Matahari tampak
akan tenggelam, angin
pun bertiup sepoi-sepoi
di sekitar pepohonan. Harum
semerbak mulai memenuhi
mihrab Maryam. Bau
itu menembus jendela mihrab
dan mengepakkan sayapnya
di sekeliling gadis perawan yang khusyuk dalam solat tanpa
seorang pun mendengar suaranya. Maryam merasa bahawa udara dipenuhi dengan bau
harum yang mengagumkan. Ia kembali melakukan
solatnya dengan khusyuk
dan mengungkapkan syukur kepada Allah SWT.
Seekor
burung hinggap di jendela mihrab. Ia mengangkat paruhnya ke atas dan
mengarahkan ke matahari serta mengepakkan kedua sayapnya lalu ia terjun ke air
dan mandi di dalamnya. Kemudian ia terbang ringan di sekitamya. Maryam ingat
bahawa beliau lupa untuk menyirami pohon mawar yang tumbuh secara
tiba-tiba di tengah
dua batu yang
tumbuh di luar
masjid. Maryam menyelesaikan
solatnya lalu ia keluar dari mihrab dan menuju pohon. Belum selesai beliau
siap-siap untuk keluar sehingga para malaikat memanggilnya:
"Hai
Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan
kamu atas segala
wanita di dunia
(yang semasa dengan kamu)." (QS. Ali 'Imran: 42)
Maryam
berhenti dan tampak wajahnya yang pucat dan semakin bertambah. Mihrab itu
dipenuhi dengan kalimat-kalimat para malaikat yang memancarkan cahaya. Maryam
merasa bahawa pada hari-hari terakhir terdapat perubahan pada suasana
rohaninya dan fiziknya.
Di tempat itu
tidak terdapat cermin sehingga ia
tidak dapat melihat
perubahan itu. Tetapi
ia merasa bahawa darah,
kekuatan dan masa
mudanya mulai meninggalkan
tempatnya dan digantikan dengan
kesucian dan kekuatan yang lebih banyak. Beliau menyedari bahawa ia sedang
gugup. Beliau merasakan kelemahan manusiawi dan adanya kekuatan yang luar
biasa. Setiap kali tubuhnya merasakan kelemahan, maka bertambahlah kekuatan
dalam rohnya. Perasaan
yang demikian ini
justru membangkitkan
kerendahan hatinya. Maryam
mengetahui bahawa ia
akan memikul tanggung jawab besar.
"Dan
(ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah
telah memilih kamu, menyucikan kamu dan
melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yong semasa dengan kamu)."
(QS. Ali 'Imran: 42)
Dengan
kalimat-kalimat yang sederhana ini Maryam memahami bahawa Allah SWT telah
memilihnya dan menyucikannya dan menjadikannya penghulu para wanita dunia.
Beliau adalah wanita terbesar di dunia. Para malaikat kembali berkata kepada
Maryam:
"Hai Maryam,
taatlah kepada Tuhanmu,
sujud dan rukuklah
bersama orang-orang yang ruku." (QS. Ali 'Imran: 43)
Perintah tersebut
ditetapkan setelah adanya
berita gembira agar
beliau meningkatkan
kekhusyukannya, sujudnya, dan
rukuknya kepada Allah
SWT. Maryam lupa terhadap
pohon mawar dan
beliau kembali solat.
Maryam merasakan bahawa sesuatu yang besar akan terjadi padanya. Beliau
merasakan hal itu sejak beberapa hari, tetapi perasaan itu semakin menguat saat
ini.
Matahari meninggalkan
tempat tidurnya sementara
malam telah bangkit sedangkan bulan duduk di atas
singgahsananya di langit dan di sekelilingnya terdapat awan-awan yang indah dan
putih. Kemudian datanglah pertengahan malam dan Maryam masih sibuk dalam
solatnya. Beliau menyelesaikan solatnya dan teringat pohon mawar itu lalu
beliau membawa air di suatu bejana dan pergi untuk menyiramnya.
Pohon
mawar itu tumbuh di antara dua batu di tempat yang tidak jauh dari masjid yang
hanya ditempuh beberapa langkah darinya. Tempat itu jauh dari jangkauan manusia
sehingga tak seorang pun mendekatinya. Tempat itu sudah dijadikan tempat yang
khusus bagi Maryam untuk melakukan solat di dalamnya atau beribadah. Maryam
mendekati pohon mawar itu dan menyiramnya. lalu beliau meletakkan bejana,
kemudian ia memikirkan pohon mawar itu di mana tangkainya semakin panjang pada
dua malam yang dilaluinya.
Tiba-tiba, Maryam
mendengar suara derap
kaki yang menggoncang
bumi. Beliau tidak mendengar
suara kaki yang
berjalan, tetapi beliau
mendengar suara kaki yang
menetap di atas
batu serta pasir.
Maryam merasakan ketakutan. Ia
merasakan bahawa ia tidak sendirian. Ia menoleh ke sebelahnya namun ia
tidak mendapati sesuatu
pun. Kemudian kedua
matanya mulai berputar-putar dan
memperhatikan suatu cahaya yang berdiri di sana. Maryam gementar ketakutan
dan menundukkan kepalanya.
Maryam berkata dalam dirinya, siapa gerangan orang yang
berdiri di sana. Maryam memandang kepada wajah orang asing itu, dan menyebabkan
ia gelisah. Wajah orang itu sangat
aneh, di
mana dahinya bercahaya
lebih daripada cahaya
bulan. Meskipun kedua matanya
memancarkan kemuliaan dan kebesaran tetapi wajah orang itu justru menggambarkan
kerendahan hati yang mengagumkan.
Pandangan pertama
yang di lihat
oleh Maryam kepada
orang itu mengisyaratkan, bahawa
orang itu memiliki kemuliaan yang diperoleh orang yang menyembah Allah SWT
selama jutaan tahun. Maryam bertanya kepada dirinya, siapa
gerangan orang ini?
Kemudian seakan- akan
orang asing itu membaca
fikiran Maryam dan
berkata: "Salam kepadamu
wahai Maryam." Maryam dibuat
terkejut mendengar adanya
suara manusia di
depannya. Maryam berkata sebelum menjawab salamnya:
"Sesungguhnya aku
berlindung daripadamu kepada
Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang
bertakwa." (QS. Maryam: 18)
Maryam
berlindung di bawah lindungan Allah SWT dan ia bertanya kepadanya, "Apakah
engkau manusia yang mengenal Allah SWT dan bertakwa kepadanya?" Kemudian
orang itu tersenyum dan berkata:
"Sesungguhnya aku
ini hanyalah seorang
utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang
suci." (QS. Maryam: 19)
Orang
asing itu belum selesai menyampaikan kalimatnya sehingga tempat itu dipenuhi
cahaya yang menakjubkan yang tidak menyerupai cahaya matahari, cahaya bulan,
cahaya lampu, cahaya lilin bahkan cahaya api. Di sana terdapat cahaya yang
sangat jernih. Kemudian terngianglah di kepala Maryam kalimat: "Aku adalah
seorang utusan Tuhanmu." Kalau begitu, dia adalah penghulu para malaikat,
Ruhul Amin (Jibril) yang telah berubah wujud menjadi manusia.
Maryam
mengangkat kepalanya dengan gementar menahan luapan cinta. Jibril berdiri di
depannya dalam bentuk manusia. Maryam memperhatikan kejernihan dahinya dan
kesucian wajahnya. Benar
apa yang diduganya
bahawa Jibril memiliki kemuliaan
yang diperoleh orang yang menyembah Allah SWT selama jutaan tahun.
Kemudian Maryam mengingat
kembali kalimat-kalimat yang diucapkan
Jibril. Malaikat itu
telah mengatakan bahawa
ia adalah utusan Tuhannya, dan ia telah datang untuk
memberi Maryam seorang anak laki-laki yang suci. Maryam ingat bahawa dirinya
adalah seorang perawan yang belum tersentuh
oleh seorang pun.
Ia belum menikah
dan belum dilamar
oleh seseorang pun, maka bagaimana ia melahirkan anak tanpa melalui
pernikahan.
Fikiran-
fikiran ini berputar-berputar di kepala Maryam lalu ia berkata kepada Jibril:
"Maryam
berkata: Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah
seorang manusia pun
menyentuhku dan aku
bukan (pula) seorang
penzina!" (QS. Maryam: 20)
Jibril
berkata:
"Demikianlah
Tuhanmu berfirman: 'Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya
suatu tanda bagi manusia sebagai rahmat dari Kami; dan
hal itu adalah
suatu perkara yang
sudah diputuskan."' (QS.
Maryam: 21)
Maryam
menerima kalimat-kalimat Jibril. Tidakkah Jibril berkata kepadanya bahawa ini
adalah perintah Allah
SWT dan segala
sesuatu yang diperintahkan-Nya
pasti akan terlaksana. Kemudian, mengapa ia harus (ketika) melahirkan tanpa
disentuh oleh seorang
manusia pun. Bukankah
Allah SWT menciptakan Nabi
Adam tanpa seorang
ayah dan seorang
ibu? Sebelum diciptakannya Nabi
Adam tidak ada lelaki dan wanita. Hawa diciptakan dari Nabi Adam dan ia pun
diciptakan dari laki-laki, tanpa perempuan.
Biasanya manusia
diciptakan melalui pasangan
laki-laki dan perempuan; biasanya ia memiliki ayah dan ibu,
tetapi mukjizat terjadi ketika Allah SWT menginginkannya untuk terjadi.
Kemudian Jibril meneruskan pembicaraannya:
"Sesungguhnya Allah
menggembirakan kamu (dengan
kelahiran seorang putera yang
diciptakan) dengan kalimat (yang datang)
dari- Nya, namanya al-Masih Isa putera Maryam, seorang yang terkemuka di dunia
dan di akhirat dan termasuk orang-orang
yang didekatkan (kepada Allah),
dan dia berbicara dengan manusia
dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk di antara orang-orang
yang soleh." (QS. Ali 'Imran: 45-46)
Kehairanan
Maryam semakin bertambah. Betapa tidak, sebelum mengandung anak itu
di perutnya ia
telah mengetahui namanya.
Bahkan ia mengetahui bahawa anaknya
itu akan berbicara
dengan manusia saat
ia masih kecil. Sebelum Maryam menggerakkan lisannya
untuk melontarkan pertanyaan lain,
Jibril mengangkat
tangannya dan mengerahkan
udara ke arah
Maryam. Kemudian datanglah hembusan udara yang bercahaya yang belum
pernah di lihat sebelumnya oleh
Maryam. Lalu cahaya
tersebut ke jasad
Maryam dan memenuhinya. Tak
sempat Maryam melontarkan pertanyaan yang lain, Jibril yang suci telah pergi
tanpa meninggalkan suara.
Udara
yang dingin telah bergerak dan Maryam pun tampak menggigil. Maryam segera kembali
ke mihrabnya. Ia
menutup pintu mihrab
dan ia tenggelam dalam solat
yang khusyuk dan
ia pun menangis.
Maryam merasakan
kegembiraan, kebingungan dan
kegoncangan serta kedamaian
yang dalam. Kini, Maryam tidak
lagi sendirian. Sejak Jibril meninggalkannya, ia merasakan bahawa ia
tidak lagi sendirian.
Ia menggerakkan tangannya
yang dipenuhi dengan cahaya, kemudian
cahaya ini berubah di dalam perutnya menjadi anak, seorang anak
yang akan menjadi
kalimat Allah SWT
dan roh-Nya yang diletakkan pada Maryam. Ketika anak itu
besar, ia akan menjadi seorang rasul dan nabi yang ajarannya dipenuhi dengan
cinta dan kasih sayang.
Maryam
di malam itu tidur dengan nyenyak dan ia bangun di waktu Subuh. Belum lama ia
membuka kedua matanya sehingga ia dibuat terkejut ketika melihat mihrab
dipenuhi dengan buah-buahan
yang sebenarnya tidak
lagi musim. Maryam heran
melihat hal itu.
Ia mulai mengingat
apa yang telah terjadi
padanya kelmarin, yaitu
bagaimana kejadian saat
menyiram pohon mawar, bagaimana
pertemuannya dengan malaikat
Jibril, bagaimana Allah SWT meniupkan kalimat-Nya padanya,
bagaimana ia kembali ke mihrab, dan bagaimana
tidurnya yang nyenyak.
Maryam berkata kepada
dirinya sambil melihat buah-buahan
yang banyak: Apakah
aku akan memakan
sendirian buah-buahan ini. Kemudian
ada suara dalam
dirinya yang berkata:
"Engkau tidak lagi sendirian wahai Maryam. Kini, engkau bersama
Isa. Engkau harus makan dengan baik. Dan Maryam mulai makan.
Lalu
berlalulah hari demi hari. Kandungan Maryam berbeza dengan kandungan umumnya
wanita. Ia tidak merasakan sakit dan tidak merasa berat; ia tidak merasakan
sesuatu telah bertambah padanya dan perutnya tidak membuncit seperti umumnya
wanita. Alhasil, kehamilan yang dialaminya dipenuhi dengan nikmat yang baik.
Datanglah bulan yang ke sembilan. Ada sebahagian ulama yang mengatakan
bahawa Maryam tidak
mengandung Isa selama
sembilan bulan, tetapi ia melahirkannya secara langsung sebagai
mukjizat.
Pada
suatu hari, Maryam keluar ke suatu tempat yang jauh. Ia merasa bahawa sesuatu
akan terjadi hari itu. Tetapi ia tidak mengetahui hakikat sesuatu itu. Kakinya
membimbingnya untuk menuju tempat yang dipenuhi dengan pohon kurma. Tempat itu
tidak biasa dikunjungi oleh seseorang pun kerana saking jauhnya; tempat yang
tidak diketahui oleh seseorang pun kecuali Maryam.
Tak
seorang pun yang mengetahui Maryam bahawa sedang hamil dan ia akan
melahirkan. Mihrab yang
menjadi tempat ibadahnya
selalu tertutup. Orang-orang
mengetahui bahawa Maryam sedang sibuk beribadah dan tidak ada seorang pun yang
mendekatinya. Maryam duduk beristirahat di bawah pohon kurma yang besar dan
tinggi. Maryam mulai merasakan sakit pada dirinya, dan rasa sakit tersebut
semakin terasa. Akhirnya, Maryam melahirkan:
"Maka
rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon
kurma, ia berkata: 'Aduhai alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku
menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan." (QS. Maryam: 23)
Rasa sakit
saat melahirkan anak
yang dialami wanita
suci ini menimbulkan penderitaan-penderitaan lain
yang segera menantinya.
Bagaimana manusia akan menyambut
anaknya ini? Apa yang mereka katakan tentangnya? Bukankah mereka mengetahui
bahawa ia adalah wanita yang masih perawan? Bagaimana seorang gadis perawan
bisa melahirkan? Apakah manusia akan membenarkan Maryam yang
melahirkan anak itu
tanpa ada seseorang
pun yang menyentuhnya? Kemudianpandangan-pandangan keraguan mulaimenyelimutinya.
Maryam berfikir bagaimana
reaksi manusia kepadanya
dan bagaimana perkataan mereka terhadapnya sehingga hatinya dipenuhi
dengan kesedihan. Belum lama Maryam membayangkan dan meminta agar ia dimatikan
dan dilupakan, tiba-tiba anak yang baru lahir itu memanggilnya:
"Janganlah
kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai
di bawahmu. Dan
goyanglah pangkal pohon
kurma itu ke arahmu,
nescaya pohon itu
akan mengugurkan buah
kurma yang masak kepadamu makan, minum dan bersenang
hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang
manusia, maka katakanlah:
'Sesungguhnya aku telah
bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan
berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.'" (QS. Maryam: 24-26)
Maryam melihat
al-Masih yang tampan
wajahnya. Wajahnya tidak kemerah-merahan dan rambutnya tidak
keriting seperti anak-anak yang lahir di saat
itu, tetapi ia
berkulit lembut dan
putih. Anak itu
diselimuti dengan kesucian dan
kasih sayang; anak
itu berbicara kepada
Maryam agar ia menghilangkan kesedihannya
dan meminta padanya
agar menggoyangkan batang-batang
pohon kurma supaya jatuh darinya sebahagian buahnya yang lazat dan
Maryam dapat memakan dan meminum darinya sehingga hatinya pun penuh dengan
kedamaian serta kegembiraan dan tidak berfikir tentang sesuatu pun. Jika Maryam
melihat atau menemui manusia, maka hendaklah ia berkata kepada mereka bahawa
ia bernazar kepada
Allah SWT untuk
berpuasa dan tidak berbicara
kepada seseorang pun.
Maryam
melihat al-Masih dengan penuh kecintaan. Anak itu baru dilahirkan beberapa saat
tetapi ia langsung
memikul tanggung jawab
ibunya di atas pundaknya. Selanjutnya,
ia akan memikul
penderitaan orang-orang fakir. Maryam melihat bahawa wajah anak itu
menyiratkan tanda yang sangat aneh. Yaitu
tanda yang mengisyaratkan bahawa
ia datang ke
dunia bukan untuk mengambil darinya sesuatu, tetapi untuk
memberinya segala sesuatu. Maryam menghulurkan
tangannya ke pohon
kurma yang besar.
Belum lama ia menyentuh batangnya hingga jatuhlah
darinya buah kurma yang masih muda dan lazat. Maryam makan dan minum dan
kemudian ia memangku anaknya dengan penuh kasih sayang.
Saat itu,
Maryam merasakan kegoncangan
yang hebat. Silih-berganti ketenangan dan kegelisahan
menghampirinya. Segala fikirannya tertuju pada satu hal, yaitu Isa. Ia
bertanya-tanya dalam dirinya: Bagaimana orang-orang Yahudi akan menyambutnya,
apa yang akan mereka katakan tentangnya, apa yang akan mereka katakan terhadap
Maryam, apakah para pendeta dan para pembesar
Yahudi percaya bahawa
Maryam melahirkan seorang
anak tanpa disentuh oleh
seseorang pun? Bukankah mereka terbiasa hidup dengan suasana pencurian dan
penipuan? Apakah seseorang di antara mereka akan percaya -padahal ia jauh dari
langit - bahawa langit telah memberinya seseorang anak.
Akhirnya,
masa pengasingan Maryam telah berakhir dan Maryam harus kembali ke kaumnya.
Maryam kembali dan waktu menunjukkan Ashar. Pasar besar yang terletak di jalan
yang dilalui Maryam menuju masjid dipenuhi dengan manusia. Mereka sibuk
dengan jual-beli. Mereka
duduk berbincang-bincang sambil minum
anggur. Belum lama
Maryam melewati pasar
itu sehingga manusia melihatnya membawa
seorang anak kecil
yang didakapnya. Salah
seorang bertanya: "Bukankah ini Maryam yang masih perawan? Lalu,
anak siapa yang dibawanya itu?" Seorang yang mabuk berkata: "Itu
adalah anaknya." Mari kita dengar cerita apa yang akan disampaikannya.
Akhirnya, orang-orang Yahudi mulai "mengepung" dengan berbagai macam
pertanyaan: "Anak siapa ini wahai Maryam,
mengapa engkau tidak
mengembalikannya, apakah itu
memang anakmu, bagaimana engkau datang dengan membawa seorang anak
sedangkan engkau adalah gadis yang masih perawan?"
"Hai
saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan
ibumu sekali-kali bukanlah seorang penzina." (QS. Maryam: 28)
Maryam dituduh
melakukan pelacuran. Mereka
menyerang Maryam tanpa terlebih dahulu mendengarkan
sanggahannya atau mengadakan penelitian atau membuktikan bahawa
perkataan mereka memang
benar. Maryam dicerca sana-sini dan ia diingatkan, bahawa
bukankah ia seseorang yang tumbuh dari rumah yang baik dan bukanlah ibunya
seorang pelacur? Lalu mengapa semua ini terjadi padanya? Menghadapi semua
tuduhan itu, Maryam tampak tenang dan tetap
menunjukkan kebaikannya. Wajahnya
dipenuhi dengan cahaya keyakinan. Ketika
pertanyaan semakin menjadi-jadi
dan keadaan semakin sulit, maka Maryam menyerahkan
segalanya kepada Allah SWT. Ia menunjuk ke arah anaknya dengan tangannya.
Maryam menunjuk Isa.
Orang-orang
yang ada di situ tampak kebingungan. Mereka memahami bahawa Maryam berpuasa
dari berbicara dan meminta kepada mereka agar bertanya kepada anak itu. Para
pembesar Yahudi bertanya: "Bagaimana mereka akan melontarkan pertanyaan
kepada seorang anak kecil yang baru lahir beberapa hari? Apakah anak itu akan
berbicara di buaiannya" Mereka berkata kepada Maryam:
"Bagaimana kami
akan berbicara dengan
anak kecil yang
masih dalam ayunan?" (QS.
Maryam: 29)
Berkata
Isa:
"Sesungguhnya
aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (injil) dan Dia menjadikan aku
seorang nabi. Dan
Dia menjadikan aku
seorang yang diberkati di
mana saja aku
berada, dan Dia
memerintahkan kepadaku
(mendirikan) solat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti
kepada ibuku, dan
Dia tidak menjadikanku
seorang yang sombong
lagi celaka. Dan kesejahteraan
semoga dilimpahkan kepadaku,
pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan
pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. " (QS. Maryam: 30-33)
Belum sampai
Isa menuntaskan pembicaraannya sehingga
wajah-wajah para pendeta dari
kalangan Yahudi dan
para uskup tampak
pucat. Mereka menyaksikan
mukjizat terjadi di depan mereka secara langsung. Anak kecil itu berbicara di
buaiannya; anak kecil yang datang tanpa seorang ayah; anak kecil yang mengatakan
bahawa Allah SWT
telah memberinya al-Kitab
dan menjadikannya seorang Nabi. Ini berarti bahawa kekuasaan mereka
sebentar lagi akan hancur. Setiap orang dari mereka akan menjadi tidak berarti
ketika anak kecil itu dewasa. Tak seorang pun di antara mereka yang dapat
"menjual pengampunan" kepada manusia atau menghakimi mereka melalui
penyataan bahawa ia adalah
wakil dari langit
yang turun di
bumi. Atau pernyataan, bahawa hanya dia yang mengetahui syariat.
Para
pendeta Yahudi merasa akan terjadi suatu tragedi keperibadian yang akan datang
kepada mereka dengan kelahiran anak kecil ini. Kedatangan al-Masih berarti mengembalikan
manusia kepada penyembahan
semata-mata kepada Allah SWT. Ini
berarti menghapus agama Yahudi yang sekarang mereka yakini. Perbezaan antara
ajaran- ajaran Musa
dan tindakan-tindakan orang-orang Yahudi menyerupai
perbezaan antara bintang-bintang di
langit dan lumpur-lumpur di
jalan. Para pendeta Yahudi menyembunyikan kisah kelahiran Isa dan
bagaimana ia berbicara
di masa buaian.
Mereka justru menuduh Maryam yang masih perawan dengan
kebohongan yang besar. Mereka menuduh Maryam melakukan pelacuran, padahal
mereka menyaksikan sendiri mukjizat pembicaraan anaknya di masa buaian.
Mula-mula cerita
tentang itu mereka
sembunyikan untuk beberapa
saat. Meskipun demikian, berita
tentang kelahiran Isa
sampai ke Hakim
Romawi, yaitu Heradus. Ia memimpin orang-orang Palestina dan orang- orang
Yahudi dengan kekuatan pedang.
Ia menakut-nakuti mereka
dengan menumpahkan darah serta
banyaknya mata-mata yang dimilikinya. Pada suatu hari, ia duduk di istananya
dan meminum anggur.
Lalu ia mendengar
berita yang samar tentang kelahiran seseorang anak tanpa
ayah; seorang anak yang dikatakan ia mampu berbicara saat masih di buaian, lalu
ia menyampaikan pembicaraan yang
menjurus pada ancaman
terhadap kekuasaan Romawi.
Kemudian
bergetarlah
kursi yang ada di bawah tubuh Heradus. Ia memerintahkan untuk diadakan suatu
pertemuan mendadak yang dihadiri oleh para pengawalnya dan para mata-matanya.
Pertemuan itu pun
terlaksana. Heradus duduk
dengan wajahnya yang hitam mengkilat, lalu ia memutarkan pandangannya ke
arah mata-matanya dan bertanya: "Bagaimana berita anak kecil yang
berbicara di buaiannya?"
Salah
seorang kepala mata-mata berkata: "Tampak bahawa masalahnya tidak benar.
Kami telah mendengar isu-isu sekitar anak kecil yang mereka katakan bahawa ia
membuat mukjizat dengan berbicara saat ia masih belia. Lalu saya mengutus anak
buahku untuk mencari
kebenaran berita itu,
tetapi mereka tidak menemukannya.
Jelas bagi kami, bahawa berita itu dilebih-lebihkan." Kemudian salah satu
anggota mata-mata raja berkata: "Aku telah mendapatkan bukti yang
terpercaya bahawa tiga orang dari orang-orang Majusi datang di balik suatu
bintang yang mereka lihat menyala di suatu langit dan bintang tersebut
mengisyaratkan kelahiran anak kecil yang membawa mukjizat, yaitu anak kecil
yang akan menyelamatkan kaumnya." Hakim berkata: "Bagaimana ia dapat
menyelamatkan kaumnya dan kaum siapa yang diselamatkannya?" Salah
seorang mata-mata berkata:
"Anak buahku tidak
mengetahuinya kerana orang-orang pandai
dari Majusi itu
pergi dan tak seorang
pun menemukan mereka."
Hakim berkata:
"Bagaimana mereka dapat
pergi dan bersembunyi
lalu bagaimana cerita anak
kecil ini? Apakah
di sana ada
persekongkolan untuk
menentang Romawi?" Hakim
melompat dari tempat
duduknya ketika ia menyebut
Romawi, dan ia
mulai berbicara dengan
keadaan emosi: "Aku menginginkan kepala tiga orang yang
cerdik itu dan aku juga menginginkan kepala anak kecil itu. Dan aku
menginginkan informasi yang lengkap. Sungguh masalah ini
semakin samar hai
orang-orang yang bodoh."
Lalu kepala mata-mata berkata:
"Barangkali ini hanya mimpi yang dibayangkan orang-orang Yahudi bahawa
mereka melihatnya." Hakim berkata: "Sungguh kepala-kepala kalian semua
akan terbang lebih
cepat dari merpati
jika kalian tidak mendatangkan cerita
secara lengkap tentang
anak ini. Kebingungan
dan kekacauan apa yang aku rasakan! Pergilah kalian dari sini."
Anak buah
Heradus dan para
mata-mata pergi, sedangkan
ia masih duduk memikirkan masalah
tersebut. Tampaknya masalah
itu sangat
menggelisahkannya. Ia tidak
peduli dengan kedatangan
agama baru kepada manusia tetapi yang difikirkannya
adalah kekuasaan Romawi yang ia menjadi simbolnya. Kemudian
Heradus menetapkan untuk
memanggil pemuka orang Yahudi dan bertanya kepadanya tentang
masalah ini. Para pengawalnya yang khusus memanggil orang Yahudi itu. Tidak
beberapa lama orang Yahudi itu ada di
depan hakim. Heradus
berkata: "Aku ingin
berbicara kepadamu tentang suatu masalah yang sangat
menggelisahkanku." Pendeta Yahudi itu berkata:
"Aku
ingin mengabdi kepadamu."
Heradus berkata:
"Aku mendengar berita-berita
yang saling berlawanan tentang anak kecil yang bisa
berbicara di masa buaiannya dan ia mengatakan bahawa ia
akan menyelamatkan kaumnya.
Maka bagaimana berita
yang sebenarnya tentang itu?"
Pendeta itu berkata -
dan ia merasa
bahawa pertanyaan itu sepertinya
berupa jebakan yang
tidak diketahuinya secara pasti: "Apakah tuan yang mulia
peduli dengan agama Yahudi?" Heradus berkata dalam keadaan emosi:
"Aku tidak peduli sedikit pun selain kekuasaan Romawi. Jawablah
pertanyaanku wahai pendeta." Pendeta Yahudi itu telah melihat Isa
berbicara di buaiannya. Ia memahami bahawa seandainya ia mengatakan itu, maka
ia akan mendapatkan penderitaan pada dirinya, maka ia lebih memilih sedikit
berbohong. Ia berkata kepada Heradus bahawa ia mendengar cerita itu tetapi ia
meragukannya.
Heradus
berkata: "Apakah benar agama kalian berbicara tentang kedatangan
seorang penyelamat bagi
rakyat kalian?" Pendeta berkata:
"Ini benar wahai tuan
yang mulai." Heradus
berkata: "Apakah kalian
mengetahui ini adalah persekongkolan menentang
keamanan kerajaan Romawi?
Apakah kalian menyedari ini
adalah bentuk pengkhianatan?" Pendeta
berkata: "Aku harap tuan
membiarkan aku meluruskan
suatu pemikiran yang
sederhana. Berita tentang hal
itu adalah berita
yang kuno. Berita
ini diyakini ketika
rakyat menjadi tawanan di Bebel sejak ratusan tahun."
Heradus
berkata: "Apakah memang di sana ada yang membenarkan berita ini?
Sekarang, apakah kamu
secara peribadi membenarkannya? Apakah
engkau melihat anak kecil
itu yang mereka
katakan bahawa ia
dilahirkan tanpa seorang
ayah?" Pendeta itu berkata: "Apakah ada seorang yang percaya wahai
tuan yang mulia jika
dikatakan ada seorang anak yang lahir tanpa seorang ayah. Ini adalah mimpi rakyat
biasa."
Heradus
berkata: "Tidak ada sesuatu yang mengusir tidur dari mata seorang penguasa
selain mimpi-mimpi rakyat. Pergilah wahai pendeta dan jika engkau
mendengar berita-berita, maka
sampaikanlah kepadaku sebelum
engkau sampaikan kepada isterimu." Belum lama pendeta itu pergi
sehingga Heradus berfikir, bagaimana seandainya pendeta itu berbohong. Ia
menangkap benang kebohongan pada kedua
matanya. Ia mengetahui
kebohongan ini kerana
ia sendiri sangat pandai berbohong. Kemudian bagaimana cerita tiga orang
cerdik yang mereka mengikuti
bintang? Apakah di
sana terdapat persekongkolan menentang Romawi yang tidak
diketahuinya?
Heradus
berteriak di tengah-tengah pengawalnya dan memerintahkan mereka untuk menangkap
semua orang yang mendengar cerita ini atau ia akan melihat akibatnya. Mula-mula
dia memerintahkan untuk mencari gadis perawan yang melahirkan anak
itu dan membunuh
setiap anak yang
lahir di saat
itu. Sementara itu, Maryam keluar dari Palestina menuju ke Mesir.
Sebelumnya, pada suatu malam,
datanglah kepadanya seseorang
yang belum pernah dilihatnya dan orang itu menyampaikan
salam kepadanya serta menyerukannya dan sambil berkata: "Bawalah anakmu
wahai Maryam dan keluarlah menuju Mesir." Dengan nada ketakutan Maryam
bertanya, "Mengapa? Bagaimana aku keluar menuju ke Mesir; dan bagaimana
aku bisa mengenali jalan?" Orang asing itu
menjawab, "Keluarlah engkau
nescaya Allah SWT
akan melindungimu. Sesungguhnya
Hakim Romawi mencari anakmu dan ingin membunuhmu."
Maryam
bertanya: "Kapan aku keluar?" Orang asing itu menjawab:
"Sekarang juga. Janganlah engkau khawatir sedikit pun kerana engkau keluar
bersama seorang Nabi yang mulia. Semua nabi diusir oleh kaumnya dari negeri
mereka dan rumah mereka. Demikianlah hukum kehidupan. Kejahatan selalu berusaha
untuk menyingkirkan kebaikan tetapi pada akhirnya, kebaikan akan kembali
menduduki singgahsananya. Keluarlah wahai Maryam." Akhirnya, Maryam pun
pergi menuju ke Mesir. Maryam melalui gurun Saina' bersama suatu kafilah yang
menuju Mesir. Maryam berjalan membawa Isa di jalan yang sama yang pernah
dilalui Nabi Musa di mana ditampakkan kepada Nabi Musa api yang suci dan beliau
dipanggil dari sisi thur al-Aiman. Setelah melalui perjalanan yang jauh dan
melelahkan, Maryam sampai di Mesir. Mesir yang dipenuhi dengan kebaikan, kemuliaan,
kebudayaan klasik serta cuacanya yang stabil mempakan tempat yang terbaik untuk
pertumbuhan Isa as.
Al-Masih tumbuh
dan berkembang serta
menjalani masa kecilnya
di Mesir. Kemudian datanglah
kepada Maryam orang asing yang telah memerintahkannya untuk meninggalkan
Palestina. Kali ini, ia memerintahkannya untuk kembali ke Palestina. Orang asing itu berkata kepadanya:
"Raja yang lalim telah mati, maka kembalilah bersama anakmu wahai
Maryam. Telah datang kesempatan emas bagi Isa untuk menduduki singgahsananya.
Isa akan menjadi penyayang orang-orang
fakir dan orang-orang
yang benar. Kembalilah
wahai Maryam." Maryam pun
kembali. Dalam perjalanan Maryam melalui banyak mata air di sungai Jordania.
Isa
pun tumbuh menjadi dewasa dan mencapai masa mudanya. Isa keluar dari rumahnya
dan menuju tempat penyembahan kaum Yahudi. Saat itu bertepatan dengan hari
Sabtu. Di sana tidak ada satu rumah pun dari rumah kaum Yahudi yang dapat
menyalakan api atau
memadamkannya pada hari
Sabtu, atau mengambil buah
di hari itu.
Dilarang bagi seorang
wanita untuk membikin adunan roti
atau seseorang anak kecil mencuci
anjingnya. Nabi Musa telah memerintahkan untuk
menghormati hari Sabtu
dan hanya mengkhususkanya untuk beribadah kepada Allah
SWT.
Terdapat hikmah
di balik penghormatan
hari Sabtu sehingga
hari Sabtu menjadi hari yang
sangat disucikan di kalangan orang-orang Yahudi. Mereka melaksanakannya dengan
berbagai macam tradisi
dan mereka mencurahkan segala konsentrasi
mereka untuk menjaga
hari Sabtu dan
tidak meremehkannya. Sebab, mereka meyakini bahawa hari Sabtu adalah
hari yang dijaga dari langit sebelum Allah menciptakan manusia sebagaimana
mereka percaya bahawa Bani Israil telah diberikan pilihan kepada satu jalur
saja, yaitu menjaga hari Sabtu.
Mereka bangga kerana
mereka dapat menjaganya meskipun hal
itu menyebabkan mereka
kalah di kancah
peperangan atau mereka tertawan
di tangan musuh.
Bahkan saking ketatnya
mereka mempertahankan
kehormatan hari Sabtu
sampai- sampai mereka menambah-nambahi berbagai
macam larangan di
hari Sabtu. Majlis
kaum Yahudi menetapkan ratusan larangan yang tidak boleh dilakukan di
hari Sabtu, seseorang dilarang untuk memakai gigi palsu di hari Sabtu. Seorang
yang sakit dilarang untuk memakai perban atau memakai minyak di tempat yang
sakit pada hari Sabtu
atau memanggil doktor. Dilarang
pula di hari
Sabtu untuk menulis dua huruf
abjad; dilarang juga untuk mempertahankan diri pada hari Sabtu; dilarang untuk
panen dan belajar di hari Sabtu. Kemudian, berpergian di hari Sabtu diharuskan
untuk tidak lebih dari dua ribu ela. Dilarang juga di hari Sabtu untuk membawa
sesuatu ke luar rumah.
Jadi, banyaknya
syariat, hukum serta
larangan-larangan biasanya diikuti dengan banyaknya
keburukan atau paling
tidak membantu terciptanya keburukan. Setiap timbul suatu
larangan, maka timbul bersamanya cara untuk menghindar darinya.
Demikianlah, kehidupan kaum
Yahudi dipenuhi dengan kemunafikan yang luar biasa di mana
secara lahiriah mereka menampakkan penghormatan terhadap hari Sabtu, tetapi
secara batiniah mereka berusaha menodai kehormatan dengan berbagai macam cara.
Meskipun kelompok
Farisiun bertanggungjawab terhadap
tugas pelaksanaan syariat dan
mengawasinya dengan banyak
mendapatkan jaminan-jaminan,
maka kita akan
melihat bahawa mereka
siap untuk menciptakan
berbagai rekayasa dan tipu daya yang memungkinkan mereka untuk menghindar
dari hukum-hukum syariat di saat yang tepat. Saat yang tepat adalah saat di
mana syariat-syariat tersebut bertentangan
dengan kepentingan peribadi
mereka atau dapat menjadi
penghalang bagi mereka
untuk mendapatkan mata pencarian yang haram yang sudah siap
masuk pada kantung mereka. Misalnya, terdapat kaedah syariat yang menetapkan
perjalanan pada hari Sabtu tidak
boleh
melebihi dua ribu ela. Namun orang-orang Farisiun mengadakan walimah di mana
mereka mengundang orang-orang
untuk menghadiri acara
tersebut pada hari Sabtu, padahal tempat diadakannya acara itu berjarak
lebih dari dua ribu ela dari rumah mereka. Lalu, bagaimana mereka dapat
melaksanakan hal tersebut? Sangat mudah
sekali. Mereka meletakkan
pada sore hari
Sabtu sebahagian makanan yang berjarak dua ribu ela dari rumah mereka
lalu setelah itu mereka mendirikan suatu tempat tinggal di mana mereka dapat
berjalan setelahnya dan menempuh
dua ribu ela
yang lain. Dari
sini mereka dapat menambah jarak yang mereka inginkan.
Begitu juga agar mereka menghindar dari larangan membawa sesuatu ke luar rumah
pada hari Sabtu, maka mereka membuat tipu daya yang lain. Yaitu mereka
mendirikan gerbang-gerbang pintu dan jendela di berbagai jalan sehingga seluruh
kota seperti rumah besar yang dimungkinkan bagi
mereka untuk membawa segala sesuatu dan bergerak di dalamnya.
Contoh
lain yang menunjukkan bagaimana orang-orang Yahudi mempermainkan syariat
sedangkan mereka mengklaim menjaganya adalah, bahawa syariat Musa menetapkan
agar seorang anak menginfaki kedua orang tuanya saat mereka menginjak usia
tua dan memerlukannya. Tetapi
kaum Farisiun memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk
lari dan menghindar dari tanggung jawab ini dengan suatu tipu daya yang
sederhana. Ketika seorang anak dituntut oleh kedua orang tuanya untuk memberi
nafkah, maka ia pergi ke para pendeta dan bersepakat kepada
mereka untuk mewakafkan
semua hartanya dan kekayaannya kepada
haikal, yaitu tempat
sembahan kaum Yahudi.
Saat itu kedua orang
tuanya tidak mampu
mengambil sesuatu pun
darinya. Ketika mereka berdua
telah putus asa
dan tidak lagi
menuntut padanya untuk memberi nafkah,
maka semua harta
kekayaannya akan dikembalikan kepadanya oleh
para pendeta, dengan
catatan hendaklah ia
memberikan bahagian tertentu dari hartanya kepada para pendeta itu.
Demikianlah yang terdapat dalam Injil Mata.
Di tengah-tengah
suasana kebodohan pemikiran
yang luar biasa
ini, juga terdapat sikap keras
kepala dan kejumudan berfikir yang mengelilingi kaum Yahudi. Terdapat tujuh
tingkat kesucian dan dua puluh enam solat yang harus mereka lakukan saat mereka
membasuh tangan sebelum memakan makanan, namun
mereka menganggap bahawa
meniadakan pembacaan solat-solat sebagai bentuk
pembunuhan terhadap jiwa
dengan cara bunuh
diri dan tercegah dari
kehidupan abadi. Demikianlah
kekerasan sikap masyarakat Yahudi yang
menunjukkan bahawa moral
mereka telah rosak
dan dipenuhi dengan kemunafikan
yang tiada taranya.
Sementara
itu, Isa berjalan menuju tempat beribadah. Orang-orang berjalan di
sekelilingnya. Mereka tampak membanggakan pakaian- pakaian yang berwarna
dan berharga sedangkan
Isa berjalan dengan
memakai baju putih
dan menampakkan kezuhudannya. Rambut Isa tampak lembut yang mencapai
kedua bahunya dan tampak
ia basah terkena
air awan yang
menurunkan gerimis. Kemudian
kedua kakinya berjalan di atas tanah sehingga tanah itu dipenuhi dengan bau
harum yang tidak diketahui sumbernya. Baju yang dipakai oleh Isa terbuat dari
bulu domba yang sangat sederhana dan kasar. Meskipun hari itu hari Sabtu, Isa
memetik buah di suatu kebun dan mengambil dua buah yang beliau berikan kepada
anak kecil yang fakir dan lapar. Tindakan semacam ini menurut kepercayaan
Yahudi dianggap sebagai
tindakan yang menentang
agama
Yahudi.
Isa
mengetahui bahawa menjalankan agama yang hakiki bukan terletak pada ketaatan
luaran sementara hati jauh dari sikap rendah diri. Oleh kerana itu, Isa
mencabut buah dan memberikan makan kepada manusia pada hari Sabtu. Beliau
menyalakan api untuk wanita-wanita tua sehingga mereka tidak mati kedinginan.
Isa sering
mengunjungi tempat sesembahan
orang Yahudi. Isa
berdiri di dalamnya dan mengamati para
pendeta dan manusia
yang hilir mudik
di sekitarnya. Sesampainya Isa di tempat sembahan, ia berdiri di
dalamnya. Isa mengamat-amati apa yang ada di dalamnya. Dinding-dinding tempat
beribadah itu terbuat dari kayu gaharu yang memiliki bau yang harum. Di samping
itu, terdapat kelambu-kelambu yang
terbuat dari kain-kain
yang mengagumkan yang dicampur
dengan emas. Juga terdapat lampu-lampu yang terhulur dari atap dan juga ada
lilin-lilin yang memenuhi ruangan dengan cahaya. Meskipun demikian, kegelapan
menyelimuti hati orang- orang yang ada di situ.
Nabi Isa
berdiri cukup lama
di tempat penyembahan
itu. Setiap kali
ia memutarkan wajahnya, ia
mendapati para pendeta
di sana. Terdapat
dua puluh ribu pendeta. Nama-nama mereka tercatat dalam haikal. Mereka
adalah kaum Waliyun yang
memakai saku-saku yang
besar yang di
dalamnya ada kitab-kitab syariat.
Sedangkan kaum Farisiun, mereka memakai pakaian yang lebar yang sisi-sisinya
tertenun dengan emas. Mereka adalah pembantu haikal yang resmi
dengan memakai baju-baju
mereka yang putih.
Adapun kaum Shaduqiyun adalah
kelompok para pendeta aristokrat yang bersekutu dengan penguasa di mana mereka
memperoleh kekayaan melalui persekutuan ini. Nabi Isa memperhatikan bahawa
jumlah pengunjung haikalita lebih sedikit daripada jumlah para
pendeta dan para
tokoh agama. Tempat
penyembahan itu dipenuhi dengan
kambing dan merpati
yang dibeli oleh
para pengunjung tempat penyembahan
itu. Mereka menyerahkannya sebagai
korban kepada Allah. Yaitu
korban yang disembelih di
dalam tempat persembahan
di atas tempat penyembelihan. Alhasil
setiap langkah yang
diayunkan oleh para pejalan di tempat penyembahan itu akan
menghasilkan wang.
Di tempat
penyembahan Yahudi itulah
tersingkap hakikat kehidupan
kaum Yahudi. Nilai satu-satunya yang disembah oleh manusia di zaman itu
adalah wang. Jadi, kemewahan materi atau kekayaan adalah nilai satu-satunya
yang kerananya manusia akan
bergulat satu sama
lain. Dalam hal itu, tidak ada
perbezaan antara tokoh-tokoh pembawa
ajaran syariat dengan manusia-manusia biasa. Kaum
Shaduqiyun dan kaum Farisiun bekerja sama di antara mereka di dalam haikal itu
seakan-akan mereka di dalam suatu pasar di mana
mereka memanfaatkannya untuk
diri mereka dengan
terus mencari korban-korban di
dalamnya. Sering kali
kaum Shaduqiyun dan
Farisiun
berseteru dalam
persoalan syariat dan
hukum. Demikian juga,
mereka berseteru dalam menentukan
korban yang harus
mereka raih di
haikal itu. Kaum Farisiun
berpendapat bahawa haiwan-haiwan korban itu harus dibeli dari harta haikal
sedangkan kaum Shaduqiyun menganggap bahawa harta dari haikal adalah hak
mereka. Oleh kerana
itu, mereka menganggap
bahawa haiwan korban itu harus
dibeli dengan jumlah tersendiri. Begitu juga kaum Farisiun mewajibkan untuk
membakar haiwan yang
disembelih di atas
tempat penyembahan,
sedangkan kaum Shaduqiyun
mereka mengambil haiwan sembelihan ini untuk diri mereka
sendiri.
Di dalam
Talmud disebutkan bahawa
kaum Shaduqiyun menjual
merpati di toko-toko mereka
yang mereka miliki.
Mereka sengaja memperbanyak kesempatan-kesempatan yang
diharuskan di dalamnya
untuk mengorbankan burung-burung
merpati sehingga harga seekor burung merpati saja mencapai beberapa Dinar.
Melihat hal itu, salah satu tokoh Farisiun yaitu Sam'an bin Amlail mengeluarkan
fatwa yang intinya mengurangi kesempatan-kesempatan yang diharuskan di dalamnya
seseorang menyerahkan merpati sebagai korban. Setelah itu, harga burung cuma
mencapai seperempat Dinar. Pergelutan antara kedua kelompok
itu mendatangkan pukulan
berat bagi pemilik
toko yang menyimpan burung
merpati terutama anak-anak dari kepala pendeta.
Nabi
Isa memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingnya; Nabi Isa melihat kaum
fakir yang tidak mampu membeli haiwan korban sehingga mereka tidak mampu
berkorban; Nabi Isa melihat bagaimana para pendeta memperlakukan mereka dan
memangsa mereka seperti serigala yang buas. Nabi Isa berfikir di dalam dirinya,
mengapa binatang-binatang itu mereka bakar lalu dagingnya menjadi asap di
udara, padahal di sana terdapat ribuan kaum fakir yang mati kelaparan? Mengapa
mereka mengira bahawa Allah SWT redha ketika tempat penyembelihan dilumuri
dengan darah, lalu
haiwan korban itu
dibawa ke rumah-rumah para
pendeta dan toko-toko
mereka untuk dijual?
Mengapa orang-orang fakir banyak
berhutang dan mengeluarkan
banyak wang untuk membeli
binatang-binatang korban? Mengapa
binatang-binatang korban itu harus
dimiliki dan hanya
dirawat oleh para
pendeta lalu apa
yang mereka lakukan dengan
wang-wang ini? Lalu, di manakah tempat orang-orang fakir di
haikal
itu? Bukankah hal yang aneh ketika seseorang memasuki rumah dengan
keharusan
membawa wang?
Nabi
Isa pergi dari tempat penyembahan itu dan ia meninggalkan kota menuju gunung.
Dada Nabi Isa dipenuhi dengan kecemburuan yang suci terhadap yang Maha Benar.
Wajahnya tampak semakin pucat ketika melihat berbagai macam kejahatan memenuhi
dunia. Nabi Isa berdiri di atas sebuah bukit dan beliau mulai melakukan solat.
Titisan-titisan air mata mulai berlinang dari pipinya dan jatuh ke bumi. Nabi
Isa mulai merenung dan menangis. Di sana terdapat bunga yang nyaris mati kerana
kehausan lalu ketika ia mendapatkan titisan air mata al-Masih, maka bunga itu
mekar kembali dan mendapatkan kehidupan. Titisan air
mata al-Masih menyelamatkannya, sebagaimana
beliau akan menyelamatkan manusia
dengan dakwahnya. Di malam yang penuh berkah ini pula, dua orang Nabi yang
mulia meninggalkan bumi, yaitu Nabi Yahya dan Nabi Zakaria. Kedua Nabi itu
dibunuh oleh penguasa. Sejak kepergian mereka berdua, bumi kehilangan banyak
dari kebaikan. Pada malam itu juga, turunlah wahyu kepada Isa bin Maryam. Allah
SWT memutuskan perintah- Nya agar ia memulai dakwahnya.
Nabi Isa
menutup lembaran halus
dari kehidupannya yaitu
lembaran yang penuh dengan
tafakur dan ibadah. Beliau memulai perjalanannya yang berat dan penuh tantangan
serta penderitaan: beliau mulai berdakwah di jalan Allah SWT; beliau mulai
membangun kerajaan yang tegak berdasarkan kerendahan hati dan cinta. Kerajaan
yang penguasanya bertujuan untuk membebaskan dan menyucikan roh. Kerajaan yang
memancarkan sikap rendah diri dan cinta. Nabi Isa ingin
menyelamatkan rohani. Ajaran
Nabi Isa berdasarkan
keimanan terhadap hari kiamat dan kebangkitan. Nilai-nilai dan pemikiran
tersebut tidak ditemukan dalam kehidupan orang-orang Yahudi.
Syariat Musa
menetapkan pemberlakuan hukum
qisas: barang siapa
yang memukulmu di pipi sebelah kananmu, maka pukullah pipi sebelah
kanannya. Lalu bagaimanakah orang-orang Yahudi menerapkan hukum qisas tersebut?
Jika yang dipukul mampu untuk menghancurkan rumah orang yang memukul, maka ia
tidak perlu merasa puas hanya sekadar memukul pipi sebelah kanannya, mamun jika
ia tidak mampu,
maka hendaklah ia
memukul pipi sebelah kanannya. Namun boleh jadi hatinya
dipenuhi dengan dendam kerana ia tidak dapat menghancurkan rumahnya.
Jadi, kebencian
adalah pelabuhan tempat
bersinggahnya syariat Musa. Meskipun beliau adalah seorang Nabi
yang merupakan cermin cinta Ilahi yang besar namun syariatnya kini berada di
bawah kekuasaan hati-hati yang mati, yaitu
hati-hati yang penuh
dengan dendam dan
kebencian. Lalu, apa
yang dilakukan Nabi Isa
terhadap semua ini?
Allah SWT telah
mengutusnya dan memperkuat Taurat
yang dibawa oleh
Musa sebagaimana Allah
SWT menurunkannya kepada Musa. Jadi, seorang nabi tidak menghancurkan
tugas nabi sebelumnya. Para nabi bagaikan satu mata rantai yang tujuannya
adalah satu, yaitu menciptakan
kesucian dan mempertahankan kebenaran
serta mengesakan Allah SWT.
Kemudian
apa yang dilakukan Nabi Isa terhadap syariat qisas tersebut? Yang jelas,
tindakan yang dilakukan oleh Nabi Isa murni dari ilham yang didapatinya dari
Allah SWT. Nabi Isa mengembalikan kaum kepada tujuan asli dari syariat.
Nabi Isa
mengembalikan mereka kepada
hikmah syariat yang
asli. Nabi Isa mengembalikan mereka kepada cinta. Nabi
Isa tidak mengatakan sesuatu pun kepada orang yang memukul pipi sebelah
kanannya. Nabi Isa tidak berusaha untuk memukul pipi sebelah kanannya. Al-Masih
justru akan membalikkan pipi sebelah kirinya. Inilah syariat Nabi Isa yang
tidak berbeza sedikit pun dengan syariat
Nabi Musa. Ia
merupakan kedalaman yang
mengagumkan dari kedalaman syariat
Nabi Musa. Nabi
Isa ingin menetapkan
kepada kaum di sekelilinginya tentang
sesuatu yang penting.
Nabi Isa ingin
memberitahu mereka bahawa syariat
bukan mengajari kalian
untuk meletakkan dendam pada diri kalian lalu kalian memukul
lawan kalian. Syariat yang hakiki adalah,
hendaklah
kalian menebar kasih sayang, pemaaf, dan cinta.
Terdapat banyak
binatang-binatang buas di
hutan. Binatang-binatang itu mencintai diri mereka sendiri. Mereka
bermusuhan dan saling membunuh demi makanan dan minuman. Mereka memberikan makan kepada anak- anaknya. Perbezaan antara manusia dan
binatang adalah perbezaan pada tingkat cinta. Haiwan tidak akan mampu melampaui
darjat cintanya kepada makhluk yang lain.
Atau dengan kata
lain, haiwan tidak dapat
membagi cintanya kepada jenis
yang lain. Sedangkan
manusia mampu melakukan
hal itu. Di
situlah manusia mampu dapat mencapai kemuliaannya dan kemanusiaannya.
Al-Masih memberitahu kaumnya bahawa manusia tidak akan menjadi manusia sempurna
kecuali setelah ia
mencintai orang lain
sebagaimana ia mencintai
dirinya sendiri.
"Aku
mendengar bahawa dikatakan, hendaklah engkau mencintai orang yang dekat denganmu
dan membenci musuhmu,
sedangkan aku berkata
kepada kalian, cintailah musuh
kalian dan doakanlah
orang yang melaknati
kalian. Berbuat baiklah kepada
pembenci kalian dan
solatlah untuk orang-orang berbuat buruk kepada
kalian." (Injil Mata).
Dakwah Nabi
Isa datang dan
menghapus syariat Nabi
Musa dalam bentuk luaran. Jika kita berusaha membandingkan
dua syariat tersebut dalam bentuk yang
sederhana, maka pada
hakikat-nya dakwah Nabi
Isa bertujuan untuk menghapus bidaah yang dilakukan oleh
kaum Farisiun dan Shaduqiun terhadap syariat Nabi Musa dan menunjukkan hakikat
syariat ini dan tujuan-tujuannya yang tinggi. Di tengah-tengah masa
materialisme yang sangat luar biasa dan dunia dipenuhi dengan penyembahan
terhadap emas dan tersebarnya berbagai macam
kejahatan, muncullah dakwah
al-Masih sebagai reaksi
ideal yang menunjukkan ketinggian
dan kesucian. Al-Masih
mengetahui bahawa ia mengajak
manusia untuk menciptakan
perilaku ideal dalam
kehidupan; Al-Masih menyedari bahawa
dakwahnya penuh dengan
idealisme tetapi
idealisme
ini sendiri pada saat yang sama merupakan solusi satu-satunya untuk mengubati kehidupan
dari kesengsaraan dan
penyakit-penyakit menular;
Al-Masih mengetahui bahawa
tidak semua manusia
tidak mampu untuk mencapai puncak yang diisyaratkannya.
Tetapi paling tidak, hendaklah setiap orang berusaha sedikit mendaki sehingga ia
selamat.
Dakwah
Nabi Isa terdiri dari kesudian yang mengagumkan; dakwah Nabi Isa bertujuan
untuk menyelamatkan roh atau dakwah yang dapat dianggap sebagai pedoman
perilaku individu, bukan suatu sistem perincian-perincian tersebut dan hanya
memfokuskan kepada sumber
utama, yaitu roh.
Isa ingin menghidupkan rohani
manusia dan membimbingnya
untuk mencapai cahaya Sang Pencipta. Oleh kerana itu, Isa
datang dengan didukung oleh Ruhul kudus.
Ruhul kudus
adalah Jibril. Kita
tidak mengetahui bagaimana
Allah SWT memperkuat Isa
dengan Roh Kudus:
apakah Jibril menemaninya
dan menyertainya sepanjang pengutusannya? Jibril
turun kepada nabi
untuk menyampaikan risalah atau
membawa mukjizat atau
justru mendatangkan hukuman atas
kaumnya, tetapi ia tidak bersama mereka sepanjang waktu. Oleh kerana itu,
apakah memang Jibril menemani Isa sehingga beliau diangkat ke langit?
Hampir
saja hati menjadi tenang dengan tafsiran ini kerana dalam kehidupan Nabi Isa
terdapat sisi-sisi malaikat di mana beliau mempunyai kemampuan yang luar biasa
yang berupa mukjizat-mukjizat. Bahkan kemampuan beliau sampai pada batas
menghidupkan orang-orang mati
dengan izin Allah
SWT. Begitu juga, beliau memiliki
kemampuan yang luar biasa di mana beliau dengan hanya meniupkan pada suatu
tanah, maka tanah itu terbentuk menjadi burung dan ia terbang dengan izin Allah
SWT. Selain itu, Nabi Isa sama sekali tidak mendekati wanita sepanjang hidupnya
sehingga beliau diangkat oleh Allah SWT. Beliau tidak menikah. Ini juga sifat
malaikat di mana kita saksikan bahawa sebahagian para nabi yang diutus oleh
Allah SWT dan memiliki beberapa wanita bahkan kitab-kitab Yahudi
menyebutkan bahawa jumlah
isteri- isteri nabi
mereka Sulaiman misalnya, mencapai seribu wanita.
Isa
hidup dalam keadaan tenggelam dalam ibadah seperti anak dari bibinya, yaitu
Yahya. Jika Yahya khusyuk beribadah dan tinggal di gunung dan gurun bahkan dia menginap di gua, maka
hal itu adalah hal yang
alami baginya, sedangkan Isa hidup
justru di tengah-tengah masyarakat kota. Persoalannya adalah, bukan hanya Isa
tidak terkait hubungan dengan seorang wanita dan bukan hanya
mukjizat-mukjizat yang diperolehnya
yang luar biasa
yang berhubungan dengan roh, tetapi
yang lebih dari itu adalah,
bahawa beliau didukung oleh Ruhul
kudus sepanjang masa
dakwahnya. Tentu itu
adalah nikmat yang tak
seorang pun dari
para nabi sebelumnya
diberi. Allah SWT
berfirman:
"(Ingatlah), ketika
Allah mengatakan: 'Hai
Isa putera Maryam,
ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan
kamu dengan roh kudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam
buaian dan sesudah dewasa; dan
(ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat, dan
Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk)
yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian
kamu meniup padanya,
lalu bentuk itu
menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan
(ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu
dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu
mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan
(ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil
(dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu
mengemukakan kepada mereka
keterangan- keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara
mereka berkata: 'Ini tidak lain hanya sihir yang nyata.' Dan (ingatlah), ketika
Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: 'Berimanlah kepada-Ku dan kepada
rasul-Ku.' Mereka menjawab: 'Kami
telah beriman dan
saksikanlah (wahai rasul)
bahawa sesungguhnya
kami adalah orang- orang yang patuh
(kepada seruanmu).'" (QS. al-Maidah: 110-111)
Ayat-ayat tersebut
menyebutkan lima mukjizat
Nabi Isa. Pertama,
bahawa beliau mampu berbicara dengan manusia saat beliau masih di
buaian. Kedua, beliau diajari Taurat
dan Taurat yang
diturunkan kepada Nabi
Musa telah tersembunyi dan telah mengalami
perubahan yang dilakukan oleh orang-orang cerdik dari
kaum Yahudi. Ketiga,
beliau membentuk tanah
seperti burung kemudian meniupkannya
lalu tanah itu
menjadi burung. Keempat,
beliau mampu menghidupkan orang-orang
yang mati. Kelima,
beliau mampu menyembuhkan orang
yang buta dan orang yang belang. Terdapat mukjizat yang keenam yang disebutkan
dalam Al-Quran al-Karim:
"(Ingatlah),
ketika pengikut-pengikut Isa berkata: 'Hai Isa putera Maryam, bersediakah
Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?' Isa menjawab: 'Bertakwalah kepada Allah jika betul- betul kamu orang yang beriman.' Mereka
berkata: 'Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati
kami dan supaya
kami yakin bahawa
kamu telah berkata benar
kepada kami, dan
kami menjadi orang-orang
yang menyaksikan hidangan itu.'
Isa putera Maryam
berdoa: 'Ya Tuhan
kami, turunkanlah kiranya kepada
kami suatu hidangan dari langit (yang
hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang
bersama kami dan yang datang sesudah
kami, dan menjadi
tanda bagi kekuasaan-Mu:
beri rezekilah kami dan
Engkaulah Pemberi rezeki
Yang Paling Utama.'
Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu
kepadamu, barang siapa yang kafir di
antaramu sesudah (turun
hidangan) itu, maka sesungguhnya Aku
akan menyeksanya dengan
seksaan yang tidak
pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.'"
(QS. al-Maidah: 112-115)
Mukjizat yang
keenam itu adalah
turunnya makanan dari
langit kerana permintaan
Hawariyin. Juga terdapat mukjizat yang ke tujuh yang terdapat surah Ali
'Imran yaitu beliau
diberi kemampuan melihat
hal-hal yang ghaib melalui
panca inderanya meskipun
beliau tidak menyaksikannya secara langsung. Oleh
kerana itu, beliau
memberitahu kepada sahabat-sahabatnya dan murid-muridnya apa
yang mereka makan dan apa yang mereka simpan di rumah-rumah mereka:
"Dan
aku khabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di
rumahmu. Sesungguhnya pada
yang demikian itu adalah
suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu benar-benar beriman.
" (QS. Ali 'Imran:: 49)
Inilah mukjizat
Nabi Isa yang
ke tujuh yang
didahului oleh mukjizat kelahirannya yang sangat
mengagumkan. Beliau lahir tanpa seorang ayah, lalu diikuti mukjizat berikutnya
di mana beliau diangkat dari bumi ke langit ketika penguasa yang
lalim berusaha menyalibnya.
Barangkali pembaca akan bertanya-tanya: mengapa
mukjizat-mukjizat seperti ini
diperoleh oleh Nabi Isa? Kita mengetahui bahawa mukjizat
adalah hal yang luar biasa yang Allah SWT berikan kepada nabi-Nya. Tetapi
pemberian itu menjadi sempurna jika mukjizat
itu disesuaikan dengan
keadaan zaman diutusnya
nabi tersebut sehingga mukjizat
itu sangat berpengaruh
dalam jiwa kaum
dan mampu menggoncangkan hati
mereka dan menjadikan mereka beriman kepada pemilik mukjizat ini. Jadi,
mukjizat menjadi suatu hal yang luar biasa. Oleh kerana itu, Allah SWT
berkehendak agar mukjizat ini sesuai dengan zaman diutusnya nabi tersebut.
Jadi,
setiap mukjizat yang dibawa oleh rasul selalu berlain-lainan. Nabi Saleh
diutus di tengah-tengah
kaum yang melihat
bagaimana seekor unta
yang melahirkan dari gunung
atau mampu membelah
batu-batuan gunung. Sedangkan
Nabi Musa diutus di tengah-tengah kaum yang gemar memainkan sihir sehingga
sihir mendapat tempat istimewa. Oleh kerana itu, mukjizat yang dibawa oleh Nabi
Musa bentuk lahirnya seakan-akan menyerupai sihir, tetapi pada hakikatnya ia
justru menjatuhkan sihir. Mukjizat itu berupa tongkat yang menjadi ular
dan kemudian ular
itu memakan tongkat-tongkat para
tukang sihir.
Lain
halnya dengan Nabi Isa, beliau diutus di tengah-tengah kaum materialis yang
mengingkari roh dan hari kebangkitan. Mereka menduga bahawa manusia hanya
sekadar tubuh tanpa roh. Mereka adalah kaum yang meyakini bahawa darah makhluk
adalah rohnya atau jiwanya. Taurat yang ada di tangan Yahudi menyebutkan bahawa
tafsir an-Nafst adalah darah. Disebutkan di dalamnya: "Janganlah engkau
memakan darah dari
tubuh manusia kerana
jiwa setiap tubuh adalah
darahnya. "
Nabi
Isa diutus di tengah-tengah kaum yang mereka disesatkan oleh falsafah yang
dasarnya mengatakan bahawa penciptaan alam memiliki sumber pertama, seperti
sebab dari akibat. Jadi, alam memiliki wujud yang mendahuluinya. Di
tengah-tengah masa yang materialis ini, di mana roh diingkari, maka secara
logik mukjizat Nabi
Isa terkait dengan
usaha menunjukkan alam
rohani. Demikianlah Isa dilahirkan
tanpa seorang ayah.
Mukjizat ini cukup
untuk membungkam kaum yang mengatakan bahawa alam memiliki sumber
pertama. Jelas bahawa alam tidak memiliki wujud yang mendahuluinya. Kita berada
di hadapan Sang Pencipta
yang mengadakan sistem
bagi segala sesuatu
dan menjadikan sebab bagi segala sesuatu. Dia menjadikan proses
kelahiran anak berasal dari hubungan
laki-laki dan wanita,
tetapi Pencipta ini
sendiri menciptakan sebab-sebab dan sebab-sebab itu tunduk kepadanya
sedangkan Dia tidak tunduk kepada sebab-sebab itu. Dengan kehendak- Nya yang
bebas, Dia mampu memerintahkan kelahiran anak tanpa melalui ayah sehingga anak
itu lahir. Dan, kelahiran Isa pun terjadi tanpa seorang ayah. Cukup ditiupkan
roh kepadanya:
"Lalu
Kami tiupkan ke dalamnya (tubuhnya) roh dari Kami dan Kami jadikan dia dan
anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang
besar bagi semesta alam. " (QS. al-Anbiya': 91)
Kelahiran
Isa membawa mukjizat yang luar biasa yang menegaskan dua hal:
pertama,
kebebasan kehendak Ilahi dan ketidak terkaitannya dengan sebab kerana
Dia adalah Pencipta
sebab-sebab, kedua pentingnya
roh dan menjelaskan
kedudukannya serta nilainya
di antara kaum yang hanya mementingkan fizik
sehingga mereka mengingkari
roh. Seandainya kita mengamati sebahagian besar mukjizat Nabi
Isa, maka kita akan melihatnya dan mendukung
pandangan tersebut. Misalnya,
mukjizat Nabi Isa
yang mampu membentuk tanah seperti
burung lalu beliau meniupkannya sehingga tanah itu menjadi burung. Mukjizat ini
pun menguatkan adanya roh. Semula ia berupa tanah yang bersifat fizik yang
tidak dapat disifati dengan kehidupan tetapi ketika Nabi Isa meniupnya, maka
segenggam tanah itu menjadi burung yang memiliki kehidupan, Sungguh sesuatu yang bukan fizik masuk ke
dalamnya.
Sesuatu
itu adalah roh. Roh itu masuk ke dalam tanah sehingga ia menjadi burung. Jadi,
roh adalah nilai yang hakiki, bukan jasad atau fizik. Di samping itu, juga ada
mukjizat menghidupkan orang-orang yang mati. Bukankah ini juga menunjukkan
adanya roh dan adanya hari akhir atau hari kebangkitan. Orang yang mati telah
ditelan oleh bumi di mana anggota tubuhnya telah hancur berantakan sehingga
ia hampir menjadi
tulang-belulang yang hancur
lalu al-Masih memanggilnya dan
tiba-tiba dia hidup
kembali dan bangkit
dari kematiannya.
Seandainya orang
yang mati hanya
berupa fizik sebagaimana
dikatakan orang-orang
Yahudi, maka ia
tidak akan mampu
bangkit dari kematiannya kerana fiziknya telah hancur
tetapi mayat itu mampu bangkit dari kematian. Jayanya kembali hidup dan ia bangkit
dari kuburannya serta berbicara. Jadi, roh
adalah nilai yang hakiki.
bukan fizik atau jasad.
Kalau begitu, di
sana terdapat hari kebangkitan
dan hari kiamat.
Hal ini bukanlah
mustahil sebagaimana yang dikatakan
orang-orang Yahudi, kerana
setelah kematian jasad menjadi
tanah yang berterbangan di udara. Itu bukan mustahil tetapi mungkin-mungkin
saja. Dalil dari hal itu adalah, kebangkitan orang-orang yang
telah mati
di hadapan mata
kepala mereka sendiri.
Nabi Isa telah menghidupkan mereka agar kaumnya yakin
bahawa kiamat fizik akan terjadi dari kematian dan itu adalah benar dan bahawa
hari akhir adalah benar.
Juga
terdapat mukjizat yang lain, yaitu beliau mampu memberi tahu kaumnya
tentang apa yang
mereka simpan di
rumah-rumah mereka, tanpa
terlebih dahulu beliau masuk ke rumah mereka atau dapat bocoran
dari seseorang. Mukjizat ini menetapkan
bahawa panca indera bukanlah nilai yang hakiki. Nabi Isa tidak melihat apa yang
ada di rumah mereka tetapi rohnya mampu untuk melihat dan berbicara atau memberitahu mereka. Jadi, rohani adalah
nilai yang hakiki, bukan
fizik. Demikianlah mukjizat-mukjizat Isa
datang untuk memberitahukan pentingnya roh
dan kebebasan kehendak
Ilahi. Mukjizat-mukjizat Nabi Isa - sebagaimana dikatakan oleh guru kami
Muhammad Abu Zahra' - termasuk dari
jenis propagandanya dan
sesuai dengan tujuan risalahnya, yaitu
dakwah untuk mendidik rohani dan
keimanan kepada hari kebangkitan dan
hari kemudian, dan
di sana ada
kehidupan lain di
mana seseorang yang berbuat baik akan dibalas kebaikannya dan orang yang
berbuat buruk akan dibalas keburukannya.
Lalu, apakah
mukjizat menghidupkan orang-orang
yang mati masih memberikan celah
kepada para pengingkaran akhirat
untuk terus mengingkarinya atau
memberikan ruangan kepada penentang hari kebangkitan untuk meneruskan
penentangannya? Kami telah
mengatakan bahawa
orang-orang Yahudi telah
diracuni dengan fikiran
ketidakpercayaan atau penentangan
pada hari akhirat serta tidak beriman kepada hari akhir, maka menghidupkan orang-orang
yang mati yang
dibawa atau dikuasai
oleh Isa menjadi suatu
pukulan telak bagi
mereka yang membuat
mereka beriman, tetapi mereka
masih menentang tanda-tanda kebesaran Allah.
Nabi
Isa menutup lembaran kehidupannya yang lembut dan ia mulai berdakwah di jalan
Allah. Beliau didukung oleh Ruhul kudus dan mukjizat-mukjizat yang luar biasa.
Al-Quran al-Karim menceritakan kepada kita bahawa esensi dakwah al-Masih tidak
banyak berubah dari esensi dakwah para nabi sebelumnya, yaitu menyuarakan Islam
yang intinya adalah
menebarkan tauhid yang
sempurna hanya serta menyerahkan diri kepada Allah: "Sembahlah
Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian."
Al-Quran
memberitahu kita bahawa yang mengatakan kalimat tersebut adalah Isa. Kalimat
tersebut adalah kalimat
yang sama yang
pernah disampaikan seluruh nabi,
meskipun nama mereka, sifat mereka, mukjizat mereka, baju mereka, bahasa
mereka, usia mereka, bentuk mereka, dan warna kulit mereka tidak sama. Mereka
semua bersepakat untuk menyuarakan Islam dan hanya menyerahkan diri kepada
Allah SWT serta beriman bahawa Allah SWT adalah Tuhan mereka dan Tuhan alam
semesta. Tiada sekutu bagi-Nya dan tiada yang setara dengan-Nya. Dia Maha Esa
yang tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tiada sesuatu pun yang
menyerupai-Nya.
Isa
tidak mengatakan persoalan tauhid lebih banyak atau lebih sedikit dari apa yang
pernah disampaikan oleh para nabi. Al-Quran datang kira- kira setelah lima
ratus tahun dari pengangkatan Nabi Isa. Allah SWT, melalui ilmu-Nya yang azali
mengetahui apa yang terjadi di tengah- tengah kaum Masehi di mana mereka berselisih
tentang hakikat Isa.
Oleh kerana itu,
Al-Quran al-Karim berusaha
menyingkap dialog mereka yang belum terjadi. Allah SWT berfirman:
"Dan
(ingatlah) ketika Allah berfirman: 'Hai Isa putera Maryam, adakah kamu
mengatakan kepada manusia: 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan
selain Allah?' Isa
menjawab: 'Maha Suci
Engkau, tidaklah patut
bagiku mengatakan apa yang
bukan hakku (mengatakannya). Jika
aku pernah mengatakannya, maka
tentulah Engkau telah
mengetahuinya. Engkau mengetahui
apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri
Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku
tidak pernah mengatakan
kepada mereka kecuali
apa yang Engkau perintahkan
kepadaku (mengatakannya) yaitu:
'Sembahlah Allah, Tuhanku, dan
Tuhanmu,' dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara
mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan
Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.'" (QS. al-Maidah:
116-117)
Al-Quran secara
tegas mengatakan bahawa dakwah
al-Masih adalah dakwah tauhid. Al-Quran
ingin mengatakan bahawa
al-Masih terlepas dari
segala tuduhan yang dialamatkan kepadanya, yaitu tuduhan bahawa ia anak
Tuhan atau ia justru tuhan itu sendiri. "Aku tidak pernah mengatakan
kepada mereka kecuali apa yang
Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu: 'Sembahlah Allah, Tuhanku, dan
Tuhanmu."
Nabi
Isa pergi berdakwah di jalan Allah SMT. Inti dakwahnya adalah, bahawa tidak ada
perantara antara Pencipta dan makhluk; tidak ada perantara antara seorang penyembah
dan yang disembah.
Allah SWT menurunkan
kitab Injil kepada Nabi Isa. Ia
adalah kitab suci yang datang untuk membenarkan Taurat dan berusaha
menghidupkan syariatnya yang
pertama. Injil adalah
cahaya, petunjuk, dan peringatan
bagi orang-orang yang
bertakwa. Nabi Isa
ingin meluruskan tafsiran orang-orang
Yahudi terhadap syariat
di mana mereka menyampaikan tafsir
dari syariat itu
secara harfiah dan
sesuai dengan epentingan mereka.
Nabi Isa menenangkan orang-orang yang menjaga syariat bahawa ia tidak datang
untuk menghilangkan syariat, tetapi ia datang untuk menyempurnakannya dan
menyelesaikan tugas para
nabi. Namun Isa
lebih
menekankan
pada penafsiran esensinya, bukan kepada bentuk lahiriahnya.
Nabi Isa
memberi pengertian kepada
orang-orang Yahudi bahawa
sepuluh wasiat yang dibawa oleh Isa mengandung makna-makna yang lebih
dalam dari apa yang mereka
bayangkan. Wasiat yang
keenam bukan hanya
melarang pembunuhan materi, sebagaimana
yang mereka fahami
tetapi juga menyangkut
penindasan dan usaha mencelakakan orang lain. Sedangkan wasiat yang ke
tujuh bukan hanya
melarang zina (dalam pengertian
terjadinya hubungan antara laki-laki
dengan perempuan melalui
cara-cara yang tidak sah), tetapi zina berarti segala bentuk
perbuatan yang menjurus kepada dosa. Misalnya,
ketika mata diarahkan
kepada lawan jenis
disertai syahwat dan hasrat
seksual, maka itu pun
berarti zina. Nabi Isa berkata: "Sesungguhnya
lebih baik bagi manusia untuk menghindarkan matanya dari sesuatu yang dapat
menghancurkannya daripada ia harus hancur dengan mata itu sendiri. Syariat yang
dibawa oleh Isa melarang untuk melanggar sumpah dan janji Nabi Isa memberi pengertian
kepada kaumnya bahawa
hendaklah mereka tidak melakukan sumpah palsu kerana merupakan
"kesalahan besar jika
nama Allah dibuat
main-main di atas
mulut-mulut manusia." (Injil Mata 21 sampai 48).
Dakwah Nabi
Isa juga berbenturan
dengan arus materialisme
yang sangat mendominasi masyarakat
saat itu. Oleh
kerana itu, beliau
mengingatkan manusia dari perbuatan munafik, pamrih, tamak, dan gila
pujian. Begitu juga beliau mengingatkan mereka dari sifat rakus terhadap
kekayaan dunia; beliau mengingatkan agar jangan sampai mereka menimbun harta di
dunia. Yakni, hendak lah mereka tidak memfokuskan perhatian mereka pada
urusan-urusan duniawi semata yang
sifatnya tidak abadi.
Tetapi hendaklah mereka memfokuskan perhatian mereka pada
hal-hal yang bersifat samawi (ukhrawi)
kerana itu bersifat abadi.
Nabi Isa
memberitahu kepada masyarakatnya agar
mereka menjadi orang-orang yang
teliti saat memilih gaya hidup mereka kerana pada gilirannya akal mereka akan
menjadi cermin darinya. Kecenderungan manusia itu terkait kuat dengan hatinya.
Jika hati tertuju kepada cahaya langit, maka kehidupan manusia akan tampak
bersinar tetapi jika hati tertuju pada kegelapan dunia, maka kehidupannya pun
tampak gelap. Nabi Isa mengingatkan kaumnya dari sikap pamrih
dan cinta dunia.
Beliau mengajak mereka
untuk teliti dalam memilih
majikan yang mereka
mengabdi kepadanya kerana
manusia tidak dapat mengabdi kepada
dua majikan dalam satu waktu. Boleh jadi ia akan
menjadikan harta
sebagai majikannya, atau
boleh jadi ia
akan menjadikan Allah SWT sebagai
tuannya. Jika ia menyembah harta, maka berarti ia jauh dari penyembahan
terhadap Tuhannya. Oleh kerana itu, hendaklah manusia menjauhi dunia, seperti
makanan dan pakaian di mana mereka akan dikuasai oleh kegelisahan dan
ketidaktenangan serta keraguan tentang penjagaan Allah SWT kepada
mereka. Allah SWT
telah berjanji untuk
memenuhi kebutuhan
hamba-hamba-Nya dalam kehidupan. Ketika timbul kegelisahan dan keraguan pada
diri mereka, maka itu dikeranakan keraguan mereka terhadap penjagaan Allah SWT
dan ketidakpercayaan mereka kepada janji-janjinya dan rahmat-Nya serta
bimbingan-Nya. Allah SWT lah yang menciptakan mereka dan Dia pula yang menjamin
kehidupan mereka dan melindungi mereka. Bahkan Dia juga melindungi makhluk yang
paling kecil urusannya seperti burung di langit dan kumbang-kumbang di kebun.
Nabi
Isa memberitahu kaumnya bahawa hanya memperhatikan dunia adalah hal yang salah,
yang tidak pantas dilakukan oleh orang-orang yang beragama. Itu adalah sikap
para penyembah berhala
kerana penyembah berhala
tidak mengetahui apa yang
lebih baik darinya,
sedangkan orang- orang
yang beragama mengetahui bahawa di sana terdapat bimbingan Ilahi yang
mengajak mereka untuk percaya kepada Allah SWT dan tidak begitu peduli dengan
dunia. Allah SWT mengetahui kebutuhan-kebutuhan mereka lebih daripada apa yang
mereka ketahui; Allah
SWT akan melindungi
mereka dan akan
menjamin kehidupan mereka. kerana
itu, yang layak
bagi mereka adalah,
hendaklah mereka memohon agar
diberi kekuasaan Allah
SWT dan kebaikan
dari-Nya. Yakni kehidupan rohani dan apa yang dikandungnya dari
kebahagiaan abadi.
Di
samping itu, Nabi Isa menasihati mereka agar jangan terlalu pusing dengan
kejadian-kejadian yang akan datang dan persoalan-persoalan esok hari kerana
esok hari sudah
berjalan sebagaimana mestinya.
Jika kebutuhan dan penderitaan datang silih berganti, maka
bantuan dan perlindungan Ilahi pun terus datang silih berganti. Dakwah Nabi Isa
juga berbenturan dengan dualisme yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Kita
saksikan sebagaimana mereka suka mendapatkan kebaikan yang ditujukan kepada
diri mereka, maka mereka pun biasa untuk melakukan kejahatan kepada orang-orang
lain. Demikianlah, kehidupan
orang-orang Yahudi dicemari
sikap dualisme ini.
Nabi Isa mewasiatkan kepada
manusia agar mereka
memperlakukan sesama mereka sesuai dengan akidah yang mengatakan:
"Perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau memperlakukan dirimu
sendiri"
Nabi Isa
terus melangsungkan dakwahnya
dan mengajak manusia
untuk menyembah Allah SWT
serta tidak menyekutukan-Nya, sebagaimana
beliau juga mengajak manusia untuk membersihkan rohani serta hati dan
berusaha memasuki kerajaan langit. Dakwah Nabi Isa itu sangat memukul kalangan
para pendeta Yahudi. Kalimat-kalimat yang dilontarkan Nabi Isa bagaikan senjata
yang siap menerpa
wajah mereka dan
menyatakan peperangan terhadap mereka serta
menyingkap kedok kemunafikan mereka.
Mula-mula pemerintahan
Romawi tidak turut
campur dalam masalah
tersebut kerana mereka melihat
bahawa itu hanya
sekadar perselisihan dalaman
antara kelompok-kelompok
Yahudi. Bagi mereka,
selama orang-orang Yahudi
sibuk dengan masalah mereka sendiri dan tidak peduli dengan kekuasaan,
mereka pun tidak turut campur.
Kemudian
para pendeta Yahudi mulai merancang suatu persekongkolan untuk menyingkirkan
Isa. Mereka ingin mengusir Isa dan membuktikan bahawa Isa datang untuk
menghancurkan syariat Musa. Syariat Musa memutuskan untuk merejam wanita yang
berzina. Para pendeta Yahudi menghadirkan wanita yang salah yang berhak
direjam. Mereka berkumpul di sekeliling Isa dan bertanya kepadanya: "Tidakkah syariat
menetapkan untuk merejam
wanita yang bersalah?" Isa
menjawab: "Benar," Mereka
berkata: "Ini adalah
wanita yang bersalah." Isa
memandang wanita itu dan ia pun melihat para pendeta Yahudi. Isa mengetahui
bahawa para pendeta
Yahudi lebih banyak
kesalahannya daripada wanita tersebut. Para pendeta itu menunggu jawapan
Isa. Jika ia mengatakan bahawa wanita
itu tidak berhak
dibunuh, maka berarti
ia menentang syariat Musa, dan jika ia mengatakan bahawa ia berhak
dibunuh, maka ia justru menghancurkan dirinya sendiri yang membawa syariat
cinta dan toleransi. Nabi Isa
memahami bahawa ini
adalah persekongkolan. Beliau tersenyum dan wajahnya tampak bercahaya. Kemudian
beliau melihat para pendeta Yahudi dan wanita itu sambil
berkata: "Barang siapa di antara kalian yang tidak memiliki kesalahan,
maka hendaklah ia merejam wanita itu."
Suara
beliau yang keras itu memecahkan keheningan tempat penyembahan. Beliau menetapkan
peraturan baru yang
berhubungan dengan hukum
yang dijatuhkan kepada orang
yang berbuat salah.
Hendaklah orang yang
tidak berbuat salah menghukum orang yang salah dan tidak berhak
seseorang pun dari kalangan manusia untuk menghukum orang yang bersalah jika ia
sendiri bersalah, tetapi yang menghukumnya adalah Allah SWT yang Maha Suci dan
Maha Tinggi dan Allah SWT adalah Maha Pengasih di antara yang mengasihi.
Nabi
Isa keluar dari tempat penyembahan itu. Tiba-tiba, wanita itu mengejar dari
belakangnya. Lalu wanita itu mengeluarkan dari pakaiannya satu botol dari
minyak yang berharga. Ia berdiri di depan Isa dan menjatuhkan dirinya di atas
kedua kaki Isa lalu menciumnya dan membasuhnya dengan minyak wangi dan air
mata. Setelah itu, ia mengeringkan kedua kakinya dengan rambutnya. Bagi wanita
itu, al- Masih
mempakan harapan terakhir
yang dapat menyelamatkannya.
Lalu keluarlah dari belakang Isa seorang tokoh pendeta Yahudi. Ia berdiri
menyaksikan pemandangan tersebut dan ia merasa kagum terhadap kasih
sayang Isa. Isa
melihat kepadanya dan
bertanya; "Seorang kreditor
yang memiliki dua orang debitor, salah satunya berhutang lima ratus dinar dan
yang lain lima puluh dinar." Pendeta itu berkata: "Ya." Isa
berkata: "Tak seorang pun dari mereka berdua yang memiliki wang yang cukup
untuk melunasi wangnya. Lalu
si kreditor memaafkan
mereka dan membebaskan mereka dari hutang." Pendeta
berkata: "Ya." Kemudian Isa bertanya: "Siapa di antara mereka yang
paling senang kepada kreditor itu?" Pendeta menjawab: "Tentu yang
berhutang lebih besar.''
Isa berkata: "Benar
apa yang engkau ucapkan. Lihatlah wanita ini. Aku
telah masuk ke rumahmu tetapi engkau tidak memberikan kepadaku air agar aku
dapat membasuh wajahku, tetapi wanita itu
membasuh kedua kakiku
dengan air mata
lalu ia mengusapnya
dengan rambut kepalanya. Begitu
juga engkau tidak
memberikan ciuman kepadaku tetapi wanita ini tidak merasa puas
dengan hanya mencium kedua kakiku. Jadi, hatimu sungguh sangat keras tetapi
hati wanita itu dipenuhi dengan rasa cinta.
Maka barang
siapa yang banyak
mencintai nescaya kesalahan-kesalahannya akan diampun."
Kemudian Isa menoleh ke wanita itu dan memerintahkannya untuk bangkit dari
tanah sambil berkata: "Ya Allah, ampunilah wanita ini dan hilangkanlah
kesalahan-kesalahannya."
Nabi
Isa berusaha menyedarkan para pendeta Yahudi bahawa para dai yang menyeru di
jalan Allah SWT bukanlah
algojo yang bengis yang
menerapkan hukum syariat tanpa melihat keadaan masyarakat yang bersalah, tetapi
mereka datang dan membawa ajaran Allah SWT yang merupakan ajaran yang penuh
dengan rahmat kepada manusia. Jadi, rahmat adalah tujuan semua dakwah Ilahi
ini. Bahkan diutusnya para nabi itu sendiri mengandung rahmat Allah SWT
terhadap kaum mereka.
Isa
terus berdoa kepada Allah SWT agar merahmati kaumnya. Beliau menyuruh kaumnya agar
menyayangi diri mereka sendiri dan beriman kepada Allah SWT. Kehidupan Nabi Isa
menggambarkan kezuhudan dan ketaatan dalam ibadah. Mu'tamar bin Sulaiman
berkata, sebagaimana diriwayatkan Ibnu 'Asakir: "Nabi Isa menemui kaumnya
dengan memakai pakaian dari wol. Beliau keluar dalam keadaan tidak
beralas kaki sambil
menangis serta wajahnya
tampak pucat kerana kelaparan
dan bibimya tampak
kering kerana kehausan.
Nabi Isa berkata, "salam
kepada kalian wahai Bani Israil. Aku adalah seseorang yang meletakkan dunia
di tempatnya sesuai
dengan izin Allah
SWT, tanpa bermaksud membanggakan
diri. Apakah kalian mengetahui di mana rumahku?" Mereka menjawab: "Di
mana rumahmu wahai Ruhullah?"
Nabi Isa
menjawab: "Rumahku adalah
masjid, wewangianku adalah
air makananku adalah rasa
lapar, pelitaku adalah
bulan di waktu
malam dan solatku di waktu musim
dingin di saat matahari terletak di timur, bungaku adalah tanaman-tanaman bumi,
pakaianku terbuat dari
wol, syiarku adalah takut kepada Tuhan Yang Maha Mulia,
teman-temanku adalah orang-orang yang fakir,
orang-orang yang sakit,
dan orang-orang yang
miskin. Aku memasuki waktu pagi dan aku tidak mendapati
sesuatu pun di rumahku begitu juga aku memasuki waktu sore dan aku tidak
menemukan sesuatu pun di rumaku. Aku adalah seseorang yang jiwanya bersih dan
tidak tercemar. Maka siapakah yang lebih kaya daripada aku?"
Isa
terus melakukan dakwahnya. Ia didukung oleh mukjizat dari Allah SWT. Nabi Isa
mampu membuat bentuk burung dari tanah kemudian ia meniupnya, maka tanah
itu menjadi burung
dengan izin Allah
SWT. Selain itu,
hujung bajunya yang sederhana jika tersentuh orang yang sakit, maka
orang itu akan sembuh. Bahkan jika Isa meletakkan tangannya di atas mata orang
yang buta atau orang yang terkena sakit belang nescaya ia akan sembuh. Jadi,
Nabi Isa didukung oleh mukjizat yang luar biasa. Bahkan beliau mampu
menghidupkan orang-orang yang mati
dari kuburan mereka
sehingga mereka keluar
dalam keadaan hidup dengan izin Allah SWT.
Para ahli
tafsir mengatakan bahawa
Nabi Isa menghidupkan
empat orang. Pertama, al-Azir
yaitu temannya. Kemudian
dua orang anak
laki-laki dari seorang tua,
dan seorang anak
perempuan satu-satunya dari seorang ibu. Mereka adalah tiga orang yang mati di
zaman Nabi Isa. Ketika orang- orang Yahudi
melihat hal tersebut,
mereka berkata: "Engkau menghidupkan orang-orang yang mati dan
kematian mereka tidak lama .Barangkali
mereka tidak mati tapi mereka sekadar mengalami keadaan tidak sedarkan diri
atau mati suri. Lalu mereka meminta kepada Nabi Isa untuk membangkitkan Sam bin
Nuh dari kematiannya.
Para ahli
tafsir mengatakan bahawa
Nabi Isa bertanya
kepada mereka, "Di manakah kaum kuburan Sam bin Nuh?" Mereka keluar
bersama Isa sehingga mereka mencapai
kuburan. Lalu Nabi
Isa berdoa kepada
Allah SWT agar menghidupkan orang yang mati di situ.
Sam bin Nuh keluar dari kuburannya, dan rambut dikepala-nya tampak beruban. Isa
berkata kepadanya: "Bagaimana rambut
di kepalamu bisa
beruban, sementara di
zamanmu kau tidak.
ada uban," Sam berkata: "Ya Ruhullah, aku mendengar engkau
berdoa untukku lalu aku mendengar suara
yang mengatakan, aku
akan mengabulkan wahai Ruhullah. Aku mengira bahawa kiamat
telah tiba. kerana takutnya kepada hal itu sehingga rambut di kepalaku
beruban."
Apa
pun yang dikatakan berkaitan dengan cerita itu yang menyebutkan tentang
bagaimana Nabi Isa menghidupkan orang-orang yang mati, namun kita tidak
mengetahui konteks Al-Qu'ran serta perincian-perincian yang menjelaskan hal
tersebut. Allah SWT
hanya menyebutkan bahawa
Isa menghidupkan orang-orang
yang mati dengan izin-Nya. Kita percaya bahawa Nabi Isa mampu menghidupkan mereka
tetapi kita tidak
mengetahui apakah mereka
mati kembali setelah dihidupkan atau mereka sempat menjalani kehidupan
selama beberapa saat. Nabi Isa terus berjalan di jalan Allah SWT. Beliau
membuat bagi mereka apa yang disebut dengan hukum roh. Beliau menaiki gunung
dan para sahabat- sahabatnya berdiri di sekitarnya. Nabi Isa melihat
orang-orang yang beriman kepadanya yang terdiri dari orang-orang yang fakir,
orang-orang yang
menderita,
dan orang- orang yang sedih. Jumlah mereka sedikit sebagaimana lazimnya jumlah
para pengikut nabi.
Gunung diliputi
dengan awan tipis
dan turunlah hujan
gerimis. Isa mulai berbicara: "Sungguh
beruntung bagi orang-orang
miskin kerana mereka memiliki kerajaan langit. Beruntunglah
orang-orang yang sedih kerana mereka akan
menjadi orang-orang yang
mulia. Beruntunglah yang
diserahi amanat kerana mereka
akan mewarisi bumi. Beruntunglah orang- orang yang lapar dan haus kerana
mereka akan dikenyangkan.
Beruntunglah orang-orang yang menyayangi kerana
mereka akan disayangi.
Beruntunglah orang-orang yang bersih
hatinya kerana mereka
akan melihat Allah
SWT. Beruntunglah orang-orang
yang tertindas demi mempertahankan kebenaran kerana mereka akan mendapatkan
kerajaan langit. Kalian adalah garam bumi jika garam telah rosak, maka
siapa gerangan yang
dapat mengembalikannya menjadi
garam
kembali." Renungkanlah
kedalaman ungkapan dari
Nabi Isa, "kalian
adalah garam bumi."
Garam
adalah sesuatu yang memberikan rasa yang khusus dan tanpa garam makanan akan
menjadi hambar. Yakni, tanpa orang-orang mukmin, maka cita rasa kehidupan
terasa tidak bermakna; tanpa kehadiran orang-orang Muslim dan perbuatan mereka
yang ikhlas terhadap Allah SWT akan tampak kehidupan sangat berat
dan tidak berarti.
Di samping itu,
kehadiran manusia sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi pun
sia-sia, dan keagungan manusia sebagai hamba Allah SWT pun tidak bermakna, dan
pada gilirannya kehidupan akan dipenuhi dengan kejahatan dan keburukan.
Allah SWT
teiah mewahyukan kepada
"garam bumi" agar
mereka beriman kepada Nabi Isa.
Allah SWT berfirman:
"Dan (ingatlah),
ketika Aku ilhamkan
kepada pengikut-pengikut Isa
yang setia: 'Berimanlah kamu
kepada-Ku dan kepada
rasul-Ku.' Mereka menjawab: 'Kami
telah beriman dan
saksikanlah (wahai rasul) bahawa sesungguhnya kami
adalah orang-orang yang
patuh (kepada seruanmu).'" (QS. al-Maidah: 111)
Al-Hawariyin mengakui
kebenaran ajaran Nabi
Isa dan mereka
menyatakan keislaman kepadanya, sebagaimana ratu Saba' mengakui
kebenaran ajaran Nabi Sulaiman dan menyatakan keislaman padanya, dan
sebagaimana semua para nabi
menyatakan keislaman. Hakikat
ajaran para nabi
terbatas kepada pernyataan
keislaman dan semua nabi menyeru kepada jalan tauhid dan jalan Islam. Islam
dalam pandangan kami memiliki makna yang lebih dalam daripada tauhid. Pengakuan
seseorang terhadap Allah
SWT dan keimanan
akan keesaan-Nya dalam menciptakan
makhluk tidak mencegah
orang itu untuk berbuat dosa, sedangkan keislaman atau
penyerahan hati dan anggota badan serta
pemikiran kepada Allah
SWT merupakan suatu tingkatan
sedikit lebih tinggi. Ini
adalah tingkat kepatuhan
orang-orang yang patuh
dan puncak ketauhidan orang-orang
yang bertauhid. Itu adalah keserasian antara tindakan dengan fikiran,
yaitu usaha manusia
untuk menghindari kesalahan
dan memurnikan amal hanya untuk Allah SWT. Al-Quran al- Karim memberitahu
kita bahawa Allah SWT menyampaikan wahyu kepada al-Hawariyin agar mereka
beriman kepadanya dan kepada Rasul-Nya Isa.
Marilah kita
renungkanlah sejenak tentang
wahyu Allah SWT
terhadap Hawariyin. Kita mengetahui bahawa Allah SWT mewahyukan kepada
manusia dan kepada makhluk-makhluk lainnya. Allah SWT berfirman:
"Dan
(ingatlah) ketika Tuhanmu mewahyukan kepada lebah..." (QS. an-Nahl:
68)
Yang
dimaksud dengan wahyu di sini adalah memberikan ilham kepada makhluk agar mereka
menuju ke jalan
fitrahnya yang telah
Allah SWT gariskan
di atasnya sehingga mereka mencapai jalan kesempurnaan. Tidakkah Anda
ingat tentang jawapan Nabi Musa terhadap pertanyaan Fira'un:
"Fir'aun
berkata: 'Siapakah Tuhan kamu berdua wahai Musa. " (QS. Thaha:
49)
"Musa
berkata: 'Tuhan kami ialah (Tuhan) yang
telah memberikan kepada tiap-tiap
sesuatu bentuk kejadiannya
kemudian memberinya petunjuk.
" (QS. Thaha: 50)
Makna
di sana dan di sini sama. Makna yang sama tersebut diterapkan kepada kaum
Hawariyin di mana wahyu Allah SWT terhadap mereka berupa pemberian ilham kepada
mereka demi kebaikan mereka dan kebahagiaan mereka, dan wahyu ini tidak
bertentangan dengan ikhtiar mereka dan usaha mereka serta keinginan mereka,
bahkan tidak bertentangan dengan kebebasan mereka. Allah SWT telah melihat hati
mereka yang dipenuhi dengan kebaikan. Dia melihat mereka sebagai
garam bumi, maka
Allah SWT mewahyukan
kepada mereka agar beriman
kepadanya dan rasul-Nya
sehingga mereka pun
beriman dan mereka pun
bersaksi bahawa mereka
orang-orang yang berserah
diri atau Muslim.
Tampaknya
kaum Hawariyin menyembunyikan keimanan mereka sehingga Isa merasakan kekufuran
kaumnya semakin menjadi-jadi
lalu Isa memanggil mereka: "Siapakah di
antara kalian yang
menolong aku menuju
jalan Allah SWT?" Allah SWT
berfirman:
"Maka
tatkala Isa mengetahui keingkaran dari mereka (Bani Israil) berkatalah dia:
'Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk menegakkan (agama)
Allah?' Para Hawariyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: 'Kamilah penolong-penolong
(agama) Allah. Kami
beriman kepada Allah;
dan saksikanlah bahawa sesungguhnya kami
adalah orang-orang yang menyerahkan diri. Ya Tuhan kami, kami
telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul,
kerana itu masukkanlah
kami
ke dalam golongan orang- orang yang menjadi saksi.'" (QS. Ali 'Imran:
52-53)
Nas
Al-Quran menunjukkan bahawa Nabi Isa mengajak mereka untuk mengikuti Islam
sehingga mereka pun berserah diri; nas Al-Quran menegaskan bahawa Nabi Isa
menyampaikan khabar gembira dengan kedatangan seorang rasul yang datang
setelahnya yang bernama Ahmad. Dikatakan dalam Al-Quran:
"Dan
(ingatlah) ketika
Isa putera Maryam
berkata: 'Hai Bani
Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab
yang turun sebelumku, yaitu
Taurat dan memberi
khabar gembira dengan (datangnya) seorang
rasul yang akan
datang sesudahku, yang
namanya Ahmad (Muhammad).' Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka
dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: 'Ini adalah sihir yang
nyata.'" (QS. Shaff: 6)
Kita
tidak mengetahui secara pasti kapan Nabi Isa menyampaikan khabar berita
tentang kedatangan seorang
rasul ini yang
datang setelah masanya,
yaitu Ahmad saw. Apakah
khabar berita itu
beliau sampaikan dipermulaan pengutusannya kepada manusia,
atau apakah beliau menyampaikan khabar itu pada akhir masa dakwahnya dan sebelum beliau diangkat
ke langit? Tetapi melihat konteks Al-Quran tampaknya khabar berita
tersebut itu disampaikan di permulaan dakwahnya, sebagaimana firman-Nya:
"Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti
yang nyata, mereka berkata: 'lni adalah sihir yang nyata.'"
Kata ganti (dhamir) dalam
ayat tersebut kembali
kepada Nabi Isa.
Ayat tersebut menunjukkan bahawa Nabi Isa menyampaikan khabar gembira
dengan datangnya Muhammad atau
Ahmad ketika Allah
SWT mengutus kepada kaumnya. Kemudian terjadilah di
hadapan Nabi Isa berbagai macam mukjizat yang luar biasa seperti penghidupan
orang yang mati, peniupan tanah, dan sebagainya. Ketika Nabi Isa datang membawa
bukti- bukti yang jelas ini, maka mereka menuduhnya bahawa ia membawa sihir.
Nabi Isa mengetahui bahawa tuduhan semacam ini telah dialamatkan kepada
sebahagian besar para nabi sebelumnya.
Beliau juga mengetahui
bahawa nabi yang
terakhir pun akan mendapatkan tuduhan yang sama. Oleh
kerana itu, nabi yang mulia itu tetap berdakwah di jalan Allah SWT dan tidak
peduli dengan tuduhan kaumnya yang mengatakan bahawa beliau membawa sihir.
Kemudian
pertentangan antara Nabi Isa dan Bani
Israil semakin meningkat. Mereka
adalah orang-orang yang
hatinya keras, yang
membeku di hadapan kebenaran. Isa datang kepada mereka
dan menghancurkan segala pemikiran mereka
dan kehidupan mereka
serta sistem mereka.
Sesungguhnya dakwah Nabi Isa
terfokus kepada kebenaran, kedamaian dan keadilan dan pada saat yang sama
mengumumkan peperangan terhadap kehidupan orang-orang yang lalim yang
telah menjauhi kebenaran.
keadilan, dan kedamaian.
Injil Mata menyebutkan melalui
lisan Isa: "Janganlah kalian
mengira bahawa aku membawa
kedamaian ke muka
bumi. Aku tidak
datang hanya membawa kedamaian tetapi aku datang membawa
pedang."
Kalimat
tersebut menyiratkan hakikat yang penting dari hakikat dakwah para nabi. Para
nabi adalah pejuang sejati di mana senjata yang mereka gunakan di medan
peperangan beraneka ragam. tetapi mereka pada hakikatnya adalah pejuang. Mereka
memulai peperangan mereka
dengan satu pemikiran
yaitu suatu tekad mengatakan bahawa tiada Tuhan selain Allah SWT.
Pemikiran itu tentu berbenturan dengan kepercayaan akan tuhan-tuhan yang
diyakini oleh manusia, baik tuhan-tuhan yang terbuat dari emas atau batu. Pemikiran
itu sangat mengganggu ketenangan
orang-orang yang lalim atau
penguasa yang bengis serta sangat
melawan kepentingan mereka, sehingga para raja dan para penguasa seperti
biasanya bergerak menentang
nabi kecuali orang
yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Para pembesar dari kalangan
kaum nabi menentang nabi. Al-Mala'
adalah para pembesar
sebagaimana telah kami jelaskan
dalam kisah Nabi
Nuh dan sesudahnya.
Kemudian Nabi terus melangsungkan peperangan
mewujudkan tekadnya: Nabi
meletakkan dasar peperangannya
dengan menyampaikan ketuhanan Allah SWT.
Setelah meneguhkan
dasar yang kuat
ini, Nabi menetapkan
keadilan. Tak seorang pun berhak
untuk menghinakan seseorang atau menjadikannya sebagai budak kerana penghambaan
hanya pantas ditujukan kepada Allah SWT. Manusia adalah sama
di antara mereka
sehingga tidak berhak
seseorang untuk memanfaatkan kekuatan
manusia untuk membangun
kejayaan peribadinya atau untuk
memperkaya dirinya dengan
merugikan orang lain,
atau menghancurkan hak-hak mereka atau berbuat buruk terhadap mereka
dalam berbagai bentuknya. Jadi,
inti dakwah para
nabi berarti mengganti
dan mengubah sistem yang
rosak yang didirikan
oleh para pembesar
kaumnya. Kalau begitu, ia adalah dakwah yang menyatakan peperangan dan
kerana itu seseorang nabi harus
membawa senjata. Setelah
meneguhkan pemikiran
tersebut, dimulailah peperangan.
Seorang nabi menggunakan
pedang. Ia berlindung di
balik senjata dan
senjata yang dimiliki
oleh setiap nabi berbeza-beza.
Mula-mula seorang
nabi tidak menggunakan
senjata apa pun
dalam peperangannya selain berusaha untuk membangkitkan akal. Lalu
peperangan semakin meningkat sehingga nabi terpaksa untuk menggunakan senjata.
Para musuh memaksanya untuk
menggunakan senjata sehingga
para nabi pun menggunakan senjata.
Di sini setiap
nabi mempunyai senjata
yang berbeza-beza. Terkadang
senjata seorang nabi berupa
mukjizat yang dapat menghentikan
langkah dan menghancurkan mereka seperti taufan (kisah Nabi Nuh) atau
angin (kisah Nabi Hud), dan terkadang
senjata para nabi adalah mukjizat yang membantunya untuk
mengalahkan musuh-musuhnya secara pasti
seperti ditundukkannya jin
dan burung baginya (kisah Nabi
Sulaiman) dan senjata nabi berupa
mukjizat yang menyelamatkannya dari tipu daya musuh seperti berubahnya
api menjadi sesuatu
yang dingin dan
membawa keselamatan (kisah Nabi Ibrahim) dan terkadang senjata nabi yang
luar biasa yang memperkuat dakwahnya
seperti menghidupkan orang-orang
yang mati (kisah Nabi Isa) dan
terkadang senjata nabi berupa pedang yang dipegang di tangannya saat
ia melangsungkan peperangan
dan mempertahankan dakwahnya
(kisah Nabi Muhammad saw).
Jadi, senjata
para nabi berbeza-beza,
baik dalam bentuk
kualiti mahupun kapasitinya.
Allah SWT mengetahui kondisi mereka lebih dari apa yang kita ketahui sehingga
Allah SWT sangat
tepat ketika memilihkan senjata
untuk setiap nabi. Dan tak seorang nabi pun yang tinggal di suatu tempat
sementara ia tidak berjuang dan tidak bergerak dan tidak mengalami penderitaan
dari kaumnya. Oleh kerana
itu, sesuai dengan
kadar kesabaran para
nabi dan perjuangan mereka dalam
menyampaikan dakwah di jalan Allah SWT, mereka layak untuk mendapatkan tempat
yang istimewa di sisi Allah SWT.
Isa
bin Maryam telah menyampaikan bahawa beliau adalah seorang pejuang yang membawa
senjata. Kata-katanya sendiri
berusaha menghancurkan masyarakat
yang keras, masyarakat yang bodoh. Masyarakat di zaman Nabi Isa berdiri di atas
kesalahan, kesyirikan, kebohongan, kemunafikan, meterialisme, pamrih, kelaliman
dan tidak ada kebebasan. Maka melalui kalimat-kalimatnya, Nabi Isa menghancurkan
semua ini. Nabi Isa memberitahu kaumnya bahawa dakwahnya di jalan Allah SWT
bukan terfokus pada dakwah kedamaian tetapi dalam hal-hal
tertentu dakwahnya pun
berisi pernyataan perang.
Sesuatu menjadi tidak bernilai
ketika tidak berusaha
dipertahankan oleh yang bersangkutan sampai titis darah
penghabisan. Timbulnya pemikiran- pemikiran, nilai-nilai dan
prinsip-prinsip tidak hanya
bersandar kepada idealismenya tetapi nilainya justru bersandar
kepada usaha keras yang dikerahkan oleh para pembawanya dalam
rangka mempertahankannya. Tanpa
peperangan dan mengangkat senjata
dakwah para nabi akan menjadi pemikiran-pemikiran yang sekadar idealisme yang
tidak akan menghentikan seseorang pun dan tidak akan membangkitkan seseorang pun.
Kita
mengetahui bahawa sebahagian besar nabi berhadapan dengan kelompok besar dari
masyarakat yang menentangnya
dan berusaha memeranginya. Mula-mula mereka
mengejeknya dan pada
akhirnya mereka berusaha
untuk membunuhnya. Kita mengetahui
bahawa para nabi
berusaha mati-matian untuk
memperjuangkan kebenaran yang dibawanya. Melalui kisah para nabi, kita
mengetahui bahawa bagaimana serangan masyarakat, para pembesar, dan para
penguasa terhadap para nabi tetapi pada saat yang sama kita seakan-akan tidak
melihat bagaimana serangan para nabi terhadap mereka. Penjelasan dari hal itu
sangat mudah. Peperangan yang dibangkitkan oleh kebatilan atas para nabi
didukung oleh alat-alat yang canggih dan sangat kuat di mana mereka memiliki berbagai
macam sarana untuk
menjatuhkan para nabi,
sedangkan para nabi hanya menyandarkan kekuatan dari yang Maha Benar,
yaitu Allah SWT; kekuatan yang tidak berdasarkan pada sebab- sebab tertentu
atau tidak peduli dengan tuduhan-tuduhan atau kegaduhan.
Para nabi
hanya terus melangsungkan
dakwahnya yang berdasarkan
kepada usaha membangkitkan akal dan hati serta menyucikan roh. Keteguhan
sikap para nabi ini
bagi musuh-musuh mereka
merupakan masalah yang
besar. Dakwah nabi juga
menjamah suatu keluarga
di mana seorang
ayah dapat beriman sementara
seorang anak dapat menentang atau seorang anak dapat beriman sementara si ayah
dapat menentang atau seorang isteri beriman atau seorang suami
kafir atau seorang
suami beriman sementara
si isteri kafir. Perbezaan anak laki-laki dengan
ayahnya dan seorang isteri dengan suaminya menimbulkan permusuhan di dalam
rumah-rumah. Dengan terjadinya hal ini, masyarakat bergerak
untuk menentang nabi
dan semakin meningkatkan tekanan-tekanan mereka
kepadanya sehingga permusuhan
dan kebencian
mereka
kepada nabi semakin meruncing. Mereka pun berusaha untuk melawan nabi itu yang
bagi mereka telah memisahkan antara ayah dan anaknya atau ia datang untuk
memisahkan seorang anak perempuan dari ibunya.
Kemudian seorang
nabi meletakkan suatu
undang-undang bagi orang
yang mengikutinya, yaitu undang-undang pokok yang membatalkan undang-
undang yang tidak sesuai dengannya. Undang-undang ini tampak dalam kalimat
nabi: "pertama-tama cinta kepada Allah dan kemudian cinta kepada nabi dan
setelah itu cinta kepada sesama manusia." Makna-makna yang demikian ini
tercermin secara jelas dari kalimat-kalimat Isa yang disampaikan oleh Injil
Mata pada pasal ke-10.
Al-Masih
berkata: "Janganlah engkau mengira bahawa aku datang membawa
kedamaian di bumi,
aku datang bukan
hanya membawa kedamaian
tetapi pedang. Aku datang untuk menjadikan seorang anak berbeza dengan
ayahnya dan seorang anak
perempuan berbeza dengan
ibunya sehingga musuh seseorang justru terdapat pada
keluarganya. Maka barang siapa yang mencintai ibunya dan ayahnya lebih dari
kecintaannya kepadaku, maka ia tidak berhak mencintaiku, dan
barang siapa yang
mencintai anak laki-lakinya dan perempuannya lebih
dariku, maka ia
tidak berhak mengikutiku.
Meskipun kehidupannya tampak beruntung sebenarnya ia telah rugi, dan
barang siapa yang kehidupannya merugi kerana aku, maka sebenarnya ia telah
beruntung."
Penjelas
Injil mengatakan: "Pemikiran orang-orang Yahudi tentang al- Masih
adalah, ketika al-Masih
datang, maka semua
pengikutnya akan merampas kekayaan dan kejayaan di dunia ini
lalu ia hanya memberi mereka ketenangan dan kedamaian. Ketika al-Masih datang,
ia menjelaskan kepada para muridnya bahawa hal tersebut tidak benar, kerana
jika ia datang untuk memberikan kedamaian kepada para pengikutnya, maka
mereka akan terancam kelaliman dan mereka akan mati kerana tajamnya pedang.
Maka hendaklah mereka tidak mengharapkan
kedamaian tetapi peperangan;
hendaklah mereka tidak mengharapkan keserasian tetapi
perpecahan." Demikianlah masyarakat Yahudi terbagi menjadi dua kelompok:
kelompok orang-orang yang fakir, orang-orang yang lemah
dan orang-orang yang
bersih hatinya bersama
Isa, sedangkan kelompok majoriti
menentang Isa. Bahkan kelompok majoriti kafir itu sering menyakiti Isa.
Injil Mata
menceritakan penderitaan al-Masih
pada pasal ke-11.
Ia menceritakan bagaimana kemarahan al-Masih terhadap orang-orang yang
tidak mengabdi kepada Yuhana
(Yahya) dengan baik
atau mengabdi kepadanya secara peribadi
dengan baik. Injil
Mata mengutip pernyataan
Isa sebagai berikut: "Dengan
apa aku menyerupakan generasi ini, Sesungguhnya mereka menyerupai anak-anak
kecil yang duduk
di pasar yang
berteriak-teriak memanggil teman-teman mereka sambil berkata: "Kami
telah meniup seruling tetapi kalian tidak
menari. Kami mengasihi
kalian tetapi kalian
tidak menangis." Yuhana telah datang dan tidak makan dan minum tetapi
mereka mengatakan, sesungguhnya ia
terkena syaitan. lalu
datanglah seorang anak manusia yang makan dan minum lalu mereka
mengatakan, ia adalah seorang yang ahli makan dan ahli minum khamer."
Dokumen
itu menunjukkan penderitaan al-Masih dan menyingkap peperangan yang akan
dihadapinya. Penderitaan yang
dialami oleh hati
suci al-Masih adalah sebagai
tindakan generasi tersebut di mana beliau diutus di dalamnya sebagai orang
yang memberi petunjuk
dan menyampaikan berita
gembira tentang kerajaan langit.
Beliau menyerupakan generasi
Yahudi itu dengan anak-anak kecil yang duduk- duduk di
pasar sambil berteriak-teriak memanggil teman-teman mereka
sambil berkata: "kami
telah meniup seruling
tetapi kalian tidak menari.
Kami berbelas kasih
kepada kalian tetapi
kalian tidak menangis."
Al-Masih mengisyaratkan dengan pernyataan itu tentang apa yang diperbuat anak-
anak kecil saat
mereka bermain-main, di
mana biasanya mereka meniru
orang-orang yang besar
saat mereka bergembira
dengan menari-nari dan saat
mereka sedih mereka
menangis. Demikianlah mereka sangat cepat
berubah antara bergembira
dan sedih tanpa
melalui pertimbangan dan kesedaran. Demikianlah keadaan orang-orang Yahudi
saat mereka mengabdi kepada Yahya, kemudian saat mereka mengabdi kepada
al-Masih. Yahya telah
datang kepada mereka
dalam keadaan menangis,
tidak makan dan tidak minum dari apa yang mereka makan dan yang mereka
minum. Ia tidak bergaul dengan sembarangan manusia. Telah datang kepada mereka
seorang nabi yang
ahli ibadah tetapi
kebanyakan mereka menolaknya
dan mereka mengatakan bahawa
ia terkena syaitan.
Kemudian datang kepada mereka al-Masih di mana ia makan dan
minum bersama pada acara walimah dan hari raya lalu mereka pun menolaknya dan
mengatakan bahawa ia suka makan dan minum
khamer padahal beliau
adalah cermin terbesar
dalam menghilangkan syahwat dan kesucian yang sempurna.
Alhasil,
generasi itu adalah generasi yang main-main Iayaknya anak kecil. Tidak ada sesuatu
pun yang dapat mempengaruhi
mereka dan mereka
tidak mau bertaubat. Meskipun demikian, di sana terdapat kelompok kecil
dari manusia yang terpengaruh dan
bertaubat. Dokumen tersebut
menunjukkan betapa beratnya
penderitaan Isa di tengah-tengah generasi yang sezaman dengannya. Isa mengalami
banyak penderitaan dalam
menyampaikan dakwahnya. Isa banyak menderita di tengah-tengah kaum
yang fikiran mereka belum matang. Mereka tak ubahnya seperti anak- anak kecil
yang suka bermain-main. Kaum yang tak tergugah oleh kalimat-kalimat yang baik
dan mereka tidak bergerak atau tersentuh ketika menyaksikan mukjizat-mukjizat
yang luar biasa.
Allah SWT
kembali memperkuat Isa
dengan mukjizat-mukjizat yang mengagumkan. Mukjizat
di sini adalah
senjata yang diberikan
Allah SWT kepada nabi-Nya agar
nabi tersebut menjadi tenteram dan agar menambah keyakinan orang-orang yang
beriman kepadanya, sedangkan bagi orang-orang kafir mukjizat
tersebut justru menambah
kekufuran mereka sehingga
Allah SWT memberikan pembalasan yang setimpal kepada kedua kelompok
tersebut. Mukjizat yang Allah SWT berikan kepada Isa bin Maryam yang lain
adalah, Allah SWT mengabulkan doa
Hawariyin dengan menurunkan
makanan dari langit.
Allah
SWT berfirman:
"(Ingatlah),
ketika pengikut-pengikut Isa berkata: 'Hai Isa putera Maryam, bersediakah
Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?' Isa menjawab: 'Bertakwalah kepada Allah jika betul- betul kamu orang yang beriman.' Mereka
berkata: 'Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati
kami dan supaya
kami yakin bahawa
kamu telah berkata benar
kepada kami, dan
kami menjadi orang-orang
yang menyaksikan hidangan itu.'
Isa putera Maryam
berdoa: 'Ya Tuhan
kami, turunkanlah kiranya kepada
kami suatu hidangan dari langit (yang
hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang
bersama kami dan yang datang sesudah
kami, dan menjadi
tanda bagi kekuasaan-Mu:
beri rezekilah kami dan
Engkaulah Pemberi rezeki
Yang Paling Utama.'
Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu
kepadamu, barang siapa yang kafir di
antaramu sesudah (turun hidangan) itu,
maka sesungguhnya Aku akan
menyeksanya dengan seksaan
yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di
antara umat manusia.'" (QS. al-Maidah: 112-115)
Barangkali
kita terhairan-hairan ketika memperhatikan perkataan Hawariyin, "wahai Isa
bin Maryam, apakah Tuhanmu mampu?" Mungkin pertama-tama yang terlintas
dalam fikiran kita berkenaan dalam ayat tersebut adalah, keraguan Hawariyin
terhadap kekuatan atau kekuasaan Allah SWT. Bagaimana hal itu mampu mereka
laku-kan sedangkan mereka
adalah murid-murid Isa
yang beriman dan berserah
diri kepada Allah
SWT? Berkaitan dengan
tafsir ayat tersebut, para
ulama berbeza pendapat.
Sebahagian ulama mengatakan, bahawa pertanyaan mereka 'apakah
Tuhanmu mampu?' Yakni, berarti apakah Tuhanmu
bisa? Kemudian mereka
mencarikan alasan yang
membenarkan perkataan
Hawariyin itu dengan
mengatakan bahawa pertanyaan
itu dilontarkan saat mereka
baru saja mengikuti
Isa, sebelum mereka
banyak mengetahui Allah SWT.
Oleh kerana itu,
Isa berkata dalam
jawapannya terhadap pertanyaan mereka,
bertakwalah kepada Allah
SWT jika kamu benar-benar orang mukmin. Yakni,
janganlah kalian meragukan kekuasaan atau kekuatan Allah SWT.
Qurthubi menampik
tafsir ini. Hawariyin
adalah para penolong
Allah SWT, sesuai dengan nas
Al-Quran dan tentu tidak boleh bagi penolong Allah SWT untuk tidak
mengetahui kekuatan-Nya, apalagi
meragukan kekuasaan-Nya.
Sebahagian ulama mengatakan
bahawa perkataan tersebut
dikeluarkan orang-orang yang bersama Hawariyin yang berasal dari Bani
Israil dan tidak seorang pun dari Hawariyin yang mengatakan demikian kecuali
mereka hanya sekadar menukil perkataan tersebut. Ada pendapat lain lagi yang
mengatakan bahawa ayat tersebut tidak dibaca 'hal yastathi' rabbuka' tetapi
dibaca 'hal tastathi' rabbaka'
sebagaimana bacaan Aisyah
dan sebagaimana dibaca
oleh Nabi. Maknanya, "apakah
engkau mampu menghadirkan
kekuatan Tuhanmu terhadap apa
yang engkau minta."
Ada pendapat yang
lain mengatakan ia dibaca
'hal tastathi' rabbaka',
yakni "apakah engkau
mampu untuk berdoa kepada Tuhanmu atau meminta-Nya."
Sebahagian kaum
sufi berpendapat bahawa
kaum Hawariyin bukan
tidak mengetahui kekuasaan Allah SWT tetapi pertanyaan itu justru
bersumber dari cinta kepada Allah SWT dan keinginan menyaksikan kekuasaan Allah
SWT. Sikap mereka ini menyerupai
dengan perbezaan tingkatan
sikap Nabi Ibrahim
as ketika beliau mengatakan:
"Ya Tuhanku,
perlihatkanlah kepadaku bagaimana
Engkau menghidupkan orang-orang
mati?' Allah berfirman: 'Apakah kamu belum percaya?' Ibrahim menjawab: 'Saya
telah percaya, tetapi agar bertambah mantap hatiku.'" (QS. al-Baqarah:
260)
Oleh
kerana itu, kaum Hawariyin berkata: "Dan hati kami menjadi mantap,"
sebagaimana Nabi Ibrahim berkata: "Agar bertambah mantap hatiku."
Inilah tafsir yang membuat
kita puas dan
membuat hati kita
tenang. Nabi Isa menjawab
pertanyaan mereka: 'Bertakwalah
kepada Allah jika
betul-betul kamu orang yang beriman.' Yakni, hati-hatilah kalian dengan
banyak bertanya dan menguji Allah SWT kerana kalian tidak mengetahui apa yang
boleh kalian minta untuk didatangkan bukti- bukti kekuasaan Allah SWT.
Perkataan Nabi Isa, jika kalian benar-benar beriman terfokus kepada apa yang
dibawanya yang berupa mukjizat- mukjizat atau tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Nabi Isa bermaksud untuk mengatakan,
sesungguhnya apa yang telah aku bawa
dari mukjizat- mukjizat bagi kalian seharusnya sudah cukup membuat hati kalian
mantap. "Mereka berkata:
'Kami ingin memakan
hidangan itu dan
supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahawa kamu telah
berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan
hidangan itu.'"
Kaum Hawariyin
menjelaskan kepada Isa
sebab pertanyaan mereka
ketika beliau melarangnya. Jika Nabi Isa keluar, maka beliau diikuti
lima ribu orang atau lebih. Sebahagian mereka dari kalangan Hawariyin dan
sebahagian yang lain campuran di antara pengikutnya dan musuhnya. Dikatakan
bahawa mereka berpuasa dan mereka tidak mempunyai makanan, lalu para pengikut
berkata kepada kaum Hawariyin,
"Tanyalah kepada Isa
apakah ia mampu
berdoa kepada Tuhannya sehingga
diturunkan kepada kita
makanan dari langit." Kemudian kaum Hawariyin pergi
dengan membawa surat kaum itu kepada Isa. Ketika Isa
meminta mereka untuk
merasa cukup dengan
mukjizat-mukjizat sebelumnya,
mereka kembali melontarkan
kebenaran permintaan mereka: 'Kami
ingin memakan hidangan
itu. Mereka adalah
orang-orang yang lapar sementara mereka tidak mempunyai
makanan. Dan supaya tenteram hati kami.
Hati
kaum Hawariyin menjadi tenang seperti tenangnya hati Ibrahim. Dan para pengikut
pun merasa hatinya tenang dan mengakui bahawa Isa adalah Nabi yang diutus untuk
mereka. Dan hati musuh juga menjadi tenang kerana mereka menyaksikan kebatilan
mereka sehingga pilihan mereka untuk tidak mengikuti Isa berakibat pada suatu
saat mereka akan diminta pertanggungjawaban.
"Dan
supaya kami yakin bahawa kamu telah berkata benar kepada kami. Yakni kami
mengetahui bahawa engkau utusan Allah. Dan kami menjadi orang-orang yang
menyaksikan hidangan itu. Yakni, kami menyaksikan keesaan Allah dan risalah dan
kenabianmu. Dan bagi orang lain yang tidak menyaksikannya, maka kami akan
menceritakan kepada mereka peristiwa yang terjadi."
Isa
putera Maryam berdoa: 'Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu
hidangan dari langit (yang hari
turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama
kami dan yang datang sesudah kami, dan
menjadi tanda bagi
kekuasaan-Mu: beri rezekilah
kami dan Engkaulah Pemberi rezeki Yang Paling Utama.'
Ketika kaum
Hawariyin bertanya kepada
Isa bin M
aram agar diturunkan makanan dari langit, maka Nabi Isa
berdiri dan meletakkan pakaian dari kulit wol kemudian beliau melangkahkan
kakinya dan meletakkan tangan kanannya di
atas tangan kirinya,
lalu beliau menundukkan
kepalanya dalam keadaan khusyuk dan tunduk kepada Ala SWT.
Kemudian beliau membuka matanya dan menangis
sehingga air matanya
membasahi janggutnya bahkan
mencapai dadanya dan berkata: 'Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada
kami suatu hidangan dari langit... Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku akan
menurunkan hidangan itu kepadamu.
Lalu
turunlah makanan besar dari celah dua awan: satu awan di atasnya satu awan di
bawahnya. Saat itu manusia melihatnya. Nabi Isa berkata, "Ya Allah
jadikanlah makanan ini
sebagai rahmat dan
jangan menjadi fitnah."
Lalu turunlah di depan Nabi Isa sapu tangan yang menutupinya kemudian
Nabi Isa tersungkur dalam keadaan
sujud yang diikuti
oleh kaum Hawariyin.
Mereka mendapati suatu bau
yang harum yang
belum pernah mereka
temukan sebelumnya.
Nabi Isa
berkata, "Siapakah di
antara kalian yang
paling ikhlas dan
paling percaya kepada Allah SWT agar ia membuka makanan itu sehingga
kita bisa makan darinya serta
berzikir kepada Allah
SWT atasnya serta
bersyukur kepadanya." Kaum Hawariyin berkata: "Wahai Ruhullah
sesungguhnya engkau lebih berhak daripada kami dalam hal itu.", maka Nabi
Isa berdiri lalu beliau mengambil wuduk dan solat. Kemudian beliau banyak
berdoa sambil duduk di sisi makanan itu dan membukanya. Tiba- tiba di atas makanan
itu terdapat ikan yang lazat yang tidak ada durinya. Nabi Isa ditanya:
"Wahai Ruhullah, apakah ini
makanan dari dunia
atau dari syurga?"
Nabi Isa menjawab:
"Bukankah
Tuhan kalian melarang kalian untuk bertanya pertanyaan semacam ini. Ia turun
dari langit dan tidak ada makanan sepertinya di dunia dan ia bukan berasal dari
syurga tetapi ia adalah sesuatu yang Allah SWT ciptakan dengan kekuasaan yang
luar biasa di mana Dia cukup mengatakan "jadilah, maka jadilah."
Para mufasir
berbeza pendapat sekitar
bentuk makanan yang
diturunkan kepada Isa, apakah itu ikan atau daging? Apakah roti atau
buah-buahan? Kami memandang bahawa pembahasan-pembahasan ini
kurang penting. Sesuatu yang paling penting yang perlu kita
perhatikan adalah apa yang dikatakan oleh Nabi Isa, Sesungguhnya ia diciptakan
oleh Allah SWT dengan kekuasaan yang mengagumkan di mana Dia cukup mengatakan
"Jadilah, maka jadilah ia."
Inilah
hakikat makanan tersebut. Ia merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT yaitu
suatu tanda yang
Allah SWT mengancam
bagi siapa yang menentangnya Dia
akan menyeksanya dengan
azab yang belum
pernah diterima oleh seseorang pun di dunia. Para ulama berbeza pendapat
apakah makanan tersebut memang diturunkan atau tidak, tetapi menurut pendapat
majoriti dan ini
yang benar makanan
tersebut memang diturunkan,
sesuai dengan firman Allah SWT: "Aku akan menurunkan hidangan itu
bagimu. "
Dikatakan bahawa
ribuan pengikut Nabi
Isa memakannya dan
makanan tersebut tidak habis. Setiap orang yang buta ia sembuh dari
butanya dan setiap orang yang belang ia sembuh dari belangnya akibat memakan
hidangan itu. Alhasil, setelah menyantap
makanan itu, orang
yang sakit sembuh
dari penyakitnya. Maka hari
turunnya makan itu
dijadikan hari raya
dari hari raya-hari raya kaum
Hawariyin dan para pengikut Nabi Isa. Kemudian berita dan peristiwa turunnya
makanan itu mulai hilang dan mulai dilupakan sehingga kita tidak
menemukan beritanya hari
ini di Injil-
Injil yang mereka
akui. Setelah peristiwa makanan yang Allah SWT ceritakan dalam surah
al-Maidah, Allah SWT menunjukkan kepada kita sikap lain dari Nabi Isa bin
Maryam. Allah SWT berkata setelah
menceritakan kepada kita
tentang turunnya mukjizat
makanan
dari langit:
"Dan
(ingatlah) ketika Allah berfirman: 'Hai Isa putera Maryam, adakah kamu
mengatakan kepada manusia: 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan
selain Allah!' Isa
menjawab: 'Maha Suci
Engkau, tidaklah patut
bagiku mengatakan apa yang
bukan hakku (mengatakannya). Jika
aku pernah mengatakannya, maka
tentulah Engkau telah
mengetahuinya. Engkau mengetahui
apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri
Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib. Aku
tidak pernah mengatakan
kepada mereka kecuali
apa yang Engkau beri padaku
(mengatakan)nya yaitu: 'Sembahlah Allah, Tuhanku, dan
Tuhanmu,'
dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka.
Maka setelah Engkau
wafatkan aku, Engkaulah
yang mengawasi mereka. Dan
Engkau adalah Maha
Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyeksa mereka,
maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan
jika Engkau mengampuni mereka,
maka sesungguhnya Engkaulah Yang
Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana.' Allah berfirman: 'lni
adalah suatu hari yang bermanfaat
bagi orang-orang yang benar kebenaran
mereka. Bagi mereka syurga yang di bawahnya mengalir sungai- sungai; mereka
kekal di dalamnya selama-selamanya; Allah redha terhadap mereka
dan mereka pun
redha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.'
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi
dan apa yang
ada di dalamnya;
dan Dia Maha
Kuasa atas segala sesuatu. " (QS. al-Maidah:
116-120)
Dengan
ayat-ayat tersebut, Al-Quran menutup surah al-Maidah. Demikianlah konteks Al-Quran
berpindah secara mengejutkan
dari turunnya makanan kepada sikap
atau dialog antara
Allah SWT dan
Isa bin Maryam
pada hari kiamat. Allah SWT
bertanya pada hari kiamat: 'Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan
kepada manusia: 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?'
Para
ahli ilmu sepakat bahawa pertanyaan tersebut bukan bersifat pertanyaan
murni meskipun tampak
dalam bentuk pertanyaan
kerana Allah SWT mengetahui apa
yang dikatakan oleh
Isa. Tentu yang
dimaksud dengan pertanyaan itu
adalah sesuatu yang lain. Ada yang mengatakan bahawa Allah SWT bermaksud
memberitahu Isa bahawa kaumnya telah mengubah ajarannya sepeninggalannya. Dan
mereka telah mendapatkan
fitnah. Ada lagi
yang mengatakan bahawa Allah SWT bermaksud dari pertanyaan itu untuk
mencela orang-orang yang mengubah akidah Nabi Isa setelah beliau tidak ada.
Kami kira pertanyaan tersebut memuat dua makna dan mencakup makna yang lain.
Allah
SWT ingin menyingkap dan memberitahu manusia dalam Kitab-Nya yang terakhir
bahawa Nabi Isa terlepas dari berbagai macam tuduhan, dan apa saja yang
dilakukan kaumnya sepeninggalannya. Konteks Al-
Quran menunjukkan tentang
peristiwa ghaib yang belum terjadi meskipun akan terjadi pada hari kiamat. Oleh
kerana itu, Al-Quran menyampaikannya dalam bentuk fi'il madhi (kata kerja
bentuk lampau). Al-Quran menyampaikan berita ghaib ini kepada penduduk dunia
agar mereka mengetahui hakikat Isa bin Maryam.
Allah
SWT bertanya kepadanya dan Isa bin Maryam menjawab. Sebagai nabi besar, Isa
tidak menjawab kecuali setelah ia mengatakan: 'Maha Suci Engkau ya Allah.'
Sebelum menjawab, Isa memulai dengan tasbih dan menyucikan Allah SWT. Nabi
Isa menampakkan kepatuhan
dan ketundukan kepada
kemuliaan Allah SWT dan rasa takut terhadap azab- Nya. Qurthubi
menyampaikan dalam tafsirnya:
"Ketika
Allah SWT berkata kepada Isa, apakah engkau berkata kepada manusia
jadikanlah aku dan
ibuku tuhan selain
Allah, maka Isa
tampak gementar terhadap perkataan
itu sehingga ia mendengar rintihan dari tulang-tulangnya di dalam jasadnya lalu
ia berkata: 'Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa
yang bukan hakku (mengatakannya). Tidak
mungkin aku memutuskan sesuatu
yang tidak aku
miliki, yang diriku
tidak dapat melakukannya. Aku
hanya seorang hamba, bukan seorang yang disembah: Jika aku pernah mengatakannya
maha tentulah Engkau telah mengetahuinya.
Demikianlah Nabi
Isa menyampaikan jawapannya
kepada Allah SWT
dan ia mengembalikan sesuatu
kepada Allah SWT. Dan Allah SWT Maha Mengetahui terhadap apa yang dikatakannya.
Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan
aku tidak mengetahui
apa yang ada
pada diri Engkau.
Yakni, Engkau mengetahui apa yang
aku sembunyikan sedangkan aku tidak mengetahui apa yang engkau sembunyikan.
Engkau mengetahui rahsiaku dan apa yang terlintas dalam hatiku dan aku tidak
mengetahui apa yang Engkau sembunyikan dari ilmu ghaib-Mu.
Sesungguhnya Engkau Maha
Mengetahui perkara yang
ghaib. Hanya Engkau yang tahu terhadap hal-hal yang ghaib. Hanya Engkau
yang tahu terhadap apa yang terjadi di tengah-tengah mereka setelah Engkau
angkat aku dari bumi: 'Aku
tidak pernah mengatakan kepada
mereka kecuali apa
yang Engkau kepadaku
(mengatakan)nya yaitu: 'Sembahlah
Allah, Tuhanku, dan Tuhanmu.'
Demikianlah
kalimat-kalimat yang disampaikan oleh Isa bin Maryam. Dia hanya mengajak manusia
untuk hanya menyembah
Allah SWT dan
tidak menyekutukan-Nya: Dan aku
menjadi saksi terhadap
mereka, selama aku berada di antara mereka.
Sesungguhnya
Engkau mengawasi mereka saat aku tinggal di tengah- tengah mereka dan
mengajak mereka ke
jalan yang benar.
Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi
mereka. Al-Wafat dalam Kitab Allah mempunyai
tiga bentuk: Pertama,
wafat dalam pengertian
kematian, sebagaimana firman Allah SWT:
"Allah
memegang jiwa (orang) ketika matinya." (QS. az-Zumar: 42)
Yakni ketika
tercabutnya ajal. Kedua,
bahawa wafat adalah
tidur, sebagaimana firman Allah SWT:
"Dan
Dialah yang menidurkan kamu di malam hari. " (QS. al-An'am: 60)
Yakni yang
menidurkan kalian. Ketiga,
wafat berarti pengangkatan, sebagaimana firman Allah SWT:
"Hai
Isa, sesungguhnya Aku yang menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat
kamu kepada-Ku. " (QS. Ali 'Imran: 55)
Demikianlah
Isa terbebas dari apa yang mereka katakan dan apa yang mereka nisbatkan
kepadanya. Isa mengumumkan bahawa dakwahnya tidak lebih dari sekadar ajakan
untuk bertauhid dan
tidak keluar dari
kerangka Islam yang diakui oleh pengikutnya. Kemudian Isa
kembali menyampaikan pembicaraannya dan meminta belas kasihan kepada Allah SWT:
Jika Engkau menyeksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu.
Tidak seorang pun dari makhluk yang mempunyai
kekuasaan di atas-Mu
dan tidak ada
Pencipta selain-Mu. Maha Suci
Engkau dan tiada sekutu bagi-Mu dalam kerajaan dan kekuasaan. Pada
akhirnya, mereka adalah hamba-Mu dan seorang hamba tidak memiliki apa-apa
di hadapan tuannya
kecuali kepatuhan: Dan
jika Engkau mengampuni mereka,
maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.'
Isa tidak mengatakan jika Engkau mengampuni
mereka, maka Engkau Maha Pengampun dan
Maha Pengasih. Jadi, jawapan Isa terfokus pada penyerahan diri dan
kepatuhan serta tunduk
kepada kemuliaan Allah
SWT dan kebesaran-Nya. Para pengikut
Nabi Isa adalah hamba-hamba Allah SWT yang patuh. Jika Allah SWT berkehendak,
maka Dia akan menyeksa mereka sesuai dengan seksaan yang layak mereka terima,
dan jika Dia berkehendak, maka Dia akan
mengampuni mereka kerana
Dia mengetahui kerana
mereka memang layak untuk
mendapatkan ampunan. Dengan penyerahan yang mutlak ini, Isa menyampaikan
jawapan atas pertanyaan Allah SWT dan beliau berlepas diri dari apa yang
dikatakan oleh kaumnya sepeninggalannya. Isa menyampaikan -pada awal
pembicaraannya - bahawa hanya Allah SWT yang patut disembah,
dan
pada akhir pembicaraannya Isa menyampaikan penyerahan dirinya kepada Allah SWT.
Allah berfirman: 'Ini
adalah suatu hari
yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.
Allah
SWT memuji ketulusan Isa, dan kerana dialog tersebut terjadi pada hari kiamat,
Allah SWT berfirman: "Hari ini adalah hari kiamat di mana orang-orang yang
benar akan dapat mengambil manfaat dari kebenaran mereka di dunia.
Kebenaran mereka di
sana akan mereka
temukan balasannya yang
berupa rahmat di sini. "Bagi mereka syurga yang di bawahnya mengalir
sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama- selamanya; Allah redha terhadap
mereka dan mereka pun redha terhadap-Nya. "
Demikianlah
balasan orang-orang yang benar, syurga. Dan ada balasan yang lebih baik dari
syurga, yaitu kepuasan (redha) seorang hamba terhadap Allah SWT dan keredhaan
Allah SWT terhadap hamba. Pengertian kepuasan seorang hamba adalah
kegembiraannya terhadap penyembahan
kepada Allah SWT sedangkan
pengertian keredhaan Allah
SWT terhadap hamba-Nya
adalah rahmat yang diberikan-Nya kepada mereka: Itulah keberuntungan
yang paling besar.' Setelah itu
Allah SWT, memberitahukan
hakikat Isa dan
seluruh nabi-Nya: "Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan
apa yang ada di dalamnya; dan Dia
Maha Kuasa atas
segala sesuatu." Allah
SWT adalah Penguasa satu-satunya
dan Dia Pencipta
satu-satunya. Selain-Nya adalah hamba.
Isa terus
melangsungkan dakwahnya sehingga
kejahatan dan keburukan mengetahui bahawa
singgasana mereka terancam
hancur. Lalu pasukan keburukan bergerak untuk
menangkapnya. Orang-orang Yahudi menyakitinya dan menuduhnya
dengan berbagai macam
tuduhan. Isa dikatakan
sebagai penyihir dan sebagai orang yang mengubah syariat dan mereka
menisbatkan kekuatannya yang luar biasa kepada kekuatan syaitan. Ketika mereka
tidak lagi memiliki tipu daya
yang dapat melumpuhkan
Nabi Isa dan
mereka melihat orang-orang yang
lemah dan orang-orang fakir berkumpul di sekitarnya, maka mereka mulai
membikin suatu, makar.
Mereka mempengaruhi orang-orang Romawi.
Mula-mula pemerintahan
Romawi tidak turut
campur kerana menganggap bahawa perselisihan-perselisihan antara
orang-orang Yahudi adalah perselisihan yang terjadi demi
memperebutkan kepentingan sesama mereka. Lalu diadakanlah majlis Sanhadurim
(yaitu majlis undang-undang tertinggi dari kalangan Yahudi).
Mereka berkumpul untuk
membuat persekongkolan demi menyingkirkan Isa. Persekongkolan itu
mengambil bentuk yang baru.
Ketika
orang-orang Yahudi tidak mampu memerangi Nabi Isa, mereka berfikir untuk membunuhnya.
Mulailah para ketua pendeta Yahudi
bermusyawarah untuk membuat
suatu kesimpulan tentang cara yang mereka lakukan untuk menangkap Nabi
Isa yang tidak
menimbulkan kegaduhan di
tengah-tengah masyarakat.
Ketika para
kepala Yahudi bermusyawarah, maka
salah seorang dari
murid al-Masih yang dua belas pergi kepada mereka, yaitu Yahuda al-
Iskhriyutha. Ia berkata kepada mereka,
"Apa yang kalian
berikan jika aku
berhasil menyerahkannya kepada kalian."
"Meja pengkhianatan telah
digelar di
antara mereka dan
dimulailah perundingan.
Orang-orang Yahudi berusaha
mencari titik temu
dan mereka sepakat untuk
memberinya tiga puluh lempeng dari perak. Ini adalah harga yang biasa mereka
lakukan untuk membeli seorang budak sesuai dengan syariat Yahudi."
(penjelasan Injil Mata)
Selesailah konspirasi
yang menetapkan untuk
menangkap al-Masih dan kemudian
membunuhnya. Dikatakan bahawa
kepala pendeta Yahudi merobek-robek bajunya
secara dramatis di
suatu pertemuan agama
dan ia berteriak, "sungguh
Isa telah kafir." Pero bukan baju dalam tradisi orang-orang Yahudi dilakukan
ketika mereka mendengar
atau melihat sesuatu
yang mengandung penghinaan terhadap Allah. Para pendeta Yahudi tidak
memiliki kekuasaan untuk menetapkan hukum bunuh pada saat itu. Semua itu
dilakukan oleh kekuasaan penguasa
Romawi. Tetapi tampaknya
mereka berhasil meyakinkan kekuasaan
Romawi bahawa Isa
telah membuat rencana
untuk melengserkan kekuasaan Romawi atau mereka berhasil meyakinkan
penguasa Romawi bahawa masalah yang mereka hadapi murni berkaitan dengan
tradisi mereka dan keyakinan mereka. Kemudian mereka menyarankan agar penguasa
tidak turut campur atas apa yang mereka tetapkan. Demikianlah konspirasi itu telah ditetapkan
dan telah diputuskan
bahawa Isa harus
ditangkap dan kemudian disalib.
Empat
Injil yang diakui oleh kalangan Masehi saat ini membicarakan tentang proses
pembunuhan Isa di mana beliau disalib kemudian beliau bangkit dari kematiannya dan
naik ke langit.
Semua Injil ini
sepakat tentang proses penyaliban Isa dan kematiannya,
sebagaimana mereka sepakat tentang tabiat Isa
yang mengandung ketuhanan
yang bercampur dengan
tabiatnya sebagai manusia. Kami
akan menyampaikan keyakinan orang-orang Masehi berkaitan dengan Isa sebagaimana
diyakini oleh majoriti kaum Nasrani saat ini, kemudian kami akan
mengemukakan keyakinan Islam
tentang Isa sebagaimana diceritakan oleh
Al-Quran al- Karim
dan disampaikan oleh para ulama
dan disebutkan dalam hadis.
Setelah itu, kita
akan membicarakan hal-hal
yang perlu dibicarakan berkaitan hubungan antara kaum Muslim dan kaum
Masehi serta kaitannya dengan akidah mereka.
Injil Mata
mengatakan, "Isa ditangkap
dan majlis Sanhadirum
memutuskan bahawa ia harus dibunuh. Kemudian para anggota majlis itu
dari kepala-kepala para pendeta dan
para tokoh mereka
menghinanya dan mengejeknya
serta berbuat aniaya terhadapnya
bahkan mereka meludahi
wajahnya dan
menempelengnya. Sambil mengejek
mereka berkata, "beritahukanlah wahai al-Masih siapa
yang memukulmu." Setelah
itu al-Masih ditangkap
dan ia ditetapkan untuk dibunuh.
Adalah sudah
menjadi tradisi di
kalangan orang-orang Romawi
untuk mencambuk orang yang ditetapkan untuk dibunuh sebelum pelaksanaan
hukum tersebut. Oleh kerana itu, para penguasa Romawi menetapkan agar al-Masih
dicambuk terlebih dahulu. Sedangkan syariat Musa menetapkan agar cambukan itu
tidak melebihi empat puluh kali, namun orang-orang Romawi tidak berhenti pada
batasan ini bahkan mereka terus mencambuk korban dengan cambukan yang kejam dan
terus- menerus sehingga punggung yang bersangkutan hampir saja patah
dan nafasnya nyaris
tinggal sedikit. Setelah
itu, mereka mulai melaksanakan hukum
bunuh kepadanya. Demikianlah
yang dilakukan oleh tentera terhadap penyelamat kita. (Injil
Mata 26)
Selesailah
proses pecambukan, lalu penguasa Romawi menyerahkan Isa kepada tentera agar
mereka menyalibnya. Kemudian para tentera membuat sesuatu hal yang
bermaksud untuk menghibur.
Mereka mencabut pakaian
Isa yang dilumuri dengan darah
yang ada luka di tubuhnya setelah proses pencabukan, lalu mereka memakaikan
pakaian merah dengan maksud untuk mengejeknya. Para raja
biasanya memakai pakaian
merah. Mereka terus
menghinanya. Mereka
memakaikannya mahkota dari
duri dan meletakkannya
di atas kepalanya. (Injil Mata
26)
Akhirnya,
mereka sampai pada suatu tempat yang bernama Jaljatsah, yaitu suatu tempat
di luar pagar
Ursyilim. Tradisi Yahudi
menetapkan untuk memberi satu
gelas khamer yang bercampur dengan minyak wangi bagi orang yang ditetapkan
untuk dihukum mati
sebelum pelaksanaan hukum.
Ini dimaksudkan sebagai alat pembius untuk meringankan penderitaannya.
Tetapi para tentera menentang tradisi ini dan mereka memberi al-Masih satu
gelas dari cuka yang bercampur dengan sesuatu yang pahit." (Injil Mata 26)
Teks Injil
mata mengatakan (cetakan
tahun 1972) pada
pasal kedua puluh tujuh: "Sehingga mereka sampai ke
suatu tempat yang bernama Jaljatsah lalu mereka memberinya minuman keras yang
bercampur dengan empedu agar ia meminumnya.
Ketika ia merasakannya,
ia enggan untuk
meminumnya. Kemudian mereka menyalibnya. Kemudian mereka duduk di sana
menjaganya dan meletakkan di
atas kepalanya suatu
tuduhan yang tertulis:
Ini adalah Yasu', penguasa
Yahudi. Mereka benar-benar
menyalibnya bersama Yasim. Salah
seorang dari keduanya di sebelah
kanannya dan yang lain di
sebelah kirinya. Lalu orang-orang yang lewat di tempat itu mencelanya
dan berkata, "wahai yang menghancurkan tempat sembahan dan yang
membangunnya pada tiga hari, selamatkanlah
dirimu dan jika
engkau adalah anak
Allah, maka turunlah dari tempat
penyaliban itu."
Demikianlah
sebahagian riwayat kaum Masehi tentang proses penyaliban serta penafsiran mereka
berkaitan dengannya. Kami
telah menukilnya tanpa memperhatikan tentang catatan yang
terdapat dalam Injil Mata yang terbaru, yaitu ia merupakan catatan yang paling
baik dalam bentuknya yang terkumpul dari
ulama-ulama mereka dan
tokoh-tokoh agama Masehi
sehingga ia lebih mudah
untuk difahami dan
lebih sederhana. Kami
telah mengemukakan sebahagiannya
kepada Anda dalam halaman-halaman ini.
Sementara itu,
dalam akidah Islam
disebutkan suatu riwayat
yang berbeza dengan riwayat yang
ada dalam Injil-Injil yang terdapat sekarang, baik yang berhubungan dengan
kehidupan akhir yang dialami oleh Isa mahupun tabiat Isa yang merupakan
sumber perselisihan setelah
pengangkatannya. Al-Quran
al-Karim menceritakan bahawa Allah SWT tidak menghendaki Bani Israil untuk
membunuh Isa atau
menyalibnya tetapi Allah
SWT menyelamatkannya dari kekufuran mereka
lalu mengangkatnya di
sisi-Nya. Mereka tidak
berhasil membunuhnya dan tidak berhasil menyalibnya tetapi ia
diserupakan seperti orang-orang di antara mereka. Allah SWT berfirman:
"Dan
kerana ucapan mereka: 'Sesungguhnya kami telah membunuh al- Masih, Isa putera
Maryam, Rasul Allah,' padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya,
tetapi yang mereka
bunuh ialah orang
yang diserupakan dengan Isa
bagi mereka. Sesungguhnya
orang-orang yang berselisih
faham tentang (pembunuhan) Isa, benar- benar dalam keraguan tentang yang
dibunuh itu. Mereka tidak
mempunyai keyakinan tentang
siapa yang dibunuh
itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin
bahawa yang mereka bunuh itu
adalah Isa. Tetapi (yang
sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepadanya." (QS.
an-Nisa': 157-158)
Dan
Allah SWT juga berfirman:
"(Ingatlah), ketika
Allah berfirman: 'Hai
Isa, sesungguhnya Aku
akan menyampaikan kamu pada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku
serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir. " (QS. Ali 'Imran:
55)
Para
ulama-ulama Islam sepakat atas hal itu dan mereka berselisih pendapat
tentang cara beragumentasi
terhadap apa yang
mereka yakini sebagai kebenaran. Sebahagian mereka meyakini
nas-nas Al-Quran saja yang menyebut tentang Isa
al-Masih dan mereka
tidak mendukungnya atau memperkuatnya dengan kitab-kitab lain selain
Al-Quran. Kedua metode tersebut memiliki titik kekuatan tersendiri. Orang yang
berpegangan dengan pendapat yang pertama mengatakan bahawa
Nabi melarang untuk
membahas kitab-kitab pegangan kaum Yahudi dan kaum Nasrani. Bagi
kaum itu agama mereka dan bagi kita agama kita dan hanya Allah SWT yang akan
memutuskan segala perselisihan di antara kita pada hari kiamat.
Sedangkan
orang-orang yang berpegangan dengan cara yang kedua mengatakan bahawa larangan
Nabi tersebut terjadi pada permulaan masa Islam di mana kaum Muslim sangat
dekat dengan masa jahiliah. Nabi memerintahkan mereka agar tidak
disibukkan dengan kitab-kitab
lain selain kitab
mereka, yakni Al-Quran. Yang
demikian ini dimaksudkan agar mereka memiliki akidah yang kuat dan keyakinan
mereka benar- benar tertanam dalam diri mereka, Tetapi ilmu dan
pandangan ilmiah menetapkan
bahawa seorang yang
alim harus banyak menggali kitab-
kitab kuno dalam rangka mengetahui kebenaran dan jika ia mendapati sesuatu yang
sesuai dengan apa yang didapatinya dengan kebenaran, maka
hatinya akan lebih
merasa tenang dan
damai. Berkaitan dengan kelompok
yang pertama yang
merasa cukup dengan
Al-Quran, kita tidak menemukan
perincian-perincian yang mendalam berkenaan dengan usaha penangkapan Isa,
bagaimana proses pengangkatannya ke langit, di mana Isa diserupakan dengan
salah seorang di
antara mereka, bagaimana
dia diserupakan dengan salah
seorang di antara
mereka. Allah SWT
telah menyerupakannya dengan salah seorang di antara mereka sedangkan
Nabi Isa diangkat ke langit.
Demikianlah penjelasan singkat
mereka, tidak ada penambahan lagi. Sedangkan kelompok yang
kedua, mereka melontarkan kisah secara
lengkap. Mereka mengatakan
bahawa Allah SWT
menyerupakan Isa dengan Yahuda.
Yahuda ini adalah Yahuda al- Askhariyutha yang menurut Injil ia menjualnya kepada
musuh-musuhnya dan menunjukkan
kepada mereka tentang
keberadaannya. Ia adalah seorang muridnya yang terpilih. Demikian ini
sesuai
dengan Injil Barnabas di mana disebutkan di dalamnya: "Ketika para tentera
mendekat bersama Yahuda di tempat yang di situ terdapat Yasu', maka Yasu' mendengar
kedatangan segerombolan orang
yang menuju tempatnya. Oleh kerana itu, ia segera pergi
ke rumah dalam keadaan takut. Di
dalam rumah itu terdapat sebelas orang yang tidur. Ketika Allah melihat bahaya akan
mengancam hamba-Nya, maka
Dia memerintahkan Jibril,
Mikail, dan Rafail (Israfil), serta Idril (Izrail) yang
mereka semua adalah para utusan- Nya untuk mengambil Yasu'
dari dunia. Lalu
datanglah malaikat-malaikat yang
suci di mana mereka
mengambil Yasu' dari pintu
yang dekat dengan arah
selatan. Mereka membawanya dan meletakkannya di langit yang ketiga
dengan disertai para malaikat yang
selalu bertasbih kepada
Allah selama-lamanya. Yahuda masuk secara paksa ke kamar yang di
situlah Yasu' diangkat ke langit. Saat itu murid-murid sedang tidur semuanya,
lalu Allah mendatangkan keajaiban yang luar biasa di mana Yahuda berubah cara
berbicaranya dan juga wajahnya. Ia sangat mirip sekali dengan Yasu' sehingga
kami mengiranya Yasu'. Adapun ia (Yahuda) setelah membangunkan kami, ia
mencari-cari di mana si guru berada. Oleh kerana itu, kami merasa heran dan
kami menjawab, "bukankah engkau wahai
tuanku guru kami,
apakah sekarang engkau
telah melupakan kami?" Demikianlah kisah yang terdapat
dalam Injil Barnabas. Allah SWT berfirman:
"Al-Masih putera
Maryam itu hanyalah
seorang rasul yang
Sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang
yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan." (QS. al-Maidah:
75)
Para
ulama berkata, "Al-Masih dinamakan al-Masih kerana ia mengusap bumi dan
membersihkannya serta usahanya untuk menyelamatkan agama dari fitnah di zaman
itu kerana saking
hebatnya kebohongan orang-orang
Yahudi kepadanya dan bagaimana usaha mereka untuk menciptakan dusta
padanya dan kepada ibunya as."
Banyak ulama yang meriwayatkan tentang
kesucian spirituil dari Nabi Isa. Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi bahawa
beliau menceritakan tentang al-Masih
sebagai berikut: "Isa
melihat seorang lelaki yang mencuri lalu ia berkata:
"Wahai si fulan apakah engkau mencuri?" Orang itu berkata:
"Tidak, demi Allah aku tidak mencuri," Isa berkata: "Aku beriman
kepada Allah SWT
dan penglihatanku telah
berbohong." Ini menunjukkan kesucian rohani Isa di mana ia
lebih memilih sumpah orang itu atas apa yang disaksikannya. Ia membayangkan
bahawa orang tersebut tidak akan bersumpah dan membawa nama Allah SWT yang Maha
Besar lalu ia berdusta sehingga ia menerima penyataannya dan ia kembali kepada
dirinya sendiri sambil berkata: "Aku beriman kepada Allah SWT, yakni aku
mempercayaimu dan mataku telah berbohong kerana engkau telah bersumpah."
Ada riwayat lagi yang mengatakan bahawa suatu hari Nabi Isa berjalan bersama
sahabatnya dan mereka melewati bangkai anjing yang busuk baunya, lalu
sahabat-sahabat Isa sangat terpukul dan
sangat menderita dengan
bau anjing itu.
Melihat sikap mereka,
Isa berkata: "Lihatlah betapa putih giginya."
Isa
ingin mengajari manusia bagaimana mereka menghadapi keburukan di mana Nabi Isa
menekankan agar mereka
lebih melihat kepada
keindahan dan kebaikan. Dakwah
Nabi Isa merupakan
puncak dari ketinggian
rohani dan idealisme yang
mengagumkan di mana
Beliau lebih menekankan
kebaikan daripada keburukan. Rasulullah
berkata: "Semua para
nabi adalah saudara, agama mereka satu sedangkan mereka
dilahirkan dari berbagai macam ibu dan aku adalah manusia yang utama begitu
juga Isa bin Maryam di mana tidak ada nabi setelahku dan sesudahnya."
Dalam berbagai riwayat disebutkan bahawa Nabi Isa akan turun pada akhir zaman.
Islam sangat memberikan penghormatan kepada Isa yang sesuai dengan kedudukannya
sebagai salah satu nabi ulul azmi yang
besar. Islam menamakannya
Rasulullah dan Kalimatullah
yang telah diberikan kepada
Maryam. Allah SWT berfirman:
"Wahai
ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu
mengatakan terhadap Allah
kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih Isa putera
Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang terjadi dengan)
kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada
Maryam, dan (dengan tiupan)
roh dari-Nya. Maka
berimanlah kepada Allah
dan rasul-rasul-Nya dan janganlah
kamu mengatakan: '(Tuhan
itu) tiga.' Berhentilah dari
ucapan itu. (Itu) lebih baik
bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang
Maha Esa, Maha Suci dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di
bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah
Allah untuk menjadi Pemelihara. Al-Masih sekali-kali
tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat
malaikat yang terdekat (kepada Alah). Barang siapa yang
enggan dari menyembah-Nya
dan menyombongkan diri,
nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepadanya. Adapun orang-orang
yang beriman dan berbuat amal soleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala
mereka dan menambah untuk mereka sebahagian dari kurnia- Nya. Adapun
orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyeksa mereka
dengan seksaan yang
pedih, dan mereka
tidak akan memperoleh bagi diri
mereka, pelindung dan penolong selain dari Allah. " (QS. an-Nisa': 171-
173)
Ibnu
Katsir berkata dalam Qhisasul Anbiya': Para pengikut Nabi Isa berselisih
pendapat setelah Nabi Isa diangkat ke langit. Sebahagian mereka mengatakan, di
tengah-tengah kita ada hamba Allah SWT dan rasul-Nya (Ariyus). Sebahagian lagi
mengatakan, dia adalah Allah. Yang lain lagi mengatakan, dia adalah anak Allah.
Mereka berselisih pendapat tentang Injil
yang menyebutkan berbagai
kebohongan di mana
terdapat di dalamnya
penambahan, pengurangan, dan pergantian. Al-Quran
al- Karim telah
membahas persoalan ketuhanan.
Ia menjelaskan bahawa Allah SWT Maha Suci dari segala sekutu dan anak
dan segala hal yang menyerupai-Nya
serta segala bentuk
ingkarnasi, kejauhan, kedekatan
dan pencapaian pandangan mata. Allah SWT berfirman:
"Katakanlah: "Dia-lah
Allah, Yang Maha
Esa.'Allah adalah Tuhan
yang bergantung kepadanya segala
sesuatu. Dia tidak
beranak dan tiada
pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.
" (QS. al-Ikhlash: 1-4)
Dan
tentang Isa as Allah berfirman: "Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di
sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari
tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: 'Jadilah' (seorang manusia), maka jadilah ia."
(QS. Ali 'Imran: 59)
"Mereka (orang-orang
kafir) berkata: Allah
mempunyai anak.' Maha
Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan
Allah; semua tunduk kepadanya.
Allah Pencipta langit
dan bumi, dan
bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu,
maka (cukuplah) Dia mengatakan
kepadanya: 'Jadilah', lalu jadilah ia." (QS. al-Baqarah: 116-117)
"Orang-orang Yahudi
berkata: 'Uzair itu
putera Allah' dan
orang-orang Nasrani berkata: Al-Masih itu putera Allah.' Demikian itulah
ucapan mereka dengan mulut mereka,
mereka meniru perkataan
orang-orang kafir
terdahulu. Mereka di
laknat oleh Allah;
bagaimana mereka sampai berpaling?" (QS. Al-Aubah: 30)
Nas
tersebut mengisyaratkan akidah orang-orang Mesir dan orang-orang seperti mereka
dari umat-umat yang terdahulu di mana akidah mereka terfokus pada
keyakinan penyaliban Isa,
tentang tebusan dan
kebangkitan Tuhan yang disembelih serta
penentangannya terhadap para
pengikutnya setelah kematiannya.
Allah
SWT berfirman:
"Sesungguhnya
telah kafilah orang-orang yang berkata: 'Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih
putera Maryam.' Katakanlah: 'Maka siapakah
(gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak
Allah, jika Dia
hendak membinasakan al-Masih putera
Maryam itu berserta
ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi
semuanya?' Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di
antara keduanya; Dia menciptakan apa yang
dihehendaki-Nya. Dan Allah
Maha Kuasa atas
segala sesuatu." (QS. al-Maidah: 17)
"Sesungguhnya
kafirlah orang-orang yang mengatakan: Allah salah seorang dari yang tiga,'
padahal sekali-kali tidak ada selain dari Tuhan Yang Esa." (QS. al-Maidah:
73)
Demikianlah
Al-Quran al-Karim menyebutkan sikap berbagai aliran yang saling berlawanan yang
tumbuh setelah pengangkatan al-Masih.
Al-Quran menjelaskan bahawa al-Masih adalah hamba Allah SWT dan seorang
rasul yang diutus kepada Bani Israil. Kata hamba dan rasul adalah kata yang
sangat jelas ertinya, adapun yang dimaksud dengan al-Kalimah dan ar- Roh, maka
kedua kata tersebut perlu dijelaskan. Kaum Muslim memahami bahawa al-Kalimah
adalah petunjuk Allah
SWT yang diberikan-Nya
kepada Maryam sedangkan ar-Roh adalah
menunjukkan atau mengisyaratkan kepada
Roh Kudus, yaitu Jibril as. Allah SWT telah
menguatkannya atau menguatkan Nabi Isa dengan roh yakni Jibril:
"Dan (ingatlah) ketika
Aku dukung kamu
dengan Ruhul Kudus." (QS.al-Maidah:
110)
Setelah
mengemukakan keyakinan kaum Masehi tentang karakter Nabi Isa dan akhir dari
kehidupannya dan setelah menjelaskan kebenaran yang Allah SWT ceritakan kepada
kita tentang karakter tersebut dan akhir dari kehidupan yang dialami oleh Nabi
Isa, kita ingin mengetahui apa yang harus dilakukan oleh kaum Muslim
dalam hubungan mereka
dengan orang-orang Masehi
serta keyakinan mereka. Islam menetapkan atau menyampaikan nas-nas yang
jelas yang mengkhususkan agama
Masehi - di
antara agama-agama yang
lain -dengan kecintaan.
Al-Qu'ran mengingkari ketuhanan
al-Masih; ia juga mengingkari penyaliban dan tebusan dosa
yang dilakukannya. Namun Al-Quran menegaskan dalam nasnya bahawa agama Nasrani
merupakan agama yang lebih dekat kecintaannya kepada Islam. Allah SWT
berfirman:
"Sesungguhnya
kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang
yang beriman ialah
orang- orang Yahudi
dan orang-orang musyrik. Dan
sesungguhnya kamu dapati
yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang
beriman ialah orang-orang yang berkata:
'Sesungguhnya kami ini
orang Nasrani.' Yang
demikian itu disebabkan kerana
di antara mereka
itu (orang-orang Nasrani)
terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) kerana sesungguhnya
mereka tidak menyombongkan diri." (QS. al-Maidah: 82)
Allah
SWT memuji para pengikut al-Masih yang berjalan di atas petunjuknya. Allah SWT
berfirman:
"Dan
Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih
sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyah (keadaan tidak menikah dan
mengurung diri di biara) padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi
mereka sendirilah yang mengada-adakannya untuk mencari keredhaan Allah." (QS. al-Hadid:
27)
Tidak
terdapat kontradiksi dari dua sikap
tersebut. Pengingkaran Al- Quran
terhadap ketuhanan al-Masih
dan pengakuannya terhadap
kecintaan kaum Nasrani serta
pujiannya terhadap orang-orang
yang mengikuti Nabi
Isa mengandung makna lebih dari satu: Pertama, bahawa Masehi berdasarkan
pada agama Tauhid dan
sangat sulit bagi
para pengikutnya untuk
meninggalkan tauhid, dan hanya
Allah SWT yang
mengakui hakikat apa
yang terpendam dalam hati; kedua,
dalam kalangan orang-orang Nasrani terdapat para pendeta dan para
rahib yang tidak
bersikap congkak di
hadapan Allah SWT
tetapi mereka sangat patuh dan tunduk kepadanya; ketiga, sebahagian
pengikut Nabi Isa memiliki hati yang dipenuhi dengan kasih sayang dan rahmat.
Tentu rahmat dan kasih sayang tersebut tidak tumbuh kecuali dari keimanan
terhadap hari akhir. Allah SWT telah menetapkan perintah-Nya kepada kaum
Muslim agar mereka memperlakukan ahlul kitab dengan perlakuan yang mulia dan
baik, sebagaimana Islam menjamin
kebebasan untuk menentukan
keyakinan pada setiap manusia.
Allah SWT berfirman:
"Dan
jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi
seluruhnya. Maka apakah
kamu (hendak) memaksa
manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?"
(QS. Yunus: 99)
"Tidak
ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang
benar daripada jalan yang salah." (QS. al- Baqarah: 256)
"Katakanlah: 'Hai
ahli kitab, marilah (berpegang) kepada
suatu kalimat (ketetapan) yang
tidak ada perselisihan
antara kami dan
kamu, bahawa tidak kita
sembah kecuali Allah
dan tidak kita
persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebahagian kita menjadikan sebahagian
yang lain sebagai tuhan
selain Allah. Jika
mereka berpaling, maka
katakanlah kepada mereka: 'Saksikanlah,
bahawa kami adalah
orang-orang yang menyerahkan diri
(kepada Allah).'" (QS. Ali 'Imran: 64)
Kita perhatikan
bahawa ayat-ayat tersebut
berbicara tentang cara memperlakukan kaum
Masehi sebagai individu
sebagaimana ia berbicara tentang bagaimana
kita memperlakukan keyakinan
mereka. Sehubungan dengan kaum
Masehi sebagai individu,
kita menyaksikan ayat-ayat
tersebut memerintahkan untuk membalas kecintaan yang mereka perlihatkan
di mana nas tersebut dengan
tegas mengatakan bahawa
mereka lebih dekat kecintaannya kepada
orang-orang yang beriman.
Jika Allah SWT
yang menegaskan hal tersebut, maka orang-orang Muslim harus membalas
kebaikan dan kecintaan yang
ditunjukkan oleh kaum
Nasrani. Adapun sehubungan dengan keyakinan
mereka, di dalam
Al-Quran terdapat banyak
ayat yang melarang untuk
memaksa manusia dalam
bentuk apa pun.
Allah SWT berfirman:
"Dan
katakanlah: 'Kebenaran itu datang dari Tuhanmu. Maka barang siapa yang ingin
beriman hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin kafir biarlah ia
kafir." (QS. al-Kahfi: 29)
Yang
demikian itu, kerana keimanan yang didahului dengan paksaan adalah bukan
keimanan kerana ia berarti mencabut ikhtiar atau kebebasan manusia,
padahal itu adalah
syarat dari keimanan.
Dan barangkali inilah
yang menunjukkan kesempurnaan Islam di lihat dari sikapnya yang demikian
indah. Kami kira tanpa kita harus memaksakan tafsiran kita kepada ayat-ayat
tersebut dan memohon kepada Allah SWT dari kesalahan dan kebodohan bahawa Islam
dengan sikapnya itu ingin menjauhkan para pengikutnya dari kalangan awam dari
perdebatan yang panjang dan melelahkan seputar keyakinan orang lain. Tentu
perdebatan tersebut tidak akan berhujung dan akan menjadi seperti
debat
kusir saja. Namun tugas tersebut hanya di emban oleh para ulama, di mana mereka
membahas sebagaimana mereka
kehendaki berbagai
keyakinan-keyakinan keberagamaan, sedangkan orang-orang awam tidak diberi
tanggung jawab dalam hal itu. Lagi pula, perselisihan antara keyakinan dan
aliran- aliran di kalangan Masehi dan kalangan Yahudi jika melibatkan
orang-orang awam, maka itu hanya memboroskan waktu dan hanya membuat lelah
saja.
Islam akan
kembali menjadi asing
dan akan kembali
menjadi asing seperti pertama kali terbit. Dalam suasana
keasingan Islam yang pertama, orang-orang Muslim berhasil
membangun suatu individu
Muslim yang kukuh.
Dan ketika bangunan tersebut
telah selesai, maka
sempurnalah pembangunan
pemerintahan Islam. Kita
tidak mendengar bahawa
salah seorang di
antara mereka terlibat dalam perdebatan yang sengit yang tidak berhujung
sekitar keyakinan orang lain.
Sesungguhnya memberi petunjuk
kepada orang lain sehingga orang tersebut mengetahui jalan
menuju Allah SWT adalah perbuatan yang indah, tetapi hidayah tersebut didahului
dengan tekad seseorang untuk memberikan
petunjuk kepada dirinya
sendiri. Seandainya orang-orang
Islam membimbing mereka menuju
jalan Allah SWT
nescaya Allah SWT
memberi petunjuk melalui mereka siapa saja yang dikehendaki dari
hamba-hamba-Nya.
Al-Quran menetapkan
dua mukjizat kepada
Nabi Isa yang
tidak disebutkan dalam kitab
Injil: pertama mukjizat yang berupa pembicaraannya saat ia masih menyusui di
buaian. Dan yang kedua mukjizat makanan yang turun dari langit kepada kaum
Hawariyin. Sebagaimana Al-Quran menetapkan kemuliaan yang diperoleh oleh
Nabi Isa saat
ia diselamatkan dari
tangan-tangan jahat orang-orang
Yahudi yang ingin menyeksanya atau membunuhnya sehingga Nabi Isa terselamatkan
dan dia diangkat
ke langit. Rasulullah
saw mewasiatkan kepada sahabatnya
agar mereka memperlakukan orang-orang Masehi dengan penuh kebaikan,
bahkan beliau menikahi
Maria al-Qibthiya. Ibnu
Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahawa seseorang lelaki dari Bani
Salim bin Auf yang bernama al-Hasin mempunyai dua orang anak yang masih
Kristen, lalu ia
masuk Islam
dan bertanya kepada
Rasulullah saw bagaimana
seandainya ia harus memaksa kedua
anaknya untuk memeluk Islam sedangkan mereka berdua
menolak
agama lain selain agama Masehi? Kemudian Allah SWT menurunkan ayat yang
berbunyi:
"Tidak
ada paksaan dalam memeluk agama (Islam)." (QS. al-Baqarah: 256)
Ketika
para utusan Najran dari kalangan kaum Masehi datang ke Madinah untuk berunding
dengan Nabi, maka beliau memberi mereka setengah dari masjidnya agar mereka
dapat melaksanakan solat dengan cara mereka di dalamnya. Pada suatu hari
Rasulullah saw berdiri
untuk melakukan solat
kepada seseorang jenazah lalu
dikatakan kepadanya bahawa ia adalah jenazah Yahudi. Kemudian Rasulullah
menjawab: "Bukankah ia adalah manusia." Dalam kesempatan lain
Rasulullah saw bersabda:
"Barang siapa yang
mengganggu secara aniaya seorang Yahudi atau seorang Nasrani,
maka aku akan jadi musuhnya pada hari kiamat." Terkadang
kekuasaan akan langgeng
meskipun disertai dengan kekufuran tetapi ia tidak akan abadi
ketika disertai dengan kelaliman.
Para ulama
Islam berselisih pendapat
berkaitan dengan keadaan
Nabi Isa setelah pengangkatannya.
Mereka sepakat bahawa beliau tidak disalib tetapi Allah SWT
mengangkatnya di sisi-Nya.
Tetapi ketika ia
tidak disalib, maka bagaimana keadaannya setelah itu: apakah
ia masih hidup, ataukah ia mati seperti
matinya nabi yang
lain? Majoriti mengatakan
bahawa Allah SWT mengangkat Isa dengan fiziknya dan rohnya
di sisi- Nya. Mereka mengambil zahir dari firman-Nya:
"Tetapi
Allah mengangkatnya di sisi-Nya." (QS. an-Nisa': 158)
Juga
sebahagian hadis yang mendukung hal tersebut. Sementara itu, kelompok yang lain
dari kalangan mufasirin,
dan ini adalah
kelompok yang minoriti, mereka mengatakan bahawa Nabi Isa
hidup sehingga Allah SWT mematikannya sebagaimana Dia
mematikan nabi-nabi-Nya lalu
Dia mengangkat rohnya
di sisi-Nya sebagaimana roh para
nabi diangkat, begitu juga roh para
shidiqin (orang-orang yang benar) dan syuhada. Mereka mengambil zahir
firman-Nya:
"(Ingatlah) ketika
Allah berfirman: 'Hai
ha, sesungguhnya Aku
akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku
serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir." (QS. Ali 'Imran: 55)
Kami
sendiri lebih memilih pendapat yang pertama kerana ia sangat sesuai
-sebagai mukjizat yang
luar biasa -
dengan kelahiran Isa
di mana kelahiran tersebut dipenuhi
dengan mukjizat yang
luar biasa, juga
sesuai dengan kehidupannya dan
kesuciannya. Jadi, kedua-duanya merupakan mukjizat yang luar biasa.
NABI ISA a.s.
DENGAN ORANG MABUK CINTA
Dikisahkan
dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Ghazali bahawa pada suatu hari Nabi Isa a.s
berjalan di hadapan seorang pemuda yang sedang menyiram air dikebun. Bila
pemuda yang sedang menyiram air itu melihat Nabi Isa a.s berada di
hadapannya maka dia
pun berkata, "Wahai
Nabi Isa a.s,
kamu mintalah dari Tuhanmu
agar Dia memberi
kepadaku seberat semut
Jarrah cintaku kepada-Nya." Berkata Nabi Isa a.s, "Wahai
saudaraku, kamu tidak akan terdaya untuk seberat Jarrah itu."
Berkata
pemuda itu lagi, "Wahai Isa a.s, kalau aku tidak terdaya untuk satu
Jarrah, maka kamu
mintalah untukku setengah
berat Jarrah." Oleh
kerana keinginan pemuda itu untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah,
maka Nabi Isa a.s pun berdoa, "Ya Tuhanku, berikanlah dia setengah berat
Jarrah cintanya kepada-Mu." Setelah Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun
berlalu dari situ. Selang beberapa lama Nabi Isa a.s datang lagi ke tempat
pemuda yang memintanya berdoa, tetapi Nabi Isa a.s tidak dapat berjumpa dengan
pemuda itu. Maka Nabi Isa a.s pun bertanya kepada orang yang lalu-lalang di
tempat tersebut, dan berkata
kepada salah seorang
yang berada di
situ bahawa pemuda itu telah gila
dan kini berada di atas gunung.
Setelah
Nabi Isa a.s mendengat penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa kepada
Allah S.W.T, "Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku tentang pemuda
itu." Selesai sahaja Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun dapat melihat
pemuda itu yang berada di antara gunung- ganang dan sedang duduk di atas sebuah
batu besar, matanya memandang ke langit.
Nabi Isa
a.s pun menghampiri
pemuda itu dengan
memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi
Isa a.s, lalu Nabi Isa berkata, "Aku ini Isa a.s."Kemudian Allah
S.W.T menurunkan wahyu yang berbunyi, "Wahai Isa, bagaimana dia dapat
mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat
kadar setengah berat
Jarrah cintanya kepada-Ku.
Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya dengan gergaji
sekalipun tentu dia tidak mengetahuinya."
Pengajaran
Barangsiapa
yang mengakui tiga perkara tetapi tidak menyucikan diri dari tiga perkara yang
lain maka dia adalah orang yang tertipu.
1.
Orang yang mengaku kemanisan berzikir kepada Allah, tetapi dia mencintai dunia.
2. Orang
yang mengaku cinta
ikhlas di dalam
beramal, tetapi dia
ingin mendapat sanjungan dari manusia.
3.
Orang yang mengaku cinta kepada Tuhan yang menciptakannya, tetapi tidak berani
merendahkan dirinya.
Rasulullah S.A.W
telah bersabda, "Akan
datang waktunya umatku
akan mencintai lima dan lupa kepada yang lima :
1.
Mereka cinta kepada dunia. Tetapi mereka lupa kepada akhirat.
2.
Mereka cinta kepada harta benda. Tetapi mereka lupa kepada hisab.
3.
Mereka cinta kepada makhluk. Tetapi mereka lupa kepada al- Khaliq.
4.
Mereka cinta kepada dosa. Tetapi mereka lupa untuk bertaubat.
5.
Mereka cinta kepada gedung-gedung mewah. Tetapi mereka lupa kepada kubur."
No comments:
Post a Comment