Ketika
cahaya tauhid padam di muka bumi, maka kegelapan yang tebal hampir saja
menyelimuti akal. Di sana tidak tersisa orang-orang yang bertauhid kecuali
sedikit dari orang-orang yang masih mempertahankan nilai-nilai ajaran tauhid.
Maka Allah SWT berkehendak dengan rahmat- Nya yang mulia untuk mengutus seorang
rasul yang membawa ajaran langit untuk mengakhiri penderitaan di tengah-tengah
kehidupan. Dan ketika malam mencekam, datanglah matahari para nabi.
Kedatangan Nabi tersebut
sebagai bukti terkabulnya
doa Nabi Ibrahim as kekasih
Allah SWT, dan
sebagai bukti kebenaran berita gembira yang disampaikan oleh Nabi Isa
as.
Allah
SWT menyampaikan selawatnya kepada Nabi itu, sebagai bentuk rahmat dan
keberkahan. Para malaikat pun menyampaikan selawat kepadanya sebagai
bentuk pujian dan
permintaan ampunan, sedangkan
orang-orang mukmin berselawat
kepadanya sebagai bentuk penghormatan. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya
Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang
beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya." (QS. al-Azhab: 56)
Sebelumnya
Allah SWT mengutus para nabi-Nya sebagai rahmat kepada kaum dan zaman mereka
saja, namun Allah SWT mengutus beliau saw sebagai rahmat bagi alam
semesta. Beliau Nabi
Muhammad saw datang
dengan membawa rahmat yang mutlak
untuk kaum di zamannya dan untuk seluruh zaman. Allah SWT berfirman, "Dan
aku tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta."
Hakikat
dakwah para nabi sebelumnya adalah menyebarkan Islam, begitu juga ajaran yang
dibawa oleh Nabi yang terakhir adalah Islam. Beliau saw adalah Muhammad bin
Abdillah bin Abdul
Muthalib, anak seorang
wanita Quraisy. Beliau saw
adalah pemimpin anak-anak
Nabi Adam as.
Beliau saw adalah hamba Allah SWT dan Rasul-Nya, serta
rahmat Allah SWT yang dihadiahkan kepada umat manusia.
Beliau saw
lahir di tanah
Arab. Ketika itu
malam gelap, tiba-tiba
Abdul Muthalib membayangkan bahawa
matahari telah terbit,
lalu ia bangun
dan ternyata mendapati dirinya di pertengahan malam, keheningan yang
luar biasa menyelimuti gurun yang
terbentang. Ia menuju
pintu khemah, lalu menyaksikan bintang-bintang bersinar di
langit, dan dunia tampak di selimuti dengan malam. Ia kembali menutup pintu
khemah dan tidur. Belum lama ia dikuasai oleh rasa kantuk yang amat sangat,
sehingga ia kembali bermimpi untuk kedua
kalinya. Segala sesuatunya tampak jela s kali ini, Sesungguhnya sesuatu yang
besar memerintahnya untuk melaksanakan perintah yang sangat
penting,
"Galilah zamzam!" Dalam mimpinya Abdul Muthalib bertanya:
"Apakah itu zamzam?" Kemudian untuk kedua kalinya perintah itu
mengatakan bahawa ia diperintahkan untuk menggali zamzam. Belum lama Abdul
Muthalib melihat sesuatu yang bersembunyi
itu, sehingga ia
berdiri di tempat
tidurnya dan hatinya berdebar
dengan keras. Abdul Muthalib bangkit, lalu ia membuka pintu khemah kemudian
pergi ke gurun yang luas. Apakah erti zamzam? Tiba- tiba fikirannya dipenuhi
dengan cahaya yang
datang dari jauh,
bahawa pasti zamzam adalah
sebuah sumur, tetapi
apa yang diinginkan
oleh suara yang datang dalam tidur itu agar ia menggali
sumur, di sana tidak ada jawapan selain satu jawapan dari pertanyaan ini, yaitu
agar orang- orang yang berhaji dan
berkeliling di sekitar
Ka'bah dapat meminumnya.
Tetapi apa nilai
dari sumur itu sendiri,
bukankah di sana
terdapat banyak sumur
yang dapat diminum oleh
orang-orang yang berhaji.
Abdul
Muthalib duduk di tengah-tengah pasir gurun pada pertengahan malam, ia memikirkan
bintang-bintang sembari merenungkan cerita- cerita kuno yang mengatakan tentang
sumur yang memancar
darinya air sebagai
akibat dari pukulan kaki Nabi
Ismail as, di sana juga ada cerita yang mengatakan bahawa sumur itu telah
binasa sesuai dengan perjalanan zaman.
Matahari
terbit di atas gurun Jazirah Arab, Abdul Muthalib keluar menemui
orang-orang, dan menceritakan
kepada mereka bahawa
ia akan menggali sebuah sumur di tempat tertentu, ia
menunjukkan ke tempat yang di situ ia diberitahu oleh
suara yang ada
dalam mimpinya. Orang-
orang Quraisy menolaknya, Sesungguhnya
tempat yang diisyaratkan
oleh Abdul Muthalib terletak di antara dua berhala dari
berhala-berhala yang biasa disembah oleh masyarakat setempat, yaitu di antara
berhala yang bernama Ashaf dan Nalah. Abdul Muthalib merasa bahawa usahanya
sia- sia untuk meyakinkan kaumnya agar mengizinkannya untuk menggali sumur.
Mereka mengetahui bahawa Abdul Muthalib tidak mempunyai sesuatu selain hanya
seorang anak. bahawasanya ia tidak
memiliki anak- anak
yang dapat menolong
dan memperkuatnya serta melaksanakan keinginan-keinginannya.
Pada
saat itu di kawasan negeri Arab dipenuhi dengan kabilah-kabilah yang
terjalin suatu ikatan
fanatisme atau kesukuan
yang kuat dan
usaha untuk melindungi keluarga
yang sangat menonjol.
Akhirnya Abdul Muthalib
pergi dalam keadaan sedih, lalu ia berdiri di hadapan Ka'bah dan
mengungkapkan suatu nazar kepada Allah SWT. Ia berkata: "Jika aku mendapat
sepuluh anak laki-laki, dan mereka
menginjak usia dewasa,
sehingga mereka mampu melindungiku saat aku menggali sumur
Zamzam, maka aku akan menyembelih salah seorang dari mereka di sisi Ka'bah sebagai
bentuk korban."
Pintu
langit pun terbuka untuk doanya. Belum sampai berlangsung satu tahun, isterinya
melahirkan anaknya yang kedua dan setiap tahun ia melahirkan anak
laki-laki sampai pada
tahun yang ke
sembilan, sehingga Abdul
Muthalib mempunyai sepuluh anak laki-laki. Kemudian berlalulah zaman dan
anak-anak Abdul Muthalib menjadi besar.
Abdul Muthalib
akhirnya menjadi seseorang
yang memiliki kemampuan. Kemudian Abdul Muthalib berusaha
melakukan rencananya yang diisyaratkan dalam
mimpinya itu, yaitu
ia bersiap-siap untuk
mengorbankan salah satu anaknya
sebagai bentuk pelaksanaannya dari
nazarnya. Maka dilakukanlah undian atas sepuluh anaknya,
lalu keluarlah nama anaknya yang paling kecil yaitu Abdullah. Ketika nama anak itu
keluar dalam undian, maka orang-orang yang
ada disekitarnya berusaha
memberontak, mereka mengatakan
bahawa mereka tidak akan membiarkan Abdullah disembelih.
Abdullah
saat itu terkenal sebagai seseorang yang bersih di kawasan Arab, ia telah dapat
menarik simpati masyarakat
di sekitarnya. Ia
tidak pernah menyakiti seseorang
pun. Bahkan ia tidak pernah meninggikan suaranya lebih dari orang
lain. Senyuman khas
Abdullah terkenal sebagai
senyuman yang paling lembut di
kawasan Jazirah Arab. Muatan rohaninya demikian jernih, dan hatinya yang mulia
menyerupai sebuah kebun di tengah-tengah gurun hati-hati yang keras, oleh
kerana itu semua manusia datang kepadanya dan menentang usaha
penyembelihannya. Para pembesar Quraisy berkata, "Lebih baik
kami menyembelih anak-anak kami daripada ia harus disembelih, dan menjadikan
anak-anak kami sebagai
tebusan baginya. Kami
tidak akan menemukan seseorang pun
yang lebih baik
dari dia seandainya
kami menyembelihnya,
pertimbangkanlah kembali masalah
itu, dan biarkan
kami bertanya kepada dukun."
Abdul Muthalib
tampak tidak mampu
menghadapi tekanan ini,
lalu ia mempertimbangkan kembali
apa yang telah ditetapkannya. Kemudian mereka mendatangi seorang dukun. Si
dukun berkata: "Berapakah taruhan yang kalian miliki?" Mereka
menjawab: "Sepuluh ekor
unta." Dukun itu
berkata: "Datangkanlah sepuluh unta, lalu lakukanlah kembali undian
atasnya dan atas nama Abdullah, jika undian datang padanya, maka tambahlah
sepuluh ekor unta lagi, lalu ulangilah terus undian tersebut, demikian hingga
tidak keluar lagi nama Abdullah."
Kemudian
dilakukanlah undian atas nama Abdullah dan atas sepuluh ekor unta yang besar.
Undian itu pun mengeluarkan terus nama Abdullah, hingga Abdul Muthalib menambah
sepuluh ekor unta lagi, kemudian lagi- lagi yang keluar nama Abdullah sehingga
mereka pun menambah sepuluh ekor unta lagi sampai jumlah unta itu telah
mencapai seratus ekor unta. Setelah itu, datanglah nama unta tersebut.
Maka saat itu,
masyarakat demikian gembiranya
sehingga berlinangan air mata,
kegembiraan dari mereka
kerana melihat Abdullah berhasil diselamatkan.
Kemudian disembelihlah seratus
ekor unta di
sisi Ka'bah, dan mereka membiarkannya di situ sehingga korban itu tidak
disentuh oleh seseorang pun dan juga disentuh oleh binatang-binatang buas.
Abdul
Muthalib sangat gembira atas keselamatan anaknya, Abdullah. Lalu ia
menetapkan untuk menikahkannya
dengan gadis terbaik
di Jazirah Arab, kemudian ia keluar dengannya pada suatu
hari dari Ka'bah ke rumah Wahab, dan di sana ia meminang untuknya Aminah binti
Wahab. Kemudian Aminah binti Wahab menikah dengan Abdullah bin Abdul Muthalib,
seorang pemuda yang paling mulia dan paling dicintai oleh orang-orang Quraisy.
Dinyalakanlah api-api di gunung-gunung Mekah, agar
para musafir dan para tamu mengetahui
tempat diadakannya acara tersebut, yaitu acara pernikahan antara Abdullah dan
Aminah. Lalu disembelihlah haiwan- haiwan korban, dan manusia dari kalangan
orang-orang fakir bahkan binatang-binatang buas dan burung makan darinya.
Abdullah tinggal bersama isterinya dua bulan di rumah pernikahan, hingga suatu
hari ada khabar bahawa kafilah akan berangkat, lalu Abdullah pun mengikuti
kafilah tersebut dan melakukan perjalanan bersama kafilah perdagangan Quraisy
menuju Syam, itu
adalah kesempatan terakhir yang diperoleh Aminah binti Wahab
bersamanya. Wajah Abdullah
yang mulai tampak
berseri-seri mengucapkan selamat tinggal kepada Aminah, lalu setelah itu
bayang- bayang wajahnya tersembunyi bersama kafilah dan mereka pun hilang.
Aminah tidak mengetahui bahawa itu adalah kesempatan terakhirnya setelah dua
bulan dari perkawinannya. Abdullah mengunjungi
paman- pamannya dari
kabilah bani Najar di
Madinah, dan di
sana ia meletakkan
jasadnya di muka
bumi, ia meninggal dunia.
Abdullah
bin Abdul Muthalib kini telah meninggal. Saat itu ia berusia dua puluh lima
tahun. Khabar kematiannya tiba-tiba tersebar dan sangat memilukan hati
orang-orang yang mendengarnya,
sehingga khabar itu
sampai ke isterinya. Aminah tampak
menangis tersedu-sedu dan
ia tampak menyampaikan pertanyaan-pertanyaan pada
dirinya dan tidak
mengetahui jawapannya, mengapa Allah
SWT menebusnya dengan
seratus unta jika
kemudian Dia menetapkan kematian
baginya.
Tidak
lama kemudian, lalu bergeraklah dirahimnya janin dengan gerakan yang
sedikit, ia tampak
mulai mengetahui bahawa
ia sedang hamil.
Aminah menangis dua kali, pertama ia menangis untuk dirinya sendiri dan
kali ini ia menangis untuk anak
yang ditinggal mati
ayahnya sebelum ia
sempat dilahirkan. Aminah tidak pernah mengetahui sebelumnya bahawa
janin yang dikandungnya akan menjadi anak yatim, ayahnya meninggal saat ia
dilahirkan.
Anak
yatim ini harus menanggung beban anak-anak yatim dan orang- orang fakir serta
orang-orang yang sedih di muka bumi. Ia akan menjadi Nabi yang terakhir dan
rasul-Nya kepada manusia.
Ia akan menjadi
rahmat yang dihadiahkan kepada
manusia dan tidak akan mengetahui makna rahmat kecuali orang yang
merasakan penderitaan dan
kepahitan. Inilah anak
kecil yang sebelum dilahirkan
telah menelan kesedihan. Dan berlalulah hari demi hari, lalu hilanglah tangisan
penderitaan dan mata Aminah pun telah mengering, namun kesedihannya tampak menyerupai
sebuah pohon yang tumbuh bersama kehausan.
Kemudian
kesedihannya hari demi hari semakin ia rasakan tetapi kesedihannya itu mulai
tidak tampak ketika
ia mendapatkan bahawa
janin yang dikandungnya tidaklah
memberatkannya, sebaliknya ia
merasakan betapa ringannya janin
yang dikandungnya bagaikan
merpati yang berkeliling
di seputar Ka'bah, dan seandainya kesedihannya yang selalu mengitarinya,
maka tidak ada wanita yang lebih bahagia darinya dengan kehamilan yang ringan
ini. Janin itu adalah manusia yang mulia di sisi Tuhan, kemudian semakin
dekatlah
hari
kelahirannya. Sementara itu, pasukan Abrahah mendekati Mekah.
Abrahah adalah
seorang penguasa Yaman,
yaitu pada saat
Yaman tunduk kepada Habasyah
setelah penguasa Persia
diusir. Di Yaman
ia membangun suatu gereja
yang menunjukkan bangunan
yang menakjubkan. Abrahah membangunnya dengan niat agar
orang-orang Arab berpaling dari Baitul Haram di
Mekah. Ia melihat
betapa orang- orang
Yaman tertarik dengan
rumah tersebut. Dan ketika ia tidak melihat gereja yang dibangunnya
memiliki daya tarik seperti itu dan tidak mampu menarik hati orang-orang Arab,
maka ia berkeinginan kuat untuk menghancurkan Ka'bah, sehingga orang-orang
tidak menuju ke Ka'bah
lagi melainkan ke
gerejanya. Demikianlah akhirnya
ia menyiapkan pasukan yang
besar yang dipenuhi
dengan berbagai senjata, kemudian pasukan itu menuju Ka'bah.
Pasukan
Abrahah terdiri dari kelompok gajah yang besar yang digunakannya untuk
menghancurkan Ka'bah. Gajah-gajah itu bagaikan tank-tank yang kita gunakan saat
ini. Orang-orang Arab pun mendengar rencana tersebut. Memang orang-orang Arab
saat itu terkenal
sebagai penyembah berhala,
meskipun demikian mereka sangat
memberikan penghargaan dan
penghormatan terhadap Ka'bah, kerana mereka meyakini bahawa mereka
adalah anak-anak Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as pemelihara Ka'bah.
Perjalanan pasukan
tiba-tiba dihadang oleh
seorang lelaki yang
mulia dari penduduk Yaman
yang bernama Dunaher.
Ia mengajak kaumnya
dan dari kalangan orang-orang
Arab untuk memerangi Abrahah, sehingga ada beberapa orang yang mengikutinya.
Abrahah berhadapan dengan tentera tersebut tetapi pasukan yang sedikit itu
dapat dengan mudah dipatahkan oleh pasukan kafir yang besar itu. Kemudian
Dunaher pun kalah dan menjadi tawanan Abrahah. Pasukan Abrahah
tersebut juga sempat
ditentang oleh Nufail
bin Hubaid al-Aslami, namun
Abrahah pun dapat
mengalahkan mereka dan
berhasil menawan Nufail.
Kemudian ketika
Abrahah melewati kota
Taif, menghadaplah kepadanya beberapa orang tokoh setempat, dan
mereka tampak gementar ketakutan dan berkata kepadanya bahawa sesungguhnya
'rumah' yang ditujunya tidak berada di tempat mereka, tetapi berada di Mekah.
Hal itu mereka sampaikan dengan maksud untuk memalingkannya dari rumah berhala
mereka, di mana mereka membangun di dalamnya
berhala yang bernama
Latha kemudian mereka mengutus seseorang
yang akan menunjukkan
kepada Abrahah letak
Ka'bah. Ketika Abrahah berada
di antara Taif
dan Mekah, ia
mengutus seorang pemimpin pasukannya
sehingga ia melihat
keadaan Mekah. Di
sana ia merampas banyak harta
dari kaum Quraisy dan selain mereka, dan di antara yang dirampasnya adalah dua
ratus unta milik Abdul Muthalib bin Hasyim. Saat itu Abdul
Muthalib adalah salah
seorang pembesar Quraisy
dan pemimpin mereka, serta
pengawas sumur Zamzam.
Kedatangan utusan
Abrahah di Mekah
telah menimbulkan gejolak
pada kabilah-kabilah. Akhirnya kaum Quraisy bergerak, begitu juga kaum
Khananah. Kemudian mereka mengetahui
bahawa mereka tidak
memiliki kemampuan untuk melawan
Abrahah, sehingga mereka membiarkannya, lalu tersebarlah di Jazirah Arab
berita tentang datangnya
pasukan yang kuat
yang sulit untuk ditandingi. Dalam
surat yang dibawa
oleh utusannya itu,
Abrahah menyampaikan bahawa ia tidak datang untuk memerangi mereka,
namun ia datang hanya untuk menghancurkan Ka'bah. Jika mereka tidak
menentangnya, maka darah mereka tidak akan ditumpahkan. Lalu utusan itu menemui
Abdul Muthalib, ia menceritakan tentang keinginan Abrahah. Abdul Muthalib
berkata: "Kami tidak ingin memeranginya kerana kami tidak memiliki
kekuatan. Ka'bah adalah rumah Allah SWT yang mulia dan suci, dan rumah
kekasih-Nya Ibrahim. Jika Ia mencegahnya, maka itu adalah rumah-Nya dan tempat
suci-Nya, namun jika Ia membiarkannya, maka demi Allah kami tidak memiliki
kekuatan untuk mempertahankannya."
Kemudian utusan itu
pergi bersama Abdul
Muthalib menuju Abrahah.
Abdul
Muthalib adalah seseorang yang sangat terpandang dan sangat mulia. Ia
memiliki kewibawaan dan
kehormatan yang mengagumkan.
Ketika Abrahah melihatnya, Abrahah
menampakkan penghormatan kepadanya.
Abrahah memuliakannya dan mendudukannya
di bawahnya, ia
tidak suka bahawa
ia duduk bersamanya di kursi kekuasaannya. Lalu Abrahah turun dari
kerusinya dan duduk di
atas sebuah permaidani
dan mendudukkan Abdul
Muthalib di sisinya. Kemudian ia
berkata kepada penerjemahnya: "Katakan padanya apa
kebutuhannya?" Abdul Muthalib
berkata: "Kebutuhanku adalah
agar Abrahah mengembalikan dua
ratus ekor unta
yang diambilnya dariku"
Ketika Abdul Muthalib mengatakan
demikian, wajah Abrahah
berubah, lalu ia
berkata kepada penerjemahnya: "Katakan padanya sungguh aku merasa
kagum ketika melihatnya, kemudian aku merasakan kehati-hatian saat berbicara
dengannya, apakah engkau berbicara denganku tentang dua ratus ekor unta yang
telah aku ambil, lalu engkau membiarkan rumah yang merupakan simbol agamanya
dan datuk-datuknya, yang aku
datang untuk menghancurkannya dan
dia tidak menyinggungnya sama sekali"
Abdul Muthalib menjawab: "Aku adalah pemilik unta, sedangkan pemilik rumah
itu adalah Tuhan yang melindunginya." Abrahah berkata: "Dia
tidak akan mampu
melindunginya dariku." Abdul
Muthalib menjawab: "Lihat saja nanti!"
Selesailah dialog
antara Abdul Muthalib
dan Abrahah. Abrahah
pun mengembalikan unta yang telah dirampasnya. Abdul Muthalib pergi
menemui orang-orang Quraisy dan
menceritakan apa yang
dialaminya, dan ia memerintahkan mereka
untuk meninggalkan Mekah
dan berlindung dibalik gua-gua di gunung. Akhirnya kota
Mekah dikosongkan oleh pemiliknya. Aminah binti Wahab keluar ke gunung-gunung
di dekat kota Mekah kemudian malaikat turun di bumi Jarzirah Arab.
Abdul Muthalib
berdiri dan memegangi
pintu Ka'bah dan
berdiri bersama dengan sekelompok
orang-orang Quraisy, mereka berdoa kepada Allah SWT dan meminta perlindungan-Nya, agar
para malaikat memerintahkan
gajah-gajah tidak melangkahkan kakinya sehingga gajah itu pun tetap di
tempatnya dan mentaati perintah para malaikat, kemudian gajah-gajah itu menerima
pukulan yang dahsyat namun gajah-gajah itu tetap berdiam di tempatnya,
gajah-gajah itu tampak gementar dan berteriak tetapi lagi-lagi gajah-gajah itu
menolak untuk bergerak dan tidak bergerak selangkah pun. Abrahah bertanya:
"Mengapa pasukan tidak bergerak?" Kemudian dikatakan kepadanya bahawa
gajah-gajah menolak untuk bergerak.
Abrahah mengangkat cemetinya.
Dengan muka emosi, ia ingin
melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan gajah-gajahnya.
Matahari saat
itu bersinar dan ia duduk di
khemahnya. Ketika ia
keluar, matahari bersembunyi di
balik segerombolan burung.
Abrahah mengangkat pandangannya
ke arah langit. Mula-mula ia membayangkan bahawa ia melihat sekawanan awan yang
hitam. Kemudian ia mengamat- amati awan itu. Dan ternyata ia bukan awan biasa.
Itu adalah sekelompok burung yang menutupi cahaya matahari dan menyerupai awan
yang tebal. Burung ababil, burung yang banyak.
Gajah-gajah
semakin berteriak dengan kencang dan tampak ketakutan. Dan rasa takut
itu kini menghinggapi
seluruh pasukan. Abrahah
berteriak di tengah-tengah
pasukannya agar gajah diusahakan untuk maju secara paksa. Kemudian terbukalah
salah satu jendela
dari jendela al-Jahim,
dan burung-burung itu menghujani pasukan dengan batu dari Sijil, yaitu
batu yang sama yang pernah dihujankan kepada kaum Nabi Luth. Batu itu
menyerupai bom-bom atom yang digunakan saat ini.
Jika
Anda membaca buku-buku kuno, maka Anda akan mengetahui bagaimana peristiwa yang
menimpa pasukan Abrahah. Anda akan membayangkan bahawa Anda berada
di hadapan suatu
kekuatan yang menghancurkan
yang tidak diketahui asal
muasalnya. Dunia mengenali sebahagian darinya setelah empat belas abad dari
peristiwa tersebut. Buku-buku itu mengatakan bahawa pasukan itu dihancurkan
dengan penghancuran yang dahsyat.
Para
tentera Abrahah kembali dalam keadaan binasa di mana daging- daging dari tubuh
mereka berciciran di jalan. Abrahah pun mendapatkan luka dan mereka keluar dari
tempat itu dalam keadaan dagingnya terpisah satu persatu. Abrahah pun
terbelah dadanya dan
mati. Kemudian jasad
para pasukannya tersebar dan
berciciran di bumi, seperti tanaman yang dimakan oleh binatang. Setelah mendekati
setengah abad, turunlah
suatu surah di
Mekah yang menceritakan tentang
peristiwa itu:
"Apakah
kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentera
gajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka
'bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong,
yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia
menjadikan mereka seperti daun yang dimakan (ulat)." (QS. al-Fil: 1-5)
Pasukan
gajah yang ingin memporak-porandakan Mekah dikalahkan. Kemudian mereka dihancurkan
dan Tuhan pemilik
Ka'bah berhasil melindungi
rumah suci-Nya. Perlindungan tersebut bukan sebagai penghormatan bagi
orang yang tinggal di rumah itu dan bukan sebagai bentuk pengkabulan doa kaum
yang menyembah berhala yang memenuhi tempat itu. Allah SWT sebagai Pelindung
Ka'bah memeliharanya kerana
adanya hikmah yang
tinggi; Allah SWT menginginkan sesuatu
bagi rumah itu;
Allah SWT ingin
melindunginya agar tempat itu
menjadi tempat yang damai bagi manusia dan supaya tempat itu menjadi pusat dari
akidah yang baru dan menjadi tanah bebas yang aman, yang tidak dikuasai oleh
seseorang pun dari luar dan juga tidak didominasi oleh pemerintahan asing yang
akan membatasi dakwah. Yang demikian itu kerana di sana terdapat rumah dari
rumah-rumah di Mekah yang lahir di sana seorang anak di
mana ibunya bernama
Aminah binti Wahab
dan ayahnya adalah Abdullah, salah
seorang tokoh Arab.
Anak itu belum
dilahirkan dan belum dapat
tugas kenabian dan ia belum
memikul Islam di
atas pundaknya dan belum menjadi rahmat bagi alam semesta.
Kemudian datanglah Abrahah yang ingin menghancurkan semua ini tanpa ia mengetahui
semua rahsia ini.
Tragedi
yang menimpa Abrahah adalah kerana bahawa ia berusaha menentang kehendak Ilahi
sehingga kehendak Ilahi itu menghancurkannya dengan mukjizat yang mengagumkan.
Datanglah banyak burung dengan membawa batu-batuan yang tidak
didengar suaranya. Kemudian
burung- burung melemparkan batu-batu itu
kepada Abrahah berserta
tenteranya. Semua ini
berdasarkan rencana Ilahi terhadap
rumah-Nya dan agama-Nya
serta nabi-Nya sebelum orang mengetahui bahawa Nabi Islam
telah bersiap-siap untuk meninggalkan tempat tidurnya di perut ibunya dan mulai
memasuki kehidupan yang keras di muka bumi.
Di tengah-tengah
kegembiraan Mekah kerana
keselamatan penghuninya dan selamatnya Ka'bah, Aminah binti Wahab
bermimpi: di tengah suatu malam ia menyaksikan dirinya berdiri sendirian di
tengah-tengah gurun, dan telah keluar dari dirinya suatu cahaya besar yang
menyinari timur dan barat dan terbentang hingga
langit. Aminah tiba-tiba
terbangun dari tidurnya
namun ia tidak mengetahui tafsir dari mimpinya.
Berlalulah
hari demi hari dari tahun gajah. Dan pada waktu sahur dari malam Senin hari kedua belas dari bulan
Rabiul Awal, Aminah
melahirkan seorang anak kecil
yang yatim yang
bernama Muhammad bin
Abdillah bin Abdul Muthalib, seorang cucu dari Ismail bin
Ibrahim bin Adam.
Sebelum
ia dilahirkan, dunia mati kerana kehausan padanya. Kehausan dunia sangat besar
kepada cinta, rahmat, dan keadilan. Sekarang teiah berlalu 600 tahun dari
kelahiran al-Masih dan orang-orang Masehi telah menjauhi ajaran cinta, bahkan
keyakinan-keyakinan
berhalaisme telah meresap
kepada sebahagian kelompok mereka
dan kejernihan ajaran
tauhid telah ternodai. Sedangkan orang-orang
Yahudi telah meninggalkan
wasiat-wasiat Musa dan mereka kembali menyembah lembu yang
terbuat dari emas. Dan setiap orang dari
mereka lebih memilih
untuk memiliki lembu
emas yang khusus. Demikianlah, berhalaisme
telah menyerang di
bumi. Bumi dipenuhi
oleh kegelapan. Akal disingkirkan dan Tuhan dilupakan dan mereka
menyerahkan diri mereka kepada pembohong.
Ketika
jantung dunia telah terkena kekeringan, maka memancarlah dari timur suatu mata
air keimanan yang jernih yang
menjadi puas dengannya separa dunia. Dan
mukjizat besar terjadi ketika mata air ini mengeluarkan air yang jernih dari
jantung gurun yang
paling besar ketandusannya
di dunia, yaitu gurun jazirah Arab. Berkenaan dengan
penggambaran masa tersebut, dalam hadis yang mulia dikatakan: "Sesungguhnya
Allah melihat penduduk bumi lalu Dia murka kepada mereka, baik orang-orang Arab
mahupun orang-orang Ajam kecuali sebahagian kecil dari Ahlul kitab."
Di tenda
yang kasar, lahirlah
seorang anak yatim
yang kemudian
bertanggungjawab untuk memberikan
minum kepada dunia
yang haus pada cinta, keadilan, kebebasan, serta
kebenaran. Sementara itu, beberapa langkah dari
tempat kelahirannya terdapat
berhala-berhala yang memenuhi
Baitul 'Athiq dan sekitar Ka'bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan
Nabi Ismail agar menjadi rumah Allah SWT dan Dia disembah di dalamnya dan
manusia merasa tenteram di dalamnya. Di rumah yang kuno ini - yang dibangun sebelumnya oleh Adam -
dipenuhi patung- patung tuhan yang terbuat dari batu dan kayu. Ini menunjukkan
betapa akal orang-orang
Arab saat itu
mengalami titik terendah.
Sementara
itu nun jauh di sana, tepatnya di Yatsrib atau Madinah dipenuhi oleh
orang-orang Yahudi yang mereka datang di sana kerana melarikan diri dari
penindasan orang-orang Romawi.
Mereka tinggal di
situ bagaikan serigala-serigala di
atas tanah yang
tersubur di mana
mereka melakukan monopoli dalam
perdagangan. Mereka membangun kejayaan mereka dengan memanfaatkan orang-orang
Arab dan kehairanan mereka terhadap diri mereka sendiri.
Para
cendekiawan Yahudi memperdagangkan segala sesuatu, dimulai dari emas
sampai Taurat. Mereka
menyembunyikan
kertas-kertas darinya dan menampakkan sebahagiannya; mereka
mengubah kertas-kertas Taurat
itu untuk memperkaya diri
mereka. Pada saat
orang-orang Yahudi menyembah emas dan sangat
lihai melakukan persekongkolan, orang-
orang Arab justru menyembah batu
dan mereka pandai
berperang. Mereka juga
lihai dalam membuat syair lalu
menggantungkannya di atas tirai-tirai Ka'bah. Orang-orang Arab hidup di bawah
naungan sistem kesukuan di mana kepala suku adalah pemimpin dan
nilainya sebanding dengan
anak buahnya, dan
kemampuan mereka dalam berperang.
Dan keutamaan seseorang
di lihat dari
asal muasalnya serta nilainya juga di lihat dari kefanatikannya serta
kebanggaannya kepada nasab yang merupakan kemuliaannya, juga kefanatikannya
terhadap berhala tertentu yang merupakan agamanya. Jadi, segala bentuk
kemuliaan dan kewibawaan tidak
terbentuk kecuali dalam
ruang lingkup yang
sempit dalam kabilah atau kesukuan.
Sedangkan di tempat yang
jauh dari Mekah,
Romawi menyerupai burung rajawali yang
lemah, namun belum
sampai kehilangan kekuatannya. Orang-orang Romawi sangat
menyanjung kekuatan. Sedangkan di belahan timur dari utara negeri Arab,
orang-orang Persia menyembah api dan air. Api tetap menyala di tempat
peribadatan mereka di mana manusia rukuk untuknya. Dan di sana terdapat danau
Sawah yang dianggap suci oleh mereka.
Sementara itu,
Kisra, raja kaum
Persia duduk di
atas singgahsananya dan memberikan keputusan terhadap manusia.
Keputusan Kisra selalu didengar dan dilaksanakan. Tidak
ada seorang pun
yang berani menentangnya
dan menolaknya. Orang-orang Persia
berhasil mengalahkan Romawi
dan Yunani, sehingga mereka
menjadi kekuatan yang
dahsyat di muka
bumi. Meskipun mereka memiliki
kekuatan yang sangat luar biasa, namun penyembahan api jelas-jelas menunjukkan
betapa bodohnya mereka
dan betapa kekuatan mereka diliputi oleh kebodohan
sehingga akal mereka tercabut dan mereka terhalangi untuk mencapai kebenaran.
Alhasil, kegelapan semakin meningkat di setiap penjuru bumi dan kehidupan
berubah menjadi hutan yang lebat di mana di dalamnya seorang yang kuat akan
menyingkirkan seorang yang lemah dan di dalamnya yang menang adalah kebatilan.
Di
tengah-tengah suasana yang demikian kelam, lahirlah seorang anak di tenda
Mekah. Ketika anak tersebut lahir, maka padamlah api yang disembah oleh kaum
Persia dan keringlah danau Sawah yang disucikan oleh manusia, bahkan robohlah empat
belas loteng dari istana Kisra.
Dan syaitan merasa bahawa penderitaan yang besar telah
merobek-robek hatinya. Ini semua sebagai simbol dimulainya kehancuran
kejahatan atau keburukan
di muka bumi
dan terbebasnya akal manusia dari penyembahan terhadap sesama manusia
atau terhadap hal-hal yang
bersifat khurafat. Manusia
diajak hanya untuk menyembah kepada
Allah SWT. Kelahiran
Rasul sebagai bukti
hilangnya kelaliman,
sebagaimana kelahiran Nabi
Musa yang menunjukkan
kebebasan Bani Israil dari kelaliman Fir'aun.
Ajaran Muhammad
bin Abdillah merupakan
ajaran revolusi yang
paling meyakinkan dan yang paling penting yang pernah dikenal di dunia;
ajaran yang bertugas untuk menyelamatkan dan membebaskan akal dan materi. tentera
Al-Quran adalah tentera
yang paling adil
dan paling berani
untuk menghancurkan orang-orang yang lalim. Kita akan melihat dalam
sejarah Nabi bahawa
kejadian-kejadian luar biasa
telah mengelilingi Ka'bah
sebelum kelahirannya. Kemudian terjadilah peristiwa luar biasa setelah
kelahirannya di mana terjadilah peristiwa
pembelahan dada pada
saat beliau masih
kecil, begitu juga beliau dinaungi oleh awan di waktu kecil, bahkan
beliau terkenal pada saat masih
kecil dengan kecenderungan untuk
meninggalkan permainan-permainan yang biasa dimainkan oleh anak-anak
kecil seusia beliau. Allah SWT memberikan penjagaan khusus kepadanya sehingga
Jibril as turun kepadanya dengan membawa wahyu.
Selanjutnya,
mukjizatnya yang pertama adalah mukjizat yang terdapat pada
keperibadiannya dan pemikiran-pemikirannya. Itulah
yang menjadi mukjizatnya yang
terbesar setelah Al-Quran; itu adalah bangunan rohani yang tinggi di mana
beliau mampu menahan penderitaan di jalan Allah SWT. Dan dalam menegakkan
kebenaran, beliau memikul
berbagai macam rintangan. Beliau melaksanakan
amanat yang dikembangnya
secara sempurna dan sebaik-baik mungkin. Hal yang indah yang dikatakan tentang mukjizat Nabi
setelah diutusnya beliau
adalah bahawa beliau
tidak mempunyai mukjizat selain usaha
membebaskan akal: tanpa
memiliki kekuatan luar
biasa selain membebaskan fikiran,
tanpa dalil selain kalimat Allah SWT.
Sedangkan Isa
bin Maryam telah
berdakwah dan mengajak
manusia untuk menciptakan kesamaan,
persaudaraan, dan cinta
kasih di antara
mereka, namun Muhammad saw
diberi kurnia untuk
mewujudkan persamaan,
persaudaraan, dan cinta kasih di antara orang-orang mukmin di tengah- tengah
kehidupannya dan setelah kehidupannya.
Ketika Nabi
Isa mampu menghidupkan orang-orang
yang mati dan mengeluarkan mereka
dari kuburan, Muhammad
bin Abdillah menghidupkan orang-orang hidup dari kematian
mereka yang tidak pernah mereka sedari. Itu adalah bentuk kematian yang paling
berat. Beliau juga mengeluarkan mereka dari kegelapan dan kebodohan menuju
cahaya ilmu, dan dari belenggu syirik dan kekufuran menuju dunia tauhid.
Sulaiman sebagai
seorang Nabi dan
raja mampu memperkerjakan jin
untuk mengabdi padanya, bahkan
mereka mampu terbang
beribu-ribu mil untuk menghadirkan singgasana
musuh-musuhnya agar mereka
semua tercengang terhadap
kemampuannya, sehingga mereka masuk Islam. Namun Muhammad saw justru
mengabdi kepada Islam
hanya sebagai seorang
tentera yang sederhana. Beliau
mengetahui bahawa ketika
beliau lalai sesaat
saja dari dakwah di jalan Allah
SWT, maka kesempatannya dalam menyebarkan agama Islam akan hilang.
Di saat
terjadi peristiwa besar
dalam peperangan, tiba-tiba
azan solat dikumandangkan,
sehingga para pasukan yang berperang mengerjakan solat. Tidak ada
malaikat yang turun
untuk melindungi mereka
ketika solat atau mencegah
datangnya anak-anak panah
dari punggung mereka
saat sujud. kerana itu, hendaklah
para pasukan melindungi dirinya sendiri. Para pasukan mukmin berusaha
solat secara bergantian:
sebahagian mereka solat
dan sebahagian mereka bertugas untuk menjaga.
Allah
SWT berfirman:
"Dan
apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan
solat bersama-sama mereka,
maka hendaklah segolongan dari
mereka berdiri (solat) bersertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila
mereka sujud (telah menyempurnakan
serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi
musuh) dan hendaklah datang golongan
yang kedua yang
belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan
hendaklah mereka bersiap siaga dan
menyandang senjata. Orang-orang
kafir ingin agar
kamu lengah terhadap senjatamu
dan harta bendamu,
lalu mereka menyerbu
kamu dengan sekaligus."(QS. an-Nisa': 102)
Selesailah
masalah itu dan tidak ada malaikat yang turun untuk melindunginya dan
menolongnya. Ini adalah masa kematangan akal dan masa keletihan para nabi dan
orang-orang mukmin. Dan
sesuai kadar keletihan
mereka dalam menyampaikan ajaran
Islam, mereka pun
akan mendapatkan balasan
yang besar.
Pada masa
para nabi sebelum
Nabi Muhammad saw,
mereka menghadirkan
mukjizat-mukjizat kepada kaum mereka saat memulai dakwah, sehingga kaum
tersebut mempercayai apa
saja yang mereka
bawa, sedangkan Nabi Muhammad bin Abdillah tidak
menghadirkan kepada kaumnya selain dirinya dan ketulusannya.
Allah
SWT telah memutuskan untuk melindungi Musa dan memerintahkannya untuk
mengangkat gunung di atas kaumnya
hingga mereka beriman
kepada Taurat, atau untuk
menjatuhkan gunung tersebut
di atas mereka.
Ketika mengetahui hal yang
Demikian itu, orang-orang
Yahudi sujud dengan meletakkan pipi mereka di atas tanah
dan mereka mengamati bukit batu yang berada di atas kepala mereka yang diangkat
oleh tangan yang tersembunyi. Sedangkan Nabi Muhammad bin Abdillah tak pernah
memaksa seseorang pun. Berimanlah beberapa orang kepadanya dan puaslah beberapa
orang kepadanya dan matilah bersamanya orang-orang yang mati dalam keadaan
puas. Beliau tidak membawa pedang kecuali saat panah yang beracun mendekati
jantung Islam dan mengancamnya.
Dakwah para
nabi menuntut terjadinya
mukjizat demi mukjizat.
Ini kerana masa kekanak-kanakan manusia
serta kelemahan akal
dan hilangnya panca indera menuntut rahmat Allah SWT untuk
mendatangkan mukjizat yang sesuai dengan masa turunnya mukjizat tersebut dan
budaya masyarakat setempat. Adalah hal yang maklum bahawa di tengah-tengah
penduduk Mekah saat itu tidak
terdapat orang-orang yang
cerdas atau orang-orang
yang bijak yang mampu menyerap kata-kata yang baik. Dan
kesulitan yang dihadapi oleh Islam adalah bahawa ia tidak diturunkan pada masa
ini saja, tetapi Islam diturunkan untuk setiap masa. Allah SWT mengetahui
bahawa manusia telah memasuki masa
kematangan berfikir yang
mengagumkan, maka hikmah-Nya
menuntut bahawa pernyataan yang pertama
kali disebutkan dalam
risalah-Nya adalah
"iqra'"
(bacalah). Di samping itu, risalah tersebut mengandung pemikiran yang
universal, sistem yang
membangun, dan hukum
yang mempesona, serta kebebasan yang diidamkan, dan manusia
yang sempurna.
Adalah
tidak mengurangi kehormatan para nabi sebelum Nabi Muhammad saw di mana mereka
tidak diutus di masa-masa kematangan pemikiran, tetapi yang menambah kehormatan
Nabi Muhammad saw
bahawa beliau diutus
di tengah-tengah masa kematangan
berfikir, dan beliau
diutus sebelum datangnya masa
ini. Beliau memikul berbagai lipat cubaan yang pernah dipikul oleh para nabi;
beliau berdakwah dengan menanggung berbagai lipat godaan dan cubaan; beliau
mengalami seksaan yang pernah dialami oleh semua para nabi; beliau mencintai
Allah SWT sebagaimana para nabi mencintai-Nya. Allah SWT memuliakannya ketika
beliau mengimami mereka di saat solat pada saat beliau melakukan Isra' dan
Mi'raj. Meskipun demikian, ketika beliau keluar pada suatu hari
menemui sahabat-sahabatnya dan
mendapati mereka
mengutamakan para nabi
dan mendahulukannya atas
mereka, maka beliau justru
menampakkan kemarahan dan
wajahnya berubah. Beliau
berkata: "Janganlah kalian mengutamakan aku atas Yunus bin
Mata."
Melalui
pernyataan itu, beliau berusaha meletakkan suatu pondasi pemikiran yang harus
dilalui oleh kaum
Muslim di mana
para nabi memang
memiliki darjat tertentu di sisi Allah SWT. Boleh jadi ada nabi yang
lebih afdal atau yang lebih mulia daripada yang lain. Siapakah yang menetapkan
hal itu? Tidak ada seorang pun selain Allah SWT. Ada pun kaum Muslim hendaklah
mereka berhenti pada batas
tertentu yang seharusnya
mereka berikan berkaitan dengan sopan santun terhadap para
nabi. Selama Allah SWT menyampaikan selawat
kepada rasul sebagai
bentuk penghormatan dan
memerintahkan mereka untuk menyampaikan
selawat kepadanya, dan
selama Rasulullah
seperti
nabi-nabi yang lain, maka hendaklah mereka juga berselawat kepada semua nabi
tanpa perbezaan, meskipun pada bentuk selawat itu sendiri.
Sementara
itu, bayi yang mungil itu yang lahir di Mekah bergerak setelah tahun
gajah. Kemudian berita
tersebar di sana
sini dan Sampailah
ke telinga datuknya bahawa
cucunya telah dilahirkan. Abdul Muthalib segera menuju ke tempat itu dan
membawa cucunya yang yatim lalu berkeliling dengannya di Ka'bah sambil
memikirkan namanya. Abdul
Muthalib tidak merasa
terpukau dengan nama-nama yang
mulai beredar di
benaknya. Ia tampak
bingung menentukan nama yang paling tepat buat cucunya, bahkan
kebingungannya itu berlanjutan
sampai enam hari,
sehingga sang Nabi
di sunat. Ketika
malam telah menyelimuti kawasan Mekah, datanglah kepadanya suara yang
sama yang dulu pernah dilihatnya
dan didengarnya yang
memerintahkannya untuk
menggali zamzam. Di tengah-tengah tidurnya,
suara itu membisikkan
kepadanya
bahawa nama cucunya berasal dari al-Ham, yang berarti Muhammad atau Ahmad.
Orang-orang
Quraisy bertanya kepada Abdul Muthalib: "Nama apa yang engkau berikan
kepada cucumu?" Abdul Muthalib menjawab sambil mengingat bisikan suara
yang didengarnya saat mimpi, "Muhammad." Nama tersebut sebenamya
tidak umum di kalangan orang-orang Jahilliyah. Mereka bertanya, "Mengapa
Abdul Muthalib tidak
memakai nama-nama datuk-datuknya dan
nama-nama yang biasa dipakai di kalangan mereka." Abdul Muthalib
menjawab: "Aku ingin Allah SWT memujinya di langit dan manusia memujinya
di bumi."
Kami tidak
mengetahui dorongan apa
yang membuat Abdul
Muthalib untuk menyatakan kalimat
tersebut. Apakah kalimat
itu bersumber dari
realiti kebanggaan
orang-orang Arab yang
popular atau berasal
dari realiti kebanggaan tradisional?
Atau, apakah berangkat dari realiti kegembiraan yang dalam dengan kelahiran si
cucu, ataukah kalimat itu bersumber dari suasana rohani yang jernih dan bisikan
alam ghaib? Tentu kami tidak bisa menjawab. Yang dapat
kami ketahui adalah
bahawa seseorang tidak
akan layak menyandang predikat
manusia yang dipuji di bumi dan dipuji oleh Allah SWT di langit seperti
predikat yang disandang oleh Muhammad bin Abdillah.
Nabi Muhammad
saw muncul ke
alam wujud dalam
keadaan yatim. Beliau ditinggalkan oleh ayahnya saat beliau
masih janin di dalam perut ibunya. Allah SWT berfirman:
"Bukankah
Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?" (QS.
adh-Dhuha: 6)
Allah
SWT melindunginya. Orang-orang sufi mengatakan bahawa sebab- sebab
kemanusiaan seperti adanya
datuknya Abdul Muthalib
dan bagaimana ia mengasuhnya dan melindunginya tidak lain
hanya bentuk lahiriah yang tidak begitu penting, sedangkan bentuk batiniah yang
sebenarnya adalah kita berada di
hadapan manusia yang
dilindungi dan diasuh oleh Tuhannya sejak masih kecil. Allah
SWT mendidiknya saat beliau masih kecil, dan mengujinya dengan keyatiman saat
beliau masih janin serta mengujinya dengan kelaparan sejak masih kecil,
dan dewasa dengan
kematian si ibu,
saat beliau masih
kecil dengan keterasingan di
tengah-tengah keramaian, dan
dengan terjaga di tengah-tengah tidur serta dengan
penderitaan demi penderitaan. Allah SWT telah menyiapkannya sejak usia dini
untuk memikul beban risalah terakhir.
Selanjutnya,
ibunya seringkali memeluknya lebih dari sebelumnya. Ia melihat bahawa banyak
dari wanita-wanita yang
menyusui tidak berkenan
untuk mengasuhnya. Adalah sudah
menjadi tradisi yang
berkembang di Mekah
di mana keluarga-keluarga yang mulia mengirim anaknya ke kawasan dusun
agar anak tersebut menyerap dan menghirup udara segar serta memperoleh mainan
yang memadai. Dan biasanya wanita-wanita
yang menyusui anak-anak lebih tertarik menyusui anak- anak dari
orang-orang kaya. Namun ketika pemimpin manusia seorang yang fakir, maka
wanita-wanita yang biasa menyusui tidak berminat kepadanya.
Marilah
kita telusuri bagaimana Halimah binti Abi Duaib menceritakan kisahnya bersama
anak kecil yang disusuinya: "Saat itu terjadi musim tandus dan kami tidak
memiliki sesuatu sehingga aku dan suamiku mengalami kemiskinan yang luar biasa.
Lalu kami menetapkan
keluar ke Mekah
dan menemani wanita-wanita dari
Bani Sa'ad. Kami
semua mencari anak-anak
yang masih menyusu agar
orang tua mereka
dapat membantu kami
untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Binatang
yang aku tunggangi sangat lemah dan sangat kurus yang itu semua disebabkan oleh
kekurangan makanan. Bahkan kami khawatir kalau-kalau ia berhenti di
tengah perjalanan dan
mati. Dan kami
tidak tidur semalaman kerana melihat kondisi anak kecil
yang bersama kami. Ia menangis kerana tidak menemukan makanan yang dapat
dimakannya. Ia menangis kerana kelaparan dan tidak mendapat air susu, baik dari
air susuku mahupun air susu unta yang dibawa oleh suamiku, sehingga kami tidak
dapat memuaskan dahaganya. Di tengah-tengah
malam, aku merasakan
keputusasaan. Aku bertanya-tanya bagaimana aku dapat melakukan
sesuatu dalam keadaan yang demikian.
Akhirnya, kami
sampai di Mekah.
Sementara itu, wanita-wanita
yang ingin mencari anak-anak yang
dapat mereka susui telah mendahului kami. Mereka mengambil anak-anak
kecil yang mereka
sukai, kecuali satu
anak, yaitu Muhammad di mana
ayahnya telah meninggal dan ia berasal dari keluarga yang miskin meskipun
sebenarnya kedudukannya sangat mulia di antara tokoh-tokoh Quraisy. Oleh kerana
itu, wanita-wanita enggan untuk mengasuhnya. Namun aku dan suamiku tidak
sefaham dengan mereka kerana aku tidak peduli dengan
keyatiman dan
kefakirannya. Kemudian aku
malu untuk kembali
dan tidak mengambil bayi yang
dapat aku susui kemudian. Di samping itu, aku malu jika mendapat cercaan dari
wanita-wanita itu. Lalu aku merasakan adanya kasih sayang yang memenuhi hatiku
terhadap anak kecil yang tampan itu yang akan diganggu oleh udara yang
kotor."
Kisah tersebut
mengatakan bahawa saat
anak-anak kecil mendapatkan wanita-wanita yang menyusuinya,
maka Muhammad bin Abdillah sedang tidur dalam keadaan lapar di ranjangnya yang kasar,
tanpa disusui oleh siapa pun. Suatu
hikmah yang tinggi
berkehendak agar bayi
yang masih menyusui
itu menghadapi dunia dalam keadaan yatim dan dalam keadaan kelaparan
agar ia dapat merasakan penderitaan
anak-anak yatim dan
orang-orang yang lapar sebelum ia menyelamatkan mereka.
Halimah
mengatakan bahawa ia meyakinkan suaminya bahawa ia merasakan keinginan yang
kuat untuk mengambil
anak yatim ini,
sehingga suaminya menyetujuinya. Halimah
tidak mengetahui rahsia
keinginannya yang samar agar ia kembali untuk mengambil anak
yatim yang masih menyusu ini. Ia tidak mengetahui bahawa Allah SWT telah
menanamkan rasa cinta kepada anak kecil itu dalam hatinya seperti Allah SWT
menanamkan cinta kepada Musa pada hati isteri Fir'aun. Jika Musa menolak
wanita-wanita lain untuk menyusuinya kecuali ibunya setelah Allah SWT
mencegahnya dari susuan wanita-wanita lain agar ibunya merasa bahagia dan tidak
bersedih, maka Muhammad bin Abdillah
-seorang anak kecil
yang masih menyusu
dan mulia --justru ditolak
oleh wanita-wanita yang menyusui,
sedangkan ia sendiri
tidak pernah menolak seseorang pun.
Halimah kembali
kepadanya dan ia
memberitahu bahawa ia
akan mengasuhnya. Nabi Muhammad
saw adalah seorang
yang mulia. Halimah meletakkan tangannya di dadanya,
sehingga anak kecil itu tertawa. Halimah mencium di antara kedua matanya. la
meletakkannya di kamarnya. Halimah mengetahui
bahawa kedua air
susunya telah kering,
namun tiba-tiba air susunya memancar
dengan keras sebagai
bentuk kasih sayang
dan tanda kebesaran dari Allah
SWT. Kini Halimah pun dapat menyusuinya. Apakah itu merupakan hikmah
yang tinggi di
mana anak kecil
tersebut merasa cukup dengan
sesuatu yang sedikit?
Ataukah anak kecil itu
sudah dapat mendidik dirinya untuk
zuhud dan qanaah
sebelum ia mendidik
orang-orang dewasa tentang
pengorbanan dan kesatriaan?
Halimah
kembali ke gurun Bani Sa'ad dan ia membawa Muhammad bin Abdillah. Belum lama ia
menyaksikan tanahnya yang tandus sehingga tiba-tiba kebaikan dunia terbuka
dan mekar di
hadapannya, di mana
bumi dipenuhi dengan kehijau-hijauan setelah
mengalami masa tandus.
Pohon-pohon berbuah dan buah kurma tampak berseri-seri setelah
sebelumnya layu, bahkan susu-susu binatang pun mulai tampak banyak.
Allah SWT memberikan berkah-Nya kepada tempat
tersebut. Halimah mengetahui
bahawa kebaikan ini
telah datang bersama kedatangan
anak kecil yang diberkahi, sehingga cintanya kepada anak itu semakin bertambah.
Bahkan suaminya pun menjadi tawanan cinta yang lain kepada Muhammad saw.
Pada
suatu hari ia berkata kepada isterinya: "Apakah engkau mengetahui wahai
Halimah bahawa engkau telah mengambil seorang anak yang mulia?" Halimah
berkata: "Anak kecil itu tidak menangis dan tidak berteriak kecuali ketika
ia telanjang." Ketika anak kecil itu gelisah di tengah malam dan tidak
tidur, maka Halimah membawanya keluar
dari khemah dan
ia berhenti bersamanya
di bawah sinar bintang. Saat itu anak itu tampak bergembira ketika
menyaksikan langit. Setelah kedua matanya terpuaskan oleh pandangan ke arah
langit, ia pun mulai tidur.
Ketika
anak itu mencapai tahun yang kedua, maka ia telah disapih, sehingga ibunya ingin
mengambilnya, tetapi Halimah
tidak kuat untuk
menahan perpisahan ini. Halimah menjatuhkan dirinya di hadapan kedua
kaki sang ibu dan ia mulai
menciuminya dan ia
meminta agar membiarkannya
bersama anaknya sehingga anak
itu benar-benar kuat
dan dapat kembali
menghirup udara segar gurun.
Akhirnya, Rasulullah saw
tinggal di tempat
Bani Sa'ad sampai lima tahun. Dan
pada masa lima tahun ini terjadi peristiwa penting yang terkenal
dengan peristiwa pembelahan
dada. Kehendak Ilahi
telah menetapkan kepada Ruhul Amin, yaitu Jibril untuk menemui Muhammad
bin
Abdillah
dan membelah dadanya dengan perintah Ilahi serta menyuci hatinya dengan rahmat
dan mengeringkannya dengan
cahaya dan mengeluarkan
bahagian
dunia darinya.
Seperti biasanya
Rasulullah saw keluar
pada suatu hari
bersama saudara susuannya dengan
menunggangi sekawanan domba
menuju tempat penggembalaan. Di
tengah hari, saudaranya berlari-lari dalam keadaan takut dan menangis sambil
berteriak bahawa Muhammad telah terbunuh. Muhammad diambil oleh dua
orang laki-laki yang memakai baju
yang putih lalu
kedua orang itu menelentangkannya dan membelah dadanya.
Mendengar
hal itu, Halimah sangat kejut dan terpukul. Ia segera pergi sambil berlari
mencari Muhammad dan diikuti oleh suaminya yang mengikuti petunjuk anak kecil
dari saudara Muhammad. Akhirnya, mereka menemukan Muhammad sedang duduk
di atas tanah
di mana wajahnya
tampak pucat dan
kedua matanya menyala.
Halimah
dan suaminya mencium dengan lembut dan mulai menampakkan kasih sayangnya. Kemudian
mereka bertanya, "apa
yang terjadi?" Muhammad menjawab: "Ketika
aku memperhatikan domba-domba
yang sedang bermain aku
dikejutkan dengan kedatangan
dua orang yang
memakai pakaian yang putih. Mula-mula aku menyangka bahawa
mereka adalah burung yang besar, namun ternyata aku salah. Mereka adalah dua
orang yang tidak aku kenal yang memakai
pakaian warna putih.
Salah seorang dari
mereka berkata kepada temannya dengan
menunjuk ke arahku,
"Apakah ini anaknya?" Yang
lain menjawab, "benar." Aku merasakan ketakutan yang luar
biasa. Lalu mereka mengambilku dan menidurkan
aku serta membelah
dadaku dan mereka mengambil sesuatu darinya hingga
mereka mendapatinya dan membuangnya jauh-jauh. Setelah itu, mereka bersembunyi
laksana bayangan."
Hadis
tersebut diriwayatkan oleh Anas dan juga diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad.
Para mufasir berbeza pendapat tentang simbolisme yang dalam ini. Sebahagian
besar ulama menakwilkan peristiwa tersebut. Pakar-pakar klasik, seperti Qurthubi
berpendapat bahawa peristiwa
itu diisyaratkan oleh firman-Nya: "Bukankah Kami telah
melapangkan untukmu dadamu?. " (QS.
Alam Nasyrah: 1)
Sedangkan
tokoh-tokoh hadis, seperti Ghazali berpendapat bahawa manusia istimewa seperti
Muhammad saw tidak mungkin terlepas dari bimbingan Ilahi dan tidak
mungkin terkena waswas
sekecil apa pun
yang biasa menimpa manusia biasa. Jika suatu kejahatan
menjadi suatu gelombang yang memenuhi cakerawala, maka
di sana terdapat
hati yang segera
memungutnya dan terpengaruh
dengannya, namun hati para nabi dengan adanya bimbingan Allah SWT tidak akan
terpanggil dan tidak terkena arus kejahatan tersebut.
Dengan
demikian, usaha para nabi terfokus pada peningkatan kemajuan atau
ketinggian, bukan memerangi
kerendahan. Diriwayatkan oleh
Abdillah bin Mas'ud bahawa
Rasulullah saw bersabda: "Tidak ada seseorang di antara kalian kecuali ia
diawasi oleh temannya dari kalangan jin dan temannya dan dari kalangan malaikat." Para
sahabat berkata: "Apakah
hal itu juga
berlaku kepadamu wahai Rasulullah?" Beliau
menjawab: "Ya, tetapi
Allah SWT membantuku, sehingga
ia berserah diri
dan tidak memerintahkan kepadaku kecuali dalam kebaikan."
Begitulah
sikap orang-orang yang dahulu dan para ahli hadis berkaitan dengan
peristiwa pembelahan dada.
Kami kira bahawa
kejadian yang luar
biasa tersebut berhubungan dengan persiapan Nabi untuk melalui Isra' dan
Mi'raj. Ia merupakan perjalanan di mana Rasulullah saw akan menebus alam
angkasa dan akan mencapai alam
langit. Kemudian beliau
akan melampaui alam
ini, sehingga sampai di Sidratul Muntaha yang di sana terdapat Janatul
Ma'wah.
Pandangan
tersebut kembali kepada pendapat kami yang mengatakan bahawa peristiwa
pembelahan dada berulang lebih dari sekali saat Rasul saw mencapai usia lima
puluh tahun. Dan peristiwa pembelahan dada terjadi kedua kalinya pada malam
Isra' dan Mi'raj.
Bukhari meriwayatkan
dari Malik bin Sh'asha'a bahawa
Rasulullah saw menceritakan
kepada mereka peristiwa malam Isra' di mana beliau bersabda:
"Ketika
aku berada di Hathim - atau beliau berkata di Hijr - saat aku dalam
keadaan antara tidur
dan bangun, maka
seorang datang kepadaku
lalu ia membelah antara ini dan
ini. Yaitu antara kerongkongan dan perutnya. Beliau melanjutkan: Lalu ia
mengeluarkan hatiku dan membawa mangkok dari emas yang penuh dengan keimanan
lalu ia menyuci hatiku. Kemudian diulanginya."
Kami kira
bahawa pembelahan dada
merupakan bentuk simbolis
yang menunjukkan kesucian Rasul
saw dan sebagai
bentuk penyiapannya untuk melalui Isra' dan Mi'raj. Itu merupakan
pemberitahuan dari Ilahi bahawa anak ini akan mencapai suatu kedudukan yang
belum pernah dicapai oleh manusia dan
tidak akan dicapai
manusia sesudahnya. Setelah
peristiwa pembelahan dada,
berubahlah kehidupan anak kecil itu di mana sebahagian besar waktunya digunakan untuk
merenung dan menyendiri.
Dari roman wajahnya
tampak keseriusan yang biasanya menghiasi wajah orang-orang dewasa.
Berlalulah
hari demi hari, tahun demi tahun dan Selesailah masa menetapnya bersama Halimah
di dusun Bani Sa'ad. Beliau sangat terpengaruh dan sangat terkesan dengan
keadaan di sana.
Diriwayatkan bahawa beliau
pernah mengingat masa kecilnya di Bani Sa'ad dan beliau membanggakannya.
Beliau menyebutkan pengorbanan mereka
dan sikap mereka
yang baik. Beliau berkata: "Aku termasuk dari Bani
Sa'ad, tanpa bermaksud menyombongkan diri. Jika mereka berhadapan atau
menyaksikan salah seorang mereka lapar, maka mereka akan membagi makanan di
antara mereka."
Kemudian
Muhammad bin Abdillah kembali ke Mekah saat usianya lima tahun. Beliau hidup
beberapa hari bersama
ibunya di mana
si ibu merasakan kesedihan yang dalam atas kepergian
ayahnya. Sesuai janji untuk mengingat ayahnya yang telah pergi, Aminah
menetapkan untuk mengunjungi kuburannya di Yatsrib. Jarak antara Mekah dan
Yatsrib lebih dari lima ratus kilo meter di gurun yang kering yang jauh dari
tanda- tanda kehidupan. Anak itu menempuh perjalanan yang
berat. Setelah perjalanan
yang berat ini,
Muhammad bin Abdillah tinggal di
tempat paman-paman dari ibunya di Madinah selama satu bulan. Muhammad melihat
rumah yang di situ ayahnya meninggal sebelum ia dilahirkan. Ia
berziarah bersama ibunya
ke kuburan yang
sederhana yang ayahnya dikuburkan
di dalamnya. Mula-mula fikirannya terfokus pada keadaan
yatim
sambil ia mulai memperhatikan linangan air mata ibunya yang diam.
Selesailah
masa satu bulan keberadaannya di sisi paman-pamannya. Kemudian ibunya
menemaninya untuk kembali ke Mekah. Kedua anak manusia itu sampai di pertengahan
jalan. Muhammad bin
Abdillah tidak mengetahui
rahsia kepucatan wajah ibunya.
Lalu malaikat maut
turun di suatu
tempat yang bernama Abwa.
Di situlah Aminah
binti Wahab telah
bertemu dengan kekasihnya, Allah
SWT.
Sang ibu
meninggal dan meninggalkan
anak satu-satunya bersama
seorang pembantu. Pembantu itu menampakkan rasa kasihnya terhadap anak
kecil yang kehilangan ayahnya saat masih janin dan kehilangan ibunya saat
berusia enam tahun. Muhammad bin Abdillah kini
menjadi sendiri dan ia dalam
keadaan menangis. Ia mencapai kematangan setelah ia melewati kesedihan
kehidupan dan kerasnya kehidupan sebagai anak yatim.
Rasulullah saw
pernah ditanya setelah
masa diutusnya: "Bagaimana pandanganmu?" Beliau
menjawab: "Pengetahuan adalah modalku. Akal adalah dasar agamaku. Cinta
adalah pondasiku. Zikrullah adalah kesenanganku. Dan kesedihan adalah
temanku."
Allah SWT
telah menyiramkan kepadanya
sungai-sungai kesedihan sehingga beliau dapat
memberikan kepada manusia
buah dari kegembiraan
dan ketulusan.
Anak
kecil itu kembali ke Mekah dalam keadaan sedih dan ia tampak terpaku. Lalu Abdul
Muthalib, datuknya menampakkan
cinta yang luar
biasa dan penghormatan padanya.
Setelah dua tahun
ketika Muhammad bin
Abdillah berusia delapan tahun, maka meninggallah salah satu benteng
yang terbaik yang menjaganya, yaitu datuknya Abdul Muthalib. Kemudian anak
kecil itu kini merenungi datuknya laksana orang dewasa. Ia tampak tegar seperti
layaknya orang dewasa.
Kita
tidak mengetahui mengapa terjadi demikian. Mengapa hikmah Allah SWT mencegah
Nabi yang terakhir untuk mendapatkan kasih sayang seorang ayah, kasih sayang
seorang ibu, dan bimbingan
seorang datuk? Apakah Allah SWT ingin
memberi Nabi yang
terakhir suatu kasih
sayang dan cinta
yang semata-mata bersumber dari
sisi-Nya? Apakah Allah
SWT ingin mendidiknya dengan kesedihan
dan memberinya perasaan-perasaan yang
penuh dengan penderitaan? Apakah
Allah SWT ingin membuat hati Rasul-Nya hanya tertuju kepadanya? Dahulu Allah
SWT berkata kepada Musa:
"Dan
Aku telah memilihmu untuk diri-Ku." (QS. Thaha: 41)
Dahulu Allah
SWT memberi khabar
gembira kepada Musa
di dalam Taurat sebagaimana Isa memberi khabar gembira
di dalam Injil dengan kedatangan seorang Nabi setelahnya yang bernama Ahmad.
Dan Nabi Musa meminta kepada Tuhannya
agar memberinya dan
memberi umatnya puncak
keutamaan, lalu Allah SWT
menjawab bahawa Dia telah menetapkan keutamaan ini kepada Nabi yang terakhir
Ahmad dan umatnya.
Allah
SWT telah memilih Musa untuk diri-Nya. Meskipun Demikian, Dia tidak mencegahnya
untuk mendapatkan kasih sayang seorang ibu dan mendidiknya di tengah-tengah
keluarganya. Namun Dia berkehendak untuk menjadikan Nabi yang terakhir tercegah
dari mendapatkan kasih sayang seorang manusia dan cinta seorang
manusia, sehingga Nabi
tersebut hanya mendapatkan
kasih sayang Ilahi dan cinta Ilahi.
Allah
SWT berfirman menceritakan tentang keadaan Rasul terakhir:
"Bukankah
Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia
mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia
mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.
Adapun terhadap anak
yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan
terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu mengherdiknya. Dan
terhadap nikmat Tuhanmu maha hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan
bersyukur). " (QS. ad-Dhuha:
6-
11)
Makna
ayat tersebut secara harfiah adalah bahawa beliau dalam keadaan yatim lalu
Allah SWT melindunginya; beliau dalam keadaan tersesat lalu Allah SWT
memberinya petunjuk; beliau
dalam keadaan fakir
lalu Allah SWT memampukannya. Allah
SWT melindunginya dengan
mengasuhnya, membimbingnya, dan mencukupinya. Itu adalah darjat keutamaan
yang tidak pernah dicapai oleh seseorang pun di dunia.
Setelah
kematian datuknya, maka pamannya Abu Thalib mengasuhnya. Allah SWT telah
meletakkan kecintaan pada
hati pamannya, sehingga
pamannya mengutamakan Muhammad saw
daripada anak-anaknya dan
memuliakannya serta
menghormatinya, bahkan Abu
Thalib mendudukkannya di
ranjangnya yang biasa dibentangkannya di hadapan Ka'bah di mana tidak
ada seorang pun yang duduk selainnya.
Muhammad
bin Abdillah hidup di jantung gurun Mekah sebagai seorang yang memiliki
kesedaran yang tinggi di antara kaum yang sedang lalai dan kaum yang mabuk-mabukan
dan para penyembah
berhala serta para
pedagang minuman keras dan
para syair dan
orang-orang yang berperang
dan tokoh-tokoh kabilah.
Muhammad
bin Abdillah seorang yang banyak diam dan ketika usianya semakin dewasa, maka
ia bertambah banyak diam. Beliau tidak berbicara kecuali jika diajak seseorang
berbicara; beliau tidak terlibat dalam permainan hura-hura anak-anak muda;
beliau merasakan kesedihan
yang dalam; beliau
sering menyendiri dan membuka matanya di hamparan pasir-pasir. Mulutnya
terdiam dan akalnya berfikir.
Beliau merenungkan di
masa kecilnya bagaimana kaumnya bersujud
terhadap berhala dan
terpukau dengannya; bagaimana orang-orang berakal mau bersujud
kepada batu-batu yang tidak memberikan mudarat
dan manfaat dan
tidak berbicara serta
tidak dapat melakukan apa-apa. Beliau mewarisi dari
datuknya Ibrahim kebencian yang fitri terhadap dunia berhala dan patung.
Di dalam
dirinya terdapat penghinaan
yang besar terhadap
sembahan-sembahan dari batu
ini, suatu penghinaan
yang menjadikannya tidak
mau mendekat selama-lamanya terhadap
patung tersebut. Namun
hatinya yang besar dipenuhi dengan
kesedihan yang lebih hebat dari kesedihan datuknya Ibrahim. Beliau
sedih kerana akal
manusia menyembah batu
dan emas, kesombongan serta
kekuasaan penguasa; beliau mendengar apa yang dikatakan manusia dan
mengamat-amati urusan kehidupan
dan keadaan masyarakat; beliau juga
menyaksikan betapa banyak
pertentangan dan perkelahian
di antara manusia yang
justru disebabkan oleh
masalah-masalah yang sepele, sehingga kehairanan
beliau semakin bertambah
dan sudah barang
tentu kesedihannya pun semakin
dalam. Tidakkah manusia
mengetahui bahawa mereka akan
mati seperti ayahnya, ibunya, dan datuknya? Mengapa mereka menimbulkan pertentangan
ini, hingga mereka
mendapatkan lebih banyak kejahatan?
Ketika
usianya semakin bertambah, maka bertambahlah kezuhudannya dalam hidup, dan
sepak terjangnya terus bersinar memenuhi penjuru Mekah. Beliau tidak sama
dengan seseorang pun dari kalangan pemuda saat itu. Meskipun kami kira bahawa
kesedihannya disebabkan oleh hal- hal yang umum, tetapi beliau tidak
mengungkapkan kegelisahan hatinya pada seseorang pun. Beliau belum bertujuan
untuk memperbaiki masyarakat
atau kemanusiaan. Benar bahawa pertanyaan-pertanyaan kritis
timbul dalam benaknya dan ingin segera menemukan jawapan, tetapi akalnya
sendiri tidak dapat menemukan jawapan atau jalan keluar. Inilah yang dimaksud
dengan makna ayat:
"Dan
Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan
petunjuk." (QS. adh-Dhuha: 7)
Yang dimaksud
ad-Dhalal (kesesatan) di
sini ialah kebingungan
akal dalam menafsirkan kejahatan
dan usaha melawannya kerana ketiadaan senjata dan kecilnya usia.
Semua itu justru
menambah sikap diam
anak kecil itu
dan menjauhkannya dari dunia
yang akan mencemari
akal, sehingga akalnya selamat dari segala noda dan tetap di
bawah naungan kejernihannya.
Anak
kecil itu tetap jauh dari dosa-dosa yang dilakukan oleh kaumnya yang
berupa kecenderungan untuk
menyembah berhala dan
cinta kekuasaan dan kebanggaan. Ia selalu mendekat dan lebih
mendekat kepada hakikatnya yang suci;
ia mampu mempengaruhi
orang lain dengan
jiwanya yang bersih
dan rahmatnya atau kasih
sayangnya tertuju kepada
manusia, bahkan kepada binatang dan burung. Ketika ia duduk
akan makan lalu ada burung merpati berkeliling di seputar makanannya maka ia
meninggalkan makanannya untuk burung
itu. Pada saat
orang-orang memukul anjing
yang mendekat kepada makanan mereka, maka ia justru
mencabut suapan yang ada di mulutnya dan memberikannya pada anjing, kucing,
anak-anak kecil, dan orang-orang fakir. Bahkan
seringkali di waktu malam ia
tidur dalam keadaan
lapar kerana ia memberikan makanannya ke orang lain.
Muhammad
saw adalah seorang fakir yang harus bekerja agar dapat makan, maka beliau
bekerja sebagai penggembala kambing, seperti Nabi Daud, Nabi Musa, dan
nabi-nabi yang lain yang diutus oleh Allah SWT. Kemudian beliau melakukan
perjalanan bersama kafilah pamannya Abu Thalib menuju Syam saat beliau berusia
tiga belas tahun. Beliau menyaksikan keadaan umat-umat yang lain, maka kehairanannya semakin bertambah terhadap masa
Jahilliyah ini. Ketika beliau menyaksikan orang-orang tersesat, maka
kesedihannya semakin bertambah dan hatinya semakin tersentuh dan fikirannya
semakin dalam.
Pada saat
perjalanan menuju ke Syam
ini terjadi suatu
peristiwa terhadap anak kecil
itu. Kemungkinan besar
itu justru menambah
kebingungannya. Seorang pendeta yang bernama Buhaira berdiri di jendela
rumah yang menjadi tempat peribadatannya di Suria. Tiba-tiba ia memperhatikan
suatu awan putih - tidak seperti
biasanya - yang menghiasi
langit yang biru.
Saat itu udara sangat
terang, sehingga munculnya
awan tersebut sangat
menghairankan. Kemudian pandangan Buhaira yang tertuju ke langit, kini
tertuju ke bumi di mana ia mendapati awan itu menyerupai burung yang putih yang
menaungi kafilah kecil yang menuju ke arah utara. Buhaira memperhatikan bahawa
awan tersebut mengikuti kafilah.
Jantung Buhaira
berdebar dengan keras
kerana ia mengetahui
melalui buku-buku peninggalan kaum Masehi yang otentik bahawa seorang
nabi akan muncul ke dunia setelah Isa. Sifat dan khabar nabi tersebut
diceritakan dalam buku-buku kuno. Buhaira
segera meninggalkan tempatnya,
lalu ia segera memerintahkan untuk menyiapkan makanan
yang besar. Kemudian ia mengutus seseorang
untuk menemui kafilah
tersebut dan mengundang
mereka untuk jamuan makan. Salah
seorang mereka berkata dengan nada bercanda kepada Buhaira: "Demi Lata dan 'Uzza, engkau hari ini tampak lain
wahai Buhaira. Engkau tidak pernah melakukan demikian kepada kami, padahal kami
telah melewati dan singgah
di tempat ini
lebih dari sekali.
Ada peristiwa apa gerangan wahai Buhaira?"
Buhaira
menjawab: "Hari ini kalian adalah tamu-tamuku." Pertanyaan orang
tersebut tidak dijawab
dengan terang-terangan. Ia
sengaja menghindarinya dan tidak
menyingkapkan rahsia kemuliaan
yang datangnya tiba-tiba
ini. Buhaira memberi makan mereka dan mulai memperhatikan di antara
mereka adanya seseorang yang
memiliki tanda- tanda
yang dibacanya dalam kitab-kitabnya yang kuno tentang
seorang rasul yang ditunggu. Namun ia tidak menemukannya, hingga
ia bertanya kepada
mereka: "Wahai kaum
Quraisy, apakah ada seseorang
yang tidak hadir
bersama jamuanku ini?"
Mereka menjawab: "Benar, ada
seseorang yang tidak
ikut bersama kami.
Kami meninggalkannya kerana ia masih kecil." Buhaira berkata:
"Sungguh aku telah mengundang
kamu semua. Panggillah
ia supaya hadir
bersama kami dan memakan makanan ini." Salah seorang
lelaki dari kaum Quraisy berkata: "Demi Lata dan 'Uzza, sungguh tercela
bagi kami untuk meninggalkan Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib dari
jamuan yang kami diundang di dalamnya.
Pamannya
meminta maaf kerana Muhammad masih kecil, kemudian sebahagian mereka berdiri
dan menghadirkannya. Belum
lama Buhaira memandangi kejernihan dua
mata Muhammad, sehingga
ia mengetahui bahawa
ia telah mendekati tujuannya.
Buhairah terpaku ketika
memandangi Muhammad bin Abdillah sehingga kaum selesai makan dan
mereka berpisah.
Muhammad bin
Abdillah duduk sendirian.
Buhaira menghampirinya dan berkata: "Wahai anak kecil, demi
kedudukan Lata dan 'Uzza, sudikah kiranya engkau memberitahu aku terhadap apa
yang aku tanyakan kepadamu?" Buhaira ingin
mengetahui sikap anak
ini terhadap berhala
kaumnya. Anak kecil
itu menjawab: "Jangan engkau bertanya kepadaku tentang Lata dan
'Uzza. Demi Allah, tidak ada sesuatu
yang lebih aku benci
daripada keduanya." Buhaira
berkata: "Dengan izin
Allah aku ingin
bertanya kepadamu." Anak
kecil itu menjawab:
"Tanyalah apa saja yang terlintas di benakmu."
Buhaira
bertanya kepada anak kecil itu tentang keluarganya, kedudukannya di
tengah-tengah kaumnya, mimpinya
dan pendapat- pendapatnya.
Dialog tersebut terjadi jauh
dari pantauan kaum
kerana mereka tidak
akan diam ketika mendengar
bahawa Muhammad membenci
berhala-berhala mereka. Kemudian
Muhammad menjawab pertanyaan-pertanyaan Buhaira dengan yakin, hingga membuat
Buhaira mantap bahawa ia sekarang duduk bersama seorang Nabi yang khabar berita
gembiranya disampaikan oleh Nabi Isa sebagaimana disampaikan oleh nabi-nabi
dari kaum Israil dari kaum Nabi Musa. Setelah itu, ia bangkit meninggalkan anak
kecil itu dan menuju ke Abu Thalib ia bertanya tentang kedudukan anak kecil itu
di sisinya. Abu Thalib menjawab: "Ia adalah anakku." Buhaira berkata:
"Tidak mungkin ayahnya masih hidup." Abu Thalib berkata: "Benar.
Ia anak saudaraku.
Ayahnya dan ibunya
telah meninggal." Buhaira
berkata: "Engkau benar, kembalilah kamu ke negerimu dan hati-hatilah dari
kaum Yahudi." Abu Thalib bertanya tentang rahsia dari apa yang dikatakan
oleh pendeta itu. Pendeta itu mulai mengetahui bahawa ia telah berbicara
lebih dari yang
semestinya. Lalu ia
berkata: "Ia akan
memiliki kedudukan
tertentu." Buhaira tidak menjelaskan lebih dari itu dan ia tidak
menentukan
kedudukan
yang dimaksud.
Lalu
berlalulah peristiwa tersebut tanpa terlintas dari benak seseorang atau tanpa
menggugah kesedaran di antara mereka. Kisah tersebut tidak membawa pengaruh
berarti bagi kafilah atau kepada Nabi sendiri. Kafilah menganggap bahawa penghormatan pendeta
kepada Muhammad
bin Abdillah dan memberitahunya akan kedudukan yang akan
disandangnya adalah semata-mata basa-basi yang biasa diucapkan di atas meja
makan ketika para tamu memuji kedermawanan tuan rumah. Dan sebagai balasannya,
orang yang mengundang akan memuji akhlak para pemuda mereka. Alhasil, peristiwa
tersebut tidak membawa pengaruh apa
pun, baik bagi
Muhammad mahupun bagi
sahabat-sahabat
yang ikut dalam kafilah, sehingga mereka tidak mengetahui rahsia perkataan
pendeta dan mereka tidak menyebarkan pembicaraan yang mereka dengar darinya.
Peristiwa itu tersembunyi meskipun ia sungguh sangat membingungkan Muhammad.
Apa
gerangan yang terjadi antara dirinya dan orang-orang Yahudi, sehingga pendeta
perlu mengingatkan pamannya dari ancaman mereka? Apa kedudukan yang akan
dikembangnya seperti yang diceritakan oleh pendeta itu? Dan apa hubungan semua
ini dengan kesedihan-
kesedihannya yang dalam
serta kebingungannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sedikit demi
sedikit berputar di benaknya. Kemudian seperti biasanya kafilah tersebut
kembali ke Mekah. Muhammad kembali menuju keterasingannya. Ia memperhatikan
keadaan alam di sekitarnya. Kemudian ia melihat kembali penderitaannya; ia
berusaha untuk mendapatkan kehidupannya; ia mengabdi kepada manusia dan
mengorbankan apa saja demi kemuliaan mereka.
Hari
demi hari berlalu. Muhammad saw tampil dengan pakaian ketulusan kasih sayang,
dan amanah serat cinta, sebagaimana pelita dipenuhi oleh cahaya, sehingga
kejujurannya terkenal di tengah-tengah kaumnya. Bahkan kejujuran dan amanatnya
tidak bakal diragukan
oleh seseorang pun
dari penduduk Mekah. Dan
ketika beliau datang
dengan membawa risalahnya
dan beliau ditentang majoriti
masyarakatnya, namun tak
seorang pun yang
berani meragukan kejujurannya. Mereka hanya menuduh bahawa ia terkena
sihir atau kesedarannya telah hilang.
Pada
tahun ketiga belas dari masa kenabian, ketika semua kabilah sepakat untuk
membunuhnya dan mengucurkan darahnya di antara para kabilah dan mereka mengepung
rumahnya, maka di
saat situasi yang
sulit ini beliau menetapkan untuk berhijrah. Tetapi
sebelumnya beliau mewasiatkan kepada Ali bin Abi Thalib, anak pamannya untuk
tetap tinggal di rumahnya agar ia dapat mengembalikan amanat yang dititipkan
oleh semua musuhnya dan para sahabatnya. Ini beliau maksudkan agar Ali dapat
menyerahkan amanat tersebut di
waktu pagi kepada
para pemiliknya. Anda
dapat melihat betapa
para musuhnya merasa aman terhadap harta mereka ketika dijaga oleh Muhammad
saw.
Hari demi
hari berlalu dan
tahun demi tahun
pun lewat. Sementara
itu, kesucian dan kejujuran
Muhammad saw semakin
meningkat. Dan di
tengah lautan keheningan yang
mencekam, ketika Muhammad
bin Abdillah menyebarkan layar
perahunya yang putih,
maka ia harus
menemui hakikat azali yang
bertemu dengan-nya semua nabi dan rasul. Muhammad bin Abdillah mengetahui bahawa
alam yang besar
ini mempunyai Tuhan
Pengatur dan Pencipta; Tuhan yang
Maha Satu dan yang tiada tuhan selain-Nya.
Muhammad dijauhkan
dari suasana kenikmatan
dan foya-foya yang
biasa dilakukan oleh para
pemuda seusianya. Dan
ketika pemuda Mekah berbangga-bangga dengan banyaknya
minuman keras yang mereka minum dan banyaknya
bait-bait syair yang
mereka katakan tentang
wanita, maka Muhammad bin
Abdillah telah menemukan jati dirinya di suatu gua yang tenang di gunung
yang besar. Ia
memilih untuk menghabiskan
waktunya di dalam keheningan gua tersebut. Ia merenung
dengan hatinya tentang keadaan alam; ia
memikirkan keagungan rahsia-rahsianya dan
rahmat Penciptanya serta kebesaran-Nya.
Pada
tahun yang kedua puluh lima, beliau mengenal Ummul Mu'minin, isterinya
yang pertama, yaitu
Khadijah binti Khuwailid
yang saat itu
berusia empat puluh tahun.
Khadijah adalah wanita yang mulia dan mempunyai cukup harta. Ia berdagang dan
suaminya telah meninggal. Banyak orang yang mendekatinya dengan alasan untuk
mendapatkan kekayaannya. Khadijah mencari seseorang laki-laki yang dapat
membawa harta dagangannya menuju Syam, lalu Khadijah mendengar berita yang
cukup banyak berkenaan dengan kejujuran dan amanat serta kesucian
Muhammad bin Abdilah.
Akhirnya, Khadijah mengutus Muhammad saw untuk membawa barang
dagangannya. Muhammad saw pergi dalam perjalanannya yang kedua ke Syam saat
beliau berusia dua puluh lima tahun. Allah SWT memberkati perjalanannya di mana
beliau kembali dengan membawa keuntungan yang
berlipat ganda yang
diserahkannya kepada Khadijah.
Muhammad saw tidak peduli dengan harta Khadijah dan tidak peduli kepada kecantikannya; Muhammad
saw hanya memandang
kemuliaan yang dipegangnya. Kemudian
Khadijah merasakan getaran
cinta terhadap Muhammad saw.
Dan Akhirnya, ia
mengutarakan keinginan untuk
menikah dengannya, hingga Muhammad saw pun setuju.
Paman
Muhammad saw, Abu Thalib berdiri dan menyampaikan khutbah pada saat perayaan
perkawinannya: Muhammad saw
tidak dapat dibandingkan dengan seorang pun dari kaum
Quraisy kerana ia adalah seorang yang mulia, baik dari sisi akal mahupun
rohani. Meskipun ia seorang yang fakir namun harta adalah naungan yang akan
hilang dan benda yang bersifat sementara.
Setelah
menikah, Muhammad saw justru mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk
merenung dan menyendiri serta beribadah. Kemudian kehidupan yang dijalaninya
justru meningkatkan kemuliaannya, sehingga keutamaannya tersebar di sana sini.
Beliau tidak pernah terlibat dalam pergelutan yang keras untuk memperebutkan
materi-materi dunia. Beliau selalu menggunakan akal sehatnya daripada
terlibat dalam kesesatan
mereka dan kegelapan
berhala yang menyelimuti banyak
orang pada saat
itu. Kemudian usianya
kini mendekati empat puluh tahun.
Setelah merasakan
kesunyian di tengah-tengah
masyarakat, beliau lebih memilih untuk menjauh dari
mereka. Beliau mencari-cari hakikat,
sehingga Allah SWT membimbingnya
untuk menyendiri di
gua Hira. Akhirnya,
beliau dapat keluar dari Mekah. Beliau berjalan beberapa mil. Kemudian
beliau mulai mendaki dan mendaki.
Setiap kali ia
mendaki gunung, maka
tempat itu semakin luas. Udara
tampak lembut dan tersingkaplah hijab, dan pandangan
semakin
terbentang. Kemudian beliau memasuki gua. Keheningan menyelimuti segala sesuatu,
namun hati tetap
sadar dan tidak
ada sesuatu yang
dapat menghalang-halangi pandangan internal yang dalam. Dalam suasana
kesunyian terkadang lahirlah pemikiran-pemikiran yang
cemerlang yang kemudian menyebarkan sayap-sayapnya dan
membumbung, pertama-tama di
atas angkasa gua lalu tersebar menuju ke tempat yang lebih luas. Tidak
ada sesuatu pun yang membatasinya atau mengekang kebebasannya.
Kita
tidak mengetahui fikiran-fikiran apa yang terlintas pada manusia termulia dan
terbesar di atas bumi itu saat beliau duduk di gua Hira beberapa bulan. Apa
yang beliau fikirkan dan apa gerangan yang beliau risaukan? Mimpi apa yang ada
di benaknya dan perasaan-perasaan apa yang lahir dalam hatinya? Bagaimana keadaan
batu-batu yang ada di sisinya? Apakah atom-atom batu yang berputar
di sekelilingnya menyahuti
tasbihnya yang diam,
seperti atom-atom batu yang
bersahut- sahutan bersama
Daud saat ia
membaca kitabnya Zabur.
Kami tidak
mengetahui secara pasti
bentuk kelahiran yang
terjadi dalam dirinya. Yang
kita ketahui adalah
bahawa beliau tidak
berfikir tentang kenabian dan
beliau tidak berfikir
untuk memberikan petunjuk
kepada manusia; beliau tidak melakukan praktik-praktik sufisme kerana
beliau sudah menjadi seorang sufi
sebelum diutus di
tengah-tengah manusia. Kemudian Allah SWT
memilihnya sebagai Nabi
lalu beliau meninggalkan
uzlahnya dan turun ke medan serta
membawa senjata. Beliau mempertahankan kebenaran, sehingga beliau
bertemu dengan Tuhannya.
Mula-mula lahirlah tasawuf dan
setelahnya lahirlah jihad di jalan Allah SWT. Tasawuf
bukanlah puncak
atau hasil sebagaimana
diyakini oleh manusia
sekarang, tetapi ia adalah permulaan jalan yang panjang di mana pada
akhirnya yang bersangkutan
menggunakan senjata sebagai
bentuk usaha untuk
membela manusia dan kehormatannya.
Pada suatu
hari beliau duduk
di gua Hira
dan tiba-tiba beliau
dikejutkan dengan kedatangan Jibril yang berdiri di depan pintu gua.
Malaikat tersebut memeluknya erat-erat lalu memerintahkannya untuk membaca
sambil berkata: "Bacalah!" Muhammad bin Abdillah menjawab: "Aku
tidak mampu membaca." Beliau ingin mengatakan bahawa beliau tidak mengenal
bacaan dan tulisan. Kalau begitu, apa
yang harus beliau
baca? Malaikat kembali
memeluknya dengan kuat sehingga
Rasulullah saw menganggap
bahawa ia meninggal. Kemudian malaikat
melepasnya dan memerintahkannya untuk
membaca.
Beliau kembali
menjawab: "Aku tidak
bisa membaca." Malaikat
yang mulia kembali memeluknya
dan kembali memerintahkan
untuk membaca. Dan lagi-lagi
Rasulullah saw menjawab
dengan gementar: "Apa
yang aku baca?" Kemudian Jibril membaca permulaan
ayat-ayat yang turun kepada beliau:
"Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan
Tuhanmu lah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar
(manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa
yang tidak diketahuinya." (QS.
al-'Alaq: 1-5)
Setelah peristiwa
itu, Jibril menghilang
secara tiba-tiba sebagaimana
ia muncul secara tiba-tiba.
Rasulullah saw merasakan
dalam dirinya kejadian yang luar biasa yang pernah
dirasakan oleh Nabi Musa saat beliau mendengar panggilan-panggilan suci
di lembah Thuwa.
Sebagaimana Nabi Musa
lari ketakutan, maka Muhammad
bin Abdillah pun
segera menuju ke
rumahnya dalam keadaan ketakutan. Ia turun ke gunung dan kembali ke
rumahnya dan kembali ke isterinya. Tubuhnya yang mulia bergetar dengan keras
dan beliau merasakan ketakutan dan kegelisahan.
Apakah
beliau kali ini berhubungan dengan jin atau alam perdukunan? Apakah beliau telah
mengigau sehingga beliau
mendengar suara-suara dan
melihat wajah-wajah yang belum
pernah dilihatnya? Rasulullah
saw mengkhuatirkan dirinya kerana
beliau sangat benci
kepada perdukunan. Beliau
memasuki rumahnya dengan keadaan
gementar. Beliau berkata
kepada isterinya: "Selimutilah aku,
selimutilah aku!" Kemudian
isterinya segera menyelimuti dengan selimut dari wol dan mengusap keringat yang berada di
keningnya. Isterinya dikejutkan dengan
kepucatan wajah beliau
yang mulia dan kegementaran tubuhnya.
Khadijah bertanya
kepadanya: "Apa yang
sedang terjadi?" Kemudian Muhammad saw
menceritakan secara terperinci
apa yang dialaminya. Kemudian ia
berkata: "Sungguh aku
khawatir terhadap diriku."
Khadijah mengetahui bahawa ia sekarang berhadapan dengan masalah yang
serius, suatu berita gembira yang
ia tidak mengetahui
hakikatnya, suatu berita
gembira yang seharusnya tidak
dihadapi Muhammad saw
dengan kekhuatiran dan kegelisahan. Khadijah berkata dengan
maksud untuk meredakan ketakutannya: "Tenanglah.
Demi
Allah, Allah SWT tidak akan menghinakanmu selama- lamanya. Sungguh engkau adalah
seorang yang baik,
yang menyambung tali
silaturahmi, yang berbicara
dengan jujur, dan yang menghormati tamu."
Meskipun
kalimat-kalimat tersebut penuh dengan kedamaian dan kesejukan, tetapi kegelisahan
Rasul saw juga
belum hilang. Kemudian
Khadijah pergi bersama beliau ke
rumah Waraqah bin Nofel, yaitu anak dari paman Khadijah. Waraqah adalah seorang
Nasrani dan dia mampu menulis kitab dalam bahasa Ibrani dan ia cukup mengetahui
kitab-kitab Taurat dan Injil di mana matanya telah buta kerana masa tua.
Khadijah berkata
kepadanya: "Wahai putera
pamanku, dengarlah dari
anak saudaramu." Waraqah berkata: "Wahai anak saudaraku, apa
yang engkau lihat?" Rasulullah saw menceritakan apa yang dialaminya secara
sempurna. Waraqah berkata sambil
mengangkat kepalanya yang tampak kehairanan: "Itu
adalah Namus (Jibril) yang Allah
SWT turunkan kepada Musa." Sebagai seorang yang mengerti, Waraqah
bin Nofel mengetahui
bahawa ia berada
di hadapan seorang Nabi yang
berita gembiranya disampaikan oleh Taurat dan Injil.
Setelah keheningan
sesaat, Waraqah berkata:
"Seandainya aku masih
hidup ketika kaummu mengeluarkanmu dan mengusirmu." Rasulullah saw
bertanya: "Mengapa aku harus diusir oleh mereka?'' Waraqah menjawab:
"Benar, tidak ada seorang pun yang akan datang seperti dirimu kecuali
engkau akan mengalami penderitaan dan pengusiran. Seandainya aku hadir di saat
itu nescaya aku akan menolongmu."
Demikianlah, akhirnya
Islam pun dikembangkan. Kehendak
Allah SWT terlaksana dan Allah
SWT telah memilih Nabi yang terakhir di muka bumi dan orang Muslim yang
pertama. Barangkali pembaca akan bertanya: Apa hakikat dari Islam? Apabila
Muhammad saw sebagai Nabi yang terakhir yang diutus oleh Allah SWT di muka
bumi dan kita mengetahui bahawa para
nabi semuanya sebagai Muslim, maka bagaimana beliau dapat dikatakan mendahului
mereka dalam keislaman dan menjadi orang Muslim yang pertama?
Islam
yang dibawa oleh Muhammad saw tidak berbeza dalam esensinya dengan Islam yang
dibawa oleh Nabi Nuh, Nabi Musa, Nabi Isa atau nabi yang lain, tetapi yang
berbeza adalah bentuknya,
sedangkan esensinya tetap
seperti semula, yakni berdasarkan tauhid. Islam yang dibawa oleh Nabi
Muhammad saw berbeza dalam bentuknya dengan Islam yang dibawa nabi-nabi
sebelumnya kerana sebab yang penting, yakni bahawa Islam ini merupakan ajaran
yang universal dan berisi aspek kemanusiaan yang abadi. Islam tidak terbatas
atas orang-orang Arab tetapi ia berlaku atas semua golongan. Islam yang dibawa
oleh Nabi Muhammad saw tidak terbatas untuk kabilah tertentu atau bangsa
tertentu atau bumi tertentu atau lingkungan tertentu atau zaman tertentu,
tetapi ia untuk semua manusia. Atau dengan kata lain, ia merupakan ajakan untuk
membangkitkan akal manusia di mana saja mereka berada tanpa ada batasan tempat
atau waktu.
Universalitas
ajaran Islam tidak dikenal pada risalah-risalah Ilahi sebelumnya di mana setiap
risalah itu diperuntukkan
bagi bangsa tertentu
dan zaman tertentu. Oleh kerana
itu, mukjizat-mukjizat yang mengagumkan yang bersifat sementara seringkali
mendukung risalah- risalah
yang dahulu. Ketika
Islam datang sebagai bentuk ajakan untuk menghidupkan akal manusia
secara bebas, maka di sana tidak ada alasan untuk membawa mukjizat yang
mengagumkan. Hanya ada satu
kata yang dapat
dijadikan pembuka untuk
berdakwah dan membuka akal
manusia, yaitu kata "iqra"' (bacalah). Dan hendaklah bacaan ini
berdasarkan nama Allah SWT. Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia
menciptakan manusia dari segumpal darah. Cuba Anda renungkan permulaan
pertumbuhan dan puncak
pencapaian. Di sini tersembunyi mukjizat yang hakiki jika
Anda berusaha mencari mukjizat yang hakiki.
Bacalah,
dan Tuhanmu Yang Maha Mulia, yang memberikan nikmat penciptaan dan rezeki serta
rahmat dan kelembutan. Dia Maha Mulia yang mengajarkan manusia apa saja yang
tidak diketahuinya. Demikianlah esensi dari Islam, yaitu ajakan untuk membaca.
Ia adalah dakwah yang menunjukkan kedudukan ilmu. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya yang
takut kepada Allah
di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang
berilmu (ulama)." (QS. Fathir: 28)
Takut
kepada Allah SWT tidak akan muncul kecuali berdasarkan ilmu. Mustahil kebodohan
dengan bentuk apa pun akan melahirkan rasa takut. Oleh kerana itu, dalam
pandangan Islam ilmu adalah hal yang pokok. Ia bukan kemewahan dan bukan hanya
perhiasan. Kaum Muslim telah mengalami masa kemuliaan dan kejayaan dan mereka
berhasil menguasai bumi ketika mereka memahami Islam secara
benar, tetapi ketika
pemahaman ini jauh
dari mereka, maka mereka
kembali dalam keadaan
yang paling buruk,
bahkan lebih buruk daripada masa jahiliah.
Jadi, ilmu
dalam Islam merupakan
tujuan yang mulia
dan utama dalam penciptaan alam wujud. Kisah Nabi Adam
dan Hawa, sebagaimana diceritakan oleh
Al-Quran adalah bukan
semata-mata kisah kesalahan
memakan pohon terlarang, tetapi
ia juga kisah yang memiliki dimensi- dimensi yang dalam dan aspek-aspek yang
beraneka ragam. Ketika
Anda menyelami kedalamannya, maka Anda
akan dapat menemukan
simbol- simbol dari makna-makna
yang lebih penting.
Dialog
internal yang dialami oleh para malaikat tentang rahsia pemilihan Nabi
Adam untuk memakmurkan
bumi dan menjadi
khalifah di dalamnya
serta pengajaran yang diperoleh
Nabi Adam tentang
nama-nama semuanya dan bagaimana beliau mengemukakan nama-nama
tersebut kepada para malaikat, serta
ketidaktahuan mereka tentang
nama-nama itu, kemudian
usaha Nabi Adam untuk
memberitahu mereka tentang
apa yang diketahuinya
serta pengetahuan para malaikat
tentang rahsia pemilihan
Nabi Adam dan
para keturunannya untuk memakmurkan bumi, semua ini menjadikan tujuan
dari penciptaan manusia adalah
pencapaian ilmu atau
ma'rifah secara umum. Pandangan tersebut dikuatkan oleh
firman Allah SWT:
"Dan Aku
tidak menciptakan jin
dan manusia kecuali
untuk menyembah-(Ku)." (QS. adz-Dzariat: 56)
Lalu bagaimana
kita memahaminya saat
ini dan bagaimana
generasi yang pertama dari
kaum Muslim dan
dari sahabat-sahabat Rasul
saw dan para pengikutnya dan para tenteranya
memahaminya? Saat ini kita memahaminya dengan pemahaman yang sederhana. Kita
mengetahui bahawa kalimat "untuk menyembah-Ku " bererti ritual dalam
beribadah dan aspek-aspek lahiriahnya, seperti mengucapkan kalimat syahadat,
solat, puasa, haji, zakat dan lain-lain. Sehingga orang-orang yang solat
diperbolehkan untuk menyembah Allah SWT di negeri mereka atau di rumah-rumah
mereka, meskipun mereka hidup di bawah pemikiran orang-orang Barat dan membeli
produk-produk yang dibuat mereka serta
memanfaatkan ilmu dan
kecanggihan teknologi orang-orang
Barat. Namun mereka sendiri
tidak menghasilkan apa-apa.
Mereka tidak dapat
memberikan
kontribusi kepada kehidupan; mereka tak ubah-nya seperti bulu yang dimainkan
oleh ombak. Sedangkan
pemahaman yang dahulu
berkaitan dengan kalimat tersebut sebagai berikut:
"Dan Aku
tidak menciptakan jin
dan manusia kecuali
untuk menyembah-(Ku). " (QS. adz-Dzariat: 56)
Ibnu Abbas
membacanya: "Illa liya'rifuun." (Agar mereka mengetahui). Perhatikanlah bagaimana
pentingnya perbezaan antara praktek-praktek ibadah dengan bentuk-bentuknya dan
kedalamannya yang jauh dalam ma'rifah yang menyebabkan rasa
takut kepada Allah
SWT. Orang Muslim
yang pertama meyakini bahawa
Allah SWT menciptakannya agar ia mengetahui Allah SWT atau agar ia mengenal
Allah SWT. Sehingga ambisi orang Muslim yang pertama sangat mengagumkan. Mereka
pergi untuk membebaskan dunia semuanya: satu tangan berpegangan dengan Al-
Quran dan tangan yang lain memegang pedang untuk menghancurkan
belenggu-belenggu yang menyeret
manusia kepada kesesatan.
Kemudian
jatuhlah dari Islam hakikat ilmu, sehingga umat Islam tidak dapat memimpin
kehidupan dan mereka justru mendapatkan kehinaan. Allah
SWT berfirman:
"Allah menyatakan
bahawasanya tidak ada
Tuhan melainkan Dia,
Yang menegakkan keadilan. Para
malaikat dan orang-orang yang berilmu
(juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi
Allah hanyalah Islam." (QS. Ali 'Imran: 18)
Setelah kesaksian
kepada Allah swt
dan kesaksian kepada
malaikat, maka disebutlah secara
langsung kesaksian kepada orang-orang yang berilmu. Maka, adakah penghormatan
terhadap ilmu yang lebih besar daripada penghormatan ini? Ilmu dalam Islam
berbeza dengan ilmu dalam peradaban Barat. Memang benar bahawa Islam yang
bertanggungjawab terhadap tumbuhnya pandangan ilmiah dan metode eksperimental
di mana berdasarkan metode ini tegaklah peradaban Barat
yang kemudian melahirkan
berbagai produksi, pembuatan, dan penemuan.
Dan metode eksperimental
adalah metode al-Istiqra,
yaitu suatu metode yang
mengikuti bahagian-bahagian terkecil (parsial) melalui jalan eksperimen yang dapat tunduk
terhadap eksperimen dan melalui jalan memperhatikan hal-hal yang tidak dapat
tunduk terhadap suatu eksperimen, atau
melalui jalan matematis
murni yang membutuhkan
kepada matematis murni di
mana hal itu
bertujuan untuk menyingkap
hukum-hukum yang menguasai benda.
Sistem ini bidangnya adalah alam dan alatnya adalah panca indera dan akal.
Sistem ini dimanfaatkan oleh seorang Eropa yang bernama Roger Bikun. Ia
mengakui bahawa ia sangat berhutang kepada kaum Muslim dan peradaban Islam.
Seorang guru
yang bernama Bruicll
dalam bukunya Abna'
al-Insaniah menceritakan tentang dasar-dasar peradaban Barat di mana ia
berkata: "Roger Bikun mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu Arab di
sekolah Oxford kepada guru-gurunya yang berasal dari Arab di Andalus. Dan Roger
Bikun dan Fenessis Bikun tidak dapat
menisbatkan keutamaan yang
mereka peroleh dalam menciptakan sistem
eksperimental kepada diri
mereka sendiri. Roger
Bikun hanya seorang duta dari duta-duta ilmu. Oleh kerana itu, ia tidak
malu ketika menyatakan bahawa mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu Arab adalah
jalan satu-satunya untuk mengetahui kebenaran."
Demikianlah
pernyataan pakar-pakar Barat yang jujur. Yang demikian ini bisa dijadikan
sanggahan terhadap orang-orang Barat yang tidak jujur agar mereka mengetahui
bahawa mereka sebenarnya mengambil senjata yang sebenarnya berasal dari Islam.
Dan jika dikatakan bahawa rahsia kebangkitan Barat saat ini dan keunggulannya
atas Timur kembali
kepada pengambilannya terhadap sebab-sebab metode
eksperimental, yaitu metode
Islam, maka rahsia kehancuran Barat
dan kebingungannya serta
kegelisahannya adalah kerana mereka tidak menghubungkan metode
tersebut dengan kebesaran Allah SWT sebagaimana
semestinya. Metode eksperimen-tal - sebagaimana
diambil orang-orang Barat - dimulai dari alam dan berakhir kepadanya
sebagai sesuatu tujuan. Jadi, ruang
lingkup pembahasan mereka
adalah berkisar kepada materi, dan alat-alat pembahasan
adalah eksperimen dan pengamatan serta istiqra.
Tiada
setelah alam kecuali kematian dan kematian adalah rahsia yang misteri dan
melawannya adalah hal yang mustahil. Kita tidak mengetahui apa yang
terjadi setelah kematian;
kita tidak mengetahui
sesuatu pun tentang
roh. Tidak ada hubungan
antara ilmu dan
akhlak; tidak ada
jawapan dari ilmu tentang tujuan kehidupan
ini. Kita hanya
mempelajari aspek-aspek lahiriah
dan mencapai hukum-hukumnya saja. Demikianlah pandangan Barat tentang ilmu di
mana ia hanya
sekadar alat dan
sarana untuk mengatur
alam dan berusaha
menguasainya. Sedangkan metode
ilmiah dalam Islam menyatakan bahawa
gerakan atom dengan gerakan sistem tata suria di bawah kendali Zat Yang Maha
Tahu dan Zat
Yang Maha Pencipta.
Ilmu dalam Islam
justru membimbing manusia untuk menuju Allah SWT:
"Dan
bahawasanya kepada Tuhanmu lah kesudahan (segala sesuatu). " (QS. an-Najm:
42)
Ilmu
justru menghantarkan manusia untuk mencapai rasa takut kepada Allah SWT
sebagaimana membimbingnya beribadah kepadanya dan mencintai-Nya:
"Sesungguhnya yang
takut kepada Allah
di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang
berilmu (ulama)." (QS. Fathir: 28)
Islam
datang dan mengajak manusia untuk membaca, mengetahui, dan takut kepada Allah
SWT serta hanya
beribadah kepadanya. Jika
ilmu merupakan sayap pertama
di dalam Islam,
maka sayap yang
kedua adalah kebebasan. Rasulullah saw memberitahu dan
menyatakan bahawa tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan tidak ada sembahan
selain Allah SWT.
Seruan ini
mengisyaratkan keruntuhan tuhan-tuhan
yang mengusai bumi semuanya, baik
tuhan yang berupa
kepentingan-kepentingan
peribadi, kekayaan, raja, penguasa,
pemikiran-pemikiran yang mengusai
manusia, warisan para datuk dan nenek, berhala-berhala yang terbuat dari
batu dan kayu, mahupun berbagai macam tuhan lain yang bohong. Adalah salah jika
seseorang membayangkan bahawa
kalimat "tiada Tuhan
selain Allah" hanya sekadar
hiasan mulut seorang
Muslim di mana
segala sesuatu yang
ada di sekitarnya penuh
dengan kebohongan dan
tidak membenarkan apa
yang dikatakannya. Kalimat tersebut
dalam Islam merupakan
pergelutan besar
bersama
kegelapan yang ada pada diri manusia, suatu pergelutan yang berakhir pada
penyerahan diri; pergelutan yang akan berpindah pada kehidupan yang lebih
berat, sehingga kehidupan akan berserah diri. Dan mustahil pergelutan itu akan
terjadi kecuali jika terpenuhi suatu kebebasan: kebebasan akal untuk
meragukan dan menolak
dan kebebasan yang
berakhir kepada pencapaian batas-batasnya dan kemampuannya serta
kebebasan yang meninggi
untuk mencapai keimanan yang dalam dan kukuh. Itu adalah tanggung jawab
yang berarti bahawa ia
harus memikul senjata
untuk membebaskan orang
lain sebagaimana ia membebaskan dirinya sendiri. Demikianlah esensi dari
Islam, yaitu ilmu yang berdiri di atas kebebasan dan tanggung jawab yang tumbuh
dari kebebasan, dan buah terakhirnya adalah tauhid dalam kedalamannya yang
jauh.
Jika tauhid
difahami secara benar,
maka manusia akan
terbebas dari penyembahan selain
Allah SWT: manusia akan bebas terhadap rasa takut dari
kematian,
kekhuatiran atas rezeki, manusia akan terbebas dari sikap bakhil dan ketakutan
terhadap hari-hari yang akan datang.
Muhammad
bin Abdillah datang untuk menyerukan bahawa hanya Allah SWT yang patut disembah
dan bahawa semua manusia adalah hamba- hamba-Nya. Dengan membebaskan
manusia dari menyembah
sesama mereka, maka kebebasan yang
hakiki telah dimulai.
Rasulullah saw memberitahu
bahawa kematian adalah perpindahan dari satu rumah ke rumah yang lain.
Ia bukan akhiran yang misteri dari kehidupan yang tidak dapat difahami, tetapi
ia hanya sekadar perpindahan. Takut kepada kematian tidak akan menyelamatkan
dari kematian itu sendiri, dan cinta kepada kehidupan tidak akan memanjangkan
ajal. Pada setiap ajal ada ketentuannya. Maka keberanian merupakan unsur
dari unsur-unsur pembentukan
keperibadian Islam dan
bahagian dari bahagian-bahagian
sel yang ada dalam tubuh seorang Muslim.
Rasulullah
saw juga menyatakan bahawa rezeki di dunia sudah dijamin dan ditentukan oleh
Allah SWT:
"Dan
tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah- lah yang memberi
rezekinya. " (QS. Hud: 6)
Jibril
mewahyukan kepada Rasul saw bahawa suatu jiwa tidak akan memenuhi ajalnya
sehingga rezekinya disempurnakan. Jika demikian halnya, maka tidak ada alasan
bagi manusia untuk
khawatir terhadap rasa
lapar dan gelisah terhadap hari esok. Semua ini terjadi
dalam ruang lingkup mengambil atau melalui jalan-jalan menuju sebab. Yakni
berusaha untuk mencapai rezeki yang merupakan kewajipan bagi orang Muslim dan
percaya terhadap kedermawan Allah SWT yang
juga merupakan suatu
kewajipan bagi orang
Muslim untuk mempercayainya.
Allah SWT berfirman:
"Dan
di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang
dijanjikan kepadamu. " (QS. adz-Dzariat: 22)
Allah
SWT telah menjamin rezeki di dunia dan memerintahkan manusia untuk
berusaha mencapai rezeki
di akhirat. Rezeki
di dunia adalah
sesuatu yang sudah dijamin,
sehingga manusia tidak
perlu melakukan usaha
yang terlalu sengit untuk
mencapainya. Cukup baginya untuk berusaha secara benar dan seimbang. Sedangkan
berkenaan dengan rezeki
akhirat, Allah SWT memerintahkan manusia untuk berusaha
mencapainya kerana ia adalah rezeki yang Allah SWT tidak menjaminnya kecuali jika
manusia berhasil melampaui dua jihad: jihad yang besar dan jihad yang kecil.
Jihad besar adalah jihad melawan hawa nafsu dan jihad kecil adalah jihad
melawan musuh di medan perang.
Dengan
terbebasnya seorang Muslim dari kerisauan pada kematian, rezeki, dan rasa
takut, maka Islam memberi seorang Muslim senjatanya dan alat-alatnya dan
ia memerintahkannya untuk
mulai memerangi kekuatan-kekuatan kelaliman di muka bumi.
Allah SWT berfirman tentang umat Islam:
"Kamu
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS.
Ali 'Imran: 110)
Perhatikanlah,
bagaimana Allah SWT menyebutkan amal makruf nahi mungkar sebelum keimanan
kepada Allah SWT.
Ini dimaksudkan agar
akal manusia tergugah akan
pentingnya jihad di jalan
Allah SWT. Amal makruf
dan nahi mungkar tidak
terwujud semata-mata dengan
memegang tongkat dan mencambukannya kepada punggung
orang-orang Islam yang tidak solat; ia juga tidak berupa usaha untuk menahan
orang-orang Muslim yang tidak berpuasa. Masalah itu lebih penting dan lebih
besar dari sekadar memperhatikan hal-hal yang
bersifat lahiriah, sedangkan
hal-hal yang bersifat
batiniah tidak diperhatikan.
Ayat tersebut
berarti, hendaklah seorang
Muslim membawa senjata
dan berdakwah di jalan
Allah SWT serta
memerangi orang-orang lalim
di muka bumi. Abu Bakar berkata:
"Wahai manusia, kalian membaca ayat berikut ini:"
"Hai
orang-orang yang beriman, jagalah dirimu. Tiadalah orang yang sesat itu akan
memberi mudarat kepadamu
apabila kamu telah
mendapat petunjuk," (QS. al-Maidah: 105)
Dan
aku mendengar Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya ketika masyarakat
melihat orang yang lalim dan mereka tidak menghentikannya, maka Allah SWT akan
menimpakan azab kepada mereka semua."
Penafsiran Abu
Bakar terhadap ayat
tersebut sangat jelas
ertinya. Yakni bahawa pelaksanaan
ayat tersebut dapat diwujudkan dengan adanya jihad di jalan Allah
SWT dengan mengangkat
senjata sebagai
usaha untuk menghentikan orang-orang
yang lalim. Setelah
itu, seorang Muslim
dapat mengatakan: "Aku telah
melaksanakan tugasku dan
tidak akan berdampak kepadaku orang yang sesat setelah
aku memberikan petunjuk."
Demikianlah
pemahaman orang-orang Islam yang pertama. Maka bandingkanlah pemahaman tersebut
dengan pemahaman kita
saat ini di
mana kita telah kehilangan keberanian, dan rasa takut
telah menghinggapi tubuh orang-orang Islam. Kaum Muslim lebih mengutamakan
keselamatan diri mereka daripada memerangi orang- orang yang lalim.
Muhammad bin
Abdillah datang dengan
membawa risalah Islam
yang di dalamnya terdapat
perintah Ilahi untuk memerangi orang-orang yang lalim dan mempertahankan
kehormatan orang-orang yang tertindas di muka bumi. Allah SWT berfirman:
"kerana
itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan
akhirat berperang di jalan Allah. Barang siapa yang berperang di jalan Allah,
lalu gugur atau
memperoleh kemenangan, maka
kelak akan Kami berikan
kepadanya pahala yang
besar. Mengapa kamu
tidak mau berperang dijalan
Allah dan (membela) orang-orang
yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita
mahupun anak- anak
yang semuanya berdoa:
'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang lalim penduduknya
dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari
sisi-Mu. " (QS. an-Nisa': 74-75)
Muhammad bin
Abdillah membacakan kepada
kaumnya tentang penafsiran Allah SWT berkenaan dengan makna
kejayaan yang besar:
"Sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan
memberikan syurga untuk
mereka. Mereka berperang
di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi)
janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Quran. Dan siapakah
yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?, maka bergembiralah
dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang
besar." (QS. at- Taubah: 111)
Bacalah
ayat tersebut dua kali dan renungkanlah tentang kedermawan Allah SWT. Betapa
tidak, Dia membeli jiwa orang-orang mukmin dan harta mereka, padahal jiwa
tersebut dan harta tersebut pada hakikatnya adalah milik-Nya sendiri. Lihatlah
bagaimana kemuliaan Allah SWT di mana Dia membeli harta milik-Nya yang khusus
dengan syurga dan bagaimana Allah SWT menganjurkan orang-orang Islam
untuk berperang, dan
Dia memberitahu mereka
bahawa urusan memerangi orang-orang lalim dan orang-orang yang tersesat
bukanlah hal yang baru atas orang- orang Islam. Allah SWT telah memerintahkan
hal tersebut dalam Injil dan Taurat. Sebagaimana Nabi Isa
diutus dengan pedang,
seperti yang disebutkan
dalam lembaran-lembaran atau
buku-buku orang-orang Nasrani,
maka Nabi Musa
pun diutus dengan membawa pedang.
Dan ketika Bani Israil berkata kepada Nabi Musa, "pergilah engkau bersama
Tuhanmu dan berperanglah, dan kami hanya di sini duduk-duduk saja,", maka
kehendak Ilahi menetapkan
agar mereka mendapatkan kesesatan
selama empat puluh
tahun sebagai akibat
dari perbuatan mereka itu, agar
generasi yang lemah dan
hina itu hancur yang mereka justru tidak memenuhi panggilan
Allah SWT dan mereka membiarkan Nabi Musa bersama Tuhannya berperang, padahal
peperangan itu merupakan tanggung jawab mereka dan tugas mereka yang harus
mereka emban sebagai pengikut Nabi Musa.
Demikianlah esensi
dari ajaran Islam
sebagaimana yang dibawa
oleh Muhammad bin Abdillah. Yakni ajakan untuk membaca dan menggali ilmu
serta mendapatkan kebebasan dan
yang terpenting adalah
usaha melawan kekuatan-kekuatan
lalim. Suatu ajakan yang universal yang tidak dikhususkan untuk kalangan
tertentu atau untuk
warna kulit tertentu
atau untuk kaum tertentu
atau untuk tempat
tertentu; suatu ajakan
kemanusiaan yang komprehensif
yang universal yang ingin mengikat ilmu dan kebebasan dan jihad dengan tujuan
yang lebih tinggi, yaitu mencapai tauhid kepada Allah SWT dan menyucikan-Nya serta
keimanan terhadap hari
kemudian dan kebangkitan manusia semuanya di hadapan Allah
SWT.
Adalah salah
jika ada orang
yang menganggap bahawa
Islam hanya memperhatikan aspek
akhirat dan melupakan aspek duniawi. Menurut Islam dunia adalah lembar-lembar
jawapan yang akan di koreksi di hari akhir. Ia adalah ujian dan tempat
percubaan bagi manusia agar manusia mengetahui apakah ia
layak untuk mendapatkan
kemuliaan dari Allah
SWT yang telah diberikan kepada Adam. Atau apakah ia
justru layak untuk jadi bahagian dari tanah neraka Jahim dan batunya,
sebagaimana firman Allah SWT:
"Yang
bahan bakarnya manusia dan batu. " (QS. al-Baqarah: 24)
Rasulullah
saw telah menjelaskan hikmah dari penciptaan manusia, penciptaan kehidupan dan
kematian ketika beliau menyampaikan firman Allah SWT dalam surah al-Mulk:
"Yang
menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang
lebih baik amalnya. " (QS. al-Mulk: 2)
Dunia
adalah rumah pergelutan. Dan Allah SWT telah menciptakan kehidupan dan kematian
agar manusia menyedari siapa di antara mereka yang terbaik amalnya. Tentu
pengetahuan ini tidak akan menambah kekuasaan Allah SWT. Pengetahuan itu
justru dibutuhkan oleh
manusia. Allah SWT
menciptakan manusia agar manusia
mengetahui, dan pengetahuan
yang paling penting adalah pengetahuan
atau pengenalan terhadap
diri. Dan pada
hari kiamat manusia akan mengenal
dirinya secara sempurna dan ia akan mengenal balasan yang akan di terimanya
secara sempurna.
Dan
barangkali mukadimah yang kami sarikan dari hari akhir ini mengharuskan
kehidupan di atas
bumi dipenuhi dengan
kesucian dan kebersihan,
yaitu diliputi dengan kemanusiaan yang sempurna yang di dalamnya manusia
layak untuk hidup. Demikianlah
Islam yang dibawa
oleh Muhammad saw.
Inilah asasnya dan hakikatnya. Itu adalah pondasi dan hakikat yang tidak
diciptakan oleh Muhammad saw dan tak didahului oleh rasul-rasul sebelumnya.
Hakikat risalah-risalah yang dulu
semuanya adalah tauhid
dan mempertahankan kebenaran serta
keimanan terhadap hari
akhir dan menyerahkan
jiwa dan anggota tubuh hanya
kepada Allah SWT. Yang baru dalam Islam adalah ilmu, kebebasan dan universalitas ajaran
Islam serta warna
keadilan yang sangat kental, sehingga sangat tepat jika
dikatakan bahawa karakter dari Islam adalah keadilan. Barangkali bahagian ini
perlu diperhatikan.
Meskipun agama-agama
samawi pada esensinya satu, tetapi
kehendak Allah menuntut
turunnya lebih dari
agama dan lebih
dari satu nabi.
Kehendak tersebut menuntut agar pada setiap agama terdapat karakter yang
khusus yang menggambarkan bentuk yang
paling tepat sesuai
dengan kebutuhan utama yang
di situ agama
itu diturunkan dan
sesuai dengan waktu
saat itu. Orang-orang Yahudi
misalnya, mereka hidup
di tengah-tengah suasana penyembahan berhala
di kalangan orang-orang
Mesir kuno. Yahudisme diturunkan pada Bani Israil yang
suka membangkang dan kerana itu, karakter utamanya adalah
ketegasan (as- Sharamah)
agar mereka tidak
terpengaruh dengan fenomena berhalaisme ala Mesir atau mereka terkena
pengaruh dari tindakan semena-mena Fir'aun. Dengan ketegasan inilah agama
Yahudi selamat dan dapat menjadi risalah penyelamatan dan pembebasan.
Namun
Bani Israil yang memperbudak manusia dan mempunyai hati yang keras pada saat
yang sama mereka keluar dari Fir'aun untuk masuk ke cengkaman orang-orang
Romawi di mana orang-orang Romawi justru lebih lalim dan lebih kuat dari
orang-orang Mesir. Oleh
kerana itu, orang-
orang Masehi bertanggungjawab
untuk melakukan pembebasan baru tetapi dengan cara yang berbeza sesuai dengan
perubahan keadaan. Cara tersebut adalah menjauhkan penggunaan kekuatan
bersenjata kerana kekuatan
orang-orang Romawi mengungguli
kekuatan saat itu dan menguasai bumi secara keseluruhan. Maka kemenangan yang
mungkin dapat diperoleh adalah dengan cara menghindari tindak kekerasan dan
lebih mengutamakan pendekatan cinta. Dan pada kali yang lain
orang- orang Masehi
memperoleh kemenangan melalui
cara kedamaian dan cinta yang
disebarkannya atas imperialisme Romawi dengan segala senjatanya dan
kekuasaannya.
Adapun
Islam datang sebagai agama yang terakhir dan menyeluruh yang layak untuk
diterapkan di muka bumi, sehingga Allah SWT mewariskan bumi dan apa saja yang
ada di dalamnya kepada orang-orang yang berhak mewarisinya. Oleh kerana itu,
agama yang terakhir
ini harus mempunyai
karakter khusus dan karakter itu adalah karakter keadilan.
Ketegasan hanya
cocok untuk zaman
tertentu dan kelompok
tertentu dan keadaan tertentu,
sedangkan cinta adalah
contoh yang tertinggi,
tetapi ia tidak dapat
menjadi sesuatu tolok
ukur untuk dibandingkan dengan tindakan-tindakan tertentu
atau untuk dijadikan
alat untuk melakukan sesuatu. Dan
jika ia menjadi
tolok ukur bagi
orang-orang yang memilki perasaan yang tinggi atau budaya yang
tinggi, maka ia tidak dijadikan tolok ukur umum dan universal. Adapun keadilan,
maka ia menjadi karakter Islam yang berarti keseimbangan dalam sifat-sifat
keutamaan dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Ini adalah tolok ukur
yang menyeluruh dan barometer yang
akhir. Dan barangkali
kebesaran keadilan dan
pengaruhnya dalam pengaturan alam
bersandarkan kepada firman Allah SWT:
"Allah menyatakan
bahawasanya tidak ada
Tuhan melainkan Dia.
Yang menegakkan keadilan. Para
malaikat dan orang-orang yang berilmu
(juga menyatakan yang demikian itu)." (QS. Ali 'Imran: 18)
Apabila Allah
SWT dalam Islam
merupakan cermin yang
tertinggi, maka keadilan yang
disaksikan oleh Allah
SWT terhadap diri-Nya
sendiri harus menjadi karakter
Islam dan kaum Muslim. Keadilan dalam Islam bukan hanya keadilan ekonomi atau
keadilan hukum atau keadilan dalam balasan, tetapi ia mencakup semuanya.
Sebelum semua ini dan sesudahnya, keadilan dalam Islam merupakan suatu sistem
dalam kehidupan dan metode utama dalam Islam.
Ketika Anda
memalingkan pandangan Anda
dalam Islam, maka
Anda akan menemukan keadilan
menghiasi seluruh wajah Islam. Di sana terdapat keadilan antara agama-agama
yang dulu, keadilan
antara individu dan
masyarakat, keadilan antara dunia dan agama, keadilan antara lelaki dan
wanita, keadilan untuk orang-orang yang fakir dan orang-orang yang kaya,
keadilan antara para penguasa dan rakyat,
bahkan dengan keadilan
itu sendiri bumi
dan langit ditegakkan dan Allah
SWT menyebut diri-Nya sebagai al-'Adl (Yang Maha Adil).
Selanjutnya, Islam
adalah agama yang
sudah lama sebagaimana
lamanya kedatangan para nabi. Nabi Nuh as berkata dalam surah Yunus:
"Jika
kamu berpaling (dari peringatanku), aku
tidak meminta upah sedikit pun darimu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah
belaka dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah
diri (kepadanya)." (QS. Yunus: 72)
Nabi
Ibrahim dan Nabi Ismail as berkata dalam surah al-Baqarah saat keduanya
membangun Ka'bah:
"Ya Tuhan
kami, terimalah dari
kami (amalan kami),
sesungguhnya
Engkaulah Yang
Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui. Ya Tuhan
Kami, jadikanlah kami berdua
orang yang tunduk
patuh kepada Engkau
dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji
kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Menerima
taubat lagi Maha Penyayang. " (QS. al-Baqarah: 127-128)
Nabi
Ibrahim tidak lupa untuk berwasiat kepada keturunannya dan di antara
mereka adalah Yakub
agar mereka mati
dalam keadaan Islam.
Allah SWT berfirman:
"Dan
Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anaknya, Demikian pula Yakub.
(Ibrahim berkata): 'Hai
anak-anakku, Sesungguhnya Allah
telah memilih agama ini
bagimu, maka janganlah
kamu mati kecuali
dalam memeluk agama Islam.'" (QS. al-Baqarah: 132)
Ketika kematian
mendekati Yakub, beliau
mengumpulkan anak-anaknya di sekelilingnya dan bertanya kepada mereka:
"Apa
yang kamu sembah sepeninggalanku? Mereka menjawab: 'Kami akan menyembah Tuhanmu
dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim,
Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan
Yang Maha Esa
dan kami hanya
tunduk patuh kepadanya.'"
(QS. al-Baqarah: 133)
Allah
SWT memberitahu kita dalam surah Yunus tentang perkataan Nabi Musa kepada
kaumnya:
"Hai kaumku,
jika kamu beriman
kepada Allah, maka
bertawakallah kepada-Nya
saja, jika kamu
benar-benar orang yang
berserah diri." (QS. Yunus: 84)
Sementara itu,
Nabi Sulaiman adalah
seorang Muslim sesuai
dengan nas ayat-ayat yang
menceritakan tentang kisahnya bersama Ratu Saba' ketika Ratu tersebut berkata:
"Ya
Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat lalim terhadap diriku dan aku berserah
diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam." (QS. an-Naml: 44)
Demikian juga
Nabi Yusuf, beliau berdoa
kepada Allah SWT
dan meminta kepadanya agar
mematikannya sebagai orang Muslim dan memasukannya dalam kelompok orang-orang
yang saleh. Allah SWT berfirman dan bercerita tentang Yusuf dalam surah Yusuf:
"Ya Tuhanku,
sesungguhnya Engkau telah
menganugerahkan kepadaku
sebahagian kerajaan dan
telah mengajarkan kepadaku
sebahagian ta'bir mimpi. (Ya
Tuhan) Pencipta langit
dan bumi, Engkaulah
Pelindungku di dunia dan
di akhirat, wafatkanlah
aku dalam keadaan
Islam dan gabungkanlah aku
dengan orang-orang yang saleh." (QS.Yusuf: 101)
Sementara
itu dalam surah al-Maidah, Allah SWT mewahyukan kepada kaum Hawariyin agar
mereka beriman kepadanya dan kepada rasul-Nya lalu mereka berkata:
"Kami
telah beriman dan saksikanlah (wahai
rasul) bahawa Sesungguhnya
kami
adalah orang-orang yang patuh (kepada
seruanmu)." (QS. al-Maidah: 111)
Jadi,
Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Yakub, Nabi Musa Harun, Nabi
Sulaiman, Nabi Yusuf, Nabi Isa adalah nabi-nabi yang Muslim sesuai dengan nas
ayat-ayat tersebut. Maka
seluruh nabi adalah
orang-orang Muslim, lalu bagaimana Nabi Muhammad saw sebagai Nabi
yang terakhir dikatakan sebagai orang Muslim yang pertama?
Allah
SWT berfirman dalam surah al-An'am yang ditujukan kepada Nabi yang terakhir:
"Katakanlah:
'Sesungguhnya solatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam,
tiada sekutu bagi-Nya;
dan demikian itulah yang
diperintahkan kepadaku dan
aku adalah orang
yang pertama-tama menyerahkan
diri (kepada Allah).'" (QS. al- An'am: 162-163)
Maka, bagaimana
beliau menjadi orang
Muslim yang pertama,
padahal penamaan umat
beliau
dengan sebutan al-Muslimin adalah penamaan yang sebenarnya sudah dahulu
dikenal di
kalangan nabi-nabi yang
terdahulu dan kedatangannya
ke alam wujud dan
penamaan
agamanya dengan sebutan al-Islam sebenarnya berhutang kepada datuknya yang
jauh, yaitu Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman dalam surah al-Hajj:
"Dan Dia
sekali-kali tidak menjadikan
untuk kamu dalam
agama suatu kesempitan.
(Ikutilah)
agama
orang tuamu Ibrahim. Dia telah menamai kamu sekalian orang- orang Muslim dari
dahulu. " (QS. al-Hajj: 78)
Tidak ada
pertentangan dalam pendahuluan
para nabi dengan
sebutan al-Muslimin daripada
Rasulullah saw dan kedudukan beliau sebagai orang Muslim yang pertama. Tentu
kata al-Awwal (yang pertama) di sini tidak difahami dari sisi waktu atau masa
kemunculan, tetapi yang dimaksud dengan orang Muslim di sini
adalah akmalul muslimin (orang yang
paling sempurna di
antara orang-orang Muslim). Suatu
kali Aisyah pernah
ditanya tentang akhlaknya Rasulullah saw
lalu dia menjawab
dengan kalimatnya yang
singkat: "Akhlak beliau
adalah Al-Quran."
Kita mengetahui
bahawa Al-Quran al-Karim
menetapkan akhlak yang
mulia meskipun dalam batasannya
yang sederhana dan
rendah, dan menyebutkan keutamaan akhlak
dalam tingkatannya yang
tinggi. Oleh kerana
itu, akhlak
seperti
apa yang dimiliki oleh Rasulullah saw: apakah beliau memiliki akhlak yang
sifatnya tengah-tengah, atau apakah beliau mendahului dalam kebaikan, atau apakah
beliau termasuk ashabul
yamin (orang-orang yang berasal
di sebelah kanan), atau apakah beliau termasuk al-Muqarrabin
(orang-orang yang dekat dengan Allah SWT)?
Rasulullah saw
tidak hanya memiliki
semua karakter tersebut
dan atribut tersebut, bahkan
kedudukan beliau lebih
dari itu semua.
Beliau berada di puncak dari segala puncak keutamaan
akhlak, sehingga beliau berhak untuk mendapatkan sebutan dari Allah SWT:
"Dan sungguh
pada dirimu terdapat
budi pekerti yang
agung. " (QS.
alQalam: 4)
Para Mufasir
berbeza pendapat tentang makna
dari al-Huluqul 'adzim (budi pekerti yang agung). Sebahagian mereka
mengatakan bahawa yang dimaksud adalah Al-Quran. Sebahagian yang lain
mengatakan itu adalah Islam. Ada juga yang
mengatakan bahawa beliau
tidak memiliki sesuatu
kecuali keinginan untuk menuju
jalan Allah SWT.
Dalam
Al-Qur'an al-Karim terdapat penjelasan tentang darjat beliau yang tinggi dalam
dua ayat yang mulia. Ayat yang pertama adalah firman-Nya:
"Katakanlah:
'Sesungguhnya solatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam,
tiada sekutu bagi-Nya;
dan demikian itulah yang
diperintahkan kepadaku dan
aku adalah orang
yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).'" (QS. al-
An'am: 162-163)
Beliau
adalah orang yang paling utama di antara manusia semuanya; beliau memiliki keutamaan
yang melebihi semua manusia;
beliau memiliki rahmat dan
kemuliaan yang tidak
dapat ditandingi oleh
seseorang pun. Meskipun beliau datang sebagai Nabi yang
terakhir namun justru kerana posisi beliau sebagai Nabi yang terakhir, maka
beliau menjadi bata yang terakhir dalam pembangunan rumah
kenabian yang tinggi,
sehingga bata yang
terakhir itu harus menjadi
puncak pembangunan manusia.
Sedangkan ayat yang
kedua adalah firman-Nya:
"Dan
Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta." (QS.
al-Anbiya': 107)
Beliau
bukan hanya menjadi rahmat bagi orang-orang Arab saja; beliau bukan hanya menjadi
rahmat bagi orang-orang
Quraisy dan beliau
bukan menjadi rahmat bagi
zamannya saja, begitu
juga beliau tidak
menjadi rahmat bagi jazirah Arab saja, tetapi beliau menjadi
rahmat bagi alam semesta; beliau senantiasa
menjadi rahmat bagi
alam semesta: dimulai
dari diturunkannya wahyu
kepadanya dengan kalimat iqra hingga Allah SWT mewariskan bumi dan apa saja
yang ada di dalamnya kepada orang- orang yang berhak mewarisinya sampai hari
kiamat. Alhasil, beliau adalah rahmat yang dihadiahkan kepada manusia; beliau
adalah rahmat yang
tidak menonjolkan mukjizat
yang mengagumkan, tetapi beliau
adalah rahmat yang
memulai dakwah dengan mengutamakan fungsi akal atau
pembacaan dua kitab: pertama, pembacaan kitab alam atau Al- Qur'an yang diciptakan atau kalimat-kalimat
Allah SWT yang terdiri dari
jutaan bentuk dan kedua pembacaan
Al-Qur'an yang diturunkan melalui
malaikat Jibril di
mana ia merupakan
kalamullah yang abadi. Dan kitab
alam dibaca dengan ribuan cara: dibaca melalui penelusuran dunia:
"Katakanlah: 'Berjalanlah
kamu di muka
bumi dan amat-amatilah.'" (QS. an-Naml: 69)
Atau
dibaca melalui usaha menyingkap misteri dan penggunaan akal:
"Kami
akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap
penjuru dan pada
diri mereka sendiri, sehingga
jelaslah bagi mereka bahawa
Al-Qur'an itu adalah benar. " (QS. Fushilat: 53)
Atau
dibaca melalui ilmu dan pengamatan:
"Atau
siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang telah
menjadikan sungai-sungai di
celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk
(mengukuhkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut 1 Apakah di
samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan
dari mereka tidak
mengetahui." (QS. an-Naml: 61)
Jika
di sana terdapat ribuan jalan atau cara untuk membaca kalimat- kalimat Allah
SWT dan kitab alam, maka di sana terdapat satu jalan untuk membaca kalamullah
yang abadi, yaitu hendaklah Al-Qur'an dibaca dengan mata hati dan kecemerlangan
basirah, sehingga Al-Qur'an menjadi bahagian akhlak dari yang membaca sesuai
dengan kemampuannya.
Sebelum turunnya
Al-Qur'an, dunia diliputi
dengan kekurangan, baik secara materi, rohani, undang-undang
mahupun dari dimensi kehidupan yang biasa melekat pada manusia saat itu. Dan
sebelum diutusnya Rasul saw yang beliau adalah
manusia yang sempurna
dan paling utama,
alam belum mencapai puncak dari penyerahan diri kepada
Allah SWT atau puncak dari keutamaan akhlak. Ketika Rasulullah saw diutus, maka
manusia mengalami kesempurnaan dan mampu mencapai tingkat kesempurnaannya.
Dengan Kitab yang mulia ini dan Nabi yang pengasih, Allah SWT yang
menyempurnakan agama bagi manusia dan menyempurnakan nikmat-Nya atas mereka,
sebagaimana firman-Nya:
"Pada hari
ini telah Ku-sempurnakan untuk
kamu agamamu, dan
telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi
agama bagimu. " (QS. al-Maidah: 3)
Namun
semua itu tidak terwujud begitu saja, Nabi yang mulia harus berjuang
secara serius dan
sungguh-sungguh, sehingga beliau
menjadi manusia yang paling layak untuk mendapatkan pujian
penduduk bumi dan penduduk langit. Dan Rasulullah saw telah melakukan semua
itu. Kita tidak mengenal seorang nabi yang perasaannya dihina dan dicaci maki
lebih dari apa diterima oleh Muhammad
bin Abdillah; kita
tidak mengenal seorang
nabi yang memikul berbagai penderitaan,
dan memiliki kesabaran
yang mengagumkan di
jalan Allah SWT sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi kita.
Kemudian, seorang
yang diutus oleh
Allah SWT sebagai
rahmat bagi alam semesta tidak akan mengajak manusia
menuju kebenaran kecuali jika manusia tersebut
dari kalangan orang-orang
yang kafir dan
membangkang. Beliau berdakwah
bagi orang yang berhak mendapatkan dakwah; beliau siap memikul tanggung jawab
dakwah dengan berbagai
tantangan dan cubaannya;
beliau menunjukkan kesabaran yang luar
biasa. Setelah itu, beliau datang kepada Allah SWT dengan hati yang puas
dan air mata yang bercucuran dan dengan suara berbisik berkata: "Ya Allah,
jika tidak ada kemurkaan pada diri-Mu, maka aku tidak akan peduli dengan
manusia." Segala sesuatu akan menjadi mudah jika di sana terdapat ridha
Allah SWT.
Setelah
turunnya wahyu kepada Rasul saw, beliau memulai tahapan dakwah dan mengajak
manusia untuk menyembah
Allah SWT. Dimulailah
dakwah secara rahsia yang berlangsung selama tiga tahun dalam
persembunyian.
Mula-mula
Ummul Mu'minin, Khadijah binti Khuwailid beriman kepadanya, lalu beriman juga
sahabatnya, Abu Bakar sebagaimana beriman kepadanya anak pamannya, Ali bin Abi
Thalib yang saat itu masih kecil dan hidup di bawah asuhan Muhammad,
dan juga beriman
kepadanya Zaid bin
Tsabit, seorang pembantunya. Kemudian
Abu Bakar juga
ikut berdakwah, sehingga
ia memasukkan dalam dakwah
teman- temannya, seperti
Usman bin Affan, Thalha bin Ubaidilah, dan Sa'ad bin
Abi Waqas. Juga beriman seorang Masehi, yaitu Waraqah bin Nofel dan Rasulullah
saw melihatnya setelah kematiannya tanda kesenangan yang itu menunjukkan
ketinggian darjatnya di sisi Allah SWT. Setelah itu, Abu Dzar al-Ghifari juga
masuk Islam, lalu disusul oleh Zubair bin Awam
dan Umar bin
'Anbasah serta Sa'id
bin 'Ash. Jadi,
Islam mulai mengepakkan sayapnya
secara rahsia di Mekah.
Kemudian berita
tersebarnya akidah yang
baru ini sampai
kepada pembesar-pembesar
Quraisy, tetapi mereka
tidak begitu peduli.
Barangkali mereka membayangkan bahawa Muhammad telah menjadi - kerana
uzlah yang dilakukannya di gua
Hira - salah seorang
juru bicara tentang
ketuhanan sebagaimana pernah dilakukan oleh Umayah bin Shalt dan Qas bin
Sa'adah.
Demikianlah
dakwah secara rahsia berhasil mengembangkan misinya dan dapat melindungi akidah
yang baru. Dan
selama perjalanan tiga
tahun yang dibutuhkan tahapan
dakwah secara rahsia keimanan telah tertanam dalam hati kaum Muslim yang
pertama. Rasulullah saw telah mendidik mereka dan telah menanamkan kepada diri
mereka sifat-sifat kemuliaan dan telah menciptakan mereka sebagai benih pertama
dari pasukan Islam. Pada suatu hari Jibril turun dengan membawa firman Allah
SWT:
"Dan berilah
peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang
terdekat." (QS.
asy-Syu'ara': 214)
Demikianlah,
datanglah perintah Ilahi agar Rasulullah saw berdakwah secara terang-terangan.
Lalu berkumpullah di sekeliling Nabi sekelompok tentera yang besar dan
datanglah perintah Ilahi agar beliau menyampaikan dakwah secara terang-terangan
dan mengingatkan keluarga dekatnya. Ketika Nabi melakukan hal tersebut,
maka dakwah memasuki
tahapan yang kedua.
Dan tahapan dakwah yang baru ini
berakibat pada timbulnya penekanan terhadap para dai di mana
mereka mengalami penindasan,
bahkan mereka didustakan
oleh masyarakat serta diboikot.
Orang-orang
Quraisy mengetahui bahawa Muhammad berbahaya bagi mereka. Beliau bukan
hanya berbicara tentang
ketuhanan, tetapi beliau
mengajak manusia untuk mengikuti
agama baru, yaitu
agama yang mencuba
untuk menyingkirkan berhala-berhala dan patung-patung mereka serta
tuhan-tuhan mereka yang mereka yakini; agama yang mencuba menyingkirkan
kedudukan sosial mereka dan
kepentingan- kepentingan ekonomi
mereka; agama yang menyatakan bahawa tiada tuhan lain
selain Allah SWT, dan tiada hukum lain selain
hukum-Nya, serta tiada
penguasa lain selain
Dia. Kedatangan agama tersebut menyebabkan penduduk kota
Mekah membencinya dan orang-orang yang memegang kekuasaan di dalamnya merasa
gelisah.
Setelah pengumuman
dakwah secara terang-terangan, dimulailah
dan ditabuhlah gendang peperangan. Kemudian peperangan yang dahsyat
terjadi antara para pembesar Quraisy dan para pengikut Rasulullah saw. Orang
yang pertama kali menyerang Islam adalah seorang tokoh Mekah yang bernama Abu
Lahab.
Bukhari
meriwayatkan bahawa Rasulullah saw menaiki bukit Shafa dan beliau mulai
memanggil-manggil tokoh Quraisy dan para kabilah Mekah. Dan ketika semua berkumpul,
beliau bertanya kepada
mereka: "Apakah kalian
percaya jika aku memberitahu
kalian bahawa seekor
kuda akan datang
menyerang kalian?" Mereka menjawab: "Tentu, kami belum pernah
melihatmu berbohong." Beliau berkata: "Aku seorang yang diutus
sebagai pemberi peringatan terhadap kalian. Di hadapanku terdapat seksaan yang
berat jika kalian menentang." Abu Lahab
berkata: "Sungguh celaka
engkau, apakah kerana
ini engkau mengumpulkan
kami."
Dengan
penghinaan inilah, peperangan terhadap Islam dimulai. Ketika kaum Muslim tidak
mampu mempertahankan diri mereka, maka
mula- mula Allah SWT membantu mereka dan menolong mereka
dengan menurunkan surah yang pendek yang mengecam tindakan Abu Lahab:
"Binasalah kedua
tangan Abu Lahab
dan sesungguhnya dia
akan binasa. Tidaklah bermanfaat
kepadanya harta bendanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia
akan masuk ke
dalam api yang
bergejolak. Dan (begitu
pula) isterinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari
sabut. " (QS. Allahab: 1-5)
Dengan ayat-ayat
yang pendek dan
tepat tersebut, Abu
Lahab memasuki kancah sejarah
dari pintunya yang paling pendek. Gambaran tentang kejahatan Abu Lahab tertulis
selama-lamanya. Abu Lahab adalah seorang yang menentang dakwah kebenaran kerana
ia mengkhuatirkan kedudukannya dan kekayaannya, padahal harta yang
dipertahankannya dan dijaganya tidak memiliki erti sama sekali di
sisi Allah SWT
kerana ia sekarang
berada dan dimasukkan
di tengah-tengah neraka yang
menyala- nyala, sedangkan
isterinya membawa kayu bakar,
sehingga menambah nyala api itu sendiri. Dan di lehernya terdapat suatu belenggu
sebagai simbol keterikatannya dengan
dunia binatang yang tidak berakal. Sebahagian besar
orang-orang yang menentang dakwah adalah orang- orang yang berhubungan dengan
dunia binatang yang tidak sadar.
Allah
SWT berfirman:
"Atau apakah
kamu mengira bahawa
kebanyakan mereka itu
mendengar
atau
memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak,
bahkan mereka
lebih sesat jalannya (dari binatang
ternak itu). " (QS. al-Furqan: 44)
Seandainya
hari ini kita merenungkan reaksi orang-orang kafir dan orang- orang musyrik,
maka kita akan terhairan-hairan.
Allah
SWT berfirman:
"Dan
mereka hairan kerana mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari
kalangan mereka; dan
orang-orang kafir berkata:
'Ini adalah seorang ahli
sihir yang banyak
berdusta. Mengapa ia
menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang Satu saja? Sesungguhnya ini
benar-benar suatu hal yang sangat menghairankan'." (QS. Shad: 4- 5)
Cobak
perhatikan bagaimana kebodohan kaum itu di mana mereka menganggap bahawa pada
hakikatnya terdapat multi
tuhan dan mereka
justru merasa hairan ketika
terdapat hanya satu tuhan atau tuhan yang esa. Mereka justru merasa hairan
ketika berhadapan dengan masalah yang fitri dan jelas ini.
Allah
SWT berfirman:
"Dan apabila
mereka melihat kamu (Muhammad), mereka
hanyalah
menjadikan kamu
sebagai ejekan (dengan
mengatakan): 'Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai rasul?
Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita
dari sembahan-sembahan kita,
seandainya kita tidak
sabar (menyembah)nya. " (QS. al-Furqan: 41-42)
Perhatikanlah
betapa nekadnya kaum itu di mana mereka mulai menghina dan mengejek Rasulullah
saw, padahal beliau
telah datang di
tengah-tengah mereka untuk menyelamatkan mereka dari api neraka, dan
cuba perhatikan bagaimana
pandangan mereka terhadap
tuhan-tuhan mereka. Mereka membayangkan bahawa
mereka nyaris tersesat
jika mereka tidak
bersabar dalam membela tuhan-tuhan
tersebut. Demikianlah kesesatan
mengejek kebenaran dan kebodohan
menghina ilmu. Mereka
justru merasa hairan
terhadap kepandaiannya
yang dapat menyelamatkannya dari
meninggalkan tuhan-tuhannya yang terbuat dari batu dan kayu, bahkan
terkadang mereka membuat tuhan dari adunan roti di mana mereka menyembahnya
kemudian memakannya. Mereka mengatakan bahawa tuhan-tuhan kami menyelamatkan
kami dari rasa
lapar atau mereka
mengatakan bahawa kami
menyembah mereka agar mereka dapat mendekatkan kami pada Allah
sedekat-dekatnya.
Meskipun demikian,
dakwah Nabi terus
berlanjutan dan tertanam
di muka bumi. Mereka
orang-orang musyrik menuduh
Nabi sebagai seorang
dukun; mereka menuduhnya juga sebagai seorang gila, bahkan mereka
menuduhnya sebagai seorang penyihir;
mereka menuduh bahawa
beliau berbohong atas nama kebenaran dan beliau dibantu oleh
kaum yang lain; mereka mengatakan ini adalah dongengan orang-orang yang dahulu.
Mereka
meminta kepada beliau untuk mendatangkan mukjizat dengan bentuk tertentu; mereka
memberitahu bahawa mereka
tidak akan beriman kepadanya, sehingga terdapat suatu
mata air yang memancar dari bumi atau terwujud di depan mereka suatu taman dari
pohon kurma dan anggur yang memancar di tengah-tengahnya sungai, atau langit
akan runtuh sebagaimana yang beliau sampaikan kepada mereka sebagai bentuk azab
atau beliau datang dengan Allah SWT dan para malaikat dan mereka semua menjamin
kebenaran dakwah yang diserukannya, atau beliau memiliki rumah dari emas atau
beliau mampu mendaki langit dan mereka masih belum beriman terhadap pendakian
itu meskipun ia
mendaki di hadapan
mata mereka dan
kembali dengan selamat, kecuali
jika ia menghadirkan kitab kepada mereka yang dapat mereka baca dari langit.
Nabi
tidak peduli dengan usaha mereka untuk menyakiti hati beliau; Nabi tetap
memberitahu mereka dengan penuh kelembutan bahawa apa saja yang mereka minta
itu tidak sesuai dengan Islam. Sebab, Islam hanya menyeru akal dan berusaha menciptakan
kebebasan. Beliau menyampaikan
kepada mereka bahawa beliau hanya
sekadar manusia yang diutus oleh Tuhan; beliau datang kepada mereka untuk
mengingatkan mereka akan suatu hari di mana seorang tua tidak
akan menyelamatkan anaknya
dan tidak bermanfaat
di dalamnya harta dan
anak-anak, dan mereka
tidak akan selamat
di dalamnya dari seksaan.
Orang-orang yang mempunyai
kedudukan atau para
tokoh mereka adalah para
tiran-tiran di muka bumi di mana semua itu tidak akan bermanfaat bagi mereka
pada hari kiamat. Seksaan yang bakal mereka terima tidak dapat mereka hindari
dan mereka pun tidak dapat meringankannya.
Demikianlah
Islam - sebagaimana agama-agama
sebelumnya - mengumpulkan di
sekelilingnya orang-orang yang berakal dan orang- orang yang fakir serta
orang-orang yang menderita
di muka bumi.
Berimanlah sekelompok
orang-orang fakir di mana mereka menjadi kelompok sosial yang tertindas dan
tersingkirkan di Mekah. Mereka menjadi makanan empuk kelompok-kelompok yang
zalim.
Islam bukan
hanya memberikan solusi
ekonomi terhadap tragedi
kehidupan atau masyarakat, tetapi Islam memberikan solusi Ilahi terhadap
keberadaan manusia secara umum; Islam meyakini bahawa manusia bukan hanya
sekadar perut yang harus
dikenyangkan dan naluri
seksual yang harus
dipuaskan, manusia bukan hanya
di lihat dan
dinilai dari sisi
ini, namun Islam
justru meletakkan manusia pada tempatnya yang hakiki, tanpa
membesar-besarkan atau mengecilkannya. Dalam pandangan Islam, manusia terdiri
dari bangunan fizik dan rohani, terdiri dari akal dan ambisi dan terdiri dari
celupan dari Allah SWT dalam rohnya.
Islam tidak
mementingkan fizik saja
dan meninggalkan rohani,
begitu juga sebaliknya. Terkadang
fizik boleh jadi
mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan, tetapi rohani justru
mengalami penderitaan yang luar biasa. kerana itu, pemuasan salah satu dimensi
dari dimensi manusia tidak akan membawa manusia kepada kesempurnaan atau
kebahagiaan. Maka, Islam datang untuk membawa suatu solusi yang dapat
menyelamatkan manusia dari dalam dirinya sendiri dan Islam membebankan tugas
ini, yakni tugas perubahan ini kepada Al-Qur'an.
Al-Qur'an
menjadi cermin dalam kehidupan di mana ayat-ayatnya diturunkan kepada Rasul
saw, lalu beliau mengajarkannya kepada kaum Muslim. Kemudian Al-Qur'an berubah
menjadi orang-orang yang
berjalan di pasar-pasar
dan mengancam singgasana kebencian
yang menguasai Mekah,
sehingga orang-orang musyrik justru meningkatkan usaha pengejekan dan
penghinaan terhadap Rasul saw.
Oleh kerana itu,
beliau semakin sedih
lalu Allah SWT menghiburnya. Allah
SWT memberitahu beliau
bahawa mereka tidak mendustakannya, tetapi mereka justru
melalimi diri mereka sendiri. Mereka
mulai
menentang Nabi dan ayat- ayat Allah SWT, padahal Nabi adalah salah satu dari
ayat Allah SWT.
Allah
SWT berfirman:
"Sesungguhnya
Kami mengetahui bahawasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu
bersedih hati), kerana
mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang
lalim itu mengingkari ayat-ayat Allah." (QS. al- An'am: 33)
Kemudian
kaum musyrik meningkatkan penindasan kepada Rasul saw dan para
pengikutnya. Peperangan dimulai:
dari peperangan
urat saraf sampai peperangan fizik. Mereka mulai menyeksa para pengikut Rasul saw, bahkan
membunuhnya. Pada saat
itu, musuh-musuh Islam
membayangkan bahawa dengan cara
menindas kaum Muslim dan menekan mereka dakwah Islam akan berhenti dan kaum
Muslin akan enggan untuk berdakwah. Mereka menganggap bahawa kaum
Muslim justru memilih
untuk menyelamatkan diri
mereka. Namun para tokoh-
tokoh Quraisy dan
para tokoh-tokoh Mekah
dikejutkan ketika melihat penekanan yang
mereka lakukan justru
semakin membakar semangat kaum
Muslim untuk berdakwah. Saat itu kaum Muslim merasa yakin bahawa benih
yang telah ditanam
Rasulullah saw dalam
diri mereka menjadikan mereka
tetap bersemangat untuk menyebarkan risalah Allah SWT di muka
bumi, yaitu suatu
risalah yang mengembalikan
bumi menuju kematangan
(kesempurnaan) yang telah hilang darinya dan kemanusiaan yang telah
disia-siakan serta kehormatan yang telah ditumpahkan dan kebebasan yang telah
hilang.
Kaum
Muslim yakin bahawa mereka bukan hanya membangun suatu negeri yang kecil di
Mekah, dan mereka bukan hanya memperbaiki masyarakat yang rosak, yaitu masyarakat
jazirah Arab, tetapi
mereka mengetahui bahawa
mereka akan membangun suatu manusia yang baru. Mereka akan menciptakan
manusia seutuhnya; mereka akan
menghadirkan dunia dalam
bentuk yang baru
dan dalam gambar yang baru yang merupakan cermin dari gambar kebesaran
sang Pencipta.
Sebelum kedatangan
Islam, orang-orang Arab
tidak dikenal. Dibandingkan dengan peradaban yang dahulu dan
moden, orang-orang Arab tidak memiliki apa-apa.
Mereka tidak memberikan
kontribusi kepada dunia
dalam bentuk ilmu, seni,
atau peninggalan apa
pun yang dapat
dijadikan sebagai kebanggaan. Namun
ketika Islam turun
kepada mereka, mereka
menjadi cermin kejayaan manusia di mana mereka dapat memberikan
sumbangan nyata pada umat manusia.
Bahkan orang-orang Barat
banyak berhutang kepada mereka
dalam kemajuan yang
mereka capai saat
ini. Sebaliknya, ketika mereka
berpaling dari Islam
di mana Islam
hanya menjadi lembaran cerita-cerita dan
kertas-kertas yang tidak
berguna, maka saat
itulah orang-orang Barat dapat
menguasai kaum Muslim
kerana mereka justru mendapatkan ilmu
dari Kaum Muslim
itu sendiri. Mereka
justru mencapai kemajuan ketika
kaum Muslim meninggalkan agama mereka. Jadi, ketika kaum Muslim memahami
Islam secara benar
dan berusaha untuk
menghidupkan ajaran-ajarannya nescaya mereka akan mencapai puncak
keilmuan.
Pada awal-awal
masa tersebarnya Islam,
kaum Muslim menyedari
bahawa mereka menghadapi peperangan yang tidak akan berhenti. Selama
kehidupan ada, maka pertentangan
pun tetap ada.
Oleh kerana itu,
ketika mereka mendapatkan penganiayaan
dan seksaan, maka
keimanan mereka justru semakin meningkat,
dan setiap penganiayaan
yang dilakukan oleh
kaum Quraisy, maka mereka
tetap bertahan untuk
mempertahankan kebenaran. Sebagai
contoh, Amar bin Yasir mengalami penderitaan dan penganiayaan. Ia adalah salah
seorang budak yang menjadi korban dari sistem ekonomi yang berlaku saat itu,
yaitu ekonomi yang berdasarkan kepada sistem perbudakan. Seorang yang beriman
tersebut diseksa di Mekah di mana ia tidak memperoleh kebebasannya yang
hakiki kecuali setelah
ia memeluk Islam.
Mereka mengeluarkannya ke gurun dan menyeksanya berserta ibunya. Bahkan
seksaan semakin meningkat atas ibunya agar ia kembali menjadi musyrik. Ketika
ia tetap mempertahankan keimanannya dan dengan tegas menolak ajakan untuk
menentang Islam, maka Abu Jahal menikamnya dengan belati yang ada di dua
tangannya. Ia pun
meninggal. Dan Islam
mengorbankan syahidnya yang pertama. Wanita mulia itu bernama
Sumayah, ibu dari Amar bin Yasir.
Banyak kalangan
orang-orang bodoh mengatakan
tentang persetujuan Islam terhadap sistem
perbudakan, atau Islam
mendiamkan sistem perbudakan. Mereka lupa
bahawa Islam dibangun
berdasarkan suatu prinsip
yang ingin membebaskan perbudakan
dengan segala bentuknya; Islam ingin mengeluarkan manusia dari kepemilikan
sesama manusia menuju kepemilikan kepada Allah SWT.
Jika Islam
tidak turun dengan
nas-nas yang terperinci
yang mengharamkan sistem perbudakan,
maka dasar-dasarnya secara
umum dan prinsip-prinsip utamanya menghentikan - baik
dalam tindakan mahupun
ucapan -sumber-sumber sistem ini.
Allah SWT sebagai
pemilik syariat mengetahui bahawa sistem perbudakan adalah
sistem ekonomi yang sementara yang akan berubah dengan perubahan waktu, dan
kerana Islam tidak turun pada waktu yang terdapat perbudakan saja, tetapi ia
turun secara umum dan menyeluruh
untuk setiap
zaman, maka Islam
sengaja melewati bentuk-bentuk
yang sementara ini dari bentuk-bentuk eksploitasi menuju unsur yang
pertama atau dasar pertama yang menimbulkan bentuk-bentuk eksploitasi tersebut,
sehingga Islam mengharamkannya. Dengan cara demikian, Islam mengharamkan sistem
perbudakan secara bertahap,
seperti proses pengharaman
khamer. Jadi, keseriusan Islam sangat
menonjol dalam usaha menghapus dan mengharamkan perbudakan.
Jika
dikatakan kepada kita bahawa Islam membolehkan para tenteranya untuk
memperbudak para tawanan perang, maka kita akan mengatakan bahawa Islam
menerapkan sistem ini sebagai bentuk pembalasan terhadap perlakuan yang
sama di mana
musuh-musuh Islam menjadikan
kaum Muslim sebagai budak-budak mereka
ketika mereka menawannya.
Oleh kerana itu,
secara alami orang-orang Islam pun menawan mereka sebagai budak-budak.
Jika Islam tidak melakukan yang demikian, maka boleh jadi Islam akan
dimain-mainkan dan ada kesempatan besar bagi orang-orang musyrik untuk
memperdaya Islam.
Demikianlah
bahawa dakwah Islam mengalami berbagai macam hambatan dan penindasan. Dan
ketika orang-orang yang terseksa mengadu kepada Rasulullah saw atas penindasan
yang mereka terima, maka Rasulullah saw memberitahu mereka dengan pembicaraan
yang jelas bahawa para dai di jalan Allah SWT harus mengorbankan
kesenangan mereka, kedamaian
mereka, dan darah mereka sebagai harga yang pantas untuk
tersebarnya dakwah Islam. Kebebasan bukan diperoleh dengan cuma-cuma. Sejarah
kehidupan menceritakan kepada kita
bahawa ia dipenuhi
dengan gumpalan darah
yang harus dibayar
oleh masyarakat untuk memerangi musuh-musuhnya dari luar dan dari dalam.
Jika ini dialami setiap orang yang menuntut kebebasan pada zaman dan tempat
tertentu, maka bagaimana
dengan orang-orang yang
menuntut kebebasan manusia secara
keseluruhan.
Seorang
Muslim hendaklah sadar bahawa dengan mengumumkan dakwahnya, maka ia pasti akan
menerima pengusiran, penindasan, penjara, pengepungan dan pembunuhan.
Ini adalah harga
yang pantas yang
harus dibayar ketika berdakwah di jalan Allah SWT; inilah
harga kebebasan. Bahkan terkadang kaum yang batil pun membayamya dengan senang
hati, maka bagaimana mungkin orang-orang yang bersama kebenaran ragu untuk
melakukannya.
Pada hakikatnya,
manusia cinta kepada
keabadian. Secara naluri
manusia merasa takut pada
azab dan kematian.
Dan barangkali yang
membezakan orang-orang Islam yang
hakiki dengan yang
lainnya adalah bahawa
mereka terbebas dari rasa ketakutan dan cinta keabadian. Ini adalah
tolok ukur yang pasti untuk membezakan
antara seorang Muslim
yang hakiki dan
seorang Muslim yang hanya namanya atau Muslim warisan atau hanya klaim
semata.
Seorang
Muslim yang hakiki menyedari bahawa ajal di tangan Allah SWT, rezeki ada juga
di tangan-Nya, begitu
juga keamanan semua
ada di tangan-Nya. Dengan keimanan seperti ini, ia
memulai pergelutannya untuk menyebarkan dakwah. Ia siap untuk menerima
penyeksaan dan penderitaan di jalan Allah SWT;
ia pun siap
menitiskan darahnya sebagai
harga yang pantas
yang diserukannya dalam rangka
memperoleh kebebasan. Ini semua
dilakukannya dengan begitu sederhana
dan tidak ada
rasa takut kerana
Islam membebaskannya dari rasa ketakutan. Dahulu para pembangkang
menggergaji orang-orang yang menyeru di jalan Allah SWT dengan menggergaji saat
mereka dalam keadaan hidup- hidup.
Khabab bin
Irit pergi menemui
Rasulullah saw dan
meminta tolong kepada beliau dari penyeksaan orang-orang
Quraisy, sambil berkata: "Tidakkah engkau menolong kami, wahai Rasulullah?
Tidakkah engkau berdoa kepada kami, ya Rasulullah?" Rasulullah
saw menjawab: "Sungguh
sebelum kalian terdapat orang-orang yang berdakwah di jalan
Allah SWT lalu mereka dimasukkan dalam suatu
galian tanah lalu
mereka digergaji di
mana tubuh mereka
di pisah menjadi dua, namun
mereka tetap mempertahankan agamanya. Demi Allah, sungguh Allah
SWT akan menolong
masalah ini tetapi
kalian terlalu
tergesa-gesa."
Dengan
kalimat-kalimat yang penuh kesabaran dan keberanian ini, Rasulullah saw ingin
memahamkan kepada orang
tersebut bahawa termasuk
dari kesempurnaan iman adalah membayar harga kebebasan. Jelas sekali bahawa
Islam tidak memberikan keuntungan bagi orang yang memeluknya. Orang-orang Islam
yang pertama tidak bertanya dan mengatakan: "Apa yang kita peroleh
dari agama ini?"
Sebaliknya, mereka bertanya:
"Apa yang kita
bayar untuk Islam?"
Jawapannya adalah: "Segala sesuatu dimulai dari suapan-suapan roti
sampai darah yang
tertumpah." Jadi, kaum
Muslim yang pertama
telah membayar ongkos kebebasan. Mereka merasakan kedamaian yang luar
biasa untuk mempertahankan agama Allah SWT; mereka mendapatkan kepercayaan
yang tinggi tentang
kemenangan kebenaran yang
datang kepada mereka; mereka justru memberitahu orang-orang
musyrik bahawa mereka akan dapat mengalahkan raja-raja Kisra dan Kaisar. Dengan
dakwah yang mereka lakukan, mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin di muka bumi.
Kaum musyrik justru memanfaatkan kepercayaan ini untuk mengejek mereka dan
mentertawakan mereka.
Ketika Aswad
Ibnu Matlab dan
orang-orang yang bersamanya
melihat sahabat-sahabat Nabi, maka mereka mengejek dan mengatakan:
"Telah datang kepada kalian pemimpin-pemimpin bumi yang esok akan mengalahkan
raja-raja Kisra dan Kaisar, kemudian mereka bersiul dan bertepuk tangan."
Namun kaum mukmin tidak peduli
dengan ejekan tersebut.
Demikianlah bahawa ejekan demi ejekan terus menyertai dakwah
kaum Muslim. Kemudian kaum Quraisy mengadakan pertemuan yang bersejarah untuk
menyatukan pandangan dalam rangka menyerang Rasulullah saw. Kaum musyrik
menuduhnya bahawa beliau adalah seorang ahli sihir, dan pada kali yang lain
mereka menuduhnya bahawa beliau adalah dukun, dan pada kali yang lain lagi mereka
menuduhnya bahawa beliau adalah penyair, bahkan pada kali yang lain mereka
menuduhnya bahawa beliau adalah seorang
yang gila. Kemudian
mereka semua sepakat
untuk menuduh bahawa beliau adalah seorang penyihir.
Walid
bin Mughirah yang terkenal sebagai orang yang terpandang di kalangan
mereka menuduh Rasulullah
saw sebagai penyihir
yang dapat memisahkan antara sesama
saudara dan antara
seseorang dengan isterinya.
Kemudian mereka membikin kelompok-kelompok yang mengingatkan para pendatang
di Mekah bahawa Muhammad
adalah seorang penyihir.
Meskipun demikian, dakwah Islam
tetap berlangsung. Ia tetap tersebar dengan pelan namun pasti dan
kalimat-kalimat yang diutarakan Nabi justru mengingatkan perjanjian yang pernah dilakukan
oleh manusia, yaitu
perjanjian saat Allah
SWT menyaksikannya ketika mereka masih di alam atom di
punggung
Adam:
"Bukankah aku
Tuhan kalian? Mereka
menjawab: 'Benar.'" (QS.
al- A'raf: 172)
Bertambahlah
jumlah kaum Muslim hingga kaum Quraisy merasakan ketakutan. Mereka mulai melihat
bahawa penggunaan cara-cara kekerasan
tidak selalu berhasil.
Kemudian mereka memilih
untuk menggunakan cara
baru, yaitu bagaimana seandainya
mereka menggunakan perdamaian
dan perundingan. Orang-orang
Quraisy mengutus 'Utbah bin Rabi'ah, seorang lelaki yang terkenal dengan
kecerdasan dan kebijaksanaan sebagai juru runding.
'Utbah
berkata kepada Rasul saw: "Wahai anak saudaraku, kami mengetahui
kedudukanmu di sisi
kami dari sisi
nasab. Engkau datang
kepada kaummu dengan suatu hal
yang besar di mana engkau memisahkan kelompok-kelompok mereka. Maka
dengarkanlah aku kerana aku ingin berbicara tentang beberapa hal. Barangkali
engkau akan menerima
sebahagiannya." Rasul saw
berkata: "Silakan berbicara wahai 'Utbah." 'Utbah berkata:
"Jika engkau menginginkan harta nescaya kami akan mengumpulkan harta
bagimu, sehingga engkau akan menjadi orang yang paling kaya di antara kami, dan
jika engkau menginginkan kehormatan, maka kami akan memberi kehormatan itu
bagimu dan jika engkau menginginkan
kekuasaan, maka kami
akan menyerahkan kekuasaan
padamu dan jika engkau terkena penyakit yang engkau tidak mampu
menolaknya dari dirimu, maka kami
akan mencarikan tabib
bagimu dan kami
akan mengeluarkan harta kami sehingga engkau sembuh."
Demikianlah
'Utbah mengakhiri pembicarannya. Kemudian ia menunggu reaksi Nabi. Lalu
Rasulullah saw berkata:
"Dengan nama
Allah yang Maha
Pengasih lagi Maha
Penyayang. Haa miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam
bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. Yang membawa berita gembira dan yang
membawa peringatan, tetapi
kebanyakan mereka berpaling
(darinya);, maka mereka
tidak (mau) mendengarkan. Mereka
berkata: 'Hati kami
berada dalam tutupan (yang menutupi) apa
yang kamu seru
kami kepadanya dan
di telinga kami
ada sumbatan dan antara
kami dan kamu
ada dinding, maka
bekerjalah kamu;
Sesungguhnya kami bekerja
(pula).' Katakanlah: 'bahawasanya
aku hanyalah seorang manusia
seperti kamu, diwahyukan
kepadaku bahawasanya Tuhan kamu
adalah Tuhan Yang
Maha Esa, maka
tetaplah pada jalan
yang lurus menuju kepadanya dan
mohonlah ampun kepadanya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang
mempersekutukan-(Nya) (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat
dan mereka kafir
akan adanya (kehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang
yang beriman dan
mengerjakan amal yang
saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya.' Katakanlah:'
Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa
dan kamu adakan
sekutu-sekutu bagi-Nya?
(Yang bersifat) demikian itulah
Tuhan semesta alam.
Dan dia menciptakan
di bumi itu gunung-gunung yang
kukuh di atasnya.
Dia memberkahinya dan
Dia menentukan padanya kadar makanan- makanan (penghuni)nya dalam empat
masa. (Penjelasan itu
sebagai jawapan) bagi
orang-orang yang bertanya. Kemudian dia
menuju kepada penciptaan
langit dan langit
itu masih merupakan asap, lalu
Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: 'Datanglah kamu keduanya
menurut perintah-Ku dengan
suka hati atau
terpaksa.' Keduanya menjawab:
'Kami datang dengan
suka hati.' Maha
Dia menjadikannya tujuh langit
dalam dua masa
dan Dia mewahyukan
pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan
bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik- baiknya.
Demikianlah ketentuan Yang
Maha Perkasa lagi
Maha Mengetahui. Jika mereka
berpaling, maka katakanlah:
'Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa
kaum 'Ad dan kaum Tsamud." (QS. Fushilat: 1-13)
Rasulullah
saw telah menjawab tawaran 'Utbah di mana beliau memilih untuk menghadapi
tawaran dan iming-iming tersebut dengan membaca sebahagian dari surah Fhusilat
yang merupakan salah satu surah Al-Qur'an yang diturunkan oleh Allah SWT melalui
malaikat Jibril. 'Utbah bangkit dari tempatnya ketika Rasulullah saw sampai
pada firman-Nya:
"Jika
mereka berpaling, maka katakanlah: 'Aku telah memperingatkan kamu dengan petir,
seperti petir yang menimpa kaum "Ad dan kaum Tsamud. " (QS. Fushilat:
13)
'Utbah berdiri
dalam keadaan takut
dan segera menuju
kaum Quraisy. Bayang-bayang azab
dunia terngiang di telinganya. Dan ketika ia sampai ke orang Quraisy, ia
mengusulkan agar orang-orang Quraisy membiarkan apa saja yang dilakukan
Muhammad. Gagallah perundingan dengan seorang Muslim yang pertama, yaitu
Rasulullah saw. Gagalnya perundingan tersebut sebagai bentuk pemberitahuan
tentang kembalinya tindak kekerasan dan penyeksaan terhadap
sahabat-sahabat Rasul saw.
Kemudian kaum musyrik
semakin meningkatkan penindasan
terhadap kaum Muslim. Rasulullah saw sangat menderita melihat hal yang
dirasakan para sahabatnya. Ketika kaum Muslim membayar harga yang paling mahal
sebagai konsekuensi dari akidah yang mereka anut dan mereka dengan sabar memikul
penderitaan di jalan Allah SWT, maka Rasulullah saw mengisyaratkan mereka
untuk berhijrah. Beliau
memberikan izin untuk berhijrah bagi orang yang ingin hijrah.
Kemudian Dimulailah
gelombang hijrah. Itu
terjadi pada lima
tahun dari turunnya wahyu setelah
dua tahun diumumkannya dakwah. Maka berhijrahlah ke Habasyah
enam belas orang
Muslim. Mereka keluar
secara rahsia dan
mereka
menuju ke laut. Mereka berlayar meskipun orang- orang yang tinggal di
gurun sebenarnya tidak
ingin berlayar kerana
mereka takut dari
laut dan mereka yakin bahawa
manusia yang berlayar di laut akan menjadi ulat di atas kayu-kayu yang
berenang.
Selanjutnya,
gelombang hijrah yang kedua pun dimulai. Kali ini diikuti oleh delapan puluh
tiga orang laki-laki dan sembilan belas perempuan. Kemudian orang-orang Quraisy
berusaha untuk mengirim
beberapa orang dan
tetap berusaha menyeksa dan
menyakiti orang-orang yang
berhijrah. Mereka mengutus ke
Najasyi, Raja Habasyah,
orang-orang yang dapat mempengaruhinya untuk
menentang orang-orang yang
berhijrah. Mereka menuduh kaum
Muslim meninggalkan agama nenek moyang mereka di Mekah dan mereka
juga tidak menganut
agama Najasyi, yaitu
agama Kristen. Kemudian orang-orang
Quraisy tidak lupa
mengirim hadiah kepada
Najasyi sebagai bentuk suapan kepadanya. Tampaknya Najasyi seorang yang
berakal lalu ia mengutus
seseorang kepada kaum
muhajirin dan bertanya
kepada mereka tentang agama
baru yang mereka anut.
Kemudian kaum muhajirin menceritakan kepadanya tentang
Islam.
Najasyi
bertanya tentang Isa lalu mereka menjawab: "Ia adalah hamba Allah SWT dan
rasul-Nya dan roh-Nya
serta kalimat-Nya yang
diletakkan kepada Maryam, wanita
yang perawan yang suci." Kemudian Najasyi mengambil satu kayu kecil
dari bumi dan
mengatakan: "Penjelasan tentang
Isa yang kalian katakan tidak lebih dari kayu kecil
ini. Pergilah kalian dan kalian akan aman." Najasyi mengembalikan
hadiah kaum Quraisy
dan mengatakan: "Allah
tidak mengambil suap dariku sehingga aku tidak mungkin mengambilnya dari
kalian."
Demikianlah kaum
muhajirin tinggal di
negeri yang damai,
yaitu Habasyah negeri yang
dipimpin oleh seorang laki-laki yang diberi kematangan berfikir di mana ia
cenderung mengimani karakter al-Masih sebagai seorang manusia. Dan salah satu
keajaiban kekuasaan Ilahi adalah bahawa masyarakat Islam yang berhijrah tersebut
tidak mengalami kelemahan
dalam akidahnya, namun mereka justru merasakan kekuatan.
Allah
SWT memperkuat dakwah Islam dengan masuknya dua lelaki besar dalam Islam, yaitu
Hamzah, paman Nabi
dan Umar bin
Khatab. Kedua orang
itu mempunyai keperibadian yang tangguh di Mekah di mana masing-masing
dari mereka terkenal di
tengah-tengah kaumnya. Allah
SWT berkehendak untuk memberi Islam dua orang lelaki yang
tangguh di Mekah dan Allah SWT telah meletakkan rahmat yang terpancar dalam
hati mereka. Hamzah masuk Islam kerana
dorongan emosi, fanatisme,
dan rahmat terhadap
orang-orang yang tidak memberikan
pembelaan kepada Muhammad saw.
Salah
seorang perempuan berkata kepada Hamzah: "Seandainya engkau melihat apa
yang diperoleh oleh anak dari saudaramu, Muhammad dari Abil Hakam bin
Hisyam (Abu Jahal). Sungguh Abu Jahal
telah mencelanya dan menyakitinya,
sedangkan Muhammad
hanya terdiam dan
tidak mengatakan apa-apa." Mendengar pengaduan itu, darah
mendidih berkobar dalam urat-urat Hamzah. Dengan kemarahan
yang sangat, Hamzah
mencari-cari Abu Jahal
lalu ia melihatnya sedang
duduk-duduk di tengah-tengah kaumnya.
Hamzah mengangkat tangannya lalu
memukulkannya ke kepala
Abu Jahal sambil berteriak: "Apakah engkau akan
mengejek Muhammad, padahal aku berada di atas agamanya."
Demikianlah
permulaan keislaman Hamzah. Hamzah adalah seorang yang mulia di mana
perasaannya berkobar ketika ia melihat anak saudaranya diseksa dan dianiayai
dan dia tidak mendapati seorang pun yang membelanya. Beginilah sebab-sebab
pertama dari keislaman Hamzah, namun sebab yang paling dalam dan yang
paling menentukan adalah
rahmat Allah SWT
yang telah dianugerahkan kepadanya,
meskipun Hamzah tidak
mengetahuinya, yaitu rahmat yang
mendorongnya untuk tidak membiarkan seseorang pun menyakiti lelaki yang
berdakwah di jalan Allah SWT hanya kerana ia seorang yang lemah dan tidak
mempunyai penolong. Jadi, Hamzah adalah penolongnya.
Sedangkan
Umar bin Khatab terkenal dengan ketangguhan sikap dan kekerasan perilaku.
Seringkali kaum Muslim mendapat seksaan darinya ketika ia masih menganut jahiliah.
Dan salah seorang
yang mendapatkan seksaan
darinya adalah Amir bin
Rabi'ah dan isterinya.
Amir berserta isterinya
menetapkan untuk berhijrah ke Habasyah. Umar bin Khatab menemuinya lalu
ia mendapati isteri Amir dan tidak menemukan suaminya. Umar melihat wanita itu
sedang bersiap-siap untuk berhijrah lalu Umar berkata (saat itu sumber rahmat
telah memancar pada dirinya): "Apakah engkau akan pergi wahai Ummu
Abdillah?"
Dengan
nada jengkel, wanita itu berkata: "Benar, demi Allah kami akan keluar dan
menuju tanah Allah SWT. Engkau telah menyeksa kami dan telah memaksa kami untuk
berhijrah. Kami akan pergi sehingga Allah SWT akan memberikan kelapangan kepada
kami." Umar berkata:
"Mudah-mudahan Allah SWT menemanimu."
Wanita
itu melihat tanda-tanda kelembutan dan kesedihan pada wajah Umar. Dan ketika
suaminya kembali, ia menceritakan kepadanya bahawa ia sangat berharap kepada
keislaman Umar. Lalu suaminya menjawab: "Ia tidak mungkin masuk Islam
sampai keldai Umar masuk Islam." Ia mengatakan demikian kerana ia melihat
betapa bengisnya dan
kejamnya Umar. Namun
perasaan lembut wanita itu lebih
kuat daripada pandangan fikiran lelaki itu dan keputusannya yang terlalu cepat
kepada Umar.
Belum lama
mereka berhijrah sehingga
Umar masuk Islam.
Orang-orang muhajirin mengeluarkan penutup sumur rahmat dalam dirinya.
Dan barangkali Umar merasa kebingungan lalu ia menetapkan untuk membunuh Rasul
saw. Dengan menghunuskan pedangnya, ia pergi menuju Rasul saw. Kemudian ia
bertemu dengan orang-orang yang memergokinya dalam keadaan kebingungan,
lalu mereka bertanya
kepadanya, hendak ke
mana ia akan
pergi? Umar menjawab: "Aku
hendak ke Muhammad
aku akan membunuhnya sehingga orang-orang Arab
merasa tenteram." Dengan
nada mengejek, seseorang berkata: "Tidakkah engkau
memulai dari keluargamu
sebelum engkau membunuh Muhammad." Dengan
nada jengkel, Umar
berkata: "Apa yang terjadi pada keluargaku?" Lelaki
itu menjawab: "Saudara perempuanmu dan suaminya telah masuk Islam,
sedangkan engkau tidak mengetahuinya." Umar segera mencari
saudara perempuannya dan
suaminya di mana
saat itu keduanya sedang membaca
Al-Qur'an.
Ketika melihat
Umar, mereka menyembunyikan Al-Qur'an.
Umar bertanya:
"Sepertinya aku
mendengar suara bisikan
dari luar." Tetapi
saudara perempuannya
mengatakan: "Tidak." Kemudian
suaminya ikut campur
dan Umar pun tampak
marah kepadanya. Wanita
itu bangkit untuk
membela suaminya lalu Umar
memukulnya sehingga darah
segar mengucur darinya. Darah itu justru membangkitkan
sumber rahmat dari diri Umar. Akhirnya, Umar mengambil air
wuduk agar mereka
mengizinkan untuk membaca
Al-Qur'an. Umar pun membacanya.
Belum lama Umar
membacanya sehingga ia
pergi menemui Rasul saw.
Tanpa
ragu, Umar memilih untuk masuk Islam. Dan pedang yang dibawanya itu menjadi
pedang yang paling kuat yang dengannya ia mempertahankan agama Muhammad saw.
Kemudian ia mengetuk pintu untuk menemui Rasul saw di mana saat itu beliau
bersama sahabatnya. Dari celah-celah pintu, sahabat Nabi melihat Umar bin
Khatab sedang menghunuskan pedang. Kemudian sahabat itu kembali kepada Nabi
dengan membawa berita yang sangat mengejutkan ini. Ia menduga bahawa Umar
datang dengan maksud jahat.
Rasulullah
saw bangkit dan memerintahkan para sahabatnya agar membiarkan Umar. Rasulullah
saw membukakan pintu Kemudian ia menyambut Umar bin Khatab dan
bertanya kepadanya apa
yang diinginkannya. Umar
menjawab bahawa ia datang untuk mengucapkan dan bersaksi bahawa tiada
Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.
Orang-orang Quraisy
mulai merasa bahaya
akan mereka temui
setelah keislaman Umar dan Hamzah. Para tokoh-tokoh Mekah dan
orang-orang yang dihormati telah masuk
Islam. Sebelum Umar
masuk Islam, kaum
Muslim bertawaf di Ka'bah secara rahsia dan dengan malu-malu, namun
ketika Umar masuk Islam ia
menampakkan keislamannya dan
ia menantang orang
yang mencegahnya untuk bertawaf, bahkan banyak orang-orang memberikan
jalan padanya saat tawaf. Mekah mengetahui bahawa ia menghadapi suatu dakwah
yang akan dapat mengubah jazirah Arab.
Rasa ketakutan
mulai menghantui para
pemuka Quraisy dan
mereka menetapkan metode baru
untuk menghadapi kaum
Muslim. Mereka yang sebelumnya menggunakan
metode penghinaan dan
pengejekan kini mulai mencuba untuk memblokade kaum Muslim
secara ekonomi dan kemanusiaan. Kaum
musyrik mengadakan perkumpulan
dan pertemuan untuk
memboikot kaum Muslim. Mereka
mengadakan pertemuan itu
di Ka'bah, sebagai penghormatan kepadanya. Orang-orang
musyrik menghormati Ka'bah meskipun mereka memenuhinya dengan berbagai macam patung
yang mereka sembah dalam rangka mendekatkan
mereka kepada Allah.
Pasal kesepakatan itu menetapkan, hendaklah penduduk Mekah
tidak menjual barang apapun kepada kaum
Muslim dan hendaklah
mereka tidak menikah
dengan kaum Muslim. Dengan ketetapan yang kejam tersebut,
mereka ingin menghancurkan kaum Muslim dan membunuh perekonomian mereka.
Rasulullah saw dan orang-orang yang beriman kepadanya terpaksa berlindung di
dusun Bani Hasyim. Mereka dilindungi
oleh keturunan Bani
Muthalib, baik mereka
orang-orang kafir mahupun
orang-orang beriman kecuali musuh Allah SWT, Abu Jahal di mana ia bersama
orang-orang Quraisy menentang kaumnya.
Kemudian
Dimulailah blokade ekonomi terhadap kaum Muslim di mana tidak ada makanan dan
minuman yang datang kepada mereka, sehingga penderitaan yang sulit kini dialami
oleh sahabat-sahabat Nabi. Ketika kafilah perdagangan datang ke Mekah
dan salah seorang dari
sahabat Nabi menemui
mereka di pasar untuk membeli
makanan untuk keluarganya, maka Abu Lahab berdiri dan berkata kepada para
penjual, wahai para
pedagang, mahalkanlah dagangan
kalian terhadap sahabat- sahabat Muhammad, sehingga mereka tidak mampu
membelinya dan aku menjamin kerugian yang kalian alami, bahkan aku akan membeli
apa saja yang ingin mereka beli dari kalian.
Mendengar hal
tersebut, para pedagang
pun menjual barang
dagangannya dengan harga yang tidak wajar, sehingga seorang Muslim
kembali ke rumah keluarganya tanpa membawa
sedikit pun makanan.
Kemudian pedagang itu pergi ke Abu Lahab dan meminta kepadanya
agar membeli barang yang ingin dibeli orang Muslim. Demikianlah peperangan
tersebut terus terjadi sehingga kaum Muslim merasakan penderitaan yang sangat
luar biasa di mana mereka dalam
keadaan kelaparan dan
kekurangan pakaian yang
layak. Peperangan ekonomi ini
terjadi selama tiga
tahun penuh. Saking
menderitanya para sahabat sampai-sampai
Sa'ad bin Abi
Waqas pernah keluar
pada suatu hari untuk memenuhi hajatnya, lalu ia
mendengar suara gemerencing di bawah air kencing. Tiba-tiba
ia menemukan sepotong
kulit unta yang
kering lalu ia mengambilnya dan membasuhnya. Kemudian ia
membakarnya dan mencucinya dengan air sampai bersih lalu ia menjadikannya
makanan selama tiga hari.
Selama tiga tahun
tersebut wahyu tetap
turun kepada Rasul
saw dan seakan-akan ia melupakan
bencana yang keras ini. Allah SWT ingin mendidik para pengikut agama-Nya agar
mereka mampu memikul segala penderitaan.
Meskipun kaum
Muslim mendapatkan berbagai
ujian selama tiga
tahun tersebut, tetapi aktiviti dakwah Islam tidak pernah padam dan
tidak pernah surut. Kaum Muslim bertemu orang-orang selain mereka pada musim
haji lalu mereka berbicara kepada orang-orang tersebut tentang keberadaan Allah
SWT dan mereka meminta kepada para penghujung itu untuk mencari rahmat Allah
SWT dan ampunan-Nya. Keteguhan kaum Muslim dan keberanian mereka telah
memikat banyak orang
sehingga mereka masuk
Islam. Bahkan orang-orang musyrik mulai bertanya kepada
diri mereka dan mempertanyakan kebenaran apa tindakan mereka. Lalu kecemburuan
kepada kebenaran mulai menyerang hati.
Kemudian
Selesailah peperangan ekonomi terhadap kaum Muslim di mana kaum musyrik melihat
itu tidak berdampak terlalu besar bagi kaum Muslim. Meskipun kaum Muslim
menerima penderitaan dan kerugian namun jumlah mereka tetap bertambah dan
keimanan mereka semakin
kuat serta kepercayaan
kepada Allah SWT pun semakin meningkat. Lalu datanglah tahun kesedihan
kepada Nabi. Belum lama
Rasulullah saw merasakan
dan menghirup udara
segar setelah tiga tahun masa blokade dan beliau ingin memulai kehidupan
barunya dan dakwahnya, sehingga beliau dikejutkan dengan kematian isteri
tercintanya Ummul Mukminin Khadijah dan kematian bapa saudaranya yang tercinta
Abu Thalib.
Abu Thalib
adalah seorang yang
besar yang memiliki
kewibawaan di tengah-tengah kaum
Quraisy, sehingga usaha kaum Quraisy untuk menyakiti Nabi menjadi
terbatas ketika mereka
berhadapan dengan "tembok perlindungan" Abu
Thalib kepada kemenakannya. Sedangkan
Khadijah merupakan tempat perlindungan dan kedamaian bagi Nabi. Ia
adalah hati yang sangat penyayang yang
banyak menghibur Nabi
saat beliau berdakwah. Khadijah adalah sebaik-baik teman
dan sebaik-baik isteri. Begitu juga, bagi Khadijah Rasulullah
saw adalah sebaik-baik
teman, sebaik-baik suami, sebaik-baik pembantu, dan sebaik-baik
sahabat.
Rasulullah saw
sangat sedih ketika
kehilangan dua orang
yang sangat berpengaruh dalam
kehidupannya itu, bahkan
para sejarawan menamakan tahun tersebut
dengan tahun kesedihan.
Sebaliknya, orang- orang
musyrik justru bergembira dengan
kesedihan Rasul saw
itu. Mereka menganggap bahawa Rasul saw tidak lagi
memiliki seorang tua yang mampu melindunginya dan tidak
lagi memiliki seorang
isteri yang dapat
meringankan beban penderitaannya.
Setelah kematian
dua orang tersebut,
penindasan dan penganiayaan
kaum Quraisy kepada Nabi
semakin meningkat dan
orang-orang musyrik memilih waktu
yang tepat untuk
menyembelih binatang di
Mekah lalu mereka membawa usus-usus atau jeroan dari
unta dan mereka melemparkannya dan meletakkannya di
atas punggung Nabi
saat beliau sujud.
Kemudian berita memilukan itu
sampai kepada puteri tercintanya, Fatimah az-Zahrah, sehingga ia segera datang
dan berusaha membela ayahnya dan membersihkan kotoran yang ada di pundak
ayahnya itu. Demikianlah kemuliaan Siti Fatimah az-Zahra yang senantiasa
melindungi ayahnya.
Betapa
sedihnya Nabi saw ketika beliau melihat bahawa keadaan beliau sampai pada batas
di mana anak perempuan beliau pun turut membelanya. Namun beliau tetap bersabar
dalam berdakwah di jalan Allah SWT. Pada suatu hari beliau berfikir untuk pergi
ke Tha'if di mana di sana dihuni oleh kaum Tha'if. Barangkali beliau berkata
dalam dirinya: jika di sini aku mendapati hati-hati yang telah
membeku dan telah
berhubungan mesra dengan
kebatilan lalu mengapa aku tidak
pergi ke Tsaqif. Barangkali Allah SWT akan membukakan pintu dakwah di sana.
Mungkin di sana masih terdapat hati yang akan terbuka guna menerima kebenaran.
Saat itu
kaum musyrik memperlakukan
blokade umum atas
dakwah yang dipimpin oleh
Rasulullah saw sehingga
tekanan kepada beliau
semakin meningkat sampai pada
batas di mana
pergerakan dakwah tidak
dapat bergerak satu langkah pun. Keadaan demikian ini sangat
menggelisahkan Nabi. Beliau ingin untuk
melepaskan belenggu yang
mengikatnya. Lalu beliau memutuskan untuk pergi ke Tha'if.
Jarak antara Mekah dan Tha'if lebih dari tujuh
puluh kilo meter.
Nabi menempuh perjalanan
itu dengan jalan
kaki, pergi dan pulang.
Kita tidak mengetahui pemikiran-pemikiran apa yang terlintas dalam benak Rasulullah saw
saat beliau pergi dan menemui kabilah yang kafir kepada Allah SWT ini.
Yang kita ketahui
adalah bahawa beliau
pergi ke sana
dengan membawa rahmat dunia dan akhirat. Tetapi mereka justru membalas
sikap baik Rasulullah saw
itu dengan tindakan
Jahiliah. Mereka bersikap
buruk kepada beliau dan
mendustakannya. Rasulullah saw
tinggal di sana
selama sepuluh hari. Beliau mundar-mandir dari satu rumah ke rumah yang
lain dan dari pasar ke pasar yang lain dan
dari satu jalan
ke jalan yang lain.
Tak seorang pun
yang mendengar kedatangan beliau di sana; tak seorang pun yang mahu
mendengar dakwah beliau dan tak seorang pun yang mahu beriman kepada ajakannya.
Bahkan masyarakat di situ semakin menjadi-jadi dalam menyerang Rasulullah saw
dan mengejeknya.
Pada
hari yang terakhir yang mana beliau telah menetapkan untuk kembali ke Mekah.
Rasulullah saw berdiri di Tha'if dan mengharap kepada masyarakat di sana agar
merahsiakan kunjungannya kepada mereka sehingga pencelaan yang beliau terima
di Mekah terhadap
agama yang dibawanya
tidak semakin menjadi-jadi.
Tetapi penduduk Tha'if menolak permohonan yang terakhir ini. Mereka tidak cukup
melakukan hal itu tetapi mereka melakukan perbuatan terburuk yang dilakukan
manusia terhadap sesama manusia. Mereka menahan keluarga orang-orang yang bodoh
dan orang-orang biasa untuk membentuk dua barisan dan memerintahkan mereka
untuk melempari Rasulullah saw dengan batu
dan mengejeknya. Nabi
keluar dari Tha'if
dan beliau mendapatkan lemparan bertubi-tubi dari
keluarga Tha'if bahkan beliau merasakan kepedihan saat kakinya terkena lemparan
batu itu sehingga darah suci mengucur dari kaki beliau.
Kemudian
Rasulullah saw diusir sehingga beliau sampai di suatu kebun yang dimiliki oleh
dua orang dari orang-orang kaya Tha'if. Di sana beliau duduk di bawah naungan
pohon anggur. Dua orang pemilik kebun itu merasa kasihan melihat keadaan
orang yang terusir
dan terluka itu.
Mereka membawa kepadanya setangkai
anggur dengan seorang
pembantu. Pembantu mereka adalah seorang Nasrani yang bernama
Adas. Si pembantu meletakkan setangkai anggur itu depan Rasul saw lalu beliau
menghulurkan tangannya kepadanya sambil
berkata:
"Bismillahirahmanirrahim (Dengan
nama Allah yang
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Adas berkata kepada Nabi, perkataan
ini tidak begitu dikenal oleh penduduk negeri ini. Nabi berkata:
"Anda
dari daerah mana?" Adas menjawab: "Aku adalah seorang Nasrani dari
Nainawa." Nabi berkata: "Apakah engkau dari desa lelaki soleh Yunus
bin Mata?" "Bagaimana engkau tahu tentang Yunus?, sambung lelaki itu.
Nabi berkata: "Itu adalah saudaraku. Ia adalah seorang Nabi aku pun
seorang Nabi."
Mendengar
jawapan Rasul saw, Adas segera merobohkan tubuhnya di depan kedua kaki
Rasul saw lalu ia
menciuminya sambil menangis.
Akhirnya, pembantu Nasrani itu
masuk Islam sehingga
ia menambah barisan
kaum Muslim. Ia adalah seorang yang menjadi Muslim ketika Rasulullah saw
berhijrah ke Tha'if. Inilah harga yang harus dibayar Rasulullah saw selama dua
minggu saat beliau berada
di Tha'if, dan
kemudian beliau terkena
cubaan dengan mengucurnya darah
dari kaki beliau akibat lemparan batu penghuni Tha'if.
Kemudian Rasulullah
saw kembali ke
Mekah beliau kembali
dalam keadaan ditolak oleh
penduduk Tha'if dan kini beliau kembali menerima penolakan itu di Mekah.
Meskipun demikian, beliau
merasakan kesedihan yang
mendalam melihat sikap kaumnya.
Namun ketika kebencian
semakin deras mengalir kepada beliau, hati beliau justru
semakin bersemangat dan semakin dipenuhi dengan
rahmat kemudian datanglah
kepada Nabi masa
di mana tampak
di dalamnya Islam asing,
dan tampak di
dalamnya Nabi seorang
diri, tanpa penolong.
Pada
saat demikian ini ketika manusia mulai meninggalkan Rasulullah saw lalu langit
turut campur dan terjadilah peristiwa besar dan mukjizat terbesar pada diri
Nabi, yaitu Isra' dan Mi'raj. Ia adalah mukjizat yang tidak berhubungan
dengan dakwah Islam;
ia tidak datang
untuk memperkuat dakwah
ini atau menetapkannya tetapi ia
datang semata- mata untuk memperkuat keteguhan Nabi dan
sebagai penghormatan kepadanya.
Seakan-akan Allah SWT
ingin berkata kepada Nabi,
jika saja penduduk
bumi tidak memujimu,
maka penduduk langit mengenal kedudukanmu dan memberikan pujian yang
layak kepadamu dan jika manusia menolak dakwahmu dan menolak keberadaanmu, maka
sesungguhnya Allah SWT memilihmu dan memuliakanmu.
Untuk
melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, munculnya mukjizat Isra' dan Mi'raj
dalam sejarah para
nabi sebagai mukjizat
satu-satunya yang tiada tandingannya dibandingkan
dengan kisah nabi
yang lain. Kita
mengetahui bahawa di deretan para nabi ada nabi-nabi yang dinamakan oleh
Allah SWT sebagai para kekasih-Nya
dan sebagai para
pendamping-Nya, seperti Nabi Ibrahim. Kita juga melihat bahawa di
antara para nabi ada seseorang yang diajak bicara oleh Allah SWT tanpa
perantara, seperti Nabi Musa. Kita juga melihat di antara para nabi ada yang
didukung oleh Allah SWT dengan Ruhul kudus, seperti Nabi Isa. Tetapi untuk
pertama kalinya kita berada di hadapan seorang
nabi yang diajak
dan dipanggil oleh
Allah SWT untuk
menuju ke sisi-Nya.
Beliau naik
bersama Jibril dengan
jasadnya dan rohaninya
sehingga Jibril berdiri di
suatu tempat dan
Nabi maju sendirian.
Itu adalah tingkat
dari tingkat kehormatan di mana pena terasa keluh untuk mengungkapkannya
dan sejarawan tidak dapat menulis apa yang terjadi saat itu. Kita telah melihat
dalam kisah para
nabi seorang nabi
yang meminta kepada
Tuhannya agar memperlihatkan kepadanya
bagaimana Dia menghidupkan
orang-orang yang mati. Allah SWT
bertanya kepadanya, apakah ia belum beriman akan hal itu? Ibrahim menjawab:
bahawa ia beriman tetapi ia ingin menenangkan hatinya.
Kita
juga melihat dalam kisah para nabi seorang nabi yang cintanya kepada Allah SWT
memancar dalam kalbunya
sehingga ia meminta:
"Ya Tuhanku, nampakkanlah
(diri Engkau) kepadaku
agar aku dapat
melihat kepada
Engkau".
(QS. al-A'raf: 143)
Namun
Allah SWT menjawab kepada Musa tentang kemustahilan melihat Allah SWT atas
manusia. Nabi Musa memahami bahawa makhluk manapun tidak akan mampu menahan
beban penampakan dari Zat sang Pencipta.
Adapun Muhammad
bin Abdillah ia
tidak bertanya kepada
Tuhannya dan meminta kepadanya
untuk diberi mukjizat atau kejadian yang luar biasa; ia tidak meminta
kepada Tuhannya agar
dapat melihat Zat-Nya
dan ia tidak berusaha mencari
ketenangan dalam hatinya.
Cintanya kepada Allah
SWT termasuk bentuk cinta yang sulit untuk difahami atau diselami
kedalamannya oleh para tokoh pencinta dan cintanya tersebut bukan termasuk
bentuk yang menimbulkan berbagai pertanyaan.
Cinta beliau melampaui
tingkat permintaan menuju ke
tingkat penyerahan dan kepuasan atau ridha. Segala sesuatu yang menggelisahkan
Nabi adalah ridha Allah SWT.
Rasulullah saw
berkata saat beliau
dalam keadaan ditolak
dan diusir dan terluka
akibat perbuatan kaum Tha'if: "Jika
Engkau tidak murka
kepadaku, maka aku tidak peduli dengan mereka."
Lihatlah tingkat
cinta yang tinggi
itu: bagaimana tingkat
tersebut menyebabkan beliau merasa rendah diri sehingga beliau berkata,
"jika Engkau tidak murka kepadaku ..." Seakan-akan beliau tidak
menginginkan selain ridha Allah SWT dan yang beliau khuatirkan adalah kemarahan
Allah SWT.
Sungguh
adab yang diterapkan Rasulullah saw kepada Tuhannya adalah adab yang paling
layak dan paling
tinggi yang sesuai
dengan kedudukan beliau sebagai orang Muslim yang paling
sempurna.
Demikianlah mukjizat
Isra' dan Mi'raj.
Mukjizat yang tujuannya
adalah menghormati
keperibadian Rasulullah saw;
mukjizat yang membangkitkan peranan akal dan hati secara
bersama. Para nabi tanpa terkecuali didukung oleh berbagai macam mukjizat yang
terjadi di muka bumi bahkan para nabi yang diangkat ke langit seperti Nabi
Idris dan Nabi Isa, maka pengangkatan mereka sebagai bentuk menyelamatkan
mereka dari usaha pembunuhan atau penyaliban. Mukjizat mereka saat mereka
diangkat ke langit adalah bentuk akhir dari aktiviti mereka di muka bumi.
Ini adalah
kali pertama ketika
kita mendapati suatu
mukjizat yang tempat utamanya di
langit; suatu mukjizat yang terwujud bersama seorang Nabi yang diangkat ke
langit dengan jasadnya dan rohaninya saat beliau masih hidup. Di sana Allah
SWT memperlihatkan kepadanya
tanda- tanda kekuasaan-Nya. Kemudian beliau kembali ke
bumi di mana beliau akan mendapatkan berbagai macam tantangan
dan cubaan yang
biasa diterima oleh
penduduk bumi. Muhammad bin
Abdillah adalah manusia yang pertama melewati planet bumi dan beliau
menembus bulan dan
matahari dan bintang-bintang. Kita menyaksikan di
zaman kita manusia
pertama atau astronaut
pertama yang mampu menembus ruang angkasa. Ruang angkasa
itu baru dapat
ditembusi oleh manusia setelah empat belas abad dari turunnya risalah
Muhammad saw, namun sejak empat belas abad yang lalu Nabi Islam telah dapat
menembus ruang angkasa itu,
bahkan beliau mencapai
Sidratul Muntaha dan
puncak al-Muntaha.
Beliau
sampai pada batas yang di situlah alam makhluk diakhiri dan beliau
menembus alam ghaib.
Bukankah syurga bahagian
dari alam ghaib?
Beliau sampai di syurga. Allah SWT menamakannya dengan Jannatul Ma'wah.
Beliau sampai pada batas
terputusnya ilmu manusia
dan tiada yang
mengetahui hakikat ilmu tersebut
kecuali Allah SWT.
Mukjizat Isra' bukanlah
mukjizat Mi'raj, meskipun kedua-duanya terjadi di satu malam. Peristiwa
Isra' dan Mi'raj dikutip oleh dua surah
yang berbeza dalam Al-
Qur'an al-Karim. Allah
SWT berfirman tentang mukjizat Isra':
"Maha
Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkali sekelilingnya agar Kami
perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya
Dia adalah Maha
Mendengar lagi Maha
Mengetahui." (QS. al-Isra': 1)
Sedangkan
berkaitan dengan mukjizat Mi'raj, Allah SWT berfirman:
"Dan
sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada
waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul
Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal.
(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu
yang meliputinya. Penglihatannya
(Muhammad) tidak berpaling
dari yang dilihatnya
itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia
telah melihat sebahagian
tanda-tanda (kekuasaan)
Tuhannya yang paling besar." (QS. an-Najm: 13-18)
Pada
malam Isra' dan Mi'raj, Nabi Muhammad berkeliling di sekitar Ka'bah dan berdoa
kepada Allah SWT. Beliau dalam keadaan pucat wajahnya dan kedua air
matanya mengucur; beliau
tidak bertawaf bersama
seseorang pun; beliau tawaf sendirian lalu orang-orang kafir
dan orang-orang musyrik memandang beliau dengan pandangan kebencian saat beliau
bertawaf dan berdoa. Allah SWT melihat hamba-Nya
yang khusyuk itu
lalu Allah SWT
menurunkan perintah-Nya
kepada Ruhul Amin
yaitu malaikat Jibril
agar menemani hamba-Nya dari
Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha Kemudian membawanya naik ke langit agar
dia dapat melihat tanda-tanda kebesaran Tuhannya.
Di suatu
rumah yang mulia
dan sederhana dari
rumah-rumah yang ada di
Mekah, Nabi saw sedang tidur dan datanglah waktu pertengahan malam. Jibril
turun dan memasuki rumah sang Rasul saw. Jibril as berdiri di sisi kepala sang
Nabi dan ia melihat kepadanya dengan pandangan cinta. Pandangan Jibril itu
membangunkan Rasul saw
kemudian beliau membuka
kedua matanya dan bangkit dari tempat tidurnya.
Jibril
berkata kepada Nabi saw, salam kepadamu wahai Nabi yang mulia. Allah SWT ingin
agar engkau melihat
sebahagian tanda-tanda kebesaran-
Nya di alam. Kemudian Jibril
berjalan bersama Nabi saw. Mereka keluar dari rumah dan beliau
menyaksikan Buraq yaitu
makhluk yang menyerupai
burung dan mempunyai sayap
seperti burung garuda;
makhluk yang terbuat
dari kilat. kerana itu, ia
dinamakan dengan Buraq. Kilat adalah listrik dan listrik adalah cahaya. Cahaya
adalah makhluk yang tercepat yang kita kenal di bumi. Kilauan cahaya pada satu
detik saja mencapai 186
ribu mil. Kita
tidak akan terlibat
terlalu jauh tentang kenderaan luar angkasa yang digunakan
dalam perjalanan itu; kita tidak akan bertanya
bagaimana Nabi saw
menembus alam ruang
angkasa tanpa ada latihan sebelumnya dan berapa lama waktu
yang beliau gunakan untuk pulang pergi; kami juga tidak akan bertanya tentang
kecepatan Buraq; kami tidak hairan dengan usaha penembusan luar angkasa ini;
kita tidak akan bertanya tentang semua itu kerana
kita
mempunyai satu jawapan dari semuanya: Allah SWT berkehendak agar hal itu
terjadi dan untuk itu Allah SWT mengatakan kun jadilah, maka jadilah.
Para
ulama berselisih pendapat tentang apakah Isra' dan Mi'raj terjadi dengan
roh saja
atau dengan rohani
dan jasad sekaligus.
Ahli hakikat mengatakan bahawa itu terjadi dengan roh dan
jasad. Tentu perselisihan itu berakibat pada perselisihan akal
dan terjerumus dalam
perangkap kaifa (bagaimana) dan bertanya tentang kekuasaan Allah SWT dan
usaha untuk menundukkan masalah ini terhadap sebab-sebab yang biasa atau
hukum-hukum kita yang alami atau logik kemanusiaan. Allah Maha Suci dan Maha
Tinggi dari semua itu. Apakah seseorang
akan bertanya, bagaimana
Rasulullah saw naik
berserta roh dan fiziknya ke puncak segala puncak di
langit kemudian beliau kembali sebelum tempat
tidurnya dingin? Mukjizat
apa yang terjadi
di sini yang
melebihi mukjizat berubahnya air mani menjadi manusia dan berubahnya
benih menjadi pohon atau mukjizat air yang menghidupkan tanah, atau ia mampu
memuaskan kehausan si dahaga atau mukjizat cinta yang mengikat dua hati yang
belum pernah mengenal?
Sementara
itu, Buraq menundukkan badannya kepada Nabi saw kemudian Nabi saw
menungganginya bersama Jibril dan Buraq pergi bagaikan anak panah dari
cahaya di atas
gunung Mekah dan
pasir-pasir menuju ke
utara. Jibril mengisyaratkan agar
menuju arah gunung Saina' lalu Buraq itu berhenti. Jibril berkata di tempat
yang diberkati ini, Allah SWT berdialog dengan Musa as. Kemudian Buraq kembali
pergi ke Baitul Maqdis, Nabi saw turun dari pesawat ini yang berjalan lebih
cepat dari cahaya dan jutaan kali lebih cepat darinya dan ia tidak berubah dari
cahaya.
Nabi
berjalan bersama Jibril dan memasuki Baitul Maqdis. Beliau memasuki masjid dan
beliau mendapati semua nabi sedang menunggunya di sana. Allah SWT membangkitkan
gambar para nabi-Nya dari kematian dan mengumpulkan mereka di
Masjid Aqsha. Para
malaikat memberinya suatu
bejana yang di dalamnya
terdapat susu dan
bejana yang lain
yang di dalamnya
terdapat khamer. Lalu beliau memilih susu dan meminumnya. Dikatakan pada
beliau, sesungguhnya engkau telah memilih fitrah dan umatmu akan memilih
fitrah.
Para
nabi mengitari Rasul saw dan datanglah waktu solat. Para nabi bertanya di
antara sesama mereka, siapa di antara mereka yang menjadi imam solat,
apakah itu Adam,
Nuh, Ibrahim, Musa
atau Isa? Jibril
berkata kepada Muhammad saw,
sesungguhnya Allah SWT
memerintahkanmu untuk solat bersama para nabi. Rasulullah saw
berdiri dan solat bersama para nabi. Mereka semua adalah orang-orang Muslim dan
beliau adalah orang-orang Muslim yang pertama.
Secara logik bahawa
beliau layak menjadi
imam dari para
nabi sebagaimana kitabnya dijadikan kitab yang terbaik daripada
kitab-kitab yang mendahuluinya.
Beliau membacakan Al-Qur'an
kepada mereka dan
beliau menangis saat membacanya. Kekhusyukan beliau saat membacanya
membuat para nabi pun menangis. Dan ketika para nabi sujud di belakang imam
mereka, pohon-pohon dan bintang-bintang pun turut bersujud.
Selesailah
waktu solat dan para nabi membubarkan diri. Setiap nabi kembali ke langit yang
mereka tinggal di dalamnya. Nabi keluar dari masjid bersama Jibril dan mereka
kembali menunggang Buraq
seperti panah dari
cahaya. Buraq semakin meninggi
dan ia melewati langit pertama lalu beliau menyaksikan Nabi Adam. Kemudian ada
panggilan dari Allah SWT: "Hendaklah hamba-Ku semakin meninggi dan
menjauh." Kemudian hamba Allah SWT Muhammad bin Abdillah semakin terbang
menjauh ia melampaui langit demi langit. Beliau melampaui tempat materi dan
mulai menjangkau tempat rohani dan melewatinya. Beliau bersiap berdiri di
haribaan Ilahi; beliau semakin tinggi dan jauh di tingkat dan di puncak rohani
dalam kecepatan yang tidak kurang dari kecepatan kilat.
Beliau melampaui
kedudukan Nabi Adam
di langit pertama
dan melampaui kedudukan Nabi
Yahya dan Nabi
Isa di langit
kedua. Lalu Tuhan
pemilik kemuliaan memanggil, "hendaklah hamba-Ku
lebih tinggi lagi."
Kemudian hamba Allah SWT dan Nabi-Nya yang mulia mencapai tingkat yang
lebih tinggi lagi. Beliau melampaui langit yang ketiga, keempat, kelima,
keenam, dan ke tujuh. Beliau melampaui alam materi semuanya dan melampaui alam
rohani. Akhirnya, beliau sampai ke Sidratul Muntaha. Beliau sampai di tempat
yang suci yang Allah SWT menamakannya dengan sebutan Sidratul Muntaha dan di
sana Nabi melihat dan menyaksikan Jannatul Ma'wa. Beliau menyaksikan yang kita
tidak mampu mengetahuinya dan
memahaminya bahkan
membayangkannya:
"(Muhammad
melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
Penglihatannya (Muhammad) tidak
berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula)
melampauinya." (QS. an-Najm: 16-17)
Sungguh terjadilah
pada tempat itu
apa yang terjadi
dengannya. Dengan kebesaran yang
misteri ini, Allah SWT memberitahu kita bahawa terjadilah hal penting di sana
meskipun hakikat hal tersebut tersembunyi dari kita. Sesuatu yang Allah SWT
sembunyikan dari kita tersebut disaksikan oleh Rasul saw. Itu adalah mukjizat
yang khusus baginya;
itu adalah tingkat
cinta yang tidak tersingkap tabirnya kerana
ketinggiannya yang tidak mampu ditangkap oleh pengetahuan manusia biasa.
Kemudian
Tuhan pemilik syurga dan neraka memanggil, "hendaklah hamba-Ku lebih
tinggi lagi." Hamba Allah SWT Muhammad bin Abdillah menaik ke tempat
yang tinggi. Kali
ini beliau melihat
Jibril yang berada
di belakangnya lalu beliau mendapatinya dalam keadaan
bertasbih kepada Allah SWT. Jibril tidak berada
dalam wujud manusia
seperti yang Nabi
saksikan ketika berada
di dunia. Jibril as kembali ke dalam wujud malaikatnya. Nabi melihat
Jibril dan ia merupakan tanda kebesaran Allah SWT yang Allah SWT janjikan untuk
di perlihatkan kepadanya:
Penglihatannya (Muhammad)
tidak berpaling dari
yang dilihatnya itu
dan tidak (pula) melampauinya." (QS. an-Najm: 17)
Pemandangan itu
terjadi dengan hati
dan mata serta
panca indera yang dikenal dan yang tidak dikenal.
Pemandangan itu benar-benar jelas. Di sana bukan mimpi, bukan khayalan, dan
bukan gambaran. Rasul saw melihat semua itu dengan jasadnya dan rohaninya:
"Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang
dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya." (QS. an-Najm: 17)
Kemudian
Rasulullah saw menuju ke tempat yang tinggi dan lebih tinggi lagi. Beliau semakin
naik ke tingkat
yang makin tinggi
sampai beliau berdiri
di hadapan Tuhan Pencipta langit dan bumi dan Penebar kasih sayang di
dunia dan di akhirat. Orang Muslim yang paling sempurna itu bersujud di hadapan
Tuhan Sang Pencipta sambil berkata: "Sungguh penghormatan dan keberkatan
serta selawat yang
baik tertuju hanya
kepada Allah SWT."
Allah SWT membalasnya: "Salam
kepadamu wahai Nabi
dan rahmat Allah
SWT serta berkat-Nya juga
tercurah kepadamu." Para
malaikat pun ketika
mendengar ucapan itu bertasbih
dan mengatakan: "Salam
kepada kita dan
kepada hamba-hamba Allah SWT yang soleh."
Ungkapan-ungkapan tersebut
merupakan permulaan tahiyat
(penghormatan) yang
diucapkan orang-orang Muslim
saat mereka melaksanakan
solat pada setiap hari. Solat
telah diwajibkan atas kaum Muslim pada kesempatan yang besar ini. Hal popular
di kalangan umumnya kaum Muslim adalah, bahawa Allah SWT mewajibkan atas Nabi
mula-mula lima puluh solat sehari. Kemudian Nabi turun dari
langit lalu beliau
menemui Nabi Musa.
Selanjutnya Nabi Musa bertanya kepadanya tentang jumlah solat
yang diwajibkan Allah SWT kepada umatnya. Nabi menceritakan bahawa Allah SWT
telah menentukan lima puluh kali
solat. Nabi Musa berkata sungguh
umatmu tidak akan
kuat untuk melakukan solat
itu, maka kembalilah
kepada Tuhanmu dan
mohonlah kepadanya agar Dia
meringankan bagi umatmu.
Lalu Nabi kembali
kepada Tuhan-Nya sehingga Allah SWT meringankan solat hingga sepuluh kali.
Setelah itu, Nabi kembali
bertemu dengan Nabi
Musa. Lagi-lagi Nabi
Musa memperingatkannya. Kemudian Nabi kembali lagi kepada Allah SWT sehingga
sampai
diturunkan solat dari lima puluh kali menjadi lima kali sehari. Namun solat
yang lima kali itu pahalanya sama dengan solat yang lima puluh kali.
Menurut
hemat kami, kisah tersebut tidak memiliki sandaran dalam kitab-kitab ulama yang
benar-benar teliti. Kami
kira, kisah itu
tersebut merupakan rekayasa orang-orang
Yahudi di mana
mereka masuk Islam
dan mereka memenuhi kitab-kitab
dengan dongeng-dongeng khurafat
dan mereka menisbatkannya kepada
Rasul. Prasangka tersebut
didukung oleh pemilihan Musa sebagai seorang Nabi yang
mengusulkan kepada Rasul saw agar meminta keringanan atas umatnya sehingga
terkesan Nabi Musa menjadi seseorang yang lebih mengetahui sesuatu
yang tidak diketahui oleh
Nabi Muhammad. Kami sendiri cenderung
untuk menolak kisah
tersebut dengan keyakinan
bahawa pertemuan Nabi dengan
Allah SWT menimbulkan
rasa kebesaran dan kewibawaan yang luar biasa sehingga ketika Nabi telah pergi, maka
sangat berat baginya untuk kembali lagi.
Nabi
menyaksikan dan melihat hal-hal yang tidak mampu diungkap oleh lisan dan tidak
mampu ditulis dengan pena. Beliau berada di suatu keadaan yang tidak dapat
difahami oleh manusia biasa. Al-Qur'an al- Karim sengaja tidak menyebutkan apa
saja yang di lihat oleh Nabi kerana itu merupakan rahsia antara Nabi
dan Tuhannya dan
mukjizat yang khusus
yang diperuntukkan baginya
sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Jadi Al-Qur'an sengaja tidak menyebutkan
itu semua untuk menegaskan bahawa beliau melihat tanda dari tanda-tanda
kebesaran Tuhannya.
Kami tidak
mengetahui apa yang
di lihat oleh
Nabi. Hal yang
dapat kami bayangkan adalah,
bahawa Nabi bersujud
dengan khusyuk di
hadapan Tuhannya dan beliau menangis kerana gembira. Kesedihan hatinya
telah hilang selamanya. Setelah Nabi melihat rahsia dan setelah penghormatan
yang besar ini, beliau kembali menemani Buraq dan pergi bersama Jibril untuk
kembali ke bumi. Beliau kembali dan mendapati tempat tidurnya masih dingin.
Bagaimana beliau pergi dan
kembali sementara tempat
tidurnya belum dingin?
Berapa lama waktu yang diperlukannya saat melakukan perjalanan tersebut?
Hanya Allah SWT semata
yang mengetahui. Yang
kita ketahui adalah,
bahawa Rasulullah saw kembali ke tempat tidurnya setelah Isra' dan
Mi'raj dan hatinya dipenuhi dengan kegembiraan serta dadanya dipenuhi dengan
ketenangan dan kepuasan serta kefanaan dalam cinta kepada Allah SWT.
Kemudian datanglah
waktu pagi. Nabi
menceritakan perjalanan dan pengalaman tersebut
kepada sahabat-sahabatnya dan
orang-orang Musyrik sehingga berimanlah
orang-orang yang beriman
padanya dan mendustakan kepadanya orang-orang
yang mendustakannya. Namun
beliau tidak peduli dengan
semua itu. Nabi
terus melangsungkan perjuangannya
dengan penuh kesabaran.
Akhirnya,
datanglah suatu masa di mana Nabi saw mengetahui bahawa dakwah Islam di Mekah
telah mengalami penekanan yang luar biasa sehingga keadaan sangat tidak
mendukung bagi kaum Muslim. Rasulullah saw bergerak dengan dakwahnya. Lalu
Allah SWT mewahyukan
kepadanya agar ia berhijrah.
Kemudian
mulalah Nabi berhijrah di jalan Allah SWT setelah tiga belas tahun beliau di
Mekah. Islam ingin membangun negaranya dan ingin menghilangkan pengepungan dan
serangan kaum musyrik.
Mula-mula terjadilah perubahan sedikit dalam keadaan kaum Muslim.
Rasulullah saw
keluar dalam musim
haji untuk menunjukkan
dirinya pada kabilah-kabilah Arab
sebagaimana yang beliau
lakukan pada setiap
musim. Beliau berada di tempat yang bernama 'Aqabah, lalu beliau bertemu
dengan jemaah dari Khazraj. Rasulullah saw berkata kepada mereka, "siapa
kalian?" Mereka menjawab: "Kami
berasal dari kelompok
Khazraj." Beliau berkata. "apakah kalian termasuk
pembantu kaum Yahudi?" Mereka menjawab, "benar." Beliau berkata,
"maukah kalian duduk bersama aku kerana aku ingin sedikit berbicara dengan
kalian." Mereka menjawab: "Boleh." Kemudian mereka duduk bersama
Nabi lalu beliau mengajak mereka untuk mengikuti agama Allah SWT.
Rasulullah
saw sedikit menceritakan Islam kepada mereka dan membacakan Al-Qur'an. Enam
orang mendengarkan apa yang disampaikan oleh Nabi saw. Setelah beliau
selesai dari pembicaraannya, mereka
membenarkannya dan beriman
kepadanya. Kemudian mereka menceritakan kepada Nabi saw bahawa mereka meninggalkan
kaumnya kerana kaum mereka terlibat peperangan dan kebencian. Mudah-
mudahan Allah SWT
mengumpulkan mereka dengan kedatangan Nabi saw yang mulia ini.
Mereka memberitahu Nabi saw bahawa mereka akan menceritakan kepada kaumnya apa
yang mereka dengar dari Nabi saw dan akan mengajak mereka untuk memenuhi dakwah
Nabi.
Keenam
lelaki itu kembali ke kota Madinah yang berubah namanya menjadi Madinah
Munawarah yang sebelumnya ia bernama Yatsrib di zaman jahiliah. Allah SWT
berkehendak untuk meneranginya
dengan Islam. Para
lelaki itu kembali ke
Madinah dan mereka
membawa Islam di
hati mereka sehingga banyak orang yang masuk Islam.
Kemudian
datanglah musim haji dan keluarlah dari Madinah dua belas orang lelaki dari
orang-orang yang beriman yang di antara mereka terdapat enam orang yang
Rasulullah saw telah berdakwah kepada mereka pada musim yang dulu dan Nabi saw
menemui mereka di 'Aqabah. Kemudian Nabi melakukan solat pada
mereka agar mereka
mempertahankan keimanan dan
membela dakwah kebenaran serta kemanusiaan.
Kaum
lelaki itu kembali ke Madinah disertai salah seorang yang terpercaya dari tokoh
Islam yaitu Mus'ab bin Umair di mana ia menjadi utusan Rasulullah saw di
Madinah dan ia mengajari manusia tentang agama mereka dan membacakan kepada
mereka Al-Qur'an dan menyerukan kebenaran kepada manusia sehingga
tersebarlah Islam di
Madinah. Penduduk Madinah
mulai bertanya-tanya, mengapa
saudara- saudara kita kaum Muslim Mekah ditindas? Mengapa Rasul saw keluar
untuk berdakwah dan
menebarkan rahmat tetapi
beliau justru mendapatkan angin
kebencian? Sampai kapan kita akan membiarkan Rasulullah saw teraniaya dan
terusir di Mekah?
Demikianlah, pergilah
tujuh puluh orang
ke Mekah, tujuh
puluh orang dari penduduk
Madinah Munawarah. Mereka
pergi ke 'Aqabah
dalam keadaan sendirian dan
berkelompok-kelompok. Islam telah
menghasilkan buah pertamanya
dalam hati mereka sehingga hati mereka dipenuhi cinta kepada Allah SWT dan
Rasul-Nya serta kaum Muslim. Penderitaan yang dialami kaum Muslim mempengaruhi
jiwa mereka dan mencegah mereka dari mendapatkan kenikmatan tidur
dan nikmatnya memakan
dan nikmatnya kehidupan. Orang-orang yang
baik itu datang
dan berniat kepada
Rasul saw untuk membela
beliau menolongnya dan
melindunginya serta siap
untuk mati di jalannya. Mereka datang setelah hati
mereka diliputi oleh Islam dan mereka memberikan segala sesuatu untuk dakwah
yang baru; mereka datang sebagai pencinta-pencinta kebenaran.
Kitab-kitab
hadis yang suci meriwayatkan apa yang terjadi pada baiat 'Aqabah al-Kubra.
Dalam kitab tersebut dikatakan bahawa Abbas Ibnu Abdul Muthalib datang bersama
Nabi dan saat itu ia masih berada dalam agama kaumnya. Ia ingin menyelesaikan
urusan anak pamannya. Ketika ia duduk dan berbicara, ia mengatakan suatu
pernyataan yang mengisyaratkan bahawa Muhammad saw mendapatkan kemuliaan
dari kaumnya dan
kekuatan di negerinya
tetapi ia enggan dan
memilih untuk bergabung
bersama kalian wahai
penduduk Madinah. Jika kalian memenuhi janjinya dan melindunginya, maka
ambillah ia, namun jika kalian khawatir jika suatu saat nanti akan
mengkhianatinya, maka mulai dari sekarang biarkanlah ia di negerinya.
Kata-kata
Abbas tersebut berasal dari fanatisme kesukuan dan ikatan darah keluarga namun
penduduk Madinah tidak begitu peduli dengan kalimat Abbas itu kerana ia bukan termasuk dari
agama mereka dan ia tidak mengetahui tingkat cinta kepada
Rasul saw yang mereka capai. Abbas bin Abdul Muthalib menunggu jawapan dari
penduduk Madinah. Lalu mereka berkata kepadanya, "Kami telah
mendengar apa yang
engkau katakan, maka
berbicaralah ya Rasulullah,
ambillah untuk dirimu dan Tuhanmu apa saja yang engkau sukai."
Kita
ingin mengamati jawapan sekelompok orang yang mukmin dari penduduk Madinah ini
sehingga Rasulullah saw berbicara. Jawapan yang dicari oleh Abbas bin Abu
Muthalib tersembunyi dalam
pernyataan Nabi. Demikianlah
setelah
Rasulullah saw
mengucapkan kalimatnya, maka
tidak keluar penyataan
apa pun. Cukup hanya Nabi yang berbicara dan mereka hanya menaatinya.
Mereka meminta kepada beliau agar mengambil pada dirinya dan Tuhannya apa saja
yang beliau sukai; mereka merasa tidak memiliki apa-apa dan tidak memiliki
keputusan. Nabi berbicara lalu beliau membaca Al-Qur'an dan mengajak ke
jalan Allah SWT.
Kemudian beliau berbicara
tentang Islam dan
beliau membaiat mereka agar
membantu beliau sehingga
mereka pun membaiat kepadanya. Demikianlah terjadinya
baiat 'Aqabah al-Kubra.
Orang-orang
yang terpilih oleh Allah SWT itu mengetahui bahawa sebentar lagi mereka akan
diajak untuk mengangkat
senjata: mereka diajak
untuk mendapatkan kematian di
bawah naungan pedang.
Mereka menenangkan Rasulullah saw
bahawa beliau akan mendapati orang-orang yang sudah terlatih dalam peperangan
kerana mereka mewarisi dari datuk-datuk mereka.
Salah
seorang dari tujuh puluh orang itu menyebutkan masalah yang penting. Abul Haitsyam
berkata: "sesungguhnya di
antara orang-orang Madinah
dan Yahudi terdapat suatu
tali ikatan, maka
mereka boleh jadi
akan memutuskannya lalu, apakah sikap yang harus kita ambil jika mereka
lakukan hal itu dan memusuhi orang-orang Yahudi," kemudian Allah SWT
menolong Nabi dan memenangkan atas
kaumnya, lalu ia
kembali kepada mereka
dan meninggalkan mereka di bawah kasih sayang orang-orang Yahudi.
Perhatikanlah bahawa
pertanyaan tersebut berkisar
pada kecintaan kepada Nabi dan keinginan agar Nabi tetap
bersama mereka selama perjalanan hari dan bulan. Masalah yang dituntut oleh
Abbas bin Abdul Muthalib secara jelas adalah masalah perlindungan mereka kepada
Nabi, di mana hal tersebut tidak lagi
diperdebatkan oleh orang-orang
yang terpilih dari
penduduk Madinah. Namun masalah
yang mereka inginkan adalah masalah perlindungan Nabi dan keberadaan Nabi
bersama mereka di Madinah.
Nabi tersenyum
dan beliau mengatakan
kalimat-kalimat yang justru menekankan bahawa ikatan akidah lebih
kuat daripada ikatan darah. Beliau berkata: "Tetapi darah adalah darah dan
kehancuran adalah kehancuran. Aku dari
kalian dan kalian
dariku aku akan
memerangi orang-orang yang
kalian perangi dan aku
akan berdamai dengan
orang- orang yang kalian berdamai
dengan mereka."
Akhirnya,
penduduk Madinah pergi dan kembali ke negeri mereka. Kemudian berita tentang
baiat ini sampai ke telinga orang-orang Mekah dan para tokoh musyrik, lalu
mereka justru menambah penekanan kepada Rasulullah saw dan kaum Muslim.
Para preman
Mekah berkumpul di Darul Nadwah.
Mereka menetapkan akan mengambil sesuatu keputusan penting
berkaitan dengan Nabi. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar beliau
dibelenggu dengan besi lalu dibuang di penjara
sehingga beliau mati
kelaparan. Sebahagian lagi
mengusulkan agar beliau dibuang dari
Mekah dan diusir.
Abu Jahal mengusulkan agar mereka mengambil dari
setiap keluarga dari
keluarga- keluarga Quraisy
seorang pemuda yang kuat, kemudian setiap dari mereka diberi pedang yang
terhunus dan hendaklah mereka memukulkan pedang itu ke tubuh Nabi. Jika mereka
berhasil membunuhnya nescaya
semua kabilah bertanggungjawab terhadap darah sang Nabi dan Bani Hasyim
tidak akan mampu menuntut dan memerangi orang Arab semuanya dan mereka akan menerima
diat sebagai tebusan dari pembunuhan itu. Demikianlah persekongkolan itu
digelar dan mereka sepakat untuk
melaksanakan hal itu.
Namun Al-Qur'an al-Karim
menyingkap persekongkolan yang dilakukan orang-orang kafir itu dalam
firman-Nya:
"Dan
(ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkap
dan memenjarakanmu atau
membunuhmu, atau
mengusirmu. Mereka memikirkan
tipu daya itu.
Dan Allah sebaik-baih Pembalas tipu daya." (QS.
al-Anfal: 30)
Allah
SWT mewahyukan kepada Nabi-Nya agar ia berhijrah. Lalu Nabi mulai
menyiapkan sarana-sarana untuk
hijrahnya. Beliau menyembunyikan urusan tersebut bahkan beliau tidak
memberitahu sahabat yang akan menemaninya. Rasulullah saw
menyewa seorang penunjuk
jalan yang pengalaman
yang mengenal padang gurun
seperti mengenal garis-garis
tangannya. Yang menghairankan
penunjuk jalan itu adalah seorang musyrik. Demikianlah Nabi meminta bantuan
kepada orang yang ahli tanpa memperhatikan keyakinannya.
Kemudian datanglah
malam pelaksanaan kejahatan
itu. Rasulullah saw memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk
tidur di tempat tidumya di malam tersebut. Datanglah pertengahan malam dan
Rasulullah saw pun keluar dari rumahnya.
Para pemuda Mekah
mengepung rumah. Mereka
menghunuskan pedangnya. Nabi menggenggam
tanah lalu beliau
melemparkannya ke arah kaum sehingga mereka pun merasa kantuk
sehingga Nabi saw dapat menembus kepungan mereka. Beliau keluar dari Mekah dan berhijrah. Dengan langkah yang diberkati
ini, kaum Muslim menanggali tahun-tahun mereka.
Tahun
dalam Islam adalah tahun Hijrah, sedangkan kaum Masihi menanggali tahun mereka
dengan kelahiran Isa
dan ini disebut
dengan tahun Masihi. Adapun tahun-tahun Islam, maka ia
ditanggali pertama kalinya saat Rasulullah saw keluar berhijrah di jalan Allah
SWT. Hijrah Rasul bukan hanya lari dari penindasan tetapi
lari dari kebekuan;
hijrah tersebut bukan
keluar dari keamanan tetapi
keluar dari bahaya.
Islam di Mekah
hanya dapat mempertahankan dirinya
tetapi ketika ia
keluar ke Madinah
ia mempertahankan dirinya ketika menyerang. Dan selama beberapa tahun
masa
yang
dihabiskan di Mekah,
tak seorang dari kaum Muslim yang mengangkat senjata. Ketika mereka
keluar ke Madinah, mereka mulai membawa senjata dan mulai
menyalakan obor peperangan.
Islam mulai membawa
senjata sebagaimana luka akan
sembuh dengan syarat
jika diubati. Nabi
saw mengetahui bahawa Islam tidak akan
menghabiskan usianya hanya
untuk melawan serangan pada dirinya; Islam ingin tersebar; Islam ingin
mendirikan negaranya yang pertama
yaitu suatu negara
yang belum pernah
dikenal di muka bumi negara
seperti itu. Negara yang mencapai keadilan, kasih sayang,
dan
idealisme yang begitu luar biasa di mana hukum Allah SWT ditegakkan dan
kehormatan manusia benar-benar dijaga.
Inilah kedalaman
hijrah yang mengesankan
yaitu pendirian negara
Islam setelah sebelumnya membangun
individu masyarakat Muslim.
Setelah Rasul saw membangun
masyarakat Muslim dan
membangun masjid, maka
beliau membangun suatu negara Islam. Selanjutnya, sayap-sayap dakwah
mengepak. Kami kira pembaca tidak akan bertanya, apa gunanya pembangunan masjid
ditingkatkan sementara Islam
masih mengalami penindasan
di muka bumi. Kami kira pembaca lebih pintar daripada
orang yang tidak mengetahui bahawa masjid yang dibangun Rasulullah saw di
Madinah bukan tempat peristirahatan dari keletihan, tetapi masjid merupakan
pusat dari kepemimpinan pergerakan Islam dan kepemimpinan menuju peperangan
Islam.
Manusia
mandi di masjid dengan cahaya Allah SWT setelah itu mereka mandi di kancah
peperangan dengan darah mereka. Pertanyaannya adalah, siapakah di antara mereka
yang akan terbunuh di jalan Allah SWT sebelum saudaranya? Demikianlah
perlumbaan dalam perbaikan terjadi di antara mereka. Dengan cara demikianlah
Islam tersebar.
Sementara
itu, Nabi berlindung di suatu gua; di gunung yang bernama Tsur. Beliau masuk ke
gua itu bersama
sahabatnya Abu Bakar.
Dan orang- orang musyrik pergi menyusul beliau dengan
membawa pedang mereka. Lalu mereka sampai ke gunung itu. Abu Bakar berkata
kepada Rasul saw dengan keadaan gelisah, "seandainya salah seorang mereka
melihat di bawah kakinya nescaya mereka akan melihat kita."
Dengan
tenang, Rasulullah saw menepis kegelisahan Abu Bakar dan berkata: "Wahai
Abu Bakar apa yang kamu kira dengan dua orang yang ada di tempat yang sepi
sementara Allah SWT menjadi ketiga di antara mereka?" Sebelum Rasulullah
saw mengakhiri kalimatnya, terdapat laba- laba yang selesai dari menenun
rumahnya di atas pintu gua. Kitab-kitab sejarah mengatakan bahawa kaum musyrik
mengikuti jejak sang Nabi sehingga mereka sampai di gunung Tsur lalu di situlah
mereka mengalami kebingungan. Mereka mendaki gunung dan mendaki
gua itu. Lalu
mereka melihat di
atas pintu gua
itu terdapat tenunan laba-laba.
Mereka mengatakan, seandainya
seseorang masuk di dalamnya
nescaya tidak akan
terdapat tenunan laba-laba
di atas pintunya. Beliau tinggal di gua itu selama
tiga malam.
Demikianlah keimanan
tenunan laba-laba yang
lembut dimenangkan atas ketajaman pedang
kaum musyrik sehingga
Nabi bersama sahabatnya
pun selamat. Kini, kedua orang itu menuju Madinah. Dan Madinah pun
menyambut mereka. Ketika Rasulullah saw dan sahabatnya memasuki Madinah,
mula-mula masyarakat tidak mengenal siapa di antara mereka yang menjadi Rasul
kerana saking baiknya sikap
Rasul terhadap sahabatnya.
Akhirnya, Nabi menerangi kota Madinah.
Beliau membangun masjid
dan mendirikan negaranya
serta memerangi musuh-musuhnya dan tersebarlah Islam dan Mekah pun
ditaklukkan dan Baitul Haram disucikan.
Beliau
menanamkan dalam akal dan hati suatu cahaya yang tidak akan pernah padam.
Kemudian berlangsunglah sepuluh tahun yang dilewatinya di Madinah di mana
beliau tidak menggunakannya untuk
berleha-leha. Demikian juga selama masa tiga belas tahun yang beliau
lalui di Mekah, beliau pun tidak
mendapatkan istirahat yang cukup. Semua kehidupan beliau hanya untuk Allah SWT
dan hanya untuk Islam. Beban berat yang dipikul oleh punggung beliau yang mulia
lebih berat dari beban yang dipikul oleh gunung. Meskipun beliau seorang diri,
tetapi beliau mampu memikul amanat yang pernah Allah SWT tawarkan kepada
langit dan bumi
serta gunung namun
mereka pun enggan untuk
memikulnya. kerana mereka
menyedari bahawa mereka
tidak akan mampu memikulnya. Lalu
datanglah beliau dan beliau pun mampu memikul amanat itu
dan melaksanakannya secara
sempurna. Yaitu amanat
untuk menyampaikan agama Allah SWT; amanat untuk menyucikan akal manusia
dari polusi khayalisme dan khurafatisme: amanat yang mewarnai kehidupan dengan
hanya sujud kepada Allah SWT.
Kemudian
mengalirlah dalam memori Nabi saw suatu arus dari gambar- gambar hidup:
bagaimana saat beliau memasuki Madinah. Lewatlah di hadapan akal beberapa memori
dan nostalgia: bagaimana
wahyu yang turun
kepadanya dengan membawa risalah di gua Hira, kemudian berubahlah
pandangan dan bertiuplah angin kebencian kepadanya, bahkan angin itu membawa
pasir-pasir tuduhan-tuduhan yang dilemparkan ke wajah suci beliau. Beliau
berdiri sambil tersenyum dan hatinya
dipenuhi dengan kesedihan
di hadapan gelombang gurun dan kesendirian serta badai
kesengsaraan. "Wahai manusia, tiada Tuhan selain Allah SWT. Demikianlah
kalimat yang beliau katakan. Meskipun kalimat itu tampak
sederhana namun ia
mampu membangkitkan dunia.
Dan bergeraklah patung-patung yang begitu banyak yang memenuhi kehidupan
dan mereka membekali dirinya dengan kegelapan dan kebencian yang dialamatkan
kepada sang Nabi.
Para pembesar. para
penguasa, wang, emas,
serta kebencian dan kedengkian
syaitan yang klasik
dan banyaknya orang-orang munafik, semua
ini menjadi musuh
nyata sang Nabi
pada saat beliau mengatakan "tiada Tuhan selain
Allah SWT." Nabi mengingat kembali Waraqah bin Nofel
ketika menceritakan kepadanya
apa yang terjadi
dan apa yang dialami
beliau di gua
Hira. Tidakkah ia
mengatakan kepadanya bahawa
kaumnya
akan mengusirnya?
Hari-hari hijrah
sangat panjang dan
berat. Matahari sangat
dekat dengan kepala dan rasa
panas sangat mencekik tenggorokan dan rasa pusing- pusing pun semakin
meningkat. Setelah hijrah,
Nabi memasuki Madinah.
Beliau disambut oleh kaum
Anshar dengan sambutan
luar biasa. Beliau
datang sendirian lalu mereka menolongnya; beliau datang dalam keadaan
takut lalu mereka mengamankannya; beliau
datang dalam keadaan
lapar lalu mereka memberinya makanan;
beliau datang dalam
keadaan terusir lalu
mereka memberikan perlindungan.
Bangunan Islam
mulai ditancapkan di
Madinah. Beliau mulai
membangun negaranya setelah beliau
membangun sumber daya
manusia Islam yang tangguh. Yang pertama kali dibangunnya
adalah sumber daya Islam, setelah itu beliau baru membangun negara. Tidak ada
nilai yang bererti dari satu sistem yang
hanya berdasarkan prinsip-prinsip besar
yang tidak lebih
dari sekadar tinta di atas
kertas. Penerapan prinsip-prinsip adalah tolok ukur final dari nilai apa pun
yang diperlakukan di dunia. Dan Islam telah berhasil menerapkan pada
masa-masa pertamanya suatu
sistem yang belum
pernah dikenal dalam kehidupan manusia suatu sistem seperti
itu. Yaitu sistem yang menunjukkan keadilan,
persaudaraan, dan kasih
sayang yang mengagumkan.
Hal yang pertama kali dilakukan
Rasulullah saw adalah membangun masjid di mana di situlah unta
yang ditungganginya berhenti.
Masjid itu tampak
sederhana. Tikarnya terdiri dari
pasir-pasir dan batu-batu.
Tiangnya terbuat dari batang-batang kurma. Barangkali ketika
turun hujan, maka
tanahnya
akan menjadi lumpur kerana mendapat siraman air hujan. Mungkin ketika angin
bertiup dengan kencang, maka ia akan mencabut sebahagian dari atapnya.
Di
bangunan yang sederhana ini, Rasulullah saw mendidik generasi Islam yang
tangguh yang dapat menghancurkan orang-orang yang lalim dan para penguasa yang
bejat dan mereka mampu mengembalikan kebenaran ke singgahsananya yang terusir
dan terampas. Mereka mampu menyebarkan Islam di muka bumi. Masjid itu
tampak kecil dan
sederhana sekali tetapi
ia dipenuhi dengan kebesaran; masjid itu tidak menunjukkan
kemewahan sama sekali. Di dalamnya Al-Qur'an
dibaca lalu orang-orang
yang mendengarnya menganggap
bahawa mereka benar dan
mendapatkan perintah harian
untuk menerapkan dan melaksanakan apa- apa yang mereka dengar.
Al-Qur'an dibaca
di masjid bukan
seperti nyanyian yang
orang-orang duduk akan merasa
terpengaruh dengan keindahan nyanyian dan suara pembaca. Dan masjid di dalam
Islam bukanlah tempat satu-satunya untuk ibadah. Menurut kaum Muslim
semua bumi adalah
masjid namun masjid
adalah simbol peradaban yang beriman
kepada Allah SWT dan hari
akhir, sebagaimana ia menyuarakan ilmu, kebebasan dan persaudaraan.
Semua
Nabi berbicara tentang persaudaraan dan mengajak kepadanya dengan ribuan
kata-kata. Sedangkan Rasulullah saw telah mewujudkan persaudaraan itu secara
praktis, yakni ketika karakter masyarakat saat itu mencerminkan Al-Qur'an. Nabi
mulai mempersaudarakan kaum muhajirin dan Anshar di mana sahabat Anshar
Sa'ad bin Rabi', seorang kaya
dari Madinah dipersaudarakan dengan Abdul
Rahman bin 'Auf,
seorang yang berhijrah
dari Mekah. Sa'ad berkata kepada Abdul Rahman:
"Sesungguhnya, tanpa bermaksud sombong, aku memang memiliki
harta yang banyak
daripada kamu. Aku
telah membagi hartaku menjadi dua
bahagian dan sebahagiannya aku peruntukan bagimu. Lalu aku mempunyai dua orang
wanita, maka lihatlah siapa di antara mereka yang mampu memikatmu
sehingga aku menceraikannya lalu
engkau dapat menikahinya."
Abdul Rahman bin 'Auf menjawab: "Mudah-mudahan Allah SWT
memberkatimu, keluargamu, dan
hartamu. Di manakah
pasar yang engkau berdagang di dalamnya?"
Abdul
Rahman bin 'Auf keluar menuju ke pasar untuk bekerja. Ia kembali dan membawa
sesuatu yang dapat dimakannya. Ia menolak dengan lembut sikap baik Sa'ad dan
kedermawanannya. Ia bersandar pada keimanan kepada Allah SWT dan lebih memilih
untuk bekerja dan membanting tulang. Tidak berlalu hari demi hari kecuali ia
tetap bekerja sehingga ia mampu untuk membekali dirinya dan melaksanakan
pernikahan.
Demikianlah masyarakat
Islam terbentuk dan
menampakkan identitinya
berdasarkan cinta, kebebasan,
musyawarah, dan jihad.
Pekerjaan menurut Islam bukan
suatu penderitaan untuk mendapatkan roti atau potongan daging sebagaimana dikatakan
peradaban kita masa
kini, tetapi pekerjaan
dalam Islam melebihi ruang lingkup materi ini dan menuju puncak yang
lebih tinggi:
"Dan katakanlah:
'Bekerjalah kamu, maka
Allah dan Rasul-Nya
serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu. " (QS.
at-Taubah: 105)
Kesedaran bahawa
apa yang kita
kerjakan akan di
lihat oleh Allah
SWT menjadikan pekerjaan itu mendapat cita rasa yang lain. Yaitu suatu
rasa yang melampaui nikmatnya memakan roti dan daging. Setelah bekerja, datanglah
cinta. Cinta dalam Islam bukan hanya perasaan yang menetap dalam hati dan tidak
diwujudkan oleh suatu perbuatan; cinta dalam Islam merupakan langkah harian
yang akan mengubah bentuk kehidupan di sekitar manusia menuju yang lebih tinggi
dan mulia.
Seorang Muslim
mencintai Tuhannya Pencipta
alam semesta dan
mencintai Rasulullah saw dan mencintai
kaum Muslim dan orang-orang yang berdamai dengan orang-orang Muslim,
meskipun keyakinan mereka berbeza dengannya. Bahkan seorang Muslim mencintai makhluk
secara keseluruhan: ia mencintai anak-anak, haiwan, bunga, pasir dan gunung
bahkan benda-benda mati pun mendapat
cinta dari seorang
Muslim. Seorang Muslim
jika dia benar-benar seorang Muslim akan merasakan
cinta yang dialami oleh Nabi Daud terhadap alam
dan lingkungan di
sekitarnya. Ini adalah
perasaan sufi yang
tinggi. Seorang Muslim akan mewarisi cinta yang sebenarnya seperti yang
diwarisi Nabi Isa terhadap lingkungan yang baik yang ada di sekitarnya di mana
ketika Nabi Isa melihat tubuh
anjing yang mati,
maka Nabi Isa
tidak melihat selain keputihan giginya.
Demikianlah
cinta yang tersebar dalam kehidupan kaum Muslim di mana cinta itu pun tertuju
kepada binatang dan benda-benda mati. Cinta demikian ini tidak akan
terwujud dengan suatu
keputusan dan tidak
ditetapkan dengan suatu
undang-undang, tetapi cinta itu datang biasanya akibat dari kepuasaan akal dan
hati dengan adanya
kepemimpinan besar yang
hati cenderung kepadanya dan
akal mengambil darinya.
Dan yang dimaksud
dengan kepemimpinan besar tersebut
adalah keberadaan sang
Nabi. Beliau adalah cermin terbesar dari tingkat cinta
yang tertinggi. Beliau adalah seorang yang paling banyak berbuat demi
Islam dan paling banyak sedikit mengharapkan balasan
darinya. Meskipun beliau seorang pemimpin namun beliau hidup dalam
kesederhanaan. Beliau adalah seorang tentera yang paling sederhana. Tempat
tidurnya bersih tetapi
kasar, dan rumahnya
tidak menampakkan kesibukan yang di dalamnya
memasak berbagai macam
hidangan. Beliau justru menyiapkan hidangan yang sangat
sederhana. Makanan utama beliau adalah roti
kering yang dicampur
dengan minyak. Keinginan
besar beliau adalah tersebarnya dakwah Islam.
Kaum Muslim
menyedari bahawa kesempurnaan
Islam tidak akan
terwujud kecuali ketika cinta Allah SWT dan Rasul- Nya lebih didahulukan
daripada cinta diri sendiri, cinta kepada wanita, cinta kepada anak,
kepentingan, kekuasaan, kehidupan, dan apa saja yang tidak ada hubungannya
dengan Allah SWT dan Rasul-Nya. Demikianlah kaum Muslim sangat mencintai
pemimpin mereka lebih dari
kehidupan peribadi mereka.
Di samping pekerjaan
dan cinta tersebut, didirikanlah pemerintahan Islam
yang berdasarkan kaedah-kaedah kebebasan, musyawarah dan jihad.
Kebebasan
dalam Islam bukan sekadar perhiasan yang dilekatkan kepada tubuh Islam tetapi
ia merupakan tenunan dari sel-sel yang hidup itu. Allah SWT telah
membebaskan kaum Muslim
dari penyembahan selain
dari-Nya. Dengan demikian, runtuhlah
semua belenggu yang
hinggap di atas
akal, hati, dan masyarakat. Seorang Muslim memiliki - dalam Islam
- suatu kebebasan yang diberikan kepadanya agar ia melihat sesuatu
dengan akalnya dan mendebat segala sesuatu dengan akalnya. Dan hendaklah ia
merasa puas dengan sesuatu yang dapat menenteramkan hatinya. Kebebasan dalam
Islam bukan kebebasan mutlak yang menjurus
kepada anarkisme dan
diskriminasi tetapi kebebasan dalam Islam adalah kebebasan yang
bertanggungjawab.
Dalam
ruang lingkup nas-nas yang pasti yang terdapat dalam Al-Qur'an atau sunah tidak
ada kebebasan di hadapan orang Muslim selain kebebasan untuk
berlumba-lumba untuk menerapkan
apa yang mereka
fahami. Selain itu, seorang bebas sampai tidak terbatas, dan
pintu ijtihad tetap terbuka sampai tidak ada batasnya, kerana pintu ijtihad
adalah akal dan menutup pintu ijtihad yakni menutup akal dan itu bererti akan
membawa kematian baginya. Islam tidak menerima orang-orang yang mati akalnya
atau mengalami kemunduran; Islam pada hakikatnya memperlakukan manusia dari
sisi akal dan hati.
"Adalah untukmu,
sedang kamu menginginkan bahawa
yang tidak mempunyai kekuatan
senjatalah yang untukmu,
dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar
dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir." (QS. al-Anfal: 7)
Orang-orang Islam
kerana kekafiran mereka
dan kebutuhan mereka
serta situasi ekonomi yang memburuk, mereka ingin bertemu dengan pasukan
yang tidak bersenjata; mereka
ingin bertemu dengan
kafilah yang kaya,
bukan pasukan yang bersenjata;
mereka membutuhkan harta
untuk menyebarkan dakwah. Namun
Allah SWT menginginkan mereka dengan keadaan seperti itu agar mereka
berhadapan dengan pasukan
kafir dan agar
mereka mampu memutus tali
kekuatan orang-orang kafir sehingga kebenaran akan menang.
Keluarlah
orang-orang Muslim dalam peperangan Badar dengan membayangkan bahawa mereka
akan mendapatkan keuntungan dan kesenangan dengan banyak mengambil ganimah.
Namun Allah SWT menginginkan terjadinya peperangan
yang
berat, di mana itu berakibat pada jatuhnya tokoh-tokoh kaum kafir Mekah
sebagai korban darinya
dan agar Madinah
dapat menahan penderitaan
dan kefakiran yang dialaminya.
Seharusnya pengikut Islam
tidak membayangkan untuk
mengambil keuntungan tetapi ia justru harus memberi kepadanya.
Nabi
mengetahui sebagai pemimpin pasukan ia harus mengingatkan pasukannya bahawa
mereka akan menemui kesulitan dan penderitaan, dan bukan masalah sepele seperti
yang mereka bayangkan.
Nabi bermusyawarah dengan sahabat-sahabat. Beliau
berbincang-bincang dengan Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khattab, dan Miqdad bin
Amr. Lalu mereka semua sepakat untuk terus melakukan peperangan apa pun
hasilnya dan apa pun pengorbanan yang harus dilakukan.
Kemudian Rasulullah
saw berkata: "Wahai
para sahabat, tunjukkanlah
diri kalian." Rasulullah saw mengisyaratkan kepada kaum Anshar.
Rasulullah saw khawatir jika mereka memahami bahawa baiat yang terjadi di
antara mereka yang berisi agar mereka melindungi beliau jika beliau diserang di
Madinah saja, dan memang pasal-pasal dari baiat itu mendukung hal itu. Tidakkah
mereka mengatakan kepada beliau: "Ya Rasulullah, kami tidak akan
bertanggungjawab kepadamu sehingga engkau
sampai di negeri
kami. Jika engkau
sampai di negeri kami, maka kami
akan bertanggungjawab untuk melindungimu."
Majoriti
pasukan terdiri dari orang-orang Anshar, maka Rasulullah saw ingin mengetahui
keputusan majoriti tentera sebelum dimulainya peperangan. Kaum Anshar mengetahui
bahawa Rasul saw
ingin mengetahui pendapat
kaum Anshar. Oleh kerana
itu, Sa'ad bin
'Auf berkata: "Demi
Allah, seakan-akan engkau
menginginkan kami ya Rasulullah." Nabi menjawab, "benar." Kemudian
kaum Anshar menyatakan apa yang mereka rasakan.
Mendengar
pernyataan kaum Anshar itu hilanglah kekhuatiran dan ketakutan Nabi, bahkan
beliau bergembira dan
wajahnya berseri-seri. Rasulullah
saw telah mendidik mereka berdasarkan Islam dan Islam tidak mengenal
pasal-pasal perjanjian namun ia justru tenggelam dalam esensinya dan
kedalamannya yang jauh. Kaum Anshar
meyakinkan Nabi bahawa
mereka benar-benar beriman kepadanya, mencintainya
dan akan mendengarkan
apa saja yang
beliau katakan serta akan benar-benar mentaati beliau.
Sa'ad
bin Mu'ad berkata: "Ya Rasulullah, lakukanlah apa yang engkau inginkan dan
kami akan bersamamu. Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau
membelah lautan lalu
engkau menyelam di
dalamnya nescaya kami akan
menyelam bersamamu dan
tidak ada seseorang
pun di antara kami yang akan
meninggalkanmu." Demikianlah keteguhan kaum Anshar. Kalimat tersebut
menetapkan peperangan paling penting dan paling berbahaya dalam sejarah Islam.
Perasaan
kaum Anshar dan Muhajirin dalam pasukan Rasul saw sangat berbeza dengan
perasaan Nabi Musa ketika mereka mengatakan kepadanya, "pergilah engkau
wahai Musa bersama Tuhanmu dan berperanglah, sesungguhnya kami di sini hanya
duduk-duduk saja." Namun
kaum Muslim menyatakan
bahawa seandainya Rasul saw
memerintahkan mereka untuk
melalui lautan dengan berjalan kaki
di atas ombaknya
nescaya mereka akan
melakukan hal itu walaupun berakibat pada tenggelamnya
mereka dan kematian mereka dan tak seorang pun yang akan menentang perintah
Rasul saw tersebut.
Akhirnya,
kaum Muslim bersiap-siap untuk memasuki kancah peperangan lalu mereka membuat
khemah-khemah yang di
situ ditentukan tempat peristirahatan dan pergerakan tentera
Islam. Tempat itu ditentukan oleh Rasul saw. Allah SWT membiarkan Rasul-Nya
melakukan kesalahan dalam memilih tempat sehingga itu akan dapat menjadi
pelajaran bagi kaum Muslim dalam kaedah umum dari kaedah-kaedah peperangan
yaitu sikap pemimpin pasukan untuk mengambil suatu kebijakan yang penting yang
berdasarkan pengalaman. Kemudian datanglah Habab bin Mundzir kepada Rasulullah
saw dan bertanya kepadanya,
"apakah tempat yang
kita jadikan sebagai
pusat pergerakan tentera kita
merupakan pilihan dari Allah SWT dan Rasul-Nya hingga kita tidak dapat
mendahuluinya dan mengakhirinya yakni kita tidak dapat memberikan pendapat kita
ataukah itu hanya
masalah yang bersifat
teknik yakni itu terserah
pada pendapat kita
dan sesuai kebijakan
saat perang dan ia
merupakan tipu daya semata?"
Rasulullah
saw berkata: "Tetapi itu adalah pendapat peribadi, peperangan, dan tipu
daya." Habab berkata: "Ya Rasulullah ini adalah tempat yang tidak
tepat." Sahabat yang sarat pengalaman ini memilih tempat di mana pasukan
Madinah dapat minum darinya
sedangkan pasukan Mekah
tidak dapat mengambil darinya. Kemudian berpindahlah
pasukan Muslim menuju tempat yang telah ditentukan oleh pengalaman militer.
Sampailah
pasukan Mekah di mana jumlah mereka mendekati seribu tentera dan mereka akan
berhadapan dengan tiga ratus tujuh belas pasukan Muslim. Pasukan Quraisy berada
di tempat yang jauh dari lembah.
Pasukan kafir terdiri
dalam perang Badar dari pemuka-pemuka
Quraisy dan pahlawan-pahlawan
mereka, sedangkan pasukan
Muslim terdiri dari keluarga-keluarga, ipar-ipar dan
keluarga dekat dari pasukan kafir. Allah SWT telah menentukan
agar seorang anak
bertemu dengan ayahnya,
saudara bertemu dengan sesama
saudara dan sesama
ipar bertemu di
medan peperangan. Mereka semua dipisahkan dengan suatu prinsip di mana
mereka ditentukan oleh pedang. Akhirnya, peperangan Badar pun terjadi dan
kaedah utama adalah kaedah persaudaraan sesama Muslim. Dan ketika pasukan
Muslim berpegang teguh di atas dasar Islam, maka pasukan kafir mulai terpecah
belah namun keadaan tersebut mereka sembunyikan.
Lalu 'Utbah
bin Rabi'ah berbicara
di tengah-tengah pasukan
Mekah dan mengajak mereka untuk
menarik kembali dari peperangan. 'Utbah memberikan pernyataan sesuai
dengan tuntutan akal
sehat, "wahai orang-orang
Quraisy demi Allah, jika
kalian harus memerangi
Muhammad, maka kalian
akan menyesal kerana kita berhadapan dengan saudara- saudara kita
sendiri. Boleh jadi kita akan membunuh anak paman kita, atau salah seorang dari
kerabat kita. Mengapa kalian tidak membiarkannya saja?"
Kalimat yang
rasional tersebut cukup
menggoncangkan pasukan Mekah. Sebahagian tentera merasa puas dengan
pernyataan tersebut kerana mereka melihat bahawa tidak ada gunanya peperangan
itu. Namun kebodohan justru memadamkan
kalimat yang rasional
itu. Abu Jahal
menuduh bahawa yang mengucapkan kata-kata adalah orang yang
penakut. Kemudian Abu Jahal lebih memilih pendapatnya untuk menetapkan terus
memerangi kaum Muslim.
Pemimpin
pasukan kafir yaitu Abu Jahal mengetahui bahawa Muhammad tidak pernah berbohong.
Kitab-kitab sejarah menceritakan
bahawa Akhnas bin Syuraif menyendiri dalam perang Badar
bersama Abu Jahal sebelum terjadinya peperangan tersebut dan bertanya
kepadanya, "wahai Abul Hakam, tidakkah engkau melihat bahawa Muhammad
pernah berbohong? Abul Hakam menjawab: "Bagaimana mungkin
ia berbohong atas
Allah, sedangkan kami
telah
menamainya al-Amin
(orang yang dapat
dipercayai)."
Peperangan tersebut bukan sebagai
usaha untuk mendustakan
Rasul saw tetapi
itu hanya semata-mata untuk
menjaga
kepentingan-kepentingan
sesaat dan keadaan ekonomi. Demikianlah
orang-orang kafir mempertahankan nilai
yang paling rendah yang
ada di muka
bumi yang juga
dipertahankan oleh binatang, sementara kaum
Muslim justru mempertahankan nilai
yang paling tinggi
di bumi dan di langit yang ikut serta di dalamnya para malaikat.
Kemudian
datanglah waktu malam menyelimuti dua kubu. Tiga ratus tentera yang mukmin
sudah bersiap-siap dan
mendekati seribu tentera
musyrik. Orang-orang musyrik datang
dengan menunggangi tunggangan
mereka dan tampak mereka memiliki
persenjataan yang lengkap, sedangkan setiap orang
Muslim datang
di atas satu
kenderaan. Pakaian yang
dipakai orang-orang musyrik
tampak masih baru dan pedang-pedang mereka tampak mengilat serta baju besi
yang mereka gunakan
sangat unggul dan
kuat. Alhasil, mereka memiliki persiapan yang sangat
mengagumkan sedangkan pakaian yang dipakai orang-orang Muslim tampak sudah
usang dan pedang-pedang kuno pun mereka gunakan dan baju besi yang mereka
gunakan tampak tidak sempurna.
Nabi melihat
keadaan pasukannya lalu
hati beliau tampak
sedih melihat pasukan tersebut.
Beliau berdoa kepada Tuhannya: "Ya Allah, Sesungguhnya mereka adalah
orang-orang yang lapar, maka kenyangkanlah mereka. Ya Allah, sesungguhnya mereka
adalah orang- orang
yang tanpa alas kaki, maka tolonglah mereka. Ya Allah, Sesungguhnya mereka adalah
orang-orang yang tidak berpakaian, maka berilah mereka pakaian."
Kemudian rasa
kantuk menghinggapi mata
kedua pasukan lalu
mereka beristirahat di tengah-tengah
malam. Jatuhlah hujan
kecil yang membuat tempat itu basah sehingga kelembapan
mengitari kaum Muslim. Hujan tersebut membasuh tanah perjalanan dan
menghilangkan debu- debu kepayahan serta menyucikan hati dan membangkitkan
kepercayaan atas kemenangan dari Allah SWT.
Allah
SWT berfirman:
"(Ingatlah), ketika
Allah menjadikan kamu
mengantuk sebagai suatu penenteram dari-Nya,
dan Allah menurunkan
hujan dari langit
untuk menyucikan kamu dengan
hujan itu dan
menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan
dan untuk menguatkan hatimu
dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)." (QS. al-Anfal: 11)
Datanglah
waktu pagi di Badar lalu kaum Quraisy mulai menyerang, lalu Nabi memerintahkan
pasukan Muslim untuk bertahan. Rasulullah saw bersabda: "Jika musuh
mengepung kalian, maka usirlah mereka dengan panah dan janganlah kalian
menyerang mereka sehingga kalian diperintahkan."
Demikianlah
ketetapan militer yang sangat jitu yang bererti hendaklah kaum Muslim membentengi
mereka di tempat-tempat
mereka agar orang-orang musyrik mendapatkan
kerugian dari serangan
yang mereka lakukan.
Kita mengetahui dari ilmu
militer saat ini
bahawa seorang yang
menyerang memerlukan tiga atau tiga kali lipat dari jumlah yang biasa
dilakukan sehingga serangannya
betul-betul efektif; kita
mengetahui bahawa jumlah
pasukan musyrik tiga kali lipat dibandingkan dengan tentera Muslim. Kaum
musyrik di lihat dari segi jumlah sangat memadai untuk memenangkan peperangan,
dan persenjataan mereka lebih lengkap dari persenjataan kaum Muslim. Jumlah
haiwan yang mereka miliki pun sama dengan jumlah mereka, sedangkan tiap tiga
orang Muslim berperang di atas satu tunggangan.
Keadaan saat
itu sangat menguntungkan kaum
musyrik. Tanda-tanda
kemenangan tampak menyertai
bendera kaum musyrik,
tetapi kemenangan peperangan
bukan kerana kebesaran jumlah pasukan dan persenjataan yang lengkap. Terkadang
peperangan justru dimenangkan oleh unsur spirituil yang tidak kelihatan.
Spirituil tentera dan
keimanannya tentang persoalan
yang dipertahankannya serta keinginannya
untuk mendapatkan dua
kebaikan: kemenangan atau kematian dan hasratnya yang tinggi untuk
meneguk madu syahadah, semua itu dapat mengubah seorang tentera menjadi makhluk
yang tidak terkalahkan. Boleh jadi ia
akan merasakan kematian tetapi jauh dari
kekalahan. Demikianlah keadaan pasukan Muslim.
Sementara
itu debu-debu berterbangan di atas kepala pasukan yang bertempur dan kaum
Muslim mencurahkan tenaga
yang keras dalam
peperangan itu. Ketika dua
pasukan saling bertemu dan bertempur, Nabi saw melihat mereka, lalu Nabi
saw menyaksikan pasukannya
terjepit. Pasukan yang
berjumlah sedikit dengan persenjataan yang tidak lengkap itu kini
ditekan oleh orang kafir. Dalam keadaan
demikian, Nabi saw
meminta pertolongan kepada Tuhannya: 'Ya
Allah, kirimkanlah bantuan
dan pertolongan-Mu. Ya
Allah, wujudkanlah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, jika kelompok ini
dihancurkan, maka Engkau tidak akan
disembah setelahnya di
muka bumi." Renungkanlah, bagaimana kesedihan Nabi saat
terjadi peperangan itu. Oleh kerana itu, kita dapat memahami mengapa Nabi saw
meminta agar pasukannya dimenangkan.
Pemimpin
pasukan tertinggi Muhammad bin Abdillah keluar berperang di jalan Allah SWT dan
saat ini kematian sedang mengitari kaum Muslim, lalu apa yang difikirkan oleh
Nabi saw pada keadaan yang sulit tersebut? Pemikiran Nabi saw melebihi hal yang
sekarang dan menuju pada hal yang akan datang, dan yang menjadi fokus Nabi
adalah penyembahan Allah SWT di muka bumi: "Ya Allah, jika kelompok ini
dihancurkan, maka Engkau tidak akan disembah setelahnya di muka bumi."
Nabi
tidak terlalu mengkhuatirkan kehancuran kaum Muslim kerana Nabi justru
mengkhuatirkan sesuatu yang
lebih besar dari
itu. Yang beliau
khuatirkan adalah
penyembahan kepada Allah
SWT akan berhenti
di muka bumi.
Oleh kerana itu, Nabi meminta tolong kepada Tuhannya dan mengingatkan
kembali kepada Tuhannya dan Allah SWT lebih tahu dari hal itu. Kemudian
turunlah bala tentera malaikat yang dipimpin oleh Jibril.
Allah
SWT berfirman:
"(Ingatlah), ketika
kamu memohon pertolongan
kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu:
'Sesungguhnya Aku akan
mendatangkan bala bantuan kepada
kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.' Dan Allah tidak
menjadikannya (mengirim bantuan itu), melainkan sebagai khabar gembira
dan agar hatimu
menjadi tenteram kerananya.
Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. al-Anfal: 9-10)
Setelah
itu Nabi saw menghampiri sahabat Abu Bakar dan berkata: "Sampaikan
berita gembira wahai
Abu Bakar, sesungguhnya
telah datang kepadamu bantuan dari Allah SWT."
Turunnya
para malaikat merupakan cara untuk meneguhkan kaum Muslim dan berita gembira
kepada mereka. Mukjizat itu bukan terletak pada penyertaan para malaikat dalam
peperangan, namun melalui nas-nas ditegaskan bahawa peranan malaikat
tidak lebih dari
sekadar membawa berita
gembira dan memberikan dukungan
moril serta memenuhi hati dengan ketenangan. Kami kira bahawa Allah SWT ingin
agar para malaikat menyaksikan manusia-manusia malaikat yang mempertahankan
akidah tauhid.
Demikianlah Allah
SWT mewahyukan kepada
malaikat bahawa Dia
bersama mereka. Oleh kerana itu, hendaklah orang-orang yang beriman
merasa tenang dan kebenaran akan tertancap pada hati mereka sedangkan
orang-orang kafir pasti akan merasakan ketakutan.
Allah
SWT berfirman:
"(Ingatlah), ketika
Tuhanmu mewahyukan kepada
para malaikat:
'Sesungguhnya Aku
bersama kamu, maka
teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.' Kelak akan Aku
jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati
orang-orang kafir, maka
penggallah kepala mereka
dan pancunglah tiap-tiap ujung
jari mereka. (Ketentuan) yang
demikian itu adalah kerana sesungguhnya
mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barang siapa
menentang Allah dan
Rasul-Nya, maka sesungguhnya
Allah amat keras seksaan-Nya.
Itulah (hukum dunia
yang ditimpakan atasmu), maka rasakanlah hukuman itu.
Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab neraka." (QS.
al-Anfal: 12-14)
Lalu orang-orang
kafir pun mengalami
kekalahan. Setelah peperangan
itu, terbunuhlah tujuh puluh
kafir dan tujuh
puluh tawanan dari
mereka dan sebahagian pasukan
melarikan diri. Runtuhlah
tokoh-tokoh kebencian dan kelaliman di peperangan tersebut.
Hancurlahlah Abu Jahal, pemimpin pasukan, dan pahlawan-pahlawan Mekah kini
terkapar.
Rasulullah
saw berdiri di depan bangkai-bangkai orang-orang kafir dan berkata:
"Wahai
Utbah bin Rabi'ah, wahai Syaibah bin Rabi'ah, wahai Umayah bin Khalf, wahai Abu
Jahal bin Hisam, apakah kalian menemukan apa yang dijanjikan oleh tuhan
kalian kepada kalian.
Sungguh aku telah
menemukan apa yang dijanjikan Tuhanku." Orang-orang
Muslim berkata: "Ya
Rasulullah, apakah engkau
memanggil kaum yang sudah mati?" Rasulullah berkata: "Kalian tidak
mengetahui apa yang aku katakan kepada mereka, tetapi mereka tidak mampu
menjawab perkataanku." Rasulullah saw tinggal tiga malam di Badar kemudian
beliau kembali ke Madinah. Di depan beliau terdapat tawanan-tawanan perang dan
ganimah.
Kaum Muslim
sangat menanggung beban
berat dengan banyaknya
tawanan perang. Mula-mula Rasulullah saw bermusyawarah dengan sahabat
Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar berkata: "Ya Rasulullah, mereka adalah
keturunan dari saudara-saudara dan keluarga, dan aku melihat lebih baik engkau
mengambil fidyah (tebusan) dari mereka
sehingga apa yang
engkau ambil tersebut merupakan kekuatan
bagi kita terhadap
orang-orang kafir, dan mudah-mudahan Allah SWT memberi
petunjuk kepada mereka sehingga mereka menjadi tulang punggung kita."
Kemudian
Rasulullah saw menoleh kepada Umar bin Khattab sambil berkata, "bagaimana
pendapatmu wahai Ibnul Khattab?" Lelaki itu berkata: "Demi Allah,
aku tidak sependapat
dengan apa yang
dikatakan Abu Bakar
tetapi aku berpendapat, seandainya
aku mampu untuk
bertemu dengan salah
seorang kerabatku, maka aku
akan memukul lehernya,
dan seandainya Ali
mampu bertemu dengan keluarganya,
maka ia pun
akan memukul lehernya
begitu Hamzah sehingga Allah
SWT mengetahui bahawa
tidak ada di
hati kita kelembutan kepada kaum
musyrik."
Pasukan Madinah
dan pasukan Mekah
terdiri dari keluarga-keluarga yang terikat
hubungan kekerabatan, namun
kehendak Allah SWT
menetapkan terjadinya peperangan sesama keluarga: antara anak dan orang
tuanya. Umar menginginkan agar keadaan
demikian terus berlanjut
sehingga orang-orang musyrik
mengetahui bahawa Islam tidak ingin berdamai. Kemudian Selesailah urusan itu
dan terjadi peperangan di jalan Allah SWT dan mengangkat senjata dan berperang
adalah suatu kewajipan yang tiada keraguan di dalamnya. Nabi saw menoleh kepada
kaum Muslim dan mendapati sebahagian besar mereka cenderung kepada pendapat Abu
Bakar. Nabi saw mengikuti pendapat majoriti saat itu. Pendapat majoriti salah
dan hanya Umar yang benar.
Ini
adalah peperangan pertama yang dilalui oleh Islam. Hendaklah kaum Muslim harus
meninggalkan dorongan kemanusiaan mereka, yakni orang- orang kafir harus
dibunuh agar musuh-musuh Allah SWT mengetahui bahawa Islam telah memilih darah.
Allah SWT telah mendukung Umar bin Khattab dalam Al-Qur'an sehingga Nabi
saw dan Abu
Bakar menangis ketika
keduanya menyedari kesalahan
mereka pada hari berikutnya, lalu Umar memergoki mereka dalam keadaan menangis
dan ia bertanya, "apa yang menyebabkan Rasulullah saw dan temannya di gua
menangis?" Kemudian Rasulullah saw membaca Al-Qur'an:
"Tidak patut
bagi seorang Nabi
mempunyai tawanan sebelum
ia dapat melumpuhkan musuhnya
di muka bumi.
Kamu menghendaki harta
benda duniawi sedangkan Allah
menghendaki (pahala) akhirat
(untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari
Allah, nescaya kamu ditimpa seksaan yang besar kerana tebusan yang kamu
ambil." (QS. al-Anfal: 67-68)
Kedua
ayat itu mengatakan bahawa ini bukan saatnya melindungi para tawanan dan
berusaha untuk menebus mereka. Waktu Demikian belum saatnya. Nabi tidak berhak
memiliki tawanan kecuali
jika ia telah
melakukan banyak peperangan dan
banyak berjihad dan telah banyak membunuh dan dakwahnya telah mapan.
Kedua
ayat tersebut menyingkap tujuan di balik penebusan tawanan: "Kamu
menghendaki harta benda
duniawi sedangkan Allah
menghendaki (pahala)akhirat
(untukmu)."
Demikianlah
pemikiran yang mempertimbangkan keadaan-keadaan aktual yang sulit. Itu
adalah pemikiran yang
bersifat taktik sebagaimana
yang kita ungkapkan dalam istilah
moden dan bukan pemikiran yang bersifat strategis. Kemudian para tawanan
tersebut bukan tawanan biasa tetapi menurut istilah moden mereka
adalah penjahat-penjahat perang.
Oleh kerana itu,
nyawa mereka harus ditumpahkan saat mereka dapat ditangkap, meskipun
mereka memiliki kekayaan yang
banyak atau kedudukan
yang tinggi. Islam
tidak mengakui kekayaan atau
kedudukan, yang diakuinya
adalah keimanan, sedangkan
pertimbangan-pertimbangan duniawi lainnya tidak dihiraukan oleh Islam.
Nas Al-Qur'an
memperingatkan orang-orang yang
menang bahawa kesalahan mereka bisa
berakibat pada datangnya
seksaan yang bakal
mereka terima tetapi Allah
SWT mengampuni mereka dan
menurunkan rahmat-Nya: "Kalau sekiranya tidak ada ketetapan
yang telah terdahulu dari Allah, nescaya kamu ditimpa seksaan yang besar kerana
tebusan yang kamu ambil."
Seksaan tersebut
memang lebih dekat
daripada pohon yang
dekat ini, kemudian Allah
SWT mengampuni mereka
dan Allah SWT
mengampuni sahabat-sahabat yang terjun di perang Badar, baik dosa yang
lalu mahupun dosa mereka yang akan datang. Demikianlah Al-Qur'an ingin mendidik
kaum Muslim agar mereka tidak banyak mempertimbangkan urusan manusiawi saat
berperang. Jadi, Islam memulai peperangannya yaitu peperangan yang hanya
ditujukan kepada Allah SWT dan hendaklah peperangan tersebut dihilangkan
dari pertimbangan-pertimbangan yang
sulit sehingga sahabat-sahabat Nabi mengetahui bahawa
kecenderungan kepada kesenangan
duniawi akan berakibat pada
kekalahan mereka.
Dalam peperangan
Uhud jumlah kaum
musyrik tiga ribu
sedangkan jumlah kaum Muslim
tiga ratus pasukan
setelah pemimpin orang-orang
munafik Abdullah bin Saba'
mengundurkan diri pasukan.
Kaum Muslim diletakkan
di gunung dan Rasulullah saw membuat rencana yang jitu untuk memenangkan
pertempuran di mana
beliau membagi pasukan
pemanah di puncak
gunung untuk melindungi punggung kaum Muslim dan melindungi mereka dari
serangan dari arah belakang. Rasulullah saw memberi pengertian kepada pasukan
panah itu agar mereka tetap di tempatnya baik kaum Muslim menang mahupun kalah.
Yakni bahawa pasukan
pemanah tidak boleh
turun dari gunung
dan meski berusaha untuk
melindungi kaum Muslim.
Rasulullah saw berkata
kepada mereka. "lindungilah punggung-punggung kami.
Jika kalian melihat
kami sedang bertempur, maka
kalian tidak usah
turun darinya dan
tidak usah menolong kami, dan
jika kalian melihat kami memperoleh kemenangan dan mengambil ganimah, maka
kalian tidak boleh ikut serta bersama kami."
Setelah
membuat keputusan tersebut, Rasulullah saw kembali ke pasukan yang lain, lalu
beliau membikin suatu rencana untuk menyerang. Dan Dimulailah peperangan
kemudian pasukan Islam mendorong pasukan musyrik laksana angin yang kencang
yang memporak-porandakan ribuan kaum musyrik. Pada tahap pertama pasukan Islam
tampak menguasai medan dan berhasil menyapu kaum musyrik sehingga pasukan Mekah
tampak berputus asa meskipun mereka unggul secara bilangan dan meskipun mereka
memiliki kekuatan persenjataan yang lengkap, pasukan Mekah justru dikejutkan
dengan ketangguhan pasukan Muslim yang dapat memukul mundur mereka hingga
mereka membayangkan bahawa mereka
tidak dapat memenangkan
peperangan atau dapat
bertahan di hadapan pasukan
Muslim.
Debu-debu peperangan
mulai berterbangan yang
menyertai tanda-tanda
kekalahan pasukan Mekah.
Sementara itu, para
pemanah yang diletakkan Rasulullah saw
di suatu tempat
yang strategis berfikir
untuk memperoleh ganimah. Pasukan
Mekah telah kalah
dan mereka telah
melarikan diri dari pasukan Muslim, maka bagaimana
seandainya para pemanah turun dari tempat mereka untuk
mengumpulkan harta rampasan
dan ganimah. Rasulullah
saw telah mengingatkan mereka agar jangan meninggalkan tempat mereka,
apa pun yang terjadi tetapi pasukan pemanah itu justru berkhianat dan menentang
perintah Nabi saw setelah mereka membayangkan bahawa peperangan telah selesai
dan keuntungan akan diperoleh pasukan Madinah yang beriman. Pasukan pemanah
mengira bahawa Allah SWT akan menutupi kesalahan mereka dan akan
melindungi mereka sehingga
mereka berhasil mengambil
harta rampasan dan ganimah. Sungguh keikhlasan telah tercabut dari hati
sebahagian pasukan. Belum lama hal tersebut berlangsung sehingga terjadilah
perubahan yang drastik pada
peperangan. Pemimpin pasukan
berkuda musyrik dalam peperangan Uhud
yaitu Khalid bin
Walid yang kemudian
ia menjadi tokoh Muslim adalah orang yang sangat genius
dalam peperangan. Begitu ia melihat pasukan pemanah lari dari tempat mereka,
maka ia melihat celah yang terbuka di tengah-tengah kaum Muslim, sehingga ia
segera memutarkan kudanya dan disertai pasukan yang mengikutinya. Kemudian ia
menyerang kaum Muslim dari belakang.
Serangan yang dilakukan
Khalid itu sangat
cepat dan sangat mengejutkan. Orang-orang musyrik
mengambil kesempatan emas. Mereka yang tadinya lari, kini mereka menarik diri
dan justru menyerang kembali.
Pasukan Muslim
dikepung dari dua
arah oleh pasukan
berkuda: satu dari belakang dan yang lain dari depan.
Kemudian berjatuhanlah korban- korban dari
pasukan Muhammad bin
Abdillah. Banyak di
antara mereka yang
mati sebagai syahid saat mempertahankan dan melindungi Rasulullah saw,
bahkan sang Nabi pun hidungnya terluka dan giginya pun runtuh dan kepala beliau
yang mulia terluka sehingga beliau mengucurkan darah.
Kemudian tersebarlah
isu bahawa Muhammad
saw telah meninggal.
Ketika mendengar itu, kaum Muslim sangat terpukul dan sangat sedih
sehingga kaum Muslim pun terpecah-pecah. Sebahagian
mereka kembali ke
Mekah dan sekelompok yang lain ke
atas gunung dan mereka tetap menjaga Nabi saw yang mulia. Ketika
mendengar kematian Nabi,
Anas bin Nadhir
berkata kepada kaumnya:
"Bangkitlah kalian dan matilah seperti kematiannya. Apa yang kalian
lakukan setelah kalian hidup sesudahnya."
Pasukan
Muslim tetap bertahan dan melakukan peperangan, lalu tekanan kaum musyrik semakin
berat kepada Nabi
saw dan para
sahabatnya. Kemudian terjadilah kejadian
yang paling sulit
dalam sejarah umat
Islam. Nabi saw berteriak saat
melihat kaum musyrik
menekannya dan berusaha membunuhnya: "Barang
siapa yang dapat
mengusir mereka dariku,
maka baginya syurga."
Mendengar perkataan
itu, kaum Muslim
segera mengitari Nabi
saw dan melindungi beliau
sehingga banyak dari
mereka berguguran sebagai
syahid. Bahkan
sahabat-sahabat Abu Juanah
melindungi Nabi saw
sampai- sampai punggungnya
dipenuhi dengan anak-anak panah. Ia bagaikan baju besi yang dipakai kepada Nabi
saw dan ia tetap kukuh melindungi Nabi saw. Kemudian berubahlah keadaan kerana
keteguhan dan keberanian yang diperlihatkan oleh kaum Muslim. Pasukan Mekah
merasa puas dan mereka memilih untuk menarik diri. Saat itu orang-orang Quraisy
tidak lebih sedikit penderitaannya daripada orang-orang Muslim.
Setelah peperangan
yang dahsyat itu,
kaum musyrik menarik
diri setelah mereka berhasil
membunuh beberapa orang Muslim, bahkan mereka berhasil melukai pemimpin pasukan
yaitu sang Nabi saw. Semua itu terjadi kerana satu kesalahan yaitu
kesalahan terletak pada
penentangan dan pembangkangan para pemanah
terhadap perintah sang
Rasul saw dan
usaha mereka untuk meninggalkan tempat mereka.
Ketika sebahagian
kelompok dari sahabat
kehilangan pengorbanan dan kehilangan sikap
ikhlas dalam hati
mereka, maka kesalahan
tersebut harus dibayar oleh
tentera yang paling berani dan mulia di antara mereka yaitu sang Nabi saw.
Langit tidak ikut campur untuk menyelamatkan pasukan Islam itu. Kesalahan kaum
Muslim itu harus dibayar oleh Rasul saw di mana wajah beliau pun terluka bahkan
keluar darah yang cukup deras dari luka beliau sehingga setiap kali
dituangkan air di
atas luka itu,
maka darah pun
semakin deras mengucur. Darah
itu tidak berhenti
kecuali setelah dibakarkan
potongan tembikar lalu dilekatkan di atasnya.
Luka
beliau bukan hanya bersifat materi tetapi luka spirituil beliau dan rohani
beliau pun semakin bertambah. Ini beliau rasakan ketika mendengar bahawa
pamannya Hamzah gugur sebagai syahid dan tidak cukup dengan itu, bahkan
isteri Abu Sofyan
yaitu Hindun membelah
perutnya dan mengeluarkan jantungnya serta
mengunyahnya dengan mulutnya.
Semua itu semakin menambah kesedihan sang Nabi.
Kaum Quraisy
menguasi pasukan Muslim
dan mereka memperlakukan
dan menekan kaum Muslim secara aniaya. Seandainya bukan kerana rahmat
Allah SWT nescaya kaum Muslim akan mengalami kekalahan yang teruk. Kemudian
turunlah dalam Al-Qur'an al-Karim ayat-ayat yang mendidik kaum Muslim agar
mereka benar-benar ikhlas
dan memahamkan mereka
bahawa kekalahan mereka sebagai
akibat dari adanya
pasukan di antara
mereka yang menginginkan dunia
meskipun di antara
mereka ada sebahagian
yang menginginkan akhirat. Jika
terjadi demikian, maka
tidak ada jalan
untuk memperoleh kemenangan. Ini
bukanlah hal yang
diinginkan oleh pasukan Muslim, yang
diharapkan adalah hendaklah
semua pasukan tertuju
untuk mencapai ridha Allah SWT
dan hanya mengharapkan akhirat. Jika demikian halnya, maka Allah SWT akan
memberi mereka dunia dan akhirat.
Allah SWT
berfirman dan menceritakan
peperangan Uhud dalam
surah Ali 'Imran:
"Di
antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang
menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk
menguji kamu; dan
sesungguhnya Allah telah
memaafkan kamu. Dan Allah
mempunyai kurnia (yang
dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman." (QS. Ali
'Imran:: 152)
Allah SWT
memaafkan hal itu.
Orang-orang Muslim kini
menghitung jumlah korban mereka
dan mengubati orang-orang
yang terluka. Rasulullah
saw bertanya tentang pamannya
Hamzah, dan ketika
beliau mendapatinya di tengah-tengah sahabat
yang gugur, dan
orang-orang kafir telah
merosak jasadnya, maka beliau
berkata dalam keadaan
menangis: "Tidak akan
ada orang yang akan tertimpa sepertimu selama- lamanya."
Kemudian
Nabi saw berdiri dan memuji Allah SWT lalu beliau memerintahkan untuk
mengembalikan orang-orang yang terbunuh dari kaum Muslim ke tempat asal mereka
di mana mereka
terbunuh. Saat itu
keluarga mereka telah membawanya ke
kuburan kemudian Nabi
saw mengumpulkan kedua
orang laki-laki dari pahlawan-pahlawan Uhud dalam satu pakaian dan
beliau bertanya siapa di antara
keduanya yang paling
banyak mengambil manfaat
dari Al-Qur'an. Jika diisyaratkan kepada
salah satunya, maka
beliau akan mendahulukannya
untuk dimasukkan dalam liang lahad.
Rasulullah
saw juga memerintahkan agar mereka dikebumikan dengan darah mereka dan
beliau pun tidak
mensolati mereka, serta
tidak memandikan mereka. Allah
SWT ingin memperlihatkan bagaimana
mereka dibangkitkan pada hari
kiamat lalu beliau bersabda: "Tiada seorang pun yang terluka di jalan
Allah SWT kecuali Allah SWT membangkitkannya di hari kiamat dalam keadaan di
mana Iukanya akan mengucur darah. Warna itu adalah warna darah dan baunya seperti
minyak misik."
Bukanlah penderitaan
yang dalam yang
merupakan pelajaran yang
harus dimengerti kaum Muslim
dari peperangan Uhud
sebagai akibat dari pembangkangan mereka
dari perintah Rasul
saw dan ketidaktaatan
mereka kepadanya, tetapi wahyu juga menurunkan berbagai pelajaran yang
lain yang dapat dimanfaatkan. Pelajaran
yang terpenting setelah
pelajaran kesetiaan adalah
penjelasan tentang sentral utama yang di situ kaum Muslim berkumpul. Peribadi
Rasulullah saw bukanlah markas yang di situ kaum Muslim berkumpul yang ketika
peribadi Rasulullah saw yang mulia pergi kerana satu dan lain hal, maka orang-orang
Muslim akan pergi
dan meninggalkan beliau.
Tidak seharusnya peribadi Rasul
saw menjadi markas atau
sentral tetapi yang menjadi
sentral dari semuanya
adalah pemikiran beliau.
Itulah yang paling penting.
Demikianlah
bahawa Al-Qur'an al-Karim mencela orang-orang yang meletakkan senjatanya ketika
tersebar isu terbunuhnya
Nabi saw. Islam
tidak akan mencapai puncaknya
ketika kaum Muslim berkumpul di sisi Rasulullah saw saat beliau masih hidup
namun ketika beliau terbunuh atau mati, maka mereka murtad di
mana mereka membuang
senjatanya dan pergi
mengurusi diri mereka sendiri.
Orang-orang Islam adalah orang- orang yang mengikuti prinsip bukan mengikuti
peribadi. Muhammad bin Abdillah memang seorang pemimpin manusia dan Imam para
rasul dan penutup para nabi, dan sebagai makhluk Allah SWT yang paling mulia,
namun ini semua tidak membenarkan bahawa seorang Muslim diperbolehkan untuk
meletakkan senjatanya ketika Rasul saw wafat atau terbunuh. Hendaklah seorang
Muslim memanggul senjatanya dan tidak membuang dari tangannya kecuali dalam dua
keadaan: pertama ketika ia telah memperoleh kemenangan dan kedua ketika ia
telah mati.
Nas Al-Qur'an
menjelaskan secara gamblang
hubungan kaum Muslim dengan akidah Islam, bukan dengan
peribadi sang Rasul saw. Allah SWT berfirman:
"Muhammad
itu tidak lain hanyalah seorang
Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya
beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke
belakang (murtad)? Barang
siapa yang berbalik
ke belakang, maha ia tidak dapat
mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan
kepada orang-orang yang bersyukur." (QS. Ali 'Imran: 144)
Demikianlah
bahawa peperangan Uhud telah membawa dampak yang luar biasa terhadap kaum
Muslim, utamanya terhadap
Nabi saw. Orang-orang
yang terbunuh di perang Uhud adalah sahabat-sahabat yang paling mulia
dan paling banyak imannya. Mereka adalah pilihan dari orang-orang Muslim yang
pertama; mereka memikul beban dakwah di saat-saat yang sulit bahkan mereka
harus berhadapan dan memusuhi kerabat mereka dan teman-teman mereka; mereka menjadi terasing
saat menyatakan keislaman
mereka sebelum hijrah
dan sesudahnya; mereka telah menginfakkan harta; mereka berjuang di
jalan Allah SWT; mereka telah bersabar dalam menanggung berbagai macam
penderitaan, dan ketika datang
saat yang paling
berbahaya dan pasukan
Islam telah terkepung di mana jiwa
Rasul saw telah terancam, mereka justru mencurahkan darah mereka bagaikan
lautan yang menenggelamkan orang-orang kafir dan mereka mampu melindungi sang
Rasul saw dan mengubah jalan peperangan serta menyelamatkan akidah tauhid.
Peperangan
Uhud bukanlah pengorbanan pertama yang dilakukan oleh kaum Muslim dan
bukanlah merupakan peperangan
yang terakhir. Ia
adalah satu peperangan di antara
cukup banyak peperangan yang dilalui oleh Islam untuk menyebarkan kalimat
Allah SWT di
muka bumi dan
membimbing hamba-hamba-Nya. Begitu juga pengorbanan Rasul saw, dan
peperangan Uhud bukanlah
pengorbanan yang pertama
terhadap Islam dan
bukan juga yang terakhir. Rasulullah saw telah hidup
setelah diutusnya kepada manusia di mana beliau telah memberikan semuanya untuk
kehidupan dan untuk dakwah; beliau tidak
memiliki dirinya sendiri;
beliau tidak memboroskan
waktunya dengan sia-sia bahkan
beliau beristirahat sedikit
saja. Semua kehidupan
beliau diberikan kepada dakwah dan untuk Islam. Beliau menjalani
berbagai macam peperangan dan beliau memikul berbagai macam penderitaan dan
belum lama beliau lari dari suatu masalah kecuali beliau berhadapan dengan
masalah yang baru dan lain; belum lama beliau menyelesaikan suatu krisis
kecuali beliau menghadapi krisis yang lain. Demikianlah kehidupan sang Nabi saw
di mana beliau selalu memberikan
kontribusi dan sumbangannya
demi kepentingan agama Allah SWT.
Silakan
Anda mengamati kehidupan sang Rasul saw dari sudut manapun yang Anda
inginkan nescaya Anda tidak akan menemukan
sudut dari sudut-sudut kehidupan beliau kecuali dimulai
dan dipenuhi dengan pergelutan yang hebat. Rasulullah saw
telah melalui pergelutan
militer dalam berbagai
macam pertempuran yang silih
berganti yang beliau
lakukan. Beliau memulai pergelutan politiknya
yang terwujud dalam
perundingan-perundingan dan
surat-surat yang beliau kirimkan kepada penguasa dan para raja di berbagai
negara agar mereka memeluk Islam, bahkan beliau melakukan pergelutannya
dalam masalah peribadi
di rumah tangga.
Rumah tangga beliau
pun tidak kosong dari
pergelutan. Beliau adalah
pejuang sejati dalam
setiap waktu. Kalau kita mengenal
Nabi Ibrahim sebagai seorang musafir di jalan Allah SWT, maka Muhammad
bin Abdillah adalah
seorang pejuang di
jalan Allah SWT. Belum lama peperangan Uhud berakhir
sehingga pengaruh-pengaruh buruknya berbekas pada kaum Muslim. Orang-orang Arab
Badwi mulai berani bersikap kurang
ajar kepada mereka,
demikian juga orang-orang
Yahudi, apalagi orang-orang munafik
dan tidak ketinggalan
orang-orang Quraisy pun
mulai menyudutkan kaum Muslim.
Kemudian
datanglah utusan dari kabilah Arab kepada Rasul saw dan mereka mengatakan kepada
beliau bahawa mereka
mendengar tentang Islam
dan mereka ingin memeluknya, maka hendaklah beliau mengutus kepada
mereka beberapa dai dan
mubaligh untuk mengajari
mereka tentang dasar-dasar agama. Nabi
saw mengutus bersama
mereka sekelompok para
dai yang dipimpin oleh 'Ashim bin
Tsabit. Ternyata orang-orang itu berkhianat atas para sahabat-sahabat yang
berdakwah itu dan mereka pun dibunuh. Bahkan tiga di antara mereka ditawan dan
dijual di Mekah. Dijualnya mereka di Mekah bererti mereka diserahkan
pada kelompok orang-orang
Quraisy yang telah
lama menunggu untuk menangkap kaum Muslim. Kaum Quraisy Mekah membunuh
tiga tawanan kaum Muslim itu. Orang-orang Muslim sangat sedih mendengar dai-dai
Allah SWT itu terbunuh dengan cara yang begitu tragis.
Ketika datang
kepada Nabi saw
orang-orang yang minta
pada beliau agar dikirim utusan dari kalangan mubaligh
untuk menyebarkan Islam untuk para kabilah kaum Najd, maka Nabi kali ini
betul-betul mempertimbangkan antara kepentingan
menyebarkan Islam dan
perlindungan terhadap kehormatan manusia. Lalu
beliau memilih untuk
kepentingan dakwah Islam.
Beliau menyedari bahawa beliau
mengutus para sahabatnya
dalam bahaya; beliau memberitahu mereka bahawa mereka akan
menghadapi suatu keadaan yang misteri yang tiada mengetahuinya kecuali Allah
SWT. Namun bahaya tersebut sudah menjadi bahagian dari cita rasa kehidupan yang
selalu meliputi dakwah Islam.
Ketika
Nabi saw mengutarakan kekhuatirannya terhadap para sahabatnya yang bakal
diutusnya di tengah kabilah itu, orang-orang yang meminta beliau untuk
mengutus para sahabatnya
menyakinkan beliau bahawa
mereka akan melindungi sahabat beliau. Kemudian Nabi saw memerintahkan
tujuh puluh orang pilihan dari sahabatnya untuk pergi dan berjihad di jalan
Allah SWT serta mengajak manusia untuk
mengikuti Islam. Lalu
pergilah para sahabat
yang kemudian dikenal dengan
sebutan al-Qurra' (yaitu
orang-orang yang pandai membaca Al-Qur'an dan menghafalnya).
Mereka adalah para dai yang terbaik yang diutus Nabi di mana pada siang hari
mereka memikul kayu bakar dan pada malam
hari mereka sibuk
dalam keadaan solat.
Ketika datang perintah Rasulullah saw kepada mereka untuk
pergi dan berdakwah mereka pun pergi dalam keadaan gembira kerana mereka diajak
untuk berjihad di jalan Allah SWT. Mereka melangkahkan kaki dengan mantap di
tanah orang-orang munafik dan para pengkhianat sehingga mereka sampai di suatu
sumur yang bernama sumur Ma'unah. Kemudian mereka mengutus salah seorang di
antara mereka untuk menemui pemimpin
orang-orang kafir di
negeri itu. Mubaligh
dari sahabat Rasulullah saw itu menyampaikan surat Nabi yang dibawanya
di mana beliau mengharapkan agar masyarakat di situ masuk Islam, tetapi ia
dikejutkan dengan adanya pisau yang menembus punggungnya. Mubaligh itu
berteriak saat ia tersungkur: "sungguh aku beruntung demi Tuhan pemelihara
Ka'bah." Kemudian pemimpin orang-orang
kafir itu mengangkat
senjata dan mengumpulkan para kabilah untuk memerangi para mubaligh
di jalan
Allah SWT itu sehingga sahabat-sahabat terbaik yang berdakwah di jalan
Allah SWT itu pun gugur di sumur Ma'unah. Jasad-jasad mereka menjadi makanan
dari burung nasar dan burung-burung yang lain. Dari tujuh puluh orang yang
dikirim itu hanya seorang
yang selamat yang
kembali kepada Nabi
saw. Ia menceritakan apa yang
dialami oleh fuqaha-fuqaha Muslimin di mana mereka dikhianati. Ketika mendengar
berita tentang tragedi itu, Nabi sangat terpukul
dan sedih.
Kemudian beliau mengangkat
kepalanya dan berkata
kepada sahabat-sahabatnya:
"Sungguh sahabat-sahabat kalian
telah terbunuh dan mereka
telah meminta kepada
Tuhan mereka. Mereka
mengatakan, Tuhan kami,
berikanlah kami ujian sesuai dengan kehendak-Mu dan ridha-Mu. Apa saja yang
menjadi kepuasan-Mu kami pun akan merasakan kepuasan."
Sungguh penderitaan
yang dialami oleh
Islam sangat berat,
terutama yang menimpa para
sahabat yang gugur sebagai syahid di sumur Ma'unah. Nabi saw sangat sedih
mendengar sikap orang-orang
Arab dan orang-
orang kafir terhadap Islam.
Mereka telah mengejek
dan merendahkan kaum
mukmin sampai pada batas ini. Kemudian beliau menetapkan akan kembali
mengangkat kewibawaan Islam dengan tindak kekerasan.
Dalam
keadaan seperti ini, bergeraklah orang-orang Yahudi untuk membunuh
Rasulullah saw. Pada
suatu hari beliau
pergi ke Bani
Nadhir untuk menyelesaikan suatu
urusan. Kemudian mula-mula
mereka menampakkan
persetujuan atas apa
yang diucapkan beliau.
Mereka mendudukkan Nabi
di bawah naungan benteng-benteng mereka,
lalu mereka bersekongkol
untuk melenyapkan beliau; mereka menetapkan untuk melemparkan batu yang
berat dari atas benteng
itu saat beliau
duduk dan tidak
membayangkan akan terjadinya kejahatan
yang direncanakan padanya.
Namun Allah SWT mengilhami Rasul-Nya
akan datangnya bahaya
kepada beliau, lalu
beliau bangun sebelum pelaksanaan tipu daya itu. Lalu beliau segera
pergi menuju rumahnya. Beliau berfikir saat beliau kembali ke rumahnya dengan
membawa penderitaan yang baru.
Pembangkangan dan pengkhianatan
tersebut tidak akan dapat berhenti
kecuali setelah Islam menunjukkan taringnya. Islam ingin mengembalikan
kewibawaannya dengan cara mengangkat senjata.
Rasul
saw mengutus utusan ke Bani Nadhir dan memerintahkan mereka untuk keluar dari
Madinah, bahkan Rasul saw memberi waktu kepada mereka hanya sepuluh hari.
Kemudian orang-orang munafik
yang ada di
Madinah bersatu bersama orang-orang
Yahudi dan mereka
sepakat untuk memerangi
Islam. Namun ketika berhadapan
dengan Islam, orang-orang
Yahudi menelan kekalahan. Kemudian turunlah surah al-Hasyr yang menyebutkan pengusiran
orang-orang Yahudi dan
menyingkap kedok orang-orang
munafik. Setelah kemenangan yang
meyakinkan ini, Rasul saw keluar bersama sahabatnya untuk membalas kejadian
yang menimpa sahabat-sahabatnya yang
dikenal dengan al-Qurra' itu.
Rasul saw ingin
mengembalikan kewibawaan Islam.
Kemudian pasukan Rasul saw
itu mampu membuat para pengkhianat dari
orang-orang Arab ketakutan. Hanya
sekadar mendengar nama
pasukan Muslim, maka serigala-serigala gurun yang dulu bengis
itu pun ketakutan laksana tikus-tikus yang
panik yang bersembunyi
di bawah lubang-lubang
gunung. Orang-orang Quraisy
mendengar kegiatan pasukan Islam. Pasukan Quraisy menarik diri saat mereka
mendekati Dahran, sementara pasukan Muslim berada di Badar. Mereka
menunggu pertemuan yang
disepakati di Uhud.
Orang-orang Muslim menyala-kan
api selama delapan hari sebagai bentuk tantangan dan menunggu kedatangan kaum
kafir sehingga ketika mereka (kaum kafir) telah pergi, maka citra kaum Muslim
pun terangkat setelah mereka menerima kepahitan dalam peperangan Uhud.
Kaum Muslim
menoleh ke arah
utara jazirah Arab
setelah menetapkan
kewibawaan mereka di
selatan. Kabilah di
sekitar Daumatul Jandal
dekat dengan Syam merampok di tengah jalan dan merampas kafilah yang
berlalu di situ, bahkan kenekatan mereka sampai pada batas di mana mereka
berfikir untuk menyerbu Madinah.
Oleh kerana itu,
Rasulullah saw keluar
bersama seribu orang Muslim yang mereka bersembunyi di waktu siang dan
berjalan di waktu malam, sehingga setelah lima belas malam beliau sampai ke
tempat yang dekat dengan
tempat tinggal musuh-musuh
mereka lalu mereka menggerebek tempat
itu. Pasukan kafir
itu dikejutkan dengan
kedatangan kaum Muslim yang begitu cepat.
Kita
akan mengetahui bahawa alat komunikasi yang dimiliki oleh Rasulullah saw sangat
unggul sebagaimana alat
pertahanan beliau pun
sangat unggul. Serangan mendadak
yang dilakukan oleh pasukan Rasulullah saw menunjukkan bahawa mereka memiliki
pertahanan yang luar biasa. Sistem pertahanan yang luar biasa
sebagaimana kedatangan pasukan
yang secara tiba-tiba
itu menunjukkan kemampuan pasukan Islam untuk menyusup.
Demikianlah,
terjadilah hari-hari pertempuran militer. Belum lama Nabi saw meletakkan baju
besinya, dan beliau
kembali membangun peribadi
kaum Muslim sehingga beliau terpaksa kembali memakai baju besinya dan
kembali berperang. Ketika musuh-musuh
Islam yang berada
di sekelilingnya melihat bahawa kemampuan militer mereka tidak
dapat menandingi kemampuan kaum Muslim,
maka mereka sengaja
melakukan cara-cara baru
untuk memerangi Islam. Yaitu
peperangan psikologi atau
peperangan urat saraf
dengan cara menyebarkan berbagai
macam isu atau apa yang dinamakan Al-Qur'an al-Karim dengan peristiwa
al-Ifik (kebohongan).
Setelah peperangan Bani
Musthaliq yaitu peperangan yang membawa kemenangan yang cepat bagi kaum
Muslim, terjadilah kesalahfahaman dan pertengkaran di antara sahabat-sahabat
yang biasa mengambil air di mana salah seorang mereka berteriak: "wahai
kaum Muhajirin," dan yang lain berteriak: "Wahai kaum Anshar."
Peristiwa
yang sangat sepele itu dimanfaatkan oleh pemimpin kaum munafik yaitu Abdullah
bin Ubai. Abdullah bin Ubai memprovokasi orang- orang Anshar untuk menyerang
kaum Muhajirin. Ia ingin membangkitkan luka-luka jahiliah yang lama yang telah
dibuang dan telah dikubur oleh Islam, Salah satu yang dikatakan oleh Ibnu Ubai
adalah, "sungguh mereka telah menyaingi kita dan mengambil kebaikan
dari dan seandainya
kita telah kembali
ke Madinah nescaya orang-orang
yang mulai akan dapat mengusir orang-orang yang hina di dalamnya."
Zaid
bin Arqam menyampaikan kalimat si
munafik itu kepada Nabi saw, di
mana kalimat itu
berisi provokasi terhadap
orang-orang Anshar untuk menyerang kaum Muhajirin. Ubai
menginginkan agar mereka berpecah belah dan agar kesatuan mereka runtuh. Si
Munafik itu segera datang kepada Rasul saw dan menafikan apa yang dikatakannya.
Orang-orang Muslim secara lahiriah membenarkan perkataan si munafik itu dan
mereka justru menuduh Zaid bin Arqam salah mendengar. Tetapi hakikat peristiwa
itu tidak tersembunyi dari Nabi saw sehingga
peristiwa itu sangat
menyedihkan beliau. Lalu
beliau mengeluarkan perintah agar para sahabat pergi ke suatu tempat
yang tidak biasanya mereka lalui.
Kemudian beliau pergi
bersama sahabat di
hari itu sampai waktu malam
menyelimuti mereka. Dan kini, mereka memasuki waktu pagi. Kepergian yang singkat
dan tiba-tiba itu mampu menepis kebohongan yang
dirancang oleh si
Munafik, Abdullah bin
Ubai. Yaitu kebohongan
yang bertujuan untuk membakar persatuan kaum Muslim ketika ia berusaha
untuk menyalakan api di tengah-tengah rumah sang Nabi saw.
Ketika Nabi
masih memiliki kekuatan
yang menakutkan bagi
yang mencuba melawannya, maka
mereka pun melakukan berbagai penipuan dan, makar. Dan salah satu yang menjadi
objek tipu daya itu adalah isteri beliau, yaitu Aisyah. Alkisah, Aisyah pada
suatu hari pergi untuk memenuhi hajatnya lalu dilehernya terdapat anting-anting. Setelah
ia memenuhi hajatnya,
anting-anting itu terjatuh dari
lehernya dan ia tidak mengetahui. Ketika Aisyah kembali dari kafilah yang telah
siap-siap untuk pergi, ia kembali mencari kalungnya sampai ia menemukannya.
Sementara itu orang-orang yang membawanya dalam tandu (haudaj) mengira Aisyah
sudah berada di dalamnya. Mereka tidak ragu dalam hal itu kerana memang berat
badan Aisyah sangat ringan.
Pasukan
Nabi berjalan dan membawa tandu, sedangkan Aisyah tidak ada di dalamnya. Aisyah
kembali dan tidak mendapati pasukan di mana mereka telah pergi. Aisyah merasa
hairan atas kepergian pasukan yang begitu cepat. Aisyah merasa takut
saat ia berdiri
sendirian di padang
gurun. Aisyah berusaha bersikap baik, ia duduk di tempatnya
di mana di situlah untanya duduk juga. Aisyah melipat-lipat pakaiannya sambil
berkata dalam dirinya: Mereka akan mengetahui
bahawa aku tidak
ada dan kerana
itu mereka akan
kembali mencariku dan akan menemukan aku.
Sementara itu,
Sofwan bin Mu'athal
juga tertinggal kerana
ia melakukan keperluannya. Ia
berjalan dari arah yang jauh lalu ia melihat bayangan orang yang tidak begitu
jelas. Sofwan mendekat dan tiba-tiba ia mengetahui bahawa ia sedang berdiri di
hadapan Aisyah. Ia melihat Aisyah sebelum diwajibkannya perintah memakai
hijab (jilbab) atas
isteri-isteri Nabi. Ketika
melihatnya, Sofwan berkata: "Sesungguhnya kita milik Allah SWT dan
kepadanya kita akan kembali,... isteri Rasulullah Aisyah tidak menjawab.
Sofwan
mundur dan mendekatkan untanya kepadanya sambil berkata: "Silakan
Anda menaikinya." Aisyah
pun menaikinya. Kemudian
Sofwan membawanya pergi dan
mencari pasukan yang
telah meninggalkannya. Sementara
itu, pasukan Nabi sedang beristirahat. Para sahabat mengira bahawa
Aisyah masih berada dalam tandu. Tiba-tiba mereka terkejut ketika Aisyah datang
kepada mereka bersama Sofwan yang menuntun untanya.
Tokoh
munafik Abdullah bin Ubai segera memanfaatkan kesempatan emas ini. Ia membuat
kisah bohong yang
terkesan menuduh isteri
Nabi melakukan
pengkhianatan. Abdullah bin
Ubai pandai memilih
beberapa sahabat yang dikenalinya sebagai
orang-orang yang mudah
percaya dan cenderung membenarkan hal-hal yang bersifat
lahiriah, atau ia mengetahui bahawa di antara
mereka dan Aisyah
terdapat kedengkian sehingga
mereka suka jika tersebar kebohongan yang berkenaan
dengan Aisyah.
Demikianlah
pemimpin munafik itu berhasil menjerat beberapa sahabat dalam tali kebohongannya, di
antaranya Hasan bin
Sabit. Musthah, dan
seorang wanita yang dipanggil Hamnah binti Jahasv. yaitu saudara perempuan
Zainab binti Jahasy isteri Rasulullah saw. Ketiga orang itu tertipu dengan
kebohongan tersebut lalu mereka
menyebarkannya sehingga orang-orang
yang terjerat dalam kebohongan
itu mengatakan apa saja yang mereka inginkan. Akhirnya. pasukan pun
bergoncang dengan isu
itu. Sementara itu,
Aisyah tidak mengetahui sedikit
pun tentang hal
tersebut. Isu tersebut
bertujuan untuk menjatuhkan Islam
dan melukai perasaan
Rasullullah saw dan
itu termasuk peperangan menentang
Rasulullah saw dan ajaran yang dibawanya. Begitu juga ia bertujuan
menunjukkan bahawa kaum Muslim tidak
konsekuen dengan akidah yang
mereka yakini dan
secara tidak langsung
ia juga menyerang kesucian rumah tangga Aisyah.
Pasukan
kembali ke Mekah dan Aisyah jatuh sakit, namun ia tidak mengetahui isu-isu yang
dikatakan tentang dirinya. Kemudian Rasulullah saw mendengar hal itu
sebagaimana ayahnya Abu Bakar dan ibunya pun mendengarnya, namun tak seorang
pun di antara. mereka yang memberitahu Aisyah. Begitu juga Rasul saw tidak
menceritakan peristiwa itu di hadapan Aisyah. Namun sikap beliau berubah di
mana beliau tidak lagi menunjukkan perhatiannya seperti biasanya saat Aisyah
sakit. Ketika beliau menemui Aisyah dan saat itu ibunya ada di situ, beliau
berkata: "Bagaimana keadaanmu?" Beliau tidak lebih dari mengucapkan
kata-kata itu. Ketika
Aisyah melihat perubahan
sikap Rasul saw,
ia mulai marah. Pada suatu hari
ia berkata pada Nabi: "Seandainya engkau mengizinkan aku, nescaya aku akan
pindah ke tempat ibuku." Beliau menjawab: "Itu tidak ada
masalah."
Aisyah
pun pindah ke tempat ibunya dan ia tidak mengetahui sama sekali apa yang
sebenarnya terjadi padanya. Setelah melalui lebih dari dua puluh malam,
Aisyah sembuh dari
sakitnya dan ia
pun belum mengetahui
hal-hal yang dikatakan tentang
dirinya. Umul mu'minin Aisyah menceritakan bagaimana ia mengetahui isu bohong
tersebut dan bagaimana Allah SWT membebaskannya dari isu itu, ia berkata:
"Kami adalah
kaum Arab di
mana kami tidak
mengambil di rumah
kami tanggung jawab ini
yang biasa di
ambil oleh orang-orang
Ajam. Kami membencinya. Kami
keluar untuk menikmati
keluasan kota. Sementara
itu para wanita keluar pada setiap malam untuk memenuhi hajat mereka.
Pada suatu malam, aku keluar bersama Ummu Musthah untuk memenuhi sebahagian
keperluanku. Lalu ia berkata: "Tidakkah kau
sudah mendengar suatu
berita wahai puteri Abu
Bakar?" Aku bertanya,
"berita apa itu?"
Lalu ia memberitahukan padaku
apa-apa yang dikatakan
oleh para penyebar kebohongan. Aku berkata: "Apa
ini memang benar?" Ia menjawab: "Demi Allah, ini benar-benar
terjadi." Aisyah berkata:
"Demi Allah, aku
tidak mampu memenuhi hajatku." lalu
aku pulang. Demi
Allah, aku tetap
menangis sampai-sampai aku mengira bahawa tangisanku akan merosak
jantungku dan aku berkata kepada ibuku, mudah-mudahan Allah SWT mengampunimu,
banyak orang berbicara tentangku
namun engkau tidak
menceritakan sedikit pun kepadaku. Ia berkata: "Wahai anakku,
sabarlah demi Allah jarang sekali wanita yang baik yang dicintai oleh seorang
lelaki yang jika ia memiliki isteri-isteri yang lain (madunya) kecuali wanita
itu akan diterpa oleh berbagai isu."
Aisyah berkata:
"Rasulullah saw berdiri
dan menyampaikan pembicaraannya pada mereka
dan aku tidak mengetahui hal itu." Beliau memuji
Allah SWT kemudian berkata:
"Wahai manusia, bagaimana
keadaan kaum lelaki
yang menyakiti aku melalui keluar gaku dan mereka mengatakan sesuatu
yang tidak benar. Demi Allah, aku tidak mengenal mereka kecuali dalam kebaikan.
Lalu mereka mengatakan hal itu pada seorang lelaki yang aku tidak mengenalnya
kecuali dalam kebaikan
di mana ia
tidak memasuki suatu
rumah dari rumah-rumahku kecuali
ia bersamaku."
Kemudian
Rasulullah saw memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid dan
bermusyawarah dengan keduanya. Usamah hanya melontarkan pujian dan berkata:
"Ya Rasulullah aku tidak mengenal isterimu kecuali dalam kebaikan dan
berita ini hanya kebohongan dan kebatilan," sedangkan Ali berkata: 'Ya Rasulullah
masih banyak wanita yang lain yang dapat kau percaya." Kemudian Rasulullah
saw memanggil Burairah dan bertanya kepadanya, lalu Ali berdiri kepadanya dan
memukulnya dengan keras sambil berkata: "Jujurlah kepada Rasulullah
saw," lalu wanita itu berkata: "Demi Allah, aku tidak mengetahui
kecuali kebaikan. Aku tidak pernah mencela Aisyah kecuali pada suatu waktu
aku sedang membikin
adunan roti lalu
aku memerintahkannya untuk menjaganya namun
Aisyah tertidur dan
datanglah kambing lalu
adunan itu
dimakan
olehnya."
Aisyah
berkata: "Kemudian datanglah kepadaku Rasulullah saw dan saat tu aku
bersama kedua orang
tuaku dan seorang
wanita dari kaum
Anshar. Aku menangis dan
wanita itu pun
turut menangis. Rasulullah
saw duduk lalu memuji Allah SWT dan berkata:
"Wahai Aisyah, sungguh kamu telah mendengar sendiri apa
yang dikatakan orang-orang
tentang dirimu, maka
bertakwalah kepada Allah SWT dan jika engkau telah melakukan keburukan
seperti yang diucapkan orang-orang itu,
maka bertaubatlah kepada
Allah SWT kerana sesungguhnya Allah
SWT menerima taubat
dari hamba-hamba-Nya." Aisyah berkata, "demi
Allah, itu tidak
lain hanya kebohongan
yang dialamatkan kepadaku
sehingga membuat air mataku kering. Aku sama sekali tidak seperti yang mereka
katakan," lalu aku
menunggu kedua orang
tuaku untuk mengatakan tentang
diriku namun mereka
justru terdiam. Aisyah
berkata, "demi Allah aku merasa sebagai seorang yang hina yang
tidak layak diturunkan Al-Qur'an dari Allah SWT berkenaan denganku, tetapi aku
hanya berharap agar Nabi saw melihat
kebohongan yang dialamatkan
kepadaku itu sehingga
ia memastikan terbebasnya aku darinya."
Aisyah
berkata: "Ketika aku tidak melihat kedua orang tuaku berbicara aku
berkata kepada mereka
tidakkah kalian menjawab
apa yang dikatakan Rasulullah saw?" Mereka
berkata: "Demi Allah kami tidak mengetahui apa yang harus kami
jawab." Aku mengetahui
bahawa aku bebas
dari tuduhan itu. Tiba-tiba Rasulullah
saw mengusap keringat
dari wajahnya sambil
berkata: "Bergembiralah
wahai Aisyah kerana
sesungguhnya Allah SWT
telah menurunkan ayat yang membebaskan kamu dari tuduhan itu," lalu
aku berkata: "Segala puji bagi Allah SWT." Kemudian beliau keluar
menemui para sahabat dan membacakan kepada mereka ayat berikut ini:
"Sesungguhnya
orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.
Janganlah kamu kira bahawa berita bohong itu buruk bagi kamu.
Tiap-tiap seseorang dari
mereka mendapat balasan
dari dosa yang dikerjakannya. Dan
siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran
berita bohong itu, maka baginya azab yang besar. " (QS. an-Nur: 11)
Jibril
turun kepada Nabi
saw untuk menyampaikan terbebasnya
Aisyah dari segala tuduhan yang
ditujukan kepadanya. Dan gagallah peperangan psikologi menentang kaum
Muslim dan rumah
tangga Rasulullah saw,
dan kelompok-kelompok kafir meyakini bahawa mereka harus menggunakan
cara baru lagi untuk menentang Islam. Kemudian Rasulullah saw kembali memasuki
pergelutan menentang peperangan fizik. Peperangan Khandaq termasuk contoh
peperangan fizik yang
dilakukan oleh Rasulullah
saw. Orang-orang Yahudi menyerahkan urusan mereka kepada kaum
musyrik, dan Dimulailah rangkaian persekongkolan dan
sumpah di antara
tokoh- tokoh Yahudi
dan pemimpin-pemimpin kaum musyrik, bahkan pendeta- pendeta Yahudi
berfatwa bahawa agama Quraisy yang disimbolkan dengan penyembahan berhala lebih
baik daripada agama
Muhammad yang penyembahan
hanya layak ditujukan kepada Tuhan Yang Esa sebagaimana
tradisi jahiliah lebih baik daripada ajaran Al-Qur'an.
Politik
kaum Yahudi berhasil menyatukan kelompok-kelompok orang kafir dan mengerahkannya untuk
menentang kaum Muslim.
Kemudian mereka akan menyerang Madinah dengan jumlah kekuatan
sepuluh ribu tentera. Akhirnya, berita
itu sampai ke
Nabi saw. Beliau
tidak hairan ketika
mendengar orang-orang Yahudi
bersatu - padahal mereka
mempunyai asas agama yang menyeru kepada
tauhid - bersama kaum musyrik menentang
agama tauhid. Nabi saw mengetahui bahawa perjanjian telah lama membelenggu
orang-orang Yahudi sehingga hati mereka menjadi keras dan hari telah menjauhkan
antara mereka dan sumber yang jernih yang dipancarkan oleh Musa. Akhirnya,
mereka menjadi buah yang
rosak yang kulitnya
bergambar tauhid namun
isinya bergambar kepahitan syirik. Dan yang lebih penting dari itu
adalah kesamaan kepentingan kaum Yahudi dan kaum musyrik.
Nabi saw
menyedari bahawa beliau
sekarang menghadapi ancaman
dan pasukan yang besar. Pertempuran secara terbuka tidak memberi
keuntungan bagi Muslimin. Beliau mulai berfikir bagaimana cara mempertahankan
Madinah tanpa harus keluar darinya. Kali ini taktik militernya berubah di mana
sebelum itu beliau keluar
dari Madinah dan
menjauhinya serta menyerang kelompok-kelompok yang
berencana menyerbu Madinah.
Kali ini bentuk ancaman berbeza
dan tentu fikiran
Nabi pun berubah
kerana mengikuti perbezaan
ancaman itu.
Kemudian beliau
mengadakan pertemuan militer
bersama para tenteranya. Beliau ingin
mendengar berbagai usulan
tentang bagaimana cara mempertahankan Madinah.
Lalu Salman al-Farisi
mengusulkan agar Nabi menggali suatu parit yang dalam di
sekeliling Madinah yaitu parit yang seperti bendungan alami yang dapat menahan
laju banjir yang ingin maju, suatu parit yang pasukan berkuda tidak akan mampu
melewatinya dan kaum Muslim dapat mempertahankan diri dari belakangnya. Mula-
mula usulan itu terkesan agak mustahil diwujudkan namun pada akhirnya Nabi
menyetujui usulan Salman itu. Melalui sensifitas militernya yang mengagumkan,
beliau mengetahui bahawa situasi
cukup genting dan kerananya ia
menuntut usaha keras
untuk dapat melaluinya. Nabi saw
memerintahkan para sahabat untuk menggali
parit di sekitar Madinah. Pekerjaan itu sangat berat dan saat itu musim
dingin di mana udara sangat dingin.
Di samping itu,
kaum Muslim sedang mengalami
krisis ekonomi yang mengancam Madinah, meskipun demikian, penggalian
parti tetap dilaksanakan, bahkan Rasulullah saw terjun langsung untuk membuat
galian dan memikul tanah.
Kaum Muslim
dengan semangat yang
luar biasa dapat
menyelesaikan penggalian parit itu meskipun kehidupan sangat keras dan
mereka merasakan kelaparan kerana kekurangan
harta. Namun semangat
pasukan Islam tetap meninggi. Mereka percaya akan datangnya
kemenangan dan pertolongan dari Allah SWT.
Allah
SWT berfirman:
"Dan
tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka
berkata: 'lnilah yang
dijanjikan Allah dan
Rasul-Nya kepada kita.' Dan
benarlah Allah dan
Rasul-Nya. Dan yang
demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman
dan ketundukan." (QS. al-Ahzab: 22)
Pasukan Quraisy
mulai mendekati Madinah
dan tiba-tiba Madinah
berubah menjadi jazirah cinta
di tengah-tengah lautan
kebencian, lautan itu
mulai menghentam jazirah dan berusaha menenggelamkannya dari dalam.
Kemudian berteburanlah panah-panah kaum Muslim untuk menghalau pasukan kafir
yang cukup banyak. Pasukan kafir
mulai berputar-putar di
sekeliling parit dalam keadaan bingung: apa gerangan yang telah dilakukan
pasukan Islam, bagaimana mereka dapat menggali parit ini?
Kuda-kuda musuh
berusaha melalui parit
itu namun pasukan
Muslim segera menyerangnya. Demikianlah
peperangan Ahzab terus
berlangsung. Pada hakikatnya ia
adalah peperangan urat saraf.
Pasukan musuh mengepung Madinah selama tiga minggu di mana
serangan demi serangan terus dilakukan sepanjang siang
dan mata mereka
tetap terjaga sepanjang
malam. Bahkan saking dahsyatnya
pertempuran itu sehingga kaum Muslim tidak mengetahui apakah pasukan musuh
berhasil menduduki Madinah atau tidak, dan apakah para musuh
berhasil menembus lubang
yang mereka bangun?
Allah SWT menggambarkan keadaan
peperangan Ahzab dalam firman-Nya:
"(Yaitu)
ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak
tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan
kamu menyangka terhadap
Allah dengan bermacam-macam
persangkaan. Di situlah diuji orang- orang mukmin dan digoncangkan hatinya
dengan goncangan yang
dahsyat." (QS. al-Ahzab:
10-11)
Keadaan
semakin buruk di mana orang-orang Yahudi membatalkan perjanjian mereka dengan
kaum Muslim dan
mereka bergabung dengan
al-Ahzab. Demikianlah Bani Quraizhah
membatalkan perjanjiannya dan
mereka lupa terhadap pengkhianatan
bani Nadhir dan
pembalasan Nabi saw
terhadap mereka. Setiap hari keadaan semakin buruk.
Kaum
Muslim benar-benar mengalami ujian yang berat di mana fikiran mereka
benar-benar kacau. Ketika keadaan
mencapai puncaknya kaum
Muslim bertanya kepada Rasul saw, "apa yang harus mereka
katakan?" Rasulullah saw memberitahu
agar mereka mengatakan:
"Ya Allah, kalahkanlah
mereka dan tolonglah kami untuk
mengatasi mereka."
Doa tersebut
keluar dari mulut-mulut
kaum yang telah
melaksanakan kewajipan
mereka dan telah
membuat mukjizat mereka
dalam menghalau serangan. Jadi,
mereka tidak memiliki apa-apa selain doa dan Allah SWT lah Yang Maha Mendengar
permintaan hamba-Nya dan Dia yang mengabulkannya. Dia mengetahui orang yang
melaksanakan kewajipannya dan akan mengabulkan orang yang berdoa.
Akhirnya, kaum
Muslim benar-benar mendapatkan
rahmat Allah SWT. Kemudian perjalanan
pertempuran bergerak dengan
cara yang tidak
bisa difahami. Para penyerang menyedari bahawa mereka sebenarnya telah
kalah di mana mereka telah menyerang selama tiga pekan namun serangan tersebut
tidak memberikan hasil apa pun. Mereka telah mencurahkan berbagai upaya namun
tanpa memberikan hasil yang diharapkan dan boleh jadi mereka akan tetap begini
selama tiga tahun.
Kemudian
datanglah suatu malam di mana kaum Muslim belum pernah melihat malam segelap
itu dan angin
sekencang itu, bahkan
saking kerasnya angin sampai-sampai suaranya laksana
halilintar. Bahkan saking gelapnya malam itu sehingga tak seorang pun di antara
umat Islam yang mampu melihat jari-jari tangannya atau
berdiri dari tempatnya
kerana saking dinginnya
cuaca. Kemudian Nabi saw datang menemui Hudaifah bin Yaman. Beliau tidak
mampu melihatnya meskipun beliau berdiri di sebelahnya. Nabi saw bertanya:
"Siapa ini?" Hudaifah menjawab: "Aku adalah Hudaifah." Nabi
saw berkata: "Oh, kamu Hudaifah."
Hudaifah tetap tinggal
di tempatnya kerana
ia khawatir jika ia
berdiri ia akan tidak mampu kerana saking dinginnya dan akan menabrak Rasul
saw. Rasul saw
berkata kepada Hudaifah,
"Aku kehilangan berita
penting tentang keadaan kaum yang menyerang kita."
Hudaifah
sebagai mata-mata dari pasukan Islam merasakan ketakutan di mana ia tidak mampu
menahan cuaca yang begitu dingin, lalu bagaimana ia dapat berdiri dan
keluar dari Madinah
menuju ke tempat
pasukan musuh dan menyusup
di tengah barisan
mereka lalu kembali
kepada Nabi saw
dengan membawa berita tentang
mereka. Hudaifah bangkit
dari tempatnya ketika Nabi saw selesai dari pembicaraannya.
Nabi saw memberikan doa kebaikan kepadanya.
Hudaifah pun pergi
dan kehangatan keimanannya
mengalahkan kegelapan malam dan kedinginan cuaca. Ia keluar dari Madinah
dan menyusup di tengah-tengah pasukan
musuh. Nabi saw
memerintahkannya untuk tidak melakukan tindakan apa pun selain
mendapatkan berita dan kembali. Inilah tugas utamanya. Hudaifah sampai di
tengah-tengah musuh. Mereka berusaha menyalakan api namun angin segera
mematikannya sebelum menyala dan di dekat
api itu terdapat
seorang lelaki yang
berdiri sambil menghulurkan tangannya ke arah api dengan
maksud untuk menghangatkannya. Lelaki itu adalah pemimpin kaum musyrik yaitu
Abu Sofyan.
Melihat
itu, Hudaifah segera memasang anak panah pada busur yang dibawanya dan ia ingin
memanahnya. Seandainya ia berhasil membunuhnya, maka kaum Muslim dapat merasa
tenang dengannya, namun ia ingat pesan Rasulullah saw kepadanya agar ia tidak
melakukan tindakan apa pun. Kemudian ia kembali meletakkan anak panahnya dan
menyembunyikannya.
Abu Sofyan
berkata: "Wahai orang-orang
Quraisy situasi saat
ini tidak menguntungkan bagi
kalian, maka pergilah kalian kerana aku pun akan pergi." Abu Sofyan
melompat ke atas untanya lalu mendudukinya dan memukulnya sehingga unta itu
bangkit.
Hudaifah
kembali menemui Rasulullah saw dengan membawa berita mundurnya pasukan Ahzab dan
gagalnya serangan mereka.
Ketika mendengar peristiwa penarikan mundur pasukan musuh,
Rasulullah saw berkata: "Sekarang kita akan menyerang mereka
dan mereka tidak
akan menyerang kita."
Belum lama pasukan Ahzab kembali
ke negerinya dengan tangan hampa sehingga beliau keluar dari
Madinah bersama pasukannya
menuju ke kaum
Yahudi Bani Quraizhah. Orang-orang
Yahudi itu telah
mengkhianati perjanjian mereka bersama Nabi saw. Mereka menipu Islam
di saat-saat genting. Oleh kerana itu, mereka harus membayar biaya
pengkhianatan mereka sekarang.
Nabi
saw memerintahkan agar para sahabat tidak melaksanakan solat Ashar kecuali di
Bani Quraizhah. Kaum Muslim memahami bahawa perintah tersebut bererti mereka
akan menerobos benteng
kaum Yahudi sebelum
matahari tenggelam.
Orang-orang
Yahudi menelan kekalahan pahit lalu mereka datang kepada Sa'ad bin Mu'ad agar
ia memutuskan perkara mereka. Sa'ad adalah pemimpin kaum Aus dan
kaum Aus adalah
sekutu orang-orang Yahudi
Quraizhah di masa jahiliah. Kaum
Yahudi mengharap bahawa
mereka dapat memanfaatkan hubungan yang
terjalin selama ini
sebagaimana kaum Aus
membayangkan bahawa tokoh mereka akan memberikan keringanan terhadap
sekutu-sekutu mereka. Sa'ad ketika itu terluka dan ia sedang dirawat di
khemahnya kerana terkena panah kauni
Ahzab. Sebahagian kaumnya
membujuknya agar ia bersikap
baik terhadap orang-
orang Yahudi, sekutu-sekutu
mereka, dan orang-orang
Yahudi membujuknya
agar ia bersikap
lembut terhadap mereka.
Kemudian Sa'ad mengatakan penyataannya yang terkenal: "Telah tiba
waktunya bagi Sa'ad untuk memutuskan hukum sesuai dengan kehendak Allah tanpa
peduli dengan celaan para pencela." Sa'ad
memutuskan agar kaum
lelaki dibunuh dan keturunannya ditawan
serta harta-harta mereka
dibagi-bagikan. Nabi pun menyetujui keputusan
tegas Sa'ad itu.
Beliau berkata kepadanya:
"Sungguh engkau telah memutuskan kepada mereka dengan keputusan
Allah SWT dari tujuh langit."
Sa'ad
mengetahui bahawa perantaraan, permohonan, harapan, dan menjaga berbagai
pertimbangan lazim selayaknya berada di suatu genggaman, dan masa depan Islam
berada di genggaman yang lain. Yahudi Bani Quraizhah adalah penyebab
berkecamuknya peperangan Ahzab dan sumpah mereka dan berbagai tipu daya mereka
berusaha untuk memblokade Islam dan menghancurkannya. Oleh kerana itu, kini
telah tiba saatnya untuk mencabut pohon-pohon beracun dari akarnya tanpa
memperdulikan kasih sayang.
Demikianlah kaum
Yahudi dibersihkan dari
Madinah. Nabi saw
kembali melanjutkan pergelutannya. Puncak
dari perjuangan politiknya
adalah perjanjian yang beliau
lakukan bersama orang-orang
Quraisy. Nabi saw berjalan
untuk melaksanakan umrah dan
mengunjungi Baitul Haram. Beliau keluar bersama seribu empat ratus kaum
lelaki yang bertujuan untuk berziarah ke
Baitul Haram guna
melaksanakan umrah. Ketika
mereka sampai di Hudaibiyah pinggiran kota Mekah, tiba-tiba
unta yang ditunggangi Nabi duduk dan ia tidak mahu melangkah menuju Mekah.
Melihat itu para sahabat berkata: "Oh unta itu malas." Nabi saw
berkata: "Tidak Demikian namun ia ditahan oleh Zat yang
menahan laju gajah
menuju Mekah. Sungguh
jika hari ini
orang Quraisy membuat suatu rencana dan mereka meminta agar aku
menyambung tali silaturahmi nescaya aku akan menyetujuinya."
Nabi
saw memerintahkan para sahabat agar tetap tinggal di Hudaibiyah. Kaum Muslim
beristirahat di sana dengan harapan mereka dapat memasuki Mekah di waktu pagi.
Peristiwa itu bertepatan
dengan bulan Haram.
Mekah telah menetapkan agar
tak seorang pun
dari kaum Muslim
dapat memasukinya. Semua kaum
Quraisy telah keluar
untuk memerangi kaum
Muslim. Mereka mengutus utusan-utusan
kepada Nabi saw
lalu beliau memberitahu
mereka bahawa beliau tidak datang untuk berperang namun beliau ingin
melakukan umrah sebagai bentuk pujian dan syukur kepada Allah SWT dan
mengagumkan kemuliaan rumah-Nya yang
suci. Mekah menetapkan
untuk melakukan perjanjian
bersama kaum Muslim di mana mereka menginginkan agar jangan sampai kaum Muslim
memasuki Baitul Haram pada tahun ini kecuali setelah mereka kembali pada tahun
depan.
Datanglah juru
runding kaum Quraisy
lalu Rasul saw
menyambutnya dan
mendengarkan ia menyampaikan syarat-syarat perjanjian
yang intinya pelaksanaan perdamaian
dan penarikan mundur
pasukan Muslim. Nabi
saw menyetujui semua syarat-syarat perjanjian
meskipun tampak bahawa perjanjian tersebut tidak
menguntungkan kaum Muslim di mana itu dianggap sebagai titik kemunduran politik
dan militer kaum Muslim, dan yang menambah kebingungan kaum
Muslim adalah bahawa
Rasul saw tidak
melibatkan seseorang pun dari kalangan sahabatnya untuk bermusyawarah
dalam hal ini. Tidak biasanya beliau
bersikap demikian. Para
sahabat menyaksikan beliau pergi menemui kaum musyrik dan
bersikap sangat lembut kepada mereka, dan beliau tidak kembali kecuali membawa
berita persetujuan dengan perjanjian yang ditandatangani orang-orang musyrik,
dan beliau pun membubuhkan tanda tangan di atasnya.
Para sahabat
bergerak untuk menentang
Rasulullah saw. Mereka
bertanya kepada beliau, "bukankah engkau
utusan Allah SWT?
Bukankah kita kaum Muslim?
Bukankah musuh-musuh kita
kaum musyrik?" Nabi
saw hanya mengiyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Umar bin Khatab
kembali bertanya: "Mengapa kita harus menerima penghinaan dalam
agama kita?" Umar ingin mengungkapkan sesuai dengan bahasa kita saat ini,
"mengapa kita harus mundur
kalau kita berada
di atas kebenaran?
Mengapa kita menerima syarat-syarat perjanjian
yang justru menguntungkan
kaum musyrik? Apakah kita takut terhadap mereka?"
Mendengar berbagai
protes yang disampaikan
para sahabatnya, Rasul
saw justru menyampaikan jawapan yang unik bagi mereka di mana beliau
berkata: "Aku adalah hamba Allah SWT dan Rasul-Nya dan aku tidak mungkin
menentang perintah-Nya dan Dia tidak mungkin akan menyia- nyiakan aku."
Makna dari kalimat beliau adalah,
"taatilah apa yang
telah aku lakukan
tanpa perlu memperdebatkannya dan
hendaklah kalian sedikit bersabar."
Perjalanan hari
menetapkan bahawa perjanjian
yang menimbulkan pro
dan kontra di tengah-tengah
sahabat itu justru
membawa kemenangan politik paling gemilang yang pernah dicapai
oleh umat Islam. Kemenangan tersebut diperoleh sebagai hasil dari kebijaksanaan
sang Nabi saw yang mengalahkan kelihaian
politik kaum Quraisy.
Kaum Quraisy telah
memfokuskan semua kelihaian-nya
agar kaum Muslim kembali ke tempat mereka tanpa memasuki Masjidil Haram
pada tahun ini,
namun hikmah Nabi
saw justru mampu mencapai pengelihatan
yang tidak dapat
dijangkau oleh kaum
itu yang berkenaan dengan
masa depan. Jika
saat ini perjanjian
tersebut tampak membawa kekalahan
bagi kaum Muslim, maka setelah berlangsung beberapa bulan ia justru
mendatangkan kemenangan yang spektakuler.
Suhail
bin Amr adalah wakil dari delegasi kaum Quraisy dan Ali bin Abi Thalib
adalah juru tulis dalam
perjanjian itu dari
pihak Nabi saw.
Rasulullah saw berkata kepada
Ali: "Tulislah dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang." Utusan Quraisy
berkata, aku tidak
mengenal ini. Tapi
tulislah dengan nama-Mu, ya
Allah. Rasulullah saw
berkata kepada Ali:
"Dengan nama-Mu, ya Allah." Sikap keras kepala utusan Quraisy
itu tidak bererti sama sekali kerana tidak ada perbezaan yang mencolok antara
dengan namamu Allah dan dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang selain niat si pembicara.
Nabi
saw berkata kepada Ali: "Ini adalah perundingan antara Muhammad saw
utusan Allah dan
Suhail bin Amr."
Mendengar itu dengan
nada menentang Suhail bin Amr
berkata: "Seandainya aku bersaksi bahawa engkau adalah utusan Allah
nescaya aku tidak akan memerangimu, tetapi tulislah namamu dan nama
ayahmu." Nabi berkata
kepada Ali tulislah:
"Inilah kesepakatan antara Muhammad bin Abdillah dan Suhail bin
Amr."
Tampaknya
itu adalah kemunduran yang kedua dan dengan pandangan yang sekilas tampak
menjatuhkan kaum Muslim tetapi Nabi saw ingin mewujudkan suatu tujuan yang
penting yaitu tujuan yang belum terungkap saat itu. Alhasil, semuanya terjadi
dengan ilham dari Allah SWT. Ali kembali menulis bahawa Muhammad bin
Abdillah dan Suhail
bin Amr sama-sama
sepakat untuk menghentikan peperangan
selama sepuluh tahun
di mana hendaklah masing-masing mereka
memberikan keamanan terhadap
sesama mereka. Namun jika
terdapat di antara orang-orang Quraisy seseorang yang masuk Islam lalu ia
datang kepada Muhammad
saw tanpa izin
walinya hendaklah kaum Muslim mengembalikannya kepada kaum
Quraisy. Sebaliknya, jika ada orang yang
murtad dari sahabat
Muhammad saw, maka
tidak ada keharusan
bagi orang Quraisy untuk mengembalikannya kepada Nabi.
Syarat
tersebut sangat menyakitkan kaum Muslim. Tampak bahawa orang-orang Quraisy
memaksakan kehendaknya dalam syarat-syarat perjanjian yang tidak adil itu. Ali
melanjutkan tulisannya, hendaklah Nabi saw pulang dari Mekah pada tahun ini dan
tidak memasukinya dan jika pada tahun depan orang-orang Quraisy keluar darinya,
maka beliau dapat memasukinya untuk melaksanakan umrah selama
tiga hari dan
setelah itu beliau
harus meninggalkannya.
Pensyaratan tersebut sangat
merugikan kaum Muslim
dan terkesan membingungkan.
Di
tengah-tengah perjanjian tersebut terjadi suatu peristiwa yang menambah
penderitaan dan kebingungan Muslimin di mana anak dari juru runding Quraisy
meminta perlindungan kepada
kaum Muslim. Ia
masuk Islam dan
ingin bergabung dengan kelompok
Islam namun ayahnya,
Suhail segera bangkit menyusulnya bahkan
memukulnya dan mengembalikannya kepada
kaumnya. Orang Mukalaf itu segera
berteriak dan meminta
pertolongan kepada kaum Muslim agar
mereka menyelamatkannya dari kejahatan kaum Quraisy sehingga mereka tidak
mengubah agamanya. Rasulullah saw berbicara kepadanya dan meminta kepadanya
untuk bersabar dan tegar
dalam menanggung penderitaan
kerana Allah SWT akan menjadikannya dan
orang-orang yang sepertinya
suatu jalan keluar
dan kelapangan.
Nabi memahamkannya
bahawa beliau telah
mengadakan suatu perjanjian dengan kaum
Quraisy dan bahawa
kaum Muslim tidak
mungkin melanggar perjanjian
mereka.
Akhirnya,
anak Muslim itu dikembalikan ke Mekah
dalam keadaan terseksa. Kemudian Selesailah penandatanganan perjanjian
antara pihak kaum Muslim dan pihak kaum musyrik. Setelah penandatanganan
perjanjian itu, Rasulullah saw memerintahkan para sahabatnya agar mereka
memotong haiwan korban dan mencukur rambut mereka (tahalul) dari umrah mereka dan kembali ke
Madinah. Namun tak seorang pun bangkit menyambut perintah tersebut, lalu beliau
mengulangi perintahnya ketiga kali. Di tengah-tengah kaum Muslim yang tampak
membisu kerana ketegangan dan kesedihan, beliau menyembelih unta dan memanggil
tukang cukurnya untuk mencukur rambutnya dan beliau tidak berbicara dengan
seorang pun. Ketika para sahabat mengetahui bahawa Nabi saw tampak
marah dan telah
mendahului mereka dengan
tahalul dari umrahnya, maka
mereka bangkit untuk menyembelih korban dan memotong rambut mereka.
Perjalanan
hari menunjukkan bahawa perundingan tersebut tidak seperti yang dibayangkan
oleh kaum Muslim. Ia justru membawa kemenangan dan bukan kekalahan. Persatuan
kaum kafir di jazirah Arab mulai runtuh sejak mereka menandatangani perjanjian
itu. Kaum Quraisy
di anggap sebagai
pimpinan kaum kafir dan pembawa bendera penentangan terhadap Islam, maka
ketika tersebar berita perjanjian
mereka bersama kaum Muslim,
maka padamlah fitnah-fitnah kaum
munafik yang bekerja untuk mereka dan bercerai-berailah kabilah-kabilah
penyembah patung di penjuru jazirah.
Saat
aktiviti kaum Quraisy terhenti, maka kaum Muslim mengalami peningkatan
aktiviti di mana
mereka berhasil menarik
orang-orang yang masih
memiliki kemampuan untuk melihat
kebenaran. Sejak dua
tahun dari masa penandatanganan perjanjian
itu jumlah penganut
Islam semakin bertambah lebih dari jumlah sebelumnya. Bukti
dari itu adalah, bahawa saat Rasul saw keluar ke Hudaibiyah beliau ditemani
dengan seribu empat ratus Muslim namun ketika beliau keluar pada tahun
penaklukan kota Mekah beliau disertai dengan sepuluh ribu Muslim.
Penaklukan
kota Mekah terjadi setelah dua tahun dari perundingan tersebut. Penambahan jumlah
kaum Muslim yang
luar biasa ini
adalah dikeranakan hikmah sang
Nabi saw dan kejauhan pandangannya. Nabi saw keluar sebagai pemenang dalam
pergelutan politiknya, dan syarat-syarat yang
tadinya merugikan kaum Muslim
kini telah berubah
menjadi syarat- syarat
yang merugikan kaum Quraisy. Barang siapa murtad dari kaum Muslim dan
pergi ke kaum Quraisy, maka hendaklah mereka melindunginya kerana Allah SWT
telah memampukan Islam darinya, dan barang siapa yang masuk Islam dari kaum
kafir dan pergi ke kaum Muslim, maka hendaklah mereka mengembalikannya ke kaum
Quraisy di mana ia tinggal di dalamnya sebagai mata-mata dari pihak Islam atau
ia dapat lari dari kaum Quraisy untuk menyatukan kelompok yang bertikai dan ia
dapat hidup laksana duri di tengah-tengah kaum Quraisy.
Belum
lama waktu berjalan sehingga kaum Quraisy mengutus utusannya kepada Nabi saw
dan mengharap kepada beliau agar melindungi orang Quraisy yang masuk Islam
daripada membiarkan mereka sebagai panah yang terbang menuju kaum Quraisy.
Demikianlah kaum Quraisy
justru membatalkan syarat
yang telah mereka diktekan
dan Nabi saw
pun menerimanya dengan
puas. Perundingan itu justru menguatkan barisan Nabi saw.
Demikianlah Nabi
saw terus menjalani
mata rantai pergelutan
yang tiada henti-hentinya di mana
kehidupan beliau yang peribadi sekali pun tidak sunyi dari penderitaan. Nabi
saw menikahi sembilan orang isteri. Perkahwinan beliau dengan sembilan isteri
tersebut merupakan keistimewaan peribadi yang hanya beliau miliki
kerana berhubungan dengan
sebab-sebab dakwah Islam.
Yaitu suatu dakwah yang
membolehkan para pengikutnya
untuk menikahi empat orang
isteri dengan syarat
jika yang bersangkutan
mampu menciptakan keadilan di
antara mereka, dan ia menganjurkan untuk hanya puas dengan satu isteri jika
seorang Muslim khawatir tidak dapat berbuat adil.
Kaum
orientalis dan musuh-musuh Islam mencuba untuk menghina Nabi dan
memujukkannya, dan salah
satu cela yang
mereka manfaatkan adalah perkahwinan beliau
dengan sembilan wanita.
Kita mengetahui bahawa pernikahan-pernikahan beliau
terlaksana dengan sebab-sebab
politik atau kemanusiaan yang
berhubungan dengan dakwah Islam. Dan yang terkenal dari sejarah Nabi saw adalah
bahawa beliau menikah dengan Sayidah Khadijah saat beliau berusia dua puluh
lima tahun dan Khadijah berusia empat puluh tahun. Semasa hidup Khadijah beliau
tidak menikahi isteri yang lain sampai Khadijah mencapai usia enam puluh lima
tahun. Saat Khadijah meninggal, Nabi berusia di
atas lima puluh
tahun. Beliau menikahi
Khadijah sebelum beliau
diutus untuk menyebarkan Islam.
Beliau tetap setia
bersama Khadijah sampai
ia meninggal dan beliau
diangkat menjadi Nabi.
Namun beban kenabian
dan beratnya jihad, kasih sayangnya kepada manusia, pengorbanannya
terhadap Islam dan perintah Allah SWT semua itu memaksanya untuk menikah lebih
dari satu orang isteri sampai mencapai sembilan orang isteri. Perkahwinan
beliau dengan Aisyah yang
saat itu masih
belia merupakan usaha
untuk menjalin ikatan dengan Abu
Bakar, ayah dari Aisyah dan perkahwinan beliau dengan Hafshah meskipun
ia sedikit kurang
cantik merupakan usaha
beliau untuk menjalin ikatan
dengan Umar, ayahnya. Beliau juga menikah dengan Ummu Salamah, janda dari
pemimpin pasukannya yang mati syahid di jalan Allah SWT
dan
wanita itu merasakan penderitaan bersama beliau saat hijrah di Habasyah
dan hijrah ke
Madinah. Ketika suaminya
meninggal dan ia
sendirian menghadapi
berbagai persoalan kehidupan,
maka Nabi saw
segera merangkulnya di rumah kenabian. Perkahwinan beliau dengan Sawadah
sebagai bentuk penghormatan terhadap keislaman wanita itu dan kemuliaannya dari
kaum lelaki serta kesendiriannya dalam menjalani kehidupan.
Sementara
itu, pernikahan beliau dengan Zainab bin Jahasy merupakan ujian berat bagi
beliau di mana perintah pernikahan itu datang dari Allah SWT untuk mengharamkan
suatu tradisi yang terkenal di kalangan jahiliah yaitu tradisi adopsi. Zainab
termasuk kerabat Rasul. Jadi ia termasuk dari kalangan bani Hasyim. Ia merasa
bangga dengan nasab yang dimilikinya yang kerananya ia menolak ketika
ditawari untuk menikah
dengan Zaid bin
Harisah, seorang budak Nabi
yang telah beliau
bebaskan, bahkan nasabnya
telah beliau nisbatkan kepada
dirinya dan beliau telah mengadopsinya sehingga ia dipanggil
dengan sebutan
Zaid bin Muhammad.
Namun Zainab akhirnya
menyetujui pendapat Nabi dan perintah Allah SWT sehingga ia menikah
dengan Zaid: "Dan tidaklah patut
bagi laki-laki yang
mukmin dan tidak
pula bagi perempuan yang
mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya
telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain
tentang urusan mereka. Dan barang siapa menderhakai Allah dan Rasul-Nya, maka
sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. " (QS. al-Ahzab: 36)
Sejak
semula tampak jelas bahawa pernikahan tersebut akan segera berakhir.
Zainab tidak menyukai
Zaid dan Zaid
pun bukan jenis
lelaki yang mampu menahan kehidupan bersama seorang
wanita yang hatinya jauh darinya. Zaid datang kepada Nabi saw guna mengadu
kepada beliau dan meminta izin untuk menceraikan isterinya.
Allah SWT mewahyukan
kepada Rasul-Nya agar membiarkan Zaid menceraikan isterinya,
lalu hendaklah beliau menikahinya. Nabi saw merasakan kesulitan yang luar biasa
dan beliau berbicara kepada Zaid agar
ia terus melangsungkan kehidupannya dan
bersabar. Nabi saw membayangkan apa yang dikatakan manusia
kepadanya bahawa ia menikahi isteri
dari anaknya tetapi
apa yang dikhuatirkan
oleh Nabi saw
justru merupakan sesuatu yang ingin dihapus oleh Allah SWT. Zaid
bukanlah anaknya dan dalam Islam tidak ada sistem adopsi. Oleh kerana itu, Zaid
dapat mencerai isterinya lalu Nabi
dapat menikahi Zainab
untuk menetapkan apa
yang diinginkan oleh Islam. Rasulullah saw mampu bersabar dan menahan
diri saat mendengar berbagai ocehan yang akan dikatakan oleh manusia kepadanya.
Ini bukanlah pengorbanan pertama dan terakhir yang beliau persembahkan untuk
Islam. Berkenaan dengan itu, Allah SWT berfirman:
"Dan
(ingatlah), ketika
kamu berkata kepada
orang yang Allah
telah melimpahkan nikmat kepadanya
dan kamu (juga)
telah memberi nikmat kepadanya: 'Tahanlah terus isterimu
dan bertakwalah kepada Allah,' sedang kamu
menyembunyikan di dalam
hatimu apa yang
Allah akan menyatakannya, dan
kamu takut kepada manusia, sedang Allah- lah yang lebih berhak kamu takuti.
Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami
nikahkan kamu dengan
dia supaya tidak ada
keberatan bagi orang-
orang mukmin untuk
(menikahi) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak
angkat itu telah menyelesaikan keperluannya dari isterinya. Dan adalah
ketetapan Allah itu pasti terjadi. " (QS. al-Ahzab: 37)
Pernikahan
beliau dipenuhi dengan unsur politik dan usaha untuk menyebarkan kebaikan dan
rahmat serta penghormatan nilai-nilai
yang tinggi dan menggabungkannya di rumah kenabian.
Sementara itu, Ummu Habibah binti Abu
Sofyan bin Harb,
pemimpin Quraisy dalam
memerangi Islam, berhijrah bersama suaminya ke Habasyah.
Ia
berhadapan dengan keterasingan dan kekhuatiran dalam membela agama Allah SWT.
Kemudian suaminya mati
meninggalkannya sendirian dalam menjalani kehidupan. Sikapnya yang
mulia demi menegakkan ajaran Islam dan hanya menentang ayahnya merupakan nilai
lebih yang menyebabkan Rasulullah saw tertarik untuk menggabungkannya di rumah
kenabian.
Pada suatu
hari, Abu Sofyan
menemuinya saat ia
telah menjadi isteri Rasulullah saw. Abu Sofyan ingin duduk
di atas tempat tidur Nabi lalu Ummu Habibah berusaha menjauhkan tempat tidur
itu dari ayahnya. Melihat sikap anaknya
itu, ayahnya bertanya
kepadanya: "Apakah engkau
mulai membenciku?" Dengan penuh keberanian ia menjawab: "Ini
adalah tempat tidur Rasulullah saw dan engkau adalah seorang musyrik, maka engkau
tidak boleh menyentuhnya."
Adapun Shofiyah
binti Huyay adalah
anak seorang raja
Yahudi. Sedangkan Juwairiyah
binti Haris, ayahnya seorang pemimpin kabilah Bani Musthaliq. Bani Musthaliq
menelan kekalahan saat berhadapan dengan kaum muslim lalu kedua anak perempuan
raja dan pemimpin
kabilah itu jatuh
menjadi tawanan. Pernikahan Nabi
dengan kedua wanita itu terkesan dipaksa oleh orang-orang yang kalah itu dan
sebagai ajakan agar kaum Muslim memperlakukan mereka dengan baik. Mula-mula
kaum Muslim menolak untuk bersikap lembut terhadap ipar-ipar Nabi,
namun Nabi dengan
kelembutan sikapnya ingin
menyingkap aspek kemanusiaan dalam peperangannya dan beliau
mengisyaratkan kepada kaum Muslim agar
mereka menunjukkan persaudaraan
sesama manusia. Peperangan itu
sendiri bukan sebagai
tujuan namun ia
sebagai usaha mempertahankan
Islam dan aspek tertinggi dari Islam adalah rahmat dan cinta.
Jadi
Nabi saw menikahi wanita-wanita dari orang-orang yang kalah itu dengan maksud
agar kebebasan dan kemuliaan kembali kepada keluarga mereka dan mereka dapat
masuk Islam secara puas dan sukarela. Kemudian beliau menikah dengan Maryam
al-Qibtiyah. Muqauqis telah
memberikannya kepada Nabi sebagai budak di mana itu merupakan
simbol tali kasih yang diisyaratkan oleh Al-Qur'an antara Islam dan Masihi dan
sebagai bentuk hukum bagi kaum Muslim dengan dihalalkannya pernikahan dengan
wanita-wanita ahlul kitab.
Maryam
memberikan anak kepada Nabi saw yang bernama Ibrahim, nama dari datuknya, bapak
para nabi. Namun Ibrahim tidak hidup lama. Ia meninggal saat masih menyusu.
Kematiannya merupakan ujian bagi Nabi dan sebagai isyarat dari Ilahi bahawa
pewaris-pewaris Rasul dari kaum lelaki adalah para pengikut Al-Qur'an dan para
pembawa Islam, bukan anak-anak dari sulbinya.
Salah jika
ada orang yang
membayangkan bahawa Rasul
saw mempunyai banyak waktu
untuk mencari kesenangan
meskipun halal. Kesenangan diperbolehkan bagi orang lain
namun beliau lebih memilih untuk merasakan penderitaan berjihad,
menegakkan hukum, dan
kesabaran. Salah jika
ada orang yang membayangkan
bahawa Rasul saw
hidup di rumahnya
dengan keadaan ekonomi yang lebih baik daripada orang yang termiskin
dari kalangan Muslim di zamannya.
Kehidupan beliau
di rumahnya penuh
dengan kezuhudan yang
luar biasa sehingga sebahagian
isterinya mengeluhkan keadaan
tersebut. Di antara mereka ada yang berasal dari keluarga
yang kaya seperti keluarga Abu Bakar atau
keluarga Umar bahkan
sebahagian isterinya bersatu
untuk meminta kepada beliau
agar beliau menambah
nafkah mereka sehingga
Nabi meninggalkan
isteri-isterinya, lalu tersebarlah
isu yang menyatakan
bahawa beliau telah menceraikan
semua isterinya. Kemudian
turunlah ayat Takhyir (yaitu ayat
yang memberikan pilihan
kepada isteri-isteri Nabi
untuk tetap menjadi isteri
beliau atau diceraikannya). Turunlah
Al- Qur'an al-Karim memberikan pilihan
pada isteri-isteri Nabi
antara menjalani kehidupan
di rumah kenabian dengan
penuh kesederhanaan atau
menerima perceraian.
Allah
SWT berfirman:
"Hai
Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: 'Jika kamu sekalian mengingini
kehidupan dunia dan
perhiasannya, maka marilah
supaya kuberikan kepadamu mut'ah
dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian
menghendaki (keridhaan)
Allah dan Rasul-Nya
serta (kesenangan) di negeri
akhirat, maka Sesungguhnya
Allah menyediakan siapa yang
berbuat baik di antaramu pahala yang besar. " (QS. al-Ahzab: 28-29)
Selesailah fitnah.
Demikianlah pergelutan di
rumah Rasul saw.
Akhirnya, isteri-isteri
beliau memilih kehidupan
zuhud dan bersabar
serta akhirat daripada kehidupan
dunia. Permintaan isteri-isteri nabi tidak melebihi hal-hal yang bersifat
mubah, namun Rasul saw merupakan teladan bagi seluruh umat, kerana itu
beliau harus menjadi
teladan bagi umat
sehingga beliau dapat menjadi cermin tertinggi yang layak di
emban oleh seorang yang memegang tampuk
kepemimpinan Muslimin. Allah
SWT telah membalas
pengorbanan isteri-isteri
Nabi saw dalam
bentuk mengangkat kedudukan
mereka dan menjadikan mereka
sebagai ibu dari kaum mukmin. Allah SWT berfirman:
"Nabi itu (hendaknya) lebih
utama bagi orang-orang
mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya
adalah ibu-ibu mereka." (QS. al- Ahzab: 6)
Dan,
sebagai penegasan terhadap keibuan spirituil ini, Islam mewajibkan hijab yang
teliti kepada mereka, yaitu suatu hijab yang tidak diperlakukan seperti itu
kepada Muslimah-Muslimah lain. Nabi saw melanjutkan dakwahnya. Beliau
mengirim surat ke
raja-raja dan para
penguasa di mana
beliau ingin menunjukkan universalitas
ajaran Islam. Nabi
saw mengajak Kaisar
Romawi untuk mengikuti Islam,
lalu beliau mengirim
utusan ke Amir
Damaskus mengajaknya untuk memeluk
Islam, dan beliau
mengutus utusan ke
Amir Basrah bahagian dari wilayah Romawi dan mengajaknya untuk mengikuti
Islam, dan beliau juga mengirim surat
ke penguasa Qibti
dan mengajaknya untuk masuk
Islam, dan beliau
juga menulis surat
ke Kisra, Raja
Persia dan mengajaknya untuk
mengikuti Islam. Beliau
juga mengirim utusan
ke Amir Bahrain dan mengajaknya
untuk mengikuti Islam.
Lalu
berbagai reaksi disampaikan berkenaan dengan surat-surat Nabi itu. Di
antara mereka ada
yang berusaha menyampaikan
kepada pembawa surat bahawa ia masuk Islam dan
mengembalikannya dengan hadiah, dan di antara mereka ada
yang merobek-robek surat
itu dan di
antara mereka ada
yang membalas surat itu dengan jawapan yang baik, dan di antara mereka
ada yang menerima kebenaran. Demikianlah hari berlalu dalam pergelutan yang
tidak pernah padam, suatu
pergelutan yang dipimpin
oleh Nabi sehingga
beliau menaklukkan Mekah dan menyucikan jazirah Arab. Akhirnya, manusia
masuk dalam agama Allah SWT dalam keadaan berbondong-bondong, dan Allah SWT
menyempurnakan agama bagi kaum Muslim dan Nabi saw melaksanakan haji wada'
(haji yang terakhir)
dan turunlah kepada
beliau wahyu di
Arafah sebagaimana firman-Nya:
"Pada hari
ini telah Ku-sempurnakan untuk
kamu agamamu, dan
telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi
agama bagimu. " (QS. al-Maidah: 3)
Ayat
tersebut dibacakan kepada Abu Bakar sehingga ia menangis. Allah SWT merasa
bahawa telah tiba waktunya untuk mengakhiri misi Rasul- Nya. Aisyah berkata
kepada anak-anak yang berteriak dan bermain-main di luar rumah:
"Diamlah kalian kerana
Rasulullah saw sedang sakit."
Anak- anak itu
pun terdiam dan mereka
merasakan ketakutan yang
luar biasa. Pada
hari-hari terakhir, Rasulullah saw tidak lagi bercanda dengan mereka
sebagaimana yang biasa beliau lakukan.
Mereka
memperhatikan bahawa kepucatan yang aneh menyelimuti Nabi saw yang biasanya
wajah beliau dipenuhi
dengan senyuman hingga
wajahnya laksana lempengan emas. Nabi saw yang terakhir masuk dalam
rumahnya dan hampir saja beliau
tidak kuat menahan
langkah kedua kakinya.
Beliau memasuki rumahnya dan bersandar kepada tangan Fadl bin Abbas dan
Ali bin Abu Thalib. Beliau
merasakan keletihan dan
kesakitan. Kemudian Aisyah menidurkan beliau
di atas ranjangnya
yang kasar dan
Aisyah meletakkan tangannya di
atas kening beliau. Kepala beliau tampak panas kerana saking hebatnya demam.
Aisyah berkata dalam keadaan kedua matanya mengucurkan air mata, "demi
ayah dan ibuku, ya Rasulullah apakah engkau merasakan sakit?" Nabi saw
tersenyum untuk menenangkan Aisyah lalu beliau tertidur. Kemudian
mengalirlah dalam memori
Nabi saw berbagai
gambar hidup: Jibril
turun kepada beliau dengan membawa wahyu di gua Hira. Beliau telah
melewati waktu yang diberkati
selama dua puluh
tiga tahun, yang
sekarang tampak seperti mimpi. Bahkan
empat puluh tahun yang mendahuluinya tampak seperti gambar yang hanya dilukis
sesaat.
Segala sesuatu
menjadi mudah bagi
Allah SWT dan
Rasulullah saw telah berhasil melalui berbagai penderitaan
dengan penuh kesabaran, bahkan beliau tidak pernah mengeluh sekali pun. Beliau mengajarkan akidah kepada para
pengikutnya dengan penuh kemantapan. Akhirnya, Islam menjadi mulia dan
benderanya semakin berkibar.
Kemudian beliau bangun
kerana melihat tangisan yang
tersembunyi dari Aisyah. Beliau membuka kedua matanya dan melihat wajah
Aisyah sambil beliau
sendiri berusaha melawan
rasa pusing, demam, dan
sakit yang dirasakannya.
Beliau kembali tersenyum
untuk menenangkan Aisyah dan
beliau kembali memejamkan
matanya dan tidak sedarkan diri.
Apa gerangan yang
menyebabkan Aisyah menangis?
Tidakkah Allah SWT memahkotai jihad Nabi saw yang berat dengan
penaklukan Mekah dan penyucian Baitul Haram?
Berbagai
gambar hidup dan aktual melayang-layang dalam memori Nabi saw. Beliau mengingat
bagaimana tindakan orang
Quraisy ketika membantalkan perjanjian Hudaibiyah dan mereka
memerangi Khaza'ah yang saat itu bersekutu dengan kaum
Muslim dan akhirnya
mereka membunuh semua
sekutu kaum Muslim di
Baitul Haram. Kemudian
beliau berjalan bersama
pasukan yang berjumlah sepuluh
ribu di mana semua pasukan telah siap, dan tentera Muslim turun dari gunung
Mekah laksana air bah yang tidak berhenti sedikit pun. Telah lewatlah masa
para pembawa tombak,
panah, dan pedang;
telah lewatlah masa di mana
Rasulullah saw memimpin pasukan yang di dalamnya terdapat kaum Muhajirin
dan Anshar. Di
tengah-tengah pasukan besar
tersebut yang berhasil menaklukkan
Mekah, Nabi saw
menunggangi untanya dan
beliau menundukkan kepalanya dengan
penuh rendah diri
di hadapan Allah
SWT sampai-sampai kepalanya hampir menyentuh punggung unta yang dinaiki.
Pintu Mekah terbuka untuk pasukan ini.
Para pemimpin
Mekah dan pengikut-pengikut mereka
menyerahkan diri. Kalimat Allah
SWT semakin meninggi di dalamnya. Nabi saw memasuki Baitul Haram lalu beliau
berkeliling di sekitar Ka'bah. Beliau menghancurkan berbagai patung yang
berbaris di sekitarnya, lalu beliau memukulnya dengan kapaknya. Kemudian patung-patung itu
berjatuhan dan hancur.
Setelah beliau membersihkan masjid
dari berbagai patung
dan mengembalikannya
sebagaimana yang diciptakan
oleh Allah SWT
sebagai rumah tauhid
yang mutlak, beliau menoleh
kepada orang Quraisy dan
memaafkan mereka dan mengajak mereka untuk kembali ke jalan
Allah SWT. Kemudian tibalah waktu solat, lalu Bilal naik di atas punggung
Ka'bah dan mengumandangkan Azan. Penduduk
Mekah mendengarkan panggilan
baru ini di
mana gemanya berputar-putar di
antara gunung:
"Allah
Maha Besar. Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahawa
Muhammad utusan Allah. Marilah melaksanakan solat. Marilah menuju
keberuntungan. Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah." Akhirnya, rumah
itu dikembalikan kehormatannya dan
kemuliaannya. Kemudian lagi-lagi
arus berbagai gambar terlintas dalam memorinya: itulah peperangan Hunain
dengan kekalahannya, kemenangannya, dan ganimahnya; Itulah Nabi
saw yang memberikan
ganimah terhadap orang-
orang yang bergabung dengan Islam
hanya dua hari dari penduduk Mekah, dan mencegah untuk memberi ganimah Hunaian
kepada kaum Anshar yang telah memberikan segalanya untuk Islam. Salah seorang
di antara mereka berkata: "Demi Allah, Rasulullah saw telah menemui
kaumnya." Sa'ad bin 'Ubadah berjalan ke arah Rasulullah saw dan
memberitahunya bahawa kaum Anshar sedang marah. Rasul saw bertanya:
"Mengapa marah?" Sa'ad menjawab: "Mereka protes saat engkau
membagikan ganimah ini pada kaummu dan pada seluruh orang Arab namun mereka
tidak mendapatkan apa-apa." Rasulullah saw bertanya kepada Sa'ad bin
Ubadah: "Kamu sendiri bagaimana pendapatmu wahai Sa'ad?" Sa'ad
berkata: "Aku tidak lain
kecuali seseorang dari
kaumku." Rasulullah saw
berkata: "Kumpulkanlah
kepadaku kaummu untuk
masalah yang penting
ini dan jika kalian telah berkumpul, maka beritahulah
aku."
Sa'ad
mengumpulkan seluruh kaum
Anshar lalu ia
memberitahu Rasul saw bahawa
ia telah mengumpulkan
mereka. Rasulullah saw keluar
menemui mereka dan berdiri di hadapan mereka sambil memuji Allah SWT dan
kemudian berkata: "Wahai orang-orang Anshar, tidakkah aku datang kepada
kalian saat kalian dalam keadaan
sesat lalu Allah
SWT memberikan petunjuk
kepada kalian, dan kalian menjadi orang-orang yang fakir lalu Allah SWT
memampukan kalian, dan kalian dalam keadaan bermusuhan lalu Allah SWT
menyatukan hati kalian?" Mereka menjawab: "Benar." Rasulullah
saw berkata: "Mengapa kalian tidak menjawab wahai kaum Anshar?" Mereka berkata: "Apa
yang kita akan katakan wahai Rasulullah dan dengan apa kita akan menjawabnya.
Sungguh segala kurnia hanya milik Allah SWT dan Rasul-Nya."
Rasulullah
saw berkata: "Demi Allah, seandainya kalian mahu nescaya kalian akan
mengatakan dan benar apa yang kalian katakan: Engkau datang kepada kami sebagai
seorang yang terusir,
maka kami melingdungimu
dan engkau datang dalam
keadaan miskin lalu
kami menghiburmu dan
engkau datang dalam keadaan
ketakutan lalu kami
mengamankanmu dan engkau
datang dalam keadaan teraniaya lalu kami menolongmu." Mereka
berkata: "Segala puji dan kurnia bagi
Allah SWT dan
Rasul-Nya." Rasulullah saw
berkata: "Wahai kaum Anshar,
apakah kalian akan marah terhadap harta yang telah aku berikan kepada suatu
kaum dengan harapan agar keimanan meresap dalam hati mereka dan kalian justru
melupakan kurnia yang telah Allah SWT berikan kepada kalian dalam bentuk nikmat
Islam. Tidakkah kalian wahai kaum Anshar merasa puas ketika manusia pergi untuk
melakukan perjalanan di musim dingin sedangkan kalian pergi dengan Rasulullah
saw. Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya manusia melalui suatu
jalan dan kaum Anshar melalui jalan yang lain nescaya aku akan melalui jalan
kaum Anshar. Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar dan anak-anak kaum Anshar dan
cucu kaum Anshar."
Mendengar doa
itu, kaum tersebut
menangis sehingga janggut
mereka terbasahi dengan air mata dan mereka berkata: "Kami rela
dengan Allah SWT sebagai Tuhan dan
sangat puas dengan
pembahagian Rasulullah saw." Kemudian Nabi
saw pun meninggalkan
mereka dan mereka
pergi dalam keadaan puas.
Orang-orang Anshar memahami bahawa Muslim yang hakiki di dunia adalah
seorang yang datang
di dunia untuk
memberi, bukan untuk mengambil. Nabi
saw terbangun dan
beliau mendapati dirinya
sendirian di kamar. Suhu tubuh
beliau meningkat kerana demam, lalu beliau memanggil Aisyah dan meminta
kepadanya untuk membawa air yang dapat digunakannya untuk mendinginkan
tubuhnya. Aisyah mulai menuangkan air kepada Rasulullah saw sampai demam beliau
beransur- ansur sedikit menurun. Tampak bahawa waktu berlalu
cukup lambat dan
berat. Sakit Rasulullah
saw semakin meningkat.
Beliau mulai
merasa bahawa tidak
mampu lagi untuk
solat bersama para sahabat, lalu beliau memerintahkan Abu
Bakar untuk solat bersama mereka. Pada
saat Nabi mengalami
antara keadaan terjaga
dan tidur, beliau
selalu berfikir apa gerangan
yang belum disampaikannya kepada
manusia. Beliau telah menyampaikan
segala sesuatu dan
telah mengajari mereka
segala sesuatu serta telah meninggalkan sebuah Kitab yang siapa pun
berpegangan dengannya ia tidak akan sesat.
Rasul saw
mulai mengantuk dan
berbagai nostalgia terlintas
di kepalanya. Beliau melihat
dirinya di haji
Wada'. Selesailah perjanjian
yang diberikan kepada kaum
musyrik dan mereka
telah dilarang untuk
memasuki Masjidil Haram dan
sekarang Nabi saw keluar sebagai pemimpin haji dan mengajari kaum Muslim
cara manasiknya. Rasulullah
saw memperhatikan ribuan orang-orang yang bertauhid saat
mereka menuju Baitul Haram dalam keadaan memenuhi panggilan
Tuhan dan tunduk
kepadanya. Mereka menghidupkan memori datuk mereka, Ibrahim
Khalilullah. Nabi saw berdiri dan berpidato di tengah-tengah keramaian itu.
Nabi saw mulai merasakan bahawa kehidupannya di dunia sebentar lagi akan
berakhir. Beliau mengetahui bahawa kafilah ini akan pergi sendirian dalam
menjalani kehidupan. Beliau kembali menanamkan nilai- nilai
Islam dan wasiat
dakwah di jalan
Allah SWT. Setelah
berjuang selama dua puluh tiga tahun menegakkan agama Allah SWT, beliau
bertanya kepada mereka: "Apakah
aku telah menyampaikan
amanat Tuhan?" Lalu manusia
yang hadir saat
itu menyatakan bahawa
beliau benar-benar telah menyampaikan dakwah. Beliau memanggil
Mu'ad bin Jabal dan mengajarinya bagaimana
berdakwah kepada manusia
di jalan Allah
SWT dan bagaimana mengenalkan agama kepada mereka.
Kemudian
beliau berwasiat kepada Mu'ad saat ia menunggangi kenderaannya sedangkan
Rasulullah saw berjalan di sebelah untanya: "Sesungguhnya orang yang paling
utama di sisiku
adalah orang-orang yang
bertakwa, siapa pun mereka dan di mana pun mereka." Nabi
saw adalah rahmat bagi semua manusia dan sebagai cermin yang tertinggi dari
cermin persaudaraan dan kepatuhan. Beliau
menegakkan Al-Qur'an di
tengah-tengah umat Islam
namun beliau menolak segala bentuk
penampilan yang biasa melekat pada seorang penguasa atau raja atau pemimpin apa
pun. Beliau berkata kepada para sahabatnya: "Aku hanya seorang hamba Allah
SWT dan Rasul-Nya."
Beliau keluar
menemui sekelompok sahabatnya
lalu sebagai bentuk penghormatan kepada beliau mereka
berdiri. Kemudian beliau memerintahkan kepada
mereka agar tidak
berdiri. Ketika beliau
keluar untuk menemui sahabat-sahabatnya dan
murid-muridnya, maka beliau duduk bersama mereka di tempat terakhir yang
ditemukannya. Beliau sangat bersahabat dan ramah dengan para sahabatnya, bahkan
beliau bercanda dengan anak-anak mereka dan mendudukkan mereka di ruangannya.
Beliau memenuhi panggilan orang dewasa
mahupun anak- anak.
Beliau membesuk orang-orang
yang sakit meskipun berada di
tempat yang jauh. Beliau menerima alasan
orang yang mempunyai uzur. Beliau
mendahului orang yang
ditemuinya dengan salam bahkan beliau mendahului berjabat
tangan dengan para sahabatnya.
Ketika seseorang
datang untuk menemuinya
saat beliau solat,
maka beliau mempersingkat solatnya
dan menanyakan keperluan
orang itu. Setelah menyelesaikan keperluan
manusia, beliau kembali
menyelesaikan solatnya.
Beliau selalu menebar
senyum kepada kawan
dan lawan dan
memiliki keperibadian yang paling
baik. Ketika beliau
berada di rumahnya,
beliau melayani keluarganya. Beliau mencuci bajunya. Beliau memperbaiki
sandalnya dan memberi minum unta. Beliau makan bersama pembantu. Beliau
memenuhi kebutuhan orang yang lemah, orang yang sedih, dan orang yang miskin. Bahkan
kebaikan beliau dan
kasih sayangnya sampai
pada tingkat di
mana beliau membiarkan cucunya
menaiki punggungnya saat beliau sedang solat.
Kasih
sayang beliau tidak hanya terbatas kepada manusia bahkan juga tertuju pada
binatang dan pohon. Beliau memberi makan binatang dengan tangannya sendiri bahkan
beliau pernah merawat
anjing yang sakit.
Beliau memerintahkan pasukan Islam saat berperang demi menegakkan
keadilan Islam agar mereka tidak
membunuh anak kecil,
orang tua, kaum
wanita dan hendaklah mereka tidak
mencabut pohon dan tidak pula merobohkan rumah.
Apa yang
dibawa oleh Nabi
saw bukan hanya
suatu undang-undang yang mengatur
hubungan antara manusia
dan manusia yang
lain, dan apa
yang dibawa oleh Nabi saw bukan hanya berisi suatu sistem untuk
meningkatkan kualiti kehidupan dan kemajuannya, ini semua adalah hal relatif
namun beliau datang dengan membawa
peradaban yang abadi
yang mengatur hubungan antara manusia
dan alam, dan
mengembalikan keserasian di
alam wujud sehingga semua
berjalan secara seimbang dan mencapai kesempurnaan menuju Allah SWT. Meskipun
pada titik terakhir dari kehidupannya, beliau masih sibuk mengurus masa depan
dakwah dan beliau sangat cemas terhadap masa depan agama dan sangat peduli
dengan masalah kaum Muslim. Beliau khawatir suatu saat Islam
hanya tinggal namanya
namun hakikatnya telah
lenyap. Namun sebelum beliau
meninggal, Allah SWT
telah memperlihatkan kepada
beliau sesuatu yang membuat
hati beliau menjadi
tenang. Dan di
hari Senin dari bulan Rabiul Awal yang mulia, beliau
kembali kepada Tuhannya dalam keadaan ridha dan diridhai. Salam kepadamu ya
Rasulullah dan kepada keluarga serta sahabat yang setia bersamamu.
No comments:
Post a Comment