli sangat berat sehingga seorang yang berperang tidak mudah bergerak dengan bebas ketika memakai baju besi itu.

Pada suatu hari, Nabi Daud duduk sambil merenungkan masalah tersebut dan di depan beliau ada potongan besi yang beliau main-mainkan. Tiba- tiba, beliau mengetahui  bahawa  tangannya  dapat  membikin  besi  itu  lunak.  Allah  s.w.t memang telah melunakkan besi bagi Daud. Lalu Daud memotong-motongnya dan   membentuknya   dalam   potongan-potongan   kecil   dan   melekatkan sebahagian pada yang lain, sehingga beliau mampu membuat baju besi yang baru, yaitu baju besi yang terbentuk dari lingkaran-lingkaran besi yang jika dipakai oleh seseorang yang berperang maka ia akan leluasa untuk bergerak dan tubuhnya tetap terlindung dari pedang dan kapak. Baju besi itu lebih baik dari semua baju besi yang ada pada saat itu.

Allah s.w.t melunakkan baju besi baginya. Yakni, Nabi Daud adalah orang yang pertama kali menemukan bahawa besi dapat menjadi leleh dengan api dan ia dapat dibentuk menjadi ribuan rupa. Kami merasa puas dengan tafsir seperti ini. Nabi Daud bersyukur kepada Allah s.w.t. Kemudian banyak fabrik-fabrik berdiri untuk membuat baju besi yang baru. Ketika selesai pembuatan baju besi   itu   dan   diberikan   kepada   pasukannya   maka   musuh-musuh   Daud mengetahui bahawa pedang mereka tidak akan mampu menembus baju besi ini.  Baju  besi  yang  dipakai  oleh  para  musuh  itu  sangat  berat  dan  dapat ditembusi oleh pedang. Baju besi yang mereka pakai tidak membuat mereka bergerak dengan bebas dan tidak dapat melindungi mereka saat berperang, tidak demikian halnya dengan baju besi yang dibuat oleh Nabi Daud. Setiap peperangan yang diikuti oleh tentera Daud maka beliau selalu mendapatkan kemenangan;  setiap  kali  beliau  memasuki  kancah  peperangan  maka  beliau merasakan   kemenangan.   Beliau   mengetahui   bahawa   kemenangan   ini semata-mata   datangnya   kerana   Allah   s.w.t   sehingga   rasa   syukurnya kepada-Nya semakin bertambah dan tasbih yang beliau lakukan pun semakin meningkat serta kecintaan kepada Allah s.w.t pun semakin bergelora.

Ketika  Allah  s.w.t  mencintai   seorang  nabi   atau   seorang  hamba  dari hamba-hamba-Nya maka Dia menjadikan manusia juga mencintainya. Manusia mencintai  Nabi  Daud  sebagaimana  burung-burung,  haiwan-  haiwan,  dan gunung-gunung  pun  mencintainya.  Raja  melihat  hal  yang  demikian  itu  lalu timbullah rasa cemburu dalam dirinya. Ia mulai berusaha untuk menyakiti Nabi Daud dan membunuhnya. Ia menyiapkan pasukan untuk membunuh Daud. Daud mengetahui bahawa raja cemburu kepadanya. Oleh kerana itu, beliau tidak memerangi raja namun apa yang beliau lakukan? Beliau mengambil pedang raja saat ia tidur lalu beliau memotong sebahagian dari pakaiannya dengan pedang itu. Kemudian beliau membangunkan raja dan berkata kepadanya: "Wahai raja, engkau telah berencana untuk membunuhku, namun aku tidak membencimu dan tidak ingin membunuhmu. Seandainya aku ingin membunuhmu maka aku lakukan   saat   engkau   tidur.   Ini   bajumu   telah   terpotong.   Aku   telah memotongnya  saat  engkau  tidur.  Aku  bisa  saja  memotong  lehermu  sebagai ganti dari memotong baju itu, tetapi aku tidak melakukannya. Aku tidak suka untuk menyakiti seseorang pun. Ajaran yang aku bawa hanya berisi cinta dan kasih sayang, bukan kebencian. Raja menyedari bahawa dirinya salah dan ia meminta maaf kepada Daud."

Kemudian berlalulah hari demi hari dan raja terbunuh dalam suatu peperangan yang tidak diikuti oleh Nabi Daud, kerana raja itu cemburu kepadanya dan menolak bantuannya. Setelah itu, Nabi Daud menjadi raja. Masyarakat saat itu mengetahui bahawa Daud melakukan apa saja demi kebaikan dan kebahagiaan mereka sehingga mereka rela untuk menjadikannya raja bagi mereka. Jadi, Daud  menjadi  Nabi  yang  diutus  oleh  Allah  s.w.t  sekaligus  menjadi  raja. Kekuasaan tersebut justru meningkatkan rasa syukur kepada Allah s.w.t dan meningkatkan  ibadahnya  kepada-Nya  serta  mendorong  beliau  untuk  lebih meningkatkan  kebaikan  dan  menyantuni  orang-orang  fakir  serta  menjaga kepentingan masyarakat umum.

Allah s.w.t memperkuat kerajaan Daud. Allah selalu menjadikannya menang ketika melawan musuh-musuhnya. Allah menjadikan kerajaannya sangat besar sehingga  ditakuti  oleh  musuh-musuhnya  meskipun  tidak  dalam  peperangan. Allah menambah nikmat-Nya kepada Daud dalam bentuk memberinya hikmah. Selain  memberi  kenabian  kepada  Daud,  Allah  s.w.t  memberi  hikmah  dan kemampuan   untuk   membezakan   kebenaran   dari   kebatilan.   Nabi   Daud mempunyai seorang anak yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah anak yang cerdas  dan  kecerdasannya  itu  tampak  sejak  masa  kecilnya.  Usia  Sulaiman mencapai sebelas tahun ketika terjadi kisah ini. Allah s.w.t berfirman:

"Dan  (ingatlah  kisah)  Daud  dan  Sulaiman,  di  waktu  keduanya  memberikan keputusan   mengenai   tanaman,   kerana   tanaman   itu   dirosaki   oleh kambing-kambing   kepunyaan   kaumnya.   Dan   adalah   Kami   menyaksikan keputusan  yang  diberikan  oleh  mereka  itu,  maka  Kami  telah  memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum  (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu. " (QS. al-Anbiya': 78-79)

Seperti  biasanya,  Daud  duduk  dan  memberikan  keputusan  hukum  kepada manusia dan menyelesaikan persoalan mereka. Seorang lelaki pemilik kebun datang kepadanya disertai dengan lelaki yang lain. Pemilik kebun itu berkata kepadanya: "Tuanku wahai Nabi, sesungguhnya kambing laki- laki ini masuk ke kebunku  dan  memakan  semua  anggur  yang  ada  di  dalamnya.  Aku  datang kepadamu  agar  engkau  menjadi  hakim  bagi  kami.  Dan  aku  menuntut  ganti rugi."

Daud  berkata  kepada  pemilik  kambing:  "Apakah  benar  bahawa  kambingmu memakan kebun lelaki ini?" Pemilik kambing itu berkata: "Benar wahai tuanku." Daud berkata: "Aku telah memutuskan untuk memberikan kambingmu sebagai ganti dari apa yang telah dirosaki oleh kambingmu." Sulaiman berkata: "Allah telah memberinya hikmah di samping ilmu yang diwarisi dari ayahnya  - aku memiliki hukum yang lain, wahai ayahku." Daud berkata: "Katakanlah wahai Sulaiman."  Sulaiman   berkata:   "Aku   memutuskan   agar   pemilik  kambing mengambil kebun laki- laki ini yang buahnya telah dimakan oleh kambingnya. Lalu hendaklah ia memperbaikinya dan menanam di situ sehingga tumbuhlah pohon-pohon anggur yang baru. Dan aku memutuskan agar pemilik kebun itu mengambil kambingnya sehingga ia dapat mengambil manfaat dari bulunya dan susunya serta makan darinya. Jika pohon anggur telah besar dan kebun tidak rosak atau kembali seperti semula, maka pemilik kebun itu dapat mengambil kembali  kebunnya  dan  begitu  juga  pemilik  kambing  pun  dapat  mengambil kambingnya." Daud berkata: "Ini adalah keputusan yang hebat wahai Sulaiman. Segala puji bagi Allah s.w.t yang telah memberimu hikmah ini. Engkau adalah Sulaiman yang benar-benar bijaksana." Nabi Daud  - meskipun kedekatannya kepada Allah s.w.t dan kecintaannya kepada-Nya - selalu belajar kepada Allah s.w.t. Allah s.w.t telah mengajarinya agar ia tidak memutuskan suatu perkara kecuali setelah ia mendengar perkataan kedua belah pihak yang bertikai.

Pada  suatu  hari  Nabi  Daud  duduk  di  mihrabnya  yang  di  situ  ia  solat  dan beribadah. Ketika ia memasuki kamarnya, ia memerintahkan para pengawalnya untuk   tidak   mengizinkan   seseorang   pun   masuk   menemuinya   atau mengganggunya saat ia solat. Tiba-tiba, beliau dikejutkan ketika melihat dua orang lelaki berdiri di hadapannya. Daud takut kepada mereka berdua kerana mereka berani masuk, padahal ia telah memerintahkan agar tak seorang pun masuk menemuinya. Daud bertanya kepada mereka: "Siapakah kalian berdua?" Salah  seorang  lelaki  itu  berkata:  "Janganlah  takut  wahai  tuanku.  Aku  dan laki-laki   ini   berselisih   pendapat.   Kami   datang   kepadamu   agar   kamu memutuskan  dengan  cara  yang  benar."  Daud  bertanya:  "Apa  masalahnya?" Laki-laki  yang  pertama  berkata:  "Saudaraku  ini  mempunyai  sembilan  puluh
sembilan  kambing  betina,  sedangkan  aku  hanya  mempunyai  satu.  Ia  telah mengambilnya dariku." Ia berkata: "Berikanlah kepadaku, lalu ia mengambilnya dariku." Daud berkata tanpa mendengar pendapat atau argumentasi pihak yang lain:  'Sesungguhnya  dia  telah  berbuat  lalim  kepadamu  dengan  meminta kambingmu  untuk  ditambahkan  kepada  kambingnya.  Dan  sesungguhnya  dari kebanyakan orang-orang yang berserakan itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman.'

Daud  terkejut  ketika  tiba-tiba  dua  orang  itu  menghilang  dari  hadapannya. Kedua orang itu bersembunyi laksana awan yang menguap di udara. Akhirnya, Daud mengetahui bahawa kedua lelaki itu adalah malaikat yang diutus oleh Allah  s.w.t  kepadanya  untuk  memberinya  pelajaran:  hendaklah  ia  tidak mengambil  keputusan  hukum  di  antara  dua  orang  yang  berselisih  kecuali setelah  mendengar  perkataan  mereka  semua.  Barangkali  pemilik  sembilan puluh sembilan kambing itu yang benar. Daud tunduk dan bersujud serta rukuk kepada Allah s.w.t dan meminta ampun kepada-Nya. Allah s.w.t berfirman:

"Dan  sampaikah  kepadamu  berita  orang-orang  yang  berperkara  ketika mereka  memanjat  pagar?  Ketika  mereka  masuk  (menemui)  Daud  lalu  ia terkejut  dengan  (kedatangan)  mereka.  Mereka  berkata:  'Janganlah  kamu merasa takut, (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat lalim kepada yang lain; maka berilah keputusan di antara kami  dengan  adil  dan  janganlah  kamu  menyimpang  dari  kebenaran  dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja.  Maka  dia  berkata:  'Serahkanlah  kambing  itu  kepadaku  dan  dia mengalahkan aku dalam perdebatan.' Daud berkata: 'Sesungguhnya dia telah berbuat lalim kepadamu dengan meminta kambingmu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya dari kebanyakan orang-orang yang berserikat  itu  sebahagian  mereka  berbuat  zalim  kepada  sebahagian  yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang soleh; dan  amat  sedikitlah  mereka  ini".  Dan  Daud  mengetahui  bahawa  kami mengujinya; maka ia meminta. ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud  dan  bertaubat.  Maka  Kami  ampuni  baginya  kesalahannya  itu.  Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (QS. Shad: 21-25)

Banyak  cerita  dongeng  atau  bohong  yang  disampaikan  orang-orang  Yahudi tentang godaan yang dialami oleh Daud. Dikatakan bahawa ia tertarik dengan isteri dari salah seorang pemimpin pasukannya lalu ia mengutus pemimpin itu di  suatu  peperangan  di  mana  ia  mengetahui  apa  yang  terjadi  dengannya. Kemudian Daud menguasai isterinya.

Itu adalah kepalsuan yang mengada-ada. Manusia yang hatinya berhubungan dengan bintang tertinggi di langit dan tasbihnya berhubungan dengan tasbih makhluk-makhluk dan benda-benda mati, maka mustahil baginya untuk hanya melihat atau tertarik dengan keindahan atau kecantikan wajah wanita atau fiziknya. Seseorang yang melihat puncak keindahan di alam dan berhubungan dengannya  secara  langsung  dan  menundukkannya  dengan  tasbihnya  maka mustahil baginya  untuk tunduk kepada  naluri  seksual.  Daud adalah  seorang hamba  Allah  s.w.t  dan  tidak  mungkin  ia  menjadi  hamba  dari  nalurinya sebagaimana yang dikemukakan oleh cerita-cerita palsu Bani Israil.

Nabi Daud kembali menyembah Allah s.w.t dan bertasbih kepada-Nya serta melantunkan senandung cinta kepada-Nya sampai akhir hayatnya. Nabi Daud berpuasa sehari dan berbuka sehari. Sehubungan dengan itu, Rasulullah saw bersabda: "Sebaik-baik puasa adalah puasanya Daud. Beliau berpuasa satu hari dan  berbuka  satu  hari.  Beliau  membaca  Zabur  dengan  tujuh  puluh  suara; beliau  melakukan  solat  di  tengah  malam  dan  menangis  di  dalamnya,  dan kerana  tangisannya  segala  ssuatu  pun  ikut  menangis,  dan  suaranya  dapat menyembuhkan  orang  yang  gelisah  dan  orang  yang  menderita."  Nabi  Daud meninggal secara tiba-tiba sebagaimana dikatakan oleh berbagai riwayat.

Matahari mengganggu manusia, lalu Sulaiman memanggil burung dan berkata: "Naungilah Daud. Maka burung itu menaunginya. Dan angin menjadi tenang." Sulaiman berkata kepada burung: "Naungilah manusia dari sengatan matahari. Burung itu pun tunduk kepada perintah Sulaiman. Ini untuk pertama kalinya orang-orang menyaksikan kekuasaan Sulaiman."

KISAH NABI DAUD a.s DENGAN ULAT

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud a.s sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu. Lalu Nabi Daud a.s. berkata pada dirinya, "Apa yang dikehendaki Allah dengan ulat ini?"

Sebaik sahaja Nabi Daud selesai berkata begitu, maka Allah pun mengizinkan  ulat  merah  itu  berkata-kata.  Lalu  ulat  merah  itu  pun  mula  berkata-kata kepada  Nabi  Daud  a.s.  "Wahai  Nabi  Allah!  Allah  s.w.t  telah  mengilhamkan kepadaku untuk membaca 'Subhanallahu walhamdulillahi wala ilaha illallahu wallahu  akbar'  setiap  hari  sebanyak  1000  kali  dan  pada  malamnya  Allah mengilhamkan kepadaku supaya membaca 'Allahumma solli ala Muhammadin annabiyyil ummiyyi wa ala alihi wa sohbihi wa sallim' setiap malam sebanyak 1000 kali.

Setelah ulat merah itu berkata demikian, maka dia pun bertanya kepada Nabi Daud a.s. "Apakah yang dapat kamu katakan kepadaku agar aku dapat faedah darimu?" Akhirnya Nabi Daud menyedari akan kesilapannya kerana memandang remeh akan ulat tersebut, dan dia sangat takut kepada Allah s.w.t. maka Nabi Daud a.s. pun bertaubat dan menyerah diri kepada Allah s.w.t. Begitulah sikap para Nabi a.s. apabila mereka menyedari kesilapan yang telah dilakukan maka dengan segera mereka akan bertaubat dan menyerah diri kepada Allah s.w.t. Kisah-kisah  yang  berlaku  pada  zaman  para  nabi  bukanlah  untuk  kita  ingat sebagai bahan sejarah, tetapi hendaklah kita jadikan sebagai teladan supaya kita tidak memandang rendah kepada apa sahaja makhluk Allah yang berada di bumi yang sama-sama kita tumpangi ini.


No comments:

Post a Comment