Tuesday, June 10, 2014

KISAH NABI SULAIMAN A.S

 Allah s.w.t berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: 'Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari  kebanyakan  hamba-hamba-Nya  yang  beriman.'  Dan  Sulaiman  telah mewarisi Daud dan dia berkata: 'Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu, sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata.'" (QS. an-Naml: 15-16)

"Dan Sulaiman telah mewarisi Daud. " Beliau mewarisi Daud dalam sisi kenabian dan  kekuasaan,  bukan  mewarisi  harta  kerana  para  nabi  tidak  mewariskan. Sebab sepeninggal mereka, harta mereka menjadi sedekah bagi orang-orang yang  ada  di  sekitar  mereka,  yaitu  orang-orang  fakir  dan  orang  yang membutuhkan.   Dan   harta   para   nabi   tidak   dikhususkan   bagi   kalangan keluarganya.  Rasulullah  saw  bersabda:  "Kami  para  nabi  tidak  mewariskan." Sulaiman mewarisi kenabian dari Daud. Ini adalah hal yang jelas. Allah s.w.t telah memilihnya sebagai Nabi dari Bani Israil. Begitu juga, Allah s.w.t telah memberinya kekuasaan  (kerajaan) sehingga ia menjadi pimpinan Bani Israil. Barangkali sesuatu yang paling penting yang diwarisi oleh Sulaiman dari Daud adalah  tradisi  militer.  Kemajuan  militer  yang  dahsyat  ini  telah  berpindah kepada Sulaiman. Daud sebenarnya adalah seorang penggembala kambing yang miskin, tetapi seiring dengan perjalanan waktu, ia menjadi komandan pasukan yang tiada tandingannya. Perubahan keadaan ini adalah sebagai bentuk ilham dari Allah s.w.t dan sebagai dukungan dari-Nya.

Daud mengetahui  bahawa kekuatan yang hakiki yang mengatur alam wujud adalah kekuatan Allah s.w.t. Ketika ia menghulurkan tangannya dan memegang potongan batu lalu beliau melemparkannya melalui katapelnya ke arah Jalut, maka ini sebagai bentuk demonstrasi kekuatan darinya. Kehadiran Nabi Daud mengubah keadaan pasukan Bani Israil di mana mereka sebelumnya lari jika berhadapan   dengan   musuh,   maka   kini   keberadaan   mereka   mulai diperhitungkan. Di masa hidupnya, Daud mengalami peperangan yang cukup banyak namun Al-Quran tidak menceritakan secara terperinci hal itu. Al-Quran adalah kitab dakwah di jalan Allah s.w.t, dan bukan kitab sejarah. Al-Quran
hanya mengatakan:

"Dan Kami kuatkan kerajaannya." (QS. Shad: 20)

Ayat  tersebut  bererti  bahawa  Daud  belum  pernah  terkalahkan  dalam peperangan  yang  diikutinya.  Di  samping  dukungan  yang  Allah  s.w.t  berikan kepada  Daud,  juga  pasukannya  dan  rakyatnya  di  mana  mereka  adalah orang-orang yang bertauhid dan menyerahkan diri kepada Allah s.w.t, Allah s.w.t  mengungkapkan  kepada  Daud  hal-hal  yang  menjadikan  pasukannya memiliki   keistimewaan   yang   dengannya   mereka   dapat   mengalahkan pasukan-pasukan yang lain yang ada di bumi saat itu.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan Kami telah melunakkan besi untuknya." (QS. Saba': 10)

Masalah baju besi yang dibuat untuk orang-orang yang hendak berperang cukup mengganggu gerakan mereka. Anda bisa bayangkan ketika ada dua orang yang berperang yang salah satunya dapat bergerak dengan bebas, sementara yang lain tidak leluasa bergerak. Namun dengan kekuasaan Allah s.w.t, Nabi Daud dapat melunakkan besi dan membuat darinya baju besi yang ringan. Ini adalah kemajuan  penting  yang  Allah  s.w.t  berikan  kepada  Daud  dan  tenteranya. Kemajuan  ini  kini  dimiliki  oleh  Sulaiman.  Demikianlah  Sulaiman  memiliki pasukan  yang  dahsyat  yang  melebihi  pasukan  mana  pun  di  bumi  saat  itu. Bahkan Allah s.w.t menambah kurnia-Nya kepada Sulaiman:

"Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: 'Hai manusia, kami telah  diberi  pengertian  tentang  suara  burung  dan  kami  diberi  segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata.'" (QS. an-Naml: 16)

Ketika  kita  membuka  lembaran-lembaran  sejarah  kehidupan  Nabi  Sulaiman yang diungkap oleh Al-Quran, maka kita akan mengetahui bahawa kita berada di masa keemasan Bani Israil, yaitu masa Nabi mereka dan penguasa mereka Sulaiman. Sulaiman tidak merasa puas dengan apa yang telah diwarisinya dari Daud. Ambisinya mendorongnya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar.

Pada suatu hari ia menadah tangannya dan berdoa kepada Allah s.w.t. Antara hati Nabi dan Allah s.w.t tidak ada penghalang, jarak, atau waktu. Tak seorang pun  dari  para  nabi  yang  berdoa  kepada  Allah  s.w.t  kecuali  doanya  pasti terkabul.  Kejernihan  hati  ketika  mencapai  puncak  tertentu,  maka  ia  akan menggapai apa saja yang diinginkan di jalan Allah s.w.t. Dalam doanya, Nabi Sulaiman berkata:

"Ia  berkata:  Ya  Tuhanku,  ampunilah  aku  dan  anugerahilah  kepadaku
kerajaan yang tidak dimiliki oleh seseorangpun sesudahku." (QS. Shad: 35)

Sulaiman  menginginkan  dari  Allah  s.w.t  suatu  kerajaan  yang  belum  pernah diperoleh oleh siapa pun setelahnya. Allah s.w.t mengabulkan doa hamba-Nya Sulaiman  dan  memberinya  kerajaan  tersebut.  Barangkali  orang-orang  yang hidup di saat ini bertanya-tanya mengapa Sulaiman meminta kerajaan ini yang belum pernah dicicipi oleh seorang pun setelahnya? Apakah Sulaiman - sesuai dengan bahasa kita saat ini  - seorang lelaki yang gila kekuasaan. Tentu kita tidak menemukan sedikit pun masalah yang demikian dalam hati Sulaiman. Ambisi Sulaiman untuk mendapatkan kekuasaan atau kerajaan adalah ambisi yang ada di dalam seorang nabi, dan tentu ambisi para nabi tidak berkaitan kecuali   dengan   kebenaran.   Ambisi   tersebut   adalah   bertujuan   untuk memudahkan penyebaran dakwah di muka bumi. Sulaiman sama sekali tidak cinta  kepada  kekuasaan  dan  ingin  menunjukkan  sikap  kesombongan  namun beliau  ingin  mendapatkan  kekuasaan  untuk  memerangi  kelaliman  yang menyebar  di  muka  bumi.  Perhatikanlah  kata-kata  Sulaiman  kepada  Balqis ketika  beliau  berdialog  dengannya  tentang  singgahsananya  dalam  surah an-Naml:

"Dan  ketika  Balqis  datang,  ditanyakanlah  kepadanya:  'Serupa  inikah singgahsanamu?' Dia menjawab: 'Seakan-akan singgahsana ini singgahsanaku, kami  telah  diberi  pengetahuan  sebelumnya  dan  kami  adalah  orang-orang yang berserah diri." (QS. an-Naml: 42)

Demikianlah  kata-kata  Sulaiman  yang  bijaksana.  Menurut  kami,  itu  adalah kata-kata yang membenarkan  permintaannya untuk memiliki  kekuasaan  dan kekuatan.  Sulaiman telah mengerahkan semua  kemuliaan dan kekuasaannya dalam rangka menegakkan agama Allah s.w.t dan menyebarkan Islam. Tidakkah ratu Saba' berkata pada akhir ceritanya bersama Sulaiman:

"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat lalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam."  (QS. an-Naml: 44)

Setelah Mukadimah pokok ini, marilah kita membuka halaman-halaman cerita Nabi  Sulaiman.  Nabi  Sulaiman  mewarisi  kekuasaan,  kenabian,  dan  hikmah (ilmu)  dari  Daud.  Orang-orang  menyebutnya:  Sulaiman  al-Hakim (Sulaiman yang bijaksana). Kebijaksanaan Nabi Sulaiman tidak terbatas pada keadilannya di  tengah-tengah  manusia  dan  kasih  sayangnya  kepada  mereka  namun kebijakan Sulaiman juga berlaku di kalangan burung dan binatang lainnya. Nabi Daud juga mengenal bahasa burung, tetapi Sulaiman dapat berbicara dengan bahasa  burung,  bahkan  ia  dapat  menjadikannya  pembantunya.  Ketika  Nabi Daud    bertasbih,    maka    gunung-    gunung    dan    burung-burung    serta binatang-binatang  buas  pun  ikut  bertasbih  bersamanya  bahkan  angin  pun berhenti untuk mendengarkan tasbih ini, sedangkan Nabi Sulaiman, Allah s.w.t memberinya  kurnia  lebih  dari  itu  di  mana  binatang-binatang  buas  tunduk padanya, begitu juga angin dan burung.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: 'Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari  kebanyakan  hamba-hamba-Nya  yang  beriman.'  Dan  Sulaiman  telah mewarisi Daud dan dia berkata: 'Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu, sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata.'" (QS. an-Naml: 15-16)

Nabi Sulaiman mampu mendengar bisikan semut yang berbicara dengan sesama mereka, bahkan ia mampu memerintahkan semut tersebut sehingga semut itu taat  kepada  perintahnya.  Pasukan  Nabi  Sulaiman  memiliki  kekuatan  yang sangat  dahsyat  di  dunia.  Belum  pernah  ada  di  dunia  suatu  pasukan  yang memiliki kekuatan seperti ini, Kekuatan Nabi Sulaiman berasal dari beberapa kombinasi  yang  sangat  mengagumkan  sehingga  kerananya  ia  tidak  dapat tertanding.  Kekuatan  itu  terdiri  dari  manusia,  jin,  dan  burung.  Kita mengetahui bahawa jin adalah makhluk Allah s.w.t dan manusia tidak mampu melihatnya atau menghadirkannya atau meminta pertolongannya, sedangkan Sulaiman  telah  diberi  Allah  s.w.t  kemampuan  untuk  menundukkan  jin  dan memperkerjakan  mereka  sebagai  tentera  di  tengah-tengah  peperangan, bahkan  ia  mampu  menjadikan  mereka  sebagai  pekerja-pekerja  kasar  di kerajaannya saat tidak ada peperangan. Ketika ada pasukan lain yang mencuba melawan  pasukan  ini, maka mustahil mereka akan  merasakan  kemenangan. Bahkan  pasukan  Sulaiman  juga  diperkuat  oleh  pasukan  burung.  Burung  di pasukan Sulaiman memerankan tugas penting. Yaitu apa yang kita kenal saat ini dengan istilah badan perisikan. Kita mengetahui bahawa peranan informasi saat  peperangan  adalah  hal  yang  sangat  penting.  Dari  informasi  tersebut, pasukan dapat mengetahui keadaan musuhnya. Demikianlah peranan burung pada  pasukan  Sulaiman.  Ia  terbang  di  tengah-tengah  musuh  kemudian  ia kembali  kepada  Sulaiman  untuk  menyampaikan  berita  tentang  keadaan musuhnya. Di samping jin dan burung, Allah s.w.t juga menundukkan angin untuk Sulaiman. Nabi Sulaiman dapat memerintah angin dan ia mampu untuk menaiki angin bersama tenteranya.

Sekarang,  kita  mengetahui  bahawa  ide  adanya  pesawat  terbang  adalah berangkat dari usaha memanfaatkan udara di mana pesawat tersebut dapat terbang di  dalamnya  meskipun  ia  lebih  berat  darinya.  Namun  sejak dahulu Allah s.w.t memberikan kemampuan ini kepada Sulaiman di mana ia mampu menundukkan angin dan menggunakannya demi kepentingannya. Oleh kerana itu, pasukan Sulaiman juga terdiri dari pasukan udara pada saat di mana tak seorang pun memimpikan untuk terbang di udara. Barangkali mukjizat ini yang Allah  s.w.t  berikan  kepada  Sulaiman  menjadi  sebab  kejayaan  militernya sehingga pasukannya tidak tertanding. Allah s.w.t berfirman:


"Dan  dihimpunkan  kepada  Sulaiman  tenteranya  dari  jin,  manusia  dan burung, lalu mereka diatur dengan tertib (dalam barisan)." (QS. an- Naml: 17)

"Kemudian  Kami  tundukkan  kepada  angin  yang  berhembus  dengan  baik menurut  kemana  saja  yang  dikehendakinya,  dan  (Kami  tundukkan  pula kepadanya)  syaitan-syaitan  semuanya  ahli  bangunan  dan  penyelam,  dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami;, maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik." (QS. Shad: 36-40)

Kita  akan  mengetahui  bahawa  Sulaiman  akan  meninggalkan  ide  untuk menggunakan kuda di tengah-tengah pasukannya setelah ia pada suatu hari dibuatnya lupa pada solat. Ketika Sulaiman meninggalkan kuda dalam rangka mencapai redha Allah s.w.t, maka Dia menggantikannya dengan angin yang bertiup sesuai dengan perintahnya ke mana pun ia pergi dan ke mana pun tempat yang diinginkannya. Di samping senjata udara yang Allah s.w.t berikan kepada Sulaiman, Allah s.w.t juga memberikan kemampuan yang tak seorang pun  dari  para  nabi  mendapatkannya.  Yaitu  kemampuan  untuk  memerintah syaitan. syaitan adalah salah satu bahagian dari jin. Ia adalah kelompok yang celaka dari jin. Kelompok ini sebenarnya tidak mampu dikuasai oleh manusia, bahkan jin yang soleh pun tidak dapat mengatur mereka. Adapun Sulaiman, Allah  s.w.t  telah  memberinya  kekuasaan  untuk  menundukkan  syaitan  dan mempekerjakannya bahkan mengikatnya dengan rantai serta menghukumnya jika ia menentang perintahnya.

syaitan membangun untuk Sulaiman istana dan patung-patung dan alat- alat perang.   Bahkan   syaitan-syaitan   itu   menyelam   di   dasar   lautan   untuk mengeluarkan permata dan yakut untuk Sulaiman. Jika ada di antara syaitan yang menentang perintahnya, maka Nabi Sulaiman mengikatnya dengan rantai. Ini  semua  menunjukkan  kekayaan  Sulaiman  dan  kekuasaannya  di  mana  ia mampu mengatur banyak makhluk di dunia. Tentu kemampuannya itu atas izin atau kehendak dari Tuhannya sebagai mukjizat dari-Nya. Allah s.w.t berfirman:

"Dan  sebahagian  dari  jin  ada  yang  bekerja  di  hadapannya               (di  bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari  gedung-gedung  yang  tinggi  dan  patung-patung  dan  piring-piring  yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku)." (QS. Saba': 12)

Nabi Sulaiman yang bijaksana adalah penguasa yang tak tertanding di muka bumi. Meskipun memperoleh nikmat-nikmat yang khusus dan agung ini yang Allah  s.w.t  berikan  kepada  Sulaiman,  beliau  tetap  menunjukkan  sebagai manusia  yang  paling  banyak  berzikir  kepada-Nya  dan  manusia  yang  paling banyak bersyukur di zamannya.


Allah s.w.t berfirman tentang Sulaiman:


"(Sulaiman)  sebaik-baik  hamba.  Sesungguhnya  dia  amat  taat            (kepadaTuhannya)." (QS. Shad: 30)

Al-Aubah  ialah  kembali  kepada  Allah  s.w.t  melalui  solat,  puasa,  tasbih, menangis, istighfar, dan mengungkapkan rasa cinta yang dalam. Hamba yang kembali adalah hamba yang menuju Allah s.w.t. Waktu solat bagi Sulaiman adalah  waktu  yang sangat  penting sehingga  ketika  datang waktu  itu,  maka beliau  tidak  bisa  disibukkan  dengan  hal  yang  lain.  Pada  suatu  hari,  beliau nyaris kehilangan waktu solat. Tentu hal ini di luar kehendaknya. Pada saat itu, beliau sibuk mengurus persoalan yang penting, yaitu menyiapkan tentera untuk  perang.  Saat  itu  bertepatan  dengan  waktu  Asar.  Sulaiman  masih menyiapkan kuda tentera- tenteranya. Kuda pada waktu itu menjadi senjata yang penting di tengah-tengah pasukannya. Sulaiman lewat di depan kuda dan memeriksanya sehingga beliau nyaris kehilangan waktu solat Asar.

Sulaiman sujud kepada Allah s.w.t kemudian ia solat. Ia meminta agar kuda itu dikembalikan  kepadanya.  Ketika  kuda  datang,  ia  mengusap  lehernya  dan kakinya dengan tangannya lalu ia meminta ampun kepada Allah s.w.t kerana ia sibuk menyiapkan pasukan untuk berjihad sehingga nyaris kehilangan waktu solat. Sejak peristiwa itu, Sulaiman merasa tidak lagi membutuhkan kuda di tengah-tengah  pasukannya.  Lalu  Allah  s.w.t  menggantikannya  dengan  angin yang  mampu  membawa  tenteranya  ke  mana  pun  ia  pergi.  Allah  s.w.t berfirman:

"Dan Kami kurniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya   dia   amat   taat (kepada   Tuhannya). (Ingatlah)   ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore. maka ia berkata: 'Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan.' Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku.' Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu." (QS. Shad: 30-33)

Sulaiman mengetahui penyakit kuda dan ia mampu berbicara dengan bahasa kuda, bahkan kuda itu pun mentaati perintah Nabi Sulaiman. Allah s.w.t juga memberikan kenikmatan lain atas Sulaiman Allah s.w.t berfirman:

"Dan Kami alirkan cairan tembaga baginya." (QS. Saba': 12)

Al-Kithir adalah tembaga yang dicairkan. Sebagaimana Allah s.w.t memberikan nikmat atas ayahnya Daud di mana ia mampu melunakkan besi dan Allah s.w.t mengajarinya   bagaimana   cara   mencairkannya,   maka   Sulaiman   pun memanfaatkan  tembaga  yang  cair  itu  untuk  peperangan  dan  di  saat perdamaian. Pada saat peperangan beliau mencampur tembaga dengan besi dan   membuat   darinya   perunggu.   Mereka   menggunakan   senjata-senjata perunggu   dalam   peperangan,   seperti   pedang,   baju   besi   dan   pisau.

Senjata-senjata ini adalah senjata yang paling kuat di saat itu. Sedangkan di saat perdamaian, tembaga digunakan untuk membuat bangunan, patung, dan sebagainya. Meskipun Nabi Sulaiman mendapatkan nikmat yang besar ini dan kurnia yang khusus, Allah s.w.t telah mengujinya dengan suatu ujian. Ujian akan  selalu  datang  pada  seorang  hamba.  Ketika  hamba  itu  mendapat kedudukan  besar,  maka  ujiannya  pun  menjadi  besar.  Allah  s.w.t  menguji Sulaiman dengan penyakit.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan  sesungguhnya  Kami  telah  menguji  Sulaiman  dan  Kami  jadikan  (dia) tergeletak  di  atas  kerusinya  sebagai  tubuh (yang  lemah  kerana  sakit), kemudian   ia   bertaubat.   Ia   berkata:   'Ya   Tuhanku,   ampunilah   aku anugerahkanlah kerajaan yang tidak dimiliki oleh seseorang pun sesudahku, sesungguhnya  Engkaulah  Yang  Maha  Pemberi.  Kemudian  Kami  tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang ia  kehendakinya,  dan (Kami  tundukkan  pula  kepadanya)  syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam. " (QS. Shad: 34-37)

Para ahli tafsir berbeza pendapat tentang fitnah atau ujian yang dialami oleh Nabi Sulaiman. Barangkali riwayat yang paling terkenal dalam hal ini adalah riwayat yang paling penuh dengan kebohongan. Dikatakan bahawa Sulaiman bertekad untuk menggilir isteri-isterinya yang berjumlah tujuh ratus pada satu malam saja untuk melakukan hubungan seks dengan mereka, sehingga para wanita itu akan melahirkan seorang anak yang dapat berperang di jalan Allah s.w.t. Sulaiman tidak mengatakan insya- Allah lalu ia menggilir isteri-isterinya dan  tidak  ada  seorang  pun  yang  melahirkan  kecuali  seorang  wanita  yang melahirkan anak yang buruk rupa.

Kisah tersebut berbeza atau kontradiksi dari permulaannya dan akhirannya. Tentu kisah itu berasal dari cerita khurafat yang direkayasa oleh orang-orang Yahudi atau termasuk dari israiliyat. Hakikat ujian yang dialami Nabi Sulaiman adalah apa yang disebutkan oleh Fakhrur Razi: "Sulaiman diuji dengan suatu penyakit yang keras di mana kedoktoran saat itu tidak mampu mengatasinya. Sakitnya Sulaiman sangat keras sehingga para doktor dari kalangan manusia dan  jin  pun  tidak  mampu  menghilangkan  penyakitnya.  Lalu  burung-burung menghadirkan rumput- rumput yang dianggap sebagai ubat tetapi Sulaiman pun belum  juga  sembuh.  Semakin  hari  penyakit  Sulaiman  semakin  menjadi-jadi sehingga ketika Sulaiman duduk di atas kerusi ia duduk bagaikan tubuh tanpa roh, seakan-akan ia mati kerana saking kerasnya penyakit yang dideritanya.
Sakit  yang  diderita  oleh  Sulaiman  terus  berlanjutan  untuk  beberapa  saat namun Sulaiman tidak henti-hentinya berzikir kepada Allah s.w.t dan meminta kesembuhan  kepada-Nya  serta  beristighfar  kepada-Nya  dan  mengungkapkan rasa cintanya kepada-Nya."

Selesailah  ujian  Allah  s.w.t  terhadap  hamba-Nya,  Sulaiman.  Beliau  pun sembuh. Kini Sulaiman merasakan kembali kesehatannya setelah ia mengetahui segala kejayaannya dan segala kekuasaannya serta segala kebesarannya tidak lagi mampu menghilangkan penyakit yang dideritanya kecuali jika Allah s.w.t menghendakinya.  Inilah  pendapat  yang  lebih  menenangkan  hati   kami. Pendapat  tersebut  sesuai  dengan  kemaksuman  Sulaiman  sebagai  Nabi  yang bijaksana dan Nabi yang mulia:

"Dan  sesungguhnya  Kami  telah  menguji  Sulaiman  dan  Kami  jadikan  (dia) tergeletak di atas kerusinya sebagai tubuh (yang lemah kerana sakit)" (QS. Shad: 34)

Sakit  yang  diderita  Sulaiman  membuat  dirinya  seperti  jasad  yang  tak bernyawa.  Kata  jasad  dalam  bahasa  Arab  diungkapkan  atas  sesuatu  yang kehilangan kehidupan atau kesehatan. Sulaiman berubah menjadi jasad kerana saking kerasnya penyakit yang dideritanya.


"Kemudian ia bertaubat." (QS. Shad: 34)

Lalu  Nabi  Sulaiman  kembali  sehat.  Ia  meminta  pertolongan  dengan  rahmat Allah  s.w.t  lalu  Allah  s.w.t  menyembuhkannya  dan  merahmatinya.  Nabi Sulaiman telah membangun masjid atau tempat beribadah sehingga manusia menyembah Allah s.w.t di dalamnya. Rumah ini menunjukkan keunggulan seni arkitektur dan seni pahat. Orang-orang yang membangun rumah ini berjumlah puluhan ribu orang. Tentu setiap kelompok dari mereka memiliki pekerjaan masing-masing.  Di  antara  mereka  ada  yang mencairkan  tambang;  di  antara mereka   ada   tukang   pahat;   ada   yang   membelah   batu;   ada   yang memotong-motong   kayu;   ada   yang   mendatangkan   rumput-rumput   dari Lebanon;       ada           yang         melelehkan              emas     dan                menjadikannya lempengan-lempengan  yang  mengkilat  untuk  menutupi  kayu  dan  menutupi dinding.

Bahkan  golongan  jin  juga  membantu  pembangunan  rumah  tersebut,  tentu dengan  perintah  dan  bimbingan  Nabi  Sulaiman.  Mereka  membuat  patungpatung yang besar dan membuat bejana yang besar untuk tempat, makanan para tentera dan pekerja, yaitu bejana seperti gunung kerana saking beratnya dan  besarnya.  Mereka  juga  membuat  tempat-tempat  minum  yang  besarnya seperti  kolam.  Sulaiman  mengawasi  para  pekerjanya  dan  juga  mengurus masyarakatnya  di  mana  beliau  mengenali  masalah  mereka  dan  berusaha memecahkannya. Beliau juga mengawasi pasukannya dari kalangan binatang dan burung. Beliau mengetahui apakah ada satu di antara mereka yang tidak hadir dan di mana ia pergi serta mengapa ia pergi.

Nabi  Sulaiman  bukan  hanya  mengetahui  masalah  tenteranya  dari  kalangan manusia dan tenteranya dari kalangan burung, namun ia juga menunjukkan kasih  sayangnya  terhadap  semut  di  mana  beliau  mendengar  bisikannya  dan tidak suka untuk menginjaknya. Nabi Sulaiman selalu menundukkan kepalanya ke bumi sebagai bentuk rasa rendah diri dan syukur kepada Allah s.w.t. Pada suatu hari ia berjalan di depan tenteranya dan tiba-tiba ia mendengar suara semut yang berkata kepada temannya dari kalangan semut:

"Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: 'Hai  semut-semut,  masuklah  ke  dalam  sarang-sarangmu  agar  kamu  tidak terinjak   oleh   Sulaiman   dan   tenteranya,   sedangkan   mereka   tidak menyedari';, maka dia tersenyum kerana (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: 'Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ke dua orang  ibu  dan  bapakku  dan  untuk  mengerjakan  amal  soleh  yang  Engkau redhai;  dan  masukkanlah  aku  dengan  rahmat-Mu  ke  dalam  golongan hamba-hamba-Mu yang soleh." (QS. an-Naml: 18-19)

Sulaiman mendengarkan pembicaraan semut itu lalu beliau tersenyum kerana mendengar  pembicaraannya.  Apa  yang  dibayangkan  oleh  semut  kecil  itu? Meskipun Sulaiman mendapatkan kekuasaan dan memiliki tentera yang besar, namun beliau menunjukkan kasih sayang terhadap semut. Beliau mendengar bisikannya dan melihat semut yang di depannya. Oleh kerana itu, tak mungkin baginya untuk menginjaknya. Sulaiman bersyukur kepada Allah s.w.t yang telah memberinya  nikmat  ini,  yaitu  nikmat  rahmat  dan  nikmat  kasih  sayang.  Di samping  itu,  Sulaiman  orang  yang  paling  kaya  di  dunia  di  mana  istananya terbuat dari kayu gaharu yang memiliki bau yang harum dan istananya terbuat dari emas dan terkadang dari kristal. Beliau juga memiliki kerusi besar yang dibuat dari emas dan permata. Istana Sulaiman merupakan istana yang paling besar  di  dunia.  Sulaiman  menggunakan  pakaian  dari  emas  dan  permata. Meskipun demikian, Sulaiman tetap menunjukkan sebagai hamba yang berserah diri dan rendah diri kepada Allah s.w.t dan kepada manusia. Nabi Sulaiman yang merendahkan dirinya di hadapan Allah s.w.t dan ia selalu sujud pada Allah  s.w.t  sebagaimana  ayahnya  yang  selalu  bertasbih  kepada  Allah  s.w.t. Sulaiman  selalu  melantunkan  lagu-lagu  cinta  Ilahi  dan  hanya  memuji  Allah s.w.t.

Pada suatu hari, Nabi Sulaiman mengeluarkan perintahnya kepada pasukannya untuk bersiap-siap. Sulaiman keluar memeriksa pasukannya. Satu demi satu pasukannya  ditelitinya.  Kelompok  yang  pertama  adalah  kelompok  manusia. Sulaiman  memperhatikan  kesiapan  mereka,  lalu  Sulaiman  mengeluarkan perintah-perintahnya.  Kemudian  Sulaiman  memeriksa  kelompok  jin  dan menyampaikan perintah-perintahnya kepada mereka. Beliau memenjarakan jin yang tampak bermalas-malas saat bekerja. Lalu ia memeriksa binatang dan berkata kepada mereka, apakah mereka sudah, makan dengan baik dan tidur dengan  nyenyak,  apakah  ada  yang  mengadu  kepadanya,  misalnya  kerana penyediaan,  makanan  tidak  layak,  apakah  di  sana  ada  yang  sakit,  dan sebagainya.  Ketika  Sulaiman  merasa  puas  dengan  semuanya,  Sulaiman memasuki   tenda   tempat   berkumpulnya   burung.   Belum   lama   Sulaiman memasuki tenda tersebut dan mengamat-amati keadaan di sekitarnya sehingga ia mengetahui burung yang tidak hadir yaitu Hud-hud:

"Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: 'Mengapa aku tidak melihat hud-hud." (QS. an-Naml: 20)

Burung-burung  yang  lain  tampak  terdiam  sebagai  penghormatan  dan  akan mendengarkan apa yang akan dikatakan pemimpin mereka Sulaiman. Beliau mengarahkan  pandangannya  pada  semua  burung  dan  tidak  menemukan Hud-hud  di  antara  mereka.  Tak  seekor  burung  pun  yang  mengetahui keberadaannya. Sulaiman mulai menampakkan kemarahannya:


"Apakah dia termasuk yang tidak hadir?" (QS. an-Naml: 20)

Tiba-tiba  seekor  burung  kecil  memberanikan  diri  untuk  berkata  kepada Sulaiman:  "Wahai  Nabi  yang  mulia,  seharusnya  hud-hud  ada  bersamaku kelmarin untuk melaksanakan tugas penyelidikan. Ia adalah pemimpin misi itu namun hud-hud belum datang. Oleh kerana itu, aku tidak pergi bersamanya." Burung itu tampak gementar ketakutan. Sulaiman mengetahui bahawa hud-hud tidak  hadir,  dan  tak  seorang  pun  mengetahui  kepergiannya.  Hud-hud  pergi tanpa terlebih dahulu meminta izin kepada Sulaiman dan tidak memberitahu di mana keberadaannya. Dalam keadaan marah, Sulaiman berkata:

"Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika ia benar-benar datang kepadaku dengan alasan yang jelas." (QS. an-Naml: 21)

Kawanan  burung  mengetahui  bahawa  Sulaiman  sedang  marah  dan  telah menetapkan  untuk  menyeksa  hud-hud  atau  menyembelihnya  atau  justru memaafkannya dengan syarat, ia datang dengan membawa alasan yang dapat menyelamatkannya. Atau dengan kata lain, hud-hud dapat memastikan bahawa ia melaksanakan tugas yang penting. Sulaiman menunjukkan kemarahan yang besar  sehingga  siapa  pun  akan  merasa  takut.  Ketika  Sulaiman  marah -meskipun beliau terkenal dengan kasih sayangnya - maka kemarahannya kerana membela  kebenaran,  kemudian  beliau  dapat  melaksanakan  ancamannya dengan cara yang mudah. Seekor burung tampak gementar ketakutan melihat kemarahan Sulaiman, lalu beliau menghulurkan tangannya ke burung itu dan memegang-megang kepalanya sehingga burung itu pun merasa tenang dan rasa takutnya hilang.

Sulaiman pergi dari tenda burung itu dan menuju istananya. Sulaiman masih memikirkan keadaan hud-hud. Seharusnya hud-hud menjadi bahagian penting dari badan perisikan. Apakah ia pergi untuk menyingkap sesuatu, atau apakah ia  pergi  hanya  untuk  bermain-main?  Sulaiman  telah  memperhatikan  dan mengetahui bahawa hud-hud adalah seekor burung yang cerdik dan juga fasih berbicara. Terkadang Sulaiman mendapati hud-hud sedang bermain-main dan menunda pekerjaannya. Sulaiman melihatnya dan hud-hud memakami bahawa ini tidak benar. Sebab, ia tidak boleh mencampur adukkan antara waktu serius dan waktu bermain.

Akhirnya,  tidak  lama  setelah  kepergiannya,  hud-hud  tiba  di  tenda  burung. Burung-burung yang lain berkata kepadanya: "Pergilah engkau ke tempat tuan kita Sulaiman. Jika ia mengetahui bahawa engkau telah sampai, maka jiwamu benar-benar terancam." Hud-hud terbang dan menemui Sulaiman. Pada waktu itu beliau sedang duduk sambil, makan. Hud-hud berdiri dan telah menetapkan untuk  memulai  pembicaraan  dengan  Sulaiman  sebelum  beliau  bertanya kepadanya ke mana dia pergi. Ini sebagai bukti bahawa ia melaksanakan tugas penting. Hud-hud berkata:

"Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: Aku telah mengetahui  sesuatu   yang  kamu  belum  mengetahuinya;  dan  kubawa kepadamu  dari  negeri  Saba'  suatu  berita  penting  yang  diyakini." (QS. an-Naml: 22)

Aku adalah hud-hud yang miskin, tetapi aku mengetahui apa yang tidak engkau ketahui, dan aku telah datang kepadamu dari kerajaan Saba' dengan membawa berita yang sangat penting. Sulaiman tampak terdiam dan menunggu hud-hud menyelesaikan pembicaraannya:

"Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan  dia  dianugerahi  segala  sesuatu  serta  mempunyai  singgahsana  yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan     syaitan              telah         menjadikan     mereka     memandang     indahperbuatan-perbuatan  mereka lalu  menghalangi  mereka  dari  jalan  (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk." (QS. an-Naml: 23-24)

Hud-hud  diam  sejenak  dan  Sulaiman  merasa  bahawa  hud-hud  menunjukkan kefasihan   lisannya   dan   berbicara   dengan   baik   kepadanya.   Hud-hud mengemukakan perkataan yang sering disampaikan Sulaiman kepada manusia dan burung:

"Agar  mereka  tidak  menyembah  Allah  Yang  mengeluarkan  apa  yang terpendam  di  langit  dan  di  bumi  dan  yang  mengetahui  apa  yang  kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah)  kecuali  Dia,  Tuhan  yang  mempunyai  Arasy  yang  besar."  (QS. an-Naml: 25-26)

Jelas sekali bahawa hud-hud mengulangi perkataan pemimpin kita Sulaiman, sebagai  usaha  terakhir  untuk  memperoleh  kasih  sayang  Sulaiman  dan  agar beliau puas dengan penjelasannya itu. Sulaiman berkata sambil menunjukkan senyuman manis di wajahnya:

"Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang- orang yang berdusta." (QS. an-Naml: 27)

Hud-hud ingin mengatakan, aku tidak bohong wahai Nabi yang mulia namun diamnya  Sulaiman  membuatnya  takut,  sehingga  ia  pun  terdiam.  Sulaiman terdiam  kerana  berfikir,  lalu  ia  memutuskan  sesuatu.  Setelah  itu,  beliau mengangkat kepalanya dan meminta secarik kertas dan pena. Sulaiman segera menulis   surat   singkat   dan   menyerahkannya   kepada   hud-   hud   serta memerintahkannya:

"Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian  berpalinglah  dari  mereka,  lalu  perhatikanlah  apa  yang  mereka bicarakan." (QS. an-Naml: 28)

Al-Quran  al-Karim  hanya  menceritakan  dalam  surah  an-Naml  bagaimana perginya hud-hud dan bagaimana ia menyerahkan surat itu. Lalu, Al- Quran langsung menyebut keadaan kerajaan Balqis yang saat itu ia sedang membaca surat tersebut di depan para pembesar kerajaannya dan para menterinya:

"Berkata   ia             (Balqis):   'Hai   pembesar-pembesar,   sesungguhnya   telah
dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman  dan  sesungguhnya  (isi)nya:  'Dengan  menyebut  nama Allah  Yang Maha  Pengasih  lagi  Maha  Penyayang.  bahawa  janganlah  kalian  berlaku sombong  terhadapku  dan  datanglah  kepadaku  sebagai  orang-orang  yang berserah diri.'" (QS. an-Naml: 29- 31)

Dalam surat Sulaiman itu disebutkan, hendaklah mereka menyerahkan diri dan tunduk   kepada   perintahnya.   Sulaiman   memerintahkan   agar   mereka meninggalkan     penyembahan     terhadap    matahari.     Sulaiman     tidak mempersoalkan akidah mereka dan tidak memuaskan mereka dengan apa pun. Sulaiman hanya memerintahkan bahawa ia berada di atas kebenaran. Bukankah ia didukung kekuatan yang berlandaskan keyakinan yang dimilikinya Sulaiman hanya memerintahkan mereka agar tunduk dan patuh kepadanya. Ratu Saba' menyampaikan surat tersebut di tengah- tengah kaumnya:

"Berkata dia (Balqis): 'Hai putera para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam  urusanku (ini)  aku  tidak  pernah  memutuskan  sesuatu  persoalan sebelum kamu berada dalam majlis(ku).'" (QS. an- Naml: 32)


Sementara itu, reaksi para pembesar istana adalah menentang surat tersebut.

Isi surat itu membangkitkan kecongkakan kaum Saba' di mana mereka merasa lebih  kuat.  Mereka  mengetahui  bahawa  di  sana  ada  orang  yang  mencuba menentang mereka dan mengisyaratkan peperangan kepada mereka, lalu ia meminta   kepada   mereka   untuk   memenuhi   syarat-   syaratnya   sebelum terjadinya peperangan dan kekalahan:

"Mereka menjawab: 'Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada  di  tanganmu;,  maka  pertimbangkanlah  apa  yang  akan  kamu perintahkan." (QS. an-Naml: 33)

Para  pembesar  kaumnya  ingin  berkata,  kita  siap  untuk  melaksanakan peperangan. Tampaknya ratu itu memiliki kebijakan yang lebih baik daripada pembesar kaumnya. Surat Sulaiman itu membuatnya berfikir lebih jernih dan lebih hati-hati. Ia berusaha seboleh mungkin menghindari peperangan. Ratu itu berfikir dalam tempo yang lama. Nama Sulaiman tidak diketahuinya dan ia pun belum  pernah  mendengarnya.  Oleh  kerana  itu,  ratu  tidak  mengetahui kekuatannya. Boleh jadi Sulaiman memiliki kekuatan yang dahsyat sehingga ia mampu  memerangi  kekuasaannya  dan  mengalahkannya.   Kemudian  ratu memperhatikan   apa   yang   ada   di   sekelilinginya.   Ia   melihat   kemajuan
masyarakatnya dan kekayaannya. Barangkali ia mengira bahawa Sulaiman iri terhadap kemajuan dan kekayaan ini sehingga Sulaiman ingin menyerangnya. Setelah  mempertimbangkan  isi  surat  Sulaiman  dengan  cermat,  ratu  Saba' memilih untuk tidak bersikap ceroboh. Ratu lebih suka untuk menggunakan bahasa kelembutan. Ia mengirim kepada Sulaiman suatu hadiah yang besar. Ratu mengira bahawa Sulaiman seorang yang ambisius yang boleh jadi ia telah mendengar tentang kekayaan kerajaannya.

Para utusan pergi dengan membawa hadiah dari ratu Saba'. Ratu berharap agar mereka  dapat  memasuki  kerajaan  Sulaiman  dan  akan  mengetahui  kondisi kerajaannya. Saat mereka pulang, ratu ingin mendengar secara langsung dari mereka   tentang   keadaan   kaum   Sulaiman   dan   pasukannya.   Setelah mendapatkan  informasi  yang  cukup,  maka  si  ratu  dapat  membuat  sesuatu keputusan yang tepat. Ratu menyembunyikan apa yang terlintas dalam dirinya lalu ia berbicara kepada pembesar istananya bahawa ia dapat menyingkap niat jahat  raja  Sulaiman  melalui  cara  mengirim  hadiah  kepadanya.  Ratu  lebih memilih   cara   tersebut   dan   menunggu   reaksi   Sulaiman.   Ratu   berhasil memuaskan para pembesar istananya, dan untuk sementara ia menghilangkan ide berperang, kerana para raja jika menyerang suatu desa, maka pemimpin desa  tersebut  adalah  orang yang paling banyak mendapatkan  kehinaan  dan cercaan. Akhirnya, para pembesar kaumnya merasa puasa dengan fikirannya itu. Allah s.w.t berfirman:

"Dia  berkata:  'Sesungguhnya  raja-raja  apabila  memasuki  suatu  negeri, nescaya  mereka  membinasakannya,  dan  menjadikan  penduduknya  yang mulia  jadi  hina;  dan  demikian  pulalah  yang  akan  mereka  perbuat.  Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah,  dan  (aku  akan)  menunggu  apa  yang  akan  dibawa  kembali  oleh utusan-utusan itu.'" (QS. an-Naml: 34- 35)

Kemudian  sampailah  hadiah  ratu  Balqis  ke  Nabi  Sulaiman.  Para  badan perisikannya  memberitahunya  bahawa  para  utusan  Balqis  datang  dengan membawa  hadiah.  Sulaiman  langsung  mengetahui  bahawa  ratu  itu  sengaja mengirim  orang-orangnya  untuk  mengetahui  atau  mendapatkan  informasi tentang kekuatannya, lalu setelah itu, ia mengambil keputusan atau sikapnya kepada  Sulaiman.  Sulaiman  segera  memanggil  semua  pasukannya  untuk berkumpul.

Utusan Balqis segera memasuki istana Sulaiman yang dipenuhi dengan pasukan besar  yang  bersenjata.  Tiba-tiba,  utusan  Balqis  tampak  tercengang  ketika melihat   kekayaan   mereka   dan   harta   mereka   tidak   ada   apa-apanya dibandingkan dengan kerajaan Sulaiman. Hadiah mereka tampak tidak bererti. Emas yang mereka bawa tampak tidak bererti saat mereka memasuki istana Sulaiman yang terbuat dari kayu-kayu pohon gaharu yang mengeluarkan bau yang  harum  serta  dihiasi  dengan  emas.  Para  utusan  Balqis  berdiri  bersama Sulaiman  dan  menyaksikan  bagaimana  Sulaiman  mengendalikan  pasukannya. Kemudian  mereka  mulai  berfikir  tentang  kekuatan  dan  kualiti  pasukan Sulaiman. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat di tengah-tengah pasukan itu terdapat singa, burung dan tentera dari kalangan manusia yang mampu terbang.  Mereka pun  sadar  bahawa mereka di hadapan  pasukan  yang tiada taranya.

Selesailah   demonstrasi   pasukan   Sulaiman.   Kemudian   para   utusan   ratu dipersilakan maju ke tempat hidangan, makan. Para utusan itu sangat terkejut ketika melihat berbagai macam, makanan dari penjuru bumi ada di depannya, dan di antara, makanan itu pun terdapat, makanan yang biasa di temukan di negeri  mereka,  tetapi  mereka  melihat  bahawa,  makanan  itu  memiliki  rasa yang  istimewa.  Selain  itu,  piring-piring  yang  ada  di  depan  mereka  dan dijadikan  tempat,  makanan  terbuat  dari  emas  dan  mereka  dilayani  oleh laki-laki yang berhias dengan emas, ratu mereka pun tidak mengenakan hiasan itu. Di meja, makan itu terdapat burung, ikan laut dan berbagai macam daging yang  mereka  tidak  mampu  lagi  membezakannya.  Sulaiman  tidak,  makan bersama  mereka  tetapi  beliau,  makan  dengan  menggunakan  piring  yang terbuat dari kayu. Beliau memakan roti yang kering yang dicampur dengan minyak. Inilah, makanan yang dipilihnya.

Sulaiman,  makan  bersama  mereka  dalam  keadaan  diam.  Mereka  merasa bahawa kehadiran Sulaiman menciptakan suatu kewibawaan yang luar biasa. Selesailah jamuan, makan itu, lalu dengan sangat malu, mereka menyerahkan hadiah ratu Balqis kepada Sulaiman. Hadiah itu berupa emas. Bagi mereka, hadiah itu sangat bernilai tetapi di sini hadiah ini tampak kecil di hadapan kekayaan yang sangat mengagumkan. Sulaiman memperhatikan hadiah ratu itu dan berkata:

"Maka  tatkala  utusan  itu  sampai  kepada  Sulaiman,  Sulaiman  berkata:
'Apakah (patut)  kamu  menolong  aku  dengan  harta?,  maka  apa  yang diberikan  Allah  kepadaku  lebih  baik  daripada  apa  yang  diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.  (QS. an- Naml: 36)

Raja  Sulaiman  menyingkap    -  dengan  kata-katanya  yang  singkat  itu                -
penolakannya terhadap hadiah mereka. Ia memberitahu utusan itu bahawa ia tidak menerima hadiah tersebut. Ia tidak merasa puas dengan hadiah itu. Yang membuatnya puas hanya: "Janganlah kalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. "


Lalu Sulaiman kembali berkata dengan pelan:

"Kembalilah kepada mereka. Sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentera yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba') dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina." (QS. an- Naml: 37)

Sulaiman   meninggalkan   para   utusan   ratu   itu   setelah   terlebih   dahulu mengancam mereka. Para utusan itu mengharap agar Sulaiman mau menunggu kunjungan ratu Balqis sendiri yang akan membawa misi perdamaian. Akhirnya, sampailah  para  utusan  Balqis  ke  Saba'  mereka  segera  menuju  istana  ratu. Mereka memberitahu bahawa negeri  mereka ada di hujung tanduk.  Mereka

menceritakan kepada ratu kekuatan Sulaiman, dan tidak mungkin bagi mereka mampu   melawannya.   Mereka   meyakinkan   Balqis   bahawa   ia   harus mengunjunginya dan melihat sendiri. Kemudian ratu menyiapkan dirinya untuk pergi  menuju  kerajaan  Sulaiman.  Sulaiman  duduk  di  kerusi  kerajaan  di tengah-tengah para pembesarnya dan para menterinya serta para komandan pasukan. Beliau berfikir tentang Balqis. Sulaiman mengetahui bahawa Balqis menuju  tempatnya.  Balqis  dikelilingi  rasa  takut.  Sulaiman  berfikir  sejenak tentang  bagaimana  matahari  disembah.  Ia  memikirkan  bagaimana  informasi yang  diterima  badan  perisikannya  tentang  kemajuan  kerajaan  Balqis  dalam bidang  kesenian  dan  ilmu  pengetahuan.  Sulaiman  bertanya  kepada  dirinya sendiri, apakah kemajuan menjadi penghalang untuk mengetahui kebenaran, apakah   ratu   itu   gembira   dengan   kekuatan   yang   dicapainya   dan   ia membayangkan bahawa kekuatan adalah?

Dengan kemajuan yang dimilikinya, Sulaiman ingin membuat kejutan agar ratu mengetahui  bahawa  Islam  yang  diyakini  oleh  Sulaiman  adalah  satu-satunya yang mampu mendatangkan kemajuan dan kekuatan yang hakiki, sehingga ia dapat  membandingkan  antara  keyakinannya  dalam  menyembah  matahari berserta  kemajuan  yang  dicapainya  dan  keyakinan  Sulaiman  juga  berserta kemajuan yang diraihnya.

Para perisik Sulaiman telah memberitahunya bahawa hal yang sangat disegani dan dikagumi oleh kaum Balqis adalah kerajaan Saba', yaitu singgahsana ratu Balqis. Singgahsana itu terbuat dari emas dan batu mulia; singgahsana tersebut dijaga oleh para penjaga yang sangat disiplin di mana mereka tidak pernah lalai sedikit pun. Oleh kerana itu, sangat tepat bila Sulaiman menghadirkan singgahsana di sini, di kerajaannya sehingga ketika ratu tiba, maka ia dapat duduk   di   atasnya.   Sulaiman   ingin   membuat   kejutan   kepadanya   dan menunjukkan  bahawa  kemampuannya  tersebut  yang  berlandaskan  pada keislamannya. Sulaiman melakukan yang demikian itu dengan harapan agar si ratu  tunduk  kepadanya.  Ide  ini  terlintas  dalam  diri  Sulaiman,  lalu  ia mengangkat kepalanya dan menoleh kepada anak buahnya:

"Berkata  Sulaiman:  'Hai  pembesar-pembesar,  siapakah  di  antara  kamu sekalian yang sanggup membawa singgahsananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.'"  (QS. an-Naml:
38)

Perhatikanlah ungkapan fikiran Nabi Sulaiman tersebut. Semua pemikirannya berkisar  tentang  keislaman,  para  penyembah  matahari;  tentang  bagaimana beliau dapat memberikan petunjuk kepada mereka di jalan Allah s.w.t. Yang pertama menjawab pertanyaan Sulaiman itu adalah Ifrit dari kalangan jin yang Allah s.w.t telah menundukkan mereka kepada Sulaiman:

"Berkata Ifrit  (yang cerdik) dari golongan jin: 'Aku akan datang kepadamu dengan  membawa  singgahsana  itu  kepadamu  sebelum  kamu  berdiri  dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.'" (QS. an-Naml: 39)

Sulaiman berdiri dari tempat duduknya setelah satu jam atau dua jam, namun jin itu berjanji kepadanya untuk menghadirkan singgahsana Balqis sebelum itu. Istana Sulaiman di Palestina sedangkan istana Balqis terletak di Yaman. Jarak antara singgahsana tersebut dan singgahsana Sulaiman lebih dari ribuan juta. Barangkali pesawat yang cepat sekali pun yang kita kenal hari ini tidak akan mampu membawa dan mendatangkan istana itu dalam waktu satu jam. Tetapi masalahnya di sini berhubungan dengan kekuatan jin yang misteri.


Sulaiman tidak mengomentari sedikit pun terhadap apa yang dikatakan oleh Ifrit  dari  kalangan  jin.  Tampak  ia  menunggu  tanggapan  lain  yang  mampu menghadirkan singgahsana Balqis yang lebih cepat dari itu. Sulaiman menoleh kepada seseorang di sana yang duduk di atas naungan:

"Berkatalah  seorang  yang  mempunyai  ilmu  dari  al-Kitab:  'Aku  akan membawa  singgahsana  itu  kepadamu  sebelum  matamu  berkedip.',  maka tatkala  Sulaiman  melihat  singgahsana  itu  terletak  di  hadapannya,  ia  pun berkata:  'Ini  termasuk  kurnia  Tuhanku  untuk  mencuba  aku,  apakah  aku bersyukur  atau  mengingkari  (akan  nikmat-  Nya).  Dan  barang  siapa  yang bersyukur,  maka  sesungguhnya  dia  bersyukur  untuk (kebaikan)  diriku sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia." (QS. an-Naml: 40)

Belum  lama  seseorang  yang  mempunyai  ilmu  dari  al-Kitab  menyatakan kalimatnya sehingga singgahsana itu bercokol di depan Sulaiman. Ia mampu menghadirkan singgahsana itu lebih cepat atau lebih sedikit dari kedipan mata ketika  mata  itu  tertutup  dan  terbuka.  Al-Quran  al-Karim  tidak  menyingkap keperibadian seseorang yang menghadirkan singgahsana itu.  Al-Quran hanya menggaris  bahawa  orang  itu  mempunyai  ilmu  dari  al-Kitab.  Al-Quran  tidak menjelaskan kepada kita, apakah ia seorang malaikat atau manusia atau jin.

Begitu  juga  Al-Quran  al-Karim  sepertinya  menyembunyikan  kitab  yang dimaksud di mana darinya orang tersebut mempunyai kemampuan yang luar biasa ini. Al-Quran sengaja tidak menyingkap hakikat kitab yang dimaksud.

Kita  sekarang  berhadapan  dengan  mukjizat  yang  besar  yang  terjadi  dan dilakukan seseorang yang duduk di tempat Sulaiman. Yang jelas, Allah s.w.t menunjukkan  mukjizat-Nya,  adapun  rahsia  di  balik  mukjizat  ini,  maka  tak seorang  pun  yang  mengetahuinya  kecuali  Allah  s.w.t.  Demikianlah,  konteks Al-Quran  menyebutkan  kisah  tersebut  untuk  menjelaskan  kemampuan  Nabi Sulaiman  yang  luar  biasa,  yaitu  kemampuan  yang  menegaskan  adanya seseorang alim ini di majlisnya. Termasuk tindakan fudhul (sok mau tahu) jika orang bertanya siapa yang memiliki ilmu dari al-Kitab ini: apakah Jibril atau Ashif  bin  Barkhiya  atau  makhluk  yang  lain.  Juga  termasuk  fudhul  jika  kita bertanya  tentang  al-  Kitab  ini:  apakah  orang  yang  mengetahui  isinya menggunakan  ismullah  al-  A  'dzham  (nama  Allah  s.w.t  yang  agung)  untuk menghadirkan singgahsana.

Semua  pembahasan  seputar  masalah  ini  dianggap  fudhul.  Betapa  tidak, Al-Quran sendiri tidak menerangkan hal itu sehingga rasa-rasanya kita tidak perlu  membahas  terlalu  jauh.  Singgahsana  itu  tampak  di  depan  Sulaiman. Perhatikanlah tindakan Nabi Sulaiman setelah adanya mukjizat ini. Beliau tidak merasa  kagum  terhadap  kemampuannya  yang  luar  biasa;  beliau  tidak tercengang dengan kekuatannya; beliau mengembalikan keutamaan tersebut kepada Penguasa para penguasa (Allah s.w.t) dan bersyukur kepada-Nya yang telah mengujinya dengan kekuasaan ini agar ia dapat membuktikan apakah ia bersyukur atau mengingkari. Setelah Sulaiman bersyukur kepada Penciptanya, ia mulai memperhatikan singgasana si ratu. Singgasana tersebut merupakan simbol pembangunan dan kemajuan tetapi tampaknya ia hanya sesuatu yang biasa dibandingkan dengan kekuasaan dan kebesaran ciptaan yang dibikin oleh manusia  dan  jin  di  kalangan  istana  Sulaiman.  Sulaiman  memikirkan  dalam tempo  yang  lama  singgasana  Balqis  kemudian  beliau  memerintahkan  agar singgasana  itu  diperbaiki  sehingga  saat  Balqis  datang  Sulaiman  dapat mengujinya, apakah Balqis dapat mengenali singgahsananya atau tidak:

Dia  berkata:  'Ubahlah  baginya  singgahsananya;,  maka  kita  akan  melihat apakah  dia  mengenal  ataukah  dia  termasuk  orang-orang  yang  tidak mengenalnya.'" (QS. an-Naml: 41)

Sulaiman  memerintahkan  agar  dibangun  istana  yang  akan  digunakan  untuk menyambut Balqis. Sulaiman memilih tempat di laut dan ia memerintahkan agar dibangun suatu istana di mana sebahagian besarnya terdiri dari air laut. Sulaiman memerintahkan agar tanah-tanah itu terbuat dari kaca yang tebal dan kuat sehingga orang yang berjalan di atas istana itu akan membayangkan bahawa di bawahnya ada ikan-ikan yang berwarna dan berenang dan ia melihat rumput-rumput laut yang bergerak.

Akhirnya, selesailah pembangunan istana itu, dan saking bersihnya kaca yang terbuat  darinya  tanah  kamarnya  sehingga  tampak  di  sana  tidak  ada  kaca. Hud-hud  memberitahu  Sulaiman  bahawa  Balqis  telah  sampai  di  dekat kerajaannya. Kemudian Balqis datang. Al-Quran tidak menyebutkan keadaan Sulaiman  saat  menyambut  Balqis,  namun  Al-Quran  justru  menunjukkan  dua sikap  Balqis:  pertama,  bagaimana  sikap  Balqis  ketika  pertama  kali  melihat singgahsananya  yang  datang  mendahuluinya,  padahal  ia  telah  meninggalkan pengawalnya untuk tetap setia menjaga singgasana itu; kedua keadaannya di depan tanah istana yang penuh dengan permata yang berenang di bawahnya ikan-ikan: "Dan  ketika  Balqis  datang,  ditanyakanlah  kepadanya:  'Serupa  inikah singgahsanamu?' Dia menjawab: 'Seakan-akan singgasana ini singgahsanaku, kami  telah  diberi  pengetahuan  sebelumnya  dan  kami  adalah  orang-orang yang berserah diri.'" (QS. an-Naml: 42)

Ayat  tersebut  menggambarkan  kondisi  dialog  antara  Sulaiman  dan  Balqis. Balqis melihat singgahsananya dan ia tercengang saat mengetahui bahawa itu adalah singgahsananya, namun ia kemudian mulai ragu kerana melihat tidak sepenuhnya  itu  singgahsananya.  Jika  itu  benar-benar  singgahsananya,  lalu bagaimana  ia  datang  mendahuluinya  dan  bila  bukan  singgahsananya,  maka bagaimana Sulaiman dapat meniru se persis dan se teliti ini. Sulaiman berkata saat melihat Balqis mengamati singgahsananya: "Apakah ini singgahsanamu?" Setelah mengalami kebingungan sesaat Balqis menjawab: "Sepertinya benar." Sulaiman berkata: "Kami telah diberi ilmu sebelumnya dan kami sebagai orang-orang Muslim."

Melalui penyataannya itu, Sulaiman ingin mengisyaratkan kepada Balqis agar ia membandingkan  antara  keyakinannya  berserta  ilmu  yang  dicapainya  dan keyakinan  Sulaiman  yang  Muslim  berserta  pengetahuan  yang  diraihnya. Penyembahan terhadap matahari dan pencapaian ilmu yang dicapai oleh Balqis tampak  tidak  ada  apa-apanya  dibandingkan  dengan  ilmu  Sulaiman  dan keislamannya.  Sulaiman  telah  mendahuluinya  dalam  bidang  ilmu  kerana keislamannya.  kerana  itu,  sangat  mudah  baginya  untuk  mengungguli  Balqis dalam ilmu-ilmu yang lain.

Demikianlah yang diisyaratkan pernyataan Sulaiman kepada Balqis. Ratu Saba' itu  mengetahui  bahawa  ini  adalah  singgahsananya  di  mana  singgasana  itu datang lebih dahulu daripada dirinya. Beberapa bahagian dirinya telah diubah. Saat Balqis masih berjalan menuju tempat Sulaiman, ia berfikir: kemampuan apa  yang  dimiliki  oleh  Nabi  Sulaiman?  Balqis  tercengang  melihat  apa  yang disaksikannya yang merupakan buah dari keimanan Sulaiman dan hubungannya dengan   Allah   s.w.t.   Sebagaimana   Balqis   tercengang   ketika   melihat kemajuannya dalam bidang pembangunan seni dan ilmu, maka ia lebih kagum lagi saat melihat hubungan yang kuat antara keislaman Sulaiman dan ilmunya serta kemajuannya:

"Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya  (untuk melahirkan  keislamannya)  kerana  sesungguhnya  dia  terdahulu  termasuk orang-orang yang kafir." (QS. an-Naml: 43)

Bergoncanglah dalam benak Balqis ribuan hal. Ia melihat keyakinan kaumnya runtuh  di  hadapan  Sulaiman;  ia  menyedari  matahari  yang  disembahnya merupakan   ciptaan   Allah   s.w.t   di   mana   Dia   menggerakkannya   untuk hamba-hamba-Nya. Lalu terbitlah matahari kebenaran pada dirinya. Hatinya diterangi oleh cahaya baru yang tidak akan tenggelam seperti tenggelamnya matahari. Masa keislamannya hanya menunggu waktu. Balqis memilih waktu yang tepat untuk mengumumkan keislamannya. Allah s.w.t berfirman:

"Dikatakan kepadanya: 'Masuklah ke dalam istana.', maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya.  Berkatalah  Sulaiman:  'Sesungguhnya  ia  adalah  istana  licin  yang terbuat dari kaca.' Berkatalah Balqis: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat  lalim  terhadap  diriku  dan  aku  berserah  diri  bersama  Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.'" (QS. an-Naml: 44)

Dikatakan kepada Balqis masuklah ke dalam istana. Ketika ia masuk, maka ia tidak menyaksikan adanya kaca tetapi ia melihat air sehingga ia mengira akan bersinggungan dengan air laut lalu ia menyingkap sedikit bajunya agar bajunya tidak basah. Sulaiman mengingatkannya - tanpa melihat - agar ia tidak khuatir terhadap pakaiannya kerana pakaiannya tidak akan basah, sebab di sana tidak ada  air.  Ia  sekadar  kaca  yang  halus  yang  saking  halusnya  hingga  ia  tidak tampak.  Pada  kesempatan  itulah  Balqis  mengumumkan  keislamannya.  Ia mengakui  kelaliman  dirinya  dan  ia  menyatakan  penyerahan  diri  kepada Sulaiman  dan  kepada  Allah  s.w.t  Tuhan  alam  semesta.  Lalu  kaumnya  pun mengikutinya  dan  mereka  memeluk  Islam.  Balqis  menyedari  ia  berhadapan dengan penguasa yang terbesar di bumi dan salah satu Nabi Allah s.w.t yang mulia. Untuk pertama kalinya wajah Sulaiman tampak dihiasi dengan senyuman yang  menunjukkan  kepuasannya  sejak  Balqis  mengunjunginya.  Demikianlah, Sulaiman mewujudkan kejayaannya yang hakiki dan menyebarkan cahaya Islam di muka bumi.

Al-Quran tidak menyebutkan kisah Balqis setelah keislamannya. Para ahli tafsir mengatakan  bahawa  ia  menikah  dengan  Sulaiman.  Selain  itu,  ada  yang mengatakan bahawa ia menikah dengan salah satu orang dekat Sulaiman. Ada juga yang mengatakan bahawa sebahagian raja Habsyah adalah keturunan dari buah  perkahwinan  ini.  Kami  tidak  sependapat  dengan  semua  itu  kerana Al-Quran al-Karim tidak menyebutkan semua perincian tersebut. Oleh kerana itu, kami tidak merasa penting untuk menyelami sesuatu yang tidak diketahui oleh seseorang pun.

Sulaiman  hidup  di  tengah-tengah  kejayaan  dan  kemuliaan  di  muka  bumi, kemudian Allah s.w.t menetapkan kematian baginya. Sebagaimana kehidupan Sulaiman  berada  di  puncak  kemuliaan  dan  kejayaan  yang  penuh  dengan keajaiban  yang  luar  biasa,  maka  kematiannya  pun  merupakan  tanda-tanda kebesaran  Allah  s.w.t  yang  penuh  dengan  keajaiban.  Demikianlah  bahawa kematiannya sesuai dengan kehidupannya, sesuai dengan kejayaannya. Allah s.w.t berfirman tentang kematian Sulaiman:


"Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya.  Maka  tatkala  ia  telah  tersungkur,  tahulah  jin  bahawa  kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam seksa yang menghinakan. " (QS. Saba': 14)

Kemampuan  Nabi  Sulaiman  untuk  menundukkan  jin  dan  memperkerjakan mereka serta hubungan mereka dengannya, semua ini menimbulkan fitnah di tengah-tengah manusia dalam hal tertentu, dan kematian Sulaiman merupakan batasan  (jawapan)  terhadap  fitnah  ini.  Kami  tidak  mengetahui  siapa  yang mengklaim bahawa jin mengetahui hal yang ghaib, apakah itu syaitan yang terkutuk  atau  jin  yang  bodoh  atau  manusia  yang  tertipu.  Kami  tidak mengetahui siapa yang bertanggungjawab terhadap tersebarnya isu yang keliru ini. Yang kita ketahui adalah, bahawa hal tersebut tersebar dan mempengaruhi sebahagian manusia dan jin. Barangkali manusia berkata kepada diri mereka: Selama jin melakukan perbuatan yang luar biasa ini, maka apa gerangan yang menjadikan mereka tidak mengetahui hal yang ghaib itu.

Manusia itu lupa bahawa kunci keghaiban berada di tangan Allah s.w.t. Masalah ilmu ghaib tidak akan mampu dikuasai oleh jin, manusia, para nabi, dan semua makhluk.  Hanya  Dia  yang  mengetahuinya.  Allah  s.w.t  telah  merencanakan bahawa kematian Sulaiman pun bertujuan untuk menghancurkan pemikiran ini, yaitu pemikiran bahawa jin mengetahui hal yang ghaib. Jin bekerja untuk Nabi Sulaiman  selama  beliau  hidup,  dan  tatkala  beliau  meninggal,  maka  tugas mereka  menjadi  bebas.  Nabi  Sulaiman  meninggal  tanpa  diketahui  oleh  jin sehingga  mereka  tetap  bekerja  untuknya.  Mereka  tetap  mengabdi  kepada Sulaiman. Seandainya mereka mengetahui hal yang ghaib nescaya mereka tidak meneruskan pekerjaan mereka.

Pada suatu hari Sulaiman memasuki mihrabnya untuk i'tikaf, ibadah, dan solat. Tak  seorang  pun  berani  mengganggu  khalwatnya  di  mihrabnya.  Mihrab Sulaiman terletak di puncak gunung dan dindingnya terbuat dari permata. Pada suatu  hari  Sulaiman  duduk  bersandar  pada  tongkatnya  dan  ia  tampak tenggelam dalam tafakur. Beliau berzikir kepada Allah s.w.t hingga rasa kantuk menguasainya  lalu  setelah  itu  malaikat  maut  menemuinya  di  mihrabnya. Sulaiman pun meninggal. Beliau bersandar kepada tongkatnya. Jin melihatnya dan  mengira  bahawa  beliau  sedang  solat  sehingga  mereka  pun  terus melanjutkan pekerjaannya.

Berlalulah  hari-hari  yang  panjang.  Kemudian  datanglah  rayap,  yaitu  semut kecil yang memakan kayu. Haiwan itu pun mulai memakan tongkat Sulaiman. Rayap-rayap  itu  tampak  lapar.  Sebahagian  dari  tongkat  Sulaiman  dimakan beberapa  hari  oleh  rayap-rayap  itu.  Ketika  yang  dimakannya  semakin bertambah,  maka  tongkat  itu  pun  menjadi  rosak  dan  jatuh  dari  tangan Sulaiman. Tubuh mulia itu kehilangan keseimbangan dan terhempas di bumi. Tatkala  tubuh  suci  itu  tersungkur,  maka  manusia  segera  menuju  ke  sana. Mereka  menyedari  dan  mengetahui  bahawa  Nabi  Sulaiman  telah  meninggal dalam waktu yang lama. Jin menyedari bahawa mereka tidak mengetahui hal
yang  ghaib  dan  manusia  pun  mengetahui  hakikat  ini.  Seandainya  jin mengetahui hal yang ghaib, nescaya ia tidak akan meneruskan seksa yang hina, mereka tidak akan bekerja. Demikianlah  Nabi  Sulaiman  meninggal  dalam  keadaan  duduk  dan  solat  di mihrabnya. Lalu berita itu tersebar bagaikan api di bumi. Manusia, burung, dan binatang  buas  menghantarkan  jenazah  Nabi  Sulaiman.  Sekawanan  burung tampak sedih dan menangis. Semua makhluk bersedih. Akhirnya, tak seorang pun  mengetahui  bahasa  burung  di  bumi.  Meninggallah  seseorang  yang memakami pembicaraan burung. Burung- burung itu berkata: "Betapa beratnva kehidupan di tengah-tengah orang yang tidak mengetahui pembicaraan kita."

Kisah Nabi Sulaiman dengan Semut

Kisah 1

Kerajaan Nabi Sulaiman AS dikala itu sedang mengalami musim kering yang begitu
panjang. Lama sudah hujan tidak turun membasahi bumi. Kekeringan melanda di  mana-mana.  Baginda  Sulaiman  AS  mulai  didatangi  oleh  umatnya  untuk meminta  pertolongan  dan  memintanya  memohon  kepada  Allah  s.w.t  agar menurunkan hujan untuk membasahi kebun-kebun dan sungai-sungai mereka. Baginda   Sulaiman   AS   kemudian   memerintahkan   satu   rombongan   besar pengikutnya yang terdiri dari bangsa jin dan manusia berkumpul di lapangan untuk berdoa memohon kepada Allah s.w.t agar musim kering segera berakhir dan hujan segera turun.

Sesampainya mereka di lapangan Baginda Sulaiman AS melihat seekor semut kecil berada di atas sebuah  batu.  Semut itu berbaring kepanasan dan kehausan. Baginda Sulaiman AS kemudian mendengar sang semut mulai berdoa memohon kepada Allah s.w.t penunai segala hajat seluruh makhluk-Nya. "Ya Allah pemilik segala khazanah,  aku  berhajat  sepenuhnya  kepada-Mu,  Aku  berhajat  akan  air-Mu, tanpa air-Mu ya Allah aku akan kehausan dan kami semua kekeringan. Ya Allah aku berhajat sepenuhnya pada-Mu akan air- Mu, kabulkanlah permohonanku", doa sang semut kepada Allah s.w.t. Mendengar doa si semut maka Baginda Sulaiman  AS  kemudian  segera  memerintahkan  rombongannya  untuk  kembali pulang ke kerajaan sambil berkata pada mereka, "kita segera pulang, sebentar lagi Allah s.w.t akan menurunkan hujan-Nya kepada kalian. Allah s.w.t telah mengabulkan  permohonan  seekor  semut".  Kemudian  Baginda  Nabi  Sulaiman dan rombongannya pulang kembali ke kerajaan.


Kisah 2

Suatu hari Baginda Sulaiman AS sedang berjalan-jalan. Ia melihat seekor semut sedang berjalan sambil mengangkat sebutir buah kurma. Baginda Sulaiman AS terus mengamatinya, kemudian beliau memanggil si semut dan menanyainya, Hai semut kecil untuk apa kurma yang kau bawa itu?. Si semut menjawab, Ini adalah kurma yang Allah s.w.t berikan kepada ku sebagai makananku selama satu tahun. Baginda Sulaiman AS kemudian mengambil sebuah botol lalu ia berkata kepada si semut, Wahai semut ke marilah engkau, masuklah ke dalam botol ini aku telah membagi dua kurma ini dan akan aku berikan separuhnya padamu sebagai makananmu selama satu tahun. Tahun depan aku akan datang lagi untuk melihat keadaanmu. Si semut taat pada perintah Nabi Sulaiman AS. Setahun telah berlalu. Baginda Sulaiman AS datang melihat keadaan si semut. Ia melihat kurma yang diberikan kepada si semut itu tidak banyak berkurang. aginda Sulaiman AS bertanya kepada si semut, hai semut mengapa engkau tidak  menghabiskan  kurmamu  Wahai  Nabiullah,  aku  selama  ini  hanya menghisap  airnya  dan  aku  banyak  berpuasa.  Selama  ini  Allah  s.w.t  yang memberikan  kepadaku  sebutir  kurma  setiap  tahunnya,  akan  tetapi  kali  ini engkau memberiku separuh buah kurma. Aku takut tahun depan engkau tidak memberiku kurma lagi kerana engkau bukan Allah Pemberi Rezeki (Ar-Rozak), jawab si semut.


Tempat Ibadah Sulaiman

Tempat ibadah Sulaiman atau Haikal Sulaiman terletak di Ursyilim (Yarusalem). Ia adalah sentral ibadah kaum Yahudi dan simbol sejarah kaum Yahudi serta sebagai  kebanggaan  mereka.   Raja  Sulaiman  telah  membangunnya  dan mengeluarkan  harta  yang  tidak  sedikit  untuk  mendirikannya.  Bahkan  ia memerlukan seratus delapan puluh ribu pekerja. Sulaiman telah mendatangkan emas dari Thirsis dan kayu dari Lebanon dan batu mulia dari Yaman. Setelah tujuh tahun dari pembangunan yang terus-menerus, Haikal Sulaiman menjadi sempurna. Saat itu ia menjadi kekaguman dan simbol kejayaan di dunia.

Berulang  kali  ada  usaha  untuk  menghancurkan  bangunan  tersebut.  Orang-orang yang tamak dan para penyerang bertujuan untuk merampas harta benda yang  bernilai   yang  terdapat   dalam  Haikal  Sulaiman.  Mereka  merosak sebahagian darinya lalu salah seorang raja berusaha memperbaikinya kerana saking cintanya kepada orang-orang Yahudi. Pada kali ini pembangunan tempat beribadah itu membutuhkan waktu empat puluh enam tahun sehingga ia pun menjadi suatu bangunan yang besar yang menakjubkan yang dikelilingi oleh tiga pagar besar. Ia terdiri dari dua halaman besar: yaitu halaman luar dan halaman  dalam.  Halaman  dalam  dibangun  di  atas  tiang-tiang  ganda  yang terbuat dari marmar. Sedangkan halaman luar dari tempat ibadah itu meliputi gerbang-gerbang  besar  yang  ditutup  oleh  emas  dan  sepuluh  pintu  gerbang dilapisi dengan tembaga Kurnusus. Para raja terus memberikan hadiah untuk pembangunan dan penyempurnaan tempat ibadah itu sampai akhir zamannya, sehingga  tempat  peribadatan  itu  memuat  perbendaharaan  harta  yang tidak ternilai.

Tujuan utama dari pembangunan Haikal Sulaiman adalah untuk menyembah kepada Allah s.w.t di dalamnya. Tempat ibadah itu merupakan masjid bagi orang-orang yang bertauhid dan orang-orang mukmin.  Tentu keindahan dan kebesarannya tidak dimaksudkan memalingkan manusia dari menyembah selain Allah  s.w.t.  Dan  barangkali  kebesaran  bangunan  itu  merupakan  simbol kekuatan negara dan kekuatan akidahnya. Namun sesuai dengan perjalanan waktu,  mulailah  terjadi  perubahan  dan  penyimpangan.  Seharusnya  ibadah hanya  ditujukan  kepada  Allah  s.w.t,  tiba-tiba  kaum  berpaling  dan  malah mengagumi kulit dan meninggalkan hakikat.

Akhirnya,   nasib   tempat   ibadah   itu   sama   dengan   nasib   yang   dialami tempat-tempat  ibadah  lainnya.  Haikal  Sulaiman  adalah  simbol  tauhid  dan penyembahan  kepada  Allah  s.w.t  yang  tiada  sekutu  bagi-Nya.  Kemudian berlalulah  tahun   demi   tahun   sehingga   berubahlah   haikal  itu   menjadi lempengan   emas   yang   mengkilat   yang   menyembunyikan   di   bawahnya kepentingan agama Yahudi.

"Orang-orang  Yahudi  menodai  kesucian  tempat  ibadah  itu  dan  mereka melecehkan keindahannya di mana mereka menjadikannya sebagai pasar, tempat  jual-beli.  Kemudian  tempat  itu  disesaki  oleh  para  penjual  sapi, kambing,  dan  merpati  hingga  tempat  itu  menjadi  kotor  dan  berubah menjadi kandang binatang. Di tempat itu terjadi kegaduhan dan kebisingan di mana orang-orang melakukan transaksi jual-beli dan menukar wang di situ." (Injil Matta)

Ketika tempat  ibadah  itu  kehilangan  hakikatnya dan  menjadi pasar  tempat berdagang, Allah s.w.t mengutus orang-orang yang menghancurkan tempat itu. Allah s.w.t berfirman:

"Dan   telah   Kami   tetapkan   terhadap   Bani   Israil   dalam   kitab   itu:
'Sesungguhnya kamu akan membuat kerosakan di muka bumi ini dua kali dan pasti  kamu  akan  menyombongkan  diri  dengan  kesombongan  yang  besar. Maka  apabila  datang  saat  hukuman  bagi  (kejahatan)  pertama  dari  kedua (kejahatan)  itu,  Kami  datangkan  kepadamu  hamba-hamba  Kami  yang mempunyai    kekuatan    yang    besar,    lalu    mereka    merajalela    di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami  berikan  kepadamu  giliran  untuk  mengalahkan  mereka  kembali  dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu sekelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (bererti) kamu berbuat  baik  bagi  dirimu  sendiri  dan  jika  kamu  berbuat  jahat,  maka (kejahatan)   yang   kedua, (Kami   datangkan   orang-orang   lain)   untuk menyuramkan  muka-  muka  kamu  dan  mereka  masuk  ke  dalam  masjid, sebagaimana  musuh-  musuhmu  memasukinya  pada  kali  pertama  dan membinasakan    sehabis-habisnya    apa    saja    yang    mereka    kuasai. Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu; dan kiranya  kamu  kembali  kepada (kederhakaan),  nescaya  Kami  kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahanam penjara bagi orang- orang yang tidak beriman." (QS. al-Isra': 4-8)

Ayat-ayat  tersebut  menunjukkan  tentang  hukum  azali  yang  tidak  pernah berubah pada kehidupan bangsa dan umat di mana umat itu akan tampak kuat selama  mereka  berpegangan  dengan  tali  Allah  s.w.t  dan  ketika  mereka meninggalkan hakikat kekuatan. iaitu kekuatan yang bersandar kepada Allah s.w.t  dan  mereka  memilih  menyembah  selain-Nya  dan  menjadikan  dunia sebagai  tujuan  hidup  mereka,  maka  ketika  ini  terjadi,  Allah  s.w.t  akan mengutus kepada mereka orang-orang yang menghancurkan mereka.

Para  mufasir  menyebutkan  bagaimana  terjadinya  peristiwa  penghancuran Haikal Sulaiman dan penghancuran Baitul Maqdis. Mereka mengatakan: "Allah s.w.t mewahyukan kepada salah seorang nabi dari kalangan Bani Israil yang bernama  Armiya  ketika  muncul  berbagai  kemaksiatan  di  tengah-tengah mereka, hendaklah engkau menyampaikan kepada kaummu dan beritahukan kepada mereka bahawa mereka memiliki hati tetapi mereka tidak mengerti; mereka  memiliki  mata  tetapi  mereka  tidak  melihat;  dan  mereka  memiliki telinga tetapi mereka tidak mendengar.

Kemudian  nabi  itu  menerima  wahyu  dan  ia  diperintahkan  untuk  bertanya kepada  Bani  Israil,  apakah  salah  seorang  mereka  merasa  gembira  ketika bermaksiat kepada Allah s.w.t, dan apakah seseorang merasa sedih dan gelisah ketika taat kepada Allah s.w.t. Haiwan biasanya ingat kepada tempat asalnya dan kembali kepadanya, sedangkan kaum itu justru meninggalkan asal-muasal mereka yang hakiki, yaitu hakikat tauhid. Jadi, sebenarnya mereka lebih jahat dari binatang."

Demikianlah kalimat-kalimat Ilahi disampaikan di tengah-tengah para pendeta dan para penguasa, namun para pendeta justru membuat tuhan lain selain Allah  s.w.t  dan  mereka  menggiring  manusia  untuk  menyembah  sesama manusia.  Adapun  para  penguasa,  mereka  membangkang  pada  nikmat  Allah s.w.t dan merasa tenang dengan azab Allah s.w.t yang dahsyat. Mereka tertipu dengan  dunia.  Mereka  mencampakkan  Kitab  Allah  s.w.t  dan  melupakan janji-Nya.   Mereka   mengubah-ubah   Kitab   Allah   s.w.t (Taurat).   Mereka menciptakan kebohongan kepada para rasul-Nya dan membunuh mereka tanpa alasan yang benar.

Sedangkan para fuqaha dan orang-orang cerdik, mereka mempelajari sesuatu sesuai dengan kepentingan mereka. Mereka mengambil sebahagian Kitab dan meninggalkan  sebahagiannya.  Mereka  mendukung  para  penguasa  yang  lalim yang membuat penyelewengan dalam agama. Mereka justru mentaati penguasa itu meskipun benar-benar bermaksiat kepada Allah s.w.t. Mereka membatalkan perjanjian dengan Allah s.w.t.

Sementara itu, anak-anak nabi, maka mereka menjadi orang-orang yang kalah. mereka berharap agar Allah s.w.t menolong mereka seperti ayah- ayah mereka ditolong. Mereka tidak ingat bagaimana sikap wara' ayah- ayah mereka dan bagaimana  mereka  mencurahkan  usaha  mereka,  bahkan  darah  mereka tertumpah tetapi mereka sabar dan mereka tetap percaya kepada janji Allah s.w.t, sehingga Dia memuliakan agamanya dan memenangkan mereka.

Demikianlah   Armiya   terus   menyiarkan   berita   tentang   kebenaran   dan mengingatkan  kaumnya  dan  memberi  mereka  kesempatan  terakhir  untuk bangkit  dan  kembali  pada  agama  tauhid.  Kalau  tidak,  Allah  s.w.t  akan mengutus kepada mereka seorang penguasa yang bengis di mana pasukannya bagaikan sekawanan awan yang akan menghancurkan bangunan-bangunan yang mereka bangun dan akan meninggalkan desa yang mereka huni dalam keadaan yang mengerikan.  Ibnu  Katsir berkata  dengan  menukil apa  yang dinyatakan oleh Ibnu Asakir:

"Duhai   Ilya   dan   penghuninya,   bagaimana   mereka   dihinakan   dengan pembunuhan  dan  mereka  menjadi  tawanan-tawanan  yang  hina,  tempat-tempat istana mereka yang mengagumkan menjadi tempat-tempat tinggalnya haiwan-haiwan buas. Aku akan menghancurkan mereka dengan berbagai azab. Jika langit menurunkan hujan di atas bumi, maka bumi tidak akan tumbuh. Bila tumbuh suatu tumbuhan di bumi, maka itu adalah sebagai rahmat-Ku terhadap binatang-binatang.  Jika  mereka  menanam  sesuatu,  maka  tanaman  mereka akan dikuasai oleh hama dan jika ada tumbuhan yang selamat darinya, maka Aku akan cabut darinya keberkahan, dan jika mereka berdoa Aku tidak akan mengabulkan dan jika mereka meminta, maka Aku tidak akan memberi dan jika  mereka  menangis,  maka  aku  tidak  akan  menyayangi,  dan  jika  mereka berusaha  bersikap  rendah  diri,  maka  Aku  akan  memalingkan  wajah-Ku  dari mereka."

Ilya  menyampaikan  kepada  kaumnya  tentang  azab  Allah  s.w.t  yang  akan meliputi  segala  sesuatu,  namun  orang-orang  Yahudi  menyambut  dakwahnya dengan  kebohongan  dan  kemaksiatan  dan  mereka  menuduhnya  dengan kebohongan.

Mereka  berkata  kepadanya,  "Bagaimana  engkau  berbohong  dan  mengaku bahawa Allah s.w.t akan menghancurkan bumi-Nya dan masjid-masjid- Nya lalu siapa yang akan menyembah-Nya jika tidak ada seorang pun di muka bumi yang menyembah-Nya, juga tidak ada masjid dan tidak ada Kitab. Sungguh engkau telah gila wahai Ilya." Akhirnya pertentangan antara Ilya dan kaumnya berakhir pada  pemenjaraannya.  Pada  saat  yang  sama,  datanglah  pasukan  Bakhtansir menuju mereka. Orang-orang Yahudi terkejut ketika mendengar suara derap kaki kuda dan suara panah-panah yang melayang dan bau kebakaran. Pasukan itu memasuki desa-desa dan kota-kota. Mereka mengelilingi segenap penjuru kota  dan  desa.  Pemimpin  pasukan  itu  menyerbu  orang-orang  Yahudi  dan menghancurkan  mereka:  sepertiga  dibunuh,  sepertiga  ditawan,  sementara
wanita-wanita tua dan lelaki-lelaki tua dibiarkan hidup.

Baitul Maqdis dihancurkan dan tempat ibadah itu pun hancur. Orang- orang laki-laki   dibunuh   dan   benteng-benteng   kukuh   pun   dibakar,   bahkan ulama-ulamanya dan fuqaha-fuqahanya dibunuh dan tak seorang pun hidup di antara mereka. Rumah-rumah orang-orang Yahudi tidak lagi dihuni kecuali oleh burung hantu dan binatang buas. Lalu sebahagian orang-orang Yahudi dari Bani Israil  meninggalkan  tempat  itu  dan  tempat  itu  pun  menjadi  tempat  yang tandus  untuk  waktu  yang  lama  sehingga  Allah  s.w.t  mengizinkan  kepada sebahagian cucu dari kaum itu untuk kembali dan mereka pun kembali.

Selama  terjadi  peristiwa  yang  berdarah  tersebut,  Uzair  tidur  dan  dialah satu-satunya yang menjaga Taurat.

NABI SULAIMAN a.s. DENGAN KUBAH AJAIB

Pada suatu  hari  Nabi  Allah  Sulaiman  telah menerima  wahyu  daripada Allah supaya pergi ke tepi pantai untuk menyaksikan suatu benda yang ajaib yang akan ditunjukkan kepada Nabi Sulaiman. Setelah bersiap sedia, Nabi Sulaiman berangkat ke tepi pantai yang di nyatakan di dalam wahyu. Baginda di iringi oleh kaum jin, manusia dan binatang.

Setibanya  di  pantai,  Nabi  Sulaiman  terus  mengintai-ngintai  untuk  mencari sesuatu  seperti  yang  dikatakan  oleh  Allah.  Setelah  lama  mencari  ,baginda belum lagi menjumpai apa-apa. Kata salah seorang daripada mereka "Mungkin tersalah tempat". Tetapi baginda menjawab "Tidak, di sinilah tempatnya". Nabi Sulaiman  mengarahkan  Jin  Ifrit  supaya  menyelam  ke  dalam  laut  untuk meninjau apa-apa yang pelik atau ajaib. Jin Ifrit menyelam agak lama juga barulah ia kembali kepada Nabi Sulaiman dan memaklumkan bahawa dia tidak menjumpai  apa-apa  benda  yang  ajaib.  Tanya  Nabi  Sulaiman  "Apakah  kamu menyelam  sehingga  dasar  laut"  Jawab  Jin  Ifrit  "Tidak".  Nabi  Sulaiman  pun mengarahkan Jin Ifrit yang kedua supaya menyelam sehingga ke dasar laut. Setelah puas menyelam dan mencari benda-benda yang di katakan oleh Nabi
Sulaiman, Jin Ifrit yang kedua juga tidak menjumpai apa-apa yang ajaib dan ia melaporkan kepada Nabi Sulaiman.

Perdana Menterinya yang bernama Asif bin Barkhiya telah berbisik ke telinga Nabi Sulaiman dan memohon kebenaran untuk menolongnya. Setelah mendapat izin Nabi Sulaiman, dia membaca sesuatu dan terus menyelam ke dalam laut. Tidak lama kemudian Asif menjumpai sebuah kubah yang sangat cantik. Kubah tersebut mempunyai empat penjuru, setiap penjuru mempunyai pintu. Pintu pertama diperbuat daripada mutiara, pintu kedua diperbuat daripada zamrud berwarna merah, pintu ketiga diperbuat daripada jauhar dan pintu keempat diperbuat daripada zabarjad. Pintu-pintu tersebut terbuka luas, tetapi yang peliknya air tidak masuk ke dalam kubah tersebut walaupun pintunya terbuka luas.

Dengan kuasa yang diberikan oleh Allah, Asif dapat membawa kubah tersebut naik ke darat dan diletakkan di hadapan Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman melihat kubah  tersebut  dengan  penuh  takjub  di  atas  kebesaran  Allah.  Baginda berangkat  untuk  melihat  kubah  tersebut,  setelah  menjenguk  ke  dalam  di dapati  ada  seorang  pemuda  berada  di  dalamnya.  Pemuda  tersebut  masih belum  sedar  walaupun  kubahnya  telah  diangkat  ke  darat  kerana  asyik bermunajat  kepada  Allah.  Nabi  Sulaiman  memberi  salam  kepada  pemuda tersebut.  Pemuda  tersebut  menyambut  salam  dengan  perasaan  terkejutnya apabila   melihat   orang   ramai   sedang   berada   di   situ.   Nabi   Sulaiman memperkenalkan dirinya kepada pemuda itu bahawa beliau adalah Nabi Allah Sulaiman.  Pemuda  itu  bertanya  "Dari  manakan  mereka  ini  dan  bagaimana mereka datang?". Pemuda itu merasa hairan dan setelah menjenguk keluar dia mendapati   bahawa   kubahnya   telah   berada   di   darat.   Nabi   Sulaiman memberitahu pemuda itu bahawa mereka datang kerana diperintahkan oleh Allah untuk melihat keajaiban yang dikurniakan Allah kepadanya.

Setelah mendapat izin dari pemuda itu Nabi Sulaiman meninjau ke dalamnya untuk  melihat  benda  yang  ajaib  yang  dihiasi  di  dalamnya.  Keindahan  yang terdapat di dalam kubah itu sungguh menakjubkan. Nabi Sulaiman bertanya kepada pemuda tersebut bagaimana dia boleh berada di dalam kubah ini yang terletak  di  dasar  laut.  Pemuda  tersebut  menceritakan  bahawa  dia  telah berkhidmat kepada kedua ibu bapanya selama  70 tahun. Bapanya seorang yang  lumpuh  manakala  ibunya  pula  seorang  yang  buta.  Suatu  hari  ketika ibunya  hendak  meninggal  dunia,  ibunya  memanggilnya  dan  memaklumkan bahawa  ibunya  telah  rela  di  atas  khidmat  yang  diberikan  olehnya.  Ibunya
berdoa kepada Allah supaya anaknya dipanjangkan umur dan sentiasa taat kepada Allah. Setelah ibunya meninggal dunia, tidak lama kemudian bapanya pula meninggal dunia. Sebelum bapanya meninggal dunia, bapanya juga telah memanggilnya dan memaklumkan bahawa dia juga telah rela di atas khidmat yang  diberikan  olehnya.  Bapanya  telah  berdoa  sebelum  meninggal  dunia supaya anaknya di letakkan di suatu tempat yang tidak dapat diganggu oleh syaitan.

Doa kedua dua orang tuanya telah dimakbulkan oleh Allah. Pada suatu hari ketika pemuda tersebut bersiar-siar di tepi pantai ia terlihat sebuah kubah yang sedang terapung-apung di tepi pantai. Ketika pemuda tadi menghampiri kubah tersebut .

Ada suara menyeru supaya pemuda itu masuk ke dalam kubah tersebut. Sebaik sahaja ia masuk kubah dan meninjau di dalamnya tiba-tiba ia bergerak dengan pantas  dan  tenggelam  ke  dasar  laut.  Tidak  lama  kemudian  muncul  satu lembaga seraya memperkenalkan bahawa dia adalah malaikat yang di utuskan Allah.  Malaikat  itu  memaklumkan  bahawa  kubah  itu  adalah  kurniaan  Allah kerana khidmatnya kepada orang tuannya dan beliau boleh tinggal di dalamnya selama  mana  dia  suka,  segala  makan  dan  minum  akan  dihidangkan  pada bila-bila  masa  ia  memerlukannya.  Malaikat  itu  memaklumkan  bahawa  dia diperintahkan Allah untuk membawa kubah tersebut ke dasar laut. Semenjak dari itu pemuda tersebut terus bermunajat kepada Allah sehingga hari ini.

Nabi Sulaiman bertanya kepada pemuda itu "Berapa lamakah kamu berada di dalam kubah ini" Pemuda itu menjawab "Saya tidak menghitungnya tetapi ia mula  memasukinya  semasa  pemerintahan  Nabi  Allah  Ibrahim  a.s lagi".  Nabi Sulaiman menghitung ". Ini bermakna kamu telah berada di dalam kubah ini selama dua ribu empat ratus tahun". Nabi Sulaiman berkata "Rupa mu tidak berubah malah sentiasa muda walaupun sudah dua ribu empat ratus tahun lamanya".  Nabi  Sulaiman  bertanya  pemuda  itu  samada  dia  mahu  pulang bersamanya".  Jawab  pemuda  tadi  "Nikmat  apa  lagi  yang  harus  aku  pinta selain  daripada  nikmat  yang  dikurniakan  oleh  Allah  kepada  ku  ini".  Nabi
Sulaiman  bertanya"Adakah  kamu  ingin  pulang  ke  tempat  asal  mu"  Jawab pemuda  itu  "Ya,  silalah  hantar  aku  ke  tempat  asalku".  Nasi  Sulaiman  pun memerintahkan  Perdana  Menterinya  membawa  kubah  tersebut  ke  tempat asalnya.

Setelah  kubah  tersebut  diletakkan  ke  tempat  asal,  Nabi  Sulaiman  berkata kepada kaumnya "Kamu semua telah melihat keajaiban yang dikurniakan oleh Allah. Lihatlah betapa besar balasan yang Allah berikan kepada orang yang taat kepada  orang  tuanya  dan  betapa  seksanya  orang  yang  menderhaka  kepada kedua ibu bapanya". Nabi Sulaiman pun berangkat pulang ke tempatnya dan bersyukur kepada Allah Taala kerana telah memberi kesempatan kepadanya untuk menyaksikan perkara yang ajaib.

NABI SULAIMAN a.s. DENGAN JIN IFRIT

Pada masa pemerintahan Nabi Allah Sulaiman, semua binatang, syaitan dan jin adalah  dibawah  kekuasaan  pemerintahan  kerajaan  Nabi  Sulaiman.  Kisah  ini adalah  diantara  kisah-kisah  yang  terjadi  semasa  pemerintahan  Nabi  Allah Sulaiman.

Oleh kerana baginda amat dihormati, ramailah manusia, binatang dan jin ingin berbakti kepada baginda. Pada suatu hari Jin Ifrit telah keluar daripada bandar Baitulmaqdis  kerana  ingin  mencari  sebiji  mutiara  yang  sangat  cantik  untuk dihadiahkan kepada Nabi Sulaiman supaya dia mendapat pujian daripada Nabi Sulaiman dan sekaligus ingin membuktikan kepada jin dan syaitan yang lain bahawa  dialah  jin  yang  paling  disayangi  oleh  Nabi  Sulaiman.  Secara senyap-senyap Jin Ifrit keluar supaya tidak diketahui oleh makhluk yang lain. Setelah sampai di Laut Merah Jin Ifrit menyelam di dasar lautan untuk mencari mutiara  tersebut.  Setelah  puas  menyelam,  mutiara  tersebut  tidak  juga dijumpai  oleh  Jin  Ifrit  sehingga  sampai  ke  suatu  tempat  yang  berbatu, ternampak olehnya kilauan dari celah-celah batu tersebut. Setelah diamatinya ternyata  kilauan  tersebut  adalah  mutiara  yang  sangat  cantik  yang  dicaricarinya.  Jin  Ifrit  terus  mangambil  mutiara  tersebut  dan  berenang  sehingga sampai ke tepi pantai.

Semasa perjalanan pulang, Jin Ifrit tidak mengetahui bahawa dia telah diekori oleh jin lain yang bernama Bota. Bota terus mengejar Jin Ifrit dan memintas lalu merampas mutira tersebut. Jin Ifrit sangat marah lalu mengejar Bota. Oleh kerana Bota lari dengan pantas ke arah selatan menyebabkan Jin Ifrit tidak dapat mengejarnya lagi. Jin Ifrit sangat takut kalau-kalau diketahui oleh Raja Jin  bahawa  mutiara  tersebut  telah  hilang.  Tidak  lama  kemudian  Jin  Ifrit mendengan suara memanggilnya. Ifrit mengenali suara tersebut adalah suara Raja  Jin.  Dengan  segera  Ifrit  pergi  mengadap  Raja  Jin.  Raja  Jin  bertanya kepada Ifrit "Mana mutiara tersebut ?" Ifrit menjawab "Mutiara tersebut telah dirampas oleh Bota".

Raja Jin mengambil keputusan untuk mempersempahkan kes tersebut kepada Nabi  Sulaiman.  Satelah  tiba  dihadapan  Nabi  Sulaiman,  baginda  bertanya kepada  Raja  Jin  "Apakah  kesalahan  Ifrit?".  Raja  jin  menjawab  "Ifrit  telah menghilangkan  sebiji  mutiara  yang  sangat  cantik".  Nabi  Sulaiman  berkata kepada  Ifrit  "Adakah  kamu  telah  menyembunyikan  mutiara  tersebut?"  Ifrit menafikannya dan menceritakan apa yang sebenarnya berlaku. Nabi Sulaiman berkata "Aku akan panggil semua jin dan syaitan untuk diperiksa". "Sementera itu kamu akan dipenjarakan terlebih dahulu sehingga kamu dibuktikan tidak bersalah" kata Nabi Sulaiman.

Salah seorang yang mendengar perbicaraan tersebut ialah Perdana Menterinya yang bernama Asif. Beliau adalah seorang yang bijak dan tahu bahawa Bota adalah  salahseorang  hamba  kepada  orang  lain.  Beliau  berkata  kepada  Nabi Sulaiman  " Allah  menjadikan  peristiwa  sebagai  pembuka  jalan  kepada  Nabi Sulaiman  supaya  pergi  ke  selatan  untuk  berjuang  pada  jalan  Allah  seperti baginda janjikan dahulu". "Mungkin Raja tersebut masih menyembah berhala" sambung Perdana Menteri. Nabi Sulaiman menerima kata-kata tersebut lalu baginda  berangkat  ke  Baitulmaqdis  untuk  beribadah  dan  bersyukur  kepada Allah keatas nikmatNya.


No comments:

Post a Comment