Tuesday, June 10, 2014

KISAH NABI MUHAMMAD S.A.W

Ketika cahaya tauhid padam di muka bumi, maka kegelapan yang tebal hampir saja menyelimuti akal. Di sana tidak tersisa orang-orang yang bertauhid kecuali sedikit dari orang-orang yang masih mempertahankan nilai-nilai ajaran tauhid. Maka Allah SWT berkehendak dengan rahmat- Nya yang mulia untuk mengutus seorang rasul yang membawa ajaran langit untuk mengakhiri penderitaan di tengah-tengah kehidupan. Dan ketika malam mencekam, datanglah matahari para  nabi.  Kedatangan  Nabi  tersebut  sebagai  bukti  terkabulnya  doa  Nabi Ibrahim as kekasih Allah  SWT,  dan  sebagai bukti  kebenaran  berita gembira yang disampaikan oleh Nabi Isa as.

Allah SWT menyampaikan selawatnya kepada Nabi itu, sebagai bentuk rahmat dan keberkahan. Para malaikat pun menyampaikan selawat kepadanya sebagai bentuk  pujian  dan  permintaan  ampunan,  sedangkan  orang-orang  mukmin berselawat kepadanya sebagai bentuk penghormatan. Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. al-Azhab: 56)

Sebelumnya Allah SWT mengutus para nabi-Nya sebagai rahmat kepada kaum dan zaman mereka saja, namun Allah SWT mengutus beliau saw sebagai rahmat bagi  alam  semesta.  Beliau  Nabi  Muhammad  saw  datang  dengan  membawa rahmat yang mutlak untuk kaum di zamannya dan untuk seluruh zaman. Allah SWT berfirman, "Dan aku tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta."

Hakikat dakwah para nabi sebelumnya adalah menyebarkan Islam, begitu juga ajaran yang dibawa oleh Nabi yang terakhir adalah Islam. Beliau saw adalah Muhammad  bin  Abdillah  bin  Abdul  Muthalib,  anak  seorang  wanita  Quraisy. Beliau  saw  adalah  pemimpin  anak-anak  Nabi  Adam  as.  Beliau  saw  adalah hamba Allah SWT dan Rasul-Nya, serta rahmat Allah SWT yang dihadiahkan kepada umat manusia.

Beliau  saw  lahir  di  tanah  Arab.  Ketika  itu  malam  gelap,  tiba-tiba  Abdul Muthalib  membayangkan  bahawa  matahari  telah  terbit,  lalu  ia  bangun  dan ternyata mendapati dirinya di pertengahan malam, keheningan yang luar biasa menyelimuti   gurun   yang   terbentang.   Ia   menuju   pintu   khemah,   lalu menyaksikan bintang-bintang bersinar di langit, dan dunia tampak di selimuti dengan malam. Ia kembali menutup pintu khemah dan tidur. Belum lama ia dikuasai oleh rasa kantuk yang amat sangat, sehingga ia kembali  bermimpi untuk kedua kalinya. Segala sesuatunya tampak jela s kali ini, Sesungguhnya sesuatu yang besar memerintahnya untuk melaksanakan perintah yang sangat
penting, "Galilah zamzam!" Dalam mimpinya Abdul Muthalib bertanya: "Apakah itu zamzam?" Kemudian untuk kedua kalinya perintah itu mengatakan bahawa ia diperintahkan untuk menggali zamzam. Belum lama Abdul Muthalib melihat sesuatu  yang  bersembunyi  itu,  sehingga  ia  berdiri  di  tempat  tidurnya  dan hatinya berdebar dengan keras. Abdul Muthalib bangkit, lalu ia membuka pintu khemah kemudian pergi ke gurun yang luas. Apakah erti zamzam? Tiba- tiba fikirannya  dipenuhi  dengan  cahaya  yang  datang  dari  jauh,  bahawa  pasti zamzam  adalah  sebuah  sumur,  tetapi  apa  yang  diinginkan  oleh  suara  yang datang dalam tidur itu agar ia menggali sumur, di sana tidak ada jawapan selain satu jawapan dari pertanyaan ini, yaitu agar orang- orang yang berhaji dan  berkeliling  di  sekitar  Ka'bah  dapat  meminumnya.  Tetapi  apa  nilai  dari sumur  itu  sendiri,  bukankah  di  sana  terdapat  banyak  sumur  yang  dapat diminum oleh orang-orang yang berhaji.

Abdul Muthalib duduk di tengah-tengah pasir gurun pada pertengahan malam, ia memikirkan bintang-bintang sembari merenungkan cerita- cerita kuno yang mengatakan  tentang  sumur  yang  memancar  darinya  air  sebagai  akibat  dari pukulan kaki Nabi Ismail as, di sana juga ada cerita yang mengatakan bahawa sumur itu telah binasa sesuai dengan perjalanan zaman.

Matahari terbit di atas gurun Jazirah Arab, Abdul Muthalib keluar menemui orang-orang,  dan  menceritakan  kepada  mereka  bahawa  ia  akan  menggali sebuah sumur di tempat tertentu, ia menunjukkan ke tempat yang di situ ia diberitahu  oleh  suara  yang  ada  dalam  mimpinya.  Orang-  orang  Quraisy menolaknya,  Sesungguhnya  tempat  yang  diisyaratkan  oleh  Abdul  Muthalib terletak di antara dua berhala dari berhala-berhala yang biasa disembah oleh masyarakat setempat, yaitu di antara berhala yang bernama Ashaf dan Nalah. Abdul Muthalib merasa bahawa usahanya sia- sia untuk meyakinkan kaumnya agar mengizinkannya untuk menggali sumur. Mereka mengetahui bahawa Abdul Muthalib tidak mempunyai sesuatu selain hanya seorang anak. bahawasanya ia tidak  memiliki  anak-  anak  yang  dapat  menolong  dan  memperkuatnya  serta melaksanakan keinginan-keinginannya.


Pada saat itu di kawasan negeri Arab dipenuhi dengan kabilah-kabilah yang terjalin  suatu  ikatan  fanatisme  atau  kesukuan  yang  kuat  dan  usaha  untuk melindungi  keluarga  yang  sangat  menonjol.  Akhirnya  Abdul  Muthalib  pergi dalam keadaan sedih, lalu ia berdiri di hadapan Ka'bah dan mengungkapkan suatu nazar kepada Allah SWT. Ia berkata: "Jika aku mendapat sepuluh anak laki-laki,  dan  mereka  menginjak  usia  dewasa,  sehingga  mereka  mampu melindungiku saat aku menggali sumur Zamzam, maka aku akan menyembelih salah seorang dari mereka di sisi Ka'bah sebagai bentuk korban."

Pintu langit pun terbuka untuk doanya. Belum sampai berlangsung satu tahun, isterinya melahirkan anaknya yang kedua dan setiap tahun ia melahirkan anak laki-laki  sampai  pada  tahun  yang  ke  sembilan,  sehingga  Abdul  Muthalib mempunyai sepuluh anak laki-laki. Kemudian berlalulah zaman dan anak-anak Abdul Muthalib menjadi besar.

Abdul  Muthalib  akhirnya  menjadi  seseorang  yang  memiliki  kemampuan. Kemudian Abdul Muthalib berusaha melakukan rencananya yang diisyaratkan dalam  mimpinya  itu,  yaitu  ia  bersiap-siap  untuk  mengorbankan  salah  satu anaknya  sebagai  bentuk  pelaksanaannya  dari  nazarnya.  Maka  dilakukanlah undian atas sepuluh anaknya, lalu keluarlah nama anaknya yang paling kecil yaitu Abdullah. Ketika nama anak itu keluar dalam undian, maka orang-orang yang  ada  disekitarnya  berusaha  memberontak,  mereka  mengatakan  bahawa mereka tidak akan membiarkan Abdullah disembelih.

Abdullah saat itu terkenal sebagai seseorang yang bersih di kawasan Arab, ia telah  dapat  menarik  simpati  masyarakat  di  sekitarnya.  Ia  tidak  pernah menyakiti seseorang pun. Bahkan ia tidak pernah meninggikan suaranya lebih dari  orang  lain.  Senyuman  khas  Abdullah  terkenal  sebagai  senyuman  yang paling lembut di kawasan Jazirah Arab. Muatan rohaninya demikian jernih, dan hatinya yang mulia menyerupai sebuah kebun di tengah-tengah gurun hati-hati yang keras, oleh kerana itu semua manusia datang kepadanya dan menentang usaha penyembelihannya.  Para  pembesar Quraisy berkata, "Lebih baik kami menyembelih anak-anak kami daripada ia harus disembelih, dan menjadikan anak-anak  kami  sebagai  tebusan  baginya.  Kami  tidak  akan  menemukan seseorang  pun  yang  lebih  baik  dari  dia  seandainya  kami  menyembelihnya, pertimbangkanlah  kembali  masalah  itu,  dan  biarkan  kami  bertanya  kepada dukun."

Abdul  Muthalib  tampak  tidak  mampu  menghadapi  tekanan  ini,  lalu  ia mempertimbangkan kembali apa yang telah ditetapkannya. Kemudian mereka mendatangi seorang dukun. Si dukun berkata: "Berapakah taruhan yang kalian miliki?"   Mereka   menjawab:   "Sepuluh   ekor   unta."   Dukun   itu   berkata: "Datangkanlah sepuluh unta, lalu lakukanlah kembali undian atasnya dan atas nama Abdullah, jika undian datang padanya, maka tambahlah sepuluh ekor unta lagi, lalu ulangilah terus undian tersebut, demikian hingga tidak keluar lagi nama Abdullah."

Kemudian dilakukanlah undian atas nama Abdullah dan atas sepuluh ekor unta yang besar. Undian itu pun mengeluarkan terus nama Abdullah, hingga Abdul Muthalib menambah sepuluh ekor unta lagi, kemudian lagi- lagi yang keluar nama Abdullah sehingga mereka pun menambah sepuluh ekor unta lagi sampai jumlah unta itu telah mencapai seratus ekor unta. Setelah itu, datanglah nama unta  tersebut.  Maka  saat  itu,  masyarakat  demikian  gembiranya  sehingga berlinangan  air  mata,  kegembiraan  dari  mereka  kerana  melihat  Abdullah berhasil  diselamatkan.  Kemudian  disembelihlah  seratus  ekor  unta  di  sisi Ka'bah, dan mereka membiarkannya di situ sehingga korban itu tidak disentuh oleh seseorang pun dan juga disentuh oleh binatang-binatang buas.

Abdul Muthalib sangat gembira atas keselamatan anaknya, Abdullah. Lalu ia menetapkan  untuk  menikahkannya  dengan  gadis  terbaik  di  Jazirah  Arab, kemudian ia keluar dengannya pada suatu hari dari Ka'bah ke rumah Wahab, dan di sana ia meminang untuknya Aminah binti Wahab. Kemudian Aminah binti Wahab menikah dengan Abdullah bin Abdul Muthalib, seorang pemuda yang paling mulia dan paling dicintai oleh orang-orang Quraisy.

Dinyalakanlah  api-api di gunung-gunung Mekah, agar para  musafir dan para tamu mengetahui tempat diadakannya acara tersebut, yaitu acara pernikahan antara Abdullah dan Aminah. Lalu disembelihlah haiwan- haiwan korban, dan manusia dari kalangan orang-orang fakir bahkan binatang-binatang buas dan burung makan darinya. Abdullah tinggal bersama isterinya dua bulan di rumah pernikahan, hingga suatu hari ada khabar bahawa kafilah akan berangkat, lalu Abdullah pun mengikuti kafilah tersebut dan melakukan perjalanan bersama kafilah perdagangan Quraisy menuju  Syam,  itu  adalah  kesempatan  terakhir yang diperoleh Aminah  binti Wahab   bersamanya.   Wajah   Abdullah   yang   mulai   tampak   berseri-seri mengucapkan selamat tinggal kepada Aminah, lalu setelah itu bayang- bayang wajahnya tersembunyi bersama kafilah dan mereka pun hilang. Aminah tidak mengetahui bahawa itu adalah kesempatan terakhirnya setelah dua bulan dari perkawinannya.  Abdullah  mengunjungi  paman-  pamannya  dari  kabilah  bani Najar  di  Madinah,  dan  di  sana  ia  meletakkan  jasadnya  di  muka  bumi,  ia meninggal dunia.

Abdullah bin Abdul Muthalib kini telah meninggal. Saat itu ia berusia dua puluh lima tahun. Khabar kematiannya tiba-tiba tersebar dan sangat memilukan hati orang-orang  yang  mendengarnya,  sehingga  khabar  itu  sampai  ke  isterinya. Aminah   tampak   menangis   tersedu-sedu   dan   ia   tampak   menyampaikan pertanyaan-pertanyaan  pada  dirinya  dan  tidak  mengetahui  jawapannya, mengapa  Allah  SWT  menebusnya  dengan  seratus  unta  jika  kemudian  Dia menetapkan kematian baginya.

Tidak lama kemudian, lalu bergeraklah dirahimnya janin dengan gerakan yang sedikit,  ia  tampak  mulai  mengetahui  bahawa  ia  sedang  hamil.  Aminah menangis dua kali, pertama ia menangis untuk dirinya sendiri dan kali ini ia menangis  untuk  anak  yang  ditinggal  mati  ayahnya  sebelum  ia  sempat dilahirkan. Aminah tidak pernah mengetahui sebelumnya bahawa janin yang dikandungnya akan menjadi anak yatim, ayahnya meninggal saat ia dilahirkan.

Anak yatim ini harus menanggung beban anak-anak yatim dan orang- orang fakir serta orang-orang yang sedih di muka bumi. Ia akan menjadi Nabi yang terakhir  dan  rasul-Nya  kepada  manusia.  Ia  akan  menjadi  rahmat  yang dihadiahkan kepada manusia dan tidak akan mengetahui makna rahmat kecuali orang  yang  merasakan  penderitaan  dan  kepahitan.  Inilah  anak  kecil  yang sebelum dilahirkan telah menelan kesedihan. Dan berlalulah hari demi hari, lalu hilanglah tangisan penderitaan dan mata Aminah pun telah mengering, namun kesedihannya tampak menyerupai sebuah pohon yang tumbuh bersama kehausan.

Kemudian kesedihannya hari demi hari semakin ia rasakan tetapi kesedihannya itu   mulai   tidak   tampak   ketika   ia   mendapatkan   bahawa   janin   yang dikandungnya  tidaklah  memberatkannya,  sebaliknya  ia  merasakan  betapa ringannya  janin  yang  dikandungnya  bagaikan  merpati  yang  berkeliling  di seputar Ka'bah, dan seandainya kesedihannya yang selalu mengitarinya, maka tidak ada wanita yang lebih bahagia darinya dengan kehamilan yang ringan ini. Janin itu adalah manusia yang mulia di sisi Tuhan, kemudian semakin dekatlah
hari kelahirannya. Sementara itu, pasukan Abrahah mendekati Mekah.

Abrahah  adalah  seorang  penguasa  Yaman,  yaitu  pada  saat  Yaman  tunduk kepada  Habasyah  setelah  penguasa  Persia  diusir.  Di  Yaman  ia  membangun suatu  gereja  yang  menunjukkan  bangunan  yang  menakjubkan.  Abrahah membangunnya dengan niat agar orang-orang Arab berpaling dari Baitul Haram di  Mekah.  Ia  melihat  betapa  orang-  orang  Yaman  tertarik  dengan  rumah tersebut. Dan ketika ia tidak melihat gereja yang dibangunnya memiliki daya tarik seperti itu dan tidak mampu menarik hati orang-orang Arab, maka ia berkeinginan kuat untuk menghancurkan Ka'bah, sehingga orang-orang tidak menuju  ke  Ka'bah  lagi  melainkan  ke  gerejanya.  Demikianlah  akhirnya  ia menyiapkan  pasukan  yang  besar  yang  dipenuhi  dengan  berbagai  senjata, kemudian pasukan itu menuju Ka'bah.

Pasukan Abrahah terdiri dari kelompok gajah yang besar yang digunakannya untuk menghancurkan Ka'bah. Gajah-gajah itu bagaikan tank-tank yang kita gunakan saat ini. Orang-orang Arab pun mendengar rencana tersebut. Memang orang-orang  Arab  saat  itu  terkenal  sebagai  penyembah  berhala,  meskipun demikian   mereka   sangat   memberikan   penghargaan   dan   penghormatan terhadap Ka'bah, kerana mereka meyakini bahawa mereka adalah anak-anak Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as pemelihara Ka'bah.

Perjalanan  pasukan  tiba-tiba  dihadang  oleh  seorang  lelaki  yang  mulia  dari penduduk  Yaman  yang  bernama  Dunaher.  Ia  mengajak  kaumnya  dan  dari kalangan orang-orang Arab untuk memerangi Abrahah, sehingga ada beberapa orang yang mengikutinya. Abrahah berhadapan dengan tentera tersebut tetapi pasukan yang sedikit itu dapat dengan mudah dipatahkan oleh pasukan kafir yang besar itu. Kemudian Dunaher pun kalah dan menjadi tawanan Abrahah. Pasukan  Abrahah  tersebut  juga  sempat  ditentang  oleh  Nufail  bin  Hubaid al-Aslami,  namun  Abrahah  pun  dapat  mengalahkan  mereka  dan  berhasil menawan Nufail.

Kemudian  ketika  Abrahah  melewati  kota  Taif,  menghadaplah  kepadanya beberapa orang tokoh setempat, dan mereka tampak gementar ketakutan dan berkata kepadanya bahawa sesungguhnya 'rumah' yang ditujunya tidak berada di tempat mereka, tetapi berada di Mekah. Hal itu mereka sampaikan dengan maksud untuk memalingkannya dari rumah berhala mereka, di mana mereka membangun  di  dalamnya  berhala  yang  bernama  Latha  kemudian  mereka mengutus  seseorang  yang  akan  menunjukkan  kepada  Abrahah  letak  Ka'bah. Ketika  Abrahah  berada  di  antara  Taif  dan  Mekah,  ia  mengutus  seorang pemimpin  pasukannya  sehingga  ia  melihat  keadaan  Mekah.  Di  sana  ia merampas banyak harta dari kaum Quraisy dan selain mereka, dan di antara yang dirampasnya adalah dua ratus unta milik Abdul Muthalib bin Hasyim. Saat itu  Abdul  Muthalib  adalah  salah  seorang  pembesar  Quraisy  dan  pemimpin mereka, serta pengawas sumur Zamzam.

Kedatangan  utusan  Abrahah  di  Mekah  telah  menimbulkan  gejolak  pada kabilah-kabilah. Akhirnya kaum Quraisy bergerak, begitu juga kaum Khananah. Kemudian  mereka  mengetahui  bahawa  mereka  tidak  memiliki  kemampuan untuk melawan Abrahah, sehingga mereka membiarkannya, lalu tersebarlah di Jazirah  Arab  berita  tentang  datangnya  pasukan  yang  kuat  yang  sulit  untuk ditandingi.   Dalam   surat   yang   dibawa   oleh   utusannya   itu,   Abrahah menyampaikan bahawa ia tidak datang untuk memerangi mereka, namun ia datang hanya untuk menghancurkan Ka'bah. Jika mereka tidak menentangnya, maka darah mereka tidak akan ditumpahkan. Lalu utusan itu menemui Abdul Muthalib, ia menceritakan tentang keinginan Abrahah. Abdul Muthalib berkata: "Kami tidak ingin memeranginya kerana kami tidak memiliki kekuatan. Ka'bah adalah rumah Allah SWT yang mulia dan suci, dan rumah kekasih-Nya Ibrahim. Jika Ia mencegahnya, maka itu adalah rumah-Nya dan tempat suci-Nya, namun jika Ia membiarkannya, maka demi Allah kami tidak memiliki kekuatan untuk mempertahankannya."  Kemudian  utusan  itu  pergi  bersama  Abdul  Muthalib menuju Abrahah.

Abdul Muthalib adalah seseorang yang sangat terpandang dan sangat mulia. Ia memiliki  kewibawaan  dan  kehormatan  yang  mengagumkan.  Ketika  Abrahah melihatnya,   Abrahah   menampakkan   penghormatan   kepadanya.   Abrahah memuliakannya  dan  mendudukannya  di  bawahnya,  ia  tidak  suka  bahawa  ia duduk bersamanya di kursi kekuasaannya. Lalu Abrahah turun dari kerusinya dan  duduk  di  atas  sebuah  permaidani  dan  mendudukkan  Abdul  Muthalib  di sisinya. Kemudian ia berkata kepada penerjemahnya: "Katakan padanya apa kebutuhannya?"  Abdul  Muthalib  berkata:  "Kebutuhanku  adalah  agar  Abrahah mengembalikan  dua  ratus  ekor  unta  yang  diambilnya  dariku"  Ketika  Abdul Muthalib  mengatakan  demikian,  wajah  Abrahah  berubah,  lalu  ia  berkata kepada penerjemahnya: "Katakan padanya sungguh aku merasa kagum ketika melihatnya, kemudian aku merasakan kehati-hatian saat berbicara dengannya, apakah engkau berbicara denganku tentang dua ratus ekor unta yang telah aku ambil, lalu engkau membiarkan rumah yang merupakan simbol agamanya dan datuk-datuknya,  yang  aku  datang  untuk  menghancurkannya  dan  dia  tidak menyinggungnya sama sekali" Abdul Muthalib menjawab: "Aku adalah pemilik unta, sedangkan pemilik rumah itu adalah Tuhan yang melindunginya." Abrahah berkata:  "Dia  tidak  akan  mampu  melindunginya  dariku."  Abdul  Muthalib menjawab: "Lihat saja nanti!"

Selesailah   dialog   antara   Abdul   Muthalib   dan   Abrahah.   Abrahah   pun mengembalikan unta yang telah dirampasnya. Abdul Muthalib pergi menemui orang-orang   Quraisy   dan   menceritakan   apa   yang   dialaminya,   dan   ia memerintahkan  mereka  untuk  meninggalkan  Mekah  dan  berlindung  dibalik gua-gua di gunung. Akhirnya kota Mekah dikosongkan oleh pemiliknya. Aminah binti Wahab keluar ke gunung-gunung di dekat kota Mekah kemudian malaikat turun di bumi Jarzirah Arab.

Abdul  Muthalib  berdiri  dan  memegangi  pintu  Ka'bah  dan  berdiri  bersama dengan sekelompok orang-orang Quraisy, mereka berdoa kepada Allah SWT dan meminta  perlindungan-Nya,  agar  para  malaikat  memerintahkan  gajah-gajah tidak melangkahkan kakinya sehingga gajah itu pun tetap di tempatnya dan mentaati perintah para malaikat, kemudian gajah-gajah itu menerima pukulan yang dahsyat namun gajah-gajah itu tetap berdiam di tempatnya, gajah-gajah itu tampak gementar dan berteriak tetapi lagi-lagi gajah-gajah itu menolak untuk bergerak dan tidak bergerak selangkah pun. Abrahah bertanya: "Mengapa pasukan tidak bergerak?" Kemudian dikatakan kepadanya bahawa gajah-gajah menolak  untuk  bergerak.  Abrahah  mengangkat  cemetinya.  Dengan  muka emosi, ia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan gajah-gajahnya.

Matahari  saat  itu  bersinar  dan  ia  duduk  di  khemahnya.  Ketika  ia  keluar, matahari  bersembunyi  di  balik  segerombolan  burung.  Abrahah  mengangkat pandangannya ke arah langit. Mula-mula ia membayangkan bahawa ia melihat sekawanan awan yang hitam. Kemudian ia mengamat- amati awan itu. Dan ternyata ia bukan awan biasa. Itu adalah sekelompok burung yang menutupi cahaya matahari dan menyerupai awan yang tebal. Burung ababil, burung yang banyak.

Gajah-gajah semakin berteriak dengan kencang dan tampak ketakutan. Dan rasa  takut  itu  kini  menghinggapi  seluruh  pasukan.  Abrahah  berteriak  di tengah-tengah pasukannya agar gajah diusahakan untuk maju secara paksa. Kemudian   terbukalah   salah   satu   jendela   dari   jendela   al-Jahim,   dan burung-burung itu menghujani pasukan dengan batu dari Sijil, yaitu batu yang sama yang pernah dihujankan kepada kaum Nabi Luth. Batu itu menyerupai bom-bom atom yang digunakan saat ini.

Jika Anda membaca buku-buku kuno, maka Anda akan mengetahui bagaimana peristiwa yang menimpa pasukan Abrahah. Anda akan membayangkan bahawa Anda  berada  di  hadapan  suatu  kekuatan  yang  menghancurkan  yang  tidak diketahui asal muasalnya. Dunia mengenali sebahagian darinya setelah empat belas abad dari peristiwa tersebut. Buku-buku itu mengatakan bahawa pasukan itu dihancurkan dengan penghancuran yang dahsyat.

Para tentera Abrahah kembali dalam keadaan binasa di mana daging- daging dari tubuh mereka berciciran di jalan. Abrahah pun mendapatkan luka dan mereka keluar dari tempat itu dalam keadaan dagingnya terpisah satu persatu. Abrahah  pun  terbelah  dadanya  dan  mati.  Kemudian  jasad  para  pasukannya tersebar dan berciciran di bumi, seperti tanaman yang dimakan oleh binatang. Setelah  mendekati  setengah  abad,  turunlah  suatu  surah  di  Mekah  yang menceritakan tentang peristiwa itu:

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentera gajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka 'bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun yang dimakan (ulat)." (QS. al-Fil: 1-5)

Pasukan gajah yang ingin memporak-porandakan Mekah dikalahkan. Kemudian mereka  dihancurkan  dan  Tuhan  pemilik  Ka'bah  berhasil  melindungi  rumah suci-Nya. Perlindungan tersebut bukan sebagai penghormatan bagi orang yang tinggal di rumah itu dan bukan sebagai bentuk pengkabulan doa kaum yang menyembah berhala yang memenuhi tempat itu. Allah SWT sebagai Pelindung Ka'bah  memeliharanya  kerana  adanya  hikmah  yang  tinggi;  Allah  SWT menginginkan  sesuatu  bagi  rumah  itu;  Allah  SWT  ingin  melindunginya  agar tempat itu menjadi tempat yang damai bagi manusia dan supaya tempat itu menjadi pusat dari akidah yang baru dan menjadi tanah bebas yang aman, yang tidak dikuasai oleh seseorang pun dari luar dan juga tidak didominasi oleh pemerintahan asing yang akan membatasi dakwah. Yang demikian itu kerana di sana terdapat rumah dari rumah-rumah di Mekah yang lahir di sana seorang anak  di  mana  ibunya  bernama  Aminah  binti  Wahab  dan  ayahnya  adalah Abdullah,  salah  seorang  tokoh  Arab.  Anak  itu  belum  dilahirkan  dan  belum dapat  tugas  kenabian  dan  ia  belum  memikul  Islam  di  atas  pundaknya  dan belum menjadi rahmat bagi alam semesta. Kemudian datanglah Abrahah yang ingin menghancurkan semua ini tanpa ia mengetahui semua rahsia ini.

Tragedi yang menimpa Abrahah adalah kerana bahawa ia berusaha menentang kehendak Ilahi sehingga kehendak Ilahi itu menghancurkannya dengan mukjizat yang mengagumkan. Datanglah banyak burung dengan membawa batu-batuan yang  tidak  didengar  suaranya.  Kemudian  burung-  burung  melemparkan batu-batu  itu  kepada  Abrahah  berserta  tenteranya.  Semua  ini  berdasarkan rencana  Ilahi  terhadap  rumah-Nya  dan  agama-Nya  serta  nabi-Nya  sebelum orang mengetahui bahawa Nabi Islam telah bersiap-siap untuk meninggalkan tempat tidurnya di perut ibunya dan mulai memasuki kehidupan yang keras di muka bumi.

Di  tengah-tengah  kegembiraan  Mekah  kerana  keselamatan  penghuninya  dan selamatnya Ka'bah, Aminah binti Wahab bermimpi: di tengah suatu malam ia menyaksikan dirinya berdiri sendirian di tengah-tengah gurun, dan telah keluar dari dirinya suatu cahaya besar yang menyinari timur dan barat dan terbentang hingga  langit.  Aminah  tiba-tiba  terbangun  dari  tidurnya  namun  ia  tidak mengetahui tafsir dari mimpinya.

Berlalulah hari demi hari dari tahun gajah. Dan pada waktu sahur dari malam Senin hari  kedua belas dari  bulan  Rabiul Awal, Aminah  melahirkan  seorang anak  kecil  yang  yatim  yang  bernama  Muhammad  bin  Abdillah  bin  Abdul Muthalib, seorang cucu dari Ismail bin Ibrahim bin Adam.

Sebelum ia dilahirkan, dunia mati kerana kehausan padanya. Kehausan dunia sangat besar kepada cinta, rahmat, dan keadilan. Sekarang teiah berlalu 600 tahun dari kelahiran al-Masih dan orang-orang Masehi telah menjauhi ajaran cinta,   bahkan   keyakinan-keyakinan   berhalaisme   telah   meresap   kepada sebahagian  kelompok  mereka  dan  kejernihan  ajaran  tauhid  telah  ternodai. Sedangkan  orang-orang  Yahudi  telah  meninggalkan  wasiat-wasiat  Musa  dan mereka kembali menyembah lembu yang terbuat dari emas. Dan setiap orang dari  mereka  lebih  memilih  untuk  memiliki  lembu  emas  yang  khusus. Demikianlah,  berhalaisme  telah  menyerang  di  bumi.  Bumi  dipenuhi  oleh kegelapan. Akal disingkirkan dan Tuhan dilupakan dan mereka menyerahkan diri mereka kepada pembohong.

Ketika jantung dunia telah terkena kekeringan, maka memancarlah dari timur suatu  mata  air keimanan  yang jernih yang menjadi  puas dengannya separa dunia. Dan mukjizat besar terjadi ketika mata air ini mengeluarkan air yang jernih  dari  jantung  gurun  yang  paling  besar  ketandusannya  di  dunia,  yaitu gurun jazirah Arab. Berkenaan dengan penggambaran masa tersebut, dalam hadis yang mulia dikatakan: "Sesungguhnya Allah melihat penduduk bumi lalu Dia murka kepada mereka, baik orang-orang Arab mahupun orang-orang Ajam kecuali sebahagian kecil dari Ahlul kitab."

Di   tenda   yang   kasar,   lahirlah   seorang   anak   yatim   yang   kemudian bertanggungjawab  untuk  memberikan  minum  kepada  dunia  yang  haus  pada cinta, keadilan, kebebasan, serta kebenaran. Sementara itu, beberapa langkah dari  tempat  kelahirannya  terdapat  berhala-berhala  yang  memenuhi  Baitul 'Athiq dan sekitar Ka'bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail agar menjadi rumah Allah SWT dan Dia disembah di dalamnya dan manusia merasa tenteram di dalamnya. Di rumah yang kuno ini  - yang dibangun sebelumnya oleh Adam - dipenuhi patung- patung tuhan yang terbuat dari batu dan kayu. Ini  menunjukkan  betapa  akal  orang-orang  Arab  saat  itu  mengalami  titik terendah.

Sementara itu nun jauh di sana, tepatnya di Yatsrib atau Madinah dipenuhi oleh orang-orang Yahudi yang mereka datang di sana kerana melarikan diri dari penindasan   orang-orang   Romawi.   Mereka   tinggal   di   situ   bagaikan serigala-serigala  di  atas  tanah  yang  tersubur  di  mana  mereka  melakukan monopoli dalam perdagangan. Mereka membangun kejayaan mereka dengan memanfaatkan orang-orang Arab dan kehairanan mereka terhadap diri mereka sendiri.

Para cendekiawan Yahudi memperdagangkan segala sesuatu, dimulai dari emas sampai   Taurat.   Mereka   menyembunyikan   kertas-kertas   darinya   dan menampakkan  sebahagiannya;  mereka  mengubah  kertas-kertas  Taurat  itu untuk  memperkaya  diri  mereka.  Pada  saat  orang-orang  Yahudi  menyembah emas dan  sangat  lihai  melakukan  persekongkolan,  orang-  orang Arab  justru menyembah  batu  dan  mereka  pandai  berperang.  Mereka  juga  lihai  dalam membuat syair lalu menggantungkannya di atas tirai-tirai Ka'bah. Orang-orang Arab hidup di bawah naungan sistem kesukuan di mana kepala suku adalah pemimpin  dan  nilainya  sebanding  dengan  anak  buahnya,  dan  kemampuan mereka  dalam  berperang.  Dan  keutamaan  seseorang  di  lihat  dari  asal muasalnya serta nilainya juga di lihat dari kefanatikannya serta kebanggaannya kepada nasab yang merupakan kemuliaannya, juga kefanatikannya terhadap berhala tertentu yang merupakan agamanya. Jadi, segala bentuk kemuliaan dan  kewibawaan  tidak  terbentuk  kecuali  dalam  ruang  lingkup  yang  sempit dalam kabilah atau kesukuan.

Sedangkan  di  tempat  yang  jauh  dari  Mekah,  Romawi  menyerupai  burung rajawali   yang   lemah,   namun   belum   sampai   kehilangan   kekuatannya. Orang-orang Romawi sangat menyanjung kekuatan. Sedangkan di belahan timur dari utara negeri Arab, orang-orang Persia menyembah api dan air. Api tetap menyala di tempat peribadatan mereka di mana manusia rukuk untuknya. Dan di sana terdapat danau Sawah yang dianggap suci oleh mereka.

Sementara  itu,  Kisra,  raja  kaum  Persia  duduk  di  atas  singgahsananya  dan memberikan keputusan terhadap manusia. Keputusan Kisra selalu didengar dan dilaksanakan.  Tidak  ada  seorang  pun  yang  berani   menentangnya  dan menolaknya.  Orang-orang  Persia  berhasil  mengalahkan  Romawi  dan  Yunani, sehingga  mereka  menjadi  kekuatan  yang  dahsyat  di  muka  bumi.  Meskipun mereka memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, namun penyembahan api jelas-jelas  menunjukkan  betapa  bodohnya  mereka  dan  betapa  kekuatan mereka diliputi oleh kebodohan sehingga akal mereka tercabut dan mereka terhalangi untuk mencapai kebenaran. Alhasil, kegelapan semakin meningkat di setiap penjuru bumi dan kehidupan berubah menjadi hutan yang lebat di mana di dalamnya seorang yang kuat akan menyingkirkan seorang yang lemah dan di dalamnya yang menang adalah kebatilan.

Di tengah-tengah suasana yang demikian kelam, lahirlah seorang anak di tenda Mekah. Ketika anak tersebut lahir, maka padamlah api yang disembah oleh kaum Persia dan keringlah danau Sawah yang disucikan oleh manusia, bahkan robohlah  empat  belas loteng dari  istana Kisra. Dan  syaitan  merasa bahawa penderitaan yang besar telah merobek-robek hatinya. Ini semua sebagai simbol dimulainya  kehancuran   kejahatan   atau   keburukan   di  muka  bumi   dan terbebasnya akal manusia dari penyembahan terhadap sesama manusia atau terhadap  hal-hal  yang  bersifat  khurafat.   Manusia  diajak  hanya  untuk menyembah  kepada  Allah  SWT.  Kelahiran  Rasul  sebagai  bukti  hilangnya kelaliman,  sebagaimana  kelahiran  Nabi  Musa  yang  menunjukkan  kebebasan Bani Israil dari kelaliman Fir'aun.

Ajaran  Muhammad  bin  Abdillah  merupakan  ajaran  revolusi  yang  paling meyakinkan dan yang paling penting yang pernah dikenal di dunia; ajaran yang bertugas untuk menyelamatkan dan membebaskan akal dan materi. tentera Al-Quran   adalah   tentera   yang   paling   adil   dan   paling   berani   untuk menghancurkan orang-orang yang lalim. Kita akan melihat dalam sejarah Nabi bahawa  kejadian-kejadian  luar  biasa  telah  mengelilingi  Ka'bah  sebelum kelahirannya. Kemudian terjadilah peristiwa luar biasa setelah kelahirannya di mana  terjadilah  peristiwa  pembelahan  dada  pada  saat  beliau  masih  kecil, begitu juga beliau dinaungi oleh awan di waktu kecil, bahkan beliau terkenal pada   saat   masih   kecil   dengan   kecenderungan   untuk   meninggalkan permainan-permainan yang biasa dimainkan oleh anak-anak kecil seusia beliau. Allah SWT memberikan penjagaan khusus kepadanya sehingga Jibril as turun kepadanya dengan membawa wahyu.

Selanjutnya, mukjizatnya yang pertama adalah mukjizat yang terdapat pada keperibadiannya    dan    pemikiran-pemikirannya.    Itulah    yang    menjadi mukjizatnya yang terbesar setelah Al-Quran; itu adalah bangunan rohani yang tinggi di mana beliau mampu menahan penderitaan di jalan Allah SWT. Dan dalam  menegakkan  kebenaran,  beliau  memikul  berbagai  macam  rintangan. Beliau  melaksanakan  amanat  yang  dikembangnya  secara  sempurna  dan sebaik-baik mungkin. Hal yang indah  yang dikatakan tentang mukjizat Nabi setelah  diutusnya  beliau  adalah  bahawa  beliau  tidak  mempunyai  mukjizat selain  usaha  membebaskan  akal:  tanpa  memiliki  kekuatan  luar  biasa  selain membebaskan fikiran, tanpa dalil selain kalimat Allah SWT.

Sedangkan  Isa  bin  Maryam  telah  berdakwah  dan  mengajak  manusia  untuk menciptakan  kesamaan,  persaudaraan,  dan  cinta  kasih  di  antara  mereka, namun   Muhammad   saw   diberi   kurnia   untuk   mewujudkan   persamaan, persaudaraan, dan cinta kasih di antara orang-orang mukmin di tengah- tengah kehidupannya dan setelah kehidupannya.

Ketika   Nabi   Isa   mampu   menghidupkan   orang-orang   yang   mati   dan mengeluarkan  mereka  dari  kuburan,  Muhammad  bin  Abdillah  menghidupkan orang-orang hidup dari kematian mereka yang tidak pernah mereka sedari. Itu adalah bentuk kematian yang paling berat. Beliau juga mengeluarkan mereka dari kegelapan dan kebodohan menuju cahaya ilmu, dan dari belenggu syirik dan kekufuran menuju dunia tauhid.

Sulaiman  sebagai  seorang  Nabi  dan  raja  mampu  memperkerjakan  jin  untuk mengabdi  padanya,  bahkan  mereka  mampu  terbang  beribu-ribu  mil  untuk menghadirkan  singgasana  musuh-musuhnya  agar  mereka  semua  tercengang terhadap kemampuannya, sehingga mereka masuk Islam. Namun Muhammad saw  justru  mengabdi  kepada  Islam  hanya  sebagai  seorang  tentera  yang sederhana.  Beliau  mengetahui  bahawa  ketika  beliau  lalai  sesaat  saja  dari dakwah di jalan Allah SWT, maka kesempatannya dalam menyebarkan agama Islam akan hilang.

Di  saat  terjadi  peristiwa  besar  dalam  peperangan,  tiba-tiba  azan  solat dikumandangkan, sehingga para pasukan yang berperang mengerjakan solat. Tidak  ada  malaikat  yang  turun  untuk  melindungi  mereka  ketika  solat  atau mencegah  datangnya  anak-anak  panah  dari  punggung  mereka  saat  sujud. kerana itu, hendaklah para pasukan melindungi dirinya sendiri. Para pasukan mukmin  berusaha  solat  secara  bergantian:  sebahagian  mereka  solat  dan sebahagian mereka bertugas untuk menjaga.

Allah SWT berfirman:

"Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak   mendirikan   solat   bersama-sama   mereka,   maka   hendaklah segolongan dari mereka berdiri (solat) bersertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka sujud  (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah  datang  golongan  yang  kedua  yang  belum  bersembahyang,  lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan  menyandang  senjata.  Orang-orang  kafir  ingin  agar  kamu  lengah terhadap  senjatamu  dan  harta  bendamu,  lalu  mereka  menyerbu  kamu dengan sekaligus."(QS. an-Nisa': 102)

Selesailah masalah itu dan tidak ada malaikat yang turun untuk melindunginya dan menolongnya. Ini adalah masa kematangan akal dan masa keletihan para nabi  dan  orang-orang  mukmin.  Dan  sesuai  kadar  keletihan  mereka  dalam menyampaikan  ajaran  Islam,  mereka  pun  akan  mendapatkan  balasan  yang besar.

Pada  masa  para  nabi  sebelum  Nabi  Muhammad  saw,  mereka  menghadirkan mukjizat-mukjizat kepada kaum mereka saat memulai dakwah, sehingga kaum tersebut   mempercayai   apa   saja   yang   mereka   bawa,   sedangkan   Nabi Muhammad bin Abdillah tidak menghadirkan kepada kaumnya selain dirinya dan ketulusannya.

Allah SWT telah memutuskan untuk melindungi Musa dan memerintahkannya untuk mengangkat  gunung di  atas kaumnya  hingga  mereka  beriman  kepada Taurat,  atau  untuk  menjatuhkan  gunung  tersebut  di  atas  mereka.  Ketika mengetahui  hal  yang  Demikian  itu,  orang-orang  Yahudi  sujud  dengan meletakkan pipi mereka di atas tanah dan mereka mengamati bukit batu yang berada di atas kepala mereka yang diangkat oleh tangan yang tersembunyi. Sedangkan Nabi Muhammad bin Abdillah tak pernah memaksa seseorang pun. Berimanlah beberapa orang kepadanya dan puaslah beberapa orang kepadanya dan matilah bersamanya orang-orang yang mati dalam keadaan puas. Beliau tidak membawa pedang kecuali saat panah yang beracun mendekati jantung Islam dan mengancamnya.

Dakwah  para  nabi  menuntut  terjadinya  mukjizat  demi  mukjizat.  Ini  kerana masa  kekanak-kanakan  manusia  serta  kelemahan  akal  dan  hilangnya  panca indera menuntut rahmat Allah SWT untuk mendatangkan mukjizat yang sesuai dengan masa turunnya mukjizat tersebut dan budaya masyarakat setempat. Adalah hal yang maklum bahawa di tengah-tengah penduduk Mekah saat itu tidak  terdapat  orang-orang  yang  cerdas  atau  orang-orang  yang  bijak  yang mampu menyerap kata-kata yang baik. Dan kesulitan yang dihadapi oleh Islam adalah bahawa ia tidak diturunkan pada masa ini saja, tetapi Islam diturunkan untuk setiap masa. Allah SWT mengetahui bahawa manusia telah memasuki masa  kematangan  berfikir  yang  mengagumkan,  maka  hikmah-Nya  menuntut bahawa  pernyataan  yang pertama  kali  disebutkan  dalam  risalah-Nya  adalah
"iqra'" (bacalah). Di samping itu, risalah tersebut mengandung pemikiran yang universal,  sistem  yang  membangun,  dan  hukum  yang  mempesona,  serta kebebasan yang diidamkan, dan manusia yang sempurna.

Adalah tidak mengurangi kehormatan para nabi sebelum Nabi Muhammad saw di mana mereka tidak diutus di masa-masa kematangan pemikiran, tetapi yang menambah  kehormatan  Nabi  Muhammad  saw  bahawa  beliau  diutus  di tengah-tengah   masa   kematangan   berfikir,   dan   beliau   diutus   sebelum datangnya masa ini. Beliau memikul berbagai lipat cubaan yang pernah dipikul oleh para nabi; beliau berdakwah dengan menanggung berbagai lipat godaan dan cubaan; beliau mengalami seksaan yang pernah dialami oleh semua para nabi; beliau mencintai Allah SWT sebagaimana para nabi mencintai-Nya. Allah SWT memuliakannya ketika beliau mengimami mereka di saat solat pada saat beliau melakukan Isra' dan Mi'raj. Meskipun demikian, ketika beliau keluar pada suatu    hari    menemui    sahabat-sahabatnya    dan    mendapati    mereka mengutamakan  para  nabi  dan  mendahulukannya  atas  mereka,  maka  beliau justru  menampakkan  kemarahan  dan  wajahnya  berubah.  Beliau  berkata: "Janganlah kalian mengutamakan aku atas Yunus bin Mata."

Melalui pernyataan itu, beliau berusaha meletakkan suatu pondasi pemikiran yang  harus  dilalui  oleh  kaum  Muslim  di  mana  para  nabi  memang  memiliki darjat tertentu di sisi Allah SWT. Boleh jadi ada nabi yang lebih afdal atau yang lebih mulia daripada yang lain. Siapakah yang menetapkan hal itu? Tidak ada seorang pun selain Allah SWT. Ada pun kaum Muslim hendaklah mereka berhenti  pada  batas  tertentu  yang  seharusnya  mereka  berikan  berkaitan dengan sopan santun terhadap para nabi. Selama Allah SWT menyampaikan selawat  kepada  rasul  sebagai  bentuk  penghormatan  dan  memerintahkan mereka  untuk  menyampaikan  selawat  kepadanya,  dan  selama  Rasulullah
seperti nabi-nabi yang lain, maka hendaklah mereka juga berselawat kepada semua nabi tanpa perbezaan, meskipun pada bentuk selawat itu sendiri.

Sementara itu, bayi yang mungil itu yang lahir di Mekah bergerak setelah tahun gajah.  Kemudian  berita  tersebar  di  sana  sini  dan  Sampailah  ke  telinga datuknya bahawa cucunya telah dilahirkan. Abdul Muthalib segera menuju ke tempat itu dan membawa cucunya yang yatim lalu berkeliling dengannya di Ka'bah  sambil  memikirkan  namanya.  Abdul  Muthalib  tidak  merasa  terpukau dengan  nama-nama  yang  mulai  beredar  di  benaknya.  Ia  tampak  bingung menentukan nama yang paling tepat buat cucunya, bahkan kebingungannya itu berlanjutan  sampai  enam  hari,  sehingga  sang  Nabi  di  sunat.  Ketika  malam telah menyelimuti kawasan Mekah, datanglah kepadanya suara yang sama yang dulu  pernah  dilihatnya  dan  didengarnya  yang  memerintahkannya  untuk menggali   zamzam.   Di   tengah-tengah   tidurnya,   suara   itu   membisikkan
kepadanya bahawa nama cucunya berasal dari al-Ham, yang berarti Muhammad atau Ahmad.

Orang-orang Quraisy bertanya kepada Abdul Muthalib: "Nama apa yang engkau berikan kepada cucumu?" Abdul Muthalib menjawab sambil mengingat bisikan suara yang didengarnya saat mimpi, "Muhammad." Nama tersebut sebenamya tidak umum di kalangan orang-orang Jahilliyah. Mereka bertanya, "Mengapa Abdul  Muthalib  tidak  memakai  nama-nama  datuk-datuknya  dan  nama-nama yang biasa dipakai di kalangan mereka." Abdul Muthalib menjawab: "Aku ingin Allah SWT memujinya di langit dan manusia memujinya di bumi."

Kami  tidak  mengetahui  dorongan  apa  yang  membuat  Abdul  Muthalib  untuk menyatakan  kalimat  tersebut.  Apakah  kalimat  itu  bersumber  dari  realiti kebanggaan   orang-orang   Arab   yang   popular   atau   berasal   dari   realiti kebanggaan tradisional? Atau, apakah berangkat dari realiti kegembiraan yang dalam dengan kelahiran si cucu, ataukah kalimat itu bersumber dari suasana rohani yang jernih dan bisikan alam ghaib? Tentu kami tidak bisa menjawab. Yang  dapat  kami  ketahui  adalah  bahawa  seseorang  tidak  akan  layak menyandang predikat manusia yang dipuji di bumi dan dipuji oleh Allah SWT di langit seperti predikat yang disandang oleh Muhammad bin Abdillah.

Nabi  Muhammad  saw  muncul  ke  alam  wujud  dalam  keadaan  yatim.  Beliau ditinggalkan oleh ayahnya saat beliau masih janin di dalam perut ibunya. Allah SWT berfirman:

"Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?" (QS. adh-Dhuha: 6)

Allah SWT melindunginya. Orang-orang sufi mengatakan bahawa sebab- sebab kemanusiaan  seperti  adanya  datuknya  Abdul  Muthalib  dan  bagaimana  ia mengasuhnya dan melindunginya tidak lain hanya bentuk lahiriah yang tidak begitu penting, sedangkan bentuk batiniah yang sebenarnya adalah kita berada di  hadapan  manusia yang dilindungi  dan  diasuh oleh Tuhannya sejak masih kecil. Allah SWT mendidiknya saat beliau masih kecil, dan mengujinya dengan keyatiman saat beliau masih janin serta mengujinya dengan kelaparan sejak masih  kecil,  dan  dewasa  dengan  kematian  si  ibu,  saat  beliau  masih  kecil dengan  keterasingan  di  tengah-tengah  keramaian,  dan  dengan  terjaga  di tengah-tengah tidur serta dengan penderitaan demi penderitaan. Allah SWT telah menyiapkannya sejak usia dini untuk memikul beban risalah terakhir.

Selanjutnya, ibunya seringkali memeluknya lebih dari sebelumnya. Ia melihat bahawa  banyak  dari  wanita-wanita  yang  menyusui  tidak  berkenan  untuk mengasuhnya.  Adalah  sudah  menjadi  tradisi  yang  berkembang  di  Mekah  di mana keluarga-keluarga yang mulia mengirim anaknya ke kawasan dusun agar anak tersebut menyerap dan menghirup udara segar serta memperoleh mainan yang memadai. Dan biasanya wanita-wanita  yang menyusui anak-anak lebih tertarik menyusui anak- anak dari orang-orang kaya. Namun ketika pemimpin manusia seorang yang fakir, maka wanita-wanita yang biasa menyusui tidak berminat kepadanya.

Marilah kita telusuri bagaimana Halimah binti Abi Duaib menceritakan kisahnya bersama anak kecil yang disusuinya: "Saat itu terjadi musim tandus dan kami tidak memiliki sesuatu sehingga aku dan suamiku mengalami kemiskinan yang luar   biasa.   Lalu   kami   menetapkan   keluar   ke   Mekah   dan   menemani wanita-wanita  dari  Bani  Sa'ad.  Kami  semua  mencari  anak-anak  yang  masih menyusu  agar  orang  tua  mereka  dapat  membantu  kami  untuk  memenuhi kebutuhan hidup.

Binatang yang aku tunggangi sangat lemah dan sangat kurus yang itu semua disebabkan oleh kekurangan makanan. Bahkan kami khawatir kalau-kalau ia berhenti  di  tengah  perjalanan  dan  mati.  Dan  kami  tidak  tidur  semalaman kerana melihat kondisi anak kecil yang bersama kami. Ia menangis kerana tidak menemukan makanan yang dapat dimakannya. Ia menangis kerana kelaparan dan tidak mendapat air susu, baik dari air susuku mahupun air susu unta yang dibawa oleh suamiku, sehingga kami tidak dapat memuaskan dahaganya. Di tengah-tengah  malam,  aku  merasakan  keputusasaan.  Aku  bertanya-tanya bagaimana aku dapat melakukan sesuatu dalam keadaan yang demikian.


Akhirnya,  kami  sampai  di  Mekah.  Sementara  itu,  wanita-wanita  yang  ingin mencari anak-anak yang dapat mereka susui telah mendahului kami. Mereka mengambil  anak-anak  kecil  yang  mereka  sukai,  kecuali  satu  anak,  yaitu Muhammad di mana ayahnya telah meninggal dan ia berasal dari keluarga yang miskin meskipun sebenarnya kedudukannya sangat mulia di antara tokoh-tokoh Quraisy. Oleh kerana itu, wanita-wanita enggan untuk mengasuhnya. Namun aku dan suamiku tidak sefaham dengan mereka kerana aku tidak peduli dengan
keyatiman  dan  kefakirannya.  Kemudian  aku  malu  untuk  kembali  dan  tidak mengambil bayi yang dapat aku susui kemudian. Di samping itu, aku malu jika mendapat cercaan dari wanita-wanita itu. Lalu aku merasakan adanya kasih sayang yang memenuhi hatiku terhadap anak kecil yang tampan itu yang akan diganggu oleh udara yang kotor."

Kisah  tersebut  mengatakan  bahawa  saat  anak-anak  kecil  mendapatkan wanita-wanita yang menyusuinya, maka Muhammad bin Abdillah sedang tidur dalam keadaan lapar di ranjangnya yang kasar, tanpa disusui oleh siapa pun. Suatu  hikmah  yang  tinggi  berkehendak  agar  bayi  yang  masih  menyusui  itu menghadapi dunia dalam keadaan yatim dan dalam keadaan kelaparan agar ia dapat  merasakan  penderitaan  anak-anak  yatim  dan  orang-orang  yang  lapar sebelum ia menyelamatkan mereka.

Halimah mengatakan bahawa ia meyakinkan suaminya bahawa ia merasakan keinginan  yang  kuat  untuk  mengambil  anak  yatim  ini,  sehingga  suaminya menyetujuinya.  Halimah  tidak  mengetahui  rahsia  keinginannya  yang  samar agar ia kembali untuk mengambil anak yatim yang masih menyusu ini. Ia tidak mengetahui bahawa Allah SWT telah menanamkan rasa cinta kepada anak kecil itu dalam hatinya seperti Allah SWT menanamkan cinta kepada Musa pada hati isteri Fir'aun. Jika Musa menolak wanita-wanita lain untuk menyusuinya kecuali ibunya setelah Allah SWT mencegahnya dari susuan wanita-wanita lain agar ibunya merasa bahagia dan tidak bersedih, maka Muhammad bin Abdillah  -seorang  anak  kecil  yang  masih  menyusu  dan  mulia --justru  ditolak  oleh wanita-wanita  yang  menyusui,  sedangkan  ia  sendiri  tidak  pernah  menolak seseorang pun.

Halimah   kembali   kepadanya   dan   ia   memberitahu   bahawa   ia   akan mengasuhnya.  Nabi  Muhammad  saw  adalah  seorang  yang  mulia.  Halimah meletakkan tangannya di dadanya, sehingga anak kecil itu tertawa. Halimah mencium di antara kedua matanya. la meletakkannya di kamarnya. Halimah mengetahui  bahawa  kedua  air  susunya  telah  kering,  namun  tiba-tiba  air susunya  memancar  dengan  keras  sebagai  bentuk  kasih  sayang  dan  tanda kebesaran dari Allah SWT. Kini Halimah pun dapat menyusuinya. Apakah itu merupakan  hikmah  yang  tinggi  di  mana  anak  kecil  tersebut  merasa  cukup dengan  sesuatu  yang  sedikit?  Ataukah  anak  kecil itu  sudah  dapat  mendidik dirinya  untuk  zuhud  dan  qanaah  sebelum  ia  mendidik  orang-orang  dewasa tentang pengorbanan dan kesatriaan?

Halimah kembali ke gurun Bani Sa'ad dan ia membawa Muhammad bin Abdillah. Belum lama ia menyaksikan tanahnya yang tandus sehingga tiba-tiba kebaikan dunia  terbuka  dan  mekar  di  hadapannya,  di  mana  bumi  dipenuhi  dengan kehijau-hijauan  setelah  mengalami  masa  tandus.  Pohon-pohon  berbuah  dan buah kurma tampak berseri-seri  setelah  sebelumnya layu,  bahkan  susu-susu binatang pun mulai tampak banyak. Allah SWT memberikan berkah-Nya kepada tempat  tersebut.  Halimah  mengetahui  bahawa  kebaikan  ini  telah  datang bersama kedatangan anak kecil yang diberkahi, sehingga cintanya kepada anak itu semakin bertambah. Bahkan suaminya pun menjadi tawanan cinta yang lain kepada Muhammad saw.

Pada suatu hari ia berkata kepada isterinya: "Apakah engkau mengetahui wahai Halimah bahawa engkau telah mengambil seorang anak yang mulia?" Halimah berkata: "Anak kecil itu tidak menangis dan tidak berteriak kecuali ketika ia telanjang." Ketika anak kecil itu gelisah di tengah malam dan tidak tidur, maka Halimah  membawanya  keluar  dari  khemah  dan  ia  berhenti  bersamanya  di bawah sinar bintang. Saat itu anak itu tampak bergembira ketika menyaksikan langit. Setelah kedua matanya terpuaskan oleh pandangan ke arah langit, ia pun mulai tidur.

Ketika anak itu mencapai tahun yang kedua, maka ia telah disapih, sehingga ibunya  ingin  mengambilnya,  tetapi  Halimah  tidak  kuat  untuk  menahan perpisahan ini. Halimah menjatuhkan dirinya di hadapan kedua kaki sang ibu dan  ia  mulai  menciuminya  dan  ia  meminta  agar  membiarkannya  bersama anaknya  sehingga  anak  itu  benar-benar  kuat  dan  dapat  kembali  menghirup udara  segar  gurun.  Akhirnya,  Rasulullah  saw  tinggal  di  tempat  Bani  Sa'ad sampai lima tahun. Dan pada masa lima tahun ini terjadi peristiwa penting yang  terkenal  dengan  peristiwa  pembelahan  dada.  Kehendak  Ilahi  telah menetapkan kepada Ruhul Amin, yaitu Jibril untuk menemui Muhammad bin
Abdillah dan membelah dadanya dengan perintah Ilahi serta menyuci hatinya dengan  rahmat  dan  mengeringkannya  dengan  cahaya  dan  mengeluarkan
bahagian dunia darinya.

Seperti  biasanya  Rasulullah  saw  keluar  pada  suatu  hari  bersama  saudara susuannya   dengan   menunggangi   sekawanan   domba   menuju   tempat penggembalaan. Di tengah hari, saudaranya berlari-lari dalam keadaan takut dan menangis sambil berteriak bahawa Muhammad telah terbunuh. Muhammad diambil oleh  dua  orang  laki-laki  yang  memakai  baju  yang  putih  lalu  kedua orang itu menelentangkannya dan membelah dadanya.

Mendengar hal itu, Halimah sangat kejut dan terpukul. Ia segera pergi sambil berlari mencari Muhammad dan diikuti oleh suaminya yang mengikuti petunjuk anak kecil dari saudara Muhammad. Akhirnya, mereka menemukan Muhammad sedang  duduk  di  atas  tanah  di  mana  wajahnya  tampak  pucat  dan  kedua matanya menyala.
Halimah dan suaminya mencium dengan lembut dan mulai menampakkan kasih sayangnya.  Kemudian  mereka  bertanya,  "apa  yang  terjadi?"  Muhammad menjawab:  "Ketika  aku  memperhatikan  domba-domba  yang  sedang  bermain aku  dikejutkan  dengan  kedatangan  dua  orang  yang  memakai  pakaian  yang putih. Mula-mula aku menyangka bahawa mereka adalah burung yang besar, namun ternyata aku salah. Mereka adalah dua orang yang tidak aku kenal yang memakai  pakaian  warna  putih.  Salah  seorang  dari  mereka  berkata  kepada temannya  dengan  menunjuk  ke  arahku,  "Apakah  ini  anaknya?"  Yang  lain menjawab, "benar." Aku merasakan ketakutan yang luar biasa. Lalu mereka mengambilku  dan  menidurkan  aku  serta  membelah  dadaku  dan  mereka mengambil sesuatu darinya hingga mereka mendapatinya dan membuangnya jauh-jauh. Setelah itu, mereka bersembunyi laksana bayangan."

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Anas dan juga diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad. Para mufasir berbeza pendapat tentang simbolisme yang dalam ini. Sebahagian besar ulama menakwilkan peristiwa tersebut. Pakar-pakar klasik, seperti   Qurthubi   berpendapat   bahawa   peristiwa   itu   diisyaratkan   oleh firman-Nya: "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?. "  (QS. Alam Nasyrah: 1)

Sedangkan tokoh-tokoh hadis, seperti  Ghazali  berpendapat bahawa manusia istimewa seperti Muhammad saw tidak mungkin terlepas dari bimbingan Ilahi dan  tidak  mungkin  terkena  waswas  sekecil  apa  pun  yang  biasa  menimpa manusia biasa. Jika suatu kejahatan menjadi suatu gelombang yang memenuhi cakerawala,  maka  di  sana  terdapat  hati  yang  segera  memungutnya  dan terpengaruh dengannya, namun hati para nabi dengan adanya bimbingan Allah SWT tidak akan terpanggil dan tidak terkena arus kejahatan tersebut.

Dengan demikian, usaha para nabi terfokus pada peningkatan kemajuan atau ketinggian,  bukan  memerangi  kerendahan.  Diriwayatkan  oleh  Abdillah  bin Mas'ud bahawa Rasulullah saw bersabda: "Tidak ada seseorang di antara kalian kecuali ia diawasi oleh temannya dari kalangan jin dan temannya dan dari kalangan  malaikat."  Para  sahabat  berkata:  "Apakah  hal  itu  juga  berlaku kepadamu  wahai  Rasulullah?"  Beliau  menjawab:  "Ya,  tetapi  Allah  SWT membantuku,  sehingga  ia  berserah  diri  dan  tidak memerintahkan  kepadaku kecuali dalam kebaikan."

Begitulah sikap orang-orang yang dahulu dan para ahli hadis berkaitan dengan peristiwa  pembelahan  dada.  Kami  kira  bahawa  kejadian  yang  luar  biasa tersebut berhubungan dengan persiapan Nabi untuk melalui Isra' dan Mi'raj. Ia merupakan perjalanan di mana Rasulullah saw akan menebus alam angkasa dan akan  mencapai  alam  langit.  Kemudian  beliau  akan  melampaui  alam  ini, sehingga sampai di Sidratul Muntaha yang di sana terdapat Janatul Ma'wah.

Pandangan tersebut kembali kepada pendapat kami yang mengatakan bahawa peristiwa pembelahan dada berulang lebih dari sekali saat Rasul saw mencapai usia lima puluh tahun. Dan peristiwa pembelahan dada terjadi kedua kalinya pada malam Isra' dan Mi'raj.

Bukhari  meriwayatkan  dari  Malik  bin  Sh'asha'a  bahawa  Rasulullah  saw menceritakan kepada mereka peristiwa malam Isra' di mana beliau bersabda:
"Ketika aku berada di Hathim - atau beliau berkata di Hijr - saat aku dalam keadaan  antara  tidur  dan  bangun,  maka  seorang  datang  kepadaku  lalu  ia membelah antara ini dan ini. Yaitu antara kerongkongan dan perutnya. Beliau melanjutkan: Lalu ia mengeluarkan hatiku dan membawa mangkok dari emas yang penuh dengan keimanan lalu ia menyuci hatiku. Kemudian diulanginya."

Kami  kira  bahawa  pembelahan  dada  merupakan  bentuk  simbolis  yang menunjukkan  kesucian  Rasul  saw  dan  sebagai  bentuk  penyiapannya  untuk melalui Isra' dan Mi'raj. Itu merupakan pemberitahuan dari Ilahi bahawa anak ini akan mencapai suatu kedudukan yang belum pernah dicapai oleh manusia dan  tidak  akan  dicapai  manusia  sesudahnya.  Setelah  peristiwa  pembelahan dada, berubahlah kehidupan anak kecil itu di mana sebahagian besar waktunya digunakan  untuk  merenung  dan  menyendiri.  Dari  roman  wajahnya  tampak keseriusan yang biasanya menghiasi wajah orang-orang dewasa.

Berlalulah hari demi hari, tahun demi tahun dan Selesailah masa menetapnya bersama Halimah di dusun Bani Sa'ad. Beliau sangat terpengaruh dan sangat terkesan  dengan  keadaan  di  sana.  Diriwayatkan  bahawa  beliau  pernah mengingat masa kecilnya di Bani Sa'ad dan beliau membanggakannya. Beliau menyebutkan  pengorbanan  mereka  dan  sikap  mereka  yang  baik.  Beliau berkata: "Aku termasuk dari Bani Sa'ad, tanpa bermaksud menyombongkan diri. Jika mereka berhadapan atau menyaksikan salah seorang mereka lapar, maka mereka akan membagi makanan di antara mereka."

Kemudian Muhammad bin Abdillah kembali ke Mekah saat usianya lima tahun. Beliau  hidup  beberapa  hari  bersama  ibunya  di  mana  si  ibu  merasakan kesedihan yang dalam atas kepergian ayahnya. Sesuai janji untuk mengingat ayahnya yang telah pergi, Aminah menetapkan untuk mengunjungi kuburannya di Yatsrib. Jarak antara Mekah dan Yatsrib lebih dari lima ratus kilo meter di gurun yang kering yang jauh dari tanda- tanda kehidupan. Anak itu menempuh perjalanan  yang  berat.  Setelah  perjalanan  yang  berat  ini,  Muhammad  bin Abdillah tinggal di tempat paman-paman dari ibunya di Madinah selama satu bulan. Muhammad melihat rumah yang di situ ayahnya meninggal sebelum ia dilahirkan.  Ia  berziarah  bersama  ibunya  ke  kuburan  yang  sederhana  yang ayahnya dikuburkan di dalamnya. Mula-mula fikirannya terfokus pada keadaan
yatim sambil ia mulai memperhatikan linangan air mata ibunya yang diam.

Selesailah masa satu bulan keberadaannya di sisi paman-pamannya. Kemudian ibunya menemaninya untuk kembali ke Mekah. Kedua anak manusia itu sampai di  pertengahan  jalan.  Muhammad  bin  Abdillah  tidak  mengetahui  rahsia kepucatan  wajah  ibunya.  Lalu  malaikat  maut  turun  di  suatu  tempat  yang bernama  Abwa.  Di  situlah  Aminah  binti  Wahab  telah  bertemu  dengan kekasihnya, Allah SWT.

Sang  ibu  meninggal  dan  meninggalkan  anak  satu-satunya  bersama  seorang pembantu. Pembantu itu menampakkan rasa kasihnya terhadap anak kecil yang kehilangan ayahnya saat masih janin dan kehilangan ibunya saat berusia enam tahun.  Muhammad  bin  Abdillah  kini  menjadi  sendiri  dan  ia  dalam  keadaan menangis. Ia mencapai kematangan setelah ia melewati kesedihan kehidupan dan kerasnya kehidupan sebagai anak yatim.
Rasulullah   saw   pernah   ditanya   setelah   masa   diutusnya:   "Bagaimana pandanganmu?" Beliau menjawab: "Pengetahuan adalah modalku. Akal adalah dasar agamaku. Cinta adalah pondasiku. Zikrullah adalah kesenanganku. Dan kesedihan adalah temanku."

Allah  SWT  telah  menyiramkan  kepadanya  sungai-sungai  kesedihan  sehingga beliau  dapat  memberikan  kepada  manusia  buah  dari  kegembiraan  dan ketulusan.

Anak kecil itu kembali ke Mekah dalam keadaan sedih dan ia tampak terpaku. Lalu  Abdul  Muthalib,  datuknya  menampakkan  cinta  yang  luar  biasa  dan penghormatan  padanya.  Setelah  dua  tahun  ketika  Muhammad  bin  Abdillah berusia delapan tahun, maka meninggallah salah satu benteng yang terbaik yang menjaganya, yaitu datuknya Abdul Muthalib. Kemudian anak kecil itu kini merenungi datuknya laksana orang dewasa. Ia tampak tegar seperti layaknya orang dewasa.

Kita tidak mengetahui mengapa terjadi demikian. Mengapa hikmah Allah SWT mencegah Nabi yang terakhir untuk mendapatkan kasih sayang seorang ayah, kasih sayang seorang ibu,  dan  bimbingan  seorang datuk? Apakah Allah SWT ingin  memberi  Nabi  yang  terakhir  suatu  kasih  sayang  dan  cinta  yang semata-mata  bersumber  dari  sisi-Nya?  Apakah  Allah  SWT  ingin  mendidiknya dengan  kesedihan  dan  memberinya  perasaan-perasaan  yang  penuh  dengan penderitaan? Apakah Allah SWT ingin membuat hati Rasul-Nya hanya tertuju kepadanya? Dahulu Allah SWT berkata kepada Musa:

"Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku." (QS. Thaha: 41)

Dahulu  Allah  SWT  memberi  khabar  gembira  kepada  Musa  di  dalam  Taurat sebagaimana Isa memberi khabar gembira di dalam Injil dengan kedatangan seorang Nabi setelahnya yang bernama Ahmad. Dan Nabi Musa meminta kepada Tuhannya  agar  memberinya  dan  memberi  umatnya  puncak  keutamaan,  lalu Allah SWT menjawab bahawa Dia telah menetapkan keutamaan ini kepada Nabi yang terakhir Ahmad dan umatnya.

Allah SWT telah memilih Musa untuk diri-Nya. Meskipun Demikian, Dia tidak mencegahnya untuk mendapatkan kasih sayang seorang ibu dan mendidiknya di tengah-tengah keluarganya. Namun Dia berkehendak untuk menjadikan Nabi yang terakhir tercegah dari mendapatkan kasih sayang seorang manusia dan cinta  seorang  manusia,  sehingga  Nabi  tersebut  hanya  mendapatkan  kasih sayang Ilahi dan cinta Ilahi.


Allah SWT berfirman menceritakan tentang keadaan Rasul terakhir:

"Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan  kecukupan.  Adapun  terhadap  anak  yatim,  maka  janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu mengherdiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu maha hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). " (QS. ad-Dhuha:
6- 11)

Makna ayat tersebut secara harfiah adalah bahawa beliau dalam keadaan yatim lalu Allah SWT melindunginya; beliau dalam keadaan tersesat lalu Allah SWT memberinya   petunjuk;   beliau   dalam   keadaan   fakir   lalu   Allah   SWT memampukannya.    Allah    SWT    melindunginya    dengan    mengasuhnya, membimbingnya, dan mencukupinya. Itu adalah darjat keutamaan yang tidak pernah dicapai oleh seseorang pun di dunia.

Setelah kematian datuknya, maka pamannya Abu Thalib mengasuhnya. Allah SWT  telah  meletakkan  kecintaan  pada  hati  pamannya,  sehingga  pamannya mengutamakan  Muhammad  saw  daripada  anak-anaknya  dan  memuliakannya serta  menghormatinya,  bahkan  Abu  Thalib  mendudukkannya  di  ranjangnya yang biasa dibentangkannya di hadapan Ka'bah di mana tidak ada seorang pun yang duduk selainnya.

Muhammad bin Abdillah hidup di jantung gurun Mekah sebagai seorang yang memiliki kesedaran yang tinggi di antara kaum yang sedang lalai dan kaum yang  mabuk-mabukan  dan  para  penyembah  berhala  serta  para  pedagang minuman  keras  dan  para  syair  dan  orang-orang  yang  berperang  dan tokoh-tokoh kabilah.

Muhammad bin Abdillah seorang yang banyak diam dan ketika usianya semakin dewasa, maka ia bertambah banyak diam. Beliau tidak berbicara kecuali jika diajak seseorang berbicara; beliau tidak terlibat dalam permainan hura-hura anak-anak  muda;  beliau  merasakan  kesedihan  yang  dalam;  beliau  sering menyendiri dan membuka matanya di hamparan pasir-pasir. Mulutnya terdiam dan  akalnya  berfikir.  Beliau  merenungkan  di  masa  kecilnya  bagaimana kaumnya  bersujud  terhadap  berhala  dan  terpukau  dengannya;  bagaimana orang-orang berakal mau bersujud kepada batu-batu yang tidak memberikan mudarat  dan  manfaat  dan  tidak  berbicara  serta  tidak  dapat  melakukan apa-apa. Beliau mewarisi dari datuknya Ibrahim kebencian yang fitri terhadap dunia berhala dan patung.

Di  dalam  dirinya  terdapat  penghinaan  yang  besar  terhadap  sembahan-sembahan  dari  batu  ini,  suatu  penghinaan  yang  menjadikannya  tidak  mau mendekat  selama-lamanya  terhadap  patung  tersebut.  Namun  hatinya  yang besar dipenuhi dengan kesedihan yang lebih hebat dari kesedihan datuknya Ibrahim.  Beliau  sedih  kerana  akal  manusia  menyembah  batu  dan  emas, kesombongan serta kekuasaan penguasa; beliau mendengar apa yang dikatakan manusia  dan  mengamat-amati  urusan  kehidupan  dan  keadaan  masyarakat; beliau  juga  menyaksikan  betapa  banyak  pertentangan  dan  perkelahian  di antara  manusia  yang  justru  disebabkan  oleh  masalah-masalah  yang  sepele, sehingga  kehairanan  beliau  semakin  bertambah  dan  sudah  barang  tentu kesedihannya  pun  semakin  dalam.  Tidakkah  manusia  mengetahui  bahawa mereka akan mati seperti ayahnya, ibunya, dan datuknya? Mengapa mereka menimbulkan  pertentangan  ini,  hingga  mereka  mendapatkan  lebih  banyak kejahatan?

Ketika usianya semakin bertambah, maka bertambahlah kezuhudannya dalam hidup, dan sepak terjangnya terus bersinar memenuhi penjuru Mekah. Beliau tidak sama dengan seseorang pun dari kalangan pemuda saat itu. Meskipun kami kira bahawa kesedihannya disebabkan oleh hal- hal yang umum, tetapi beliau tidak mengungkapkan kegelisahan hatinya pada seseorang pun. Beliau belum  bertujuan  untuk  memperbaiki  masyarakat  atau  kemanusiaan.  Benar bahawa pertanyaan-pertanyaan kritis timbul dalam benaknya dan ingin segera menemukan jawapan, tetapi akalnya sendiri tidak dapat menemukan jawapan atau jalan keluar. Inilah yang dimaksud dengan makna ayat:

"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk." (QS. adh-Dhuha: 7)

Yang  dimaksud  ad-Dhalal  (kesesatan)  di  sini  ialah  kebingungan  akal  dalam menafsirkan kejahatan dan usaha melawannya kerana ketiadaan senjata dan kecilnya  usia.  Semua  itu  justru  menambah  sikap  diam  anak  kecil  itu  dan menjauhkannya  dari  dunia  yang  akan  mencemari  akal,  sehingga  akalnya selamat dari segala noda dan tetap di bawah naungan kejernihannya.

Anak kecil itu tetap jauh dari dosa-dosa yang dilakukan oleh kaumnya yang berupa  kecenderungan  untuk  menyembah  berhala  dan  cinta  kekuasaan  dan kebanggaan. Ia selalu mendekat dan lebih mendekat kepada hakikatnya yang suci;  ia  mampu  mempengaruhi  orang  lain  dengan  jiwanya  yang  bersih  dan rahmatnya  atau  kasih  sayangnya  tertuju  kepada  manusia,  bahkan  kepada binatang dan burung. Ketika ia duduk akan makan lalu ada burung merpati berkeliling di seputar makanannya maka ia meninggalkan makanannya untuk burung  itu.  Pada  saat  orang-orang  memukul  anjing  yang  mendekat  kepada makanan mereka, maka ia justru mencabut suapan yang ada di mulutnya dan memberikannya pada anjing, kucing, anak-anak kecil, dan orang-orang fakir. Bahkan  seringkali  di  waktu  malam  ia  tidur  dalam  keadaan  lapar  kerana  ia memberikan makanannya ke orang lain.

Muhammad saw adalah seorang fakir yang harus bekerja agar dapat makan, maka beliau bekerja sebagai penggembala kambing, seperti Nabi Daud, Nabi Musa, dan nabi-nabi yang lain yang diutus oleh Allah SWT. Kemudian beliau melakukan perjalanan bersama kafilah pamannya Abu Thalib menuju Syam saat beliau berusia tiga belas tahun. Beliau menyaksikan keadaan umat-umat yang lain, maka  kehairanannya semakin bertambah terhadap masa Jahilliyah ini. Ketika beliau menyaksikan orang-orang tersesat, maka kesedihannya semakin bertambah dan hatinya semakin tersentuh dan fikirannya semakin dalam.

Pada  saat  perjalanan  menuju ke  Syam  ini  terjadi  suatu  peristiwa  terhadap anak  kecil  itu.  Kemungkinan  besar  itu  justru  menambah  kebingungannya. Seorang pendeta yang bernama Buhaira berdiri di jendela rumah yang menjadi tempat peribadatannya di Suria. Tiba-tiba ia memperhatikan suatu awan putih -  tidak  seperti  biasanya -  yang  menghiasi  langit  yang  biru.  Saat  itu  udara sangat  terang,  sehingga  munculnya  awan  tersebut  sangat  menghairankan. Kemudian pandangan Buhaira yang tertuju ke langit, kini tertuju ke bumi di mana ia mendapati awan itu menyerupai burung yang putih yang menaungi kafilah kecil yang menuju ke arah utara. Buhaira memperhatikan bahawa awan tersebut mengikuti kafilah.

Jantung  Buhaira  berdebar  dengan  keras  kerana  ia  mengetahui  melalui buku-buku peninggalan kaum Masehi yang otentik bahawa seorang nabi akan muncul ke dunia setelah Isa. Sifat dan khabar nabi tersebut diceritakan dalam buku-buku  kuno.  Buhaira  segera  meninggalkan  tempatnya,  lalu  ia  segera memerintahkan untuk menyiapkan makanan yang besar. Kemudian ia mengutus seseorang  untuk  menemui  kafilah  tersebut  dan  mengundang  mereka  untuk jamuan makan. Salah seorang mereka berkata dengan nada bercanda kepada Buhaira: "Demi  Lata dan 'Uzza, engkau hari ini tampak lain wahai Buhaira. Engkau tidak pernah melakukan demikian kepada kami, padahal kami telah melewati  dan  singgah  di  tempat  ini  lebih  dari  sekali.  Ada  peristiwa  apa gerangan wahai Buhaira?"

Buhaira menjawab: "Hari ini kalian adalah tamu-tamuku." Pertanyaan orang tersebut  tidak  dijawab  dengan  terang-terangan.  Ia  sengaja  menghindarinya dan  tidak  menyingkapkan  rahsia  kemuliaan  yang  datangnya  tiba-tiba  ini. Buhaira memberi makan mereka dan mulai memperhatikan di antara mereka adanya   seseorang  yang  memiliki   tanda-   tanda   yang  dibacanya   dalam kitab-kitabnya yang kuno tentang seorang rasul yang ditunggu. Namun ia tidak menemukannya,  hingga  ia  bertanya  kepada  mereka:  "Wahai  kaum  Quraisy, apakah  ada  seseorang  yang  tidak  hadir  bersama  jamuanku  ini?"  Mereka menjawab:  "Benar,  ada  seseorang  yang  tidak  ikut  bersama  kami.  Kami meninggalkannya kerana ia masih kecil." Buhaira berkata: "Sungguh aku telah mengundang  kamu  semua.  Panggillah  ia  supaya  hadir  bersama  kami  dan memakan makanan ini." Salah seorang lelaki dari kaum Quraisy berkata: "Demi Lata dan 'Uzza, sungguh tercela bagi kami untuk meninggalkan Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib dari jamuan yang kami diundang di dalamnya.

Pamannya meminta maaf kerana Muhammad masih kecil, kemudian sebahagian mereka  berdiri  dan  menghadirkannya.  Belum  lama  Buhaira  memandangi kejernihan  dua  mata  Muhammad,  sehingga  ia  mengetahui  bahawa  ia  telah mendekati  tujuannya.  Buhairah  terpaku  ketika  memandangi  Muhammad  bin Abdillah sehingga kaum selesai makan dan mereka berpisah.

Muhammad  bin  Abdillah  duduk  sendirian.  Buhaira  menghampirinya  dan berkata: "Wahai anak kecil, demi kedudukan Lata dan 'Uzza, sudikah kiranya engkau memberitahu aku terhadap apa yang aku tanyakan kepadamu?" Buhaira ingin  mengetahui  sikap  anak  ini  terhadap  berhala  kaumnya.  Anak  kecil  itu menjawab: "Jangan engkau bertanya kepadaku tentang Lata dan 'Uzza. Demi Allah,  tidak ada  sesuatu  yang lebih  aku  benci  daripada  keduanya." Buhaira berkata:  "Dengan  izin  Allah  aku  ingin  bertanya  kepadamu."  Anak  kecil  itu menjawab: "Tanyalah apa saja yang terlintas di benakmu."

Buhaira bertanya kepada anak kecil itu tentang keluarganya, kedudukannya di tengah-tengah  kaumnya,  mimpinya  dan  pendapat-  pendapatnya.  Dialog tersebut  terjadi  jauh  dari  pantauan  kaum  kerana  mereka  tidak  akan  diam ketika  mendengar  bahawa  Muhammad  membenci  berhala-berhala  mereka. Kemudian Muhammad menjawab pertanyaan-pertanyaan Buhaira dengan yakin, hingga membuat Buhaira mantap bahawa ia sekarang duduk bersama seorang Nabi yang khabar berita gembiranya disampaikan oleh Nabi Isa sebagaimana disampaikan oleh nabi-nabi dari kaum Israil dari kaum Nabi Musa. Setelah itu, ia bangkit meninggalkan anak kecil itu dan menuju ke Abu Thalib ia bertanya tentang kedudukan anak kecil itu di sisinya. Abu Thalib menjawab: "Ia adalah anakku." Buhaira berkata: "Tidak mungkin ayahnya masih hidup." Abu Thalib berkata:  "Benar.  Ia  anak  saudaraku.  Ayahnya  dan  ibunya  telah  meninggal." Buhaira berkata: "Engkau benar, kembalilah kamu ke negerimu dan hati-hatilah dari kaum Yahudi." Abu Thalib bertanya tentang rahsia dari apa yang dikatakan oleh pendeta itu. Pendeta itu mulai mengetahui bahawa ia telah berbicara lebih  dari  yang  semestinya.  Lalu  ia  berkata:  "Ia  akan  memiliki  kedudukan tertentu." Buhaira tidak menjelaskan lebih dari itu dan ia tidak menentukan
kedudukan yang dimaksud.

Lalu berlalulah peristiwa tersebut tanpa terlintas dari benak seseorang atau tanpa menggugah kesedaran di antara mereka. Kisah tersebut tidak membawa pengaruh berarti bagi kafilah atau kepada Nabi sendiri. Kafilah menganggap bahawa   penghormatan   pendeta   kepada   Muhammad   bin   Abdillah   dan memberitahunya akan kedudukan yang akan disandangnya adalah semata-mata basa-basi yang biasa diucapkan di atas meja makan ketika para tamu memuji kedermawanan tuan rumah. Dan sebagai balasannya, orang yang mengundang akan memuji akhlak para pemuda mereka. Alhasil, peristiwa tersebut tidak membawa   pengaruh   apa   pun,   baik   bagi   Muhammad   mahupun   bagi
sahabat-sahabat yang ikut dalam kafilah, sehingga mereka tidak mengetahui rahsia perkataan pendeta dan mereka tidak menyebarkan pembicaraan yang mereka dengar darinya. Peristiwa itu tersembunyi meskipun ia sungguh sangat membingungkan Muhammad.

Apa gerangan yang terjadi antara dirinya dan orang-orang Yahudi, sehingga pendeta perlu mengingatkan pamannya dari ancaman mereka? Apa kedudukan yang akan dikembangnya seperti yang diceritakan oleh pendeta itu? Dan apa hubungan  semua  ini  dengan  kesedihan-  kesedihannya  yang  dalam  serta kebingungannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sedikit demi sedikit berputar di benaknya. Kemudian seperti biasanya kafilah tersebut kembali ke Mekah. Muhammad kembali menuju keterasingannya. Ia memperhatikan keadaan alam di sekitarnya. Kemudian ia melihat kembali penderitaannya; ia berusaha untuk mendapatkan kehidupannya; ia mengabdi kepada manusia dan mengorbankan apa saja demi kemuliaan mereka.

Hari demi hari berlalu. Muhammad saw tampil dengan pakaian ketulusan kasih sayang, dan amanah serat cinta, sebagaimana pelita dipenuhi oleh cahaya, sehingga kejujurannya terkenal di tengah-tengah kaumnya. Bahkan kejujuran dan  amanatnya  tidak  bakal  diragukan  oleh  seseorang  pun  dari  penduduk Mekah.  Dan  ketika  beliau  datang  dengan  membawa  risalahnya  dan  beliau ditentang  majoriti  masyarakatnya,  namun  tak  seorang  pun  yang  berani meragukan kejujurannya. Mereka hanya menuduh bahawa ia terkena sihir atau kesedarannya telah hilang.

Pada tahun ketiga belas dari masa kenabian, ketika semua kabilah sepakat untuk membunuhnya dan mengucurkan darahnya di antara para kabilah dan mereka  mengepung  rumahnya,  maka  di  saat  situasi  yang  sulit  ini  beliau menetapkan untuk berhijrah. Tetapi sebelumnya beliau mewasiatkan kepada Ali bin Abi Thalib, anak pamannya untuk tetap tinggal di rumahnya agar ia dapat mengembalikan amanat yang dititipkan oleh semua musuhnya dan para sahabatnya. Ini beliau maksudkan agar Ali dapat menyerahkan amanat tersebut di  waktu  pagi  kepada  para  pemiliknya.  Anda  dapat  melihat  betapa  para musuhnya merasa aman terhadap harta mereka ketika dijaga oleh Muhammad
saw.

Hari  demi  hari  berlalu  dan  tahun  demi  tahun  pun  lewat.  Sementara  itu, kesucian  dan  kejujuran  Muhammad  saw  semakin  meningkat.  Dan  di  tengah lautan   keheningan   yang   mencekam,   ketika   Muhammad   bin   Abdillah menyebarkan  layar  perahunya  yang  putih,  maka  ia  harus  menemui  hakikat azali yang bertemu dengan-nya semua nabi dan rasul. Muhammad bin Abdillah mengetahui  bahawa  alam  yang  besar  ini  mempunyai  Tuhan  Pengatur  dan Pencipta; Tuhan yang Maha Satu dan yang tiada tuhan selain-Nya.

Muhammad  dijauhkan  dari  suasana  kenikmatan  dan  foya-foya  yang  biasa dilakukan   oleh   para   pemuda   seusianya.   Dan   ketika   pemuda   Mekah berbangga-bangga dengan banyaknya minuman keras yang mereka minum dan banyaknya  bait-bait  syair  yang  mereka  katakan  tentang  wanita,  maka Muhammad bin Abdillah telah menemukan jati dirinya di suatu gua yang tenang di  gunung  yang  besar.  Ia  memilih  untuk  menghabiskan  waktunya  di  dalam keheningan gua tersebut. Ia merenung dengan hatinya tentang keadaan alam; ia  memikirkan  keagungan  rahsia-rahsianya  dan  rahmat  Penciptanya  serta kebesaran-Nya.

Pada tahun yang kedua puluh lima, beliau mengenal Ummul Mu'minin, isterinya yang  pertama,  yaitu  Khadijah  binti  Khuwailid  yang  saat  itu  berusia  empat puluh tahun. Khadijah adalah wanita yang mulia dan mempunyai cukup harta. Ia berdagang dan suaminya telah meninggal. Banyak orang yang mendekatinya dengan alasan untuk mendapatkan kekayaannya. Khadijah mencari seseorang laki-laki yang dapat membawa harta dagangannya menuju Syam, lalu Khadijah mendengar berita yang cukup banyak berkenaan dengan kejujuran dan amanat serta   kesucian   Muhammad   bin   Abdilah.   Akhirnya,   Khadijah   mengutus Muhammad saw untuk membawa barang dagangannya. Muhammad saw pergi dalam perjalanannya yang kedua ke Syam saat beliau berusia dua puluh lima tahun. Allah SWT memberkati perjalanannya di mana beliau kembali dengan membawa  keuntungan  yang  berlipat  ganda  yang  diserahkannya  kepada Khadijah. Muhammad saw tidak peduli dengan harta Khadijah dan tidak peduli kepada  kecantikannya;  Muhammad  saw  hanya  memandang  kemuliaan  yang dipegangnya.   Kemudian   Khadijah   merasakan   getaran   cinta   terhadap Muhammad  saw.  Dan  Akhirnya,  ia  mengutarakan  keinginan  untuk  menikah dengannya, hingga Muhammad saw pun setuju.

Paman Muhammad saw, Abu Thalib berdiri dan menyampaikan khutbah pada saat  perayaan  perkawinannya:  Muhammad  saw  tidak  dapat  dibandingkan dengan seorang pun dari kaum Quraisy kerana ia adalah seorang yang mulia, baik dari sisi akal mahupun rohani. Meskipun ia seorang yang fakir namun harta adalah naungan yang akan hilang dan benda yang bersifat sementara.

Setelah menikah, Muhammad saw justru mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk merenung dan menyendiri serta beribadah. Kemudian kehidupan yang dijalaninya justru meningkatkan kemuliaannya, sehingga keutamaannya tersebar di sana sini. Beliau tidak pernah terlibat dalam pergelutan yang keras untuk memperebutkan materi-materi dunia. Beliau selalu menggunakan akal sehatnya  daripada  terlibat  dalam  kesesatan  mereka  dan  kegelapan  berhala yang  menyelimuti  banyak  orang  pada  saat  itu.  Kemudian  usianya  kini mendekati empat puluh tahun.

Setelah  merasakan  kesunyian  di  tengah-tengah  masyarakat,  beliau  lebih memilih untuk menjauh  dari  mereka. Beliau  mencari-cari  hakikat,  sehingga Allah  SWT  membimbingnya  untuk  menyendiri  di  gua  Hira.  Akhirnya,  beliau dapat keluar dari Mekah. Beliau berjalan beberapa mil. Kemudian beliau mulai mendaki  dan  mendaki.  Setiap  kali  ia  mendaki  gunung,  maka  tempat  itu semakin luas. Udara tampak lembut dan tersingkaplah hijab, dan pandangan

semakin terbentang. Kemudian beliau memasuki gua. Keheningan menyelimuti segala  sesuatu,  namun  hati  tetap  sadar  dan  tidak  ada  sesuatu  yang  dapat menghalang-halangi pandangan internal yang dalam. Dalam suasana kesunyian terkadang  lahirlah  pemikiran-pemikiran  yang  cemerlang  yang  kemudian menyebarkan  sayap-sayapnya  dan  membumbung,  pertama-tama  di  atas angkasa gua lalu tersebar menuju ke tempat yang lebih luas. Tidak ada sesuatu pun yang membatasinya atau mengekang kebebasannya.


Kita tidak mengetahui fikiran-fikiran apa yang terlintas pada manusia termulia dan terbesar di atas bumi itu saat beliau duduk di gua Hira beberapa bulan. Apa yang beliau fikirkan dan apa gerangan yang beliau risaukan? Mimpi apa yang ada di benaknya dan perasaan-perasaan apa yang lahir dalam hatinya? Bagaimana keadaan batu-batu yang ada di sisinya? Apakah atom-atom batu yang  berputar  di  sekelilingnya  menyahuti  tasbihnya  yang  diam,  seperti atom-atom  batu  yang  bersahut-  sahutan  bersama  Daud  saat  ia  membaca kitabnya Zabur.

Kami  tidak  mengetahui  secara  pasti  bentuk  kelahiran  yang  terjadi  dalam dirinya.  Yang  kita  ketahui  adalah  bahawa  beliau  tidak  berfikir  tentang kenabian  dan  beliau  tidak  berfikir  untuk  memberikan  petunjuk  kepada manusia; beliau tidak melakukan praktik-praktik sufisme kerana beliau sudah menjadi  seorang  sufi  sebelum  diutus  di  tengah-tengah  manusia.  Kemudian Allah  SWT  memilihnya  sebagai  Nabi  lalu  beliau  meninggalkan  uzlahnya  dan turun ke medan serta membawa senjata. Beliau mempertahankan kebenaran, sehingga  beliau  bertemu  dengan  Tuhannya.  Mula-mula lahirlah tasawuf  dan setelahnya lahirlah jihad di jalan Allah SWT. Tasawuf
bukanlah  puncak  atau  hasil  sebagaimana  diyakini  oleh  manusia  sekarang, tetapi ia adalah permulaan jalan yang panjang di mana pada akhirnya yang bersangkutan  menggunakan  senjata  sebagai  bentuk  usaha  untuk  membela manusia dan kehormatannya.

Pada  suatu  hari  beliau  duduk  di  gua  Hira  dan  tiba-tiba  beliau  dikejutkan dengan kedatangan Jibril yang berdiri di depan pintu gua. Malaikat tersebut memeluknya erat-erat lalu memerintahkannya untuk membaca sambil berkata: "Bacalah!" Muhammad bin Abdillah menjawab: "Aku tidak mampu membaca." Beliau ingin mengatakan bahawa beliau tidak mengenal bacaan dan tulisan. Kalau  begitu,  apa  yang  harus  beliau  baca?  Malaikat  kembali  memeluknya dengan  kuat  sehingga  Rasulullah  saw  menganggap  bahawa  ia  meninggal. Kemudian  malaikat  melepasnya  dan  memerintahkannya  untuk  membaca.

Beliau  kembali  menjawab:  "Aku  tidak  bisa  membaca."  Malaikat  yang  mulia kembali  memeluknya  dan  kembali  memerintahkan  untuk  membaca.  Dan lagi-lagi  Rasulullah  saw  menjawab  dengan  gementar:  "Apa  yang  aku  baca?" Kemudian Jibril membaca permulaan ayat-ayat yang turun kepada beliau:

"Bacalah dengan  (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu lah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar  (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."  (QS. al-'Alaq: 1-5)

Setelah  peristiwa  itu,  Jibril  menghilang  secara  tiba-tiba  sebagaimana  ia muncul  secara  tiba-tiba.  Rasulullah  saw  merasakan  dalam  dirinya  kejadian yang luar biasa yang pernah dirasakan oleh Nabi Musa saat beliau mendengar panggilan-panggilan  suci  di  lembah  Thuwa.  Sebagaimana  Nabi  Musa  lari ketakutan,  maka  Muhammad  bin  Abdillah  pun  segera  menuju  ke  rumahnya dalam keadaan ketakutan. Ia turun ke gunung dan kembali ke rumahnya dan kembali ke isterinya. Tubuhnya yang mulia bergetar dengan keras dan beliau merasakan ketakutan dan kegelisahan.

Apakah beliau kali ini berhubungan dengan jin atau alam perdukunan? Apakah beliau  telah  mengigau  sehingga  beliau  mendengar  suara-suara  dan  melihat wajah-wajah  yang  belum  pernah  dilihatnya?  Rasulullah  saw  mengkhuatirkan dirinya  kerana  beliau  sangat  benci  kepada  perdukunan.  Beliau  memasuki rumahnya  dengan  keadaan  gementar.  Beliau  berkata  kepada  isterinya: "Selimutilah  aku,  selimutilah  aku!"  Kemudian  isterinya  segera  menyelimuti dengan selimut dari  wol dan mengusap keringat yang berada di keningnya. Isterinya   dikejutkan   dengan   kepucatan   wajah   beliau   yang   mulia   dan kegementaran tubuhnya.

Khadijah   bertanya   kepadanya:   "Apa   yang   sedang   terjadi?"   Kemudian Muhammad   saw   menceritakan   secara   terperinci   apa   yang   dialaminya. Kemudian  ia  berkata:  "Sungguh  aku  khawatir  terhadap  diriku."  Khadijah mengetahui bahawa ia sekarang berhadapan dengan masalah yang serius, suatu berita  gembira  yang  ia  tidak  mengetahui  hakikatnya,  suatu  berita  gembira yang  seharusnya  tidak  dihadapi  Muhammad  saw  dengan  kekhuatiran  dan kegelisahan. Khadijah berkata dengan maksud untuk meredakan ketakutannya: "Tenanglah.

Demi Allah, Allah SWT tidak akan menghinakanmu selama- lamanya. Sungguh engkau  adalah  seorang  yang  baik,  yang  menyambung  tali  silaturahmi,  yang berbicara dengan jujur, dan yang menghormati tamu."

Meskipun kalimat-kalimat tersebut penuh dengan kedamaian dan kesejukan, tetapi  kegelisahan  Rasul  saw  juga  belum  hilang.  Kemudian  Khadijah  pergi bersama beliau ke rumah Waraqah bin Nofel, yaitu anak dari paman Khadijah. Waraqah adalah seorang Nasrani dan dia mampu menulis kitab dalam bahasa Ibrani dan ia cukup mengetahui kitab-kitab Taurat dan Injil di mana matanya telah buta kerana masa tua.

Khadijah  berkata  kepadanya:  "Wahai  putera  pamanku,  dengarlah  dari  anak saudaramu." Waraqah berkata: "Wahai anak saudaraku, apa yang engkau lihat?" Rasulullah saw menceritakan apa yang dialaminya secara sempurna. Waraqah berkata  sambil mengangkat  kepalanya yang tampak kehairanan:  "Itu  adalah Namus  (Jibril) yang Allah SWT turunkan kepada Musa." Sebagai seorang yang mengerti,  Waraqah  bin  Nofel  mengetahui  bahawa  ia  berada  di  hadapan seorang Nabi yang berita gembiranya disampaikan oleh Taurat dan Injil.

Setelah  keheningan  sesaat,  Waraqah  berkata:  "Seandainya  aku  masih  hidup ketika kaummu mengeluarkanmu dan mengusirmu." Rasulullah saw bertanya: "Mengapa aku harus diusir oleh mereka?'' Waraqah menjawab: "Benar, tidak ada seorang pun yang akan datang seperti dirimu kecuali engkau akan mengalami penderitaan dan pengusiran. Seandainya aku hadir di saat itu nescaya aku akan menolongmu."

Demikianlah,   akhirnya   Islam   pun   dikembangkan.   Kehendak   Allah   SWT terlaksana dan Allah SWT telah memilih Nabi yang terakhir di muka bumi dan orang Muslim yang pertama. Barangkali pembaca akan bertanya: Apa hakikat dari Islam? Apabila Muhammad saw sebagai Nabi yang terakhir yang diutus oleh Allah SWT di muka bumi  dan kita mengetahui bahawa para nabi semuanya sebagai Muslim, maka bagaimana beliau dapat dikatakan mendahului mereka dalam keislaman dan menjadi orang Muslim yang pertama?

Islam yang dibawa oleh Muhammad saw tidak berbeza dalam esensinya dengan Islam yang dibawa oleh Nabi Nuh, Nabi Musa, Nabi Isa atau nabi yang lain, tetapi  yang  berbeza  adalah  bentuknya,  sedangkan  esensinya  tetap  seperti semula, yakni berdasarkan tauhid. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw berbeza dalam bentuknya dengan Islam yang dibawa nabi-nabi sebelumnya kerana sebab yang penting, yakni bahawa Islam ini merupakan ajaran yang universal dan berisi aspek kemanusiaan yang abadi. Islam tidak terbatas atas orang-orang Arab tetapi ia berlaku atas semua golongan. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw tidak terbatas untuk kabilah tertentu atau bangsa tertentu atau bumi tertentu atau lingkungan tertentu atau zaman tertentu, tetapi ia untuk semua manusia. Atau dengan kata lain, ia merupakan ajakan untuk membangkitkan akal manusia di mana saja mereka berada tanpa ada batasan tempat atau waktu.

Universalitas ajaran Islam tidak dikenal pada risalah-risalah Ilahi sebelumnya di mana  setiap  risalah  itu  diperuntukkan  bagi  bangsa  tertentu  dan  zaman tertentu. Oleh kerana itu, mukjizat-mukjizat yang mengagumkan yang bersifat sementara  seringkali  mendukung  risalah-  risalah  yang  dahulu.  Ketika  Islam datang sebagai bentuk ajakan untuk menghidupkan akal manusia secara bebas, maka di sana tidak ada alasan untuk membawa mukjizat yang mengagumkan. Hanya  ada  satu  kata  yang  dapat  dijadikan  pembuka  untuk  berdakwah  dan membuka akal manusia, yaitu kata "iqra"' (bacalah). Dan hendaklah bacaan ini berdasarkan nama Allah SWT. Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Cuba Anda renungkan   permulaan   pertumbuhan   dan   puncak   pencapaian.   Di   sini tersembunyi mukjizat yang hakiki jika Anda berusaha mencari mukjizat yang hakiki.

Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Mulia, yang memberikan nikmat penciptaan dan rezeki serta rahmat dan kelembutan. Dia Maha Mulia yang mengajarkan manusia apa saja yang tidak diketahuinya. Demikianlah esensi dari Islam, yaitu ajakan untuk membaca. Ia adalah dakwah yang menunjukkan kedudukan ilmu. Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya  yang  takut  kepada  Allah  di  antara  hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu (ulama)." (QS. Fathir: 28)

Takut kepada Allah SWT tidak akan muncul kecuali berdasarkan ilmu. Mustahil kebodohan dengan bentuk apa pun akan melahirkan rasa takut. Oleh kerana itu, dalam pandangan Islam ilmu adalah hal yang pokok. Ia bukan kemewahan dan bukan hanya perhiasan. Kaum Muslim telah mengalami masa kemuliaan dan kejayaan dan mereka berhasil menguasai bumi ketika mereka memahami Islam  secara  benar,  tetapi  ketika  pemahaman  ini  jauh  dari  mereka,  maka mereka  kembali  dalam  keadaan  yang  paling  buruk,  bahkan  lebih  buruk daripada masa jahiliah.

Jadi,  ilmu  dalam  Islam  merupakan  tujuan  yang  mulia  dan  utama  dalam penciptaan alam wujud. Kisah Nabi Adam dan Hawa, sebagaimana diceritakan oleh  Al-Quran  adalah  bukan  semata-mata  kisah  kesalahan  memakan  pohon terlarang, tetapi ia juga kisah yang memiliki dimensi- dimensi yang dalam dan aspek-aspek  yang  beraneka  ragam.  Ketika  Anda  menyelami  kedalamannya, maka  Anda  akan  dapat  menemukan  simbol-  simbol dari  makna-makna  yang lebih penting.

Dialog internal yang dialami oleh para malaikat tentang rahsia pemilihan Nabi Adam  untuk  memakmurkan  bumi  dan  menjadi  khalifah  di  dalamnya  serta pengajaran  yang  diperoleh  Nabi  Adam  tentang  nama-nama  semuanya  dan bagaimana beliau mengemukakan nama-nama tersebut kepada para malaikat, serta  ketidaktahuan  mereka  tentang  nama-nama  itu,  kemudian  usaha  Nabi Adam  untuk  memberitahu  mereka  tentang  apa  yang  diketahuinya  serta pengetahuan  para  malaikat  tentang  rahsia  pemilihan  Nabi  Adam  dan  para keturunannya untuk memakmurkan bumi, semua ini menjadikan tujuan dari penciptaan  manusia  adalah  pencapaian  ilmu  atau  ma'rifah  secara  umum. Pandangan tersebut dikuatkan oleh firman Allah SWT:


"Dan    Aku    tidak    menciptakan    jin    dan    manusia    kecuali    untuk menyembah-(Ku)." (QS. adz-Dzariat: 56)

Lalu  bagaimana  kita  memahaminya  saat  ini  dan  bagaimana  generasi  yang pertama  dari  kaum  Muslim  dan  dari  sahabat-sahabat  Rasul  saw  dan  para pengikutnya dan para tenteranya memahaminya? Saat ini kita memahaminya dengan pemahaman yang sederhana. Kita mengetahui bahawa kalimat "untuk menyembah-Ku " bererti ritual dalam beribadah dan aspek-aspek lahiriahnya, seperti mengucapkan kalimat syahadat, solat, puasa, haji, zakat dan lain-lain. Sehingga orang-orang yang solat diperbolehkan untuk menyembah Allah SWT di negeri mereka atau di rumah-rumah mereka, meskipun mereka hidup di bawah pemikiran orang-orang Barat dan membeli produk-produk yang dibuat mereka serta  memanfaatkan  ilmu  dan  kecanggihan  teknologi  orang-orang  Barat. Namun  mereka  sendiri  tidak  menghasilkan  apa-apa.  Mereka  tidak  dapat
memberikan kontribusi kepada kehidupan; mereka tak ubah-nya seperti bulu yang  dimainkan  oleh  ombak.  Sedangkan  pemahaman  yang  dahulu  berkaitan dengan kalimat tersebut sebagai berikut:

"Dan    Aku    tidak    menciptakan    jin    dan    manusia    kecuali    untuk menyembah-(Ku). " (QS. adz-Dzariat: 56)

Ibnu  Abbas  membacanya:  "Illa  liya'rifuun."        (Agar  mereka  mengetahui). Perhatikanlah bagaimana pentingnya perbezaan antara praktek-praktek ibadah dengan bentuk-bentuknya dan kedalamannya yang jauh dalam ma'rifah yang menyebabkan  rasa  takut  kepada  Allah  SWT.  Orang  Muslim  yang  pertama meyakini bahawa Allah SWT menciptakannya agar ia mengetahui Allah SWT atau agar ia mengenal Allah SWT. Sehingga ambisi orang Muslim yang pertama sangat mengagumkan. Mereka pergi untuk membebaskan dunia semuanya: satu tangan berpegangan dengan Al- Quran dan tangan yang lain memegang pedang untuk  menghancurkan  belenggu-belenggu  yang  menyeret  manusia  kepada kesesatan.

Kemudian jatuhlah dari Islam hakikat ilmu, sehingga umat Islam tidak dapat memimpin kehidupan dan mereka justru mendapatkan kehinaan.  Allah  SWT berfirman:

"Allah  menyatakan  bahawasanya  tidak  ada  Tuhan  melainkan  Dia,  Yang menegakkan keadilan.  Para malaikat dan orang-orang yang berilmu  (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam." (QS. Ali 'Imran: 18)

Setelah  kesaksian  kepada  Allah  swt  dan  kesaksian  kepada  malaikat,  maka disebutlah secara langsung kesaksian kepada orang-orang yang berilmu. Maka, adakah penghormatan terhadap ilmu yang lebih besar daripada penghormatan ini? Ilmu dalam Islam berbeza dengan ilmu dalam peradaban Barat. Memang benar bahawa Islam yang bertanggungjawab terhadap tumbuhnya pandangan ilmiah dan metode eksperimental di mana berdasarkan metode ini tegaklah peradaban  Barat  yang  kemudian  melahirkan  berbagai  produksi,  pembuatan, dan  penemuan.  Dan  metode  eksperimental  adalah  metode  al-Istiqra,  yaitu suatu  metode  yang  mengikuti  bahagian-bahagian  terkecil (parsial)  melalui jalan eksperimen yang dapat tunduk terhadap eksperimen dan melalui jalan memperhatikan hal-hal yang tidak dapat tunduk terhadap suatu eksperimen, atau  melalui  jalan  matematis  murni  yang  membutuhkan  kepada  matematis murni  di  mana  hal  itu  bertujuan  untuk  menyingkap  hukum-hukum  yang menguasai benda. Sistem ini bidangnya adalah alam dan alatnya adalah panca indera dan akal. Sistem ini dimanfaatkan oleh seorang Eropa yang bernama Roger Bikun. Ia mengakui bahawa ia sangat berhutang kepada kaum Muslim dan peradaban Islam.

Seorang   guru   yang   bernama   Bruicll   dalam   bukunya   Abna'   al-Insaniah menceritakan tentang dasar-dasar peradaban Barat di mana ia berkata: "Roger Bikun mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu Arab di sekolah Oxford kepada guru-gurunya yang berasal dari Arab di Andalus. Dan Roger Bikun dan Fenessis Bikun  tidak  dapat  menisbatkan  keutamaan  yang  mereka  peroleh  dalam menciptakan  sistem  eksperimental  kepada  diri  mereka  sendiri.  Roger  Bikun hanya seorang duta dari duta-duta ilmu. Oleh kerana itu, ia tidak malu ketika menyatakan bahawa mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu Arab adalah jalan satu-satunya untuk mengetahui kebenaran."

Demikianlah pernyataan pakar-pakar Barat yang jujur. Yang demikian ini bisa dijadikan sanggahan terhadap orang-orang Barat yang tidak jujur agar mereka mengetahui bahawa mereka sebenarnya mengambil senjata yang sebenarnya berasal dari Islam. Dan jika dikatakan bahawa rahsia kebangkitan Barat saat ini dan  keunggulannya  atas  Timur  kembali  kepada  pengambilannya  terhadap sebab-sebab   metode   eksperimental,   yaitu   metode   Islam,   maka   rahsia kehancuran  Barat  dan  kebingungannya  serta  kegelisahannya  adalah  kerana mereka tidak menghubungkan metode tersebut dengan kebesaran Allah SWT sebagaimana  semestinya.  Metode  eksperimen-tal -  sebagaimana  diambil orang-orang Barat - dimulai dari alam dan berakhir kepadanya sebagai sesuatu tujuan.  Jadi,  ruang  lingkup  pembahasan  mereka  adalah  berkisar  kepada materi, dan alat-alat pembahasan adalah eksperimen dan pengamatan serta istiqra.

Tiada setelah alam kecuali kematian dan kematian adalah rahsia yang misteri dan melawannya adalah hal yang mustahil. Kita tidak mengetahui apa yang terjadi  setelah  kematian;  kita  tidak  mengetahui  sesuatu  pun  tentang  roh. Tidak  ada  hubungan  antara  ilmu  dan  akhlak;  tidak  ada  jawapan  dari  ilmu tentang tujuan  kehidupan  ini.  Kita  hanya  mempelajari  aspek-aspek lahiriah dan mencapai hukum-hukumnya saja. Demikianlah pandangan Barat tentang ilmu  di  mana  ia  hanya  sekadar  alat  dan  sarana  untuk  mengatur  alam  dan berusaha menguasainya.  Sedangkan metode ilmiah  dalam Islam menyatakan bahawa gerakan atom dengan gerakan sistem tata suria di bawah kendali Zat Yang  Maha  Tahu  dan  Zat  Yang  Maha  Pencipta.  Ilmu  dalam  Islam  justru membimbing manusia untuk menuju Allah SWT:

"Dan bahawasanya kepada Tuhanmu lah kesudahan (segala sesuatu). " (QS. an-Najm: 42)

Ilmu justru menghantarkan manusia untuk mencapai rasa takut kepada Allah SWT sebagaimana membimbingnya beribadah kepadanya dan mencintai-Nya:

"Sesungguhnya  yang  takut  kepada  Allah  di  antara  hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu (ulama)." (QS. Fathir: 28)

Islam datang dan mengajak manusia untuk membaca, mengetahui, dan takut kepada  Allah  SWT  serta  hanya  beribadah  kepadanya.  Jika  ilmu  merupakan sayap  pertama  di  dalam  Islam,  maka  sayap  yang  kedua  adalah  kebebasan. Rasulullah saw memberitahu dan menyatakan bahawa tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan tidak ada sembahan selain Allah SWT.

Seruan  ini  mengisyaratkan  keruntuhan  tuhan-tuhan  yang  mengusai  bumi semuanya,   baik   tuhan   yang   berupa   kepentingan-kepentingan   peribadi, kekayaan,  raja,  penguasa,  pemikiran-pemikiran  yang  mengusai  manusia, warisan para datuk dan nenek, berhala-berhala yang terbuat dari batu dan kayu, mahupun berbagai macam tuhan lain yang bohong. Adalah salah jika seseorang  membayangkan  bahawa  kalimat  "tiada  Tuhan  selain  Allah"  hanya sekadar  hiasan  mulut  seorang  Muslim  di  mana  segala  sesuatu  yang  ada  di sekitarnya  penuh  dengan  kebohongan  dan  tidak  membenarkan  apa  yang dikatakannya.  Kalimat  tersebut  dalam  Islam  merupakan  pergelutan  besar
bersama kegelapan yang ada pada diri manusia, suatu pergelutan yang berakhir pada penyerahan diri; pergelutan yang akan berpindah pada kehidupan yang lebih berat, sehingga kehidupan akan berserah diri. Dan mustahil pergelutan itu akan terjadi kecuali jika terpenuhi suatu kebebasan: kebebasan akal untuk meragukan  dan  menolak  dan  kebebasan  yang  berakhir  kepada  pencapaian batas-batasnya  dan  kemampuannya  serta  kebebasan  yang  meninggi  untuk mencapai keimanan yang dalam dan kukuh. Itu adalah tanggung jawab yang berarti  bahawa  ia  harus  memikul  senjata  untuk  membebaskan  orang  lain sebagaimana ia membebaskan dirinya sendiri. Demikianlah esensi dari Islam, yaitu ilmu yang berdiri di atas kebebasan dan tanggung jawab yang tumbuh dari kebebasan, dan buah terakhirnya adalah tauhid dalam kedalamannya yang jauh.

Jika  tauhid  difahami  secara  benar,  maka  manusia  akan  terbebas  dari penyembahan selain Allah SWT: manusia akan bebas terhadap rasa takut dari
kematian, kekhuatiran atas rezeki, manusia akan terbebas dari sikap bakhil dan ketakutan terhadap hari-hari yang akan datang.

Muhammad bin Abdillah datang untuk menyerukan bahawa hanya Allah SWT yang patut disembah dan bahawa semua manusia adalah hamba- hamba-Nya. Dengan  membebaskan  manusia  dari  menyembah  sesama  mereka,  maka kebebasan  yang  hakiki  telah  dimulai.  Rasulullah  saw  memberitahu  bahawa kematian adalah perpindahan dari satu rumah ke rumah yang lain. Ia bukan akhiran yang misteri dari kehidupan yang tidak dapat difahami, tetapi ia hanya sekadar perpindahan. Takut kepada kematian tidak akan menyelamatkan dari kematian itu sendiri, dan cinta kepada kehidupan tidak akan memanjangkan ajal. Pada setiap ajal ada ketentuannya. Maka keberanian merupakan unsur dari   unsur-unsur   pembentukan   keperibadian   Islam   dan   bahagian   dari bahagian-bahagian sel yang ada dalam tubuh seorang Muslim.

Rasulullah saw juga menyatakan bahawa rezeki di dunia sudah dijamin dan ditentukan oleh Allah SWT:

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah- lah yang memberi rezekinya. " (QS. Hud: 6)

Jibril mewahyukan kepada Rasul saw bahawa suatu jiwa tidak akan memenuhi ajalnya sehingga rezekinya disempurnakan. Jika demikian halnya, maka tidak ada  alasan  bagi  manusia  untuk  khawatir  terhadap  rasa  lapar  dan  gelisah terhadap hari esok. Semua ini terjadi dalam ruang lingkup mengambil atau melalui jalan-jalan menuju sebab. Yakni berusaha untuk mencapai rezeki yang merupakan kewajipan bagi orang Muslim dan percaya terhadap kedermawan Allah  SWT  yang  juga  merupakan  suatu  kewajipan  bagi  orang  Muslim  untuk mempercayainya. Allah SWT berfirman:

"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. " (QS. adz-Dzariat: 22)

Allah SWT telah menjamin rezeki di dunia dan memerintahkan manusia untuk berusaha  mencapai  rezeki  di  akhirat.  Rezeki  di  dunia  adalah  sesuatu  yang sudah  dijamin,  sehingga  manusia  tidak  perlu  melakukan  usaha  yang  terlalu sengit untuk mencapainya. Cukup baginya untuk berusaha secara benar dan seimbang.   Sedangkan   berkenaan   dengan   rezeki   akhirat,   Allah   SWT memerintahkan manusia untuk berusaha mencapainya kerana ia adalah rezeki yang Allah SWT tidak menjaminnya kecuali jika manusia berhasil melampaui dua jihad: jihad yang besar dan jihad yang kecil. Jihad besar adalah jihad melawan hawa nafsu dan jihad kecil adalah jihad melawan musuh di medan perang.

Dengan terbebasnya seorang Muslim dari kerisauan pada kematian, rezeki, dan rasa takut, maka Islam memberi seorang Muslim senjatanya dan alat-alatnya dan ia   memerintahkannya   untuk   mulai   memerangi   kekuatan-kekuatan kelaliman di muka bumi. Allah SWT berfirman tentang umat Islam:

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali 'Imran: 110)

Perhatikanlah, bagaimana Allah SWT menyebutkan amal makruf nahi mungkar sebelum  keimanan  kepada  Allah  SWT.  Ini  dimaksudkan  agar  akal  manusia tergugah  akan  pentingnya  jihad di  jalan  Allah  SWT.  Amal makruf  dan  nahi mungkar   tidak   terwujud   semata-mata   dengan   memegang   tongkat   dan mencambukannya kepada punggung orang-orang Islam yang tidak solat; ia juga tidak berupa usaha untuk menahan orang-orang Muslim yang tidak berpuasa. Masalah itu lebih penting dan lebih besar dari sekadar memperhatikan hal-hal yang  bersifat  lahiriah,  sedangkan  hal-hal  yang  bersifat  batiniah  tidak diperhatikan.

Ayat  tersebut  berarti,  hendaklah  seorang  Muslim  membawa  senjata  dan berdakwah  di  jalan  Allah  SWT  serta  memerangi  orang-orang  lalim  di  muka bumi. Abu Bakar berkata: "Wahai manusia, kalian membaca ayat berikut ini:"

"Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Tiadalah orang yang sesat itu  akan  memberi  mudarat  kepadamu  apabila  kamu  telah  mendapat petunjuk," (QS. al-Maidah: 105)

Dan aku mendengar Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya ketika masyarakat melihat orang yang lalim dan mereka tidak menghentikannya, maka Allah SWT akan menimpakan azab kepada mereka semua."

Penafsiran  Abu  Bakar  terhadap  ayat  tersebut  sangat  jelas  ertinya.  Yakni bahawa pelaksanaan ayat tersebut dapat diwujudkan dengan adanya jihad di jalan   Allah   SWT   dengan   mengangkat   senjata   sebagai   usaha   untuk menghentikan  orang-orang  yang  lalim.  Setelah  itu,  seorang  Muslim  dapat mengatakan:  "Aku  telah  melaksanakan  tugasku  dan  tidak  akan  berdampak kepadaku orang yang sesat setelah aku memberikan petunjuk."

Demikianlah pemahaman orang-orang Islam yang pertama. Maka bandingkanlah pemahaman  tersebut  dengan  pemahaman  kita  saat  ini  di  mana  kita  telah kehilangan keberanian, dan rasa takut telah menghinggapi tubuh orang-orang Islam. Kaum Muslim lebih mengutamakan keselamatan diri mereka daripada memerangi orang- orang yang lalim.

Muhammad  bin  Abdillah  datang  dengan  membawa  risalah  Islam  yang  di dalamnya terdapat perintah Ilahi untuk memerangi orang-orang yang lalim dan mempertahankan kehormatan orang-orang yang tertindas di muka bumi. Allah SWT berfirman:

"kerana itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barang siapa yang berperang di jalan  Allah,  lalu  gugur  atau  memperoleh  kemenangan,  maka  kelak  akan Kami  berikan  kepadanya  pahala  yang  besar.  Mengapa  kamu  tidak  mau berperang  dijalan  Allah  dan (membela)  orang-orang  yang  lemah  baik laki-laki,  wanita-wanita  mahupun  anak-  anak  yang  semuanya  berdoa:  'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu. " (QS. an-Nisa': 74-75)

Muhammad  bin  Abdillah  membacakan  kepada  kaumnya  tentang  penafsiran Allah SWT berkenaan dengan makna kejayaan yang besar:

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka  dengan  memberikan  syurga  untuk  mereka.  Mereka  berperang  di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?, maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (QS. at- Taubah: 111)

Bacalah ayat tersebut dua kali dan renungkanlah tentang kedermawan Allah SWT. Betapa tidak, Dia membeli jiwa orang-orang mukmin dan harta mereka, padahal jiwa tersebut dan harta tersebut pada hakikatnya adalah milik-Nya sendiri. Lihatlah bagaimana kemuliaan Allah SWT di mana Dia membeli harta milik-Nya yang khusus dengan syurga dan bagaimana Allah SWT menganjurkan orang-orang  Islam  untuk  berperang,  dan  Dia  memberitahu  mereka  bahawa urusan memerangi orang-orang lalim dan orang-orang yang tersesat bukanlah hal yang baru atas orang- orang Islam. Allah SWT telah memerintahkan hal tersebut dalam Injil dan Taurat. Sebagaimana Nabi  Isa  diutus  dengan  pedang,  seperti  yang  disebutkan  dalam  lembaran-lembaran  atau  buku-buku  orang-orang  Nasrani,  maka  Nabi  Musa  pun  diutus dengan membawa pedang. Dan ketika Bani Israil berkata kepada Nabi Musa, "pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami hanya di sini duduk-duduk   saja,",   maka   kehendak   Ilahi   menetapkan   agar   mereka mendapatkan  kesesatan  selama  empat  puluh  tahun  sebagai  akibat  dari perbuatan  mereka itu,  agar  generasi  yang lemah  dan  hina itu  hancur  yang mereka justru tidak memenuhi panggilan Allah SWT dan mereka membiarkan Nabi Musa bersama Tuhannya berperang, padahal peperangan itu merupakan tanggung jawab mereka dan tugas mereka yang harus mereka emban sebagai pengikut Nabi Musa.

Demikianlah   esensi   dari   ajaran   Islam   sebagaimana   yang   dibawa   oleh Muhammad bin Abdillah. Yakni ajakan untuk membaca dan menggali ilmu serta mendapatkan   kebebasan   dan   yang   terpenting   adalah   usaha   melawan kekuatan-kekuatan lalim. Suatu ajakan yang universal yang tidak dikhususkan untuk  kalangan  tertentu  atau  untuk  warna  kulit  tertentu  atau  untuk  kaum tertentu  atau  untuk  tempat  tertentu;  suatu  ajakan  kemanusiaan  yang komprehensif yang universal yang ingin mengikat ilmu dan kebebasan dan jihad dengan tujuan yang lebih tinggi, yaitu mencapai tauhid kepada Allah SWT dan menyucikan-Nya  serta  keimanan  terhadap  hari  kemudian  dan  kebangkitan manusia semuanya di hadapan Allah SWT.

Adalah   salah   jika   ada   orang   yang   menganggap   bahawa   Islam   hanya memperhatikan aspek akhirat dan melupakan aspek duniawi. Menurut Islam dunia adalah lembar-lembar jawapan yang akan di koreksi di hari akhir. Ia adalah ujian dan tempat percubaan bagi manusia agar manusia mengetahui apakah  ia  layak  untuk  mendapatkan  kemuliaan  dari  Allah  SWT  yang  telah diberikan kepada Adam. Atau apakah ia justru layak untuk jadi bahagian dari tanah neraka Jahim dan batunya, sebagaimana firman Allah SWT:

"Yang bahan bakarnya manusia dan batu. " (QS. al-Baqarah: 24)

Rasulullah saw telah menjelaskan hikmah dari penciptaan manusia, penciptaan kehidupan dan kematian ketika beliau menyampaikan firman Allah SWT dalam surah al-Mulk:

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. " (QS. al-Mulk: 2)

Dunia adalah rumah pergelutan. Dan Allah SWT telah menciptakan kehidupan dan kematian agar manusia menyedari siapa di antara mereka yang terbaik amalnya. Tentu pengetahuan ini tidak akan menambah kekuasaan Allah SWT. Pengetahuan  itu  justru  dibutuhkan  oleh  manusia.  Allah  SWT  menciptakan manusia  agar  manusia  mengetahui,  dan  pengetahuan  yang  paling  penting adalah  pengetahuan  atau  pengenalan  terhadap  diri.  Dan  pada  hari  kiamat manusia akan mengenal dirinya secara sempurna dan ia akan mengenal balasan yang akan di terimanya secara sempurna.

Dan barangkali mukadimah yang kami sarikan dari hari akhir ini mengharuskan kehidupan  di  atas  bumi  dipenuhi  dengan  kesucian  dan  kebersihan,  yaitu diliputi dengan kemanusiaan yang sempurna yang di dalamnya manusia layak untuk  hidup.  Demikianlah  Islam  yang  dibawa  oleh  Muhammad  saw.  Inilah asasnya dan hakikatnya. Itu adalah pondasi dan hakikat yang tidak diciptakan oleh Muhammad saw dan tak didahului oleh rasul-rasul sebelumnya. Hakikat risalah-risalah  yang  dulu  semuanya  adalah  tauhid  dan  mempertahankan kebenaran  serta  keimanan  terhadap  hari  akhir  dan  menyerahkan  jiwa  dan anggota tubuh hanya kepada Allah SWT. Yang baru dalam Islam adalah ilmu, kebebasan  dan  universalitas  ajaran  Islam  serta  warna  keadilan  yang  sangat kental, sehingga sangat tepat jika dikatakan bahawa karakter dari Islam adalah keadilan. Barangkali bahagian ini perlu diperhatikan.

Meskipun  agama-agama  samawi  pada esensinya satu,  tetapi  kehendak Allah menuntut  turunnya  lebih  dari  agama  dan  lebih  dari  satu  nabi.  Kehendak tersebut menuntut agar pada setiap agama terdapat karakter yang khusus yang menggambarkan  bentuk  yang  paling  tepat  sesuai  dengan  kebutuhan  utama yang  di  situ  agama  itu  diturunkan  dan  sesuai  dengan  waktu  saat  itu. Orang-orang  Yahudi  misalnya,  mereka  hidup  di  tengah-tengah  suasana penyembahan  berhala  di  kalangan  orang-orang  Mesir  kuno.  Yahudisme diturunkan pada Bani Israil yang suka membangkang dan kerana itu, karakter utamanya  adalah  ketegasan  (as-  Sharamah)  agar  mereka  tidak  terpengaruh dengan fenomena berhalaisme ala Mesir atau mereka terkena pengaruh dari tindakan semena-mena Fir'aun. Dengan ketegasan inilah agama Yahudi selamat dan dapat menjadi risalah penyelamatan dan pembebasan.

Namun Bani Israil yang memperbudak manusia dan mempunyai hati yang keras pada saat yang sama mereka keluar dari Fir'aun untuk masuk ke cengkaman orang-orang Romawi di mana orang-orang Romawi justru lebih lalim dan lebih kuat   dari   orang-orang   Mesir.   Oleh   kerana   itu,   orang-   orang   Masehi bertanggungjawab untuk melakukan pembebasan baru tetapi dengan cara yang berbeza sesuai dengan perubahan keadaan. Cara tersebut adalah menjauhkan penggunaan  kekuatan  bersenjata  kerana  kekuatan  orang-orang  Romawi mengungguli kekuatan saat itu dan menguasai bumi secara keseluruhan. Maka kemenangan yang mungkin dapat diperoleh adalah dengan cara menghindari tindak kekerasan dan lebih mengutamakan pendekatan cinta. Dan pada kali yang  lain  orang-  orang  Masehi  memperoleh  kemenangan  melalui  cara kedamaian dan cinta  yang disebarkannya atas imperialisme Romawi dengan segala senjatanya dan kekuasaannya.

Adapun Islam datang sebagai agama yang terakhir dan menyeluruh yang layak untuk diterapkan di muka bumi, sehingga Allah SWT mewariskan bumi dan apa saja yang ada di dalamnya kepada orang-orang yang berhak mewarisinya. Oleh kerana  itu,  agama  yang  terakhir  ini  harus  mempunyai  karakter  khusus  dan karakter itu adalah karakter keadilan.


Ketegasan  hanya  cocok  untuk  zaman  tertentu  dan  kelompok  tertentu  dan keadaan  tertentu,  sedangkan  cinta  adalah  contoh  yang  tertinggi,  tetapi  ia tidak   dapat   menjadi   sesuatu   tolok   ukur   untuk   dibandingkan   dengan tindakan-tindakan  tertentu  atau  untuk  dijadikan  alat  untuk  melakukan sesuatu.  Dan  jika  ia  menjadi  tolok  ukur  bagi  orang-orang  yang  memilki perasaan yang tinggi atau budaya yang tinggi, maka ia tidak dijadikan tolok ukur umum dan universal. Adapun keadilan, maka ia menjadi karakter Islam yang berarti keseimbangan dalam sifat-sifat keutamaan dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Ini adalah tolok ukur yang menyeluruh dan barometer yang  akhir.  Dan  barangkali  kebesaran  keadilan  dan  pengaruhnya  dalam pengaturan alam bersandarkan kepada firman Allah SWT:

"Allah  menyatakan  bahawasanya  tidak  ada  Tuhan  melainkan  Dia.  Yang menegakkan keadilan.  Para malaikat dan orang-orang yang berilmu  (juga menyatakan yang demikian itu)." (QS. Ali 'Imran: 18)

Apabila  Allah  SWT  dalam  Islam  merupakan  cermin  yang  tertinggi,  maka keadilan  yang  disaksikan  oleh  Allah  SWT  terhadap  diri-Nya  sendiri  harus menjadi karakter Islam dan kaum Muslim. Keadilan dalam Islam bukan hanya keadilan ekonomi atau keadilan hukum atau keadilan dalam balasan, tetapi ia mencakup semuanya. Sebelum semua ini dan sesudahnya, keadilan dalam Islam merupakan suatu sistem dalam kehidupan dan metode utama dalam Islam.

Ketika  Anda  memalingkan  pandangan  Anda  dalam  Islam,  maka  Anda  akan menemukan keadilan menghiasi seluruh wajah Islam. Di sana terdapat keadilan antara  agama-agama  yang  dulu,  keadilan  antara  individu  dan  masyarakat, keadilan antara dunia dan agama, keadilan antara lelaki dan wanita, keadilan untuk orang-orang yang fakir dan orang-orang yang kaya, keadilan antara para penguasa  dan  rakyat,  bahkan  dengan  keadilan  itu  sendiri  bumi  dan  langit ditegakkan dan Allah SWT menyebut diri-Nya sebagai al-'Adl (Yang Maha Adil).

Selanjutnya,  Islam  adalah  agama  yang  sudah  lama  sebagaimana  lamanya kedatangan para nabi. Nabi Nuh as berkata dalam surah Yunus:

"Jika kamu berpaling  (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikit pun darimu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepadanya)." (QS. Yunus: 72)

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as berkata dalam surah al-Baqarah saat keduanya membangun Ka'bah:

"Ya  Tuhan  kami,  terimalah  dari  kami                 (amalan  kami),  sesungguhnya
Engkaulah  Yang  Maha  Mendengar  lagi  Maha  Mengetahui.  Ya Tuhan  Kami, jadikanlah  kami  berdua  orang  yang  tunduk  patuh  kepada  Engkau  dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang. " (QS. al-Baqarah: 127-128)

Nabi Ibrahim tidak lupa untuk berwasiat kepada keturunannya dan di antara mereka  adalah  Yakub  agar  mereka  mati  dalam  keadaan  Islam.  Allah  SWT berfirman:

"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anaknya, Demikian pula Yakub. (Ibrahim  berkata):  'Hai  anak-anakku,  Sesungguhnya  Allah  telah memilih  agama  ini  bagimu,  maka  janganlah  kamu  mati  kecuali  dalam memeluk agama Islam.'" (QS. al-Baqarah: 132)

Ketika  kematian  mendekati  Yakub,  beliau  mengumpulkan  anak-anaknya  di sekelilingnya dan bertanya kepada mereka:

"Apa yang kamu sembah sepeninggalanku? Mereka menjawab: 'Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek  moyangmu,  Ibrahim,  Ismail,  dan Ishaq, (yaitu)  Tuhan  Yang  Maha  Esa  dan  kami  hanya  tunduk  patuh kepadanya.'" (QS. al-Baqarah: 133)

Allah SWT memberitahu kita dalam surah Yunus tentang perkataan Nabi Musa kepada kaumnya:

"Hai  kaumku,  jika  kamu  beriman  kepada  Allah,  maka  bertawakallah kepada-Nya  saja,  jika  kamu  benar-benar  orang  yang  berserah  diri."  (QS. Yunus: 84)

Sementara  itu,  Nabi  Sulaiman  adalah  seorang  Muslim  sesuai  dengan  nas ayat-ayat yang menceritakan tentang kisahnya bersama Ratu Saba' ketika Ratu tersebut berkata:

"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat lalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam."  (QS. an-Naml: 44)

Demikian  juga  Nabi  Yusuf,  beliau  berdoa  kepada  Allah  SWT  dan  meminta kepadanya agar mematikannya sebagai orang Muslim dan memasukannya dalam kelompok orang-orang yang saleh. Allah SWT berfirman dan bercerita tentang Yusuf dalam surah Yusuf:

"Ya  Tuhanku,  sesungguhnya  Engkau  telah  menganugerahkan  kepadaku sebahagian  kerajaan  dan  telah  mengajarkan  kepadaku  sebahagian  ta'bir mimpi.  (Ya  Tuhan)  Pencipta  langit  dan  bumi,  Engkaulah  Pelindungku  di dunia   dan   di   akhirat,   wafatkanlah   aku   dalam   keadaan   Islam   dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh." (QS.Yusuf: 101)

Sementara itu dalam surah al-Maidah, Allah SWT mewahyukan kepada kaum Hawariyin agar mereka beriman kepadanya dan kepada rasul-Nya lalu mereka berkata:

"Kami telah beriman dan saksikanlah  (wahai rasul) bahawa Sesungguhnya
kami adalah orang-orang yang patuh  (kepada seruanmu)."  (QS. al-Maidah: 111)

Jadi, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Yakub, Nabi Musa Harun, Nabi Sulaiman, Nabi Yusuf, Nabi Isa adalah nabi-nabi yang Muslim sesuai dengan nas ayat-ayat  tersebut.  Maka  seluruh  nabi  adalah  orang-orang  Muslim,  lalu bagaimana Nabi Muhammad saw sebagai Nabi yang terakhir dikatakan sebagai orang Muslim yang pertama?

Allah SWT berfirman dalam surah al-An'am yang ditujukan kepada Nabi yang terakhir:

"Katakanlah: 'Sesungguhnya solatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk  Allah,  Tuhan  semesta  alam,  tiada  sekutu  bagi-Nya;  dan  demikian itulah   yang   diperintahkan   kepadaku   dan   aku   adalah   orang   yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).'" (QS. al- An'am: 162-163)

Maka,  bagaimana  beliau  menjadi  orang  Muslim  yang  pertama,  padahal penamaan umat
beliau dengan sebutan al-Muslimin adalah penamaan yang sebenarnya sudah dahulu
dikenal  di  kalangan  nabi-nabi  yang  terdahulu  dan  kedatangannya  ke  alam wujud dan
penamaan agamanya dengan sebutan al-Islam sebenarnya berhutang kepada datuknya yang jauh, yaitu Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman dalam surah al-Hajj:

"Dan  Dia  sekali-kali  tidak  menjadikan  untuk  kamu  dalam  agama  suatu kesempitan. (Ikutilah)
agama orang tuamu Ibrahim. Dia telah menamai kamu sekalian orang- orang Muslim dari dahulu. " (QS. al-Hajj: 78)

Tidak  ada  pertentangan  dalam  pendahuluan  para  nabi  dengan  sebutan  al-Muslimin daripada Rasulullah saw dan kedudukan beliau sebagai orang Muslim yang pertama. Tentu kata al-Awwal (yang pertama) di sini tidak difahami dari sisi waktu atau masa kemunculan, tetapi yang dimaksud dengan orang Muslim di  sini  adalah  akmalul  muslimin (orang  yang  paling  sempurna  di  antara orang-orang  Muslim).  Suatu  kali  Aisyah  pernah  ditanya  tentang  akhlaknya Rasulullah  saw  lalu  dia  menjawab  dengan  kalimatnya  yang  singkat:  "Akhlak beliau adalah Al-Quran."

Kita  mengetahui  bahawa  Al-Quran  al-Karim  menetapkan  akhlak  yang  mulia meskipun  dalam  batasannya  yang  sederhana  dan  rendah,  dan  menyebutkan keutamaan  akhlak  dalam  tingkatannya  yang  tinggi.  Oleh  kerana  itu,  akhlak
seperti apa yang dimiliki oleh Rasulullah saw: apakah beliau memiliki akhlak yang sifatnya tengah-tengah, atau apakah beliau mendahului dalam kebaikan, atau  apakah  beliau  termasuk  ashabul  yamin (orang-orang  yang  berasal  di sebelah kanan), atau apakah beliau termasuk al-Muqarrabin (orang-orang yang dekat dengan Allah SWT)?

Rasulullah  saw  tidak  hanya  memiliki  semua  karakter  tersebut  dan  atribut tersebut,  bahkan  kedudukan  beliau  lebih  dari  itu  semua.  Beliau  berada  di puncak dari segala puncak keutamaan akhlak, sehingga beliau berhak untuk mendapatkan sebutan dari Allah SWT:

"Dan  sungguh  pada  dirimu  terdapat  budi  pekerti  yang  agung.  "  (QS.  alQalam: 4)

Para  Mufasir  berbeza  pendapat  tentang makna  dari  al-Huluqul 'adzim  (budi pekerti yang agung). Sebahagian mereka mengatakan bahawa yang dimaksud adalah Al-Quran. Sebahagian yang lain mengatakan itu adalah Islam. Ada juga yang  mengatakan  bahawa  beliau  tidak  memiliki  sesuatu  kecuali  keinginan untuk menuju jalan Allah SWT.

Dalam Al-Qur'an al-Karim terdapat penjelasan tentang darjat beliau yang tinggi dalam dua ayat yang mulia. Ayat yang pertama adalah firman-Nya:

"Katakanlah: 'Sesungguhnya solatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk  Allah,  Tuhan  semesta  alam,  tiada  sekutu  bagi-Nya;  dan  demikian itulah   yang   diperintahkan   kepadaku   dan   aku   adalah   orang   yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).'" (QS. al- An'am: 162-163)

Beliau adalah orang yang paling utama di antara manusia semuanya; beliau memiliki  keutamaan  yang melebihi  semua  manusia;  beliau  memiliki  rahmat dan  kemuliaan  yang  tidak  dapat  ditandingi  oleh  seseorang  pun.  Meskipun beliau datang sebagai Nabi yang terakhir namun justru kerana posisi beliau sebagai Nabi yang terakhir, maka beliau menjadi bata yang terakhir dalam pembangunan  rumah  kenabian  yang  tinggi,  sehingga  bata  yang  terakhir  itu harus  menjadi  puncak  pembangunan  manusia.  Sedangkan  ayat  yang  kedua adalah firman-Nya:

"Dan Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta." (QS. al-Anbiya': 107)

Beliau bukan hanya menjadi rahmat bagi orang-orang Arab saja; beliau bukan hanya  menjadi  rahmat  bagi  orang-orang  Quraisy  dan  beliau  bukan  menjadi rahmat  bagi  zamannya  saja,  begitu  juga  beliau  tidak  menjadi  rahmat  bagi jazirah Arab saja, tetapi beliau menjadi rahmat bagi alam semesta; beliau senantiasa  menjadi  rahmat  bagi  alam  semesta:  dimulai  dari  diturunkannya wahyu kepadanya dengan kalimat iqra hingga Allah SWT mewariskan bumi dan apa saja yang ada di dalamnya kepada orang- orang yang berhak mewarisinya sampai hari kiamat. Alhasil, beliau adalah rahmat yang dihadiahkan kepada manusia;  beliau  adalah  rahmat  yang  tidak  menonjolkan  mukjizat  yang mengagumkan,  tetapi  beliau  adalah  rahmat  yang  memulai  dakwah  dengan mengutamakan fungsi akal atau pembacaan dua kitab: pertama, pembacaan kitab alam atau Al-  Qur'an yang diciptakan atau kalimat-kalimat Allah SWT yang  terdiri  dari  jutaan  bentuk  dan  kedua  pembacaan  Al-Qur'an  yang diturunkan  melalui  malaikat  Jibril  di  mana  ia  merupakan  kalamullah  yang abadi. Dan kitab alam dibaca dengan ribuan cara: dibaca melalui penelusuran dunia:

"Katakanlah:  'Berjalanlah  kamu  di  muka  bumi  dan  amat-amatilah.'"  (QS. an-Naml: 69)

Atau dibaca melalui usaha menyingkap misteri dan penggunaan akal:

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di  segenap  penjuru  dan  pada  diri  mereka sendiri,  sehingga  jelaslah  bagi mereka bahawa Al-Qur'an itu adalah benar. " (QS. Fushilat: 53)

Atau dibaca melalui ilmu dan pengamatan:

"Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang   telah   menjadikan   sungai-sungai   di   celah-celahnya,   dan   yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengukuhkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut 1 Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya)  kebanyakan  dari  mereka  tidak  mengetahui." (QS. an-Naml: 61)

Jika di sana terdapat ribuan jalan atau cara untuk membaca kalimat- kalimat Allah SWT dan kitab alam, maka di sana terdapat satu jalan untuk membaca kalamullah yang abadi, yaitu hendaklah Al-Qur'an dibaca dengan mata hati dan kecemerlangan basirah, sehingga Al-Qur'an menjadi bahagian akhlak dari yang membaca sesuai dengan kemampuannya.

Sebelum  turunnya  Al-Qur'an,  dunia  diliputi  dengan  kekurangan,  baik secara materi, rohani, undang-undang mahupun dari dimensi kehidupan yang biasa melekat pada manusia saat itu. Dan sebelum diutusnya Rasul saw yang beliau adalah  manusia  yang  sempurna  dan  paling  utama,  alam  belum  mencapai puncak dari penyerahan diri kepada Allah SWT atau puncak dari keutamaan akhlak. Ketika Rasulullah saw diutus, maka manusia mengalami kesempurnaan dan mampu mencapai tingkat kesempurnaannya. Dengan Kitab yang mulia ini dan Nabi yang pengasih, Allah SWT yang menyempurnakan agama bagi manusia dan menyempurnakan nikmat-Nya atas mereka, sebagaimana firman-Nya:

"Pada  hari  ini  telah  Ku-sempurnakan  untuk  kamu  agamamu,  dan  telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. " (QS. al-Maidah: 3)

Namun semua itu tidak terwujud begitu saja, Nabi yang mulia harus berjuang secara  serius  dan  sungguh-sungguh,  sehingga  beliau  menjadi  manusia  yang paling layak untuk mendapatkan pujian penduduk bumi dan penduduk langit. Dan Rasulullah saw telah melakukan semua itu. Kita tidak mengenal seorang nabi yang perasaannya dihina dan dicaci maki lebih dari apa diterima oleh Muhammad  bin  Abdillah;  kita  tidak  mengenal  seorang  nabi  yang  memikul berbagai  penderitaan,  dan  memiliki  kesabaran  yang  mengagumkan  di  jalan Allah SWT sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi kita.

Kemudian,  seorang  yang  diutus  oleh  Allah  SWT  sebagai  rahmat  bagi  alam semesta tidak akan mengajak manusia menuju kebenaran kecuali jika manusia tersebut  dari  kalangan  orang-orang  yang  kafir  dan  membangkang.  Beliau berdakwah bagi orang yang berhak mendapatkan dakwah; beliau siap memikul tanggung  jawab  dakwah  dengan  berbagai  tantangan  dan  cubaannya;  beliau menunjukkan  kesabaran  yang luar  biasa. Setelah itu,  beliau  datang kepada Allah SWT dengan hati yang puas dan air mata yang bercucuran dan dengan suara berbisik berkata: "Ya Allah, jika tidak ada kemurkaan pada diri-Mu, maka aku tidak akan peduli dengan manusia." Segala sesuatu akan menjadi mudah jika di sana terdapat ridha Allah SWT.

Setelah turunnya wahyu kepada Rasul saw, beliau memulai tahapan dakwah dan  mengajak  manusia  untuk  menyembah  Allah  SWT.  Dimulailah  dakwah secara rahsia yang berlangsung selama tiga tahun dalam persembunyian.

Mula-mula Ummul Mu'minin, Khadijah binti Khuwailid beriman kepadanya, lalu beriman juga sahabatnya, Abu Bakar sebagaimana beriman kepadanya anak pamannya, Ali bin Abi Thalib yang saat itu masih kecil dan hidup di bawah asuhan  Muhammad,  dan  juga  beriman  kepadanya  Zaid  bin  Tsabit,  seorang pembantunya.  Kemudian  Abu  Bakar  juga  ikut  berdakwah,  sehingga  ia memasukkan  dalam  dakwah  teman-  temannya,  seperti  Usman  bin  Affan, Thalha bin Ubaidilah, dan Sa'ad bin Abi Waqas. Juga beriman seorang Masehi, yaitu Waraqah bin Nofel dan Rasulullah saw melihatnya setelah kematiannya tanda kesenangan yang itu menunjukkan ketinggian darjatnya di sisi Allah SWT. Setelah itu, Abu Dzar al-Ghifari juga masuk Islam, lalu disusul oleh Zubair bin Awam  dan  Umar  bin  'Anbasah  serta  Sa'id  bin  'Ash.  Jadi,  Islam  mulai mengepakkan sayapnya secara rahsia di Mekah.

Kemudian   berita   tersebarnya   akidah   yang   baru   ini   sampai   kepada pembesar-pembesar  Quraisy,  tetapi  mereka  tidak  begitu  peduli.  Barangkali mereka membayangkan bahawa Muhammad telah menjadi - kerana uzlah yang dilakukannya  di  gua  Hira -  salah  seorang  juru  bicara  tentang  ketuhanan sebagaimana pernah dilakukan oleh Umayah bin Shalt dan Qas bin Sa'adah.

Demikianlah dakwah secara rahsia berhasil mengembangkan misinya dan dapat melindungi  akidah  yang  baru.  Dan  selama  perjalanan  tiga  tahun  yang dibutuhkan tahapan dakwah secara rahsia keimanan telah tertanam dalam hati kaum Muslim yang pertama. Rasulullah saw telah mendidik mereka dan telah menanamkan kepada diri mereka sifat-sifat kemuliaan dan telah menciptakan mereka sebagai benih pertama dari pasukan Islam. Pada suatu hari Jibril turun dengan membawa firman Allah SWT:

"Dan  berilah  peringatan  kepada  kerabat-kerabatmu  yang  terdekat."  (QS. asy-Syu'ara': 214)

Demikianlah, datanglah perintah Ilahi agar Rasulullah saw berdakwah secara terang-terangan. Lalu berkumpullah di sekeliling Nabi sekelompok tentera yang besar dan datanglah perintah Ilahi agar beliau menyampaikan dakwah secara terang-terangan dan mengingatkan keluarga dekatnya. Ketika Nabi melakukan hal  tersebut,  maka  dakwah  memasuki  tahapan  yang  kedua.  Dan  tahapan dakwah yang baru ini berakibat pada timbulnya penekanan terhadap para dai di  mana  mereka  mengalami  penindasan,  bahkan  mereka  didustakan  oleh masyarakat serta diboikot.

Orang-orang Quraisy mengetahui bahawa Muhammad berbahaya bagi mereka. Beliau  bukan  hanya  berbicara  tentang  ketuhanan,  tetapi  beliau  mengajak manusia  untuk  mengikuti  agama  baru,  yaitu  agama  yang  mencuba  untuk menyingkirkan berhala-berhala dan patung-patung mereka serta tuhan-tuhan mereka yang mereka yakini; agama yang mencuba menyingkirkan kedudukan sosial  mereka  dan  kepentingan-  kepentingan  ekonomi  mereka;  agama  yang menyatakan bahawa tiada tuhan lain selain Allah SWT, dan tiada hukum lain selain  hukum-Nya,  serta  tiada  penguasa  lain  selain  Dia.  Kedatangan  agama tersebut menyebabkan penduduk kota Mekah membencinya dan orang-orang yang memegang kekuasaan di dalamnya merasa gelisah.
Setelah   pengumuman   dakwah   secara   terang-terangan,   dimulailah   dan ditabuhlah gendang peperangan. Kemudian peperangan yang dahsyat terjadi antara para pembesar Quraisy dan para pengikut Rasulullah saw. Orang yang pertama kali menyerang Islam adalah seorang tokoh Mekah yang bernama Abu Lahab.

Bukhari meriwayatkan bahawa Rasulullah saw menaiki bukit Shafa dan beliau mulai memanggil-manggil tokoh Quraisy dan para kabilah Mekah. Dan ketika semua  berkumpul,  beliau  bertanya  kepada  mereka:  "Apakah  kalian  percaya jika  aku  memberitahu  kalian  bahawa  seekor  kuda  akan  datang  menyerang kalian?" Mereka menjawab: "Tentu, kami belum pernah melihatmu berbohong." Beliau berkata: "Aku seorang yang diutus sebagai pemberi peringatan terhadap kalian. Di hadapanku terdapat seksaan yang berat jika kalian menentang." Abu Lahab   berkata:   "Sungguh   celaka   engkau,   apakah   kerana   ini   engkau mengumpulkan kami."

Dengan penghinaan inilah, peperangan terhadap Islam dimulai. Ketika kaum Muslim tidak mampu mempertahankan diri mereka,  maka mula-  mula  Allah SWT membantu mereka dan menolong mereka dengan menurunkan surah yang pendek yang mengecam tindakan Abu Lahab:

"Binasalah  kedua  tangan  Abu  Lahab  dan  sesungguhnya  dia  akan  binasa. Tidaklah bermanfaat kepadanya harta bendanya dan apa yang dia usahakan. Kelak  dia  akan  masuk  ke  dalam  api  yang  bergejolak.  Dan  (begitu  pula) isterinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. " (QS. Allahab: 1-5)

Dengan  ayat-ayat  yang  pendek  dan  tepat  tersebut,  Abu  Lahab  memasuki kancah sejarah dari pintunya yang paling pendek. Gambaran tentang kejahatan Abu Lahab tertulis selama-lamanya. Abu Lahab adalah seorang yang menentang dakwah kebenaran kerana ia mengkhuatirkan kedudukannya dan kekayaannya, padahal harta yang dipertahankannya dan dijaganya tidak memiliki erti sama sekali  di  sisi  Allah  SWT  kerana  ia  sekarang  berada  dan  dimasukkan  di tengah-tengah  neraka  yang  menyala-  nyala,  sedangkan  isterinya  membawa kayu bakar, sehingga menambah nyala api itu sendiri. Dan di lehernya terdapat suatu  belenggu  sebagai  simbol  keterikatannya  dengan  dunia  binatang  yang tidak berakal. Sebahagian besar orang-orang yang menentang dakwah adalah orang- orang yang berhubungan dengan dunia binatang yang tidak sadar.


Allah SWT berfirman:

"Atau  apakah  kamu  mengira  bahawa  kebanyakan  mereka  itu  mendengar
atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak,
bahkan  mereka  lebih  sesat  jalannya (dari  binatang  ternak  itu).  " (QS. al-Furqan: 44)

Seandainya hari ini kita merenungkan reaksi orang-orang kafir dan orang- orang musyrik, maka kita akan terhairan-hairan.

Allah SWT berfirman:

"Dan mereka hairan kerana mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul)  dari  kalangan  mereka;  dan  orang-orang  kafir  berkata:  'Ini  adalah seorang   ahli   sihir   yang   banyak   berdusta.   Mengapa   ia   menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat menghairankan'." (QS. Shad: 4- 5)

Cobak perhatikan bagaimana kebodohan kaum itu di mana mereka menganggap bahawa  pada  hakikatnya  terdapat  multi  tuhan  dan  mereka  justru  merasa hairan ketika terdapat hanya satu tuhan atau tuhan yang esa. Mereka justru merasa hairan ketika berhadapan dengan masalah yang fitri dan jelas ini.

Allah SWT berfirman:

"Dan   apabila   mereka   melihat   kamu (Muhammad),   mereka   hanyalah
menjadikan  kamu  sebagai  ejekan  (dengan  mengatakan):  'Inikah  orangnya yang diutus Allah sebagai rasul? Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita   dari   sembahan-sembahan   kita,   seandainya   kita   tidak   sabar (menyembah)nya. " (QS. al-Furqan: 41-42)

Perhatikanlah betapa nekadnya kaum itu di mana mereka mulai menghina dan mengejek  Rasulullah  saw,  padahal  beliau  telah  datang  di  tengah-tengah mereka untuk menyelamatkan mereka dari api neraka, dan cuba perhatikan bagaimana   pandangan   mereka   terhadap   tuhan-tuhan   mereka.   Mereka membayangkan  bahawa  mereka  nyaris  tersesat  jika  mereka  tidak  bersabar dalam  membela  tuhan-tuhan  tersebut.  Demikianlah  kesesatan  mengejek kebenaran  dan  kebodohan  menghina  ilmu.  Mereka  justru  merasa  hairan
terhadap  kepandaiannya  yang  dapat  menyelamatkannya  dari  meninggalkan tuhan-tuhannya yang terbuat dari batu dan kayu, bahkan terkadang mereka membuat tuhan dari adunan roti di mana mereka menyembahnya kemudian memakannya. Mereka mengatakan bahawa tuhan-tuhan kami menyelamatkan kami  dari  rasa  lapar  atau  mereka  mengatakan  bahawa  kami  menyembah mereka agar mereka dapat mendekatkan kami pada Allah sedekat-dekatnya.

Meskipun  demikian,  dakwah  Nabi  terus  berlanjutan  dan  tertanam  di  muka bumi.  Mereka  orang-orang  musyrik  menuduh  Nabi  sebagai  seorang  dukun; mereka menuduhnya juga sebagai seorang gila, bahkan mereka menuduhnya sebagai  seorang  penyihir;  mereka  menuduh  bahawa  beliau  berbohong  atas nama kebenaran dan beliau dibantu oleh kaum yang lain; mereka mengatakan ini adalah dongengan orang-orang yang dahulu.

Mereka meminta kepada beliau untuk mendatangkan mukjizat dengan bentuk tertentu;   mereka   memberitahu   bahawa   mereka   tidak   akan   beriman kepadanya, sehingga terdapat suatu mata air yang memancar dari bumi atau terwujud di depan mereka suatu taman dari pohon kurma dan anggur yang memancar di tengah-tengahnya sungai, atau langit akan runtuh sebagaimana yang beliau sampaikan kepada mereka sebagai bentuk azab atau beliau datang dengan Allah SWT dan para malaikat dan mereka semua menjamin kebenaran dakwah yang diserukannya, atau beliau memiliki rumah dari emas atau beliau mampu mendaki langit dan mereka masih belum beriman terhadap pendakian itu  meskipun  ia  mendaki  di  hadapan  mata  mereka  dan  kembali  dengan selamat, kecuali jika ia menghadirkan kitab kepada mereka yang dapat mereka baca dari langit.

Nabi tidak peduli dengan usaha mereka untuk menyakiti hati beliau; Nabi tetap memberitahu mereka dengan penuh kelembutan bahawa apa saja yang mereka minta itu tidak sesuai dengan Islam. Sebab, Islam hanya menyeru akal dan berusaha  menciptakan  kebebasan.  Beliau  menyampaikan  kepada  mereka bahawa beliau hanya sekadar manusia yang diutus oleh Tuhan; beliau datang kepada mereka untuk mengingatkan mereka akan suatu hari di mana seorang tua  tidak  akan  menyelamatkan  anaknya  dan  tidak  bermanfaat  di  dalamnya harta  dan  anak-anak,  dan  mereka  tidak  akan  selamat  di  dalamnya  dari seksaan.  Orang-orang  yang  mempunyai  kedudukan  atau  para  tokoh  mereka adalah para tiran-tiran di muka bumi di mana semua itu tidak akan bermanfaat bagi mereka pada hari kiamat. Seksaan yang bakal mereka terima tidak dapat mereka hindari dan mereka pun tidak dapat meringankannya.

Demikianlah Islam  - sebagaimana agama-agama sebelumnya  - mengumpulkan di sekelilingnya orang-orang yang berakal dan orang- orang yang fakir serta orang-orang   yang   menderita   di   muka   bumi.   Berimanlah   sekelompok orang-orang fakir di mana mereka menjadi kelompok sosial yang tertindas dan tersingkirkan di Mekah. Mereka menjadi makanan empuk kelompok-kelompok yang zalim.

Islam  bukan  hanya  memberikan  solusi  ekonomi  terhadap  tragedi  kehidupan atau masyarakat, tetapi Islam memberikan solusi Ilahi terhadap keberadaan manusia secara umum; Islam meyakini bahawa manusia bukan hanya sekadar perut  yang  harus  dikenyangkan  dan  naluri  seksual  yang  harus  dipuaskan, manusia  bukan  hanya  di  lihat  dan  dinilai  dari  sisi  ini,  namun  Islam  justru meletakkan manusia pada tempatnya yang hakiki, tanpa membesar-besarkan atau mengecilkannya. Dalam pandangan Islam, manusia terdiri dari bangunan fizik dan rohani, terdiri dari akal dan ambisi dan terdiri dari celupan dari Allah SWT dalam rohnya.

Islam  tidak  mementingkan  fizik  saja  dan  meninggalkan  rohani,  begitu  juga sebaliknya.  Terkadang  fizik  boleh  jadi  mendapatkan  kebahagiaan  dalam kehidupan, tetapi rohani justru mengalami penderitaan yang luar biasa. kerana itu, pemuasan salah satu dimensi dari dimensi manusia tidak akan membawa manusia kepada kesempurnaan atau kebahagiaan. Maka, Islam datang untuk membawa suatu solusi yang dapat menyelamatkan manusia dari dalam dirinya sendiri dan Islam membebankan tugas ini, yakni tugas perubahan ini kepada Al-Qur'an.

Al-Qur'an menjadi cermin dalam kehidupan di mana ayat-ayatnya diturunkan kepada Rasul saw, lalu beliau mengajarkannya kepada kaum Muslim. Kemudian Al-Qur'an  berubah  menjadi  orang-orang  yang  berjalan  di  pasar-pasar  dan mengancam   singgasana   kebencian   yang   menguasai   Mekah,   sehingga orang-orang musyrik justru meningkatkan usaha pengejekan dan penghinaan terhadap  Rasul  saw.  Oleh  kerana  itu,  beliau  semakin  sedih  lalu  Allah  SWT menghiburnya.   Allah   SWT   memberitahu   beliau   bahawa   mereka   tidak mendustakannya, tetapi mereka justru melalimi diri mereka sendiri. Mereka
mulai menentang Nabi dan ayat- ayat Allah SWT, padahal Nabi adalah salah satu dari ayat Allah SWT.

Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Kami mengetahui bahawasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan  hatimu, (janganlah  kamu  bersedih  hati),  kerana  mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang lalim itu mengingkari ayat-ayat Allah." (QS. al- An'am: 33)

Kemudian kaum musyrik meningkatkan penindasan kepada Rasul saw dan para pengikutnya.   Peperangan   dimulai:   dari   peperangan   urat   saraf   sampai peperangan fizik. Mereka mulai  menyeksa para pengikut Rasul saw, bahkan membunuhnya.  Pada  saat  itu,  musuh-musuh  Islam  membayangkan  bahawa dengan cara menindas kaum Muslim dan menekan mereka dakwah Islam akan berhenti dan kaum Muslin akan enggan untuk berdakwah. Mereka menganggap bahawa  kaum  Muslim  justru  memilih  untuk  menyelamatkan  diri  mereka. Namun  para  tokoh-  tokoh  Quraisy  dan  para  tokoh-tokoh  Mekah  dikejutkan ketika  melihat  penekanan  yang  mereka  lakukan  justru  semakin  membakar semangat kaum Muslim untuk berdakwah. Saat itu kaum Muslim merasa yakin bahawa  benih  yang  telah  ditanam  Rasulullah  saw  dalam  diri  mereka menjadikan mereka tetap bersemangat untuk menyebarkan risalah Allah SWT di  muka  bumi,  yaitu  suatu  risalah  yang  mengembalikan  bumi  menuju kematangan (kesempurnaan) yang telah hilang darinya dan kemanusiaan yang telah disia-siakan serta kehormatan yang telah ditumpahkan dan kebebasan yang telah hilang.

Kaum Muslim yakin bahawa mereka bukan hanya membangun suatu negeri yang kecil di Mekah, dan mereka bukan hanya memperbaiki masyarakat yang rosak, yaitu  masyarakat  jazirah  Arab,  tetapi  mereka  mengetahui  bahawa  mereka akan membangun suatu manusia yang baru. Mereka akan menciptakan manusia seutuhnya;  mereka  akan  menghadirkan  dunia  dalam  bentuk  yang  baru  dan dalam gambar yang baru yang merupakan cermin dari gambar kebesaran sang Pencipta.

Sebelum  kedatangan  Islam,  orang-orang  Arab  tidak  dikenal.  Dibandingkan dengan peradaban yang dahulu dan moden, orang-orang Arab tidak memiliki apa-apa.  Mereka  tidak  memberikan  kontribusi  kepada  dunia  dalam  bentuk ilmu,   seni,   atau   peninggalan   apa   pun   yang   dapat   dijadikan   sebagai kebanggaan.  Namun  ketika  Islam  turun  kepada  mereka,  mereka  menjadi cermin kejayaan manusia di mana mereka dapat memberikan sumbangan nyata pada  umat  manusia.  Bahkan  orang-orang  Barat  banyak  berhutang  kepada mereka  dalam  kemajuan  yang  mereka  capai  saat  ini.  Sebaliknya,  ketika mereka  berpaling  dari  Islam  di  mana  Islam  hanya  menjadi  lembaran cerita-cerita  dan   kertas-kertas  yang  tidak  berguna,  maka   saat   itulah orang-orang  Barat  dapat  menguasai  kaum  Muslim  kerana  mereka  justru mendapatkan  ilmu  dari  Kaum  Muslim  itu  sendiri.  Mereka  justru  mencapai kemajuan ketika kaum Muslim meninggalkan agama mereka. Jadi, ketika kaum Muslim  memahami  Islam  secara  benar  dan  berusaha  untuk  menghidupkan ajaran-ajarannya nescaya mereka akan mencapai puncak keilmuan.

Pada  awal-awal  masa  tersebarnya  Islam,  kaum  Muslim  menyedari  bahawa mereka menghadapi peperangan yang tidak akan berhenti. Selama kehidupan ada,  maka  pertentangan  pun  tetap  ada.  Oleh  kerana  itu,  ketika  mereka mendapatkan  penganiayaan  dan  seksaan,  maka  keimanan  mereka  justru semakin  meningkat,  dan  setiap  penganiayaan  yang  dilakukan  oleh  kaum Quraisy,  maka  mereka  tetap  bertahan  untuk  mempertahankan  kebenaran. Sebagai contoh, Amar bin Yasir mengalami penderitaan dan penganiayaan. Ia adalah salah seorang budak yang menjadi korban dari sistem ekonomi yang berlaku saat itu, yaitu ekonomi yang berdasarkan kepada sistem perbudakan. Seorang yang beriman tersebut diseksa di Mekah di mana ia tidak memperoleh kebebasannya   yang   hakiki   kecuali   setelah   ia   memeluk   Islam.   Mereka mengeluarkannya ke gurun dan menyeksanya berserta ibunya. Bahkan seksaan semakin meningkat atas ibunya agar ia kembali menjadi musyrik. Ketika ia tetap mempertahankan keimanannya dan dengan tegas menolak ajakan untuk menentang Islam, maka Abu Jahal menikamnya dengan belati yang ada di dua tangannya.  Ia  pun  meninggal.  Dan  Islam  mengorbankan  syahidnya  yang pertama. Wanita mulia itu bernama Sumayah, ibu dari Amar bin Yasir.

Banyak  kalangan  orang-orang  bodoh  mengatakan  tentang  persetujuan  Islam terhadap  sistem  perbudakan,  atau  Islam  mendiamkan  sistem  perbudakan. Mereka  lupa  bahawa  Islam  dibangun  berdasarkan  suatu  prinsip  yang  ingin membebaskan perbudakan dengan segala bentuknya; Islam ingin mengeluarkan manusia dari kepemilikan sesama manusia menuju kepemilikan kepada Allah SWT.

Jika  Islam  tidak  turun  dengan  nas-nas  yang  terperinci  yang  mengharamkan sistem  perbudakan,  maka  dasar-dasarnya  secara  umum  dan  prinsip-prinsip utamanya   menghentikan -   baik   dalam   tindakan   mahupun   ucapan -sumber-sumber  sistem  ini.  Allah  SWT  sebagai  pemilik  syariat  mengetahui bahawa sistem perbudakan adalah sistem ekonomi yang sementara yang akan berubah dengan perubahan waktu, dan kerana Islam tidak turun pada waktu yang terdapat perbudakan saja, tetapi ia turun secara umum dan menyeluruh

untuk  setiap  zaman,  maka  Islam  sengaja  melewati  bentuk-bentuk  yang sementara ini dari bentuk-bentuk eksploitasi menuju unsur yang pertama atau dasar pertama yang menimbulkan bentuk-bentuk eksploitasi tersebut, sehingga Islam mengharamkannya. Dengan cara demikian, Islam mengharamkan sistem perbudakan  secara  bertahap,  seperti  proses  pengharaman  khamer.  Jadi, keseriusan Islam sangat menonjol dalam usaha menghapus dan mengharamkan perbudakan.

Jika dikatakan kepada kita bahawa Islam membolehkan para tenteranya untuk memperbudak para tawanan perang, maka kita akan mengatakan bahawa Islam menerapkan sistem ini sebagai bentuk pembalasan terhadap perlakuan yang sama   di   mana   musuh-musuh   Islam   menjadikan   kaum   Muslim   sebagai budak-budak  mereka  ketika  mereka  menawannya.  Oleh  kerana  itu,  secara alami orang-orang Islam pun menawan mereka sebagai budak-budak. Jika Islam tidak melakukan yang demikian, maka boleh jadi Islam akan dimain-mainkan dan ada kesempatan besar bagi orang-orang musyrik untuk memperdaya Islam.

Demikianlah bahawa dakwah Islam mengalami berbagai macam hambatan dan penindasan. Dan ketika orang-orang yang terseksa mengadu kepada Rasulullah saw atas penindasan yang mereka terima, maka Rasulullah saw memberitahu mereka dengan pembicaraan yang jelas bahawa para dai di jalan Allah SWT harus  mengorbankan  kesenangan  mereka,  kedamaian  mereka,  dan  darah mereka sebagai harga yang pantas untuk tersebarnya dakwah Islam. Kebebasan bukan diperoleh dengan cuma-cuma. Sejarah kehidupan menceritakan kepada kita  bahawa  ia  dipenuhi  dengan  gumpalan  darah  yang  harus  dibayar  oleh masyarakat untuk memerangi musuh-musuhnya dari luar dan dari dalam. Jika ini dialami setiap orang yang menuntut kebebasan pada zaman dan tempat tertentu,  maka  bagaimana  dengan  orang-orang  yang  menuntut  kebebasan manusia secara keseluruhan.
Seorang Muslim hendaklah sadar bahawa dengan mengumumkan dakwahnya, maka ia pasti akan menerima pengusiran, penindasan, penjara, pengepungan dan  pembunuhan.  Ini  adalah  harga  yang  pantas  yang  harus  dibayar  ketika berdakwah di jalan Allah SWT; inilah harga kebebasan. Bahkan terkadang kaum yang batil pun membayamya dengan senang hati, maka bagaimana mungkin orang-orang yang bersama kebenaran ragu untuk melakukannya.

Pada  hakikatnya,  manusia  cinta  kepada  keabadian.  Secara  naluri  manusia merasa  takut  pada  azab  dan  kematian.  Dan  barangkali  yang  membezakan orang-orang  Islam  yang  hakiki  dengan  yang  lainnya  adalah  bahawa  mereka terbebas dari rasa ketakutan dan cinta keabadian. Ini adalah tolok ukur yang pasti  untuk  membezakan  antara  seorang  Muslim  yang  hakiki  dan  seorang Muslim yang hanya namanya atau Muslim warisan atau hanya klaim semata.

Seorang Muslim yang hakiki menyedari bahawa ajal di tangan Allah SWT, rezeki ada  juga  di  tangan-Nya,  begitu  juga  keamanan  semua  ada  di  tangan-Nya. Dengan keimanan seperti ini, ia memulai pergelutannya untuk menyebarkan dakwah. Ia siap untuk menerima penyeksaan dan penderitaan di jalan Allah SWT;  ia  pun  siap  menitiskan  darahnya  sebagai  harga  yang  pantas  yang diserukannya dalam rangka  memperoleh kebebasan. Ini  semua dilakukannya dengan   begitu   sederhana   dan   tidak   ada   rasa   takut   kerana   Islam membebaskannya dari rasa ketakutan. Dahulu para pembangkang menggergaji orang-orang yang menyeru di jalan Allah SWT dengan menggergaji saat mereka dalam keadaan hidup- hidup.

Khabab  bin  Irit  pergi  menemui  Rasulullah  saw  dan  meminta  tolong  kepada beliau dari penyeksaan orang-orang Quraisy, sambil berkata: "Tidakkah engkau menolong kami, wahai Rasulullah? Tidakkah engkau berdoa kepada kami, ya Rasulullah?"  Rasulullah  saw  menjawab:  "Sungguh  sebelum  kalian  terdapat orang-orang yang berdakwah di jalan Allah SWT lalu mereka dimasukkan dalam suatu  galian  tanah  lalu  mereka  digergaji  di  mana  tubuh  mereka  di  pisah menjadi dua, namun mereka tetap mempertahankan agamanya. Demi Allah, sungguh   Allah   SWT   akan   menolong   masalah   ini   tetapi   kalian   terlalu tergesa-gesa."

Dengan kalimat-kalimat yang penuh kesabaran dan keberanian ini, Rasulullah saw  ingin  memahamkan  kepada  orang  tersebut  bahawa  termasuk  dari kesempurnaan iman adalah membayar harga kebebasan. Jelas sekali bahawa Islam tidak memberikan keuntungan bagi orang yang memeluknya. Orang-orang Islam yang pertama tidak bertanya dan mengatakan: "Apa yang kita peroleh dari  agama  ini?"  Sebaliknya,  mereka  bertanya:  "Apa  yang  kita  bayar  untuk Islam?" Jawapannya adalah: "Segala sesuatu dimulai dari suapan-suapan roti sampai  darah  yang  tertumpah."  Jadi,  kaum  Muslim  yang  pertama  telah membayar ongkos kebebasan. Mereka merasakan kedamaian yang luar biasa untuk mempertahankan agama Allah SWT; mereka mendapatkan kepercayaan yang  tinggi  tentang  kemenangan  kebenaran  yang  datang  kepada  mereka; mereka justru memberitahu orang-orang musyrik bahawa mereka akan dapat mengalahkan raja-raja Kisra dan Kaisar. Dengan dakwah yang mereka lakukan, mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin di muka bumi. Kaum musyrik justru memanfaatkan kepercayaan ini untuk mengejek mereka dan mentertawakan mereka.

Ketika  Aswad  Ibnu  Matlab  dan  orang-orang  yang  bersamanya  melihat sahabat-sahabat Nabi, maka mereka mengejek dan mengatakan: "Telah datang kepada kalian pemimpin-pemimpin bumi yang esok akan mengalahkan raja-raja Kisra dan Kaisar, kemudian mereka bersiul dan bertepuk tangan." Namun kaum mukmin  tidak  peduli  dengan  ejekan  tersebut.  Demikianlah  bahawa  ejekan demi ejekan terus menyertai dakwah kaum Muslim. Kemudian kaum Quraisy mengadakan pertemuan yang bersejarah untuk menyatukan pandangan dalam rangka menyerang Rasulullah saw. Kaum musyrik menuduhnya bahawa beliau adalah seorang ahli sihir, dan pada kali yang lain mereka menuduhnya bahawa beliau adalah dukun, dan pada kali yang lain lagi mereka menuduhnya bahawa beliau adalah penyair, bahkan pada kali yang lain mereka menuduhnya bahawa beliau  adalah  seorang  yang  gila.  Kemudian  mereka  semua  sepakat  untuk menuduh bahawa beliau adalah seorang penyihir.

Walid bin Mughirah yang terkenal sebagai orang yang terpandang di kalangan mereka  menuduh  Rasulullah  saw  sebagai  penyihir  yang  dapat  memisahkan antara  sesama  saudara  dan  antara  seseorang  dengan  isterinya.  Kemudian mereka membikin kelompok-kelompok yang mengingatkan para pendatang di Mekah  bahawa  Muhammad  adalah  seorang  penyihir.  Meskipun  demikian, dakwah Islam tetap berlangsung. Ia tetap tersebar dengan pelan namun pasti dan kalimat-kalimat yang diutarakan Nabi justru mengingatkan perjanjian yang pernah   dilakukan   oleh   manusia,   yaitu   perjanjian   saat   Allah   SWT menyaksikannya ketika mereka masih di alam atom di
punggung Adam:

"Bukankah  aku  Tuhan  kalian?  Mereka  menjawab:  'Benar.'"  (QS.  al-  A'raf: 172)

Bertambahlah jumlah kaum Muslim hingga kaum Quraisy merasakan ketakutan. Mereka mulai  melihat  bahawa penggunaan  cara-cara  kekerasan  tidak selalu berhasil.  Kemudian  mereka  memilih  untuk  menggunakan  cara  baru,  yaitu bagaimana  seandainya  mereka  menggunakan  perdamaian  dan  perundingan. Orang-orang Quraisy mengutus 'Utbah bin Rabi'ah, seorang lelaki yang terkenal dengan kecerdasan dan kebijaksanaan sebagai juru runding.

'Utbah berkata kepada Rasul saw: "Wahai anak saudaraku, kami mengetahui kedudukanmu  di  sisi  kami  dari  sisi  nasab.  Engkau  datang  kepada  kaummu dengan suatu hal yang besar di mana engkau memisahkan kelompok-kelompok mereka. Maka dengarkanlah aku kerana aku ingin berbicara tentang beberapa hal.  Barangkali  engkau  akan  menerima  sebahagiannya."  Rasul  saw  berkata: "Silakan berbicara wahai 'Utbah." 'Utbah berkata: "Jika engkau menginginkan harta nescaya kami akan mengumpulkan harta bagimu, sehingga engkau akan menjadi orang yang paling kaya di antara kami, dan jika engkau menginginkan kehormatan, maka kami akan memberi kehormatan itu bagimu dan jika engkau menginginkan  kekuasaan,  maka  kami  akan  menyerahkan  kekuasaan  padamu dan jika engkau terkena penyakit yang engkau tidak mampu menolaknya dari dirimu,   maka   kami   akan   mencarikan   tabib   bagimu   dan   kami   akan mengeluarkan harta kami sehingga engkau sembuh."

Demikianlah 'Utbah mengakhiri pembicarannya. Kemudian ia menunggu reaksi Nabi. Lalu Rasulullah saw berkata:

"Dengan  nama  Allah  yang  Maha  Pengasih  lagi  Maha  Penyayang.  Haa  miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi  kebanyakan  mereka  berpaling  (darinya);,  maka  mereka  tidak  (mau) mendengarkan.  Mereka  berkata:  'Hati  kami  berada  dalam  tutupan (yang menutupi)  apa  yang  kamu  seru  kami  kepadanya  dan  di  telinga  kami  ada sumbatan  dan  antara  kami  dan  kamu  ada  dinding,  maka  bekerjalah  kamu; Sesungguhnya  kami  bekerja  (pula).'  Katakanlah:  'bahawasanya  aku  hanyalah seorang  manusia  seperti  kamu,  diwahyukan  kepadaku  bahawasanya  Tuhan kamu  adalah  Tuhan  Yang  Maha  Esa,  maka  tetaplah  pada  jalan  yang  lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-(Nya) (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan  zakat  dan  mereka  kafir  akan  adanya (kehidupan)  akhirat. Sesungguhnya  orang-orang  yang  beriman  dan  mengerjakan  amal  yang  saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya.' Katakanlah:' Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua  masa  dan  kamu  adakan  sekutu-sekutu  bagi-Nya? (Yang  bersifat) demikian  itulah  Tuhan  semesta  alam.  Dan  dia  menciptakan  di  bumi  itu gunung-gunung  yang  kukuh  di  atasnya.  Dia  memberkahinya  dan  Dia menentukan padanya kadar makanan- makanan (penghuni)nya dalam empat masa.  (Penjelasan  itu  sebagai  jawapan)  bagi  orang-orang  yang  bertanya. Kemudian  dia  menuju  kepada  penciptaan  langit  dan  langit  itu  masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: 'Datanglah kamu  keduanya  menurut  perintah-Ku  dengan  suka  hati  atau  terpaksa.' Keduanya   menjawab:   'Kami   datang   dengan   suka   hati.'   Maha   Dia menjadikannya  tujuh  langit  dalam  dua  masa  dan  Dia  mewahyukan  pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik- baiknya. Demikianlah  ketentuan  Yang  Maha  Perkasa  lagi  Maha  Mengetahui.  Jika mereka  berpaling,  maka  katakanlah:  'Aku  telah  memperingatkan  kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Ad dan kaum Tsamud." (QS. Fushilat: 1-13)

Rasulullah saw telah menjawab tawaran 'Utbah di mana beliau memilih untuk menghadapi tawaran dan iming-iming tersebut dengan membaca sebahagian dari surah Fhusilat yang merupakan salah satu surah Al-Qur'an yang diturunkan oleh Allah SWT melalui malaikat Jibril. 'Utbah bangkit dari tempatnya ketika Rasulullah saw sampai pada firman-Nya:

"Jika mereka berpaling, maka katakanlah: 'Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum "Ad dan kaum Tsamud. " (QS. Fushilat: 13)

'Utbah  berdiri  dalam  keadaan  takut  dan  segera  menuju  kaum  Quraisy. Bayang-bayang azab dunia terngiang di telinganya. Dan ketika ia sampai ke orang Quraisy, ia mengusulkan agar orang-orang Quraisy membiarkan apa saja yang dilakukan Muhammad. Gagallah perundingan dengan seorang Muslim yang pertama, yaitu Rasulullah saw. Gagalnya perundingan tersebut sebagai bentuk pemberitahuan tentang kembalinya tindak kekerasan dan penyeksaan terhadap sahabat-sahabat  Rasul  saw.  Kemudian  kaum  musyrik  semakin  meningkatkan penindasan terhadap kaum Muslim. Rasulullah saw sangat menderita melihat hal yang dirasakan para sahabatnya. Ketika kaum Muslim membayar harga yang paling mahal sebagai konsekuensi dari akidah yang mereka anut dan mereka dengan sabar memikul penderitaan di jalan Allah SWT, maka Rasulullah saw mengisyaratkan  mereka  untuk  berhijrah.  Beliau  memberikan  izin  untuk berhijrah bagi orang yang ingin hijrah.

Kemudian  Dimulailah  gelombang  hijrah.  Itu  terjadi  pada  lima  tahun  dari turunnya wahyu setelah dua tahun diumumkannya dakwah. Maka berhijrahlah ke  Habasyah  enam  belas  orang  Muslim.  Mereka  keluar  secara  rahsia  dan
mereka menuju ke laut. Mereka berlayar meskipun orang- orang yang tinggal di gurun  sebenarnya  tidak  ingin  berlayar  kerana  mereka  takut  dari  laut  dan mereka yakin bahawa manusia yang berlayar di laut akan menjadi ulat di atas kayu-kayu yang berenang.

Selanjutnya, gelombang hijrah yang kedua pun dimulai. Kali ini diikuti oleh delapan puluh tiga orang laki-laki dan sembilan belas perempuan. Kemudian orang-orang  Quraisy  berusaha  untuk  mengirim  beberapa  orang  dan  tetap berusaha  menyeksa  dan  menyakiti  orang-orang  yang  berhijrah.  Mereka mengutus    ke    Najasyi,    Raja    Habasyah,    orang-orang    yang    dapat mempengaruhinya  untuk  menentang  orang-orang  yang  berhijrah.  Mereka menuduh kaum Muslim meninggalkan agama nenek moyang mereka di Mekah dan  mereka  juga  tidak  menganut  agama  Najasyi,  yaitu  agama  Kristen. Kemudian  orang-orang  Quraisy  tidak  lupa  mengirim  hadiah  kepada  Najasyi sebagai bentuk suapan kepadanya. Tampaknya Najasyi seorang yang berakal lalu  ia  mengutus  seseorang  kepada  kaum  muhajirin  dan  bertanya  kepada mereka  tentang  agama  baru  yang  mereka  anut.  Kemudian  kaum  muhajirin menceritakan kepadanya tentang Islam.

Najasyi bertanya tentang Isa lalu mereka menjawab: "Ia adalah hamba Allah SWT  dan  rasul-Nya  dan  roh-Nya  serta  kalimat-Nya  yang  diletakkan  kepada Maryam, wanita yang perawan yang suci." Kemudian Najasyi mengambil satu kayu  kecil  dari  bumi  dan  mengatakan:  "Penjelasan  tentang  Isa  yang  kalian katakan tidak lebih dari kayu kecil ini. Pergilah kalian dan kalian akan aman." Najasyi  mengembalikan  hadiah  kaum  Quraisy  dan  mengatakan:  "Allah  tidak mengambil suap dariku sehingga aku tidak mungkin mengambilnya dari kalian."

Demikianlah  kaum  muhajirin  tinggal  di  negeri  yang  damai,  yaitu  Habasyah negeri yang dipimpin oleh seorang laki-laki yang diberi kematangan berfikir di mana ia cenderung mengimani karakter al-Masih sebagai seorang manusia. Dan salah satu keajaiban kekuasaan Ilahi adalah bahawa masyarakat Islam yang berhijrah  tersebut  tidak  mengalami  kelemahan  dalam  akidahnya,  namun mereka justru merasakan kekuatan.

Allah SWT memperkuat dakwah Islam dengan masuknya dua lelaki besar dalam Islam,  yaitu  Hamzah,  paman  Nabi  dan  Umar  bin  Khatab.  Kedua  orang  itu mempunyai keperibadian yang tangguh di Mekah di mana masing-masing dari mereka  terkenal  di  tengah-tengah  kaumnya.  Allah  SWT  berkehendak  untuk memberi Islam dua orang lelaki yang tangguh di Mekah dan Allah SWT telah meletakkan rahmat yang terpancar dalam hati mereka. Hamzah masuk Islam kerana  dorongan  emosi,  fanatisme,  dan  rahmat  terhadap  orang-orang  yang tidak memberikan pembelaan kepada Muhammad saw.

Salah seorang perempuan berkata kepada Hamzah: "Seandainya engkau melihat apa yang diperoleh oleh anak dari saudaramu, Muhammad dari Abil Hakam bin Hisyam  (Abu Jahal). Sungguh Abu Jahal telah mencelanya dan menyakitinya,
sedangkan  Muhammad  hanya  terdiam  dan  tidak  mengatakan  apa-apa." Mendengar pengaduan itu, darah mendidih berkobar dalam urat-urat Hamzah. Dengan  kemarahan  yang  sangat,  Hamzah  mencari-cari  Abu  Jahal  lalu  ia melihatnya   sedang   duduk-duduk   di   tengah-tengah   kaumnya.   Hamzah mengangkat  tangannya  lalu  memukulkannya  ke  kepala  Abu  Jahal  sambil berteriak: "Apakah engkau akan mengejek Muhammad, padahal aku berada di atas agamanya."

Demikianlah permulaan keislaman Hamzah. Hamzah adalah seorang yang mulia di mana perasaannya berkobar ketika ia melihat anak saudaranya diseksa dan dianiayai dan dia tidak mendapati seorang pun yang membelanya. Beginilah sebab-sebab pertama dari keislaman Hamzah, namun sebab yang paling dalam dan   yang   paling   menentukan   adalah   rahmat   Allah   SWT   yang   telah dianugerahkan  kepadanya,  meskipun  Hamzah  tidak  mengetahuinya,  yaitu rahmat yang mendorongnya untuk tidak membiarkan seseorang pun menyakiti lelaki yang berdakwah di jalan Allah SWT hanya kerana ia seorang yang lemah dan tidak mempunyai penolong. Jadi, Hamzah adalah penolongnya.

Sedangkan Umar bin Khatab terkenal dengan ketangguhan sikap dan kekerasan perilaku. Seringkali kaum Muslim mendapat seksaan darinya ketika ia masih menganut  jahiliah.  Dan  salah  seorang  yang  mendapatkan  seksaan  darinya adalah  Amir  bin  Rabi'ah  dan  isterinya.  Amir  berserta  isterinya  menetapkan untuk berhijrah ke Habasyah. Umar bin Khatab menemuinya lalu ia mendapati isteri Amir dan tidak menemukan suaminya. Umar melihat wanita itu sedang bersiap-siap untuk berhijrah lalu Umar berkata (saat itu sumber rahmat telah memancar pada dirinya): "Apakah engkau akan pergi wahai Ummu Abdillah?"
Dengan nada jengkel, wanita itu berkata: "Benar, demi Allah kami akan keluar dan menuju tanah Allah SWT. Engkau telah menyeksa kami dan telah memaksa kami untuk berhijrah. Kami akan pergi sehingga Allah SWT akan memberikan kelapangan   kepada   kami."   Umar   berkata:   "Mudah-mudahan   Allah   SWT menemanimu."

Wanita itu melihat tanda-tanda kelembutan dan kesedihan pada wajah Umar. Dan ketika suaminya kembali, ia menceritakan kepadanya bahawa ia sangat berharap kepada keislaman Umar. Lalu suaminya menjawab: "Ia tidak mungkin masuk Islam sampai keldai Umar masuk Islam." Ia mengatakan demikian kerana ia  melihat  betapa  bengisnya  dan  kejamnya  Umar.  Namun  perasaan  lembut wanita itu lebih kuat daripada pandangan fikiran lelaki itu dan keputusannya yang terlalu cepat kepada Umar.

Belum  lama  mereka  berhijrah  sehingga  Umar  masuk  Islam.  Orang-orang muhajirin mengeluarkan penutup sumur rahmat dalam dirinya. Dan barangkali Umar merasa kebingungan lalu ia menetapkan untuk membunuh Rasul saw. Dengan menghunuskan pedangnya, ia pergi menuju Rasul saw. Kemudian ia bertemu dengan orang-orang yang memergokinya dalam keadaan kebingungan, lalu  mereka  bertanya  kepadanya,  hendak  ke  mana  ia  akan  pergi?  Umar menjawab:  "Aku  hendak  ke  Muhammad  aku  akan  membunuhnya  sehingga orang-orang  Arab  merasa  tenteram."  Dengan  nada  mengejek,  seseorang berkata:   "Tidakkah   engkau   memulai   dari   keluargamu   sebelum   engkau membunuh  Muhammad."  Dengan  nada  jengkel,  Umar  berkata:  "Apa  yang terjadi pada keluargaku?" Lelaki itu menjawab: "Saudara perempuanmu dan suaminya telah masuk Islam, sedangkan engkau tidak mengetahuinya." Umar segera  mencari  saudara  perempuannya  dan  suaminya  di  mana  saat  itu keduanya sedang membaca Al-Qur'an.

Ketika  melihat  Umar,  mereka  menyembunyikan  Al-Qur'an.  Umar  bertanya:
"Sepertinya   aku   mendengar   suara   bisikan   dari   luar."   Tetapi   saudara perempuannya  mengatakan:  "Tidak."  Kemudian  suaminya  ikut  campur  dan Umar  pun  tampak  marah  kepadanya.  Wanita  itu  bangkit  untuk  membela suaminya  lalu  Umar  memukulnya  sehingga  darah  segar  mengucur  darinya. Darah itu justru membangkitkan sumber rahmat dari diri Umar. Akhirnya, Umar mengambil  air  wuduk  agar  mereka  mengizinkan  untuk  membaca  Al-Qur'an. Umar  pun  membacanya.  Belum  lama  Umar  membacanya  sehingga  ia  pergi menemui Rasul saw.

Tanpa ragu, Umar memilih untuk masuk Islam. Dan pedang yang dibawanya itu menjadi pedang yang paling kuat yang dengannya ia mempertahankan agama Muhammad saw. Kemudian ia mengetuk pintu untuk menemui Rasul saw di mana saat itu beliau bersama sahabatnya. Dari celah-celah pintu, sahabat Nabi melihat Umar bin Khatab sedang menghunuskan pedang. Kemudian sahabat itu kembali kepada Nabi dengan membawa berita yang sangat mengejutkan ini. Ia menduga bahawa Umar datang dengan maksud jahat.

Rasulullah saw bangkit dan memerintahkan para sahabatnya agar membiarkan Umar. Rasulullah saw membukakan pintu Kemudian ia menyambut Umar bin Khatab  dan  bertanya  kepadanya  apa  yang  diinginkannya.  Umar  menjawab bahawa ia datang untuk mengucapkan dan bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.

Orang-orang  Quraisy  mulai  merasa  bahaya  akan  mereka  temui  setelah keislaman Umar dan Hamzah. Para tokoh-tokoh Mekah dan orang-orang yang dihormati  telah  masuk  Islam.  Sebelum  Umar  masuk  Islam,  kaum  Muslim bertawaf di Ka'bah secara rahsia dan dengan malu-malu, namun ketika Umar masuk  Islam  ia  menampakkan  keislamannya  dan  ia  menantang  orang  yang mencegahnya untuk bertawaf, bahkan banyak orang-orang memberikan jalan padanya saat tawaf. Mekah mengetahui bahawa ia menghadapi suatu dakwah yang akan dapat mengubah jazirah Arab.

Rasa   ketakutan   mulai   menghantui   para   pemuka   Quraisy   dan   mereka menetapkan  metode  baru  untuk  menghadapi  kaum  Muslim.  Mereka  yang sebelumnya  menggunakan  metode  penghinaan  dan  pengejekan  kini  mulai mencuba untuk memblokade kaum Muslim secara ekonomi dan kemanusiaan. Kaum  musyrik  mengadakan  perkumpulan  dan  pertemuan  untuk  memboikot kaum   Muslim.   Mereka   mengadakan   pertemuan   itu   di   Ka'bah,   sebagai penghormatan kepadanya. Orang-orang musyrik menghormati Ka'bah meskipun mereka memenuhinya dengan berbagai macam patung yang mereka sembah dalam  rangka  mendekatkan  mereka  kepada  Allah.  Pasal  kesepakatan  itu menetapkan, hendaklah penduduk Mekah tidak menjual barang apapun kepada kaum  Muslim  dan  hendaklah  mereka  tidak  menikah  dengan  kaum  Muslim. Dengan ketetapan yang kejam tersebut, mereka ingin menghancurkan kaum Muslim dan membunuh perekonomian mereka. Rasulullah saw dan orang-orang yang beriman kepadanya terpaksa berlindung di dusun Bani Hasyim. Mereka dilindungi  oleh  keturunan  Bani  Muthalib,  baik  mereka  orang-orang  kafir mahupun orang-orang beriman kecuali musuh Allah SWT, Abu Jahal di mana ia bersama orang-orang Quraisy menentang kaumnya.

Kemudian Dimulailah blokade ekonomi terhadap kaum Muslim di mana tidak ada makanan dan minuman yang datang kepada mereka, sehingga penderitaan yang sulit kini dialami oleh sahabat-sahabat Nabi. Ketika kafilah perdagangan datang ke  Mekah  dan  salah  seorang dari  sahabat  Nabi  menemui  mereka  di pasar untuk membeli makanan untuk keluarganya, maka Abu Lahab berdiri dan berkata  kepada para  penjual,  wahai  para  pedagang, mahalkanlah  dagangan kalian terhadap sahabat- sahabat Muhammad, sehingga mereka tidak mampu membelinya dan aku menjamin kerugian yang kalian alami, bahkan aku akan membeli apa saja yang ingin mereka beli dari kalian.

Mendengar  hal  tersebut,  para  pedagang  pun  menjual  barang  dagangannya dengan harga yang tidak wajar, sehingga seorang Muslim kembali ke rumah keluarganya  tanpa  membawa  sedikit  pun  makanan.  Kemudian  pedagang  itu pergi ke Abu Lahab dan meminta kepadanya agar membeli barang yang ingin dibeli orang Muslim. Demikianlah peperangan tersebut terus terjadi sehingga kaum Muslim merasakan penderitaan yang sangat luar biasa di mana mereka dalam  keadaan  kelaparan  dan  kekurangan  pakaian  yang  layak.  Peperangan ekonomi  ini  terjadi  selama  tiga  tahun  penuh.  Saking  menderitanya  para sahabat  sampai-sampai  Sa'ad  bin  Abi  Waqas  pernah  keluar  pada  suatu  hari untuk memenuhi hajatnya, lalu ia mendengar suara gemerencing di bawah air kencing.  Tiba-tiba  ia  menemukan  sepotong  kulit  unta  yang  kering  lalu  ia mengambilnya dan membasuhnya. Kemudian ia membakarnya dan mencucinya dengan air sampai bersih lalu ia menjadikannya makanan selama tiga hari.

Selama  tiga  tahun  tersebut  wahyu  tetap  turun  kepada  Rasul  saw  dan seakan-akan ia melupakan bencana yang keras ini. Allah SWT ingin mendidik para pengikut agama-Nya agar mereka mampu memikul segala penderitaan.

Meskipun  kaum  Muslim  mendapatkan  berbagai  ujian  selama  tiga  tahun tersebut, tetapi aktiviti dakwah Islam tidak pernah padam dan tidak pernah surut. Kaum Muslim bertemu orang-orang selain mereka pada musim haji lalu mereka berbicara kepada orang-orang tersebut tentang keberadaan Allah SWT dan mereka meminta kepada para penghujung itu untuk mencari rahmat Allah SWT dan ampunan-Nya. Keteguhan kaum Muslim dan keberanian mereka telah memikat  banyak  orang  sehingga  mereka  masuk  Islam.  Bahkan  orang-orang musyrik mulai bertanya kepada diri mereka dan mempertanyakan kebenaran apa tindakan mereka. Lalu kecemburuan kepada kebenaran mulai menyerang hati.

Kemudian Selesailah peperangan ekonomi terhadap kaum Muslim di mana kaum musyrik melihat itu tidak berdampak terlalu besar bagi kaum Muslim. Meskipun kaum Muslim menerima penderitaan dan kerugian namun jumlah mereka tetap bertambah  dan  keimanan  mereka  semakin  kuat  serta  kepercayaan  kepada Allah SWT pun semakin meningkat. Lalu datanglah tahun kesedihan kepada Nabi.  Belum  lama  Rasulullah  saw  merasakan  dan  menghirup  udara  segar setelah tiga tahun masa blokade dan beliau ingin memulai kehidupan barunya dan dakwahnya, sehingga beliau dikejutkan dengan kematian isteri tercintanya Ummul Mukminin Khadijah dan kematian bapa saudaranya yang tercinta Abu Thalib.

Abu  Thalib  adalah  seorang  yang  besar  yang  memiliki  kewibawaan  di tengah-tengah kaum Quraisy, sehingga usaha kaum Quraisy untuk menyakiti Nabi   menjadi   terbatas   ketika   mereka   berhadapan   dengan   "tembok perlindungan"   Abu   Thalib   kepada   kemenakannya.   Sedangkan   Khadijah merupakan tempat perlindungan dan kedamaian bagi Nabi. Ia adalah hati yang sangat  penyayang  yang  banyak  menghibur  Nabi  saat  beliau  berdakwah. Khadijah adalah sebaik-baik teman dan sebaik-baik isteri. Begitu juga, bagi Khadijah  Rasulullah  saw  adalah  sebaik-baik  teman,  sebaik-baik  suami, sebaik-baik pembantu, dan sebaik-baik sahabat.

Rasulullah  saw  sangat  sedih  ketika  kehilangan  dua  orang  yang  sangat berpengaruh  dalam  kehidupannya  itu,  bahkan  para  sejarawan  menamakan tahun  tersebut  dengan  tahun  kesedihan.  Sebaliknya,  orang-  orang  musyrik justru  bergembira  dengan  kesedihan  Rasul  saw  itu.  Mereka  menganggap bahawa Rasul saw tidak lagi memiliki seorang tua yang mampu melindunginya dan  tidak  lagi  memiliki  seorang  isteri  yang  dapat  meringankan  beban penderitaannya.

Setelah  kematian  dua  orang  tersebut,  penindasan  dan  penganiayaan  kaum Quraisy  kepada  Nabi  semakin  meningkat  dan  orang-orang  musyrik  memilih waktu  yang  tepat  untuk  menyembelih  binatang  di  Mekah  lalu  mereka membawa usus-usus atau jeroan dari unta dan mereka melemparkannya dan meletakkannya  di  atas  punggung  Nabi  saat  beliau  sujud.  Kemudian  berita memilukan itu sampai kepada puteri tercintanya, Fatimah az-Zahrah, sehingga ia segera datang dan berusaha membela ayahnya dan membersihkan kotoran yang ada di pundak ayahnya itu. Demikianlah kemuliaan Siti Fatimah az-Zahra yang senantiasa melindungi ayahnya.

Betapa sedihnya Nabi saw ketika beliau melihat bahawa keadaan beliau sampai pada batas di mana anak perempuan beliau pun turut membelanya. Namun beliau tetap bersabar dalam berdakwah di jalan Allah SWT. Pada suatu hari beliau berfikir untuk pergi ke Tha'if di mana di sana dihuni oleh kaum Tha'if. Barangkali beliau berkata dalam dirinya: jika di sini aku mendapati hati-hati yang  telah  membeku  dan  telah  berhubungan  mesra  dengan  kebatilan  lalu mengapa aku tidak pergi ke Tsaqif. Barangkali Allah SWT akan membukakan pintu dakwah di sana. Mungkin di sana masih terdapat hati yang akan terbuka guna menerima kebenaran.

Saat  itu  kaum  musyrik  memperlakukan  blokade  umum  atas  dakwah  yang dipimpin  oleh  Rasulullah  saw  sehingga  tekanan  kepada  beliau  semakin meningkat  sampai  pada  batas  di  mana  pergerakan  dakwah  tidak  dapat bergerak satu langkah pun. Keadaan demikian ini sangat menggelisahkan Nabi. Beliau  ingin  untuk  melepaskan  belenggu  yang  mengikatnya.  Lalu  beliau memutuskan untuk pergi ke Tha'if. Jarak antara Mekah dan Tha'if lebih dari tujuh  puluh  kilo  meter.  Nabi  menempuh  perjalanan  itu  dengan  jalan  kaki, pergi dan pulang.

Kita  tidak mengetahui  pemikiran-pemikiran  apa yang terlintas dalam benak Rasulullah saw saat beliau pergi dan menemui kabilah yang kafir kepada Allah SWT  ini.  Yang  kita  ketahui  adalah  bahawa  beliau  pergi  ke  sana  dengan membawa rahmat dunia dan akhirat. Tetapi mereka justru membalas sikap baik  Rasulullah  saw  itu  dengan  tindakan  Jahiliah.  Mereka  bersikap  buruk kepada  beliau  dan  mendustakannya.  Rasulullah  saw  tinggal  di  sana  selama sepuluh hari. Beliau mundar-mandir dari satu rumah ke rumah yang lain dan dari pasar ke pasar yang  lain  dan  dari  satu  jalan  ke  jalan  yang  lain.  Tak  seorang  pun  yang mendengar kedatangan beliau di sana; tak seorang pun yang mahu mendengar dakwah beliau dan tak seorang pun yang mahu beriman kepada ajakannya. Bahkan masyarakat di situ semakin menjadi-jadi dalam menyerang Rasulullah saw dan mengejeknya.

Pada hari yang terakhir yang mana beliau telah menetapkan untuk kembali ke Mekah. Rasulullah saw berdiri di Tha'if dan mengharap kepada masyarakat di sana agar merahsiakan kunjungannya kepada mereka sehingga pencelaan yang beliau  terima  di  Mekah  terhadap  agama  yang  dibawanya  tidak  semakin menjadi-jadi. Tetapi penduduk Tha'if menolak permohonan yang terakhir ini. Mereka tidak cukup melakukan hal itu tetapi mereka melakukan perbuatan terburuk yang dilakukan manusia terhadap sesama manusia. Mereka menahan keluarga orang-orang yang bodoh dan orang-orang biasa untuk membentuk dua barisan dan memerintahkan mereka untuk melempari Rasulullah saw dengan batu  dan  mengejeknya.  Nabi  keluar  dari  Tha'if  dan  beliau  mendapatkan lemparan bertubi-tubi dari keluarga Tha'if bahkan beliau merasakan kepedihan saat kakinya terkena lemparan batu itu sehingga darah suci mengucur dari kaki beliau.

Kemudian Rasulullah saw diusir sehingga beliau sampai di suatu kebun yang dimiliki oleh dua orang dari orang-orang kaya Tha'if. Di sana beliau duduk di bawah naungan pohon anggur. Dua orang pemilik kebun itu merasa kasihan melihat  keadaan  orang  yang  terusir  dan  terluka  itu.  Mereka  membawa kepadanya  setangkai  anggur  dengan  seorang  pembantu.  Pembantu  mereka adalah seorang Nasrani yang bernama Adas. Si pembantu meletakkan setangkai anggur itu depan Rasul saw lalu beliau menghulurkan tangannya kepadanya sambil  berkata:  "Bismillahirahmanirrahim (Dengan  nama  Allah  yang  Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Adas berkata kepada Nabi, perkataan ini tidak begitu dikenal oleh penduduk negeri ini. Nabi berkata:

"Anda dari daerah mana?" Adas menjawab: "Aku adalah seorang Nasrani dari Nainawa." Nabi berkata: "Apakah engkau dari desa lelaki soleh Yunus bin Mata?" "Bagaimana engkau tahu tentang Yunus?, sambung lelaki itu. Nabi berkata: "Itu adalah saudaraku. Ia adalah seorang Nabi aku pun seorang Nabi."

Mendengar jawapan Rasul saw, Adas segera merobohkan tubuhnya di depan kedua  kaki  Rasul  saw  lalu  ia  menciuminya  sambil  menangis.  Akhirnya, pembantu  Nasrani  itu  masuk  Islam  sehingga  ia  menambah  barisan  kaum Muslim. Ia adalah seorang yang menjadi Muslim ketika Rasulullah saw berhijrah ke Tha'if. Inilah harga yang harus dibayar Rasulullah saw selama dua minggu saat  beliau  berada  di  Tha'if,  dan  kemudian  beliau  terkena  cubaan  dengan mengucurnya darah dari kaki beliau akibat lemparan batu penghuni Tha'if.

Kemudian  Rasulullah  saw  kembali  ke  Mekah  beliau  kembali  dalam  keadaan ditolak oleh penduduk Tha'if dan kini beliau kembali menerima penolakan itu di  Mekah.  Meskipun  demikian,  beliau  merasakan  kesedihan  yang  mendalam melihat  sikap  kaumnya.  Namun  ketika  kebencian  semakin  deras  mengalir kepada beliau, hati beliau justru semakin bersemangat dan semakin dipenuhi dengan  rahmat  kemudian  datanglah  kepada  Nabi  masa  di  mana  tampak  di dalamnya  Islam  asing,  dan  tampak  di  dalamnya  Nabi  seorang  diri,  tanpa penolong.
Pada saat demikian ini ketika manusia mulai meninggalkan Rasulullah saw lalu langit turut campur dan terjadilah peristiwa besar dan mukjizat terbesar pada diri Nabi, yaitu Isra' dan Mi'raj. Ia adalah mukjizat yang tidak berhubungan dengan  dakwah  Islam;  ia  tidak  datang  untuk  memperkuat  dakwah  ini  atau menetapkannya tetapi ia datang semata- mata untuk memperkuat keteguhan Nabi  dan  sebagai  penghormatan  kepadanya.  Seakan-akan  Allah  SWT  ingin berkata  kepada  Nabi,  jika  saja  penduduk  bumi  tidak  memujimu,  maka penduduk langit mengenal kedudukanmu dan memberikan pujian yang layak kepadamu dan jika manusia menolak dakwahmu dan menolak keberadaanmu, maka sesungguhnya Allah SWT memilihmu dan memuliakanmu.

Untuk melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, munculnya mukjizat Isra' dan Mi'raj dalam   sejarah   para   nabi   sebagai   mukjizat   satu-satunya   yang   tiada tandingannya  dibandingkan  dengan  kisah  nabi  yang  lain.  Kita  mengetahui bahawa di deretan para nabi ada nabi-nabi yang dinamakan oleh Allah SWT sebagai  para  kekasih-Nya  dan  sebagai  para  pendamping-Nya,  seperti  Nabi Ibrahim. Kita juga melihat bahawa di antara para nabi ada seseorang yang diajak bicara oleh Allah SWT tanpa perantara, seperti Nabi Musa. Kita juga melihat di antara para nabi ada yang didukung oleh Allah SWT dengan Ruhul kudus, seperti Nabi Isa. Tetapi untuk pertama kalinya kita berada di hadapan seorang  nabi  yang  diajak  dan  dipanggil  oleh  Allah  SWT  untuk  menuju  ke sisi-Nya.

Beliau  naik  bersama  Jibril  dengan  jasadnya  dan  rohaninya  sehingga  Jibril berdiri  di  suatu  tempat  dan  Nabi  maju  sendirian.  Itu  adalah  tingkat  dari tingkat kehormatan di mana pena terasa keluh untuk mengungkapkannya dan sejarawan tidak dapat menulis apa yang terjadi saat itu. Kita telah melihat dalam  kisah  para  nabi  seorang  nabi  yang  meminta  kepada  Tuhannya  agar memperlihatkan  kepadanya  bagaimana  Dia  menghidupkan  orang-orang  yang mati. Allah SWT bertanya kepadanya, apakah ia belum beriman akan hal itu? Ibrahim menjawab: bahawa ia beriman tetapi ia ingin menenangkan hatinya.

Kita juga melihat dalam kisah para nabi seorang nabi yang cintanya kepada Allah  SWT  memancar  dalam  kalbunya  sehingga  ia  meminta:  "Ya  Tuhanku, nampakkanlah (diri  Engkau)  kepadaku  agar  aku  dapat  melihat  kepada
Engkau". (QS. al-A'raf: 143)

Namun Allah SWT menjawab kepada Musa tentang kemustahilan melihat Allah SWT atas manusia. Nabi Musa memahami bahawa makhluk manapun tidak akan mampu menahan beban penampakan dari Zat sang Pencipta.

Adapun  Muhammad  bin  Abdillah  ia  tidak  bertanya  kepada  Tuhannya  dan meminta kepadanya untuk diberi mukjizat atau kejadian yang luar biasa; ia tidak  meminta  kepada  Tuhannya  agar  dapat  melihat  Zat-Nya  dan  ia  tidak berusaha  mencari  ketenangan  dalam  hatinya.  Cintanya  kepada  Allah  SWT termasuk bentuk cinta yang sulit untuk difahami atau diselami kedalamannya oleh para tokoh pencinta dan cintanya tersebut bukan termasuk bentuk yang menimbulkan   berbagai   pertanyaan.   Cinta   beliau   melampaui   tingkat permintaan menuju ke tingkat penyerahan dan kepuasan atau ridha. Segala sesuatu yang menggelisahkan Nabi adalah ridha Allah SWT.

Rasulullah  saw  berkata  saat  beliau  dalam  keadaan  ditolak  dan  diusir  dan terluka  akibat  perbuatan  kaum  Tha'if:  "Jika  Engkau  tidak  murka  kepadaku, maka aku tidak peduli dengan mereka."

Lihatlah   tingkat   cinta   yang   tinggi   itu:   bagaimana   tingkat   tersebut menyebabkan beliau merasa rendah diri sehingga beliau berkata, "jika Engkau tidak murka kepadaku ..." Seakan-akan beliau tidak menginginkan selain ridha Allah SWT dan yang beliau khuatirkan adalah kemarahan Allah SWT.

Sungguh adab yang diterapkan Rasulullah saw kepada Tuhannya adalah adab yang  paling  layak  dan  paling  tinggi  yang  sesuai  dengan  kedudukan  beliau sebagai orang Muslim yang paling sempurna.

Demikianlah  mukjizat  Isra'  dan  Mi'raj.  Mukjizat  yang  tujuannya  adalah menghormati  keperibadian  Rasulullah  saw;  mukjizat  yang  membangkitkan peranan akal dan hati secara bersama. Para nabi tanpa terkecuali didukung oleh berbagai macam mukjizat yang terjadi di muka bumi bahkan para nabi yang diangkat ke langit seperti Nabi Idris dan Nabi Isa, maka pengangkatan mereka sebagai bentuk menyelamatkan mereka dari usaha pembunuhan atau penyaliban. Mukjizat mereka saat mereka diangkat ke langit adalah bentuk akhir dari aktiviti mereka di muka bumi.

Ini  adalah  kali  pertama  ketika  kita  mendapati  suatu  mukjizat  yang tempat utamanya di langit; suatu mukjizat yang terwujud bersama seorang Nabi yang diangkat ke langit dengan jasadnya dan rohaninya saat beliau masih hidup. Di sana  Allah  SWT  memperlihatkan  kepadanya  tanda-  tanda  kekuasaan-Nya. Kemudian beliau kembali ke bumi di mana beliau akan mendapatkan berbagai macam  tantangan  dan  cubaan  yang  biasa  diterima  oleh  penduduk  bumi. Muhammad bin Abdillah adalah manusia yang pertama melewati planet bumi dan   beliau   menembus   bulan   dan   matahari   dan   bintang-bintang.   Kita menyaksikan  di  zaman  kita  manusia  pertama  atau  astronaut  pertama  yang mampu  menembus ruang angkasa.  Ruang angkasa  itu  baru  dapat  ditembusi oleh manusia setelah empat belas abad dari turunnya risalah Muhammad saw, namun sejak empat belas abad yang lalu Nabi Islam telah dapat menembus ruang  angkasa  itu,  bahkan  beliau  mencapai  Sidratul  Muntaha  dan  puncak al-Muntaha.

Beliau sampai pada batas yang di situlah alam makhluk diakhiri dan beliau menembus  alam  ghaib.  Bukankah  syurga  bahagian  dari  alam  ghaib?  Beliau sampai di syurga. Allah SWT menamakannya dengan Jannatul Ma'wah. Beliau sampai  pada  batas  terputusnya  ilmu  manusia  dan  tiada  yang  mengetahui hakikat  ilmu  tersebut  kecuali  Allah  SWT.  Mukjizat  Isra'  bukanlah  mukjizat Mi'raj, meskipun kedua-duanya terjadi di satu malam. Peristiwa Isra' dan Mi'raj dikutip oleh  dua  surah  yang berbeza  dalam  Al-  Qur'an  al-Karim.  Allah  SWT berfirman tentang mukjizat Isra':

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkali sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.  Sesungguhnya  Dia  adalah  Maha  Mendengar  lagi  Maha  Mengetahui." (QS. al-Isra': 1)

Sedangkan berkaitan dengan mukjizat Mi'raj, Allah SWT berfirman:

"Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,  (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal.  (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya  (Muhammad) tidak berpaling   dari   yang   dilihatnya   itu   dan   tidak (pula)   melampauinya. Sesungguhnya   dia   telah   melihat   sebahagian   tanda-tanda      (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar." (QS. an-Najm: 13-18)
Pada malam Isra' dan Mi'raj, Nabi Muhammad berkeliling di sekitar Ka'bah dan berdoa kepada Allah SWT. Beliau dalam keadaan pucat wajahnya dan kedua air matanya  mengucur;  beliau  tidak  bertawaf  bersama  seseorang  pun;  beliau tawaf sendirian lalu orang-orang kafir dan orang-orang musyrik memandang beliau dengan pandangan kebencian saat beliau bertawaf dan berdoa. Allah SWT  melihat  hamba-Nya  yang  khusyuk  itu  lalu  Allah  SWT  menurunkan perintah-Nya  kepada  Ruhul  Amin  yaitu  malaikat  Jibril  agar  menemani hamba-Nya dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha Kemudian membawanya naik ke langit agar dia dapat melihat tanda-tanda kebesaran Tuhannya.

Di  suatu  rumah  yang  mulia  dan  sederhana  dari  rumah-rumah  yang  ada  di Mekah, Nabi saw sedang tidur dan datanglah waktu pertengahan malam. Jibril turun dan memasuki rumah sang Rasul saw. Jibril as berdiri di sisi kepala sang Nabi dan ia melihat kepadanya dengan pandangan cinta. Pandangan Jibril itu membangunkan  Rasul  saw  kemudian  beliau  membuka  kedua  matanya  dan bangkit dari tempat tidurnya.

Jibril berkata kepada Nabi saw, salam kepadamu wahai Nabi yang mulia. Allah SWT  ingin  agar  engkau  melihat  sebahagian  tanda-tanda  kebesaran-  Nya  di alam. Kemudian Jibril berjalan bersama Nabi saw. Mereka keluar dari rumah dan  beliau  menyaksikan  Buraq  yaitu  makhluk  yang  menyerupai  burung  dan mempunyai  sayap  seperti  burung  garuda;  makhluk  yang  terbuat  dari  kilat. kerana itu, ia dinamakan dengan Buraq. Kilat adalah listrik dan listrik adalah cahaya. Cahaya adalah makhluk yang tercepat yang kita kenal di bumi. Kilauan cahaya pada satu detik saja  mencapai  186  ribu  mil.  Kita  tidak  akan  terlibat  terlalu  jauh  tentang kenderaan luar angkasa yang digunakan dalam perjalanan itu; kita tidak akan bertanya  bagaimana  Nabi  saw  menembus  alam  ruang  angkasa  tanpa  ada latihan sebelumnya dan berapa lama waktu yang beliau gunakan untuk pulang pergi; kami juga tidak akan bertanya tentang kecepatan Buraq; kami tidak hairan dengan usaha penembusan luar angkasa ini; kita tidak akan bertanya tentang semua itu kerana
kita mempunyai satu jawapan dari semuanya: Allah SWT berkehendak agar hal itu terjadi dan untuk itu Allah SWT mengatakan kun jadilah, maka jadilah.

Para ulama berselisih pendapat tentang apakah Isra' dan Mi'raj terjadi dengan roh  saja  atau  dengan  rohani  dan  jasad  sekaligus.  Ahli  hakikat  mengatakan bahawa itu terjadi dengan roh dan jasad. Tentu perselisihan itu berakibat pada perselisihan  akal  dan  terjerumus  dalam  perangkap  kaifa (bagaimana)  dan bertanya tentang kekuasaan Allah SWT dan usaha untuk menundukkan masalah ini terhadap sebab-sebab yang biasa atau hukum-hukum kita yang alami atau logik kemanusiaan. Allah Maha Suci dan Maha Tinggi dari semua itu. Apakah seseorang  akan  bertanya,  bagaimana  Rasulullah  saw  naik  berserta  roh  dan fiziknya ke puncak segala puncak di langit kemudian beliau kembali sebelum tempat  tidurnya  dingin?  Mukjizat  apa  yang  terjadi  di  sini  yang  melebihi mukjizat berubahnya air mani menjadi manusia dan berubahnya benih menjadi pohon atau mukjizat air yang menghidupkan tanah, atau ia mampu memuaskan kehausan si dahaga atau mukjizat cinta yang mengikat dua hati yang belum pernah mengenal?

Sementara itu, Buraq menundukkan badannya kepada Nabi saw kemudian Nabi saw menungganginya bersama Jibril dan Buraq pergi bagaikan anak panah dari cahaya  di  atas  gunung  Mekah  dan  pasir-pasir  menuju  ke  utara.  Jibril mengisyaratkan agar menuju arah gunung Saina' lalu Buraq itu berhenti. Jibril berkata di tempat yang diberkati ini, Allah SWT berdialog dengan Musa as. Kemudian Buraq kembali pergi ke Baitul Maqdis, Nabi saw turun dari pesawat ini yang berjalan lebih cepat dari cahaya dan jutaan kali lebih cepat darinya dan ia tidak berubah dari cahaya.

Nabi berjalan bersama Jibril dan memasuki Baitul Maqdis. Beliau memasuki masjid dan beliau mendapati semua nabi sedang menunggunya di sana. Allah SWT membangkitkan gambar para nabi-Nya dari kematian dan mengumpulkan mereka  di  Masjid  Aqsha.  Para  malaikat  memberinya  suatu  bejana  yang  di dalamnya  terdapat  susu  dan  bejana  yang  lain  yang  di  dalamnya  terdapat khamer. Lalu beliau memilih susu dan meminumnya. Dikatakan pada beliau, sesungguhnya engkau telah memilih fitrah dan umatmu akan memilih fitrah.

Para nabi mengitari Rasul saw dan datanglah waktu solat. Para nabi bertanya di antara sesama mereka, siapa di antara mereka yang menjadi imam solat, apakah  itu  Adam,  Nuh,  Ibrahim,  Musa  atau  Isa?  Jibril  berkata  kepada Muhammad  saw,  sesungguhnya  Allah  SWT  memerintahkanmu  untuk  solat bersama para nabi. Rasulullah saw berdiri dan solat bersama para nabi. Mereka semua adalah orang-orang Muslim dan beliau adalah orang-orang Muslim yang pertama.  Secara  logik  bahawa  beliau  layak  menjadi  imam  dari  para  nabi sebagaimana kitabnya dijadikan kitab yang terbaik daripada kitab-kitab yang mendahuluinya.  Beliau  membacakan  Al-Qur'an  kepada  mereka  dan  beliau menangis saat membacanya. Kekhusyukan beliau saat membacanya membuat para nabi pun menangis. Dan ketika para nabi sujud di belakang imam mereka, pohon-pohon dan bintang-bintang pun turut bersujud.

Selesailah waktu solat dan para nabi membubarkan diri. Setiap nabi kembali ke langit yang mereka tinggal di dalamnya. Nabi keluar dari masjid bersama Jibril dan  mereka  kembali  menunggang  Buraq  seperti  panah  dari  cahaya.  Buraq semakin meninggi dan ia melewati langit pertama lalu beliau menyaksikan Nabi Adam. Kemudian ada panggilan dari Allah SWT: "Hendaklah hamba-Ku semakin meninggi dan menjauh." Kemudian hamba Allah SWT Muhammad bin Abdillah semakin terbang menjauh ia melampaui langit demi langit. Beliau melampaui tempat materi dan mulai menjangkau tempat rohani dan melewatinya. Beliau bersiap berdiri di haribaan Ilahi; beliau semakin tinggi dan jauh di tingkat dan di puncak rohani dalam kecepatan yang tidak kurang dari kecepatan kilat.

Beliau  melampaui  kedudukan  Nabi  Adam  di  langit  pertama  dan  melampaui kedudukan  Nabi  Yahya  dan  Nabi  Isa  di  langit  kedua.  Lalu  Tuhan  pemilik kemuliaan  memanggil,  "hendaklah  hamba-Ku  lebih  tinggi  lagi."  Kemudian hamba Allah SWT dan Nabi-Nya yang mulia mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi. Beliau melampaui langit yang ketiga, keempat, kelima, keenam, dan ke tujuh. Beliau melampaui alam materi semuanya dan melampaui alam rohani. Akhirnya, beliau sampai ke Sidratul Muntaha. Beliau sampai di tempat yang suci yang Allah SWT menamakannya dengan sebutan Sidratul Muntaha dan di sana Nabi melihat dan menyaksikan Jannatul Ma'wa. Beliau menyaksikan yang kita tidak mampu    mengetahuinya    dan    memahaminya    bahkan membayangkannya:

"(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang  meliputinya.  Penglihatannya  (Muhammad)  tidak  berpaling  dari  yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya." (QS. an-Najm: 16-17)

Sungguh  terjadilah  pada  tempat  itu  apa  yang  terjadi  dengannya.  Dengan kebesaran yang misteri ini, Allah SWT memberitahu kita bahawa terjadilah hal penting di sana meskipun hakikat hal tersebut tersembunyi dari kita. Sesuatu yang Allah SWT sembunyikan dari kita tersebut disaksikan oleh Rasul saw. Itu adalah  mukjizat  yang  khusus  baginya;  itu  adalah  tingkat  cinta  yang  tidak tersingkap tabirnya kerana ketinggiannya yang tidak mampu ditangkap oleh pengetahuan manusia biasa.

Kemudian Tuhan pemilik syurga dan neraka memanggil, "hendaklah hamba-Ku lebih tinggi lagi." Hamba Allah SWT Muhammad bin Abdillah menaik ke tempat yang  tinggi.  Kali  ini  beliau  melihat  Jibril  yang  berada  di  belakangnya  lalu beliau mendapatinya dalam keadaan bertasbih kepada Allah SWT. Jibril tidak berada  dalam  wujud  manusia  seperti  yang  Nabi  saksikan  ketika  berada  di dunia. Jibril as kembali ke dalam wujud malaikatnya. Nabi melihat Jibril dan ia merupakan tanda kebesaran Allah SWT yang Allah SWT janjikan untuk di perlihatkan kepadanya:

Penglihatannya  (Muhammad)  tidak  berpaling  dari  yang  dilihatnya  itu  dan tidak (pula) melampauinya." (QS. an-Najm: 17)

Pemandangan  itu  terjadi  dengan  hati  dan  mata  serta  panca  indera  yang dikenal dan yang tidak dikenal. Pemandangan itu benar-benar jelas. Di sana bukan mimpi, bukan khayalan, dan bukan gambaran. Rasul saw melihat semua itu dengan jasadnya dan rohaninya:

"Penglihatannya  (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya." (QS. an-Najm: 17)

Kemudian Rasulullah saw menuju ke tempat yang tinggi dan lebih tinggi lagi. Beliau  semakin  naik  ke  tingkat  yang  makin  tinggi  sampai  beliau  berdiri  di hadapan Tuhan Pencipta langit dan bumi dan Penebar kasih sayang di dunia dan di akhirat. Orang Muslim yang paling sempurna itu bersujud di hadapan Tuhan Sang Pencipta sambil berkata: "Sungguh penghormatan dan keberkatan serta  selawat  yang  baik  tertuju  hanya  kepada  Allah  SWT."  Allah  SWT membalasnya:  "Salam  kepadamu  wahai  Nabi  dan  rahmat  Allah  SWT  serta berkat-Nya  juga  tercurah  kepadamu."  Para  malaikat  pun  ketika  mendengar ucapan  itu  bertasbih  dan  mengatakan:  "Salam  kepada  kita  dan  kepada hamba-hamba Allah SWT yang soleh."

Ungkapan-ungkapan  tersebut  merupakan  permulaan  tahiyat  (penghormatan) yang  diucapkan  orang-orang  Muslim  saat  mereka  melaksanakan  solat  pada setiap hari. Solat telah diwajibkan atas kaum Muslim pada kesempatan yang besar ini. Hal popular di kalangan umumnya kaum Muslim adalah, bahawa Allah SWT mewajibkan atas Nabi mula-mula lima puluh solat sehari. Kemudian Nabi turun  dari  langit  lalu  beliau  menemui  Nabi  Musa.  Selanjutnya  Nabi  Musa bertanya kepadanya tentang jumlah solat yang diwajibkan Allah SWT kepada umatnya. Nabi menceritakan bahawa Allah SWT telah menentukan lima puluh kali  solat.  Nabi  Musa  berkata  sungguh  umatmu  tidak  akan  kuat  untuk melakukan  solat  itu,  maka  kembalilah  kepada  Tuhanmu  dan  mohonlah kepadanya  agar  Dia  meringankan  bagi  umatmu.  Lalu  Nabi  kembali  kepada Tuhan-Nya sehingga Allah SWT meringankan solat hingga sepuluh kali. Setelah itu,   Nabi   kembali   bertemu   dengan   Nabi   Musa.   Lagi-lagi   Nabi   Musa memperingatkannya. Kemudian Nabi kembali lagi kepada Allah SWT sehingga
sampai diturunkan solat dari lima puluh kali menjadi lima kali sehari. Namun solat yang lima kali itu pahalanya sama dengan solat yang lima puluh kali.

Menurut hemat kami, kisah tersebut tidak memiliki sandaran dalam kitab-kitab ulama  yang  benar-benar  teliti.  Kami  kira,  kisah  itu  tersebut  merupakan rekayasa  orang-orang  Yahudi  di  mana  mereka  masuk  Islam  dan  mereka memenuhi   kitab-kitab   dengan   dongeng-dongeng   khurafat   dan   mereka menisbatkannya  kepada  Rasul.  Prasangka  tersebut  didukung  oleh  pemilihan Musa sebagai seorang Nabi yang mengusulkan kepada Rasul saw agar meminta keringanan atas umatnya sehingga terkesan Nabi Musa menjadi seseorang yang lebih mengetahui  sesuatu  yang tidak diketahui  oleh Nabi  Muhammad. Kami sendiri  cenderung  untuk  menolak  kisah  tersebut  dengan  keyakinan  bahawa pertemuan   Nabi   dengan   Allah   SWT  menimbulkan   rasa   kebesaran   dan kewibawaan yang luar biasa sehingga  ketika Nabi telah  pergi, maka  sangat berat baginya untuk kembali lagi.

Nabi menyaksikan dan melihat hal-hal yang tidak mampu diungkap oleh lisan dan tidak mampu ditulis dengan pena. Beliau berada di suatu keadaan yang tidak dapat difahami oleh manusia biasa. Al-Qur'an al- Karim sengaja tidak menyebutkan apa saja yang di lihat oleh Nabi kerana itu merupakan rahsia antara  Nabi  dan  Tuhannya  dan  mukjizat  yang  khusus  yang  diperuntukkan baginya sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Jadi Al-Qur'an sengaja tidak menyebutkan itu semua untuk menegaskan bahawa beliau melihat tanda dari tanda-tanda kebesaran Tuhannya.

Kami  tidak  mengetahui  apa  yang  di  lihat  oleh  Nabi.  Hal  yang  dapat  kami bayangkan  adalah,  bahawa  Nabi  bersujud  dengan  khusyuk  di  hadapan Tuhannya dan beliau menangis kerana gembira. Kesedihan hatinya telah hilang selamanya. Setelah Nabi melihat rahsia dan setelah penghormatan yang besar ini, beliau kembali menemani Buraq dan pergi bersama Jibril untuk kembali ke bumi. Beliau kembali dan mendapati tempat tidurnya masih dingin. Bagaimana beliau  pergi  dan  kembali  sementara  tempat  tidurnya  belum  dingin?  Berapa lama waktu yang diperlukannya saat melakukan perjalanan tersebut? Hanya Allah  SWT  semata  yang  mengetahui.  Yang  kita  ketahui  adalah,  bahawa Rasulullah saw kembali ke tempat tidurnya setelah Isra' dan Mi'raj dan hatinya dipenuhi dengan kegembiraan serta dadanya dipenuhi dengan ketenangan dan kepuasan serta kefanaan dalam cinta kepada Allah SWT.

Kemudian   datanglah   waktu   pagi.   Nabi   menceritakan   perjalanan   dan pengalaman  tersebut  kepada  sahabat-sahabatnya  dan  orang-orang  Musyrik sehingga  berimanlah  orang-orang  yang  beriman  padanya  dan  mendustakan kepadanya  orang-orang  yang  mendustakannya.  Namun  beliau  tidak  peduli dengan  semua  itu.  Nabi  terus  melangsungkan  perjuangannya  dengan  penuh kesabaran.

Akhirnya, datanglah suatu masa di mana Nabi saw mengetahui bahawa dakwah Islam di Mekah telah mengalami penekanan yang luar biasa sehingga keadaan sangat tidak mendukung bagi kaum Muslim. Rasulullah saw bergerak dengan dakwahnya.  Lalu  Allah  SWT  mewahyukan  kepadanya  agar  ia  berhijrah.

Kemudian mulalah Nabi berhijrah di jalan Allah SWT setelah tiga belas tahun beliau di Mekah. Islam ingin membangun negaranya dan ingin menghilangkan pengepungan  dan  serangan  kaum  musyrik.  Mula-mula  terjadilah  perubahan sedikit dalam keadaan kaum Muslim.

Rasulullah  saw  keluar  dalam  musim  haji  untuk  menunjukkan  dirinya  pada kabilah-kabilah  Arab  sebagaimana  yang  beliau  lakukan  pada  setiap  musim. Beliau berada di tempat yang bernama 'Aqabah, lalu beliau bertemu dengan jemaah dari Khazraj. Rasulullah saw berkata kepada mereka, "siapa kalian?" Mereka  menjawab:  "Kami  berasal  dari  kelompok  Khazraj."  Beliau  berkata. "apakah kalian termasuk pembantu kaum Yahudi?" Mereka menjawab, "benar." Beliau berkata, "maukah kalian duduk bersama aku kerana aku ingin sedikit berbicara dengan kalian." Mereka menjawab: "Boleh." Kemudian mereka duduk bersama Nabi lalu beliau mengajak mereka untuk mengikuti agama Allah SWT.

Rasulullah saw sedikit menceritakan Islam kepada mereka dan membacakan Al-Qur'an. Enam orang mendengarkan apa yang disampaikan oleh Nabi saw. Setelah  beliau  selesai  dari  pembicaraannya,  mereka  membenarkannya  dan beriman kepadanya. Kemudian mereka menceritakan kepada Nabi saw bahawa mereka meninggalkan kaumnya kerana kaum mereka terlibat peperangan dan kebencian.  Mudah-  mudahan  Allah  SWT  mengumpulkan  mereka  dengan kedatangan Nabi saw yang mulia ini. Mereka memberitahu Nabi saw bahawa mereka akan menceritakan kepada kaumnya apa yang mereka dengar dari Nabi saw dan akan mengajak mereka untuk memenuhi dakwah Nabi.

Keenam lelaki itu kembali ke kota Madinah yang berubah namanya menjadi Madinah Munawarah yang sebelumnya ia bernama Yatsrib di zaman jahiliah. Allah  SWT  berkehendak  untuk  meneranginya  dengan  Islam.  Para  lelaki  itu kembali  ke  Madinah  dan  mereka  membawa  Islam  di  hati  mereka  sehingga banyak orang yang masuk Islam.

Kemudian datanglah musim haji dan keluarlah dari Madinah dua belas orang lelaki dari orang-orang yang beriman yang di antara mereka terdapat enam orang yang Rasulullah saw telah berdakwah kepada mereka pada musim yang dulu dan Nabi saw menemui mereka di 'Aqabah. Kemudian Nabi melakukan solat  pada  mereka  agar  mereka  mempertahankan  keimanan  dan  membela dakwah kebenaran serta kemanusiaan.

Kaum lelaki itu kembali ke Madinah disertai salah seorang yang terpercaya dari tokoh Islam yaitu Mus'ab bin Umair di mana ia menjadi utusan Rasulullah saw di Madinah dan ia mengajari manusia tentang agama mereka dan membacakan kepada mereka Al-Qur'an dan menyerukan kebenaran kepada manusia sehingga tersebarlah  Islam  di  Madinah.  Penduduk  Madinah  mulai  bertanya-tanya, mengapa saudara- saudara kita kaum Muslim Mekah ditindas? Mengapa Rasul saw  keluar  untuk  berdakwah  dan  menebarkan  rahmat  tetapi  beliau  justru mendapatkan angin kebencian? Sampai kapan kita akan membiarkan Rasulullah saw teraniaya dan terusir di Mekah?

Demikianlah,  pergilah  tujuh  puluh  orang  ke  Mekah,  tujuh  puluh  orang  dari penduduk  Madinah  Munawarah.  Mereka  pergi  ke  'Aqabah  dalam  keadaan sendirian   dan   berkelompok-kelompok.   Islam   telah   menghasilkan   buah pertamanya dalam hati mereka sehingga hati mereka dipenuhi cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta kaum Muslim. Penderitaan yang dialami kaum Muslim mempengaruhi jiwa mereka dan mencegah mereka dari mendapatkan kenikmatan   tidur   dan   nikmatnya  memakan   dan   nikmatnya  kehidupan. Orang-orang  yang  baik  itu  datang  dan  berniat  kepada  Rasul  saw  untuk membela  beliau  menolongnya  dan  melindunginya  serta  siap  untuk  mati  di jalannya. Mereka datang setelah hati mereka diliputi oleh Islam dan mereka memberikan segala sesuatu untuk dakwah yang baru; mereka datang sebagai pencinta-pencinta kebenaran.

Kitab-kitab hadis yang suci meriwayatkan apa yang terjadi pada baiat 'Aqabah al-Kubra. Dalam kitab tersebut dikatakan bahawa Abbas Ibnu Abdul Muthalib datang bersama Nabi dan saat itu ia masih berada dalam agama kaumnya. Ia ingin menyelesaikan urusan anak pamannya. Ketika ia duduk dan berbicara, ia mengatakan suatu pernyataan yang mengisyaratkan bahawa Muhammad saw mendapatkan  kemuliaan  dari  kaumnya  dan  kekuatan  di  negerinya  tetapi  ia enggan  dan  memilih  untuk  bergabung  bersama  kalian  wahai  penduduk Madinah. Jika kalian memenuhi janjinya dan melindunginya, maka ambillah ia, namun jika kalian khawatir jika suatu saat nanti akan mengkhianatinya, maka mulai dari sekarang biarkanlah ia di negerinya.

Kata-kata Abbas tersebut berasal dari fanatisme kesukuan dan ikatan darah keluarga namun penduduk Madinah tidak begitu peduli dengan kalimat Abbas itu  kerana ia bukan  termasuk dari  agama  mereka dan  ia tidak mengetahui tingkat cinta kepada Rasul saw yang mereka capai. Abbas bin Abdul Muthalib menunggu jawapan dari penduduk Madinah. Lalu mereka berkata kepadanya, "Kami  telah  mendengar  apa  yang  engkau  katakan,  maka  berbicaralah  ya Rasulullah, ambillah untuk dirimu dan Tuhanmu apa saja yang engkau sukai."

Kita ingin mengamati jawapan sekelompok orang yang mukmin dari penduduk Madinah ini sehingga Rasulullah saw berbicara. Jawapan yang dicari oleh Abbas bin  Abu  Muthalib  tersembunyi  dalam  pernyataan  Nabi.  Demikianlah  setelah
Rasulullah  saw  mengucapkan  kalimatnya,  maka  tidak  keluar  penyataan  apa pun. Cukup hanya Nabi yang berbicara dan mereka hanya menaatinya. Mereka meminta kepada beliau agar mengambil pada dirinya dan Tuhannya apa saja yang beliau sukai; mereka merasa tidak memiliki apa-apa dan tidak memiliki keputusan. Nabi berbicara lalu beliau membaca Al-Qur'an dan mengajak ke jalan  Allah  SWT.  Kemudian  beliau  berbicara  tentang  Islam  dan  beliau membaiat  mereka  agar  membantu  beliau  sehingga  mereka  pun  membaiat kepadanya. Demikianlah terjadinya baiat 'Aqabah al-Kubra.

Orang-orang yang terpilih oleh Allah SWT itu mengetahui bahawa sebentar lagi mereka  akan  diajak  untuk  mengangkat  senjata:  mereka  diajak  untuk mendapatkan  kematian  di  bawah  naungan  pedang.  Mereka  menenangkan Rasulullah saw bahawa beliau akan mendapati orang-orang yang sudah terlatih dalam peperangan kerana mereka mewarisi dari datuk-datuk mereka.

Salah seorang dari tujuh puluh orang itu menyebutkan masalah yang penting. Abul  Haitsyam  berkata:  "sesungguhnya  di  antara  orang-orang  Madinah  dan Yahudi   terdapat   suatu   tali   ikatan,   maka   mereka   boleh   jadi   akan memutuskannya lalu, apakah sikap yang harus kita ambil jika mereka lakukan hal itu dan memusuhi orang-orang Yahudi," kemudian Allah SWT menolong Nabi dan  memenangkan  atas  kaumnya,  lalu  ia  kembali  kepada  mereka  dan meninggalkan mereka di bawah kasih sayang orang-orang Yahudi.

Perhatikanlah  bahawa  pertanyaan  tersebut  berkisar  pada  kecintaan  kepada Nabi dan keinginan agar Nabi tetap bersama mereka selama perjalanan hari dan bulan. Masalah yang dituntut oleh Abbas bin Abdul Muthalib secara jelas adalah masalah perlindungan mereka kepada Nabi, di mana hal tersebut tidak lagi  diperdebatkan  oleh  orang-orang  yang  terpilih  dari  penduduk  Madinah. Namun masalah yang mereka inginkan adalah masalah perlindungan Nabi dan keberadaan Nabi bersama mereka di Madinah.

Nabi   tersenyum   dan   beliau   mengatakan   kalimat-kalimat   yang   justru menekankan bahawa ikatan akidah lebih kuat daripada ikatan darah. Beliau berkata: "Tetapi darah adalah darah dan kehancuran adalah kehancuran. Aku dari  kalian  dan  kalian  dariku  aku  akan  memerangi  orang-orang  yang  kalian perangi  dan  aku  akan  berdamai  dengan  orang- orang yang kalian  berdamai dengan mereka."

Akhirnya, penduduk Madinah pergi dan kembali ke negeri mereka. Kemudian berita tentang baiat ini sampai ke telinga orang-orang Mekah dan para tokoh musyrik, lalu mereka justru menambah penekanan kepada Rasulullah saw dan kaum Muslim.

Para  preman  Mekah  berkumpul di  Darul Nadwah.  Mereka  menetapkan  akan mengambil sesuatu keputusan penting berkaitan dengan Nabi. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar beliau dibelenggu dengan besi lalu dibuang di penjara  sehingga  beliau  mati  kelaparan.  Sebahagian  lagi  mengusulkan  agar beliau  dibuang dari  Mekah  dan  diusir.  Abu Jahal mengusulkan  agar  mereka mengambil  dari  setiap  keluarga  dari  keluarga-  keluarga  Quraisy  seorang pemuda yang kuat, kemudian setiap dari mereka diberi pedang yang terhunus dan hendaklah mereka memukulkan pedang itu ke tubuh Nabi. Jika mereka berhasil  membunuhnya  nescaya  semua  kabilah  bertanggungjawab  terhadap darah sang Nabi dan Bani Hasyim tidak akan mampu menuntut dan memerangi orang Arab semuanya dan mereka akan menerima diat sebagai tebusan dari pembunuhan itu. Demikianlah persekongkolan itu digelar dan mereka sepakat untuk   melaksanakan   hal   itu.   Namun   Al-Qur'an   al-Karim   menyingkap persekongkolan yang dilakukan orang-orang kafir itu dalam firman-Nya:

"Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya terhadapmu untuk   menangkap   dan   memenjarakanmu   atau   membunuhmu,   atau mengusirmu.  Mereka  memikirkan  tipu  daya  itu.  Dan  Allah  sebaik-baih Pembalas tipu daya." (QS. al-Anfal: 30)

Allah SWT mewahyukan kepada Nabi-Nya agar ia berhijrah. Lalu Nabi mulai menyiapkan  sarana-sarana  untuk  hijrahnya.  Beliau  menyembunyikan  urusan tersebut bahkan beliau tidak memberitahu sahabat yang akan menemaninya. Rasulullah  saw  menyewa  seorang  penunjuk  jalan  yang  pengalaman  yang mengenal  padang  gurun   seperti   mengenal  garis-garis  tangannya.   Yang menghairankan penunjuk jalan itu adalah seorang musyrik. Demikianlah Nabi meminta bantuan kepada orang yang ahli tanpa memperhatikan keyakinannya.

Kemudian  datanglah  malam  pelaksanaan  kejahatan  itu.  Rasulullah  saw memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidumya di malam tersebut. Datanglah pertengahan malam dan Rasulullah saw pun keluar dari rumahnya.  Para  pemuda  Mekah  mengepung  rumah.  Mereka  menghunuskan pedangnya.  Nabi  menggenggam  tanah  lalu  beliau  melemparkannya  ke  arah kaum sehingga mereka pun merasa kantuk sehingga Nabi saw dapat menembus kepungan mereka.  Beliau keluar dari Mekah  dan berhijrah. Dengan langkah yang diberkati ini, kaum Muslim menanggali tahun-tahun mereka.

Tahun dalam Islam adalah tahun Hijrah, sedangkan kaum Masihi menanggali tahun  mereka  dengan  kelahiran  Isa  dan  ini  disebut  dengan  tahun  Masihi. Adapun tahun-tahun Islam, maka ia ditanggali pertama kalinya saat Rasulullah saw keluar berhijrah di jalan Allah SWT. Hijrah Rasul bukan hanya lari dari penindasan  tetapi  lari  dari  kebekuan;  hijrah  tersebut  bukan  keluar  dari keamanan   tetapi   keluar   dari   bahaya.   Islam   di   Mekah   hanya   dapat mempertahankan   dirinya   tetapi   ketika   ia   keluar   ke   Madinah   ia mempertahankan dirinya ketika menyerang. Dan selama beberapa tahun masa
yang dihabiskan  di  Mekah,  tak seorang dari  kaum  Muslim yang mengangkat senjata. Ketika mereka keluar ke Madinah, mereka mulai membawa senjata dan  mulai  menyalakan  obor  peperangan.  Islam  mulai  membawa  senjata sebagaimana  luka  akan  sembuh  dengan  syarat  jika  diubati.  Nabi  saw mengetahui  bahawa  Islam  tidak  akan  menghabiskan  usianya  hanya  untuk melawan serangan pada dirinya; Islam ingin tersebar; Islam ingin mendirikan negaranya  yang  pertama  yaitu  suatu  negara  yang  belum  pernah  dikenal  di muka bumi negara seperti itu. Negara yang mencapai keadilan, kasih sayang,
dan idealisme yang begitu luar biasa di mana hukum Allah SWT ditegakkan dan kehormatan manusia benar-benar dijaga.

Inilah  kedalaman  hijrah  yang  mengesankan  yaitu  pendirian  negara  Islam setelah  sebelumnya  membangun  individu  masyarakat  Muslim.  Setelah  Rasul saw  membangun  masyarakat  Muslim  dan  membangun  masjid,  maka  beliau membangun suatu negara Islam. Selanjutnya, sayap-sayap dakwah mengepak. Kami kira pembaca tidak akan bertanya, apa gunanya pembangunan masjid ditingkatkan  sementara  Islam  masih  mengalami  penindasan  di  muka  bumi. Kami kira pembaca lebih pintar daripada orang yang tidak mengetahui bahawa masjid yang dibangun Rasulullah saw di Madinah bukan tempat peristirahatan dari keletihan, tetapi masjid merupakan pusat dari kepemimpinan pergerakan Islam dan kepemimpinan menuju peperangan Islam.

Manusia mandi di masjid dengan cahaya Allah SWT setelah itu mereka mandi di kancah peperangan dengan darah mereka. Pertanyaannya adalah, siapakah di antara mereka yang akan terbunuh di jalan Allah SWT sebelum saudaranya? Demikianlah perlumbaan dalam perbaikan terjadi di antara mereka. Dengan cara demikianlah Islam tersebar.

Sementara itu, Nabi berlindung di suatu gua; di gunung yang bernama Tsur. Beliau  masuk ke  gua  itu  bersama  sahabatnya  Abu  Bakar.  Dan  orang-  orang musyrik pergi menyusul beliau dengan membawa pedang mereka. Lalu mereka sampai ke gunung itu. Abu Bakar berkata kepada Rasul saw dengan keadaan gelisah, "seandainya salah seorang mereka melihat di bawah kakinya nescaya mereka akan melihat kita."

Dengan tenang, Rasulullah saw menepis kegelisahan Abu Bakar dan berkata: "Wahai Abu Bakar apa yang kamu kira dengan dua orang yang ada di tempat yang sepi sementara Allah SWT menjadi ketiga di antara mereka?" Sebelum Rasulullah saw mengakhiri kalimatnya, terdapat laba- laba yang selesai dari menenun rumahnya di atas pintu gua. Kitab-kitab sejarah mengatakan bahawa kaum musyrik mengikuti jejak sang Nabi sehingga mereka sampai di gunung Tsur lalu di situlah mereka mengalami kebingungan. Mereka mendaki gunung dan  mendaki  gua  itu.  Lalu  mereka  melihat  di  atas  pintu  gua  itu  terdapat tenunan  laba-laba.  Mereka  mengatakan,  seandainya  seseorang  masuk  di dalamnya  nescaya  tidak  akan  terdapat  tenunan  laba-laba  di  atas  pintunya. Beliau tinggal di gua itu selama tiga malam.

Demikianlah  keimanan  tenunan  laba-laba  yang  lembut  dimenangkan  atas ketajaman  pedang  kaum  musyrik  sehingga  Nabi  bersama  sahabatnya  pun selamat. Kini, kedua orang itu menuju Madinah. Dan Madinah pun menyambut mereka. Ketika Rasulullah saw dan sahabatnya memasuki Madinah, mula-mula masyarakat tidak mengenal siapa di antara mereka yang menjadi Rasul kerana saking  baiknya  sikap  Rasul  terhadap  sahabatnya.  Akhirnya,  Nabi  menerangi kota  Madinah.  Beliau  membangun  masjid  dan  mendirikan  negaranya  serta memerangi musuh-musuhnya dan tersebarlah Islam dan Mekah pun ditaklukkan dan Baitul Haram disucikan.

Beliau menanamkan dalam akal dan hati suatu cahaya yang tidak akan pernah padam. Kemudian berlangsunglah sepuluh tahun yang dilewatinya di Madinah di  mana  beliau  tidak  menggunakannya  untuk  berleha-leha.  Demikian  juga selama masa tiga belas tahun yang beliau lalui  di Mekah, beliau pun tidak mendapatkan istirahat yang cukup. Semua kehidupan beliau hanya untuk Allah SWT dan hanya untuk Islam. Beban berat yang dipikul oleh punggung beliau yang mulia lebih berat dari beban yang dipikul oleh gunung. Meskipun beliau seorang diri, tetapi beliau mampu memikul amanat yang pernah Allah SWT tawarkan  kepada  langit  dan  bumi  serta  gunung  namun  mereka  pun  enggan untuk  memikulnya.  kerana  mereka  menyedari  bahawa  mereka  tidak  akan mampu memikulnya. Lalu datanglah beliau dan beliau pun mampu memikul amanat  itu  dan  melaksanakannya  secara  sempurna.  Yaitu  amanat  untuk menyampaikan agama Allah SWT; amanat untuk menyucikan akal manusia dari polusi khayalisme dan khurafatisme: amanat yang mewarnai kehidupan dengan hanya sujud kepada Allah SWT.

Kemudian mengalirlah dalam memori Nabi saw suatu arus dari gambar- gambar hidup: bagaimana saat beliau memasuki Madinah. Lewatlah di hadapan akal beberapa  memori  dan  nostalgia:  bagaimana  wahyu  yang  turun  kepadanya dengan membawa risalah di gua Hira, kemudian berubahlah pandangan dan bertiuplah angin kebencian kepadanya, bahkan angin itu membawa pasir-pasir tuduhan-tuduhan yang dilemparkan ke wajah suci beliau. Beliau berdiri sambil tersenyum  dan  hatinya  dipenuhi  dengan  kesedihan  di  hadapan  gelombang gurun dan kesendirian serta badai kesengsaraan. "Wahai manusia, tiada Tuhan selain Allah SWT. Demikianlah kalimat yang beliau katakan. Meskipun kalimat itu   tampak   sederhana   namun   ia   mampu   membangkitkan   dunia.   Dan bergeraklah patung-patung yang begitu banyak yang memenuhi kehidupan dan mereka membekali dirinya dengan kegelapan dan kebencian yang dialamatkan kepada  sang  Nabi.  Para  pembesar.  para  penguasa,  wang,  emas,  serta kebencian  dan  kedengkian  syaitan  yang  klasik  dan  banyaknya  orang-orang munafik,  semua  ini  menjadi  musuh  nyata  sang  Nabi  pada  saat  beliau mengatakan "tiada Tuhan selain Allah SWT." Nabi mengingat kembali Waraqah bin  Nofel  ketika  menceritakan  kepadanya  apa  yang  terjadi  dan  apa  yang dialami  beliau  di  gua  Hira.  Tidakkah  ia  mengatakan  kepadanya  bahawa
kaumnya akan mengusirnya?

Hari-hari  hijrah  sangat  panjang  dan  berat.  Matahari  sangat  dekat  dengan kepala dan rasa panas sangat mencekik tenggorokan dan rasa pusing- pusing pun  semakin  meningkat.  Setelah  hijrah,  Nabi  memasuki  Madinah.  Beliau disambut  oleh  kaum  Anshar  dengan  sambutan  luar  biasa.  Beliau  datang sendirian lalu mereka menolongnya; beliau datang dalam keadaan takut lalu mereka  mengamankannya;  beliau  datang  dalam  keadaan  lapar  lalu  mereka memberinya  makanan;  beliau  datang  dalam  keadaan  terusir  lalu  mereka memberikan perlindungan.

Bangunan  Islam  mulai  ditancapkan  di  Madinah.  Beliau  mulai  membangun negaranya  setelah  beliau  membangun  sumber  daya  manusia  Islam  yang tangguh. Yang pertama kali dibangunnya adalah sumber daya Islam, setelah itu beliau baru membangun negara. Tidak ada nilai yang bererti dari satu sistem yang  hanya  berdasarkan  prinsip-prinsip  besar  yang  tidak  lebih  dari  sekadar tinta di atas kertas. Penerapan prinsip-prinsip adalah tolok ukur final dari nilai apa pun yang diperlakukan di dunia. Dan Islam telah berhasil menerapkan pada masa-masa  pertamanya  suatu  sistem  yang  belum  pernah  dikenal  dalam kehidupan manusia suatu sistem seperti itu. Yaitu sistem yang menunjukkan keadilan,  persaudaraan,  dan  kasih  sayang  yang  mengagumkan.  Hal  yang pertama kali dilakukan Rasulullah saw adalah membangun masjid di mana di situlah  unta  yang  ditungganginya  berhenti.  Masjid  itu  tampak  sederhana. Tikarnya  terdiri  dari  pasir-pasir  dan  batu-batu.  Tiangnya  terbuat  dari batang-batang kurma. Barangkali ketika turun hujan, maka
tanahnya akan menjadi lumpur kerana mendapat siraman air hujan. Mungkin ketika angin bertiup dengan kencang, maka ia akan mencabut sebahagian dari atapnya.

Di bangunan yang sederhana ini, Rasulullah saw mendidik generasi Islam yang tangguh yang dapat menghancurkan orang-orang yang lalim dan para penguasa yang bejat dan mereka mampu mengembalikan kebenaran ke singgahsananya yang terusir dan terampas. Mereka mampu menyebarkan Islam di muka bumi. Masjid  itu  tampak  kecil  dan  sederhana  sekali  tetapi  ia  dipenuhi  dengan kebesaran; masjid itu tidak menunjukkan kemewahan sama sekali. Di dalamnya Al-Qur'an  dibaca  lalu  orang-orang  yang  mendengarnya  menganggap  bahawa mereka  benar  dan  mendapatkan  perintah  harian  untuk  menerapkan  dan melaksanakan apa- apa yang mereka dengar.

Al-Qur'an  dibaca  di  masjid  bukan  seperti  nyanyian  yang  orang-orang  duduk akan merasa terpengaruh dengan keindahan nyanyian dan suara pembaca. Dan masjid di dalam Islam bukanlah tempat satu-satunya untuk ibadah. Menurut kaum  Muslim  semua  bumi  adalah  masjid  namun  masjid  adalah  simbol peradaban  yang beriman  kepada Allah  SWT dan  hari  akhir, sebagaimana ia menyuarakan ilmu, kebebasan dan persaudaraan.

Semua Nabi berbicara tentang persaudaraan dan mengajak kepadanya dengan ribuan kata-kata. Sedangkan Rasulullah saw telah mewujudkan persaudaraan itu secara praktis, yakni ketika karakter masyarakat saat itu mencerminkan Al-Qur'an. Nabi mulai mempersaudarakan kaum muhajirin dan Anshar di mana sahabat  Anshar  Sa'ad bin  Rabi',  seorang kaya  dari  Madinah  dipersaudarakan dengan  Abdul  Rahman  bin  'Auf,  seorang  yang  berhijrah  dari  Mekah.  Sa'ad berkata kepada Abdul Rahman: "Sesungguhnya, tanpa bermaksud sombong, aku memang  memiliki  harta  yang  banyak  daripada  kamu.  Aku  telah  membagi hartaku menjadi dua bahagian dan sebahagiannya aku peruntukan bagimu. Lalu aku mempunyai dua orang wanita, maka lihatlah siapa di antara mereka yang mampu   memikatmu   sehingga   aku   menceraikannya   lalu   engkau   dapat menikahinya." Abdul Rahman bin 'Auf menjawab: "Mudah-mudahan Allah SWT memberkatimu,  keluargamu,  dan  hartamu.  Di  manakah  pasar  yang  engkau berdagang di dalamnya?"

Abdul Rahman bin 'Auf keluar menuju ke pasar untuk bekerja. Ia kembali dan membawa sesuatu yang dapat dimakannya. Ia menolak dengan lembut sikap baik Sa'ad dan kedermawanannya. Ia bersandar pada keimanan kepada Allah SWT dan lebih memilih untuk bekerja dan membanting tulang. Tidak berlalu hari demi hari kecuali ia tetap bekerja sehingga ia mampu untuk membekali dirinya dan melaksanakan pernikahan.

Demikianlah  masyarakat  Islam  terbentuk  dan  menampakkan  identitinya berdasarkan  cinta,  kebebasan,  musyawarah,  dan  jihad.  Pekerjaan  menurut Islam bukan suatu penderitaan untuk mendapatkan roti atau potongan daging sebagaimana  dikatakan  peradaban  kita  masa  kini,  tetapi  pekerjaan  dalam Islam melebihi ruang lingkup materi ini dan menuju puncak yang lebih tinggi:

"Dan  katakanlah:  'Bekerjalah  kamu,  maka  Allah  dan  Rasul-Nya  serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu. " (QS. at-Taubah: 105)

Kesedaran  bahawa  apa  yang  kita  kerjakan  akan  di  lihat  oleh  Allah  SWT menjadikan pekerjaan itu mendapat cita rasa yang lain. Yaitu suatu rasa yang melampaui nikmatnya memakan roti dan daging. Setelah bekerja, datanglah cinta. Cinta dalam Islam bukan hanya perasaan yang menetap dalam hati dan tidak diwujudkan oleh suatu perbuatan; cinta dalam Islam merupakan langkah harian yang akan mengubah bentuk kehidupan di sekitar manusia menuju yang lebih tinggi dan mulia.

Seorang  Muslim  mencintai  Tuhannya  Pencipta  alam  semesta  dan  mencintai Rasulullah saw dan mencintai  kaum Muslim dan orang-orang yang berdamai dengan orang-orang Muslim, meskipun keyakinan mereka berbeza dengannya. Bahkan seorang Muslim mencintai makhluk secara keseluruhan: ia mencintai anak-anak, haiwan, bunga, pasir dan gunung bahkan benda-benda mati pun mendapat  cinta  dari  seorang  Muslim.  Seorang  Muslim  jika  dia  benar-benar seorang Muslim akan merasakan cinta yang dialami oleh Nabi Daud terhadap alam  dan  lingkungan  di  sekitarnya.  Ini  adalah  perasaan  sufi  yang  tinggi. Seorang Muslim akan mewarisi cinta yang sebenarnya seperti yang diwarisi Nabi Isa terhadap lingkungan yang baik yang ada di sekitarnya di mana ketika Nabi Isa  melihat  tubuh  anjing  yang  mati,  maka  Nabi  Isa  tidak  melihat  selain keputihan giginya.

Demikianlah cinta yang tersebar dalam kehidupan kaum Muslim di mana cinta itu pun tertuju kepada binatang dan benda-benda mati. Cinta demikian ini tidak  akan  terwujud  dengan  suatu  keputusan  dan  tidak  ditetapkan  dengan suatu undang-undang, tetapi cinta itu datang biasanya akibat dari kepuasaan akal  dan  hati  dengan  adanya  kepemimpinan  besar  yang  hati  cenderung kepadanya   dan   akal   mengambil   darinya.   Dan   yang   dimaksud   dengan kepemimpinan  besar  tersebut  adalah  keberadaan  sang  Nabi.  Beliau  adalah cermin terbesar dari tingkat cinta yang tertinggi. Beliau adalah seorang yang paling banyak berbuat  demi  Islam  dan  paling banyak sedikit mengharapkan balasan darinya. Meskipun beliau seorang pemimpin namun beliau hidup dalam kesederhanaan. Beliau adalah seorang tentera yang paling sederhana. Tempat tidurnya  bersih  tetapi  kasar,  dan  rumahnya  tidak  menampakkan  kesibukan yang   di   dalamnya   memasak   berbagai   macam   hidangan.   Beliau   justru menyiapkan hidangan yang sangat sederhana. Makanan utama beliau adalah roti  kering  yang  dicampur  dengan  minyak.  Keinginan  besar  beliau  adalah tersebarnya dakwah Islam.

Kaum  Muslim  menyedari  bahawa  kesempurnaan  Islam  tidak  akan  terwujud kecuali ketika cinta Allah SWT dan Rasul- Nya lebih didahulukan daripada cinta diri sendiri, cinta kepada wanita, cinta kepada anak, kepentingan, kekuasaan, kehidupan, dan apa saja yang tidak ada hubungannya dengan Allah SWT dan Rasul-Nya. Demikianlah kaum Muslim sangat mencintai pemimpin mereka lebih dari  kehidupan  peribadi  mereka.  Di  samping  pekerjaan  dan  cinta  tersebut, didirikanlah pemerintahan Islam yang berdasarkan kaedah-kaedah kebebasan, musyawarah dan jihad.

Kebebasan dalam Islam bukan sekadar perhiasan yang dilekatkan kepada tubuh Islam tetapi ia merupakan tenunan dari sel-sel yang hidup itu. Allah SWT telah membebaskan  kaum  Muslim  dari  penyembahan  selain  dari-Nya.  Dengan demikian,  runtuhlah  semua  belenggu  yang  hinggap  di  atas  akal,  hati,  dan masyarakat. Seorang Muslim memiliki  - dalam Islam  - suatu kebebasan yang diberikan kepadanya agar ia melihat sesuatu dengan akalnya dan mendebat segala sesuatu dengan akalnya. Dan hendaklah ia merasa puas dengan sesuatu yang dapat menenteramkan hatinya. Kebebasan dalam Islam bukan kebebasan mutlak  yang  menjurus  kepada  anarkisme  dan  diskriminasi  tetapi  kebebasan dalam Islam adalah kebebasan yang bertanggungjawab.

Dalam ruang lingkup nas-nas yang pasti yang terdapat dalam Al-Qur'an atau sunah tidak ada kebebasan di hadapan orang Muslim selain kebebasan untuk berlumba-lumba  untuk  menerapkan  apa  yang  mereka  fahami.  Selain  itu, seorang bebas sampai tidak terbatas, dan pintu ijtihad tetap terbuka sampai tidak ada batasnya, kerana pintu ijtihad adalah akal dan menutup pintu ijtihad yakni menutup akal dan itu bererti akan membawa kematian baginya. Islam tidak menerima orang-orang yang mati akalnya atau mengalami kemunduran; Islam pada hakikatnya memperlakukan manusia dari sisi akal dan hati.

"Adalah   untukmu,   sedang   kamu   menginginkan   bahawa   yang   tidak mempunyai  kekuatan  senjatalah  yang  untukmu,  dan  Allah  menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir." (QS. al-Anfal: 7)

Orang-orang  Islam  kerana  kekafiran  mereka  dan  kebutuhan  mereka  serta situasi ekonomi yang memburuk, mereka ingin bertemu dengan pasukan yang tidak  bersenjata;  mereka  ingin  bertemu  dengan  kafilah  yang  kaya,  bukan pasukan  yang  bersenjata;  mereka  membutuhkan  harta  untuk  menyebarkan dakwah. Namun Allah SWT menginginkan mereka dengan keadaan seperti itu agar  mereka  berhadapan  dengan  pasukan  kafir  dan  agar  mereka  mampu memutus tali kekuatan orang-orang kafir sehingga kebenaran akan menang.

Keluarlah orang-orang Muslim dalam peperangan Badar dengan membayangkan bahawa mereka akan mendapatkan keuntungan dan kesenangan dengan banyak mengambil ganimah. Namun Allah SWT menginginkan terjadinya peperangan
yang berat, di mana itu berakibat pada jatuhnya tokoh-tokoh kaum kafir Mekah sebagai  korban  darinya  dan  agar  Madinah  dapat  menahan  penderitaan  dan kefakiran  yang  dialaminya.  Seharusnya  pengikut  Islam  tidak  membayangkan untuk mengambil keuntungan tetapi ia justru harus memberi kepadanya.

Nabi mengetahui sebagai pemimpin pasukan ia harus mengingatkan pasukannya bahawa mereka akan menemui kesulitan dan penderitaan, dan bukan masalah sepele   seperti   yang   mereka   bayangkan.   Nabi   bermusyawarah   dengan sahabat-sahabat. Beliau berbincang-bincang dengan Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khattab, dan Miqdad bin Amr. Lalu mereka semua sepakat untuk terus melakukan peperangan apa pun hasilnya dan apa pun pengorbanan yang harus dilakukan.

Kemudian  Rasulullah  saw  berkata:  "Wahai  para  sahabat,  tunjukkanlah  diri kalian." Rasulullah saw mengisyaratkan kepada kaum Anshar. Rasulullah saw khawatir jika mereka memahami bahawa baiat yang terjadi di antara mereka yang berisi agar mereka melindungi beliau jika beliau diserang di Madinah saja, dan memang pasal-pasal dari baiat itu mendukung hal itu. Tidakkah mereka mengatakan kepada beliau: "Ya Rasulullah, kami tidak akan bertanggungjawab kepadamu  sehingga  engkau  sampai  di  negeri  kami.  Jika  engkau  sampai  di negeri kami, maka kami akan bertanggungjawab untuk melindungimu."

Majoriti pasukan terdiri dari orang-orang Anshar, maka Rasulullah saw ingin mengetahui keputusan majoriti tentera sebelum dimulainya peperangan. Kaum Anshar  mengetahui  bahawa  Rasul  saw  ingin  mengetahui  pendapat  kaum Anshar.  Oleh  kerana  itu,  Sa'ad  bin  'Auf  berkata:  "Demi  Allah,  seakan-akan engkau menginginkan kami ya Rasulullah." Nabi menjawab, "benar." Kemudian kaum Anshar menyatakan apa yang mereka rasakan.

Mendengar pernyataan kaum Anshar itu hilanglah kekhuatiran dan ketakutan Nabi,  bahkan  beliau  bergembira  dan  wajahnya  berseri-seri.  Rasulullah  saw telah mendidik mereka berdasarkan Islam dan Islam tidak mengenal pasal-pasal perjanjian namun ia justru tenggelam dalam esensinya dan kedalamannya yang jauh.  Kaum  Anshar  meyakinkan  Nabi  bahawa  mereka  benar-benar  beriman kepadanya,  mencintainya  dan  akan  mendengarkan  apa  saja  yang  beliau katakan serta akan benar-benar mentaati beliau.

Sa'ad bin Mu'ad berkata: "Ya Rasulullah, lakukanlah apa yang engkau inginkan dan kami akan bersamamu. Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, seandainya  engkau  membelah  lautan  lalu  engkau  menyelam  di  dalamnya nescaya  kami  akan  menyelam  bersamamu  dan  tidak  ada  seseorang  pun  di antara kami yang akan meninggalkanmu." Demikianlah keteguhan kaum Anshar. Kalimat tersebut menetapkan peperangan paling penting dan paling berbahaya dalam sejarah Islam.

Perasaan kaum Anshar dan Muhajirin dalam pasukan Rasul saw sangat berbeza dengan perasaan Nabi Musa ketika mereka mengatakan kepadanya, "pergilah engkau wahai Musa bersama Tuhanmu dan berperanglah, sesungguhnya kami di sini  hanya  duduk-duduk  saja."  Namun  kaum  Muslim  menyatakan  bahawa seandainya  Rasul  saw  memerintahkan  mereka  untuk  melalui  lautan  dengan berjalan  kaki  di  atas  ombaknya  nescaya  mereka  akan  melakukan  hal  itu walaupun berakibat pada tenggelamnya mereka dan kematian mereka dan tak seorang pun yang akan menentang perintah Rasul saw tersebut.

Akhirnya, kaum Muslim bersiap-siap untuk memasuki kancah peperangan lalu mereka   membuat   khemah-khemah   yang   di   situ   ditentukan   tempat peristirahatan dan pergerakan tentera Islam. Tempat itu ditentukan oleh Rasul saw. Allah SWT membiarkan Rasul-Nya melakukan kesalahan dalam memilih tempat sehingga itu akan dapat menjadi pelajaran bagi kaum Muslim dalam kaedah umum dari kaedah-kaedah peperangan yaitu sikap pemimpin pasukan untuk mengambil suatu kebijakan yang penting yang berdasarkan pengalaman. Kemudian datanglah Habab bin Mundzir kepada Rasulullah saw dan bertanya kepadanya,  "apakah  tempat  yang  kita  jadikan  sebagai  pusat  pergerakan tentera kita merupakan pilihan dari Allah SWT dan Rasul-Nya hingga kita tidak dapat mendahuluinya dan mengakhirinya yakni kita tidak dapat memberikan pendapat  kita  ataukah  itu  hanya  masalah  yang  bersifat  teknik  yakni  itu terserah  pada  pendapat  kita  dan  sesuai  kebijakan  saat  perang  dan  ia merupakan tipu daya semata?"

Rasulullah saw berkata: "Tetapi itu adalah pendapat peribadi, peperangan, dan tipu daya." Habab berkata: "Ya Rasulullah ini adalah tempat yang tidak tepat." Sahabat yang sarat pengalaman ini memilih tempat di mana pasukan Madinah dapat  minum  darinya  sedangkan  pasukan  Mekah  tidak  dapat  mengambil darinya. Kemudian berpindahlah pasukan Muslim menuju tempat yang telah ditentukan oleh pengalaman militer.

Sampailah pasukan Mekah di mana jumlah mereka mendekati seribu tentera dan mereka akan berhadapan dengan tiga ratus tujuh belas pasukan Muslim. Pasukan Quraisy berada di tempat yang jauh dari lembah.

Pasukan  kafir terdiri  dalam perang Badar  dari  pemuka-pemuka  Quraisy dan pahlawan-pahlawan   mereka,   sedangkan   pasukan   Muslim   terdiri   dari keluarga-keluarga, ipar-ipar dan keluarga dekat dari pasukan kafir. Allah SWT telah  menentukan  agar  seorang  anak  bertemu  dengan  ayahnya,  saudara bertemu  dengan  sesama  saudara  dan  sesama  ipar  bertemu  di  medan peperangan. Mereka semua dipisahkan dengan suatu prinsip di mana mereka ditentukan oleh pedang. Akhirnya, peperangan Badar pun terjadi dan kaedah utama adalah kaedah persaudaraan sesama Muslim. Dan ketika pasukan Muslim berpegang teguh di atas dasar Islam, maka pasukan kafir mulai terpecah belah namun keadaan tersebut mereka sembunyikan.

Lalu  'Utbah  bin  Rabi'ah  berbicara  di  tengah-tengah  pasukan  Mekah  dan mengajak mereka untuk menarik kembali dari peperangan. 'Utbah memberikan pernyataan  sesuai  dengan  tuntutan  akal  sehat,  "wahai  orang-orang  Quraisy demi  Allah,  jika  kalian  harus  memerangi  Muhammad,  maka  kalian  akan menyesal kerana kita berhadapan dengan saudara- saudara kita sendiri. Boleh jadi kita akan membunuh anak paman kita, atau salah seorang dari kerabat kita. Mengapa kalian tidak membiarkannya saja?"

Kalimat  yang  rasional  tersebut  cukup  menggoncangkan  pasukan  Mekah. Sebahagian tentera merasa puas dengan pernyataan tersebut kerana mereka melihat bahawa tidak ada gunanya peperangan itu. Namun kebodohan justru memadamkan  kalimat  yang  rasional  itu.  Abu  Jahal  menuduh  bahawa  yang mengucapkan kata-kata adalah orang yang penakut. Kemudian Abu Jahal lebih memilih pendapatnya untuk menetapkan terus memerangi kaum Muslim.

Pemimpin pasukan kafir yaitu Abu Jahal mengetahui bahawa Muhammad tidak pernah  berbohong.  Kitab-kitab  sejarah  menceritakan  bahawa  Akhnas  bin Syuraif menyendiri dalam perang Badar bersama Abu Jahal sebelum terjadinya peperangan tersebut dan bertanya kepadanya, "wahai Abul Hakam, tidakkah engkau melihat bahawa Muhammad pernah berbohong? Abul Hakam menjawab: "Bagaimana   mungkin   ia   berbohong   atas   Allah,   sedangkan   kami   telah
menamainya  al-Amin  (orang  yang  dapat  dipercayai)."  Peperangan  tersebut bukan  sebagai  usaha  untuk  mendustakan  Rasul  saw  tetapi  itu  hanya semata-mata  untuk  menjaga  kepentingan-kepentingan  sesaat  dan  keadaan ekonomi.  Demikianlah  orang-orang  kafir  mempertahankan  nilai  yang  paling rendah  yang  ada  di  muka  bumi  yang  juga  dipertahankan  oleh  binatang, sementara  kaum  Muslim  justru  mempertahankan  nilai  yang  paling  tinggi  di bumi dan di langit yang ikut serta di dalamnya para malaikat.

Kemudian datanglah waktu malam menyelimuti dua kubu. Tiga ratus tentera yang  mukmin  sudah  bersiap-siap  dan  mendekati  seribu  tentera  musyrik. Orang-orang  musyrik  datang  dengan  menunggangi  tunggangan  mereka  dan tampak mereka memiliki persenjataan yang lengkap, sedangkan setiap orang

Muslim  datang  di  atas  satu  kenderaan.  Pakaian  yang  dipakai  orang-orang musyrik tampak masih baru dan pedang-pedang mereka tampak mengilat serta baju  besi  yang  mereka  gunakan  sangat  unggul  dan  kuat.  Alhasil,  mereka memiliki persiapan yang sangat mengagumkan sedangkan pakaian yang dipakai orang-orang Muslim tampak sudah usang dan pedang-pedang kuno pun mereka gunakan dan baju besi yang mereka gunakan tampak tidak sempurna.

Nabi  melihat  keadaan  pasukannya  lalu  hati  beliau  tampak  sedih  melihat pasukan tersebut. Beliau berdoa kepada Tuhannya: "Ya Allah, Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang lapar, maka kenyangkanlah mereka. Ya Allah, sesungguhnya  mereka  adalah  orang-  orang  yang  tanpa  alas  kaki,  maka tolonglah  mereka. Ya Allah, Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak berpakaian, maka berilah mereka pakaian."

Kemudian  rasa  kantuk  menghinggapi  mata  kedua  pasukan  lalu  mereka beristirahat  di  tengah-tengah  malam.  Jatuhlah  hujan  kecil  yang  membuat tempat itu basah sehingga kelembapan mengitari kaum Muslim. Hujan tersebut membasuh tanah perjalanan dan menghilangkan debu- debu kepayahan serta menyucikan hati dan membangkitkan kepercayaan atas kemenangan dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

"(Ingatlah),  ketika  Allah  menjadikan  kamu  mengantuk  sebagai  suatu penenteram  dari-Nya,  dan  Allah  menurunkan  hujan  dari  langit  untuk menyucikan  kamu  dengan  hujan  itu  dan  menghilangkan  dari  kamu gangguan-gangguan    syaitan    dan    untuk    menguatkan    hatimu    dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)." (QS. al-Anfal: 11)

Datanglah waktu pagi di Badar lalu kaum Quraisy mulai menyerang, lalu Nabi memerintahkan pasukan Muslim untuk bertahan. Rasulullah saw bersabda: "Jika musuh mengepung kalian, maka usirlah mereka dengan panah dan janganlah kalian menyerang mereka sehingga kalian diperintahkan."

Demikianlah ketetapan militer yang sangat jitu yang bererti hendaklah kaum Muslim  membentengi  mereka  di  tempat-tempat  mereka  agar  orang-orang musyrik  mendapatkan  kerugian  dari  serangan  yang  mereka  lakukan.  Kita mengetahui  dari  ilmu  militer  saat  ini  bahawa  seorang  yang  menyerang memerlukan tiga atau tiga kali lipat dari jumlah yang biasa dilakukan sehingga serangannya  betul-betul  efektif;  kita  mengetahui  bahawa  jumlah  pasukan musyrik tiga kali lipat dibandingkan dengan tentera Muslim. Kaum musyrik di lihat dari segi jumlah sangat memadai untuk memenangkan peperangan, dan persenjataan mereka lebih lengkap dari persenjataan kaum Muslim. Jumlah haiwan yang mereka miliki pun sama dengan jumlah mereka, sedangkan tiap tiga orang Muslim berperang di atas satu tunggangan.

Keadaan   saat   itu   sangat   menguntungkan   kaum   musyrik.   Tanda-tanda kemenangan  tampak  menyertai  bendera  kaum  musyrik,  tetapi  kemenangan peperangan bukan kerana kebesaran jumlah pasukan dan persenjataan yang lengkap. Terkadang peperangan justru dimenangkan oleh unsur spirituil yang tidak  kelihatan.  Spirituil  tentera  dan  keimanannya  tentang  persoalan  yang dipertahankannya  serta  keinginannya  untuk  mendapatkan  dua  kebaikan: kemenangan atau kematian dan hasratnya yang tinggi untuk meneguk madu syahadah, semua itu dapat mengubah seorang tentera menjadi makhluk yang tidak terkalahkan.  Boleh jadi ia akan merasakan kematian tetapi jauh  dari kekalahan. Demikianlah keadaan pasukan Muslim.

Sementara itu debu-debu berterbangan di atas kepala pasukan yang bertempur dan  kaum  Muslim  mencurahkan  tenaga  yang  keras  dalam  peperangan  itu. Ketika dua pasukan saling bertemu dan bertempur, Nabi saw melihat mereka, lalu  Nabi  saw  menyaksikan  pasukannya  terjepit.  Pasukan  yang  berjumlah sedikit dengan persenjataan yang tidak lengkap itu kini ditekan oleh orang kafir.  Dalam  keadaan  demikian,  Nabi  saw  meminta  pertolongan  kepada Tuhannya:  'Ya  Allah,  kirimkanlah  bantuan  dan  pertolongan-Mu.  Ya  Allah, wujudkanlah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, jika kelompok ini dihancurkan, maka Engkau  tidak  akan  disembah  setelahnya  di  muka  bumi."  Renungkanlah, bagaimana kesedihan Nabi saat terjadi peperangan itu. Oleh kerana itu, kita dapat memahami mengapa Nabi saw meminta agar pasukannya dimenangkan.

Pemimpin pasukan tertinggi Muhammad bin Abdillah keluar berperang di jalan Allah SWT dan saat ini kematian sedang mengitari kaum Muslim, lalu apa yang difikirkan oleh Nabi saw pada keadaan yang sulit tersebut? Pemikiran Nabi saw melebihi hal yang sekarang dan menuju pada hal yang akan datang, dan yang menjadi fokus Nabi adalah penyembahan Allah SWT di muka bumi: "Ya Allah, jika kelompok ini dihancurkan, maka Engkau tidak akan disembah setelahnya di muka bumi."


Nabi tidak terlalu mengkhuatirkan kehancuran kaum Muslim kerana Nabi justru mengkhuatirkan  sesuatu  yang  lebih  besar  dari  itu.  Yang  beliau  khuatirkan adalah  penyembahan  kepada  Allah  SWT  akan  berhenti  di  muka  bumi.  Oleh kerana itu, Nabi meminta tolong kepada Tuhannya dan mengingatkan kembali kepada Tuhannya dan Allah SWT lebih tahu dari hal itu. Kemudian turunlah bala tentera malaikat yang dipimpin oleh Jibril.

Allah SWT berfirman:

"(Ingatlah),  ketika  kamu  memohon  pertolongan  kepada  Tuhanmu,  lalu diperkenankan-Nya  bagimu:  'Sesungguhnya  Aku  akan  mendatangkan  bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.' Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bantuan itu), melainkan sebagai khabar  gembira  dan  agar  hatimu  menjadi  tenteram  kerananya.  Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. al-Anfal: 9-10)

Setelah itu Nabi saw menghampiri sahabat Abu Bakar dan berkata: "Sampaikan berita  gembira  wahai  Abu  Bakar,  sesungguhnya  telah  datang  kepadamu bantuan dari Allah SWT."

Turunnya para malaikat merupakan cara untuk meneguhkan kaum Muslim dan berita gembira kepada mereka. Mukjizat itu bukan terletak pada penyertaan para malaikat dalam peperangan, namun melalui nas-nas ditegaskan bahawa peranan  malaikat  tidak  lebih  dari  sekadar  membawa  berita  gembira  dan memberikan dukungan moril serta memenuhi hati dengan ketenangan. Kami kira bahawa Allah SWT ingin agar para malaikat menyaksikan manusia-manusia malaikat yang mempertahankan akidah tauhid.

Demikianlah  Allah  SWT  mewahyukan  kepada  malaikat  bahawa  Dia  bersama mereka. Oleh kerana itu, hendaklah orang-orang yang beriman merasa tenang dan kebenaran akan tertancap pada hati mereka sedangkan orang-orang kafir pasti akan merasakan ketakutan.

Allah SWT berfirman:

"(Ingatlah),   ketika   Tuhanmu   mewahyukan   kepada   para   malaikat:
'Sesungguhnya   Aku   bersama   kamu,   maka   teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.' Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke  dalam  hati  orang-orang  kafir,  maka  penggallah  kepala  mereka  dan pancunglah  tiap-tiap  ujung  jari  mereka. (Ketentuan)  yang  demikian  itu adalah kerana sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barang  siapa  menentang  Allah  dan  Rasul-Nya,  maka  sesungguhnya  Allah amat  keras  seksaan-Nya.  Itulah  (hukum  dunia  yang  ditimpakan  atasmu), maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab neraka." (QS. al-Anfal: 12-14)

Lalu  orang-orang  kafir  pun  mengalami  kekalahan.  Setelah  peperangan  itu, terbunuhlah  tujuh  puluh  kafir  dan  tujuh  puluh  tawanan  dari  mereka  dan sebahagian  pasukan  melarikan  diri.  Runtuhlah  tokoh-tokoh  kebencian  dan kelaliman di peperangan tersebut. Hancurlahlah Abu Jahal, pemimpin pasukan, dan pahlawan-pahlawan Mekah kini terkapar.

Rasulullah saw berdiri di depan bangkai-bangkai orang-orang kafir dan berkata:
"Wahai Utbah bin Rabi'ah, wahai Syaibah bin Rabi'ah, wahai Umayah bin Khalf, wahai Abu Jahal bin Hisam, apakah kalian menemukan apa yang dijanjikan oleh  tuhan  kalian  kepada  kalian.  Sungguh  aku  telah  menemukan  apa  yang dijanjikan  Tuhanku."  Orang-orang  Muslim  berkata:  "Ya  Rasulullah,  apakah engkau memanggil kaum yang sudah mati?" Rasulullah berkata: "Kalian tidak mengetahui apa yang aku katakan kepada mereka, tetapi mereka tidak mampu menjawab perkataanku." Rasulullah saw tinggal tiga malam di Badar kemudian beliau kembali ke Madinah. Di depan beliau terdapat tawanan-tawanan perang dan ganimah.

Kaum  Muslim  sangat  menanggung  beban  berat  dengan  banyaknya  tawanan perang. Mula-mula Rasulullah saw bermusyawarah dengan sahabat Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar berkata: "Ya Rasulullah, mereka adalah keturunan dari saudara-saudara dan keluarga, dan aku melihat lebih baik engkau mengambil fidyah (tebusan)  dari  mereka  sehingga  apa  yang  engkau  ambil  tersebut merupakan    kekuatan    bagi    kita    terhadap    orang-orang    kafir,    dan mudah-mudahan Allah SWT memberi petunjuk kepada mereka sehingga mereka menjadi tulang punggung kita."

Kemudian Rasulullah saw menoleh kepada Umar bin Khattab sambil berkata, "bagaimana pendapatmu wahai Ibnul Khattab?" Lelaki itu berkata: "Demi Allah, aku  tidak  sependapat  dengan  apa  yang  dikatakan  Abu  Bakar  tetapi  aku berpendapat,  seandainya  aku  mampu  untuk  bertemu  dengan  salah  seorang kerabatku,  maka  aku  akan  memukul  lehernya,  dan  seandainya  Ali  mampu bertemu  dengan  keluarganya,  maka  ia  pun  akan  memukul  lehernya  begitu Hamzah  sehingga  Allah  SWT  mengetahui  bahawa  tidak  ada  di  hati  kita kelembutan kepada kaum musyrik."

Pasukan  Madinah  dan  pasukan  Mekah  terdiri  dari  keluarga-keluarga  yang terikat  hubungan  kekerabatan,  namun  kehendak  Allah  SWT  menetapkan terjadinya peperangan sesama keluarga: antara anak dan orang tuanya. Umar menginginkan  agar  keadaan  demikian  terus  berlanjut  sehingga  orang-orang musyrik mengetahui bahawa Islam tidak ingin berdamai. Kemudian Selesailah urusan itu dan terjadi peperangan di jalan Allah SWT dan mengangkat senjata dan berperang adalah suatu kewajipan yang tiada keraguan di dalamnya. Nabi saw menoleh kepada kaum Muslim dan mendapati sebahagian besar mereka cenderung kepada pendapat Abu Bakar. Nabi saw mengikuti pendapat majoriti saat itu. Pendapat majoriti salah dan hanya Umar yang benar.

Ini adalah peperangan pertama yang dilalui oleh Islam. Hendaklah kaum Muslim harus meninggalkan dorongan kemanusiaan mereka, yakni orang- orang kafir harus dibunuh agar musuh-musuh Allah SWT mengetahui bahawa Islam telah memilih darah. Allah SWT telah mendukung Umar bin Khattab dalam Al-Qur'an sehingga  Nabi  saw  dan  Abu  Bakar  menangis  ketika  keduanya  menyedari kesalahan mereka pada hari berikutnya, lalu Umar memergoki mereka dalam keadaan menangis dan ia bertanya, "apa yang menyebabkan Rasulullah saw dan temannya di gua menangis?" Kemudian Rasulullah saw membaca Al-Qur'an:

"Tidak  patut  bagi  seorang  Nabi  mempunyai  tawanan  sebelum  ia  dapat melumpuhkan  musuhnya  di  muka  bumi.  Kamu  menghendaki  harta  benda duniawi  sedangkan  Allah  menghendaki (pahala)  akhirat (untukmu).  Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, nescaya kamu ditimpa seksaan yang besar kerana tebusan yang kamu ambil." (QS. al-Anfal: 67-68)

Kedua ayat itu mengatakan bahawa ini bukan saatnya melindungi para tawanan dan berusaha untuk menebus mereka. Waktu Demikian belum saatnya. Nabi tidak  berhak  memiliki  tawanan  kecuali  jika  ia  telah  melakukan  banyak peperangan dan banyak berjihad dan telah banyak membunuh dan dakwahnya telah mapan.

Kedua ayat tersebut menyingkap tujuan di balik penebusan tawanan: "Kamu menghendaki  harta  benda  duniawi  sedangkan  Allah  menghendaki                (pahala)akhirat (untukmu)."

Demikianlah pemikiran yang mempertimbangkan keadaan-keadaan aktual yang sulit.  Itu  adalah  pemikiran  yang  bersifat  taktik  sebagaimana  yang  kita ungkapkan dalam istilah moden dan bukan pemikiran yang bersifat strategis. Kemudian para tawanan tersebut bukan tawanan biasa tetapi menurut istilah moden  mereka  adalah  penjahat-penjahat  perang.  Oleh  kerana  itu,  nyawa mereka harus ditumpahkan saat mereka dapat ditangkap, meskipun mereka memiliki  kekayaan  yang  banyak  atau  kedudukan  yang  tinggi.  Islam  tidak mengakui  kekayaan  atau  kedudukan,  yang  diakuinya  adalah  keimanan, sedangkan pertimbangan-pertimbangan duniawi lainnya tidak dihiraukan oleh Islam.

Nas  Al-Qur'an  memperingatkan  orang-orang  yang  menang  bahawa  kesalahan mereka  bisa  berakibat  pada  datangnya  seksaan  yang  bakal  mereka  terima tetapi  Allah  SWT mengampuni  mereka  dan  menurunkan  rahmat-Nya:  "Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, nescaya kamu ditimpa seksaan yang besar kerana tebusan yang kamu ambil."

Seksaan  tersebut  memang  lebih  dekat  daripada  pohon  yang  dekat  ini, kemudian  Allah  SWT  mengampuni  mereka  dan  Allah  SWT  mengampuni sahabat-sahabat yang terjun di perang Badar, baik dosa yang lalu mahupun dosa mereka yang akan datang. Demikianlah Al-Qur'an ingin mendidik kaum Muslim agar mereka tidak banyak mempertimbangkan urusan manusiawi saat berperang. Jadi, Islam memulai peperangannya yaitu peperangan yang hanya ditujukan kepada Allah SWT dan hendaklah peperangan tersebut dihilangkan dari  pertimbangan-pertimbangan  yang  sulit  sehingga  sahabat-sahabat  Nabi mengetahui   bahawa   kecenderungan   kepada   kesenangan   duniawi   akan berakibat pada kekalahan mereka.

Dalam  peperangan  Uhud  jumlah  kaum  musyrik  tiga  ribu  sedangkan  jumlah kaum  Muslim  tiga  ratus  pasukan  setelah  pemimpin  orang-orang  munafik Abdullah  bin  Saba'  mengundurkan  diri  pasukan.  Kaum  Muslim  diletakkan  di gunung dan Rasulullah saw membuat rencana yang jitu untuk memenangkan pertempuran  di  mana  beliau  membagi  pasukan  pemanah  di  puncak  gunung untuk melindungi punggung kaum Muslim dan melindungi mereka dari serangan dari arah belakang. Rasulullah saw memberi pengertian kepada pasukan panah itu agar mereka tetap di tempatnya baik kaum Muslim menang mahupun kalah. Yakni  bahawa  pasukan  pemanah  tidak  boleh  turun  dari  gunung  dan  meski berusaha  untuk  melindungi  kaum  Muslim.  Rasulullah  saw  berkata  kepada mereka.  "lindungilah  punggung-punggung  kami.  Jika  kalian  melihat  kami sedang  bertempur,  maka  kalian  tidak  usah  turun  darinya  dan  tidak  usah menolong kami, dan jika kalian melihat kami memperoleh kemenangan dan mengambil ganimah, maka kalian tidak boleh ikut serta bersama kami."

Setelah membuat keputusan tersebut, Rasulullah saw kembali ke pasukan yang lain, lalu beliau membikin suatu rencana untuk menyerang. Dan Dimulailah peperangan kemudian pasukan Islam mendorong pasukan musyrik laksana angin yang kencang yang memporak-porandakan ribuan kaum musyrik. Pada tahap pertama pasukan Islam tampak menguasai medan dan berhasil menyapu kaum musyrik sehingga pasukan Mekah tampak berputus asa meskipun mereka unggul secara bilangan dan meskipun mereka memiliki kekuatan persenjataan yang lengkap, pasukan Mekah justru dikejutkan dengan ketangguhan pasukan Muslim yang dapat memukul mundur mereka hingga mereka membayangkan bahawa mereka  tidak  dapat  memenangkan  peperangan  atau  dapat  bertahan  di hadapan pasukan Muslim.

Debu-debu  peperangan  mulai  berterbangan  yang  menyertai  tanda-tanda kekalahan  pasukan  Mekah.  Sementara  itu,  para  pemanah  yang  diletakkan Rasulullah  saw  di  suatu  tempat  yang  strategis  berfikir  untuk  memperoleh ganimah.  Pasukan  Mekah  telah  kalah  dan  mereka  telah  melarikan  diri  dari pasukan Muslim, maka bagaimana seandainya para pemanah turun dari tempat mereka  untuk  mengumpulkan  harta  rampasan  dan  ganimah.  Rasulullah  saw telah mengingatkan mereka agar jangan meninggalkan tempat mereka, apa pun yang terjadi tetapi pasukan pemanah itu justru berkhianat dan menentang perintah Nabi saw setelah mereka membayangkan bahawa peperangan telah selesai dan keuntungan akan diperoleh pasukan Madinah yang beriman. Pasukan pemanah mengira bahawa Allah SWT akan menutupi kesalahan mereka dan  akan  melindungi  mereka  sehingga  mereka  berhasil  mengambil  harta rampasan dan ganimah. Sungguh keikhlasan telah tercabut dari hati sebahagian pasukan. Belum lama hal tersebut berlangsung sehingga terjadilah perubahan yang  drastik  pada  peperangan.  Pemimpin  pasukan  berkuda  musyrik  dalam peperangan  Uhud  yaitu  Khalid  bin  Walid  yang  kemudian  ia  menjadi  tokoh Muslim adalah orang yang sangat genius dalam peperangan. Begitu ia melihat pasukan pemanah lari dari tempat mereka, maka ia melihat celah yang terbuka di tengah-tengah kaum Muslim, sehingga ia segera memutarkan kudanya dan disertai pasukan yang mengikutinya. Kemudian ia menyerang kaum Muslim dari belakang.  Serangan  yang  dilakukan  Khalid  itu  sangat  cepat  dan  sangat mengejutkan. Orang-orang musyrik mengambil kesempatan emas. Mereka yang tadinya lari, kini mereka menarik diri dan justru menyerang kembali.

Pasukan  Muslim  dikepung  dari  dua  arah  oleh  pasukan  berkuda:  satu  dari belakang dan yang lain dari depan. Kemudian berjatuhanlah korban- korban dari  pasukan  Muhammad  bin  Abdillah.  Banyak  di  antara  mereka  yang  mati sebagai syahid saat mempertahankan dan melindungi Rasulullah saw, bahkan sang Nabi pun hidungnya terluka dan giginya pun runtuh dan kepala beliau yang mulia terluka sehingga beliau mengucurkan darah.

Kemudian  tersebarlah  isu  bahawa  Muhammad  saw  telah  meninggal.  Ketika mendengar itu, kaum Muslim sangat terpukul dan sangat sedih sehingga kaum Muslim  pun  terpecah-pecah.  Sebahagian  mereka  kembali  ke  Mekah  dan sekelompok yang lain ke atas gunung dan mereka tetap menjaga Nabi saw yang mulia.  Ketika  mendengar  kematian  Nabi,  Anas  bin  Nadhir  berkata  kepada kaumnya: "Bangkitlah kalian dan matilah seperti kematiannya. Apa yang kalian lakukan setelah kalian hidup sesudahnya."

Pasukan Muslim tetap bertahan dan melakukan peperangan, lalu tekanan kaum musyrik  semakin  berat  kepada  Nabi  saw  dan  para  sahabatnya.  Kemudian terjadilah  kejadian  yang  paling  sulit  dalam  sejarah  umat  Islam.  Nabi  saw berteriak   saat   melihat   kaum   musyrik   menekannya   dan   berusaha membunuhnya:  "Barang  siapa  yang  dapat  mengusir  mereka  dariku,  maka baginya syurga."

Mendengar  perkataan  itu,  kaum  Muslim  segera  mengitari  Nabi  saw  dan melindungi  beliau  sehingga  banyak  dari  mereka  berguguran  sebagai  syahid. Bahkan  sahabat-sahabat  Abu  Juanah  melindungi  Nabi  saw  sampai-  sampai punggungnya dipenuhi dengan anak-anak panah. Ia bagaikan baju besi yang dipakai kepada Nabi saw dan ia tetap kukuh melindungi Nabi saw. Kemudian berubahlah keadaan kerana keteguhan dan keberanian yang diperlihatkan oleh kaum Muslim. Pasukan Mekah merasa puas dan mereka memilih untuk menarik diri. Saat itu orang-orang Quraisy tidak lebih sedikit penderitaannya daripada orang-orang Muslim.

Setelah  peperangan  yang  dahsyat  itu,  kaum  musyrik  menarik  diri  setelah mereka berhasil membunuh beberapa orang Muslim, bahkan mereka berhasil melukai pemimpin pasukan yaitu sang Nabi saw. Semua itu terjadi kerana satu kesalahan  yaitu  kesalahan  terletak  pada  penentangan  dan  pembangkangan para  pemanah  terhadap  perintah  sang  Rasul  saw  dan  usaha  mereka  untuk meninggalkan tempat mereka.

Ketika  sebahagian  kelompok  dari  sahabat  kehilangan  pengorbanan  dan kehilangan  sikap  ikhlas  dalam  hati  mereka,  maka  kesalahan  tersebut  harus dibayar oleh tentera yang paling berani dan mulia di antara mereka yaitu sang Nabi saw. Langit tidak ikut campur untuk menyelamatkan pasukan Islam itu. Kesalahan kaum Muslim itu harus dibayar oleh Rasul saw di mana wajah beliau pun terluka bahkan keluar darah yang cukup deras dari luka beliau sehingga setiap  kali  dituangkan  air  di  atas  luka  itu,  maka  darah  pun  semakin  deras mengucur.  Darah  itu  tidak  berhenti  kecuali  setelah  dibakarkan  potongan tembikar lalu dilekatkan di atasnya.


Luka beliau bukan hanya bersifat materi tetapi luka spirituil beliau dan rohani beliau pun semakin bertambah. Ini beliau rasakan ketika mendengar bahawa pamannya Hamzah gugur sebagai syahid dan tidak cukup dengan itu, bahkan isteri  Abu  Sofyan  yaitu  Hindun  membelah  perutnya  dan  mengeluarkan jantungnya  serta  mengunyahnya  dengan  mulutnya.  Semua  itu  semakin menambah kesedihan sang Nabi.

Kaum  Quraisy  menguasi  pasukan  Muslim  dan  mereka  memperlakukan  dan menekan kaum Muslim secara aniaya. Seandainya bukan kerana rahmat Allah SWT nescaya kaum Muslim akan mengalami kekalahan yang teruk. Kemudian turunlah dalam Al-Qur'an al-Karim ayat-ayat yang mendidik kaum Muslim agar mereka  benar-benar  ikhlas  dan  memahamkan  mereka  bahawa  kekalahan mereka   sebagai   akibat   dari   adanya   pasukan   di   antara   mereka   yang menginginkan  dunia  meskipun  di  antara  mereka  ada  sebahagian  yang menginginkan  akhirat.  Jika  terjadi  demikian,  maka  tidak  ada  jalan  untuk memperoleh  kemenangan.  Ini  bukanlah  hal  yang  diinginkan  oleh  pasukan Muslim,  yang  diharapkan  adalah  hendaklah  semua  pasukan  tertuju  untuk mencapai ridha Allah  SWT dan hanya mengharapkan akhirat. Jika demikian halnya, maka Allah SWT akan memberi mereka dunia dan akhirat.

Allah  SWT  berfirman  dan  menceritakan  peperangan  Uhud  dalam  surah  Ali 'Imran:

"Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka  untuk  menguji  kamu;  dan  sesungguhnya  Allah  telah  memaafkan kamu.  Dan  Allah  mempunyai  kurnia  (yang  dilimpahkan)  atas  orang-orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran:: 152)

Allah  SWT  memaafkan  hal  itu.  Orang-orang  Muslim  kini  menghitung  jumlah korban  mereka  dan  mengubati  orang-orang  yang  terluka.  Rasulullah  saw bertanya  tentang  pamannya  Hamzah,  dan  ketika  beliau  mendapatinya  di tengah-tengah  sahabat  yang  gugur,  dan  orang-orang  kafir  telah  merosak jasadnya,  maka  beliau  berkata  dalam  keadaan  menangis:  "Tidak  akan  ada orang yang akan tertimpa sepertimu selama- lamanya."

Kemudian Nabi saw berdiri dan memuji Allah SWT lalu beliau memerintahkan untuk mengembalikan orang-orang yang terbunuh dari kaum Muslim ke tempat asal  mereka  di  mana  mereka  terbunuh.  Saat  itu  keluarga  mereka  telah membawanya  ke  kuburan  kemudian  Nabi  saw  mengumpulkan  kedua  orang laki-laki dari pahlawan-pahlawan Uhud dalam satu pakaian dan beliau bertanya siapa  di  antara  keduanya  yang  paling  banyak  mengambil  manfaat  dari Al-Qur'an.   Jika   diisyaratkan   kepada   salah   satunya,   maka   beliau   akan mendahulukannya untuk dimasukkan dalam liang lahad.

Rasulullah saw juga memerintahkan agar mereka dikebumikan dengan darah mereka  dan  beliau  pun  tidak  mensolati  mereka,  serta  tidak  memandikan mereka.  Allah  SWT  ingin  memperlihatkan  bagaimana  mereka  dibangkitkan pada hari kiamat lalu beliau bersabda: "Tiada seorang pun yang terluka di jalan Allah SWT kecuali Allah SWT membangkitkannya di hari kiamat dalam keadaan di mana Iukanya akan mengucur darah. Warna itu adalah warna darah dan baunya seperti minyak misik."

Bukanlah  penderitaan  yang  dalam  yang  merupakan  pelajaran  yang  harus dimengerti   kaum   Muslim   dari   peperangan   Uhud   sebagai   akibat   dari pembangkangan  mereka  dari  perintah  Rasul  saw  dan  ketidaktaatan  mereka kepadanya, tetapi wahyu juga menurunkan berbagai pelajaran yang lain yang dapat  dimanfaatkan.  Pelajaran  yang  terpenting  setelah  pelajaran  kesetiaan adalah penjelasan tentang sentral utama yang di situ kaum Muslim berkumpul. Peribadi Rasulullah saw bukanlah markas yang di situ kaum Muslim berkumpul yang ketika peribadi Rasulullah saw yang mulia pergi kerana satu dan lain hal, maka  orang-orang  Muslim  akan  pergi  dan  meninggalkan  beliau.  Tidak seharusnya  peribadi  Rasul  saw  menjadi  markas  atau  sentral  tetapi  yang menjadi  sentral  dari  semuanya  adalah  pemikiran  beliau.  Itulah  yang  paling penting.

Demikianlah bahawa Al-Qur'an al-Karim mencela orang-orang yang meletakkan senjatanya  ketika  tersebar  isu  terbunuhnya  Nabi  saw.  Islam  tidak  akan mencapai puncaknya ketika kaum Muslim berkumpul di sisi Rasulullah saw saat beliau masih hidup namun ketika beliau terbunuh atau mati, maka mereka murtad  di  mana  mereka  membuang  senjatanya  dan  pergi  mengurusi  diri mereka sendiri. Orang-orang Islam adalah orang- orang yang mengikuti prinsip bukan mengikuti peribadi. Muhammad bin Abdillah memang seorang pemimpin manusia dan Imam para rasul dan penutup para nabi, dan sebagai makhluk Allah SWT yang paling mulia, namun ini semua tidak membenarkan bahawa seorang Muslim diperbolehkan untuk meletakkan senjatanya ketika Rasul saw wafat atau terbunuh. Hendaklah seorang Muslim memanggul senjatanya dan tidak membuang dari tangannya kecuali dalam dua keadaan: pertama ketika ia telah memperoleh kemenangan dan kedua ketika ia telah mati.
Nas  Al-Qur'an  menjelaskan  secara  gamblang  hubungan  kaum  Muslim dengan akidah Islam, bukan dengan peribadi sang Rasul saw. Allah SWT berfirman:
"Muhammad itu  tidak lain hanyalah seorang Rasul,  sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik  ke  belakang  (murtad)?  Barang  siapa  yang  berbalik  ke  belakang, maha ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (QS. Ali 'Imran: 144)

Demikianlah bahawa peperangan Uhud telah membawa dampak yang luar biasa terhadap  kaum  Muslim,  utamanya  terhadap  Nabi  saw.  Orang-orang  yang terbunuh di perang Uhud adalah sahabat-sahabat yang paling mulia dan paling banyak imannya. Mereka adalah pilihan dari orang-orang Muslim yang pertama; mereka memikul beban dakwah di saat-saat yang sulit bahkan mereka harus berhadapan dan memusuhi kerabat mereka dan teman-teman mereka; mereka menjadi  terasing  saat  menyatakan  keislaman  mereka  sebelum  hijrah  dan sesudahnya; mereka telah menginfakkan harta; mereka berjuang di jalan Allah SWT; mereka telah bersabar dalam menanggung berbagai macam penderitaan, dan  ketika  datang  saat  yang  paling  berbahaya  dan  pasukan  Islam  telah terkepung di mana jiwa Rasul saw telah terancam, mereka justru mencurahkan darah mereka bagaikan lautan yang menenggelamkan orang-orang kafir dan mereka mampu melindungi sang Rasul saw dan mengubah jalan peperangan serta menyelamatkan akidah tauhid.

Peperangan Uhud bukanlah pengorbanan pertama yang dilakukan oleh kaum Muslim  dan  bukanlah  merupakan  peperangan  yang  terakhir.  Ia  adalah  satu peperangan di antara cukup banyak peperangan yang dilalui oleh Islam untuk menyebarkan   kalimat   Allah   SWT   di   muka   bumi   dan   membimbing hamba-hamba-Nya. Begitu juga pengorbanan Rasul saw, dan peperangan Uhud bukanlah  pengorbanan  yang  pertama  terhadap  Islam  dan  bukan  juga  yang terakhir. Rasulullah saw telah hidup setelah diutusnya kepada manusia di mana beliau telah memberikan semuanya untuk kehidupan dan untuk dakwah; beliau tidak  memiliki  dirinya  sendiri;  beliau  tidak  memboroskan  waktunya  dengan sia-sia  bahkan  beliau  beristirahat  sedikit  saja.  Semua  kehidupan  beliau diberikan kepada dakwah dan untuk Islam. Beliau menjalani berbagai macam peperangan dan beliau memikul berbagai macam penderitaan dan belum lama beliau lari dari suatu masalah kecuali beliau berhadapan dengan masalah yang baru dan lain; belum lama beliau menyelesaikan suatu krisis kecuali beliau menghadapi krisis yang lain. Demikianlah kehidupan sang Nabi saw di mana beliau  selalu  memberikan  kontribusi  dan  sumbangannya  demi  kepentingan agama Allah SWT.

Silakan Anda mengamati kehidupan sang Rasul saw dari sudut manapun yang Anda inginkan  nescaya Anda tidak akan  menemukan  sudut  dari  sudut-sudut kehidupan beliau kecuali dimulai dan dipenuhi dengan pergelutan yang hebat. Rasulullah  saw  telah  melalui  pergelutan  militer  dalam  berbagai  macam pertempuran  yang  silih  berganti  yang  beliau  lakukan.  Beliau  memulai pergelutan  politiknya  yang  terwujud  dalam  perundingan-perundingan  dan surat-surat yang beliau kirimkan kepada penguasa dan para raja di berbagai negara agar mereka memeluk Islam, bahkan beliau melakukan pergelutannya dalam  masalah  peribadi  di  rumah  tangga.  Rumah  tangga  beliau  pun  tidak kosong  dari  pergelutan.  Beliau  adalah  pejuang  sejati  dalam  setiap  waktu. Kalau kita mengenal Nabi Ibrahim sebagai seorang musafir di jalan Allah SWT, maka  Muhammad  bin  Abdillah  adalah  seorang  pejuang  di  jalan  Allah  SWT. Belum lama peperangan Uhud berakhir sehingga pengaruh-pengaruh buruknya berbekas pada kaum Muslim. Orang-orang Arab Badwi mulai berani bersikap kurang  ajar  kepada  mereka,  demikian  juga  orang-orang  Yahudi,  apalagi orang-orang  munafik  dan  tidak  ketinggalan  orang-orang  Quraisy  pun  mulai menyudutkan kaum Muslim.

Kemudian datanglah utusan dari kabilah Arab kepada Rasul saw dan mereka mengatakan  kepada  beliau  bahawa  mereka  mendengar  tentang  Islam  dan mereka ingin memeluknya, maka hendaklah beliau mengutus kepada mereka beberapa  dai  dan  mubaligh  untuk  mengajari  mereka  tentang  dasar-dasar agama.  Nabi  saw  mengutus  bersama  mereka  sekelompok  para  dai  yang dipimpin oleh 'Ashim bin Tsabit. Ternyata orang-orang itu berkhianat atas para sahabat-sahabat yang berdakwah itu dan mereka pun dibunuh. Bahkan tiga di antara mereka ditawan dan dijual di Mekah. Dijualnya mereka di Mekah bererti mereka  diserahkan  pada  kelompok  orang-orang  Quraisy  yang  telah  lama menunggu untuk menangkap kaum Muslim. Kaum Quraisy Mekah membunuh tiga tawanan kaum Muslim itu. Orang-orang Muslim sangat sedih mendengar dai-dai Allah SWT itu terbunuh dengan cara yang begitu tragis.

Ketika  datang  kepada  Nabi  saw  orang-orang  yang  minta  pada  beliau  agar dikirim utusan dari kalangan mubaligh untuk menyebarkan Islam untuk para kabilah kaum Najd, maka Nabi kali ini betul-betul mempertimbangkan antara kepentingan  menyebarkan  Islam  dan  perlindungan  terhadap  kehormatan manusia.  Lalu  beliau  memilih  untuk  kepentingan  dakwah  Islam.  Beliau menyedari  bahawa  beliau  mengutus  para  sahabatnya  dalam  bahaya;  beliau memberitahu mereka bahawa mereka akan menghadapi suatu keadaan yang misteri yang tiada mengetahuinya kecuali Allah SWT. Namun bahaya tersebut sudah menjadi bahagian dari cita rasa kehidupan yang selalu meliputi dakwah Islam.

Ketika Nabi saw mengutarakan kekhuatirannya terhadap para sahabatnya yang bakal diutusnya di tengah kabilah itu, orang-orang yang meminta beliau untuk mengutus   para   sahabatnya   menyakinkan   beliau   bahawa   mereka   akan melindungi  sahabat beliau. Kemudian Nabi saw memerintahkan tujuh puluh orang pilihan dari sahabatnya untuk pergi dan berjihad di jalan Allah SWT serta mengajak  manusia  untuk  mengikuti  Islam.  Lalu  pergilah  para  sahabat  yang kemudian  dikenal  dengan  sebutan  al-Qurra'  (yaitu  orang-orang  yang  pandai membaca Al-Qur'an dan menghafalnya). Mereka adalah para dai yang terbaik yang diutus Nabi di mana pada siang hari mereka memikul kayu bakar dan pada malam  hari  mereka  sibuk  dalam  keadaan  solat.  Ketika  datang  perintah Rasulullah saw kepada mereka untuk pergi dan berdakwah mereka pun pergi dalam keadaan gembira kerana mereka diajak untuk berjihad di jalan Allah SWT. Mereka melangkahkan kaki dengan mantap di tanah orang-orang munafik dan para pengkhianat sehingga mereka sampai di suatu sumur yang bernama sumur Ma'unah. Kemudian mereka mengutus salah seorang di antara mereka untuk  menemui  pemimpin  orang-orang  kafir  di  negeri  itu.  Mubaligh  dari sahabat Rasulullah saw itu menyampaikan surat Nabi yang dibawanya di mana beliau mengharapkan agar masyarakat di situ masuk Islam, tetapi ia dikejutkan dengan adanya pisau yang menembus punggungnya. Mubaligh itu berteriak saat ia tersungkur: "sungguh aku beruntung demi Tuhan pemelihara Ka'bah." Kemudian   pemimpin   orang-orang   kafir   itu   mengangkat   senjata   dan mengumpulkan  para kabilah untuk memerangi para mubaligh di  jalan  Allah SWT itu sehingga sahabat-sahabat terbaik yang berdakwah di jalan Allah SWT itu pun gugur di sumur Ma'unah. Jasad-jasad mereka menjadi makanan dari burung nasar dan burung-burung yang lain. Dari tujuh puluh orang yang dikirim itu  hanya  seorang  yang  selamat  yang  kembali   kepada  Nabi  saw.  Ia menceritakan apa yang dialami oleh fuqaha-fuqaha Muslimin di mana mereka dikhianati. Ketika mendengar berita tentang tragedi itu, Nabi sangat terpukul
dan  sedih.  Kemudian  beliau  mengangkat  kepalanya  dan  berkata  kepada sahabat-sahabatnya:  "Sungguh  sahabat-sahabat  kalian  telah  terbunuh  dan mereka  telah  meminta  kepada  Tuhan  mereka.  Mereka  mengatakan,  Tuhan kami, berikanlah kami ujian sesuai dengan kehendak-Mu dan ridha-Mu. Apa saja yang menjadi kepuasan-Mu kami pun akan merasakan kepuasan."

Sungguh  penderitaan  yang  dialami  oleh  Islam  sangat  berat,  terutama  yang menimpa para sahabat yang gugur sebagai syahid di sumur Ma'unah. Nabi saw sangat  sedih  mendengar  sikap  orang-orang  Arab  dan  orang-  orang  kafir terhadap  Islam.  Mereka  telah  mengejek  dan  merendahkan  kaum  mukmin sampai pada batas ini. Kemudian beliau menetapkan akan kembali mengangkat kewibawaan Islam dengan tindak kekerasan.

Dalam keadaan seperti ini, bergeraklah orang-orang Yahudi untuk membunuh Rasulullah   saw.   Pada   suatu   hari   beliau   pergi   ke   Bani   Nadhir  untuk menyelesaikan  suatu  urusan.  Kemudian  mula-mula  mereka  menampakkan persetujuan  atas  apa  yang  diucapkan  beliau.  Mereka  mendudukkan  Nabi  di bawah  naungan  benteng-benteng  mereka,  lalu  mereka  bersekongkol  untuk melenyapkan beliau; mereka menetapkan untuk melemparkan batu yang berat dari  atas  benteng  itu  saat  beliau  duduk  dan  tidak  membayangkan  akan terjadinya   kejahatan   yang   direncanakan   padanya.   Namun   Allah   SWT mengilhami  Rasul-Nya  akan  datangnya  bahaya  kepada  beliau,  lalu  beliau bangun sebelum pelaksanaan tipu daya itu. Lalu beliau segera pergi menuju rumahnya. Beliau berfikir saat beliau kembali ke rumahnya dengan membawa penderitaan  yang  baru.  Pembangkangan  dan  pengkhianatan  tersebut  tidak akan dapat berhenti kecuali setelah Islam menunjukkan taringnya. Islam ingin mengembalikan kewibawaannya dengan cara mengangkat senjata.

Rasul saw mengutus utusan ke Bani Nadhir dan memerintahkan mereka untuk keluar dari Madinah, bahkan Rasul saw memberi waktu kepada mereka hanya sepuluh  hari.  Kemudian  orang-orang  munafik  yang  ada  di  Madinah  bersatu bersama  orang-orang  Yahudi  dan  mereka  sepakat  untuk  memerangi  Islam. Namun  ketika  berhadapan  dengan  Islam,   orang-orang  Yahudi  menelan kekalahan.  Kemudian turunlah  surah al-Hasyr yang menyebutkan pengusiran orang-orang  Yahudi  dan  menyingkap  kedok  orang-orang  munafik.  Setelah kemenangan yang meyakinkan ini, Rasul saw keluar bersama sahabatnya untuk membalas  kejadian  yang  menimpa  sahabat-sahabatnya  yang  dikenal  dengan al-Qurra'  itu.  Rasul  saw  ingin  mengembalikan  kewibawaan  Islam.  Kemudian pasukan  Rasul saw itu  mampu membuat  para pengkhianat  dari  orang-orang Arab  ketakutan.  Hanya  sekadar  mendengar  nama  pasukan  Muslim,  maka serigala-serigala gurun yang dulu bengis itu pun ketakutan laksana tikus-tikus yang  panik  yang  bersembunyi  di  bawah  lubang-lubang  gunung.  Orang-orang Quraisy mendengar kegiatan pasukan Islam. Pasukan Quraisy menarik diri saat mereka mendekati Dahran, sementara pasukan Muslim berada di Badar. Mereka menunggu   pertemuan   yang   disepakati   di   Uhud.   Orang-orang   Muslim menyala-kan api selama delapan hari sebagai bentuk tantangan dan menunggu kedatangan kaum kafir sehingga ketika mereka (kaum kafir) telah pergi, maka citra kaum Muslim pun terangkat setelah mereka menerima kepahitan dalam peperangan Uhud.

Kaum  Muslim  menoleh  ke  arah  utara  jazirah  Arab  setelah  menetapkan kewibawaan  mereka  di  selatan.  Kabilah  di  sekitar  Daumatul  Jandal  dekat dengan Syam merampok di tengah jalan dan merampas kafilah yang berlalu di situ, bahkan kenekatan mereka sampai pada batas di mana mereka berfikir untuk  menyerbu  Madinah.  Oleh  kerana  itu,  Rasulullah  saw  keluar  bersama seribu orang Muslim yang mereka bersembunyi di waktu siang dan berjalan di waktu malam, sehingga setelah lima belas malam beliau sampai ke tempat yang  dekat  dengan  tempat  tinggal  musuh-musuh  mereka  lalu  mereka menggerebek  tempat  itu.  Pasukan  kafir  itu  dikejutkan  dengan  kedatangan kaum Muslim yang begitu cepat.

Kita akan mengetahui bahawa alat komunikasi yang dimiliki oleh Rasulullah saw  sangat  unggul  sebagaimana  alat  pertahanan  beliau  pun  sangat  unggul. Serangan mendadak yang dilakukan oleh pasukan Rasulullah saw menunjukkan bahawa mereka memiliki pertahanan yang luar biasa. Sistem pertahanan yang luar  biasa  sebagaimana  kedatangan  pasukan  yang  secara  tiba-tiba  itu menunjukkan kemampuan pasukan Islam untuk menyusup.

Demikianlah, terjadilah hari-hari pertempuran militer. Belum lama Nabi saw meletakkan  baju  besinya,  dan  beliau  kembali  membangun  peribadi  kaum Muslim sehingga beliau terpaksa kembali memakai baju besinya dan kembali berperang.  Ketika  musuh-musuh  Islam  yang  berada  di  sekelilingnya  melihat bahawa kemampuan militer mereka tidak dapat menandingi kemampuan kaum Muslim,  maka  mereka  sengaja  melakukan  cara-cara  baru  untuk  memerangi Islam.  Yaitu  peperangan  psikologi  atau  peperangan  urat  saraf  dengan  cara menyebarkan berbagai macam isu atau apa yang dinamakan Al-Qur'an al-Karim dengan  peristiwa  al-Ifik (kebohongan).  Setelah  peperangan  Bani  Musthaliq yaitu peperangan yang membawa kemenangan yang cepat bagi kaum Muslim, terjadilah kesalahfahaman dan pertengkaran di antara sahabat-sahabat yang biasa mengambil air di mana salah seorang mereka berteriak: "wahai kaum Muhajirin," dan yang lain berteriak: "Wahai kaum Anshar."

Peristiwa yang sangat sepele itu dimanfaatkan oleh pemimpin kaum munafik yaitu Abdullah bin Ubai. Abdullah bin Ubai memprovokasi orang- orang Anshar untuk menyerang kaum Muhajirin. Ia ingin membangkitkan luka-luka jahiliah yang lama yang telah dibuang dan telah dikubur oleh Islam, Salah satu yang dikatakan oleh Ibnu Ubai adalah, "sungguh mereka telah menyaingi kita dan mengambil  kebaikan  dari  dan  seandainya  kita  telah  kembali  ke  Madinah nescaya orang-orang yang mulai akan dapat mengusir orang-orang yang hina di dalamnya."

Zaid bin Arqam menyampaikan  kalimat  si  munafik itu  kepada Nabi saw, di mana  kalimat  itu  berisi  provokasi  terhadap  orang-orang  Anshar  untuk menyerang kaum Muhajirin. Ubai menginginkan agar mereka berpecah belah dan agar kesatuan mereka runtuh. Si Munafik itu segera datang kepada Rasul saw dan menafikan apa yang dikatakannya. Orang-orang Muslim secara lahiriah membenarkan perkataan si munafik itu dan mereka justru menuduh Zaid bin Arqam salah mendengar. Tetapi hakikat peristiwa itu tidak tersembunyi dari Nabi  saw  sehingga  peristiwa  itu  sangat  menyedihkan  beliau.  Lalu  beliau mengeluarkan perintah agar para sahabat pergi ke suatu tempat yang tidak biasanya  mereka  lalui.  Kemudian  beliau  pergi  bersama  sahabat  di  hari  itu sampai waktu malam menyelimuti mereka. Dan kini, mereka memasuki waktu pagi. Kepergian yang singkat dan tiba-tiba itu mampu menepis kebohongan yang  dirancang  oleh  si  Munafik,  Abdullah  bin  Ubai.  Yaitu  kebohongan  yang bertujuan untuk membakar persatuan kaum Muslim ketika ia berusaha untuk menyalakan api di tengah-tengah rumah sang Nabi saw.

Ketika  Nabi  masih  memiliki  kekuatan  yang  menakutkan  bagi  yang  mencuba melawannya, maka mereka pun melakukan berbagai penipuan dan, makar. Dan salah satu yang menjadi objek tipu daya itu adalah isteri beliau, yaitu Aisyah. Alkisah, Aisyah pada suatu hari pergi untuk memenuhi hajatnya lalu dilehernya terdapat  anting-anting.  Setelah  ia  memenuhi  hajatnya,  anting-anting  itu terjatuh dari lehernya dan ia tidak mengetahui. Ketika Aisyah kembali dari kafilah yang telah siap-siap untuk pergi, ia kembali mencari kalungnya sampai ia menemukannya. Sementara itu orang-orang yang membawanya dalam tandu (haudaj) mengira Aisyah sudah berada di dalamnya. Mereka tidak ragu dalam hal itu kerana memang berat badan Aisyah sangat ringan.

Pasukan Nabi berjalan dan membawa tandu, sedangkan Aisyah tidak ada di dalamnya. Aisyah kembali dan tidak mendapati pasukan di mana mereka telah pergi. Aisyah merasa hairan atas kepergian pasukan yang begitu cepat. Aisyah merasa  takut  saat  ia  berdiri  sendirian  di  padang  gurun.  Aisyah  berusaha bersikap baik, ia duduk di tempatnya di mana di situlah untanya duduk juga. Aisyah melipat-lipat pakaiannya sambil berkata dalam dirinya: Mereka akan mengetahui  bahawa  aku  tidak  ada  dan  kerana  itu  mereka  akan  kembali mencariku dan akan menemukan aku.


Sementara  itu,  Sofwan  bin  Mu'athal  juga  tertinggal  kerana  ia  melakukan keperluannya. Ia berjalan dari arah yang jauh lalu ia melihat bayangan orang yang tidak begitu jelas. Sofwan mendekat dan tiba-tiba ia mengetahui bahawa ia sedang berdiri di hadapan Aisyah. Ia melihat Aisyah sebelum diwajibkannya perintah  memakai  hijab  (jilbab)  atas  isteri-isteri  Nabi.  Ketika  melihatnya, Sofwan berkata: "Sesungguhnya kita milik Allah SWT dan kepadanya kita akan kembali,... isteri Rasulullah Aisyah tidak menjawab.

Sofwan mundur dan mendekatkan untanya kepadanya sambil berkata: "Silakan Anda  menaikinya."  Aisyah  pun  menaikinya.  Kemudian  Sofwan  membawanya pergi  dan  mencari  pasukan  yang  telah  meninggalkannya.  Sementara  itu, pasukan Nabi sedang beristirahat. Para sahabat mengira bahawa Aisyah masih berada dalam tandu. Tiba-tiba mereka terkejut ketika Aisyah datang kepada mereka bersama Sofwan yang menuntun untanya.

Tokoh munafik Abdullah bin Ubai segera memanfaatkan kesempatan emas ini. Ia  membuat  kisah  bohong  yang  terkesan  menuduh  isteri  Nabi  melakukan pengkhianatan.  Abdullah  bin  Ubai  pandai  memilih  beberapa  sahabat  yang dikenalinya   sebagai   orang-orang   yang   mudah   percaya   dan   cenderung membenarkan hal-hal yang bersifat lahiriah, atau ia mengetahui bahawa di antara  mereka  dan  Aisyah  terdapat  kedengkian  sehingga  mereka  suka  jika tersebar kebohongan yang berkenaan dengan Aisyah.

Demikianlah pemimpin munafik itu berhasil menjerat beberapa sahabat dalam tali  kebohongannya,  di  antaranya  Hasan  bin  Sabit.  Musthah,  dan  seorang wanita yang dipanggil Hamnah binti Jahasv. yaitu saudara perempuan Zainab binti Jahasy isteri Rasulullah saw. Ketiga orang itu tertipu dengan kebohongan tersebut  lalu  mereka  menyebarkannya  sehingga  orang-orang  yang  terjerat dalam kebohongan itu mengatakan apa saja yang mereka inginkan. Akhirnya. pasukan  pun  bergoncang  dengan  isu  itu.  Sementara  itu,  Aisyah  tidak mengetahui  sedikit  pun  tentang  hal  tersebut.  Isu  tersebut  bertujuan  untuk menjatuhkan  Islam  dan  melukai  perasaan  Rasullullah  saw  dan  itu  termasuk peperangan menentang Rasulullah saw dan ajaran yang dibawanya. Begitu juga ia  bertujuan  menunjukkan  bahawa  kaum  Muslim  tidak  konsekuen  dengan akidah  yang  mereka  yakini  dan  secara  tidak  langsung  ia  juga  menyerang kesucian rumah tangga Aisyah.

Pasukan kembali ke Mekah dan Aisyah jatuh sakit, namun ia tidak mengetahui isu-isu yang dikatakan tentang dirinya. Kemudian Rasulullah saw mendengar hal itu sebagaimana ayahnya Abu Bakar dan ibunya pun mendengarnya, namun tak seorang pun di antara. mereka yang memberitahu Aisyah. Begitu juga Rasul saw tidak menceritakan peristiwa itu di hadapan Aisyah. Namun sikap beliau berubah di mana beliau tidak lagi menunjukkan perhatiannya seperti biasanya saat Aisyah sakit. Ketika beliau menemui Aisyah dan saat itu ibunya ada di situ, beliau berkata: "Bagaimana keadaanmu?" Beliau tidak lebih dari mengucapkan kata-kata  itu.  Ketika  Aisyah  melihat  perubahan  sikap  Rasul  saw,  ia  mulai marah. Pada suatu hari ia berkata pada Nabi: "Seandainya engkau mengizinkan aku, nescaya aku akan pindah ke tempat ibuku." Beliau menjawab: "Itu tidak ada masalah."

Aisyah pun pindah ke tempat ibunya dan ia tidak mengetahui sama sekali apa yang sebenarnya terjadi padanya. Setelah melalui lebih dari dua puluh malam, Aisyah  sembuh  dari  sakitnya  dan  ia  pun  belum  mengetahui  hal-hal  yang dikatakan tentang dirinya. Umul mu'minin Aisyah menceritakan bagaimana ia mengetahui isu bohong tersebut dan bagaimana Allah SWT membebaskannya dari isu itu, ia berkata:

"Kami  adalah  kaum  Arab  di  mana  kami  tidak  mengambil  di  rumah  kami tanggung  jawab  ini  yang  biasa  di  ambil  oleh  orang-orang  Ajam.  Kami membencinya.  Kami  keluar  untuk  menikmati  keluasan  kota.  Sementara  itu para wanita keluar pada setiap malam untuk memenuhi hajat mereka. Pada suatu malam, aku keluar bersama Ummu Musthah untuk memenuhi sebahagian keperluanku. Lalu  ia berkata:  "Tidakkah  kau  sudah  mendengar  suatu  berita wahai   puteri   Abu   Bakar?"   Aku   bertanya,   "berita   apa   itu?"   Lalu   ia memberitahukan   padaku   apa-apa   yang   dikatakan   oleh   para   penyebar kebohongan. Aku berkata: "Apa ini memang benar?" Ia menjawab: "Demi Allah, ini  benar-benar  terjadi."  Aisyah  berkata:  "Demi  Allah,  aku  tidak  mampu memenuhi  hajatku."  lalu  aku  pulang.  Demi  Allah,  aku  tetap  menangis sampai-sampai aku mengira bahawa tangisanku akan merosak jantungku dan aku berkata kepada ibuku, mudah-mudahan Allah SWT mengampunimu, banyak orang  berbicara  tentangku  namun  engkau  tidak  menceritakan  sedikit  pun kepadaku. Ia berkata: "Wahai anakku, sabarlah demi Allah jarang sekali wanita yang baik yang dicintai oleh seorang lelaki yang jika ia memiliki isteri-isteri yang lain (madunya) kecuali wanita itu akan diterpa oleh berbagai isu."

Aisyah  berkata:  "Rasulullah  saw  berdiri  dan  menyampaikan  pembicaraannya pada  mereka  dan  aku  tidak mengetahui  hal itu." Beliau  memuji  Allah  SWT kemudian  berkata:  "Wahai  manusia,  bagaimana  keadaan  kaum  lelaki  yang menyakiti aku melalui keluar gaku dan mereka mengatakan sesuatu yang tidak benar. Demi Allah, aku tidak mengenal mereka kecuali dalam kebaikan. Lalu mereka mengatakan hal itu pada seorang lelaki yang aku tidak mengenalnya kecuali  dalam  kebaikan  di  mana  ia  tidak  memasuki  suatu  rumah  dari rumah-rumahku kecuali ia bersamaku."

Kemudian Rasulullah saw memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid dan bermusyawarah dengan keduanya. Usamah hanya melontarkan pujian dan berkata: "Ya Rasulullah aku tidak mengenal isterimu kecuali dalam kebaikan dan berita ini hanya kebohongan dan kebatilan," sedangkan Ali berkata: 'Ya Rasulullah masih banyak wanita yang lain yang dapat kau percaya." Kemudian Rasulullah saw memanggil Burairah dan bertanya kepadanya, lalu Ali berdiri kepadanya dan memukulnya dengan keras sambil berkata: "Jujurlah kepada Rasulullah saw," lalu wanita itu berkata: "Demi Allah, aku tidak mengetahui kecuali kebaikan. Aku tidak pernah mencela Aisyah kecuali pada suatu waktu aku   sedang   membikin   adunan   roti   lalu   aku   memerintahkannya   untuk menjaganya  namun  Aisyah  tertidur  dan  datanglah  kambing  lalu  adunan  itu
dimakan olehnya."

Aisyah berkata: "Kemudian datanglah kepadaku Rasulullah saw dan saat tu aku bersama  kedua  orang  tuaku  dan  seorang  wanita  dari  kaum  Anshar.  Aku menangis  dan  wanita  itu  pun  turut  menangis.  Rasulullah  saw  duduk  lalu memuji Allah SWT dan berkata: "Wahai Aisyah, sungguh kamu telah mendengar sendiri  apa  yang  dikatakan  orang-orang  tentang  dirimu,  maka  bertakwalah kepada Allah SWT dan jika engkau telah melakukan keburukan seperti yang diucapkan  orang-orang  itu,  maka  bertaubatlah  kepada  Allah  SWT  kerana sesungguhnya  Allah  SWT  menerima  taubat  dari  hamba-hamba-Nya."  Aisyah berkata,  "demi  Allah,  itu  tidak  lain  hanya  kebohongan  yang  dialamatkan kepadaku sehingga membuat air mataku kering. Aku sama sekali tidak seperti yang  mereka  katakan,"  lalu  aku  menunggu  kedua  orang  tuaku  untuk mengatakan  tentang  diriku  namun  mereka  justru  terdiam.  Aisyah  berkata, "demi Allah aku merasa sebagai seorang yang hina yang tidak layak diturunkan Al-Qur'an dari Allah SWT berkenaan denganku, tetapi aku hanya berharap agar Nabi  saw  melihat  kebohongan  yang  dialamatkan  kepadaku  itu  sehingga  ia memastikan terbebasnya aku darinya."

Aisyah berkata: "Ketika aku tidak melihat kedua orang tuaku berbicara aku berkata  kepada  mereka  tidakkah  kalian  menjawab  apa  yang  dikatakan Rasulullah saw?" Mereka berkata: "Demi Allah kami tidak mengetahui apa yang harus  kami  jawab."  Aku  mengetahui  bahawa  aku  bebas  dari  tuduhan  itu. Tiba-tiba  Rasulullah  saw  mengusap  keringat  dari  wajahnya  sambil  berkata: "Bergembiralah   wahai   Aisyah   kerana   sesungguhnya   Allah   SWT   telah menurunkan ayat yang membebaskan kamu dari tuduhan itu," lalu aku berkata: "Segala puji bagi Allah SWT." Kemudian beliau keluar menemui para sahabat dan membacakan kepada mereka ayat berikut ini:

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahawa berita bohong itu buruk bagi  kamu.  Tiap-tiap  seseorang  dari  mereka  mendapat  balasan  dari  dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, maka baginya azab yang besar. " (QS. an-Nur: 11)

Jibril turun  kepada  Nabi  saw  untuk menyampaikan  terbebasnya  Aisyah  dari segala tuduhan yang ditujukan kepadanya. Dan gagallah peperangan psikologi menentang   kaum   Muslim   dan   rumah   tangga   Rasulullah   saw,   dan kelompok-kelompok kafir meyakini bahawa mereka harus menggunakan cara baru lagi untuk menentang Islam. Kemudian Rasulullah saw kembali memasuki pergelutan menentang peperangan fizik. Peperangan Khandaq termasuk contoh peperangan  fizik  yang  dilakukan  oleh  Rasulullah  saw.  Orang-orang  Yahudi menyerahkan urusan mereka kepada kaum musyrik, dan Dimulailah rangkaian persekongkolan   dan   sumpah   di   antara   tokoh-   tokoh   Yahudi   dan pemimpin-pemimpin kaum musyrik, bahkan pendeta- pendeta Yahudi berfatwa bahawa agama Quraisy yang disimbolkan dengan penyembahan berhala lebih baik  daripada  agama  Muhammad  yang  penyembahan  hanya  layak  ditujukan kepada Tuhan Yang Esa sebagaimana tradisi jahiliah lebih baik daripada ajaran Al-Qur'an.

Politik kaum Yahudi berhasil menyatukan kelompok-kelompok orang kafir dan mengerahkannya  untuk  menentang  kaum  Muslim.  Kemudian  mereka  akan menyerang Madinah dengan jumlah kekuatan sepuluh ribu tentera. Akhirnya, berita  itu  sampai  ke  Nabi  saw.  Beliau  tidak  hairan  ketika  mendengar orang-orang Yahudi  bersatu  - padahal mereka mempunyai  asas agama yang menyeru kepada tauhid  - bersama kaum musyrik menentang agama tauhid. Nabi saw mengetahui bahawa perjanjian telah lama membelenggu orang-orang Yahudi sehingga hati mereka menjadi keras dan hari telah menjauhkan antara mereka dan sumber yang jernih yang dipancarkan oleh Musa. Akhirnya, mereka menjadi  buah  yang  rosak  yang  kulitnya  bergambar  tauhid  namun  isinya bergambar kepahitan syirik. Dan yang lebih penting dari itu adalah kesamaan kepentingan kaum Yahudi dan kaum musyrik.

Nabi  saw  menyedari  bahawa  beliau  sekarang  menghadapi  ancaman  dan pasukan yang besar. Pertempuran secara terbuka tidak memberi keuntungan bagi Muslimin. Beliau mulai berfikir bagaimana cara mempertahankan Madinah tanpa harus keluar darinya. Kali ini taktik militernya berubah di mana sebelum itu   beliau   keluar   dari   Madinah   dan   menjauhinya   serta   menyerang kelompok-kelompok  yang  berencana  menyerbu  Madinah.  Kali  ini  bentuk ancaman  berbeza  dan  tentu  fikiran  Nabi  pun  berubah  kerana  mengikuti perbezaan ancaman itu.


Kemudian  beliau  mengadakan  pertemuan  militer  bersama  para  tenteranya. Beliau   ingin   mendengar   berbagai   usulan   tentang   bagaimana   cara mempertahankan  Madinah.  Lalu  Salman  al-Farisi  mengusulkan  agar  Nabi menggali suatu parit yang dalam di sekeliling Madinah yaitu parit yang seperti bendungan alami yang dapat menahan laju banjir yang ingin maju, suatu parit yang pasukan berkuda tidak akan mampu melewatinya dan kaum Muslim dapat mempertahankan diri dari belakangnya. Mula- mula usulan itu terkesan agak mustahil diwujudkan namun pada akhirnya Nabi menyetujui usulan Salman itu. Melalui sensifitas militernya yang mengagumkan, beliau mengetahui bahawa situasi  cukup  genting  dan  kerananya  ia  menuntut  usaha  keras  untuk  dapat melaluinya. Nabi saw memerintahkan para sahabat untuk menggali  parit di sekitar Madinah. Pekerjaan itu sangat berat dan saat itu musim dingin di mana udara  sangat  dingin.  Di  samping  itu,  kaum  Muslim sedang  mengalami  krisis ekonomi yang mengancam Madinah, meskipun demikian, penggalian parti tetap dilaksanakan, bahkan Rasulullah saw terjun langsung untuk membuat galian dan memikul tanah.

Kaum   Muslim   dengan   semangat   yang  luar   biasa   dapat   menyelesaikan penggalian parit itu meskipun kehidupan sangat keras dan mereka merasakan kelaparan  kerana  kekurangan  harta.  Namun  semangat  pasukan  Islam  tetap meninggi. Mereka percaya akan datangnya kemenangan dan pertolongan dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

"Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu,  mereka  berkata:  'lnilah  yang  dijanjikan  Allah  dan  Rasul-Nya  kepada kita.'  Dan  benarlah  Allah  dan  Rasul-Nya.  Dan  yang  demikian  itu  tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan."  (QS. al-Ahzab: 22)

Pasukan  Quraisy  mulai  mendekati  Madinah  dan  tiba-tiba  Madinah  berubah menjadi  jazirah  cinta  di  tengah-tengah  lautan  kebencian,  lautan  itu  mulai menghentam jazirah dan berusaha menenggelamkannya dari dalam. Kemudian berteburanlah panah-panah kaum Muslim untuk menghalau pasukan kafir yang cukup banyak.  Pasukan  kafir  mulai  berputar-putar  di  sekeliling parit dalam keadaan bingung: apa gerangan yang telah dilakukan pasukan Islam, bagaimana mereka dapat menggali parit ini?

Kuda-kuda  musuh  berusaha  melalui  parit  itu  namun  pasukan  Muslim  segera menyerangnya.  Demikianlah  peperangan  Ahzab  terus  berlangsung.  Pada hakikatnya  ia  adalah  peperangan  urat  saraf.  Pasukan  musuh  mengepung Madinah selama tiga minggu di mana serangan demi serangan terus dilakukan sepanjang  siang  dan  mata  mereka  tetap  terjaga  sepanjang  malam.  Bahkan saking dahsyatnya pertempuran itu sehingga kaum Muslim tidak mengetahui apakah pasukan musuh berhasil menduduki Madinah atau tidak, dan apakah para  musuh  berhasil  menembus  lubang  yang  mereka  bangun?  Allah  SWT menggambarkan keadaan peperangan Ahzab dalam firman-Nya:

"(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke    tenggorokan    dan    kamu    menyangka    terhadap    Allah    dengan bermacam-macam persangkaan. Di situlah diuji orang- orang mukmin dan digoncangkan  hatinya  dengan  goncangan  yang  dahsyat." (QS.  al-Ahzab: 10-11)

Keadaan semakin buruk di mana orang-orang Yahudi membatalkan perjanjian mereka  dengan  kaum  Muslim  dan  mereka  bergabung  dengan  al-Ahzab. Demikianlah  Bani  Quraizhah  membatalkan  perjanjiannya  dan  mereka  lupa terhadap  pengkhianatan  bani  Nadhir  dan  pembalasan  Nabi  saw  terhadap mereka. Setiap hari keadaan semakin buruk.

Kaum Muslim benar-benar mengalami ujian yang berat di mana fikiran mereka benar-benar  kacau.  Ketika  keadaan  mencapai  puncaknya  kaum  Muslim bertanya kepada Rasul saw, "apa yang harus mereka katakan?" Rasulullah saw memberitahu  agar  mereka  mengatakan:  "Ya  Allah,  kalahkanlah  mereka  dan tolonglah kami untuk mengatasi mereka."

Doa  tersebut  keluar  dari  mulut-mulut  kaum  yang  telah  melaksanakan kewajipan  mereka  dan  telah  membuat  mukjizat  mereka  dalam  menghalau serangan. Jadi, mereka tidak memiliki apa-apa selain doa dan Allah SWT lah Yang Maha Mendengar permintaan hamba-Nya dan Dia yang mengabulkannya. Dia mengetahui orang yang melaksanakan kewajipannya dan akan mengabulkan orang yang berdoa.

Akhirnya,   kaum   Muslim   benar-benar   mendapatkan   rahmat   Allah   SWT. Kemudian  perjalanan  pertempuran  bergerak  dengan  cara  yang  tidak  bisa difahami. Para penyerang menyedari bahawa mereka sebenarnya telah kalah di mana mereka telah menyerang selama tiga pekan namun serangan tersebut tidak memberikan hasil apa pun. Mereka telah mencurahkan berbagai upaya namun tanpa memberikan hasil yang diharapkan dan boleh jadi mereka akan tetap begini selama tiga tahun.

Kemudian datanglah suatu malam di mana kaum Muslim belum pernah melihat malam  segelap  itu  dan  angin  sekencang  itu,  bahkan  saking  kerasnya  angin sampai-sampai suaranya laksana halilintar. Bahkan saking gelapnya malam itu sehingga tak seorang pun di antara umat Islam yang mampu melihat jari-jari tangannya  atau  berdiri  dari  tempatnya  kerana  saking  dinginnya  cuaca. Kemudian Nabi saw datang menemui Hudaifah bin Yaman. Beliau tidak mampu melihatnya meskipun beliau berdiri di sebelahnya. Nabi saw bertanya: "Siapa ini?" Hudaifah menjawab: "Aku adalah Hudaifah." Nabi saw berkata: "Oh, kamu Hudaifah."  Hudaifah  tetap  tinggal  di  tempatnya  kerana  ia  khawatir  jika  ia berdiri ia akan tidak mampu kerana saking dinginnya dan akan menabrak Rasul saw.  Rasul  saw  berkata  kepada  Hudaifah,  "Aku  kehilangan  berita  penting tentang keadaan kaum yang menyerang kita."

Hudaifah sebagai mata-mata dari pasukan Islam merasakan ketakutan di mana ia tidak mampu menahan cuaca yang begitu dingin, lalu bagaimana ia dapat berdiri  dan  keluar  dari  Madinah  menuju  ke  tempat  pasukan  musuh  dan menyusup  di  tengah  barisan  mereka  lalu  kembali  kepada  Nabi  saw  dengan membawa  berita  tentang  mereka.  Hudaifah  bangkit  dari  tempatnya  ketika Nabi saw selesai dari pembicaraannya. Nabi saw memberikan doa kebaikan kepadanya.  Hudaifah  pun  pergi  dan  kehangatan  keimanannya  mengalahkan kegelapan malam dan kedinginan cuaca. Ia keluar dari Madinah dan menyusup di  tengah-tengah  pasukan  musuh.  Nabi  saw  memerintahkannya  untuk  tidak melakukan tindakan apa pun selain mendapatkan berita dan kembali. Inilah tugas utamanya. Hudaifah sampai di tengah-tengah musuh. Mereka berusaha menyalakan api namun angin segera mematikannya sebelum menyala dan di dekat  api  itu  terdapat  seorang  lelaki  yang  berdiri  sambil  menghulurkan tangannya ke arah api dengan maksud untuk menghangatkannya. Lelaki itu adalah pemimpin kaum musyrik yaitu Abu Sofyan.

Melihat itu, Hudaifah segera memasang anak panah pada busur yang dibawanya dan ia ingin memanahnya. Seandainya ia berhasil membunuhnya, maka kaum Muslim dapat merasa tenang dengannya, namun ia ingat pesan Rasulullah saw kepadanya agar ia tidak melakukan tindakan apa pun. Kemudian ia kembali meletakkan anak panahnya dan menyembunyikannya.

Abu  Sofyan  berkata:  "Wahai  orang-orang  Quraisy  situasi  saat  ini  tidak menguntungkan bagi kalian, maka pergilah kalian kerana aku pun akan pergi." Abu Sofyan melompat ke atas untanya lalu mendudukinya dan memukulnya sehingga unta itu bangkit.

Hudaifah kembali menemui Rasulullah saw dengan membawa berita mundurnya pasukan  Ahzab dan  gagalnya  serangan  mereka.  Ketika  mendengar  peristiwa penarikan mundur pasukan musuh, Rasulullah saw berkata: "Sekarang kita akan menyerang  mereka  dan  mereka  tidak  akan  menyerang  kita."  Belum  lama pasukan Ahzab kembali ke negerinya dengan tangan hampa sehingga beliau keluar  dari  Madinah  bersama  pasukannya  menuju  ke  kaum  Yahudi  Bani Quraizhah.  Orang-orang  Yahudi  itu  telah  mengkhianati  perjanjian  mereka bersama Nabi saw. Mereka menipu Islam di saat-saat genting. Oleh kerana itu, mereka harus membayar biaya pengkhianatan mereka sekarang.

Nabi saw memerintahkan agar para sahabat tidak melaksanakan solat Ashar kecuali di Bani Quraizhah. Kaum Muslim memahami bahawa perintah tersebut bererti  mereka  akan  menerobos  benteng  kaum  Yahudi  sebelum  matahari tenggelam.

Orang-orang Yahudi menelan kekalahan pahit lalu mereka datang kepada Sa'ad bin Mu'ad agar ia memutuskan perkara mereka. Sa'ad adalah pemimpin kaum Aus  dan  kaum  Aus  adalah  sekutu  orang-orang  Yahudi  Quraizhah  di  masa jahiliah.  Kaum  Yahudi  mengharap  bahawa  mereka  dapat  memanfaatkan hubungan  yang  terjalin  selama  ini  sebagaimana  kaum  Aus  membayangkan bahawa tokoh mereka akan memberikan keringanan terhadap sekutu-sekutu mereka. Sa'ad ketika itu terluka dan ia sedang dirawat di khemahnya kerana terkena  panah  kauni  Ahzab.  Sebahagian  kaumnya  membujuknya  agar  ia bersikap  baik  terhadap  orang-  orang  Yahudi,  sekutu-sekutu  mereka,  dan orang-orang

Yahudi  membujuknya  agar  ia  bersikap  lembut  terhadap  mereka.  Kemudian Sa'ad mengatakan penyataannya yang terkenal: "Telah tiba waktunya bagi Sa'ad untuk memutuskan hukum sesuai dengan kehendak Allah tanpa peduli dengan celaan  para  pencela."  Sa'ad  memutuskan  agar  kaum  lelaki  dibunuh  dan keturunannya  ditawan  serta  harta-harta  mereka  dibagi-bagikan.  Nabi  pun menyetujui  keputusan  tegas  Sa'ad  itu.  Beliau  berkata  kepadanya:  "Sungguh engkau telah memutuskan kepada mereka dengan keputusan Allah SWT dari tujuh langit."

Sa'ad mengetahui bahawa perantaraan, permohonan, harapan, dan menjaga berbagai pertimbangan lazim selayaknya berada di suatu genggaman, dan masa depan Islam berada di genggaman yang lain. Yahudi Bani Quraizhah adalah penyebab berkecamuknya peperangan Ahzab dan sumpah mereka dan berbagai tipu daya mereka berusaha untuk memblokade Islam dan menghancurkannya. Oleh kerana itu, kini telah tiba saatnya untuk mencabut pohon-pohon beracun dari akarnya tanpa memperdulikan kasih sayang.

Demikianlah  kaum  Yahudi  dibersihkan  dari  Madinah.  Nabi  saw  kembali melanjutkan   pergelutannya.   Puncak   dari   perjuangan   politiknya   adalah perjanjian  yang  beliau  lakukan  bersama  orang-orang  Quraisy.  Nabi  saw berjalan  untuk melaksanakan  umrah  dan  mengunjungi  Baitul Haram.  Beliau keluar bersama seribu empat ratus kaum lelaki yang bertujuan untuk berziarah ke  Baitul  Haram  guna  melaksanakan  umrah.  Ketika  mereka  sampai  di Hudaibiyah pinggiran kota Mekah, tiba-tiba unta yang ditunggangi Nabi duduk dan ia tidak mahu melangkah menuju Mekah. Melihat itu para sahabat berkata: "Oh unta itu malas." Nabi saw berkata: "Tidak Demikian namun ia ditahan oleh Zat  yang  menahan  laju  gajah  menuju  Mekah.  Sungguh  jika  hari  ini  orang Quraisy membuat suatu rencana dan mereka meminta agar aku menyambung tali silaturahmi nescaya aku akan menyetujuinya."

Nabi saw memerintahkan para sahabat agar tetap tinggal di Hudaibiyah. Kaum Muslim beristirahat di sana dengan harapan mereka dapat memasuki Mekah di waktu  pagi.  Peristiwa  itu  bertepatan  dengan  bulan  Haram.  Mekah  telah menetapkan  agar  tak  seorang  pun  dari  kaum  Muslim  dapat  memasukinya. Semua  kaum  Quraisy  telah  keluar  untuk  memerangi  kaum  Muslim.  Mereka mengutus  utusan-utusan  kepada  Nabi  saw  lalu  beliau  memberitahu  mereka bahawa beliau tidak datang untuk berperang namun beliau ingin melakukan umrah sebagai bentuk pujian dan syukur kepada Allah SWT dan mengagumkan kemuliaan  rumah-Nya  yang  suci.  Mekah  menetapkan  untuk  melakukan perjanjian bersama kaum Muslim di mana mereka menginginkan agar jangan sampai kaum Muslim memasuki Baitul Haram pada tahun ini kecuali setelah mereka kembali pada tahun depan.

Datanglah  juru  runding  kaum  Quraisy  lalu  Rasul  saw  menyambutnya  dan mendengarkan   ia   menyampaikan   syarat-syarat   perjanjian   yang   intinya pelaksanaan  perdamaian  dan  penarikan  mundur  pasukan  Muslim.  Nabi  saw menyetujui   semua   syarat-syarat   perjanjian   meskipun   tampak   bahawa perjanjian tersebut tidak menguntungkan kaum Muslim di mana itu dianggap sebagai titik kemunduran politik dan militer kaum Muslim, dan yang menambah kebingungan  kaum  Muslim  adalah  bahawa  Rasul  saw  tidak  melibatkan seseorang pun dari kalangan sahabatnya untuk bermusyawarah dalam hal ini. Tidak  biasanya  beliau  bersikap  demikian.  Para  sahabat  menyaksikan  beliau pergi menemui kaum musyrik dan bersikap sangat lembut kepada mereka, dan beliau tidak kembali kecuali membawa berita persetujuan dengan perjanjian yang ditandatangani orang-orang musyrik, dan beliau pun membubuhkan tanda tangan di atasnya.

Para  sahabat  bergerak  untuk  menentang  Rasulullah  saw.  Mereka  bertanya kepada  beliau,  "bukankah  engkau  utusan  Allah  SWT?  Bukankah  kita  kaum Muslim?  Bukankah  musuh-musuh  kita   kaum  musyrik?"  Nabi   saw  hanya mengiyakan  pertanyaan-pertanyaan  tersebut.  Umar  bin  Khatab  kembali bertanya: "Mengapa kita harus menerima penghinaan dalam agama kita?" Umar ingin mengungkapkan sesuai dengan bahasa kita saat ini, "mengapa kita harus mundur  kalau  kita  berada  di  atas  kebenaran?  Mengapa  kita  menerima syarat-syarat  perjanjian  yang  justru  menguntungkan  kaum  musyrik?  Apakah kita takut terhadap mereka?"

Mendengar  berbagai  protes  yang  disampaikan  para  sahabatnya,  Rasul  saw justru menyampaikan jawapan yang unik bagi mereka di mana beliau berkata: "Aku adalah hamba Allah SWT dan Rasul-Nya dan aku tidak mungkin menentang perintah-Nya dan Dia tidak mungkin akan menyia- nyiakan aku." Makna dari kalimat  beliau  adalah,  "taatilah  apa  yang  telah  aku  lakukan  tanpa  perlu memperdebatkannya dan hendaklah kalian sedikit bersabar."

Perjalanan  hari  menetapkan  bahawa  perjanjian  yang  menimbulkan  pro  dan kontra  di  tengah-tengah  sahabat  itu  justru  membawa  kemenangan  politik paling gemilang yang pernah dicapai oleh umat Islam. Kemenangan tersebut diperoleh sebagai hasil dari kebijaksanaan sang Nabi saw yang mengalahkan kelihaian  politik  kaum  Quraisy.  Kaum  Quraisy  telah  memfokuskan  semua kelihaian-nya agar kaum Muslim kembali ke tempat mereka tanpa memasuki Masjidil  Haram  pada  tahun  ini,  namun  hikmah  Nabi  saw  justru  mampu mencapai  pengelihatan  yang  tidak  dapat  dijangkau  oleh  kaum  itu  yang berkenaan  dengan  masa  depan.  Jika  saat  ini  perjanjian  tersebut  tampak membawa kekalahan bagi kaum Muslim, maka setelah berlangsung beberapa bulan ia justru mendatangkan kemenangan yang spektakuler.

Suhail bin Amr adalah wakil dari delegasi kaum Quraisy dan Ali bin Abi Thalib adalah  juru  tulis dalam  perjanjian  itu  dari  pihak  Nabi  saw.  Rasulullah  saw berkata kepada Ali: "Tulislah dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."  Utusan  Quraisy  berkata,  aku  tidak  mengenal  ini.  Tapi  tulislah dengan  nama-Mu,  ya  Allah.  Rasulullah  saw  berkata  kepada  Ali:  "Dengan nama-Mu, ya Allah." Sikap keras kepala utusan Quraisy itu tidak bererti sama sekali kerana tidak ada perbezaan yang mencolok antara dengan namamu Allah dan dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang selain niat si pembicara.

Nabi saw berkata kepada Ali: "Ini adalah perundingan antara Muhammad saw utusan  Allah  dan  Suhail  bin  Amr."  Mendengar  itu  dengan  nada  menentang Suhail bin Amr berkata: "Seandainya aku bersaksi bahawa engkau adalah utusan Allah nescaya aku tidak akan memerangimu, tetapi tulislah namamu dan nama ayahmu."  Nabi  berkata  kepada  Ali  tulislah:  "Inilah  kesepakatan  antara Muhammad bin Abdillah dan Suhail bin Amr."

Tampaknya itu adalah kemunduran yang kedua dan dengan pandangan yang sekilas tampak menjatuhkan kaum Muslim tetapi Nabi saw ingin mewujudkan suatu tujuan yang penting yaitu tujuan yang belum terungkap saat itu. Alhasil, semuanya terjadi dengan ilham dari Allah SWT. Ali kembali menulis bahawa Muhammad  bin  Abdillah  dan  Suhail  bin  Amr  sama-sama  sepakat  untuk menghentikan   peperangan   selama   sepuluh   tahun   di   mana   hendaklah masing-masing  mereka  memberikan  keamanan  terhadap  sesama  mereka. Namun jika terdapat di antara orang-orang Quraisy seseorang yang masuk Islam lalu  ia  datang  kepada  Muhammad  saw  tanpa  izin  walinya  hendaklah  kaum Muslim mengembalikannya kepada kaum Quraisy. Sebaliknya, jika ada orang yang  murtad  dari  sahabat  Muhammad  saw,  maka  tidak  ada  keharusan  bagi orang Quraisy untuk mengembalikannya kepada Nabi.

Syarat tersebut sangat menyakitkan kaum Muslim. Tampak bahawa orang-orang Quraisy memaksakan kehendaknya dalam syarat-syarat perjanjian yang tidak adil itu. Ali melanjutkan tulisannya, hendaklah Nabi saw pulang dari Mekah pada tahun ini dan tidak memasukinya dan jika pada tahun depan orang-orang Quraisy keluar darinya, maka beliau dapat memasukinya untuk melaksanakan umrah  selama  tiga  hari  dan  setelah  itu  beliau  harus  meninggalkannya. Pensyaratan   tersebut   sangat   merugikan   kaum   Muslim   dan   terkesan membingungkan.

Di tengah-tengah perjanjian tersebut terjadi suatu peristiwa yang menambah penderitaan dan kebingungan Muslimin di mana anak dari juru runding Quraisy meminta  perlindungan  kepada  kaum  Muslim.  Ia  masuk  Islam  dan  ingin bergabung  dengan  kelompok  Islam  namun  ayahnya,  Suhail  segera  bangkit menyusulnya  bahkan  memukulnya  dan  mengembalikannya  kepada  kaumnya. Orang Mukalaf  itu  segera  berteriak dan  meminta pertolongan  kepada kaum Muslim agar mereka menyelamatkannya dari kejahatan kaum Quraisy sehingga mereka tidak mengubah agamanya. Rasulullah saw berbicara kepadanya dan meminta kepadanya untuk bersabar  dan  tegar  dalam  menanggung  penderitaan  kerana  Allah  SWT akan menjadikannya  dan  orang-orang  yang  sepertinya  suatu  jalan  keluar  dan kelapangan.

Nabi  memahamkannya  bahawa  beliau  telah  mengadakan  suatu  perjanjian dengan  kaum  Quraisy  dan  bahawa  kaum  Muslim  tidak  mungkin  melanggar perjanjian mereka.

Akhirnya, anak Muslim itu dikembalikan ke Mekah  dalam keadaan terseksa. Kemudian Selesailah penandatanganan perjanjian antara pihak kaum Muslim dan pihak kaum musyrik. Setelah penandatanganan perjanjian itu, Rasulullah saw memerintahkan para sahabatnya agar mereka memotong haiwan korban dan mencukur rambut mereka  (tahalul) dari umrah mereka dan kembali ke Madinah. Namun tak seorang pun bangkit menyambut perintah tersebut, lalu beliau mengulangi perintahnya ketiga kali. Di tengah-tengah kaum Muslim yang tampak membisu kerana ketegangan dan kesedihan, beliau menyembelih unta dan memanggil tukang cukurnya untuk mencukur rambutnya dan beliau tidak berbicara dengan seorang pun. Ketika para sahabat mengetahui bahawa Nabi saw  tampak  marah  dan  telah  mendahului  mereka  dengan  tahalul  dari umrahnya, maka mereka bangkit untuk menyembelih korban dan memotong rambut mereka.

Perjalanan hari menunjukkan bahawa perundingan tersebut tidak seperti yang dibayangkan oleh kaum Muslim. Ia justru membawa kemenangan dan bukan kekalahan. Persatuan kaum kafir di jazirah Arab mulai runtuh sejak mereka menandatangani  perjanjian  itu.  Kaum  Quraisy  di  anggap  sebagai  pimpinan kaum kafir dan pembawa bendera penentangan terhadap Islam, maka ketika tersebar  berita  perjanjian  mereka  bersama  kaum  Muslim,  maka  padamlah fitnah-fitnah kaum munafik yang bekerja untuk mereka dan bercerai-berailah kabilah-kabilah penyembah patung di penjuru jazirah.

Saat aktiviti kaum Quraisy terhenti, maka kaum Muslim mengalami peningkatan aktiviti  di  mana  mereka  berhasil  menarik  orang-orang  yang  masih  memiliki kemampuan   untuk   melihat   kebenaran.   Sejak   dua   tahun   dari   masa penandatanganan  perjanjian  itu  jumlah  penganut  Islam  semakin  bertambah lebih dari jumlah sebelumnya. Bukti dari itu adalah, bahawa saat Rasul saw keluar ke Hudaibiyah beliau ditemani dengan seribu empat ratus Muslim namun ketika beliau keluar pada tahun penaklukan kota Mekah beliau disertai dengan sepuluh ribu Muslim.

Penaklukan kota Mekah terjadi setelah dua tahun dari perundingan tersebut. Penambahan  jumlah  kaum  Muslim  yang  luar  biasa  ini  adalah  dikeranakan hikmah sang Nabi saw dan kejauhan pandangannya. Nabi saw keluar sebagai pemenang  dalam  pergelutan  politiknya,  dan  syarat-syarat  yang  tadinya merugikan  kaum  Muslim  kini  telah  berubah  menjadi  syarat-  syarat  yang merugikan kaum Quraisy. Barang siapa murtad dari kaum Muslim dan pergi ke kaum Quraisy, maka hendaklah mereka melindunginya kerana Allah SWT telah memampukan Islam darinya, dan barang siapa yang masuk Islam dari kaum kafir dan pergi ke kaum Muslim, maka hendaklah mereka mengembalikannya ke kaum Quraisy di mana ia tinggal di dalamnya sebagai mata-mata dari pihak Islam atau ia dapat lari dari kaum Quraisy untuk menyatukan kelompok yang bertikai dan ia dapat hidup laksana duri di tengah-tengah kaum Quraisy.

Belum lama waktu berjalan sehingga kaum Quraisy mengutus utusannya kepada Nabi saw dan mengharap kepada beliau agar melindungi orang Quraisy yang masuk Islam daripada membiarkan mereka sebagai panah yang terbang menuju kaum  Quraisy.  Demikianlah  kaum  Quraisy  justru  membatalkan  syarat  yang telah  mereka  diktekan  dan  Nabi  saw  pun  menerimanya  dengan  puas. Perundingan itu justru menguatkan barisan Nabi saw.

Demikianlah  Nabi  saw  terus  menjalani  mata  rantai  pergelutan  yang  tiada henti-hentinya di mana kehidupan beliau yang peribadi sekali pun tidak sunyi dari penderitaan. Nabi saw menikahi sembilan orang isteri. Perkahwinan beliau dengan sembilan isteri tersebut merupakan keistimewaan peribadi yang hanya beliau  miliki  kerana  berhubungan  dengan  sebab-sebab  dakwah  Islam.  Yaitu suatu  dakwah  yang  membolehkan  para  pengikutnya  untuk  menikahi  empat orang  isteri  dengan  syarat  jika  yang  bersangkutan  mampu  menciptakan keadilan di antara mereka, dan ia menganjurkan untuk hanya puas dengan satu isteri jika seorang Muslim khawatir tidak dapat berbuat adil.

Kaum orientalis dan musuh-musuh Islam mencuba untuk menghina Nabi dan memujukkannya,  dan  salah  satu  cela  yang  mereka  manfaatkan  adalah perkahwinan  beliau  dengan  sembilan  wanita.  Kita  mengetahui  bahawa pernikahan-pernikahan  beliau  terlaksana  dengan  sebab-sebab  politik  atau kemanusiaan yang berhubungan dengan dakwah Islam. Dan yang terkenal dari sejarah Nabi saw adalah bahawa beliau menikah dengan Sayidah Khadijah saat beliau berusia dua puluh lima tahun dan Khadijah berusia empat puluh tahun. Semasa hidup Khadijah beliau tidak menikahi isteri yang lain sampai Khadijah mencapai usia enam puluh lima tahun. Saat Khadijah meninggal, Nabi berusia di  atas  lima  puluh  tahun.  Beliau  menikahi  Khadijah  sebelum  beliau  diutus untuk  menyebarkan  Islam.  Beliau  tetap  setia  bersama  Khadijah  sampai  ia meninggal  dan  beliau  diangkat  menjadi  Nabi.  Namun  beban  kenabian  dan beratnya jihad, kasih sayangnya kepada manusia, pengorbanannya terhadap Islam dan perintah Allah SWT semua itu memaksanya untuk menikah lebih dari satu orang isteri sampai mencapai sembilan orang isteri. Perkahwinan beliau dengan  Aisyah  yang  saat  itu  masih  belia  merupakan  usaha  untuk  menjalin ikatan dengan Abu Bakar, ayah dari Aisyah dan perkahwinan beliau dengan Hafshah  meskipun  ia  sedikit  kurang  cantik  merupakan  usaha  beliau  untuk menjalin ikatan dengan Umar, ayahnya. Beliau juga menikah dengan Ummu Salamah, janda dari pemimpin pasukannya yang mati syahid di jalan Allah SWT
dan wanita itu merasakan penderitaan bersama beliau saat hijrah di Habasyah dan  hijrah  ke  Madinah.  Ketika  suaminya  meninggal  dan  ia  sendirian menghadapi   berbagai   persoalan   kehidupan,   maka   Nabi   saw   segera merangkulnya di rumah kenabian. Perkahwinan beliau dengan Sawadah sebagai bentuk penghormatan terhadap keislaman wanita itu dan kemuliaannya dari kaum lelaki serta kesendiriannya dalam menjalani kehidupan.

Sementara itu, pernikahan beliau dengan Zainab bin Jahasy merupakan ujian berat bagi beliau di mana perintah pernikahan itu datang dari Allah SWT untuk mengharamkan suatu tradisi yang terkenal di kalangan jahiliah yaitu tradisi adopsi. Zainab termasuk kerabat Rasul. Jadi ia termasuk dari kalangan bani Hasyim. Ia merasa bangga dengan nasab yang dimilikinya yang kerananya ia menolak  ketika  ditawari  untuk  menikah  dengan  Zaid  bin  Harisah,  seorang budak  Nabi  yang  telah  beliau  bebaskan,  bahkan  nasabnya  telah  beliau nisbatkan kepada dirinya dan beliau telah mengadopsinya sehingga ia dipanggil
dengan  sebutan  Zaid  bin  Muhammad.  Namun  Zainab  akhirnya  menyetujui pendapat Nabi dan perintah Allah SWT sehingga ia menikah dengan Zaid: "Dan  tidaklah  patut  bagi  laki-laki  yang  mukmin  dan  tidak  pula  bagi perempuan yang mukmin,  apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa menderhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. " (QS. al-Ahzab: 36)

Sejak semula tampak jelas bahawa pernikahan tersebut akan segera berakhir. Zainab  tidak  menyukai  Zaid  dan  Zaid  pun  bukan  jenis  lelaki  yang  mampu menahan kehidupan bersama seorang wanita yang hatinya jauh darinya. Zaid datang kepada Nabi saw guna mengadu kepada beliau dan meminta izin untuk menceraikan  isterinya.  Allah  SWT  mewahyukan  kepada  Rasul-Nya  agar membiarkan Zaid menceraikan isterinya, lalu hendaklah beliau menikahinya. Nabi saw merasakan kesulitan yang luar biasa dan beliau berbicara kepada Zaid agar   ia   terus   melangsungkan   kehidupannya   dan   bersabar.   Nabi   saw membayangkan apa yang dikatakan manusia kepadanya bahawa ia menikahi isteri  dari  anaknya  tetapi  apa  yang  dikhuatirkan  oleh  Nabi  saw  justru merupakan sesuatu yang ingin dihapus oleh Allah SWT. Zaid bukanlah anaknya dan dalam Islam tidak ada sistem adopsi. Oleh kerana itu, Zaid dapat mencerai isterinya  lalu  Nabi  dapat  menikahi  Zainab  untuk  menetapkan  apa  yang diinginkan oleh Islam. Rasulullah saw mampu bersabar dan menahan diri saat mendengar berbagai ocehan yang akan dikatakan oleh manusia kepadanya. Ini bukanlah pengorbanan pertama dan terakhir yang beliau persembahkan untuk Islam. Berkenaan dengan itu, Allah SWT berfirman:

"Dan        (ingatlah),  ketika  kamu  berkata  kepada  orang  yang  Allah  telah melimpahkan  nikmat  kepadanya  dan  kamu  (juga)  telah  memberi  nikmat kepadanya: 'Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah,' sedang kamu   menyembunyikan   di   dalam   hatimu   apa   yang   Allah   akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah- lah yang lebih berhak kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap  isterinya (menceraikannya),  Kami  nikahkan  kamu  dengan  dia supaya  tidak  ada  keberatan  bagi  orang-  orang  mukmin  untuk  (menikahi) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya dari isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. " (QS. al-Ahzab: 37)
Pernikahan beliau dipenuhi dengan unsur politik dan usaha untuk menyebarkan kebaikan   dan   rahmat   serta   penghormatan   nilai-nilai   yang   tinggi   dan menggabungkannya di rumah kenabian. Sementara itu, Ummu Habibah binti Abu  Sofyan  bin  Harb,  pemimpin  Quraisy  dalam  memerangi  Islam,  berhijrah bersama suaminya ke Habasyah.

Ia berhadapan dengan keterasingan dan kekhuatiran dalam membela agama Allah  SWT.  Kemudian  suaminya  mati  meninggalkannya  sendirian  dalam menjalani kehidupan. Sikapnya yang mulia demi menegakkan ajaran Islam dan hanya menentang ayahnya merupakan nilai lebih yang menyebabkan Rasulullah saw tertarik untuk menggabungkannya di rumah kenabian.

Pada  suatu  hari,  Abu  Sofyan  menemuinya  saat  ia  telah  menjadi  isteri Rasulullah saw. Abu Sofyan ingin duduk di atas tempat tidur Nabi lalu Ummu Habibah berusaha menjauhkan tempat tidur itu dari ayahnya. Melihat sikap anaknya   itu,   ayahnya   bertanya   kepadanya:   "Apakah   engkau   mulai membenciku?" Dengan penuh keberanian ia menjawab: "Ini adalah tempat tidur Rasulullah saw dan engkau adalah seorang musyrik, maka engkau tidak boleh menyentuhnya."

Adapun  Shofiyah  binti  Huyay  adalah  anak  seorang  raja  Yahudi.  Sedangkan Juwairiyah binti Haris, ayahnya seorang pemimpin kabilah Bani Musthaliq. Bani Musthaliq menelan kekalahan saat berhadapan dengan kaum muslim lalu kedua anak  perempuan  raja  dan  pemimpin  kabilah  itu  jatuh  menjadi  tawanan. Pernikahan Nabi dengan kedua wanita itu terkesan dipaksa oleh orang-orang yang kalah itu dan sebagai ajakan agar kaum Muslim memperlakukan mereka dengan baik. Mula-mula kaum Muslim menolak untuk bersikap lembut terhadap ipar-ipar  Nabi,  namun  Nabi  dengan  kelembutan  sikapnya  ingin  menyingkap aspek kemanusiaan dalam peperangannya dan beliau mengisyaratkan kepada kaum  Muslim  agar  mereka  menunjukkan  persaudaraan  sesama  manusia. Peperangan  itu  sendiri  bukan  sebagai  tujuan  namun  ia  sebagai  usaha mempertahankan Islam dan aspek tertinggi dari Islam adalah rahmat dan cinta.

Jadi Nabi saw menikahi wanita-wanita dari orang-orang yang kalah itu dengan maksud agar kebebasan dan kemuliaan kembali kepada keluarga mereka dan mereka dapat masuk Islam secara puas dan sukarela. Kemudian beliau menikah dengan  Maryam  al-Qibtiyah.  Muqauqis  telah  memberikannya  kepada  Nabi sebagai budak di mana itu merupakan simbol tali kasih yang diisyaratkan oleh Al-Qur'an antara Islam dan Masihi dan sebagai bentuk hukum bagi kaum Muslim dengan dihalalkannya pernikahan dengan wanita-wanita ahlul kitab.

Maryam memberikan anak kepada Nabi saw yang bernama Ibrahim, nama dari datuknya, bapak para nabi. Namun Ibrahim tidak hidup lama. Ia meninggal saat masih menyusu. Kematiannya merupakan ujian bagi Nabi dan sebagai isyarat dari Ilahi bahawa pewaris-pewaris Rasul dari kaum lelaki adalah para pengikut Al-Qur'an dan para pembawa Islam, bukan anak-anak dari sulbinya.

Salah  jika  ada  orang  yang  membayangkan  bahawa  Rasul  saw  mempunyai banyak  waktu   untuk  mencari   kesenangan   meskipun   halal.   Kesenangan diperbolehkan bagi orang lain namun beliau lebih memilih untuk merasakan penderitaan  berjihad,  menegakkan  hukum,  dan  kesabaran.  Salah  jika  ada orang  yang  membayangkan  bahawa  Rasul  saw  hidup  di  rumahnya  dengan keadaan ekonomi yang lebih baik daripada orang yang termiskin dari kalangan Muslim di zamannya.

Kehidupan  beliau  di  rumahnya  penuh  dengan  kezuhudan  yang  luar  biasa sehingga  sebahagian  isterinya  mengeluhkan  keadaan  tersebut.  Di  antara mereka ada yang berasal dari keluarga yang kaya seperti keluarga Abu Bakar atau  keluarga  Umar  bahkan  sebahagian  isterinya  bersatu  untuk  meminta kepada   beliau   agar   beliau   menambah   nafkah   mereka   sehingga   Nabi meninggalkan  isteri-isterinya,  lalu  tersebarlah  isu  yang  menyatakan  bahawa beliau  telah  menceraikan  semua  isterinya.  Kemudian  turunlah  ayat  Takhyir (yaitu  ayat  yang  memberikan  pilihan  kepada  isteri-isteri  Nabi  untuk  tetap menjadi  isteri  beliau  atau  diceraikannya).  Turunlah  Al-  Qur'an  al-Karim memberikan  pilihan  pada  isteri-isteri  Nabi  antara  menjalani  kehidupan  di rumah  kenabian  dengan  penuh  kesederhanaan  atau  menerima  perceraian.
Allah SWT berfirman:
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: 'Jika kamu sekalian mengingini kehidupan  dunia  dan  perhiasannya,  maka  marilah  supaya  kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu   sekalian   menghendaki (keridhaan)   Allah   dan   Rasul-Nya   serta (kesenangan)  di  negeri  akhirat,  maka  Sesungguhnya  Allah  menyediakan siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar. "  (QS. al-Ahzab: 28-29)
Selesailah  fitnah.  Demikianlah  pergelutan  di  rumah  Rasul  saw.  Akhirnya, isteri-isteri  beliau  memilih  kehidupan  zuhud  dan  bersabar  serta  akhirat daripada kehidupan dunia. Permintaan isteri-isteri nabi tidak melebihi hal-hal yang bersifat mubah, namun Rasul saw merupakan teladan bagi seluruh umat, kerana  itu  beliau  harus  menjadi  teladan  bagi  umat  sehingga  beliau  dapat menjadi cermin tertinggi yang layak di emban oleh seorang yang memegang tampuk  kepemimpinan  Muslimin.  Allah  SWT  telah  membalas  pengorbanan isteri-isteri  Nabi  saw  dalam  bentuk  mengangkat  kedudukan  mereka  dan menjadikan mereka sebagai ibu dari kaum mukmin. Allah SWT berfirman:
"Nabi  itu                 (hendaknya)  lebih  utama  bagi  orang-orang  mukmin  dari  diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka." (QS. al- Ahzab: 6)
Dan, sebagai penegasan terhadap keibuan spirituil ini, Islam mewajibkan hijab yang teliti kepada mereka, yaitu suatu hijab yang tidak diperlakukan seperti itu kepada Muslimah-Muslimah lain. Nabi saw melanjutkan dakwahnya. Beliau mengirim  surat  ke  raja-raja  dan  para  penguasa  di  mana  beliau  ingin menunjukkan  universalitas  ajaran  Islam.  Nabi  saw  mengajak  Kaisar  Romawi untuk  mengikuti  Islam,  lalu  beliau  mengirim  utusan  ke  Amir  Damaskus mengajaknya  untuk  memeluk  Islam,  dan  beliau  mengutus  utusan  ke  Amir Basrah bahagian dari wilayah Romawi dan mengajaknya untuk mengikuti Islam, dan  beliau  juga  mengirim  surat  ke  penguasa  Qibti  dan  mengajaknya  untuk masuk  Islam,  dan  beliau  juga  menulis  surat  ke  Kisra,  Raja  Persia  dan mengajaknya  untuk  mengikuti  Islam.  Beliau  juga  mengirim  utusan  ke  Amir Bahrain dan mengajaknya untuk mengikuti Islam.

Lalu berbagai reaksi disampaikan berkenaan dengan surat-surat Nabi itu. Di antara  mereka  ada  yang  berusaha  menyampaikan  kepada  pembawa  surat bahawa ia masuk Islam dan mengembalikannya dengan hadiah, dan di antara mereka  ada  yang  merobek-robek  surat  itu  dan  di  antara  mereka  ada  yang membalas surat itu dengan jawapan yang baik, dan di antara mereka ada yang menerima kebenaran. Demikianlah hari berlalu dalam pergelutan yang tidak pernah  padam,  suatu  pergelutan  yang  dipimpin  oleh  Nabi  sehingga  beliau menaklukkan Mekah dan menyucikan jazirah Arab. Akhirnya, manusia masuk dalam agama Allah SWT dalam keadaan berbondong-bondong, dan Allah SWT menyempurnakan agama bagi kaum Muslim dan Nabi saw melaksanakan haji wada' (haji  yang  terakhir)  dan  turunlah  kepada  beliau  wahyu  di  Arafah sebagaimana firman-Nya:

"Pada  hari  ini  telah  Ku-sempurnakan  untuk  kamu  agamamu,  dan  telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. " (QS. al-Maidah: 3)

Ayat tersebut dibacakan kepada Abu Bakar sehingga ia menangis. Allah SWT merasa bahawa telah tiba waktunya untuk mengakhiri misi Rasul- Nya. Aisyah berkata kepada anak-anak yang berteriak dan bermain-main di luar rumah: "Diamlah  kalian  kerana  Rasulullah  saw  sedang  sakit."  Anak-  anak  itu  pun terdiam  dan  mereka  merasakan  ketakutan  yang  luar  biasa.  Pada  hari-hari terakhir, Rasulullah saw tidak lagi bercanda dengan mereka sebagaimana yang biasa beliau lakukan.

Mereka memperhatikan bahawa kepucatan yang aneh menyelimuti Nabi saw yang  biasanya  wajah  beliau  dipenuhi  dengan  senyuman  hingga  wajahnya laksana lempengan emas. Nabi saw yang terakhir masuk dalam rumahnya dan hampir  saja  beliau  tidak  kuat  menahan  langkah  kedua  kakinya.  Beliau memasuki rumahnya dan bersandar kepada tangan Fadl bin Abbas dan Ali bin Abu  Thalib.  Beliau  merasakan  keletihan  dan  kesakitan.  Kemudian  Aisyah menidurkan  beliau  di  atas  ranjangnya  yang  kasar  dan  Aisyah  meletakkan tangannya di atas kening beliau. Kepala beliau tampak panas kerana saking hebatnya demam. Aisyah berkata dalam keadaan kedua matanya mengucurkan air mata, "demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah apakah engkau merasakan sakit?" Nabi saw tersenyum untuk menenangkan Aisyah lalu beliau tertidur. Kemudian mengalirlah  dalam  memori  Nabi  saw  berbagai  gambar  hidup:  Jibril  turun kepada beliau dengan membawa wahyu di gua Hira. Beliau telah melewati waktu  yang  diberkati  selama  dua  puluh  tiga  tahun,  yang  sekarang  tampak seperti mimpi. Bahkan empat puluh tahun yang mendahuluinya tampak seperti gambar yang hanya dilukis sesaat.

Segala  sesuatu  menjadi  mudah  bagi  Allah  SWT  dan  Rasulullah  saw  telah berhasil melalui berbagai penderitaan dengan penuh kesabaran, bahkan beliau tidak pernah mengeluh sekali  pun. Beliau mengajarkan akidah kepada para pengikutnya dengan penuh kemantapan. Akhirnya, Islam menjadi mulia dan benderanya  semakin  berkibar.  Kemudian  beliau  bangun  kerana  melihat tangisan yang tersembunyi dari Aisyah. Beliau membuka kedua matanya dan melihat  wajah  Aisyah  sambil  beliau  sendiri  berusaha  melawan  rasa  pusing, demam,  dan  sakit  yang  dirasakannya.  Beliau  kembali  tersenyum  untuk menenangkan  Aisyah  dan  beliau  kembali  memejamkan  matanya  dan  tidak sedarkan  diri.  Apa  gerangan  yang  menyebabkan  Aisyah  menangis?  Tidakkah Allah SWT memahkotai jihad Nabi saw yang berat dengan penaklukan Mekah dan penyucian Baitul Haram?

Berbagai gambar hidup dan aktual melayang-layang dalam memori Nabi saw. Beliau  mengingat  bagaimana  tindakan  orang  Quraisy  ketika  membantalkan perjanjian Hudaibiyah dan mereka memerangi Khaza'ah yang saat itu bersekutu dengan  kaum  Muslim  dan  akhirnya  mereka  membunuh  semua  sekutu  kaum Muslim  di  Baitul  Haram.  Kemudian  beliau  berjalan  bersama  pasukan  yang berjumlah sepuluh ribu di mana semua pasukan telah siap, dan tentera Muslim turun dari gunung Mekah laksana air bah yang tidak berhenti sedikit pun. Telah lewatlah  masa  para  pembawa  tombak,  panah,  dan  pedang;  telah  lewatlah masa di mana Rasulullah saw memimpin pasukan yang di dalamnya terdapat kaum  Muhajirin  dan  Anshar.  Di  tengah-tengah  pasukan  besar  tersebut  yang berhasil  menaklukkan  Mekah,  Nabi  saw  menunggangi  untanya  dan  beliau menundukkan  kepalanya  dengan  penuh  rendah  diri  di  hadapan  Allah  SWT sampai-sampai kepalanya hampir menyentuh punggung unta yang dinaiki. Pintu Mekah terbuka untuk pasukan ini.

Para  pemimpin  Mekah  dan  pengikut-pengikut  mereka  menyerahkan  diri. Kalimat Allah SWT semakin meninggi di dalamnya. Nabi saw memasuki Baitul Haram lalu beliau berkeliling di sekitar Ka'bah. Beliau menghancurkan berbagai patung yang berbaris di sekitarnya, lalu beliau memukulnya dengan kapaknya. Kemudian   patung-patung   itu   berjatuhan   dan   hancur.   Setelah   beliau membersihkan   masjid   dari   berbagai   patung   dan   mengembalikannya sebagaimana  yang  diciptakan  oleh  Allah  SWT  sebagai  rumah  tauhid  yang mutlak,  beliau  menoleh  kepada  orang  Quraisy  dan  memaafkan  mereka  dan mengajak mereka untuk kembali ke jalan Allah SWT. Kemudian tibalah waktu solat, lalu Bilal naik di atas punggung Ka'bah dan mengumandangkan Azan. Penduduk  Mekah  mendengarkan  panggilan  baru  ini  di  mana  gemanya berputar-putar di antara gunung:

"Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahawa Muhammad utusan Allah. Marilah melaksanakan solat. Marilah menuju keberuntungan. Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah." Akhirnya,   rumah   itu   dikembalikan   kehormatannya   dan   kemuliaannya. Kemudian lagi-lagi  arus berbagai gambar terlintas dalam memorinya: itulah peperangan Hunain dengan kekalahannya, kemenangannya, dan ganimahnya; Itulah  Nabi  saw  yang  memberikan  ganimah  terhadap  orang-  orang  yang bergabung dengan Islam hanya dua hari dari penduduk Mekah, dan mencegah untuk memberi ganimah Hunaian kepada kaum Anshar yang telah memberikan segalanya untuk Islam. Salah seorang di antara mereka berkata: "Demi Allah, Rasulullah saw telah menemui kaumnya." Sa'ad bin 'Ubadah berjalan ke arah Rasulullah saw dan memberitahunya bahawa kaum Anshar sedang marah. Rasul saw bertanya: "Mengapa marah?" Sa'ad menjawab: "Mereka protes saat engkau membagikan ganimah ini pada kaummu dan pada seluruh orang Arab namun mereka tidak mendapatkan apa-apa." Rasulullah saw bertanya kepada Sa'ad bin Ubadah: "Kamu sendiri bagaimana pendapatmu wahai Sa'ad?" Sa'ad berkata: "Aku  tidak  lain  kecuali  seseorang  dari  kaumku."  Rasulullah  saw  berkata: "Kumpulkanlah  kepadaku  kaummu  untuk  masalah  yang  penting  ini  dan  jika kalian telah berkumpul, maka beritahulah aku."

Sa'ad  mengumpulkan  seluruh  kaum  Anshar  lalu  ia  memberitahu  Rasul  saw bahawa  ia  telah  mengumpulkan  mereka.  Rasulullah  saw  keluar  menemui mereka dan berdiri di hadapan mereka sambil memuji Allah SWT dan kemudian berkata: "Wahai orang-orang Anshar, tidakkah aku datang kepada kalian saat kalian  dalam  keadaan  sesat  lalu  Allah  SWT  memberikan  petunjuk  kepada kalian, dan kalian menjadi orang-orang yang fakir lalu Allah SWT memampukan kalian, dan kalian dalam keadaan bermusuhan lalu Allah SWT menyatukan hati kalian?" Mereka menjawab: "Benar." Rasulullah saw berkata: "Mengapa kalian tidak menjawab wahai  kaum Anshar?" Mereka berkata: "Apa yang kita akan katakan wahai Rasulullah dan dengan apa kita akan menjawabnya. Sungguh segala kurnia hanya milik Allah SWT dan Rasul-Nya."

Rasulullah saw berkata: "Demi Allah, seandainya kalian mahu nescaya kalian akan mengatakan dan benar apa yang kalian katakan: Engkau datang kepada kami  sebagai  seorang  yang  terusir,  maka  kami  melingdungimu  dan  engkau datang  dalam  keadaan  miskin  lalu  kami  menghiburmu  dan  engkau  datang dalam  keadaan  ketakutan  lalu  kami  mengamankanmu  dan  engkau  datang dalam keadaan teraniaya lalu kami menolongmu." Mereka berkata: "Segala puji dan  kurnia  bagi  Allah  SWT  dan  Rasul-Nya."  Rasulullah  saw  berkata:  "Wahai kaum Anshar, apakah kalian akan marah terhadap harta yang telah aku berikan kepada suatu kaum dengan harapan agar keimanan meresap dalam hati mereka dan kalian justru melupakan kurnia yang telah Allah SWT berikan kepada kalian dalam bentuk nikmat Islam. Tidakkah kalian wahai kaum Anshar merasa puas ketika manusia pergi untuk melakukan perjalanan di musim dingin sedangkan kalian pergi dengan Rasulullah saw. Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya manusia melalui suatu jalan dan kaum Anshar melalui jalan yang lain nescaya aku akan melalui jalan kaum Anshar. Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar dan anak-anak kaum Anshar dan cucu kaum Anshar."

Mendengar  doa  itu,  kaum  tersebut  menangis  sehingga  janggut  mereka terbasahi dengan air mata dan mereka berkata: "Kami rela dengan Allah SWT sebagai  Tuhan  dan  sangat  puas  dengan  pembahagian  Rasulullah  saw." Kemudian  Nabi  saw  pun  meninggalkan  mereka  dan  mereka  pergi  dalam keadaan puas. Orang-orang Anshar memahami bahawa Muslim yang hakiki di dunia  adalah  seorang  yang  datang  di  dunia  untuk  memberi,  bukan  untuk mengambil.  Nabi  saw  terbangun  dan  beliau  mendapati  dirinya  sendirian  di kamar. Suhu tubuh beliau meningkat kerana demam, lalu beliau memanggil Aisyah dan meminta kepadanya untuk membawa air yang dapat digunakannya untuk mendinginkan tubuhnya. Aisyah mulai menuangkan air kepada Rasulullah saw sampai demam beliau beransur- ansur sedikit menurun. Tampak bahawa waktu  berlalu  cukup  lambat  dan  berat.  Sakit  Rasulullah  saw  semakin meningkat.

Beliau  mulai  merasa  bahawa  tidak  mampu  lagi  untuk  solat  bersama  para sahabat, lalu beliau memerintahkan Abu Bakar untuk solat bersama mereka. Pada  saat  Nabi  mengalami  antara  keadaan  terjaga  dan  tidur,  beliau  selalu berfikir  apa  gerangan  yang  belum  disampaikannya  kepada  manusia.  Beliau telah  menyampaikan  segala  sesuatu  dan  telah  mengajari  mereka  segala sesuatu serta telah meninggalkan sebuah Kitab yang siapa pun berpegangan dengannya ia tidak akan sesat.

Rasul  saw  mulai  mengantuk  dan  berbagai  nostalgia  terlintas  di  kepalanya. Beliau  melihat  dirinya  di  haji  Wada'.  Selesailah  perjanjian  yang  diberikan kepada  kaum  musyrik  dan  mereka  telah  dilarang  untuk  memasuki  Masjidil Haram dan sekarang Nabi saw keluar sebagai pemimpin haji dan mengajari kaum   Muslim   cara   manasiknya.   Rasulullah   saw   memperhatikan   ribuan orang-orang yang bertauhid saat mereka menuju Baitul Haram dalam keadaan memenuhi  panggilan  Tuhan  dan  tunduk  kepadanya.  Mereka  menghidupkan memori datuk mereka, Ibrahim Khalilullah. Nabi saw berdiri dan berpidato di tengah-tengah keramaian itu. Nabi saw mulai merasakan bahawa kehidupannya di dunia sebentar lagi akan berakhir. Beliau mengetahui bahawa kafilah ini akan pergi sendirian dalam menjalani kehidupan. Beliau kembali menanamkan nilai-  nilai  Islam  dan  wasiat  dakwah  di  jalan  Allah  SWT.  Setelah  berjuang selama dua puluh tiga tahun menegakkan agama Allah SWT, beliau bertanya kepada  mereka:  "Apakah  aku  telah  menyampaikan  amanat  Tuhan?"  Lalu manusia  yang  hadir  saat  itu  menyatakan  bahawa  beliau  benar-benar  telah menyampaikan dakwah. Beliau memanggil Mu'ad bin Jabal dan mengajarinya bagaimana  berdakwah  kepada  manusia  di  jalan  Allah  SWT  dan  bagaimana mengenalkan agama kepada mereka.

Kemudian beliau berwasiat kepada Mu'ad saat ia menunggangi kenderaannya sedangkan Rasulullah saw berjalan di sebelah untanya: "Sesungguhnya orang yang  paling  utama  di  sisiku  adalah  orang-orang  yang  bertakwa,  siapa  pun mereka dan di mana pun mereka." Nabi saw adalah rahmat bagi semua manusia dan sebagai cermin yang tertinggi dari cermin persaudaraan dan kepatuhan. Beliau  menegakkan  Al-Qur'an  di  tengah-tengah  umat  Islam  namun  beliau menolak segala bentuk penampilan yang biasa melekat pada seorang penguasa atau raja atau pemimpin apa pun. Beliau berkata kepada para sahabatnya: "Aku hanya seorang hamba Allah SWT dan Rasul-Nya."

Beliau   keluar   menemui   sekelompok   sahabatnya   lalu   sebagai   bentuk penghormatan kepada beliau mereka berdiri. Kemudian beliau memerintahkan kepada  mereka  agar  tidak  berdiri.  Ketika  beliau  keluar  untuk  menemui sahabat-sahabatnya dan murid-muridnya, maka beliau duduk bersama mereka di tempat terakhir yang ditemukannya. Beliau sangat bersahabat dan ramah dengan para sahabatnya, bahkan beliau bercanda dengan anak-anak mereka dan mendudukkan mereka di ruangannya. Beliau memenuhi panggilan orang dewasa  mahupun  anak-  anak.  Beliau  membesuk  orang-orang  yang  sakit meskipun berada di tempat yang jauh. Beliau menerima  alasan orang yang mempunyai  uzur.  Beliau  mendahului  orang  yang  ditemuinya  dengan  salam bahkan beliau mendahului berjabat tangan dengan para sahabatnya.

Ketika  seseorang  datang  untuk  menemuinya  saat  beliau  solat,  maka  beliau mempersingkat  solatnya  dan  menanyakan  keperluan  orang  itu.  Setelah menyelesaikan  keperluan  manusia,  beliau  kembali  menyelesaikan  solatnya. Beliau  selalu  menebar  senyum  kepada  kawan  dan  lawan  dan  memiliki keperibadian  yang  paling  baik.  Ketika  beliau  berada  di  rumahnya,  beliau melayani keluarganya. Beliau mencuci bajunya. Beliau memperbaiki sandalnya dan memberi minum unta. Beliau makan bersama pembantu. Beliau memenuhi kebutuhan orang yang lemah, orang yang sedih, dan orang yang miskin. Bahkan kebaikan  beliau  dan  kasih  sayangnya  sampai  pada  tingkat  di  mana  beliau membiarkan cucunya menaiki punggungnya saat beliau sedang solat.

Kasih sayang beliau tidak hanya terbatas kepada manusia bahkan juga tertuju pada binatang dan pohon. Beliau memberi makan binatang dengan tangannya sendiri   bahkan   beliau   pernah   merawat   anjing   yang   sakit.   Beliau memerintahkan pasukan Islam saat berperang demi menegakkan keadilan Islam agar  mereka  tidak  membunuh  anak  kecil,  orang  tua,  kaum  wanita  dan hendaklah mereka tidak mencabut pohon dan tidak pula merobohkan rumah.


Apa  yang  dibawa  oleh  Nabi  saw  bukan  hanya  suatu  undang-undang  yang mengatur  hubungan  antara  manusia  dan  manusia  yang  lain,  dan  apa  yang dibawa oleh Nabi saw bukan hanya berisi suatu sistem untuk meningkatkan kualiti kehidupan dan kemajuannya, ini semua adalah hal relatif namun beliau datang  dengan  membawa  peradaban  yang  abadi  yang  mengatur  hubungan antara  manusia  dan  alam,  dan  mengembalikan  keserasian  di  alam  wujud sehingga semua berjalan secara seimbang dan mencapai kesempurnaan menuju Allah SWT. Meskipun pada titik terakhir dari kehidupannya, beliau masih sibuk mengurus masa depan dakwah dan beliau sangat cemas terhadap masa depan agama dan sangat peduli dengan masalah kaum Muslim. Beliau khawatir suatu saat  Islam  hanya  tinggal  namanya  namun  hakikatnya  telah  lenyap.  Namun sebelum  beliau  meninggal,  Allah  SWT  telah  memperlihatkan  kepada  beliau sesuatu  yang  membuat  hati  beliau  menjadi  tenang.  Dan  di  hari  Senin  dari bulan Rabiul Awal yang mulia, beliau kembali kepada Tuhannya dalam keadaan ridha dan diridhai. Salam kepadamu ya Rasulullah dan kepada keluarga serta sahabat yang setia bersamamu. 

No comments:

Post a Comment